Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
on 2.07.2015


Hutan lebat. Di tengahnya mengalir sungai cantik berair jernih. Selain sungai, tak ada yang tahu hulu dan hilirnya. Pohon Dewandaru berusia ratusan tahun tumbuh setia di bantaran sungai cantik itu. Ia jatuh cinta. Jatuh cinta pada sungai tersebut.
Setiap hari dipandangnya aliran sungai hingga hari jauh dan malam menggelap. Selalu begitu. Sampai ia tak mampu menahan lagi hasratnya untuk bersatu dan memilih menumbangkan tubuhnya ke aliran sungai dengan harapan dapat hidup abadi bersama sungai. Sungguh, harapan yang mulia.
Tapi, datanglah kenyataan yang jauh dari harapan. Sungai tak diciptakan dengan lengan yang mampu memeluk apapun. Tubuh pohon dewandaru itu diasak ke hilir dan berakhir di laut luas yang jauh dari harapan. Sangat jauh
on 7.23.2013

Kenapa jika Ayah Saya Komunis?

Jakarta, 1955
Akhir bulan Juli. Pagi itu sedang cerah, musim penghujan masih jauh. Di lapangan Senayan Jakarta, massa berkumpul untuk merayakan masuknya PKI sebagai empat partai besar di Indonesia pada pemilu 1955. Ayah mengajak saya untuk datang di rapat akbar PKI. Umur saya waktu itu kira-kira 5 tahun. Tidak banyak yang saya ingat, lapangan penuh dengan warna merah dan umbul-umbul bergambarkan palu arit. Beberapa tahun kemudian saya baru mengerti jika itu adalah lambang Partai Komunis Indonesia.
Lapangan sesak, di atas panggung seorang sedang berpidato dengan penuh semangat. Siapa dia, saya tidak tertarik ditambah waktu itu saya tidak mengerti apa isi pidatonya. Saya lebih tertarik mendengar cerita Ayah saya dengan teman lamanya. Ayah saya sedang sibuk mengenang perjuangan mereka ketika partai ini baru terbentuk. Belakangan juga saya baru tahu jika ternyata orang yang sedang berpidato itu adalah D.N Aidit, ketua PKI waktu itu.
Sepulang dari rapat akbar itu, Ayah singgah di toko buku yang terletak di simpang jalan merpati nomor 58. Membeli beberapa buku dan memasukkannya ke tas jinjing yang selalu ia bawa kemanapun Ayah pergi. Ayah membonceng saya pulang dengan sepada. Satu hal yang terus saya ingat, bahwa Ayah saya adalah salah satu jenis manusia pendiam yang sangat ramah. Bahkan dengan anaknya sendiri, ayah selalu membatasi kata-katanya.
Ayah cukup dikenal di lingkungan tempat kami tinggal. Oh ya, saya hampir lupa mengisahkan tentang Ibu saya. Ibu saya adalah aktivis di Gerwani. Setidaknya itu kata yang suka ibu sebut ketika berkumpul dengan ibu-ibu yang sering bertandang ke rumah saya. Saya bersaudara hanya dua orang. Kakak saya seorang perempuan yang kala itu berumur 8 tahun.
Selain aktif di PKI, Ayah saya juga berkantor di Lekra atau dikenal juga dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat. Saya beberapa kali dibawa oleh Ayah ke kantornya. Dari situlah saya kenal beberapa teman Ayah yang sangat kritis dan anti imperialis, Pramoedya Ananta Toer salah satunya. Saya termasuk anak yang selalu ingin tahu dan saya lebih suka diajak ke kantor Ayah dari pada ikut pertemuan, apa lagi yang semacam rapat akbar seperti di lapangan senayan tempo hari itu.
Di usia delapan tahun, saya bisa membaca dan menulis. Itu membuat saya bisa tahu beberapa berita yang bahkan orang tua tidak bisa membacanya. Anak sebaya saya waktu itu masih senang bermain kelereng dan cangklok sedangkan saya sudah mulai gemar membaca buku-buku dan koran. Di kantor ayah, saya senang karena bisa membaca dengan puas beberapa tulisan dari teman ayah. Salah satu Koran yang sering saya baca adalah Bintang Timur.
Keluarga saya hidup sangat sederhana. Kakak perempuan saya beruntung, setidaknya ia bisa sekolah tidak seperti anak perempuan yang lain. Sedangkan saya terus diajar otodidak oleh ibu untuk menulis indah. Ayah suka dengan hewan, salah satu yang ayah pelihara adalah kuda. Nama kuda itu djagal. Ayah sangat merawatnya dan menganggap kuda kesayanggannya itu sebagai bagian dari keluarga kecil kami. Kebahagiaan ini berlangsung sampai usia saya belasan tahun

