Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
on 1.27.2015


: ina waloni – pada suatu senja

Tak ada kenangan yang kita simpan
Kecuali percakapan yang sangaja kubiarkan memanjang
Bagai jarak yang kutahu akan membentang
Mungkin kau tak menikmatinya, Nona
Seperti aku yang bahagia menaman dalam tanah
semua kata yang engkau ucapkan

Setelah kita dipisah jarak
Kata-katamu tumbuh menjadi pohon dewandaru
Rindang meneduh tubuhku yang kurus
Kubangun rumah pohon di batangnya
Kelak, bila kau pulang
Singggahlah merebah diri
Agar kau tak pernah lelah mencintaiku
Tak pernah lelah mencintaiku

Sesekali bila didera rindu
Kuinapkan tubuhku di rumah itu
Kupetik satu daun yang paling engkau
Kuletakkan di bawah bantal lalu memejam mata
Katanya, mimpi akan datang bersama orang yang kita rindukan

Bila telah terjaga, aku menyalin doa di daun itu
Berharap engkau selalu percaya
Meskipun aku datang sebagai atau-atau yang paling meragukan

Aku menjalani dan menjalini semua ini seperti pengingat waktu yang enggan
membangunkan kau. Betah dan tabah.
on 11.14.2014


dunia ini adalah arloji raksasa yang jahat
ada sepasang jarum yang bergerak lambat dan yang satu berputar tak berperasaan
seolah tak memiliki waktu untuk menunggu apapun yang tertinggal
acap kali melihat jarum jam itu berputar
aku membayangkan sepinya angka-angka
yang tak pernah benar-benar memiliki
hanya suara detak yang teratur mendentum telinga setiap angka
yang abadi menghuni dirinya sendiri

“jika angka tiga jatuh cinta kepada jarum itu,
dengan cara apa ia akan mengungkapkan perasaannya?”

tak ada angka yang mampu menahan jarum itu untuk bertahan melebihi satu detik
hanyalah ketabahan yang kebetulan bertindak lebih dewasa
melampaui angka yang paling purba

tapi ini telah terjadi ratusan tahun
saat angka-angka itu dipasang sebagai pengingat waktu
dipasung menjadi tumbal dari simbol kecerdasaan manusia

mengapa bukan bentuk kelamin lelaki sebagai jam satu
buah dada perempuan sebagai jam dua
celana dalam sebagai jam tiga – begitu seterusnya
sebab hal paling kejam dari pertemuan adalah
ketika sesuatu saling mencintai namun tak didapat memiliki
on 11.12.2014

kau pernah menjadi setrika arang
dan aku kemaja senja di atas meja
yang selalu kusut tak terurus
kau merelakan tubuhmu memanas untuk merapikan murut di tubuhku
setiap kapan, ketika kau menemukanku
kau selalu punya alasan mengusap tubuhku

tapi aku adalah kemeja senja nakal yang senang bermain-main
melipat tubuhnya sendiri hingga carut dan kusut kembali
hingga kau sadar segala yang kau lakukan sia-sia
lalu memilih berhenti menjadi setrika dan pergi
berubah menjadi apapun yang kini kutakutkan

tapi aku masih kemeja senja yang nakal
yang belajar merapikan dirinya sendiri
meskipun kau selalu curiga, aku pembelajar yang menyedihkan


juga menyebalkan
on 9.07.2014



Hari Keadilan

hari minggu adalah hari keadilan. aku menikmatinya dengan berbaring di kamar sambil membaca puisi di koran minggu. di meja, kopi toraja yang ibu antarkan masih hangat. jendela terbuka lebar tapi tak cukup besar untuk menjadi keindahan. pandanganku terhalauh gedung-gedung tinggi yang menjulang. menjadi palang. menjadi halang.
“kota memang tak mengenal kata libur”

pukul sebelas kau datang membawa kabar. mengeluh tentang kemacetan kota dan berita keonaran dunia. aku ikut merasakan resahmu. rasa yang bahkan tak perlu kucemaskan saat berbaring, menikmati pagi dengan kebebasan.

kau mengajakku keluar, menikmati sore di taman.
“sepertinya kita butuh berlibur dari semua kesibukan yang lembur”
cinta memang selalu punya pengecualian. ajakanmu kuterima. kita berdua menunggu hari menjadi senja. lalu berjalan melawati pohon-pohon yang menggugurkan daunnya. meskipun kita tak mengenal musim semi, tapi pohon-pohon ini punya cara untuk berbicara. ia menyampaikan semua perasaannya lewat daun yang jatuh. sekali waktu ia menumbangkan tubuhnya, agar orang-orang tahu rasanya di tanam lalu dilupakan.

