mengapa kamu memilih menjadi pelacur?
tanyaku pada seorang wanita
di ujung jalan memarkir tubuhnya yang hampir mirip telanjang
membasuh sisa mani diselangkangannya
terpaksa
jawabnya lirih menutup wajahnya
semua demi anak dan sisa kenangan pada mantan suaminya
keras hidup dia lalui sendiri
membungkam malu demi kelanjutan nafas anaknya
bukan salah siapa-siapa
semua bisa menyalahkan
tapi apakah mereka mengerti dan ingin berbagi bahagia
siapapun tak ingin terjebak
namun kadang situasi memaksa untuk melakukannya
kutanya lagi
apakah ini benar
jawabnya singkat dan wajahnya mengusirku
tidak dan tidak akan pernah benar
18.09.2011
Semoga kami tidak lahir dari kaki-kaki penguasa
Yang dibuat dari unsur tatanan yang baku akan penindasan
Menutup jeritan kami dengan halusinasi palsu akan kebenaran
Ketidakadilan menjadi jaminan atas keberlangsungan hidup
Cukup sudah derita yang semestinya tidak menjadi takdir kami.
Bagi penguasa negri ini
Jika rakyat terlantar dan kerontang meminta keadilan yang benar
Para ibu susah mengepul asap di dapur akibat bahan pokok melambung
Dan kami masih mendapati kaum buruh tak mendapatkan upah layak
Haruskah tirani kebangsawananmu kamu ambrukkan dengan darah perjuangan
Selama bendera revolusi belum menjadi putih
Masih ada kejantanan untuk menekukkan lututmu
Dan menjilat hasil lendir di kemaluanmu
Seperti itulah sebagaian rasa dari kami yang hidup dibawah merah putih
Garuda terbang meninggalkan kami
Tinggallah buih dihantam gelombang pertiwi
10.01.12
Yang dibuat dari unsur tatanan yang baku akan penindasan
Menutup jeritan kami dengan halusinasi palsu akan kebenaran
Ketidakadilan menjadi jaminan atas keberlangsungan hidup
Cukup sudah derita yang semestinya tidak menjadi takdir kami.
Bagi penguasa negri ini
Jika rakyat terlantar dan kerontang meminta keadilan yang benar
Para ibu susah mengepul asap di dapur akibat bahan pokok melambung
Dan kami masih mendapati kaum buruh tak mendapatkan upah layak
Haruskah tirani kebangsawananmu kamu ambrukkan dengan darah perjuangan
Selama bendera revolusi belum menjadi putih
Masih ada kejantanan untuk menekukkan lututmu
Dan menjilat hasil lendir di kemaluanmu
Seperti itulah sebagaian rasa dari kami yang hidup dibawah merah putih
Garuda terbang meninggalkan kami
Tinggallah buih dihantam gelombang pertiwi
10.01.12
Diposting oleh
Unknown
di
00.05
Rolf de Maré was born in Stockholm in 1888. In 1913 he made friends with post-impressionist painter Nils von Dardel
who was not particularly well off, but imaginative and talented, while
de Maré was enthusiastic and had money. Together they were a very
fruitful duo and in 1920 they created Ballets Suédois at the Théâtre des Champs-Élysées in Paris. In the autumn of 1924 Giorgio de Chirico curated the scenography and costumes for Pirandello's La Giara. In 1933, Rolf de Maré founded Les Archives internationales de la Danse (AID) in Paris — the world's first museum and research institute for dance.
The Archive became a famous centre for studies in dance and visitors
came from all over the world to see exhibitions or to study in its vast
library. The dance center also published its own magazine and books,
arranged lecture demonstrations in the building which de Maré had
constructed for his dance centre. After the World War
the archives had grown too large for a private person to maintain, de
Maré closed his business in Paris and donated parts of the collections —
some 6,000 books, engravings and other items, all concerned mainly with
Western dance — to the French government which placed them at the museum and library of the Paris Opera.
However, the museum declined to accept two substantial elements of de
Maré's collection: firstly, material from the Ballets Suédois, and
secondly, the fruits of his expedition of exploration to Indonesia in 1936 — the first to have been undertaken with the purpose of documenting dance.
Therefore, the collection from the Swedish Ballet in Paris and the
non-European collections were brought by de Maré to Stockholm to form
the Dance Museum, which he opened in 1953 in the basement of the Royal Swedish Opera
in Stockholm. On his death he made the Dance Museum the sole heir to
his fortune, and this enabled the museum to make further acquisitions. After dissolving the Ballets Suedois in 1925, de Maré made no attempt
to revive its works. The various, concrete collectibles de Maré amassed
and that exist today as the bedrock of Stockholm's Dance Museum,
illuminate our picture of him as archivist and art collector, all the while they question his role as a connoisseur
of a theater based on the art of dancing. Throughout his life, Rolf de
Maré was also a distinguished art collector. In the early 1960s, he made
an important donation of modernist art to the Moderna Museet. Rolf de Maré died in Barcelona in 1964.
Rolf de Mare (1888 - 1964) was an art collector and leader Suédois Swedish Ballet in Paris 1920-1925. In 1933, Rolf de Mare was founded "Les Archives Internationales de la Danse" (AID) in Paris a world's first museum and research institute for dance. Archives became famous center for studies in dance and visitors come from all over the world to see the exhibition or to study in the extensive library. After the war, de Mare donated his collection of Swedish Ballet in Paris and the fruits of exploration expedition to Indonesia in 1938 - the first has been done with the purpose of documenting dance - to Stockholm to form the Museum of Dance, which he opened in 1953. During his visit to Indonesia Rolf de Mare, also took to the land of southern Sulawesi to mengdokumentasikan Bugis Makassar culture's land. Here is a set of photographs of works of Rolf de Mare who was in grimy from digitalgallery.nypl.org.
Berikut Karya Rolf de Mare tentang Budaya Bugis Makassar di Tahun 1938
aku berani mencintaimu lebih besar dari Tuhan
tapi aku tahu Tuhan akan marah
aku bisa mencintaimu lebih besar dari Orang Tuaku
tapi aku tahu Orang Tuaku akan kecewa
aku mampu mencintaimu lebih besar dari Saudaraku
tapi aku tahu Saudaraku akan menyesal
aku dapat mencintaimu lebih besar dari Sahabatku
tapi aku tahu Sahabatku akan terluka
saat aku menemukan Tuhan dalam dirimu
dan aku dapati kau mulai untuk mencariku
aku tersadar kemampuanku hanya sebatas mencintaimu lebih dari diriku sendiri
kubenamkan pada keyakinanku untuk menjadikan ini sebagai kisah
meski aku tahu keberadaanku hanya untuk ini saja
terlepas dari waktu yang akan menarikmu kembali
aku salamkan pada penghujung kelak yang akan menentukan.
[CR]
18.12.2011
tapi aku tahu Tuhan akan marah
aku bisa mencintaimu lebih besar dari Orang Tuaku
tapi aku tahu Orang Tuaku akan kecewa
aku mampu mencintaimu lebih besar dari Saudaraku
tapi aku tahu Saudaraku akan menyesal
aku dapat mencintaimu lebih besar dari Sahabatku
tapi aku tahu Sahabatku akan terluka
saat aku menemukan Tuhan dalam dirimu
dan aku dapati kau mulai untuk mencariku
aku tersadar kemampuanku hanya sebatas mencintaimu lebih dari diriku sendiri
kubenamkan pada keyakinanku untuk menjadikan ini sebagai kisah
meski aku tahu keberadaanku hanya untuk ini saja
terlepas dari waktu yang akan menarikmu kembali
aku salamkan pada penghujung kelak yang akan menentukan.
[CR]
18.12.2011
Baru saja kembali dari pelukan misteri
Sempat aku tujukan tanya pada hatimu
Namun kau sendiri belum cukup yakin
Aku dipersalahkan namun banyak yang membenarkan
Menunggu nampaknya akan mengajarimu kesabaran
Alasan utama yang membuatku memaksamu untuk merasakannya
Maaf jika jenuh
Bukankah akan lebih banyak badai yang akan menahan langkah
Rasa sayang itu kehendak hatiBukan harus dipaksakan dan terpaksa
Aku kembali bertanya adakah dirimu kini sudah yakin?
[CR]
27.11.2011
Sempat aku tujukan tanya pada hatimu
Namun kau sendiri belum cukup yakin
Aku dipersalahkan namun banyak yang membenarkan
Menunggu nampaknya akan mengajarimu kesabaran
Alasan utama yang membuatku memaksamu untuk merasakannya
Maaf jika jenuh
Bukankah akan lebih banyak badai yang akan menahan langkah
Rasa sayang itu kehendak hatiBukan harus dipaksakan dan terpaksa
Aku kembali bertanya adakah dirimu kini sudah yakin?
[CR]
27.11.2011
Diposting oleh
Unknown
di
05.19
Kisah ini adalah RAHASIA terbesar bagi seorang pemuda yang dalam
catatan ini dirinya sengaja aku palsukan. Kisahnya yang sempat tercatat
dalam buku harian ini penuh dengan alur yang mampu menggugah nalar dan
nurani. Perjalanan hidupnya yang begitu kejam serta sikapnya yang
pantang menyerah mampu menjadi kiblat bagi para remaja dalam menyikapi
kehidupan ini. Buku catatan yang berhasil diselamatkan sebelum
pemiliknya sempat membakar sajarah ini menyimpan berbagai macam rasa
yang membuat kita tertarik untuk mengenal lebih dalam akan sosoknya.
Naming butuh waktu dua bulan untuk meyakinkan pemiliknya agar mau
memberikan buku itu kemudian setelah mendapat izin saya rangkum menjadi
potongan yang sederhana namun penuh sesak dan emosi. Kehidupan
memberinya penjelasan yang menjadikannya seperti ini. Kisahnya menjadi
inspirasi bagi saya dan mungkin juga orang lain.
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..
Diposting oleh
Unknown
di
03.15
deras tipis mendera
dan kau masih memanggil lembayu kesunyian
sudahi menguntit penyesalan
tutup kata di akhir tahun
marilah kita benahi warangka badik ini.
episode sepi I
31.12.2011
dan kau masih memanggil lembayu kesunyian
sudahi menguntit penyesalan
tutup kata di akhir tahun
marilah kita benahi warangka badik ini.
episode sepi I
31.12.2011
Di kota Makassar. Senja
di Pantai Losari membuat pemandangan penuh warna. Nampak dari kejauhan
kapal-kapal berlalu lalang mencari ikan dan ada juga yang difungsikan
sebagai alat transportasi menuju pulau-pulau sekitar selat Makassar. Di
sepanjang jalan yang dilalui terlihat muda-mudi menghabiskan waktunya
menikmati sunset di tambah dengan gorengan dan sara’ba khas Kota Daeng. Tidak ketinggalan para pengamen menghibur dengan paduan gitar dan jimbe klasik.
Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
Ternyata kau mendua membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih aku bukan pilihan
Reff lagu dari Iwan Fals “aku bukan pilihan” yang meraka nyanyikan memaksa pengunjung untuk ikut menyanyi bersama.
Motor scooter warisan nenek Baso melaju dari batas kota menuju bangunan tua peninggalan Belanda, Benteng Fort Rotterdam. Acara reuni Sekolah Losari Art Gallery (LOGA) Makassar yang ditempatkan di benteng itu mengumpulkan ratusan orang termasuk Baso Andika dan Andi Tenri Olle Zainal insan yang saling mencintai namun kenyataan tak mampu menyatukan mereka berdua. Setelah tamat dari LOGA’ Makassar Baso memilih menjauh dari kehidupan Tenri.
Kamu fikir kamu ini siapa, berani pacaran dengan anak saya. Bentak Ibu Tenri siang itu.
Inilah puncak alasan mengapa Baso pergi selain dari sejuta alasan lain yang dia pendam.
Baso kecewa tapi dia berhasil memperlihatkan gaya to rungka na mangkasara’ jika sedang patah hati. Kisah tragis, ini persoalan siri’. gumam Baso waktu itu. Hari-hari berikutnya dia berusaha bangkit kembali dari keterpurukan. Awalnya berat namun sisanya terlihat sempurna dia jalani. Baso ingin memulai masa baru dalam hidupnya tanpa mendustai perasaanya bahwa sebenarnya dia juga masih menyimpan perasaan itu. Cinta.