***

on 9.16.2012
Malam ini belum terlalu larut. Masih ada seribu bintang dan dingin belum terlalu kejam. Dinding kamarku masih menempel rapi poster Ernesto Guevara dan beberapa catatan abadi masih menghiasi dinding kamarku. Lantaikupun masih berserakan tulisan yang belum sempat kurampungkan. Celana dalam seminggu lalu juga belum sempat aku masukkan dikeranjang pakaian kotor. Dengan sedikit bahagia aku membuka pintu kamarku dan menyerahkan diriku pada kasur yang selalu terasa empuk aku tiduri. 

Mata terpejam tapi pikiran tetap menjelajah pada bayangan beberapa perjalanan rahasia seminggu belakangan ini. Betapa tidak. perempuan senja dilorong itu, pelayaran misterius tentang suku yang hampir punah di pulau ambangisu dan terakhir kisah juli yang baru berakhir di desember ini. Kesemuanya menjadi fragmen yang saling terkait. Semacam oases dalam diri yang masih remaja ini.

***

Berlanjut di pagi buta. Di luar udara masih sangat dingin. Kukucek mataku dan kuarahkan pandangan pada jam weker yang masih berkutat di jam 4 dini hari. Pintu digedor  dan samar kudengar suara seorang lelaki. Membentak.

"Awa, bangun. katanya dari balik pintu.

Hanya suara itu yang kudengar selebihnya semacam diskusi kecil yang membahas tentang apa dan siapa. aku meleleh di pembaringan. Sedikit takut namun selebihnya aku nampak tenang saja. Berdiri dan berjalan menuju pintu. Kubuka dan kain hitam menyekap kepalaku. sedikit pukulan di tengkuk membuatku tidak sadarkan diri. Pingsan.

Saat aku sadar, semua terasa aneh. ada beberapa pasang mata menatapku. di ruang yang masih aneh bagiku ini ada beberapa benda asing, Laptop putih tergeletak disampingku dan photo perempuan senja dilorong itu tepat diatas dadaku. Aku baru sadar ternyata kelompok radikal yang menai dirinya kelompok sosialisme prolateral inilah yang kemarin aku temui di warkop. Beberapa diantara mereka aku sempat aku lihat di tayangan berita beberapa malam yang lalu. Dia seorang aktivis yang terkenal keras dalam mengkritik pemerintah.

Kamu tahu mengapa harus dibawa kemari? tanya seorang lelaki yang belakangan aku tahu bernawa Warta. tidak jawabku dengan sedikit melototi matanya.
Tulisanmu di beberapa terlalu keras. Itu mengancam beberapa rencana besar kelompok kami.