saat tiba di taman. keramaian mempersembahkan semua hal yang meresahkan. keriuhan dan segala hal yang tak mengenal libur. suara orang-orang tertawa yang bahkan lebih besar dari panggilan ibadah. mereka seperti memaksa dirinya untuk terhibur. menertawakan hal yang bahkan tidak humor.
“seperti itukah cara kita menikmati libur?”

kita akhirnya hanya duduk berdua. menunggu matahari untuk libur dan berharap ia muncul minggu depan, agar kita punya waktu yang panjang untuk istirahat
“mungkin dengan begitu kita tahu cara untuk menikmati hari libur”
 


Kutabahkan Semua Perih sebab Kutahu Cinta adalah Luka

aku datang dari jalan tanah yang sempit
jalan yang tak pernah kau ingat
kau adalah satu-satunya pengendara malam ini
dan aku hanyalah rambu lalu lintas yang tak pernah kau patuhi

aku datang dari jalan tanah yang sempit
sebuah tempat yang tak pernah kau pijak
ingatanmu jalan raya lengang bagi pengendara ugal
yang senang menambah kecepatan
gedung-gedung yang dihuni cinta kau lewatkan begitu saja
padahal telah kuperindah segalanya
agar kau tertarik untuk singgah
walau sekadar menghabiskan beberapa hela nafas yang tak pernah kau jumlah
tapi matamu selalu tertawa dengan kecepatan yang akan kau sesali
kelak, setelah kau tiba di ujung jalan tanpa pilihan



























Jalan Lain ke Kotamu

ketika cinta yang kau perjuangkan tak lagi memiliki selera humor
larilah ke dalam kota yang tak pernah tidur
kau akan menemukan banyak kemungkinan untuk tertawa
melihat cinta dirampas dan manusia memihak kepada dusta
orang-orang membahak kisah-kisah setia
sementara hati mereka telah patah
mereka juga senang menuntut kesempurnaan cinta
sementara tak menjaga dirinya dari pengkhianatan

kota ini senang membuat kekacauan yang mereka harap dapat kendalikan
tapi cinta hidup di luar semua itu
ia berjalan di atas kemungkinan-kemungkinan
seperti hiburan yang senang menyembunyikan kesedihan
atau liburan yang kerap menyita kebahagiaan
“cinta tak mengenal setia, tapi kita yang mencintai tak boleh khianat”
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

1.27.2015

Kupetik Satu Daun yang Paling Engkau

Diposting oleh Unknown di 09.48 0 komentar


: ina waloni – pada suatu senja

Tak ada kenangan yang kita simpan
Kecuali percakapan yang sangaja kubiarkan memanjang
Bagai jarak yang kutahu akan membentang
Mungkin kau tak menikmatinya, Nona
Seperti aku yang bahagia menaman dalam tanah
semua kata yang engkau ucapkan

Setelah kita dipisah jarak
Kata-katamu tumbuh menjadi pohon dewandaru
Rindang meneduh tubuhku yang kurus
Kubangun rumah pohon di batangnya
Kelak, bila kau pulang
Singggahlah merebah diri
Agar kau tak pernah lelah mencintaiku
Tak pernah lelah mencintaiku

Sesekali bila didera rindu
Kuinapkan tubuhku di rumah itu
Kupetik satu daun yang paling engkau
Kuletakkan di bawah bantal lalu memejam mata
Katanya, mimpi akan datang bersama orang yang kita rindukan

Bila telah terjaga, aku menyalin doa di daun itu
Berharap engkau selalu percaya
Meskipun aku datang sebagai atau-atau yang paling meragukan

Aku menjalani dan menjalini semua ini seperti pengingat waktu yang enggan
membangunkan kau. Betah dan tabah.

11.14.2014

Angka-angka yang Mati dalam Arlojimu

Diposting oleh Unknown di 19.50 0 komentar


dunia ini adalah arloji raksasa yang jahat
ada sepasang jarum yang bergerak lambat dan yang satu berputar tak berperasaan
seolah tak memiliki waktu untuk menunggu apapun yang tertinggal
acap kali melihat jarum jam itu berputar
aku membayangkan sepinya angka-angka
yang tak pernah benar-benar memiliki
hanya suara detak yang teratur mendentum telinga setiap angka
yang abadi menghuni dirinya sendiri

“jika angka tiga jatuh cinta kepada jarum itu,
dengan cara apa ia akan mengungkapkan perasaannya?”

tak ada angka yang mampu menahan jarum itu untuk bertahan melebihi satu detik
hanyalah ketabahan yang kebetulan bertindak lebih dewasa
melampaui angka yang paling purba

tapi ini telah terjadi ratusan tahun
saat angka-angka itu dipasang sebagai pengingat waktu
dipasung menjadi tumbal dari simbol kecerdasaan manusia

mengapa bukan bentuk kelamin lelaki sebagai jam satu
buah dada perempuan sebagai jam dua
celana dalam sebagai jam tiga – begitu seterusnya
sebab hal paling kejam dari pertemuan adalah
ketika sesuatu saling mencintai namun tak didapat memiliki