Keadaan sudah berubah namun perasaan itu tetap sama. Masa-masa sulit itu kini sudah menjadi bagian kenangan. Setelah 5 tahun terpisah mereka mungkin akan dipertemukan kembali di tempat ini. Segalanya dapat terjadi. Di atas benteng batu itu Baso duduk sendiri memandang jauh ke pantai. Kembali teringat masa-masa saat mereka bersama dulu.
Tidak mudah untuk melupakan kenangan ini seperti mudahnya aku meninggalkanmu waktu itu.
Mungkin kehadiranmu akan mengusir prahara ini tapi bisa juga membuat kebencianku kembali.
Tiba-tiba Bara datang.
Apa kabar saudara? Lama tak bertemu, tanyanya membuka pembicaraan. Alhamdulillah aku baik-baik saja, jawab Baso dengan nada kering.
Bagai mana kisahmu dengan Tenri?, Tanya Bara langsung menghentak perasaan Baso. Semua menjadi biasa saja. Aku sekarang mencoba memaafkan takdirku sendiri dan mencoba memulai kembali kisahku. Jawab Baso mencoba tegar. Dia ada di acara ini tapi kenapa kamu tidak menemuinya? Bara memberi tahu tentang kedatangan Tenri di acara ini. Maksud kamu Tenri?. Cukup dengan anggukan kepala Baso langsung melompat dan menuju ke taman.
Lama Baso mencari dalam seluk beluk benteng tapi ia belum menemukan sosok Tenri, sebelum Ulfa datang memberi tahu keberadaan Tenri. Baso, Tenri tadi mencarimu. Tapi aku bilang kamu tidak jadi datang karena sibuk mengurusi pementasanmu yang akan berangkat ke Palopo. Ulfa menjelaskan kepada Baso. Tapi sekarang, Tenri di mana? Tanpa basa-basi Baso langsung bertanya. Sepertinya dia di taman depan. Jawab Ulfa.
Baso segera meninggalkan Ulfa dan menuju ke taman depan, keramaian Nampak jelas. Mata Baso terus melototi setiap wanita yang duduk sendirian namun Baso belum juga menemukan sosok yang ia cari hingga adzan berkumandang, Baso pun berangkat ke Mesjid.
Setelah shalat acara pembukaan baru akan mulai Nampak para anggota panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya diruangan tempat acara di mulai. Baso sebagai ketua panitia mengkoordinir teman-teman yang lain untuk mempersiapkan gedung acara.
Jam di tangan telah menunjuk pukul 18:45 acara hampir dimulai segala sesuatunya telah siap. 10 menit kemudian gedung telah penuhi hiruk-pikuk manusia. Acara pembukaanpun dimulai, laporan ketua panitia oleh Baso Andhika, selama membacakan laporan dia terus gelisah seakan mencari sesuatu. Mata itu tiba-tiba berhenti mencari ketika pandangan terarah pada sosok gadis yang selama ini ia cari-cari, Tenri. Tak terasa acara pembukaan telah selesai di tutup dengan pembacaan do’a. Tiba-tiba ada kejadian tak terduga. Tenri naik ke mimbar lalu berbicara.
Tolong jangan ada yang meninggalkan ruangan ini. Aku ingin kalian semua jadi saksi malam ini.untuk semua kesetiaan yang aku punya. Tiba-tiba semua orang diam dan kembali ketempatnya. Tenri melanjutkan kata-katanya.
Aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang telah lama kubiarkan terpendam sendiri. Aku sadar ini kesalahan takdir yang dengan sendirinya menjadikan kisah kami seperti ini. Tragis. Aku tahu kamu pasti kecewa dan terluka. Tapi apakah aku salah, itu bukan inginku. Isakan tangis mulai terdengar mengiringi keluarnya kata-kata itu. Baso, masih adakah kesempatan kedua untukku?. Semua orang tersentak kaget dan tak percaya. Tatapan mata tertuju pada sosok lelaki kurus duduk di bangku deretan ke tujuh. Heran. Siapa yang tak mengenal Pak Zain di kota ini. Konglomerat papan atas. Sedangkan Baso, ayahnya hanyalah nelayan di pinggir kota ini.
Dengan langkah yang masih tak percaya dengan apa yang baru dia dengar Baso melangkah ke samping Tenri. Dengan sigap dia meraih microphone. Untuk apa yang barusan anda dengar itu hanyalah masa lalu kami. Tidak penting untuk menjadi bahan pikiran anda. Dan untuk pertanyaan tadi, semua orang menatap antusias. Penasaran. Apakah jawaban yang akan keluar dari mulut Baso. Lelaki bodoh mana yang berani menyianyiakan cinta Tenri, cerdas, kaya, baik dan shalehah. Maaf, untuk saat ini biarkan saja aku seperti ini. Bukan berarti aku menolak tapi biarlah aku sendiri dulu. Terima kasih. Tenri, jika engkau meminta penjelasan tentang perasaanku, hingga kini aku masih mencintaimu. Sambil berlari ke taman depan, Tenri menyeka air mata. Kisah ini meraka biarkan mengalir dan berharap suatu saat nanti tali nasib akan mempertemukan mereka kembali.
BERSAMBUNG --> II
Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
Ternyata kau mendua membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih aku bukan pilihan
Reff lagu dari Iwan Fals “aku bukan pilihan” yang meraka nyanyikan memaksa pengunjung untuk ikut menyanyi bersama.
Motor scooter warisan nenek Baso melaju dari batas kota menuju bangunan tua peninggalan Belanda, Benteng Fort Rotterdam. Acara reuni Sekolah Losari Art Gallery (LOGA) Makassar yang ditempatkan di benteng itu mengumpulkan ratusan orang termasuk Baso Andika dan Andi Tenri Olle Zainal insan yang saling mencintai namun kenyataan tak mampu menyatukan mereka berdua. Setelah tamat dari LOGA’ Makassar Baso memilih menjauh dari kehidupan Tenri.
Kamu fikir kamu ini siapa, berani pacaran dengan anak saya. Bentak Ibu Tenri siang itu.
Inilah puncak alasan mengapa Baso pergi selain dari sejuta alasan lain yang dia pendam.
Baso kecewa tapi dia berhasil memperlihatkan gaya to rungka na mangkasara’ jika sedang patah hati. Kisah tragis, ini persoalan siri’. gumam Baso waktu itu. Hari-hari berikutnya dia berusaha bangkit kembali dari keterpurukan. Awalnya berat namun sisanya terlihat sempurna dia jalani. Baso ingin memulai masa baru dalam hidupnya tanpa mendustai perasaanya bahwa sebenarnya dia juga masih menyimpan perasaan itu. Cinta.
Keadaan sudah berubah namun perasaan itu tetap sama. Masa-masa sulit itu kini sudah menjadi bagian kenangan. Setelah 5 tahun terpisah mereka mungkin akan dipertemukan kembali di tempat ini. Segalanya dapat terjadi. Di atas benteng batu itu Baso duduk sendiri memandang jauh ke pantai. Kembali teringat masa-masa saat mereka bersama dulu.
Tidak mudah untuk melupakan kenangan ini seperti mudahnya aku meninggalkanmu waktu itu.
Mungkin kehadiranmu akan mengusir prahara ini tapi bisa juga membuat kebencianku kembali.
Tiba-tiba Bara datang.
Apa kabar saudara? Lama tak bertemu, tanyanya membuka pembicaraan. Alhamdulillah aku baik-baik saja, jawab Baso dengan nada kering.
Bagai mana kisahmu dengan Tenri?, Tanya Bara langsung menghentak perasaan Baso. Semua menjadi biasa saja. Aku sekarang mencoba memaafkan takdirku sendiri dan mencoba memulai kembali kisahku. Jawab Baso mencoba tegar. Dia ada di acara ini tapi kenapa kamu tidak menemuinya? Bara memberi tahu tentang kedatangan Tenri di acara ini. Maksud kamu Tenri?. Cukup dengan anggukan kepala Baso langsung melompat dan menuju ke taman.
Lama Baso mencari dalam seluk beluk benteng tapi ia belum menemukan sosok Tenri, sebelum Ulfa datang memberi tahu keberadaan Tenri. Baso, Tenri tadi mencarimu. Tapi aku bilang kamu tidak jadi datang karena sibuk mengurusi pementasanmu yang akan berangkat ke Palopo. Ulfa menjelaskan kepada Baso. Tapi sekarang, Tenri di mana? Tanpa basa-basi Baso langsung bertanya. Sepertinya dia di taman depan. Jawab Ulfa.
Baso segera meninggalkan Ulfa dan menuju ke taman depan, keramaian Nampak jelas. Mata Baso terus melototi setiap wanita yang duduk sendirian namun Baso belum juga menemukan sosok yang ia cari hingga adzan berkumandang, Baso pun berangkat ke Mesjid.
Setelah shalat acara pembukaan baru akan mulai Nampak para anggota panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya diruangan tempat acara di mulai. Baso sebagai ketua panitia mengkoordinir teman-teman yang lain untuk mempersiapkan gedung acara.
Jam di tangan telah menunjuk pukul 18:45 acara hampir dimulai segala sesuatunya telah siap. 10 menit kemudian gedung telah penuhi hiruk-pikuk manusia. Acara pembukaanpun dimulai, laporan ketua panitia oleh Baso Andhika, selama membacakan laporan dia terus gelisah seakan mencari sesuatu. Mata itu tiba-tiba berhenti mencari ketika pandangan terarah pada sosok gadis yang selama ini ia cari-cari, Tenri. Tak terasa acara pembukaan telah selesai di tutup dengan pembacaan do’a. Tiba-tiba ada kejadian tak terduga. Tenri naik ke mimbar lalu berbicara.
Tolong jangan ada yang meninggalkan ruangan ini. Aku ingin kalian semua jadi saksi malam ini.untuk semua kesetiaan yang aku punya. Tiba-tiba semua orang diam dan kembali ketempatnya. Tenri melanjutkan kata-katanya.
Aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang telah lama kubiarkan terpendam sendiri. Aku sadar ini kesalahan takdir yang dengan sendirinya menjadikan kisah kami seperti ini. Tragis. Aku tahu kamu pasti kecewa dan terluka. Tapi apakah aku salah, itu bukan inginku. Isakan tangis mulai terdengar mengiringi keluarnya kata-kata itu. Baso, masih adakah kesempatan kedua untukku?. Semua orang tersentak kaget dan tak percaya. Tatapan mata tertuju pada sosok lelaki kurus duduk di bangku deretan ke tujuh. Heran. Siapa yang tak mengenal Pak Zain di kota ini. Konglomerat papan atas. Sedangkan Baso, ayahnya hanyalah nelayan di pinggir kota ini.
Dengan langkah yang masih tak percaya dengan apa yang baru dia dengar Baso melangkah ke samping Tenri. Dengan sigap dia meraih microphone. Untuk apa yang barusan anda dengar itu hanyalah masa lalu kami. Tidak penting untuk menjadi bahan pikiran anda. Dan untuk pertanyaan tadi, semua orang menatap antusias. Penasaran. Apakah jawaban yang akan keluar dari mulut Baso. Lelaki bodoh mana yang berani menyianyiakan cinta Tenri, cerdas, kaya, baik dan shalehah. Maaf, untuk saat ini biarkan saja aku seperti ini. Bukan berarti aku menolak tapi biarlah aku sendiri dulu. Terima kasih. Tenri, jika engkau meminta penjelasan tentang perasaanku, hingga kini aku masih mencintaimu. Sambil berlari ke taman depan, Tenri menyeka air mata. Kisah ini meraka biarkan mengalir dan berharap suatu saat nanti tali nasib akan mempertemukan mereka kembali.