Kamu tahu bahawa negara ini sedang menghadapi

#berlanjut
on 3.01.2012
Makassar, 1510 M
Pagi yang cerah di dalam Istana Kerajaan Gowa. Di taman belakang sang Raja Agung Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna berbincang dengan permaisuri tentang anak bayi yang baru dia lahirkan sementara dayang kerajaan tak hentinya mengipas dan menyuguhkan buah segar di hadapannya. Angin sejuk berhembus menembus batas sadarnya. Tentram. Tiba-tiba Daeng Sangkilang, penasehat raja datang menghadap untuk melaporkan tentang kekacauan yang terjadi di wilayahnya. Saat itu tanah gowa ibarat rimba tak bertuan. Orang-orang saling adu kekuatan untuk membuktikan kehebatannya dan akhirnya orang lemah tersingkir dari kehidupan. Sang raja begitu kaget mendengar laporan Daeng Sangkilang.
Raja memerintahkan kepada Daeng Mattawang sebagai komandan tu barania untuk turun menenangkan kekacauan tersebut. Ia diberikan waktu seminggu untuk membuat wilayah ini kembali tenang. Namun seminggu kemudian Daeng Mattawang datang menghadap pada sang raja dan mengutarakan keadaan yang sebenarnya.
“Sangat sulit Karaeng. Kondisi rakyat sungguh diluar batas kewajaran. Mereka bertarung layaknya binatang. Saling membunuh satu sama lain. Kata Daeng Mattawang ciut dihadapan raja karena kegagalannya mengembalikan suasana wilayah kerajaan ini.
Sang raja berdiri dari singgasananya. Menatap jauh kedepan. Matawang agak takut melihat murka rajanya. Ia menunggu titah apa yang akan diberikan lagi kepadanya. Sang raja kemudian mencabut badik dari warangkanya dan mengacungkan ke langit.
“Hari ini aku bersumpah atas nama ayahku bahwa kerajaan ini akan kembali seperti dulu lagi jika tidak aku akan mati ditiang pancung. Setelah mengucapkan janjinya sang raja kemudian memerintahkan Daeng Mattawang untuk menyiapkan kudanya. Sang raja akan turun tangan sendiri. Namun Sangkilang menyarankan agar raja tetap disini. Biarkan pasukan tu barania patampulo yang menenangkan wilayah ini. Pasukan yang telah di latih khusus untuk menjadi duta perang kerajaan Gowa. Namun ternyata tekad sang raja untuk turun tangan dalam masalah ini sudah bulat. Raja bersama pasukan tu barania patampulo menyisir setiap wilayah yang diyakini sering terjadi kerusuhan namun ternyata itu juga tak membuahkan hasil apapun.
Kondisi ini terus berlanjut. Orang yang merasa kuat terus mencari lawan sepadan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat diantara mereka. Sang raja kemudian mengatur strategi. Dibuatlah sebuah sayembara berhadiah permaisuri cantik dan mengundang semua pendekar untuk ikut bertarung. Ternyata sayembara ini di dengar oleh Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang mulai dari wilayah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Mereka mengutus juga para jagoannya untuk ikut sayembara yang diadakan sang raja. Rivalitas Bate Salapang memang selalu mengundang perselisihan. Strategi ini memang berhasil meredam kekacauan. Berkat kecerdasan Karaeng Tumapa'risi' Kallonna melihat celah kemungkin untuk mengembalikkan suasana kerajaan meskipun hari-hari selanjutnya masih terdengar berita perkelahian di wilayahnya namun tidak seperti dulu lagi.
Sampai pada sutu hari di pagi yang buta. Wilayah kerajaan Gowa dihantam hujan deras disertai petir yang menyambar tanpa henti. Peristiwa ini berlangsung selama tujuh hari dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah kerajaan Gowa. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Sawah nan luas tergenang sisa air hujan. Saat bersamaan ratusan rakyat Gowa tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.
Semenjak saat itu rakyat Gowa mempercayai bahwa mereka adalah tomanurung yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi. Jadilah Raja Karaeng Tumapa'risi' Kallonna yang ikut menyaksikan kejadian itu kemudian menjadikannya sebagai sawah kerajaan. Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan.
Malam harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna bermimpi bahwa kelak akan kembali terjadi kerusuhan yang luar biasa di wilayahnya. Ketujuh tokoh tersebut akan turun lagi ke bumi suatu ketika nanti. Dan di tengah hamparan sawah itu berbinar tujuh cahaya. Namun, seperti kedatangan mereka semula, akan ada pula kondisi tak menentu yang mendahuluinya. Keesokan harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna memanggil Daeng Sangkilang untuk menafsirkan mimpinya. Ternyata itu benar. Bahwa kelak akan ada suasana tak menentu. Ditulislah dalam lontara : jarangji na kongkong sikokko na sitindang, ganca-gancamo cera’. “Hanya kuda (yang merupakan simbol penguasa) dan anjing (sebagai simbol penentu kebijakan), saling gigit dan tendang hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah,”
Di saat banjir darah itulah, di Karebosi akan muncul secara tiba-tiba tujuh Balla` Lompoa atau istana yang bentuknya serupa. Uniknya, bukan hanya bangunannya yang sama, tapi fisik, roman wajah, perilaku, dan kharisma penghuni istana juga bak pinang dibelah dua. Tapi di antara tujuh tokoh itu ada yang memiliki kharisma paling kuat. Tokoh itulah yang nanti akan jadi pemimpin utama dan menunjuk orang-orang yang dianggap bisa memulihkan keadaan pada saat itu. Tokoh itu merupakan penyeimbang antara 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, lanjut Daeng Sangkilang memberitahukan hasil tafsiran sang raja.