11.12.2014

Di atas Meja Setrika

Diposting oleh Unknown di 04.40 0 komentar

kau pernah menjadi setrika arang
dan aku kemaja senja di atas meja
yang selalu kusut tak terurus
kau merelakan tubuhmu memanas untuk merapikan murut di tubuhku
setiap kapan, ketika kau menemukanku
kau selalu punya alasan mengusap tubuhku

tapi aku adalah kemeja senja nakal yang senang bermain-main
melipat tubuhnya sendiri hingga carut dan kusut kembali
hingga kau sadar segala yang kau lakukan sia-sia
lalu memilih berhenti menjadi setrika dan pergi
berubah menjadi apapun yang kini kutakutkan

tapi aku masih kemeja senja yang nakal
yang belajar merapikan dirinya sendiri
meskipun kau selalu curiga, aku pembelajar yang menyedihkan


juga menyebalkan

9.07.2014

Puisi Setangkai

Diposting oleh Unknown di 03.59 0 komentar



Hari Keadilan

hari minggu adalah hari keadilan. aku menikmatinya dengan berbaring di kamar sambil membaca puisi di koran minggu. di meja, kopi toraja yang ibu antarkan masih hangat. jendela terbuka lebar tapi tak cukup besar untuk menjadi keindahan. pandanganku terhalauh gedung-gedung tinggi yang menjulang. menjadi palang. menjadi halang.
“kota memang tak mengenal kata libur”

pukul sebelas kau datang membawa kabar. mengeluh tentang kemacetan kota dan berita keonaran dunia. aku ikut merasakan resahmu. rasa yang bahkan tak perlu kucemaskan saat berbaring, menikmati pagi dengan kebebasan.

kau mengajakku keluar, menikmati sore di taman.
“sepertinya kita butuh berlibur dari semua kesibukan yang lembur”
cinta memang selalu punya pengecualian. ajakanmu kuterima. kita berdua menunggu hari menjadi senja. lalu berjalan melawati pohon-pohon yang menggugurkan daunnya. meskipun kita tak mengenal musim semi, tapi pohon-pohon ini punya cara untuk berbicara. ia menyampaikan semua perasaannya lewat daun yang jatuh. sekali waktu ia menumbangkan tubuhnya, agar orang-orang tahu rasanya di tanam lalu dilupakan.

saat tiba di taman. keramaian mempersembahkan semua hal yang meresahkan. keriuhan dan segala hal yang tak mengenal libur. suara orang-orang tertawa yang bahkan lebih besar dari panggilan ibadah. mereka seperti memaksa dirinya untuk terhibur. menertawakan hal yang bahkan tidak humor.
“seperti itukah cara kita menikmati libur?”

kita akhirnya hanya duduk berdua. menunggu matahari untuk libur dan berharap ia muncul minggu depan, agar kita punya waktu yang panjang untuk istirahat
“mungkin dengan begitu kita tahu cara untuk menikmati hari libur”
 


Kutabahkan Semua Perih sebab Kutahu Cinta adalah Luka

aku datang dari jalan tanah yang sempit
jalan yang tak pernah kau ingat
kau adalah satu-satunya pengendara malam ini
dan aku hanyalah rambu lalu lintas yang tak pernah kau patuhi

aku datang dari jalan tanah yang sempit
sebuah tempat yang tak pernah kau pijak
ingatanmu jalan raya lengang bagi pengendara ugal
yang senang menambah kecepatan
gedung-gedung yang dihuni cinta kau lewatkan begitu saja
padahal telah kuperindah segalanya
agar kau tertarik untuk singgah
walau sekadar menghabiskan beberapa hela nafas yang tak pernah kau jumlah
tapi matamu selalu tertawa dengan kecepatan yang akan kau sesali
kelak, setelah kau tiba di ujung jalan tanpa pilihan



























Jalan Lain ke Kotamu

ketika cinta yang kau perjuangkan tak lagi memiliki selera humor
larilah ke dalam kota yang tak pernah tidur
kau akan menemukan banyak kemungkinan untuk tertawa
melihat cinta dirampas dan manusia memihak kepada dusta
orang-orang membahak kisah-kisah setia
sementara hati mereka telah patah
mereka juga senang menuntut kesempurnaan cinta
sementara tak menjaga dirinya dari pengkhianatan

kota ini senang membuat kekacauan yang mereka harap dapat kendalikan
tapi cinta hidup di luar semua itu
ia berjalan di atas kemungkinan-kemungkinan
seperti hiburan yang senang menyembunyikan kesedihan
atau liburan yang kerap menyita kebahagiaan
“cinta tak mengenal setia, tapi kita yang mencintai tak boleh khianat”