BERSAMBUNG --> II
Yang aku tumpahkan di akhir adalah tangis tak bertangkai
Menukik segala sukma yang terpendam
Lara dan asa telah ku persembahkan kepada nirwana yang meminta tumbal
Dari senyuman kekasih yang terpenggal
Air mata telah aku bekukan dalam cangkir purnama
Semoga mampu menjadi jawaban dari pertanyaanmu
Makassar, 14 Juli 2010
Menukik segala sukma yang terpendam
Lara dan asa telah ku persembahkan kepada nirwana yang meminta tumbal
Dari senyuman kekasih yang terpenggal
Air mata telah aku bekukan dalam cangkir purnama
Semoga mampu menjadi jawaban dari pertanyaanmu
Makassar, 14 Juli 2010
Bayangmu yang menyapaku sepi malam ini
Datang membawa sajak rindu yang pernah kutulis dalam salinan keterpaksaan
Senyummu menggetarkan sukmaku yang saat bersamaan telah koyak oleh api cemburu
Cemburu yang entah berantah kutujakan pada siapa maknanya
Aku yang masih bersembunyi dari cahaya rembulan ke tujuh hari ini
Menutup jendela dan berbaring rapuh di atas kemungkinan
Namun bayangmu yang menyapaku
Berhasil menghidupkan segenap naluri yang tersisa
Itupun hanya sebatas senyum pahit yang orang enggan melihatnya
Aku tahu aku rindu
Namun luka dari rasa bersalah ini tak mau mampus di terjangan waktu
Merajalela dalam ingatan dan membuatku terpuruk kaku sendiri
Menikmati sepi dengan tarian kunang-kunang yang lebih nikmat
Ketimbang harus menikmati seribu tubuh wanita dalam semalam
Hanya Tuhan yang membuatku kuat menarik nafas kehidupan
Aku bertahan dengan pahatan penyesalan
Kubiarkan bayanganku menjelajah menikmati kuatnya kenangan
Mencuri setiap cahaya rembulan dan menyimpannya untukku
Hingga aku kuat menyapa pemilik cahaya itu
Meskipun tertatih lemah terbungkus asa
Namun aku yakin dia mampu memberikan rahasianya padaku
Aku tak butuh pelangi dengan warnanya yang sering menipuku
Aku tak butuh bintang dengan cahayanya yang sering membodohiku
Aku tak butuh gerhana dengan fenomenanya yang sering menakutiku
Untuk menyatakan maaf kepadamu aku hanya butuh senyuman terakhir yang bisa kuberi
Kepada rembulan
Menjelmalah kau menjadi setiap keinginanku
Simpanlah simponi dari rahasia ini dalam bayanganmu
Kelak ceritakan pada alam raya tentang luka yang kubawa dari penyesalanku bertahun-tahun
Jadilah kau penulis biografi kisah ini
Kisah ini tak pernah usai
Meski nanar dan darah telah menghiasi jejakku
Mataku telah sayu menatap nestapa
Fikiranku dipenuhi penyesalan
Luka di tubuh tak lagi terasa
Sebab kutahu derita yang pernah kutitip padanya tak seberat ini
Malam ini
Aku masih tak beranjak meski kakiku telah mampu ku gerakkan
Lidahku keluh bisu dipertengahan cerita
Aku menunggumu dalam kesunyian meski kutahu kau tak akan datang
Membawa senyum ikhlasmu dan menyeretku keluar dari tempat ini
Tahukah kau saat ini aku membisikkan namamu
Dalam sunyi yang tak kau duga
Penyesalan abadi ini
Menerobos khayalanku dan membuatnya buram berantakan
Diamku cukup keras mengusirnya
Namun rasa bersalah itu masih tetap ada bersemayam
Sampai kapan
Aku tak tahu
Kepada Rembulan
Sampaikan gelisahku ini
Bacakan sajak yang aku pernah tuliskan untuknya
Bisikkan keberadaanku di dalam hatinya
Lalu pergilah kembali menyinari bumi
Jika dia mencintaiku dia pasti akan datang
Rasa bersalah ini
Mengikuti teriakan sunyiku
Mengapa kau tak meninggalkanku di saat aku terpuruk
Sementara kau tahu saat itu aku telah membuat mawar menjadi dua
Mengapa kau tak membenciku di saat aku koyak
Sementara kau tahu saat itu aku telah menitip luka padamu
Sajak ini akan menyampaikan maafku
Akan kukabarkan melalui seribu bait puisi yang kutulis di daun lontar
Meski kutahu umurku tak panjang lagi denganmu
Meski kutahu suatu saat engkau akan pergi
Biarkanlah aku belajar untuk membuatmu bahagia
Di sisa waktu yang masih bisa kukuasai
Inilah kekasihmu..
Maafkan dia yang pernah melukaimu
Mungkin kepergiannya membuat segalanya kembali menjadi indah
30.01.2011
Diposting oleh
Unknown
di
20.54
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.
Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan [1].
Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama Robert D. Hare telah melakukan penelitian psikopat sekitar 25 tahun. Ia berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.
Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan [2].
Psikopat memiliki 20 ciri-ciri umum. Namun ciri-ciri ini diharapkan tidak membuat orang-orang mudah mengecap seseorang psikopat karena diagnosis gejala ini membutuhkan pelatihan ketat dan hak menggunakan pedoman penilaian formal, lagipula dibutuhkan wawancara mendalam dan pengamatan-pengamatan lainnya. Mengecap seseorang dengan psikopat dengan sembarangan beresiko buruk, dan setidaknya membuat nama seseorang itu menjadi jelek.
Lima tahap mendiagnosis psikopat
Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan [1].
Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama Robert D. Hare telah melakukan penelitian psikopat sekitar 25 tahun. Ia berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.
Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan [2].
Psikopat memiliki 20 ciri-ciri umum. Namun ciri-ciri ini diharapkan tidak membuat orang-orang mudah mengecap seseorang psikopat karena diagnosis gejala ini membutuhkan pelatihan ketat dan hak menggunakan pedoman penilaian formal, lagipula dibutuhkan wawancara mendalam dan pengamatan-pengamatan lainnya. Mengecap seseorang dengan psikopat dengan sembarangan beresiko buruk, dan setidaknya membuat nama seseorang itu menjadi jelek.
Lima tahap mendiagnosis psikopat
- Mencocokan kepribadian pasien dengan 20 kriteria yang ditetapkan Prof. Hare. Pencocokkan ini dilakukan dengan cara mewawancara keluarga dan orang-orang terdekat pasien, pengaduan korban, atau pengamatan prilaku pasien dari waktu ke waktu.
- Memeriksa kesehatan otak dan tubuh lewat pemindaian menggunakan elektroensefalogram, MRI, dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap. Hal ini dilakukan karena menurut penelitian gambar hasil PET (positron emission tomography) perbandingan orang normal, pembunuh spontan, dan pembunuh terencana berdarah dingin menunjukkan perbedaan aktivitas otak di bagian prefrontal cortex yang rendah. Bagian otak lobus frontal dipercaya sebagai bagian yang membentuk kepribadian [3] [4].
- Wawancara menggunakan metode DSM IV (The American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV) yang dianggap berhasil untuk menentukan kepribadian antisosial.
- Memperhatikan gejala kepribadian pasien. Biasanya sejak usia pasien 15 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan.
- Melakukan psikotes. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.
- Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
- Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
- Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
- Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
- Sikap antisosial di usia dewasa.
- Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
- Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
- Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
- Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
- Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
- Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.
Diposting oleh
Unknown
di
20.51
Marilah kekasihku
Kita menutup diri dari terangnya mentari yang sering menyalahkan kita
Kita buat seribu tengkonan di taman belakang rumah kita
Agar kelak kita bisa memilih kemana kita akan menyepi
Marilah kekasihku
Kita belajar merenungi hasil kerja dalam setahun ini
Kita kumpulkan keringat hasil kerja kita dalam tabungan masa depan
Agar kelak kita bisa memberikan jaminan pada hidup kita
Marilah kekasihku
Kita memberi warna pada pelangi malam dalam harmoni kisah kita
Kita jadikan dia misteri bagi sebagian orang
Agar kelak kita akan dikenang
Marilah kekasihku
Kita kembali menghiasi jejak ini
Kita jadikan taman seribu bunga tanpa layu dengan warnanya yang eksotis
Agar kenangan kita semakin indah dinikmati
15.12.2010
Kita menutup diri dari terangnya mentari yang sering menyalahkan kita
Kita buat seribu tengkonan di taman belakang rumah kita
Agar kelak kita bisa memilih kemana kita akan menyepi
Marilah kekasihku
Kita belajar merenungi hasil kerja dalam setahun ini
Kita kumpulkan keringat hasil kerja kita dalam tabungan masa depan
Agar kelak kita bisa memberikan jaminan pada hidup kita
Marilah kekasihku
Kita memberi warna pada pelangi malam dalam harmoni kisah kita
Kita jadikan dia misteri bagi sebagian orang
Agar kelak kita akan dikenang
Marilah kekasihku
Kita kembali menghiasi jejak ini
Kita jadikan taman seribu bunga tanpa layu dengan warnanya yang eksotis
Agar kenangan kita semakin indah dinikmati
15.12.2010
Diposting oleh
Unknown
di
19.55
Saat itu hari sudah gelap sementara hujan semakin deras saat Baso terpaksa berhenti disebuah rumah bekas kebakaran sekitar dua kilometer dari kostnya. Baso lupa membawa mantel sementara cuaca sangat tidak bersahabat. Setiap pulang kampus Baso sering memperhatikan rumah itu. Dari luar rumah ini tampak mewah meskipun warna catnya tak kentara lagi, gumam Baso. Saat kebakaran rumah itu sebenarnya tidak mengalami kerusakan yang terlalu parah, sisi samping rumah itu masih bisa di kategorikan utuh tapi entah mengapa pemiliknya enggan merenovasi ulang dan membiarkannya tak terurus. Akhirnya Baso memilih memarkir scooter bututnya di sisi kanan rumah itu kemudian masuk untuk berteduh sambil menghangatkan badannya.
Rasa penasaran serta naluri kelelakiannya memaksa dia untuk terus masuk kedalam rumah itu. Kosong tak terjamah sama sekali. Tak ada sisa-sisa kehidupan. Hanya ada satu pintu yang masih utuh namun tertutup rapat. Pasti kamar ini punya kenangan tersendiri bagi pemiliknya, imbuh Baso sambil memaksa membuka pintu kamar itu. Berhasil. Tampaknya kamar cowok, gumam Baso. Dinding kiri kamar itu dihiasi catatan-catatan yang tak kentara lagi. Baso tak mengerti maksudnya. Salah satu catatan yang masih dapat terbaca meski samar-samar. Selama ini aku berusaha untuk setia, jangan paksa aku untuk mencoba tidak setia. sepertinya aku pernah mendengar kata-kata ini. imbuh Baso. Banyak barang-barang yang berserakan di lantai kamar itu namun Baso lebih tertarik untuk mengambil buku ungu yang telah kusam. Baso membukanya. Sakti Gunawan nama pemilik buku itu. Halaman depan tertempel foto seorang wanita namanya Nilam Puspita. Nama yang entah berapa kali dituliskan dalam buku itu, Baso akhirnya memasukkan buku itu kedalam ranselnya.
Sementara diluar hujan menipis hanya suara kendaraan dan gerimis. Baso melangkah keluar meninggalkan rumah itu. Dia menyalakan scooternya dan bergegas kembali menuju ke kostnya. Diatas scooternya Baso terus terbayang dengan wajah wanita di buku kusam itu. Siapa sebenarnya dia. Kenapa pemiliknya membiarkan buku itu tergeletak begitu saja. Belasan pertanyaan muncul dibenaknya. Setelah sampai dikostnya dia memasak air panas dan menyeduh kopi kesukaannya. Belum sempat dia mengganti pakaian handphonenya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Tenri. Besok pagi kita kerumah Amran acara syukuran wisudanya. Setelah itu dia menuju kasurnya dan membalas pesan singkat Tenri. Baso kemudian teringat dengan buku ungu di ranselnya. Dia membuka dan menatap dalam foto itu. Manis untuk ukuran wanita Indonesia, hidungnya menjulang tinggi, senyumannya penuh karekter. Tatapan matanya manja dan menyimpan misteri. siapakah sebenarnya wanita ini. tanya Baso pada dirinya sendiri. Setelah cukup puas menatap foto itu dia kemudian membaca lembaran pertama.