--> Berlanjut
on 1.08.2012
Kisah ini adalah RAHASIA terbesar bagi seorang pemuda yang dalam catatan ini dirinya sengaja aku palsukan. Kisahnya yang sempat tercatat dalam buku harian ini penuh dengan alur yang mampu menggugah nalar dan nurani. Perjalanan hidupnya yang begitu kejam serta sikapnya yang pantang menyerah mampu menjadi kiblat bagi para remaja dalam menyikapi kehidupan ini. Buku catatan yang berhasil diselamatkan sebelum pemiliknya sempat membakar sajarah ini menyimpan berbagai macam rasa yang membuat kita tertarik untuk mengenal lebih dalam akan sosoknya. Naming butuh waktu dua bulan untuk meyakinkan pemiliknya agar mau memberikan buku itu kemudian setelah mendapat izin saya rangkum menjadi potongan yang sederhana namun penuh sesak dan emosi. Kehidupan memberinya penjelasan yang menjadikannya seperti ini. Kisahnya menjadi inspirasi bagi saya dan mungkin juga orang lain.
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu  bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..
on 12.29.2011
Di kota Makassar. Senja di Pantai Losari membuat pemandangan penuh warna. Nampak dari kejauhan kapal-kapal berlalu lalang mencari ikan dan ada juga yang difungsikan sebagai alat transportasi menuju pulau-pulau sekitar selat Makassar. Di sepanjang jalan yang dilalui terlihat muda-mudi menghabiskan waktunya menikmati sunset di tambah dengan gorengan dan sara’ba khas Kota Daeng. Tidak ketinggalan para pengamen menghibur dengan paduan gitar dan jimbe klasik.
Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
 Ternyata kau mendua membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
 Jangan pernah memilih aku bukan pilihan
Reff lagu dari Iwan Fals “aku bukan pilihan” yang meraka nyanyikan memaksa pengunjung untuk ikut menyanyi bersama.
Motor scooter warisan nenek Baso melaju dari batas kota menuju bangunan tua peninggalan Belanda, Benteng Fort Rotterdam. Acara reuni Sekolah Losari Art Gallery (LOGA) Makassar yang ditempatkan di benteng itu mengumpulkan ratusan orang termasuk Baso Andika dan Andi Tenri Olle Zainal insan yang saling mencintai namun kenyataan tak mampu menyatukan mereka berdua. Setelah tamat dari LOGA’ Makassar Baso memilih menjauh dari kehidupan Tenri.
Kamu fikir kamu ini siapa, berani pacaran dengan anak saya. Bentak Ibu Tenri siang itu.
Inilah puncak alasan mengapa Baso pergi selain dari sejuta alasan lain yang dia pendam.
Baso kecewa tapi dia berhasil memperlihatkan gaya to rungka na mangkasara’ jika sedang patah hati. Kisah tragis, ini persoalan siri’. gumam Baso waktu itu. Hari-hari berikutnya dia berusaha bangkit kembali dari keterpurukan. Awalnya berat namun sisanya terlihat sempurna dia jalani. Baso ingin memulai masa baru dalam hidupnya tanpa mendustai perasaanya bahwa sebenarnya dia juga masih menyimpan perasaan itu. Cinta.
Keadaan sudah berubah namun perasaan itu tetap sama. Masa-masa sulit itu kini sudah menjadi bagian kenangan. Setelah 5 tahun terpisah mereka mungkin akan dipertemukan kembali di tempat ini. Segalanya dapat terjadi. Di atas benteng batu itu Baso duduk sendiri memandang jauh ke pantai. Kembali teringat masa-masa saat mereka bersama dulu.
Tidak mudah untuk melupakan kenangan ini seperti mudahnya aku meninggalkanmu waktu itu.
Mungkin kehadiranmu akan mengusir prahara ini tapi bisa juga membuat kebencianku kembali.  
Tiba-tiba Bara datang.
Apa kabar saudara? Lama tak bertemu, tanyanya membuka pembicaraan. Alhamdulillah aku baik-baik saja, jawab Baso dengan nada kering.