09 Januari 2003
Nilam, mengenalmu sudah cukup membuatku bahagia. Kau selalu mampu menjadi pelipur laraku. Seandainya aku berani mengungkapkan rasa yang telah lama terpendam ini mungkin ceritanya akan berbeda. Seharusnya memang kamu tahu tentang perasaan ini. Itu jika selama ini kau mau mengerti tentang perasaanku. Tapi aku ragu dengan tingkahmu selamu ini. Seakan kau memberi sebuah harapan tapi selalu juga mengacuhkanku.
Apakah surat yang aku selipkan di bukumu saat menjelang ujian itu tidak cukup jelas. Seandainya kamu tahu siapa yang telah membuat puisi di mading sekolah yang sempat menjadi bahan perbincangan di kelas. Itu aku Nilam. Tapi biarlah seperti ini. Aku cukup bahagia.
17 Januari 2003
Cemburu. Apa itu tadi sengaja kau lakukan untuk membuatku cemburu. Kamu tahu Wandi itu sahabatku. Tapi mengapa dia sengaja kau paksa menemanimu ke kantin. Sungguh itu membuatku terluka.
25 Januari 2003
Aku sadar diriku memang tidak pantas untuk menjadi kekasihmu. Diriku tak ada apa-apanya di bandingkan dengan cowok yang kau ajak ke pesta ulang tahun Nisa kemarin malam. Tapi siapapun dirinya itu bukan masalah karena aku mencintai ikhlasmu bukan karena aku harus menyayangimu.
Cukup seru juga kisah mereka berdua, imbuh Baso setelah membaca beberapa penggalan isi buku tersebut. Saking seriusnya Baso lupa makan malam akhirnya dia bangkit untuk memasak mie rebus.
* * *
Karena kelelahan akhirnya Baso terlambat bangun pagi itu. Sementara dia punya rencana ke acara syukuran Amran bersama Tenri. Saat terbangun dia langsung melihat jam weker di atas meja kecilnya. Jam sudah menunjukkan Pukul 8:28 sementara dia janji bertemu di rumah tenri jam 9 pagi ini. Dengan sedikit kecewa Baso menuju ke kamar mandi. Berjalan sempoyongan sambil membawa alat mandi dan handuk birunya. Sampai didepan kamar mandi umum dia langsung lemas melihat antrian yang cukup mampu membuatnya terlambat untuk menjemput Tenri. Tidak ada pilihan lain Baso berbalik arah dan langsung pakaian kemudian menuju ke masjid untuk cuci muka dan sikat gigi ditambah sedikit memberi ornament wajib di rambutnya. Selesai.
Baso kemudian berangkat ke rumah Tenri untuk menjemputnya. Saat dalam perjalanan Baso kaget karena ada seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan. Baso merem mendadak scooternya kemudian berniat memarahi wanita tersebut namun dia sendiri heran. sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana. Gumam Baso. Karena sedang terburu-buru dia akhirnya lupa. Setelah sampai di rumah tenri dia masih terbayang wajah wanita itu.
è Bersambung
Rasa penasaran serta naluri kelelakiannya memaksa dia untuk terus masuk kedalam rumah itu. Kosong tak terjamah sama sekali. Tak ada sisa-sisa kehidupan. Hanya ada satu pintu yang masih utuh namun tertutup rapat. Pasti kamar ini punya kenangan tersendiri bagi pemiliknya, imbuh Baso sambil memaksa membuka pintu kamar itu. Berhasil. Tampaknya kamar cowok, gumam Baso. Dinding kiri kamar itu dihiasi catatan-catatan yang tak kentara lagi. Baso tak mengerti maksudnya. Salah satu catatan yang masih dapat terbaca meski samar-samar. Selama ini aku berusaha untuk setia, jangan paksa aku untuk mencoba tidak setia. sepertinya aku pernah mendengar kata-kata ini. imbuh Baso. Banyak barang-barang yang berserakan di lantai kamar itu namun Baso lebih tertarik untuk mengambil buku ungu yang telah kusam. Baso membukanya. Sakti Gunawan nama pemilik buku itu. Halaman depan tertempel foto seorang wanita namanya Nilam Puspita. Nama yang entah berapa kali dituliskan dalam buku itu, Baso akhirnya memasukkan buku itu kedalam ranselnya.
Sementara diluar hujan menipis hanya suara kendaraan dan gerimis. Baso melangkah keluar meninggalkan rumah itu. Dia menyalakan scooternya dan bergegas kembali menuju ke kostnya. Diatas scooternya Baso terus terbayang dengan wajah wanita di buku kusam itu. Siapa sebenarnya dia. Kenapa pemiliknya membiarkan buku itu tergeletak begitu saja. Belasan pertanyaan muncul dibenaknya. Setelah sampai dikostnya dia memasak air panas dan menyeduh kopi kesukaannya. Belum sempat dia mengganti pakaian handphonenya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Tenri. Besok pagi kita kerumah Amran acara syukuran wisudanya. Setelah itu dia menuju kasurnya dan membalas pesan singkat Tenri. Baso kemudian teringat dengan buku ungu di ranselnya. Dia membuka dan menatap dalam foto itu. Manis untuk ukuran wanita Indonesia, hidungnya menjulang tinggi, senyumannya penuh karekter. Tatapan matanya manja dan menyimpan misteri. siapakah sebenarnya wanita ini. tanya Baso pada dirinya sendiri. Setelah cukup puas menatap foto itu dia kemudian membaca lembaran pertama.
09 Januari 2003
Nilam, mengenalmu sudah cukup membuatku bahagia. Kau selalu mampu menjadi pelipur laraku. Seandainya aku berani mengungkapkan rasa yang telah lama terpendam ini mungkin ceritanya akan berbeda. Seharusnya memang kamu tahu tentang perasaan ini. Itu jika selama ini kau mau mengerti tentang perasaanku. Tapi aku ragu dengan tingkahmu selamu ini. Seakan kau memberi sebuah harapan tapi selalu juga mengacuhkanku.
Apakah surat yang aku selipkan di bukumu saat menjelang ujian itu tidak cukup jelas. Seandainya kamu tahu siapa yang telah membuat puisi di mading sekolah yang sempat menjadi bahan perbincangan di kelas. Itu aku Nilam. Tapi biarlah seperti ini. Aku cukup bahagia.
17 Januari 2003
Cemburu. Apa itu tadi sengaja kau lakukan untuk membuatku cemburu. Kamu tahu Wandi itu sahabatku. Tapi mengapa dia sengaja kau paksa menemanimu ke kantin. Sungguh itu membuatku terluka.
25 Januari 2003
Aku sadar diriku memang tidak pantas untuk menjadi kekasihmu. Diriku tak ada apa-apanya di bandingkan dengan cowok yang kau ajak ke pesta ulang tahun Nisa kemarin malam. Tapi siapapun dirinya itu bukan masalah karena aku mencintai ikhlasmu bukan karena aku harus menyayangimu.
Cukup seru juga kisah mereka berdua, imbuh Baso setelah membaca beberapa penggalan isi buku tersebut. Saking seriusnya Baso lupa makan malam akhirnya dia bangkit untuk memasak mie rebus.
* * *
Karena kelelahan akhirnya Baso terlambat bangun pagi itu. Sementara dia punya rencana ke acara syukuran Amran bersama Tenri. Saat terbangun dia langsung melihat jam weker di atas meja kecilnya. Jam sudah menunjukkan Pukul 8:28 sementara dia janji bertemu di rumah tenri jam 9 pagi ini. Dengan sedikit kecewa Baso menuju ke kamar mandi. Berjalan sempoyongan sambil membawa alat mandi dan handuk birunya. Sampai didepan kamar mandi umum dia langsung lemas melihat antrian yang cukup mampu membuatnya terlambat untuk menjemput Tenri. Tidak ada pilihan lain Baso berbalik arah dan langsung pakaian kemudian menuju ke masjid untuk cuci muka dan sikat gigi ditambah sedikit memberi ornament wajib di rambutnya. Selesai.
Baso kemudian berangkat ke rumah Tenri untuk menjemputnya. Saat dalam perjalanan Baso kaget karena ada seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan. Baso merem mendadak scooternya kemudian berniat memarahi wanita tersebut namun dia sendiri heran. sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana. Gumam Baso. Karena sedang terburu-buru dia akhirnya lupa. Setelah sampai di rumah tenri dia masih terbayang wajah wanita itu.
è Bersambung
Diposting oleh
Unknown
di
19.51
mari kawan kita jalan di pematang ini
panggil raga yang sepi diantara tangisan malam
sampai hilang rasa menemui kedamaiaan dan terlelap diantara pelukan kebenaran
tak usah kau meminta imbalan dari perjuangan karena Tuhan telah memberimu nafas dari kasturi syurga
mampu menjinakkan nafsumu untuk membunuh harapan
mari kawan kita membuka jalan baru dari poros melingkar ini
tak usah ukir jejekmu disana
karena alam hanya memberi kita satu kali kesempatan
buanglah sisa dari ketangguhan akal untuk diam
karena saat ini kita harus terus meneriakkan keadilan
kepada siapa yang memerlukan dan harus memerlukan
ajari dia cara untuk meniup lilin dari setiap kado yang dia terima
seperti ketika kita diajarkan untuk meniup lilin harapan itu.
Makassar 21 Nov 2011
panggil raga yang sepi diantara tangisan malam
sampai hilang rasa menemui kedamaiaan dan terlelap diantara pelukan kebenaran
tak usah kau meminta imbalan dari perjuangan karena Tuhan telah memberimu nafas dari kasturi syurga
mampu menjinakkan nafsumu untuk membunuh harapan
mari kawan kita membuka jalan baru dari poros melingkar ini
tak usah ukir jejekmu disana
karena alam hanya memberi kita satu kali kesempatan
buanglah sisa dari ketangguhan akal untuk diam
karena saat ini kita harus terus meneriakkan keadilan
kepada siapa yang memerlukan dan harus memerlukan
ajari dia cara untuk meniup lilin dari setiap kado yang dia terima
seperti ketika kita diajarkan untuk meniup lilin harapan itu.
Makassar 21 Nov 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
1.14.2012
Mengapa Kamu Memilih Menjadi Pelacur
mengapa kamu memilih menjadi pelacur?
tanyaku pada seorang wanita
di ujung jalan memarkir tubuhnya yang hampir mirip telanjang
membasuh sisa mani diselangkangannya
terpaksa
jawabnya lirih menutup wajahnya
semua demi anak dan sisa kenangan pada mantan suaminya
keras hidup dia lalui sendiri
membungkam malu demi kelanjutan nafas anaknya
bukan salah siapa-siapa
semua bisa menyalahkan
tapi apakah mereka mengerti dan ingin berbagi bahagia
siapapun tak ingin terjebak
namun kadang situasi memaksa untuk melakukannya
kutanya lagi
apakah ini benar
jawabnya singkat dan wajahnya mengusirku
tidak dan tidak akan pernah benar
18.09.2011
tanyaku pada seorang wanita
di ujung jalan memarkir tubuhnya yang hampir mirip telanjang
membasuh sisa mani diselangkangannya
terpaksa
jawabnya lirih menutup wajahnya
semua demi anak dan sisa kenangan pada mantan suaminya
keras hidup dia lalui sendiri
membungkam malu demi kelanjutan nafas anaknya
bukan salah siapa-siapa
semua bisa menyalahkan
tapi apakah mereka mengerti dan ingin berbagi bahagia
siapapun tak ingin terjebak
namun kadang situasi memaksa untuk melakukannya
kutanya lagi
apakah ini benar
jawabnya singkat dan wajahnya mengusirku
tidak dan tidak akan pernah benar
18.09.2011
1.10.2012
Hidup di Bawah Merah Putih
Semoga kami tidak lahir dari kaki-kaki penguasa
Yang dibuat dari unsur tatanan yang baku akan penindasan
Menutup jeritan kami dengan halusinasi palsu akan kebenaran
Ketidakadilan menjadi jaminan atas keberlangsungan hidup
Cukup sudah derita yang semestinya tidak menjadi takdir kami.