Bagai mana kisahmu dengan Tenri?, Tanya Bara langsung menghentak perasaan Baso. Semua menjadi biasa saja. Aku sekarang mencoba memaafkan takdirku sendiri dan mencoba memulai kembali kisahku.  Jawab Baso mencoba tegar. Dia ada di acara ini tapi kenapa kamu tidak menemuinya? Bara memberi tahu tentang kedatangan Tenri di acara ini. Maksud kamu Tenri?. Cukup dengan anggukan kepala Baso langsung melompat dan menuju ke taman.
Lama Baso mencari dalam seluk beluk benteng tapi ia belum menemukan sosok Tenri, sebelum Ulfa datang memberi tahu keberadaan Tenri. Baso, Tenri tadi mencarimu. Tapi aku bilang kamu tidak jadi datang karena sibuk mengurusi pementasanmu yang akan berangkat ke Palopo. Ulfa menjelaskan kepada Baso. Tapi sekarang, Tenri di mana? Tanpa basa-basi Baso langsung bertanya. Sepertinya dia di taman depan. Jawab Ulfa.
Baso segera meninggalkan Ulfa dan menuju ke taman depan, keramaian Nampak jelas. Mata Baso terus melototi setiap wanita yang duduk sendirian namun Baso belum juga menemukan sosok yang ia cari hingga adzan berkumandang, Baso pun berangkat ke Mesjid.
Setelah shalat acara pembukaan baru akan mulai Nampak para anggota panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya diruangan tempat acara di mulai. Baso sebagai ketua panitia mengkoordinir teman-teman yang lain untuk mempersiapkan gedung acara.
Jam di tangan telah menunjuk pukul 18:45 acara hampir dimulai segala sesuatunya telah siap. 10 menit kemudian gedung telah penuhi hiruk-pikuk manusia. Acara pembukaanpun dimulai, laporan ketua panitia oleh Baso Andhika, selama membacakan laporan dia terus gelisah seakan mencari sesuatu. Mata itu tiba-tiba berhenti mencari ketika pandangan terarah pada sosok gadis yang selama ini ia cari-cari, Tenri. Tak terasa acara pembukaan telah selesai di tutup dengan pembacaan do’a. Tiba-tiba ada kejadian tak terduga. Tenri naik ke mimbar lalu berbicara.
Tolong jangan ada yang meninggalkan ruangan ini. Aku ingin kalian semua jadi saksi malam ini.untuk semua kesetiaan yang aku punya. Tiba-tiba semua orang diam dan kembali ketempatnya. Tenri melanjutkan kata-katanya.
Aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang telah lama kubiarkan terpendam sendiri. Aku sadar ini kesalahan takdir yang dengan sendirinya menjadikan kisah kami seperti ini. Tragis. Aku tahu kamu pasti kecewa dan terluka. Tapi apakah aku salah, itu bukan inginku. Isakan tangis mulai terdengar mengiringi keluarnya kata-kata itu. Baso, masih adakah kesempatan kedua untukku?. Semua orang tersentak kaget dan tak percaya. Tatapan mata tertuju pada sosok lelaki kurus duduk di bangku deretan ke tujuh. Heran. Siapa yang tak mengenal Pak Zain di kota ini. Konglomerat papan atas. Sedangkan Baso, ayahnya hanyalah nelayan di pinggir kota ini.
Dengan langkah yang masih tak percaya dengan apa yang baru dia dengar Baso melangkah ke samping Tenri. Dengan sigap dia meraih microphone. Untuk apa yang barusan anda dengar itu hanyalah masa lalu kami. Tidak penting untuk menjadi bahan pikiran anda. Dan untuk pertanyaan tadi, semua orang menatap antusias. Penasaran. Apakah jawaban yang akan keluar dari mulut Baso. Lelaki bodoh mana yang berani menyianyiakan cinta Tenri, cerdas, kaya, baik dan shalehah. Maaf, untuk saat ini biarkan saja aku seperti ini. Bukan berarti aku menolak tapi biarlah aku sendiri dulu. Terima kasih. Tenri, jika engkau meminta penjelasan tentang perasaanku, hingga kini aku masih mencintaimu. Sambil berlari ke taman depan, Tenri menyeka air mata. Kisah ini meraka biarkan mengalir dan berharap suatu saat nanti tali nasib akan mempertemukan mereka kembali.