Bagi penguasa negri ini
Jika rakyat terlantar dan kerontang meminta keadilan yang benar
Para ibu susah mengepul asap di dapur akibat bahan pokok melambung
Dan kami masih mendapati kaum buruh tak mendapatkan upah layak
Haruskah tirani kebangsawananmu kamu ambrukkan dengan darah perjuangan
Selama bendera revolusi belum menjadi putih
Masih ada kejantanan untuk menekukkan lututmu
Dan menjilat hasil lendir di kemaluanmu
Seperti itulah sebagaian rasa dari kami yang hidup dibawah merah putih
Garuda terbang meninggalkan kami
Tinggallah buih dihantam gelombang pertiwi
10.01.12
Yang dibuat dari unsur tatanan yang baku akan penindasan
Menutup jeritan kami dengan halusinasi palsu akan kebenaran
Ketidakadilan menjadi jaminan atas keberlangsungan hidup
Cukup sudah derita yang semestinya tidak menjadi takdir kami.
Bagi penguasa negri ini
Jika rakyat terlantar dan kerontang meminta keadilan yang benar
Para ibu susah mengepul asap di dapur akibat bahan pokok melambung
Dan kami masih mendapati kaum buruh tak mendapatkan upah layak
Haruskah tirani kebangsawananmu kamu ambrukkan dengan darah perjuangan
Selama bendera revolusi belum menjadi putih
Masih ada kejantanan untuk menekukkan lututmu
Dan menjilat hasil lendir di kemaluanmu
Seperti itulah sebagaian rasa dari kami yang hidup dibawah merah putih
Garuda terbang meninggalkan kami
Tinggallah buih dihantam gelombang pertiwi
10.01.12
Budaya Bugis Makassar di tahun 1938
Rolf de Maré was born in Stockholm in 1888. In 1913 he made friends with post-impressionist painter Nils von Dardel
who was not particularly well off, but imaginative and talented, while
de Maré was enthusiastic and had money. Together they were a very
fruitful duo and in 1920 they created Ballets Suédois at the Théâtre des Champs-Élysées in Paris. In the autumn of 1924 Giorgio de Chirico curated the scenography and costumes for Pirandello's La Giara. In 1933, Rolf de Maré founded Les Archives internationales de la Danse (AID) in Paris — the world's first museum and research institute for dance.
The Archive became a famous centre for studies in dance and visitors
came from all over the world to see exhibitions or to study in its vast
library. The dance center also published its own magazine and books,
arranged lecture demonstrations in the building which de Maré had
constructed for his dance centre. After the World War
the archives had grown too large for a private person to maintain, de
Maré closed his business in Paris and donated parts of the collections —
some 6,000 books, engravings and other items, all concerned mainly with
Western dance — to the French government which placed them at the museum and library of the Paris Opera.
However, the museum declined to accept two substantial elements of de
Maré's collection: firstly, material from the Ballets Suédois, and
secondly, the fruits of his expedition of exploration to Indonesia in 1936 — the first to have been undertaken with the purpose of documenting dance.
Therefore, the collection from the Swedish Ballet in Paris and the
non-European collections were brought by de Maré to Stockholm to form
the Dance Museum, which he opened in 1953 in the basement of the Royal Swedish Opera
in Stockholm. On his death he made the Dance Museum the sole heir to
his fortune, and this enabled the museum to make further acquisitions. After dissolving the Ballets Suedois in 1925, de Maré made no attempt
to revive its works. The various, concrete collectibles de Maré amassed
and that exist today as the bedrock of Stockholm's Dance Museum,
illuminate our picture of him as archivist and art collector, all the while they question his role as a connoisseur
of a theater based on the art of dancing. Throughout his life, Rolf de
Maré was also a distinguished art collector. In the early 1960s, he made
an important donation of modernist art to the Moderna Museet. Rolf de Maré died in Barcelona in 1964.
Rolf de Mare (1888 - 1964) was an art collector and leader Suédois Swedish Ballet in Paris 1920-1925. In 1933, Rolf de Mare was founded "Les Archives Internationales de la Danse" (AID) in Paris a world's first museum and research institute for dance. Archives became famous center for studies in dance and visitors come from all over the world to see the exhibition or to study in the extensive library. After the war, de Mare donated his collection of Swedish Ballet in Paris and the fruits of exploration expedition to Indonesia in 1938 - the first has been done with the purpose of documenting dance - to Stockholm to form the Museum of Dance, which he opened in 1953. During his visit to Indonesia Rolf de Mare, also took to the land of southern Sulawesi to mengdokumentasikan Bugis Makassar culture's land. Here is a set of photographs of works of Rolf de Mare who was in grimy from digitalgallery.nypl.org.
Berikut Karya Rolf de Mare tentang Budaya Bugis Makassar di Tahun 1938
1.09.2012
Waktu yang Akan Menarikmu Kembali
aku berani mencintaimu lebih besar dari Tuhan
tapi aku tahu Tuhan akan marah
aku bisa mencintaimu lebih besar dari Orang Tuaku
tapi aku tahu Orang Tuaku akan kecewa
aku mampu mencintaimu lebih besar dari Saudaraku
tapi aku tahu Saudaraku akan menyesal
aku dapat mencintaimu lebih besar dari Sahabatku
tapi aku tahu Sahabatku akan terluka
saat aku menemukan Tuhan dalam dirimu
dan aku dapati kau mulai untuk mencariku
aku tersadar kemampuanku hanya sebatas mencintaimu lebih dari diriku sendiri
kubenamkan pada keyakinanku untuk menjadikan ini sebagai kisah
meski aku tahu keberadaanku hanya untuk ini saja
terlepas dari waktu yang akan menarikmu kembali
aku salamkan pada penghujung kelak yang akan menentukan.
[CR]
18.12.2011
tapi aku tahu Tuhan akan marah
aku bisa mencintaimu lebih besar dari Orang Tuaku
tapi aku tahu Orang Tuaku akan kecewa
aku mampu mencintaimu lebih besar dari Saudaraku
tapi aku tahu Saudaraku akan menyesal
aku dapat mencintaimu lebih besar dari Sahabatku
tapi aku tahu Sahabatku akan terluka
saat aku menemukan Tuhan dalam dirimu
dan aku dapati kau mulai untuk mencariku
aku tersadar kemampuanku hanya sebatas mencintaimu lebih dari diriku sendiri
kubenamkan pada keyakinanku untuk menjadikan ini sebagai kisah
meski aku tahu keberadaanku hanya untuk ini saja
terlepas dari waktu yang akan menarikmu kembali
aku salamkan pada penghujung kelak yang akan menentukan.
[CR]
18.12.2011
1.08.2012
Adakah Dirimu Kini Sudah Yakin
Baru saja kembali dari pelukan misteri
Sempat aku tujukan tanya pada hatimu
Namun kau sendiri belum cukup yakin
Aku dipersalahkan namun banyak yang membenarkan
Menunggu nampaknya akan mengajarimu kesabaran
Alasan utama yang membuatku memaksamu untuk merasakannya
Maaf jika jenuh
Bukankah akan lebih banyak badai yang akan menahan langkah
Rasa sayang itu kehendak hatiBukan harus dipaksakan dan terpaksa
Aku kembali bertanya adakah dirimu kini sudah yakin?
[CR]
27.11.2011
Sempat aku tujukan tanya pada hatimu
Namun kau sendiri belum cukup yakin
Aku dipersalahkan namun banyak yang membenarkan
Menunggu nampaknya akan mengajarimu kesabaran
Alasan utama yang membuatku memaksamu untuk merasakannya
Maaf jika jenuh
Bukankah akan lebih banyak badai yang akan menahan langkah
Rasa sayang itu kehendak hatiBukan harus dipaksakan dan terpaksa
Aku kembali bertanya adakah dirimu kini sudah yakin?
[CR]
27.11.2011
Sepuncak Rahasia
Kisah ini adalah RAHASIA terbesar bagi seorang pemuda yang dalam
catatan ini dirinya sengaja aku palsukan. Kisahnya yang sempat tercatat
dalam buku harian ini penuh dengan alur yang mampu menggugah nalar dan
nurani. Perjalanan hidupnya yang begitu kejam serta sikapnya yang
pantang menyerah mampu menjadi kiblat bagi para remaja dalam menyikapi
kehidupan ini. Buku catatan yang berhasil diselamatkan sebelum
pemiliknya sempat membakar sajarah ini menyimpan berbagai macam rasa
yang membuat kita tertarik untuk mengenal lebih dalam akan sosoknya.
Naming butuh waktu dua bulan untuk meyakinkan pemiliknya agar mau
memberikan buku itu kemudian setelah mendapat izin saya rangkum menjadi
potongan yang sederhana namun penuh sesak dan emosi. Kehidupan
memberinya penjelasan yang menjadikannya seperti ini. Kisahnya menjadi
inspirasi bagi saya dan mungkin juga orang lain.
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..
1.04.2012
Sajak Tipis
1.01.2012
sajak debu II
Sajak Debu I
12.29.2011
Antara Asmara dan Amarah I
Di kota Makassar. Senja
di Pantai Losari membuat pemandangan penuh warna. Nampak dari kejauhan
kapal-kapal berlalu lalang mencari ikan dan ada juga yang difungsikan
sebagai alat transportasi menuju pulau-pulau sekitar selat Makassar. Di
sepanjang jalan yang dilalui terlihat muda-mudi menghabiskan waktunya
menikmati sunset di tambah dengan gorengan dan sara’ba khas Kota Daeng. Tidak ketinggalan para pengamen menghibur dengan paduan gitar dan jimbe klasik.
Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
Ternyata kau mendua membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih aku bukan pilihan
Reff lagu dari Iwan Fals “aku bukan pilihan” yang meraka nyanyikan memaksa pengunjung untuk ikut menyanyi bersama.
Motor scooter warisan nenek Baso melaju dari batas kota menuju bangunan tua peninggalan Belanda, Benteng Fort Rotterdam. Acara reuni Sekolah Losari Art Gallery (LOGA) Makassar yang ditempatkan di benteng itu mengumpulkan ratusan orang termasuk Baso Andika dan Andi Tenri Olle Zainal insan yang saling mencintai namun kenyataan tak mampu menyatukan mereka berdua. Setelah tamat dari LOGA’ Makassar Baso memilih menjauh dari kehidupan Tenri.
Kamu fikir kamu ini siapa, berani pacaran dengan anak saya. Bentak Ibu Tenri siang itu.
Inilah puncak alasan mengapa Baso pergi selain dari sejuta alasan lain yang dia pendam.
Baso kecewa tapi dia berhasil memperlihatkan gaya to rungka na mangkasara’ jika sedang patah hati. Kisah tragis, ini persoalan siri’. gumam Baso waktu itu. Hari-hari berikutnya dia berusaha bangkit kembali dari keterpurukan. Awalnya berat namun sisanya terlihat sempurna dia jalani. Baso ingin memulai masa baru dalam hidupnya tanpa mendustai perasaanya bahwa sebenarnya dia juga masih menyimpan perasaan itu. Cinta.
Keadaan sudah berubah namun perasaan itu tetap sama. Masa-masa sulit itu kini sudah menjadi bagian kenangan. Setelah 5 tahun terpisah mereka mungkin akan dipertemukan kembali di tempat ini. Segalanya dapat terjadi. Di atas benteng batu itu Baso duduk sendiri memandang jauh ke pantai. Kembali teringat masa-masa saat mereka bersama dulu.
Tidak mudah untuk melupakan kenangan ini seperti mudahnya aku meninggalkanmu waktu itu.
Mungkin kehadiranmu akan mengusir prahara ini tapi bisa juga membuat kebencianku kembali.
Tiba-tiba Bara datang.
Apa kabar saudara? Lama tak bertemu, tanyanya membuka pembicaraan. Alhamdulillah aku baik-baik saja, jawab Baso dengan nada kering.
Bagai mana kisahmu dengan Tenri?, Tanya Bara langsung menghentak perasaan Baso. Semua menjadi biasa saja. Aku sekarang mencoba memaafkan takdirku sendiri dan mencoba memulai kembali kisahku. Jawab Baso mencoba tegar. Dia ada di acara ini tapi kenapa kamu tidak menemuinya? Bara memberi tahu tentang kedatangan Tenri di acara ini. Maksud kamu Tenri?. Cukup dengan anggukan kepala Baso langsung melompat dan menuju ke taman.
Lama Baso mencari dalam seluk beluk benteng tapi ia belum menemukan sosok Tenri, sebelum Ulfa datang memberi tahu keberadaan Tenri. Baso, Tenri tadi mencarimu. Tapi aku bilang kamu tidak jadi datang karena sibuk mengurusi pementasanmu yang akan berangkat ke Palopo. Ulfa menjelaskan kepada Baso. Tapi sekarang, Tenri di mana? Tanpa basa-basi Baso langsung bertanya. Sepertinya dia di taman depan. Jawab Ulfa.
Baso segera meninggalkan Ulfa dan menuju ke taman depan, keramaian Nampak jelas. Mata Baso terus melototi setiap wanita yang duduk sendirian namun Baso belum juga menemukan sosok yang ia cari hingga adzan berkumandang, Baso pun berangkat ke Mesjid.
Setelah shalat acara pembukaan baru akan mulai Nampak para anggota panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya diruangan tempat acara di mulai. Baso sebagai ketua panitia mengkoordinir teman-teman yang lain untuk mempersiapkan gedung acara.
Jam di tangan telah menunjuk pukul 18:45 acara hampir dimulai segala sesuatunya telah siap. 10 menit kemudian gedung telah penuhi hiruk-pikuk manusia. Acara pembukaanpun dimulai, laporan ketua panitia oleh Baso Andhika, selama membacakan laporan dia terus gelisah seakan mencari sesuatu. Mata itu tiba-tiba berhenti mencari ketika pandangan terarah pada sosok gadis yang selama ini ia cari-cari, Tenri. Tak terasa acara pembukaan telah selesai di tutup dengan pembacaan do’a. Tiba-tiba ada kejadian tak terduga. Tenri naik ke mimbar lalu berbicara.
Tolong jangan ada yang meninggalkan ruangan ini. Aku ingin kalian semua jadi saksi malam ini.untuk semua kesetiaan yang aku punya. Tiba-tiba semua orang diam dan kembali ketempatnya. Tenri melanjutkan kata-katanya.
Aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang telah lama kubiarkan terpendam sendiri. Aku sadar ini kesalahan takdir yang dengan sendirinya menjadikan kisah kami seperti ini. Tragis. Aku tahu kamu pasti kecewa dan terluka. Tapi apakah aku salah, itu bukan inginku. Isakan tangis mulai terdengar mengiringi keluarnya kata-kata itu. Baso, masih adakah kesempatan kedua untukku?. Semua orang tersentak kaget dan tak percaya. Tatapan mata tertuju pada sosok lelaki kurus duduk di bangku deretan ke tujuh. Heran. Siapa yang tak mengenal Pak Zain di kota ini. Konglomerat papan atas. Sedangkan Baso, ayahnya hanyalah nelayan di pinggir kota ini.
Dengan langkah yang masih tak percaya dengan apa yang baru dia dengar Baso melangkah ke samping Tenri. Dengan sigap dia meraih microphone. Untuk apa yang barusan anda dengar itu hanyalah masa lalu kami. Tidak penting untuk menjadi bahan pikiran anda. Dan untuk pertanyaan tadi, semua orang menatap antusias. Penasaran. Apakah jawaban yang akan keluar dari mulut Baso. Lelaki bodoh mana yang berani menyianyiakan cinta Tenri, cerdas, kaya, baik dan shalehah. Maaf, untuk saat ini biarkan saja aku seperti ini. Bukan berarti aku menolak tapi biarlah aku sendiri dulu. Terima kasih. Tenri, jika engkau meminta penjelasan tentang perasaanku, hingga kini aku masih mencintaimu. Sambil berlari ke taman depan, Tenri menyeka air mata. Kisah ini meraka biarkan mengalir dan berharap suatu saat nanti tali nasib akan mempertemukan mereka kembali.
BERSAMBUNG --> II
Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
Ternyata kau mendua membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
Jangan pernah memilih aku bukan pilihan
Reff lagu dari Iwan Fals “aku bukan pilihan” yang meraka nyanyikan memaksa pengunjung untuk ikut menyanyi bersama.
Motor scooter warisan nenek Baso melaju dari batas kota menuju bangunan tua peninggalan Belanda, Benteng Fort Rotterdam. Acara reuni Sekolah Losari Art Gallery (LOGA) Makassar yang ditempatkan di benteng itu mengumpulkan ratusan orang termasuk Baso Andika dan Andi Tenri Olle Zainal insan yang saling mencintai namun kenyataan tak mampu menyatukan mereka berdua. Setelah tamat dari LOGA’ Makassar Baso memilih menjauh dari kehidupan Tenri.
Kamu fikir kamu ini siapa, berani pacaran dengan anak saya. Bentak Ibu Tenri siang itu.
Inilah puncak alasan mengapa Baso pergi selain dari sejuta alasan lain yang dia pendam.
Baso kecewa tapi dia berhasil memperlihatkan gaya to rungka na mangkasara’ jika sedang patah hati. Kisah tragis, ini persoalan siri’. gumam Baso waktu itu. Hari-hari berikutnya dia berusaha bangkit kembali dari keterpurukan. Awalnya berat namun sisanya terlihat sempurna dia jalani. Baso ingin memulai masa baru dalam hidupnya tanpa mendustai perasaanya bahwa sebenarnya dia juga masih menyimpan perasaan itu. Cinta.
Keadaan sudah berubah namun perasaan itu tetap sama. Masa-masa sulit itu kini sudah menjadi bagian kenangan. Setelah 5 tahun terpisah mereka mungkin akan dipertemukan kembali di tempat ini. Segalanya dapat terjadi. Di atas benteng batu itu Baso duduk sendiri memandang jauh ke pantai. Kembali teringat masa-masa saat mereka bersama dulu.
Tidak mudah untuk melupakan kenangan ini seperti mudahnya aku meninggalkanmu waktu itu.
Mungkin kehadiranmu akan mengusir prahara ini tapi bisa juga membuat kebencianku kembali.
Tiba-tiba Bara datang.
Apa kabar saudara? Lama tak bertemu, tanyanya membuka pembicaraan. Alhamdulillah aku baik-baik saja, jawab Baso dengan nada kering.
Bagai mana kisahmu dengan Tenri?, Tanya Bara langsung menghentak perasaan Baso. Semua menjadi biasa saja. Aku sekarang mencoba memaafkan takdirku sendiri dan mencoba memulai kembali kisahku. Jawab Baso mencoba tegar. Dia ada di acara ini tapi kenapa kamu tidak menemuinya? Bara memberi tahu tentang kedatangan Tenri di acara ini. Maksud kamu Tenri?. Cukup dengan anggukan kepala Baso langsung melompat dan menuju ke taman.
Lama Baso mencari dalam seluk beluk benteng tapi ia belum menemukan sosok Tenri, sebelum Ulfa datang memberi tahu keberadaan Tenri. Baso, Tenri tadi mencarimu. Tapi aku bilang kamu tidak jadi datang karena sibuk mengurusi pementasanmu yang akan berangkat ke Palopo. Ulfa menjelaskan kepada Baso. Tapi sekarang, Tenri di mana? Tanpa basa-basi Baso langsung bertanya. Sepertinya dia di taman depan. Jawab Ulfa.
Baso segera meninggalkan Ulfa dan menuju ke taman depan, keramaian Nampak jelas. Mata Baso terus melototi setiap wanita yang duduk sendirian namun Baso belum juga menemukan sosok yang ia cari hingga adzan berkumandang, Baso pun berangkat ke Mesjid.
Setelah shalat acara pembukaan baru akan mulai Nampak para anggota panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya diruangan tempat acara di mulai. Baso sebagai ketua panitia mengkoordinir teman-teman yang lain untuk mempersiapkan gedung acara.
Jam di tangan telah menunjuk pukul 18:45 acara hampir dimulai segala sesuatunya telah siap. 10 menit kemudian gedung telah penuhi hiruk-pikuk manusia. Acara pembukaanpun dimulai, laporan ketua panitia oleh Baso Andhika, selama membacakan laporan dia terus gelisah seakan mencari sesuatu. Mata itu tiba-tiba berhenti mencari ketika pandangan terarah pada sosok gadis yang selama ini ia cari-cari, Tenri. Tak terasa acara pembukaan telah selesai di tutup dengan pembacaan do’a. Tiba-tiba ada kejadian tak terduga. Tenri naik ke mimbar lalu berbicara.
Tolong jangan ada yang meninggalkan ruangan ini. Aku ingin kalian semua jadi saksi malam ini.untuk semua kesetiaan yang aku punya. Tiba-tiba semua orang diam dan kembali ketempatnya. Tenri melanjutkan kata-katanya.
Aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang telah lama kubiarkan terpendam sendiri. Aku sadar ini kesalahan takdir yang dengan sendirinya menjadikan kisah kami seperti ini. Tragis. Aku tahu kamu pasti kecewa dan terluka. Tapi apakah aku salah, itu bukan inginku. Isakan tangis mulai terdengar mengiringi keluarnya kata-kata itu. Baso, masih adakah kesempatan kedua untukku?. Semua orang tersentak kaget dan tak percaya. Tatapan mata tertuju pada sosok lelaki kurus duduk di bangku deretan ke tujuh. Heran. Siapa yang tak mengenal Pak Zain di kota ini. Konglomerat papan atas. Sedangkan Baso, ayahnya hanyalah nelayan di pinggir kota ini.
Dengan langkah yang masih tak percaya dengan apa yang baru dia dengar Baso melangkah ke samping Tenri. Dengan sigap dia meraih microphone. Untuk apa yang barusan anda dengar itu hanyalah masa lalu kami. Tidak penting untuk menjadi bahan pikiran anda. Dan untuk pertanyaan tadi, semua orang menatap antusias. Penasaran. Apakah jawaban yang akan keluar dari mulut Baso. Lelaki bodoh mana yang berani menyianyiakan cinta Tenri, cerdas, kaya, baik dan shalehah. Maaf, untuk saat ini biarkan saja aku seperti ini. Bukan berarti aku menolak tapi biarlah aku sendiri dulu. Terima kasih. Tenri, jika engkau meminta penjelasan tentang perasaanku, hingga kini aku masih mencintaimu. Sambil berlari ke taman depan, Tenri menyeka air mata. Kisah ini meraka biarkan mengalir dan berharap suatu saat nanti tali nasib akan mempertemukan mereka kembali.
BERSAMBUNG --> II
12.28.2011
Riwayat Air Mata
Yang aku tumpahkan di akhir adalah tangis tak bertangkai
Menukik segala sukma yang terpendam
Lara dan asa telah ku persembahkan kepada nirwana yang meminta tumbal
Dari senyuman kekasih yang terpenggal
Air mata telah aku bekukan dalam cangkir purnama
Semoga mampu menjadi jawaban dari pertanyaanmu
Makassar, 14 Juli 2010
Menukik segala sukma yang terpendam
Lara dan asa telah ku persembahkan kepada nirwana yang meminta tumbal
Dari senyuman kekasih yang terpenggal
Air mata telah aku bekukan dalam cangkir purnama
Semoga mampu menjadi jawaban dari pertanyaanmu
Makassar, 14 Juli 2010
12.23.2011
Balada Cinta
Bayangmu yang menyapaku sepi malam ini
Datang membawa sajak rindu yang pernah kutulis dalam salinan keterpaksaan
Senyummu menggetarkan sukmaku yang saat bersamaan telah koyak oleh api cemburu
Cemburu yang entah berantah kutujakan pada siapa maknanya
Aku yang masih bersembunyi dari cahaya rembulan ke tujuh hari ini
Menutup jendela dan berbaring rapuh di atas kemungkinan
Namun bayangmu yang menyapaku
Berhasil menghidupkan segenap naluri yang tersisa
Itupun hanya sebatas senyum pahit yang orang enggan melihatnya
Aku tahu aku rindu
Namun luka dari rasa bersalah ini tak mau mampus di terjangan waktu
Merajalela dalam ingatan dan membuatku terpuruk kaku sendiri
Menikmati sepi dengan tarian kunang-kunang yang lebih nikmat
Ketimbang harus menikmati seribu tubuh wanita dalam semalam
Hanya Tuhan yang membuatku kuat menarik nafas kehidupan
Aku bertahan dengan pahatan penyesalan
Kubiarkan bayanganku menjelajah menikmati kuatnya kenangan
Mencuri setiap cahaya rembulan dan menyimpannya untukku
Hingga aku kuat menyapa pemilik cahaya itu
Meskipun tertatih lemah terbungkus asa
Namun aku yakin dia mampu memberikan rahasianya padaku
Aku tak butuh pelangi dengan warnanya yang sering menipuku
Aku tak butuh bintang dengan cahayanya yang sering membodohiku
Aku tak butuh gerhana dengan fenomenanya yang sering menakutiku
Untuk menyatakan maaf kepadamu aku hanya butuh senyuman terakhir yang bisa kuberi
Kepada rembulan
Menjelmalah kau menjadi setiap keinginanku
Simpanlah simponi dari rahasia ini dalam bayanganmu
Kelak ceritakan pada alam raya tentang luka yang kubawa dari penyesalanku bertahun-tahun
Jadilah kau penulis biografi kisah ini
Kisah ini tak pernah usai
Meski nanar dan darah telah menghiasi jejakku
Mataku telah sayu menatap nestapa
Fikiranku dipenuhi penyesalan
Luka di tubuh tak lagi terasa
Sebab kutahu derita yang pernah kutitip padanya tak seberat ini
Malam ini
Aku masih tak beranjak meski kakiku telah mampu ku gerakkan
Lidahku keluh bisu dipertengahan cerita
Aku menunggumu dalam kesunyian meski kutahu kau tak akan datang
Membawa senyum ikhlasmu dan menyeretku keluar dari tempat ini
Tahukah kau saat ini aku membisikkan namamu
Dalam sunyi yang tak kau duga
Penyesalan abadi ini
Menerobos khayalanku dan membuatnya buram berantakan
Diamku cukup keras mengusirnya
Namun rasa bersalah itu masih tetap ada bersemayam
Sampai kapan
Aku tak tahu
Kepada Rembulan
Sampaikan gelisahku ini
Bacakan sajak yang aku pernah tuliskan untuknya
Bisikkan keberadaanku di dalam hatinya
Lalu pergilah kembali menyinari bumi
Jika dia mencintaiku dia pasti akan datang
Rasa bersalah ini
Mengikuti teriakan sunyiku
Mengapa kau tak meninggalkanku di saat aku terpuruk
Sementara kau tahu saat itu aku telah membuat mawar menjadi dua
Mengapa kau tak membenciku di saat aku koyak
Sementara kau tahu saat itu aku telah menitip luka padamu
Sajak ini akan menyampaikan maafku
Akan kukabarkan melalui seribu bait puisi yang kutulis di daun lontar
Meski kutahu umurku tak panjang lagi denganmu
Meski kutahu suatu saat engkau akan pergi
Biarkanlah aku belajar untuk membuatmu bahagia
Di sisa waktu yang masih bisa kukuasai
Inilah kekasihmu..
Maafkan dia yang pernah melukaimu
Mungkin kepergiannya membuat segalanya kembali menjadi indah
30.01.2011
PSIKOPAT
Psikopat secara harfiah berarti sakit jiwa. Psikopat berasal dari kata psyche yang berarti jiwa dan pathos yang berarti penyakit. Pengidapnya juga sering disebut sebagai sosiopat karena perilakunya yang antisosial dan merugikan orang-orang terdekatnya.
Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan [1].
Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama Robert D. Hare telah melakukan penelitian psikopat sekitar 25 tahun. Ia berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.
Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan [2].
Psikopat memiliki 20 ciri-ciri umum. Namun ciri-ciri ini diharapkan tidak membuat orang-orang mudah mengecap seseorang psikopat karena diagnosis gejala ini membutuhkan pelatihan ketat dan hak menggunakan pedoman penilaian formal, lagipula dibutuhkan wawancara mendalam dan pengamatan-pengamatan lainnya. Mengecap seseorang dengan psikopat dengan sembarangan beresiko buruk, dan setidaknya membuat nama seseorang itu menjadi jelek.
Lima tahap mendiagnosis psikopat
Psikopat tak sama dengan gila (skizofrenia/psikosis) karena seorang psikopat sadar sepenuhnya atas perbuatannya. Gejalanya sendiri sering disebut dengan psikopati, pengidapnya seringkali disebut orang gila tanpa gangguan mental. Menurut penelitian sekitar 1% dari total populasi dunia mengidap psikopati. Pengidap ini sulit dideteksi karena sebanyak 80% lebih banyak yang berkeliaran daripada yang mendekam di penjara atau di rumah sakit jiwa, pengidapnya juga sukar disembuhkan [1].
Seorang ahli psikopati dunia yang menjadi guru besar di Universitas British Columbia, Vancouver, Kanada bernama Robert D. Hare telah melakukan penelitian psikopat sekitar 25 tahun. Ia berpendapat bahwa seorang psikopat selalu membuat kamuflase yang rumit, memutar balik fakta, menebar fitnah, dan kebohongan untuk mendapatkan kepuasan dan keuntungan dirinya sendiri.
Dalam kasus kriminal, psikopat dikenali sebagai pembunuh, pemerkosa, dan koruptor. Namun, ini hanyalah 15-20 persen dari total psikopat. Selebihnya adalah pribadi yang berpenampilan sempurna, pandai bertutur kata, mempesona, mempunyai daya tarik luar biasa dan menyenangkan [2].
Psikopat memiliki 20 ciri-ciri umum. Namun ciri-ciri ini diharapkan tidak membuat orang-orang mudah mengecap seseorang psikopat karena diagnosis gejala ini membutuhkan pelatihan ketat dan hak menggunakan pedoman penilaian formal, lagipula dibutuhkan wawancara mendalam dan pengamatan-pengamatan lainnya. Mengecap seseorang dengan psikopat dengan sembarangan beresiko buruk, dan setidaknya membuat nama seseorang itu menjadi jelek.
Lima tahap mendiagnosis psikopat
- Mencocokan kepribadian pasien dengan 20 kriteria yang ditetapkan Prof. Hare. Pencocokkan ini dilakukan dengan cara mewawancara keluarga dan orang-orang terdekat pasien, pengaduan korban, atau pengamatan prilaku pasien dari waktu ke waktu.
- Memeriksa kesehatan otak dan tubuh lewat pemindaian menggunakan elektroensefalogram, MRI, dan pemeriksaan kesehatan secara lengkap. Hal ini dilakukan karena menurut penelitian gambar hasil PET (positron emission tomography) perbandingan orang normal, pembunuh spontan, dan pembunuh terencana berdarah dingin menunjukkan perbedaan aktivitas otak di bagian prefrontal cortex yang rendah. Bagian otak lobus frontal dipercaya sebagai bagian yang membentuk kepribadian [3] [4].
- Wawancara menggunakan metode DSM IV (The American Psychiatric Association Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder versi IV) yang dianggap berhasil untuk menentukan kepribadian antisosial.
- Memperhatikan gejala kepribadian pasien. Biasanya sejak usia pasien 15 tahun mulai menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan.
- Melakukan psikotes. Psikopat biasanya memiliki IQ yang tinggi.
- Sering berbohong, fasih dan dangkal. Psikopat seringkali pandai melucu dan pintar bicara, secara khas berusaha tampil dengan pengetahuan di bidang sosiologi, psikiatri, kedokteran, psikologi, filsafat, puisi, sastra, dan lain-lain. Seringkali pandai mengarang cerita yang membuatnya positif, dan bila ketahuan berbohong mereka tak peduli dan akan menutupinya dengan mengarang kebohongan lainnya dan mengolahnya seakan-akan itu fakta.
- Egosentris dan menganggap dirinya hebat.
- Tidak punya rasa sesal dan rasa bersalah. Meski kadang psikopat mengakui perbuatannya namun ia sangat meremehkan atau menyangkal akibat tindakannya dan tidak memiliki alasan untuk peduli.
- Senang melakukan pelanggaran dan bermasalah perilaku di masa kecil.
- Sikap antisosial di usia dewasa.
- Kurang empati. Bagi psikopat memotong kepala ayam dan memotong kepala orang, tidak ada bedanya.
- Psikopat juga teguh dalam bertindak agresif, menantang nyali dan perkelahian, jam tidur larut dan sering keluar rumah.
- Impulsif dan sulit mengendalikan diri. Untuk psikopat tidak ada waktu untuk menimbang baik-buruknya tindakan yang akan mereka lakukan dan mereka tidak peduli pada apa yang telah diperbuatnya atau memikirkan tentang masa depan. Pengidap juga mudah terpicu amarahnya akan hal-hal kecil, mudah bereaksi terhadap kekecewaan, kegagalan, kritik, dan mudah menyerang orang hanya karena hal sepele.
- Tidak mampu bertanggung jawab dan melakukan hal-hal demi kesenangan belaka.
- Manipulatif dan curang. Psikopat juga sering menunjukkan emosi dramatis walaupun sebenarnya mereka tidak sungguh-sungguh. Mereka juga tidak memiliki respon fisiologis yang secara normal diasosiasikan dengan rasa takut seperti tangan berkeringat, jantung berdebar, mulut kering, tegang, gemetar -- bagi psikopat hal ini tidak berlaku. Karena itu psikopat seringkali disebut dengan istilah "dingin".
- Hidup sebagai parasit karena memanfaatkan orang lain untuk kesenangan dan kepuasan dirinya.
Marilah Kekasihku
Marilah kekasihku
Kita menutup diri dari terangnya mentari yang sering menyalahkan kita
Kita buat seribu tengkonan di taman belakang rumah kita
Agar kelak kita bisa memilih kemana kita akan menyepi
Marilah kekasihku
Kita belajar merenungi hasil kerja dalam setahun ini
Kita kumpulkan keringat hasil kerja kita dalam tabungan masa depan
Agar kelak kita bisa memberikan jaminan pada hidup kita
Marilah kekasihku
Kita memberi warna pada pelangi malam dalam harmoni kisah kita
Kita jadikan dia misteri bagi sebagian orang
Agar kelak kita akan dikenang
Marilah kekasihku
Kita kembali menghiasi jejak ini
Kita jadikan taman seribu bunga tanpa layu dengan warnanya yang eksotis
Agar kenangan kita semakin indah dinikmati
15.12.2010
Kita menutup diri dari terangnya mentari yang sering menyalahkan kita
Kita buat seribu tengkonan di taman belakang rumah kita
Agar kelak kita bisa memilih kemana kita akan menyepi
Marilah kekasihku
Kita belajar merenungi hasil kerja dalam setahun ini
Kita kumpulkan keringat hasil kerja kita dalam tabungan masa depan
Agar kelak kita bisa memberikan jaminan pada hidup kita
Marilah kekasihku
Kita memberi warna pada pelangi malam dalam harmoni kisah kita
Kita jadikan dia misteri bagi sebagian orang
Agar kelak kita akan dikenang
Marilah kekasihku
Kita kembali menghiasi jejak ini
Kita jadikan taman seribu bunga tanpa layu dengan warnanya yang eksotis
Agar kenangan kita semakin indah dinikmati
15.12.2010
Rahasia Buku Catatan Ungu
Saat itu hari sudah gelap sementara hujan semakin deras saat Baso terpaksa berhenti disebuah rumah bekas kebakaran sekitar dua kilometer dari kostnya. Baso lupa membawa mantel sementara cuaca sangat tidak bersahabat. Setiap pulang kampus Baso sering memperhatikan rumah itu. Dari luar rumah ini tampak mewah meskipun warna catnya tak kentara lagi, gumam Baso. Saat kebakaran rumah itu sebenarnya tidak mengalami kerusakan yang terlalu parah, sisi samping rumah itu masih bisa di kategorikan utuh tapi entah mengapa pemiliknya enggan merenovasi ulang dan membiarkannya tak terurus. Akhirnya Baso memilih memarkir scooter bututnya di sisi kanan rumah itu kemudian masuk untuk berteduh sambil menghangatkan badannya.
Rasa penasaran serta naluri kelelakiannya memaksa dia untuk terus masuk kedalam rumah itu. Kosong tak terjamah sama sekali. Tak ada sisa-sisa kehidupan. Hanya ada satu pintu yang masih utuh namun tertutup rapat. Pasti kamar ini punya kenangan tersendiri bagi pemiliknya, imbuh Baso sambil memaksa membuka pintu kamar itu. Berhasil. Tampaknya kamar cowok, gumam Baso. Dinding kiri kamar itu dihiasi catatan-catatan yang tak kentara lagi. Baso tak mengerti maksudnya. Salah satu catatan yang masih dapat terbaca meski samar-samar. Selama ini aku berusaha untuk setia, jangan paksa aku untuk mencoba tidak setia. sepertinya aku pernah mendengar kata-kata ini. imbuh Baso. Banyak barang-barang yang berserakan di lantai kamar itu namun Baso lebih tertarik untuk mengambil buku ungu yang telah kusam. Baso membukanya. Sakti Gunawan nama pemilik buku itu. Halaman depan tertempel foto seorang wanita namanya Nilam Puspita. Nama yang entah berapa kali dituliskan dalam buku itu, Baso akhirnya memasukkan buku itu kedalam ranselnya.
Sementara diluar hujan menipis hanya suara kendaraan dan gerimis. Baso melangkah keluar meninggalkan rumah itu. Dia menyalakan scooternya dan bergegas kembali menuju ke kostnya. Diatas scooternya Baso terus terbayang dengan wajah wanita di buku kusam itu. Siapa sebenarnya dia. Kenapa pemiliknya membiarkan buku itu tergeletak begitu saja. Belasan pertanyaan muncul dibenaknya. Setelah sampai dikostnya dia memasak air panas dan menyeduh kopi kesukaannya. Belum sempat dia mengganti pakaian handphonenya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Tenri. Besok pagi kita kerumah Amran acara syukuran wisudanya. Setelah itu dia menuju kasurnya dan membalas pesan singkat Tenri. Baso kemudian teringat dengan buku ungu di ranselnya. Dia membuka dan menatap dalam foto itu. Manis untuk ukuran wanita Indonesia, hidungnya menjulang tinggi, senyumannya penuh karekter. Tatapan matanya manja dan menyimpan misteri. siapakah sebenarnya wanita ini. tanya Baso pada dirinya sendiri. Setelah cukup puas menatap foto itu dia kemudian membaca lembaran pertama.
09 Januari 2003
Nilam, mengenalmu sudah cukup membuatku bahagia. Kau selalu mampu menjadi pelipur laraku. Seandainya aku berani mengungkapkan rasa yang telah lama terpendam ini mungkin ceritanya akan berbeda. Seharusnya memang kamu tahu tentang perasaan ini. Itu jika selama ini kau mau mengerti tentang perasaanku. Tapi aku ragu dengan tingkahmu selamu ini. Seakan kau memberi sebuah harapan tapi selalu juga mengacuhkanku.
Apakah surat yang aku selipkan di bukumu saat menjelang ujian itu tidak cukup jelas. Seandainya kamu tahu siapa yang telah membuat puisi di mading sekolah yang sempat menjadi bahan perbincangan di kelas. Itu aku Nilam. Tapi biarlah seperti ini. Aku cukup bahagia.
17 Januari 2003
Cemburu. Apa itu tadi sengaja kau lakukan untuk membuatku cemburu. Kamu tahu Wandi itu sahabatku. Tapi mengapa dia sengaja kau paksa menemanimu ke kantin. Sungguh itu membuatku terluka.
25 Januari 2003
Aku sadar diriku memang tidak pantas untuk menjadi kekasihmu. Diriku tak ada apa-apanya di bandingkan dengan cowok yang kau ajak ke pesta ulang tahun Nisa kemarin malam. Tapi siapapun dirinya itu bukan masalah karena aku mencintai ikhlasmu bukan karena aku harus menyayangimu.
Cukup seru juga kisah mereka berdua, imbuh Baso setelah membaca beberapa penggalan isi buku tersebut. Saking seriusnya Baso lupa makan malam akhirnya dia bangkit untuk memasak mie rebus.
* * *
Karena kelelahan akhirnya Baso terlambat bangun pagi itu. Sementara dia punya rencana ke acara syukuran Amran bersama Tenri. Saat terbangun dia langsung melihat jam weker di atas meja kecilnya. Jam sudah menunjukkan Pukul 8:28 sementara dia janji bertemu di rumah tenri jam 9 pagi ini. Dengan sedikit kecewa Baso menuju ke kamar mandi. Berjalan sempoyongan sambil membawa alat mandi dan handuk birunya. Sampai didepan kamar mandi umum dia langsung lemas melihat antrian yang cukup mampu membuatnya terlambat untuk menjemput Tenri. Tidak ada pilihan lain Baso berbalik arah dan langsung pakaian kemudian menuju ke masjid untuk cuci muka dan sikat gigi ditambah sedikit memberi ornament wajib di rambutnya. Selesai.
Baso kemudian berangkat ke rumah Tenri untuk menjemputnya. Saat dalam perjalanan Baso kaget karena ada seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan. Baso merem mendadak scooternya kemudian berniat memarahi wanita tersebut namun dia sendiri heran. sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana. Gumam Baso. Karena sedang terburu-buru dia akhirnya lupa. Setelah sampai di rumah tenri dia masih terbayang wajah wanita itu.
è Bersambung
Rasa penasaran serta naluri kelelakiannya memaksa dia untuk terus masuk kedalam rumah itu. Kosong tak terjamah sama sekali. Tak ada sisa-sisa kehidupan. Hanya ada satu pintu yang masih utuh namun tertutup rapat. Pasti kamar ini punya kenangan tersendiri bagi pemiliknya, imbuh Baso sambil memaksa membuka pintu kamar itu. Berhasil. Tampaknya kamar cowok, gumam Baso. Dinding kiri kamar itu dihiasi catatan-catatan yang tak kentara lagi. Baso tak mengerti maksudnya. Salah satu catatan yang masih dapat terbaca meski samar-samar. Selama ini aku berusaha untuk setia, jangan paksa aku untuk mencoba tidak setia. sepertinya aku pernah mendengar kata-kata ini. imbuh Baso. Banyak barang-barang yang berserakan di lantai kamar itu namun Baso lebih tertarik untuk mengambil buku ungu yang telah kusam. Baso membukanya. Sakti Gunawan nama pemilik buku itu. Halaman depan tertempel foto seorang wanita namanya Nilam Puspita. Nama yang entah berapa kali dituliskan dalam buku itu, Baso akhirnya memasukkan buku itu kedalam ranselnya.
Sementara diluar hujan menipis hanya suara kendaraan dan gerimis. Baso melangkah keluar meninggalkan rumah itu. Dia menyalakan scooternya dan bergegas kembali menuju ke kostnya. Diatas scooternya Baso terus terbayang dengan wajah wanita di buku kusam itu. Siapa sebenarnya dia. Kenapa pemiliknya membiarkan buku itu tergeletak begitu saja. Belasan pertanyaan muncul dibenaknya. Setelah sampai dikostnya dia memasak air panas dan menyeduh kopi kesukaannya. Belum sempat dia mengganti pakaian handphonenya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Tenri. Besok pagi kita kerumah Amran acara syukuran wisudanya. Setelah itu dia menuju kasurnya dan membalas pesan singkat Tenri. Baso kemudian teringat dengan buku ungu di ranselnya. Dia membuka dan menatap dalam foto itu. Manis untuk ukuran wanita Indonesia, hidungnya menjulang tinggi, senyumannya penuh karekter. Tatapan matanya manja dan menyimpan misteri. siapakah sebenarnya wanita ini. tanya Baso pada dirinya sendiri. Setelah cukup puas menatap foto itu dia kemudian membaca lembaran pertama.
09 Januari 2003
Nilam, mengenalmu sudah cukup membuatku bahagia. Kau selalu mampu menjadi pelipur laraku. Seandainya aku berani mengungkapkan rasa yang telah lama terpendam ini mungkin ceritanya akan berbeda. Seharusnya memang kamu tahu tentang perasaan ini. Itu jika selama ini kau mau mengerti tentang perasaanku. Tapi aku ragu dengan tingkahmu selamu ini. Seakan kau memberi sebuah harapan tapi selalu juga mengacuhkanku.
Apakah surat yang aku selipkan di bukumu saat menjelang ujian itu tidak cukup jelas. Seandainya kamu tahu siapa yang telah membuat puisi di mading sekolah yang sempat menjadi bahan perbincangan di kelas. Itu aku Nilam. Tapi biarlah seperti ini. Aku cukup bahagia.
17 Januari 2003
Cemburu. Apa itu tadi sengaja kau lakukan untuk membuatku cemburu. Kamu tahu Wandi itu sahabatku. Tapi mengapa dia sengaja kau paksa menemanimu ke kantin. Sungguh itu membuatku terluka.
25 Januari 2003
Aku sadar diriku memang tidak pantas untuk menjadi kekasihmu. Diriku tak ada apa-apanya di bandingkan dengan cowok yang kau ajak ke pesta ulang tahun Nisa kemarin malam. Tapi siapapun dirinya itu bukan masalah karena aku mencintai ikhlasmu bukan karena aku harus menyayangimu.
Cukup seru juga kisah mereka berdua, imbuh Baso setelah membaca beberapa penggalan isi buku tersebut. Saking seriusnya Baso lupa makan malam akhirnya dia bangkit untuk memasak mie rebus.
* * *
Karena kelelahan akhirnya Baso terlambat bangun pagi itu. Sementara dia punya rencana ke acara syukuran Amran bersama Tenri. Saat terbangun dia langsung melihat jam weker di atas meja kecilnya. Jam sudah menunjukkan Pukul 8:28 sementara dia janji bertemu di rumah tenri jam 9 pagi ini. Dengan sedikit kecewa Baso menuju ke kamar mandi. Berjalan sempoyongan sambil membawa alat mandi dan handuk birunya. Sampai didepan kamar mandi umum dia langsung lemas melihat antrian yang cukup mampu membuatnya terlambat untuk menjemput Tenri. Tidak ada pilihan lain Baso berbalik arah dan langsung pakaian kemudian menuju ke masjid untuk cuci muka dan sikat gigi ditambah sedikit memberi ornament wajib di rambutnya. Selesai.
Baso kemudian berangkat ke rumah Tenri untuk menjemputnya. Saat dalam perjalanan Baso kaget karena ada seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan. Baso merem mendadak scooternya kemudian berniat memarahi wanita tersebut namun dia sendiri heran. sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana. Gumam Baso. Karena sedang terburu-buru dia akhirnya lupa. Setelah sampai di rumah tenri dia masih terbayang wajah wanita itu.
è Bersambung
Zenit
mari kawan kita jalan di pematang ini
panggil raga yang sepi diantara tangisan malam
sampai hilang rasa menemui kedamaiaan dan terlelap diantara pelukan kebenaran
tak usah kau meminta imbalan dari perjuangan karena Tuhan telah memberimu nafas dari kasturi syurga
mampu menjinakkan nafsumu untuk membunuh harapan
mari kawan kita membuka jalan baru dari poros melingkar ini
tak usah ukir jejekmu disana
karena alam hanya memberi kita satu kali kesempatan
buanglah sisa dari ketangguhan akal untuk diam
karena saat ini kita harus terus meneriakkan keadilan
kepada siapa yang memerlukan dan harus memerlukan
ajari dia cara untuk meniup lilin dari setiap kado yang dia terima
seperti ketika kita diajarkan untuk meniup lilin harapan itu.
Makassar 21 Nov 2011
panggil raga yang sepi diantara tangisan malam
sampai hilang rasa menemui kedamaiaan dan terlelap diantara pelukan kebenaran
tak usah kau meminta imbalan dari perjuangan karena Tuhan telah memberimu nafas dari kasturi syurga
mampu menjinakkan nafsumu untuk membunuh harapan
mari kawan kita membuka jalan baru dari poros melingkar ini
tak usah ukir jejekmu disana
karena alam hanya memberi kita satu kali kesempatan
buanglah sisa dari ketangguhan akal untuk diam
karena saat ini kita harus terus meneriakkan keadilan
kepada siapa yang memerlukan dan harus memerlukan
ajari dia cara untuk meniup lilin dari setiap kado yang dia terima
seperti ketika kita diajarkan untuk meniup lilin harapan itu.
Makassar 21 Nov 2011
Langganan:
Postingan (Atom)