  BERSAMBUNG --> II
on 12.23.2011

Bayangmu yang menyapaku sepi malam ini
Datang membawa sajak rindu yang pernah kutulis dalam salinan keterpaksaan
Senyummu menggetarkan sukmaku yang saat bersamaan telah koyak oleh api cemburu
Cemburu yang entah berantah kutujakan pada siapa maknanya
Aku yang masih bersembunyi dari cahaya rembulan ke tujuh hari ini
Menutup jendela dan berbaring rapuh di atas kemungkinan
Namun bayangmu yang menyapaku
Berhasil menghidupkan segenap naluri yang tersisa
Itupun hanya sebatas senyum pahit yang orang enggan melihatnya
Aku tahu aku rindu
Namun luka dari rasa bersalah ini tak mau mampus di terjangan waktu
Merajalela dalam ingatan dan membuatku terpuruk kaku sendiri
Menikmati sepi dengan tarian kunang-kunang yang lebih nikmat
Ketimbang harus menikmati seribu tubuh wanita dalam semalam
Hanya Tuhan yang membuatku kuat menarik nafas kehidupan
Aku bertahan dengan pahatan penyesalan
Kubiarkan bayanganku menjelajah menikmati kuatnya kenangan
Mencuri setiap cahaya rembulan dan menyimpannya untukku
Hingga aku kuat menyapa pemilik cahaya itu
Meskipun tertatih lemah terbungkus asa
Namun aku yakin dia mampu memberikan rahasianya padaku
Aku tak butuh pelangi dengan warnanya yang sering menipuku
Aku tak butuh bintang dengan cahayanya yang sering membodohiku
Aku tak butuh gerhana dengan fenomenanya yang sering menakutiku
Untuk menyatakan maaf kepadamu aku hanya butuh senyuman terakhir yang bisa kuberi
Kepada rembulan
Menjelmalah kau menjadi setiap keinginanku
Simpanlah simponi dari rahasia ini dalam bayanganmu
Kelak ceritakan pada alam raya tentang luka yang kubawa dari penyesalanku bertahun-tahun
Jadilah kau penulis biografi kisah ini
Kisah ini tak pernah usai
Meski nanar dan darah telah menghiasi jejakku
Mataku telah sayu menatap nestapa
Fikiranku dipenuhi penyesalan
Luka di tubuh tak lagi terasa
Sebab kutahu derita yang pernah kutitip padanya tak seberat ini
Malam ini
Aku masih tak beranjak meski kakiku telah mampu ku gerakkan
Lidahku keluh bisu dipertengahan cerita
Aku menunggumu dalam kesunyian meski kutahu kau tak akan datang
Membawa senyum ikhlasmu dan menyeretku keluar dari tempat ini
Tahukah kau saat ini aku membisikkan namamu
Dalam sunyi yang tak kau duga
Penyesalan abadi ini
Menerobos khayalanku dan membuatnya buram berantakan
Diamku cukup keras mengusirnya
Namun rasa bersalah itu masih tetap ada bersemayam
Sampai kapan
Aku tak tahu
Kepada Rembulan
Sampaikan gelisahku ini
Bacakan sajak yang aku pernah tuliskan untuknya
Bisikkan keberadaanku di dalam hatinya
Lalu pergilah kembali menyinari bumi
Jika dia mencintaiku dia pasti akan datang
Rasa bersalah ini
Mengikuti teriakan sunyiku
Mengapa kau tak meninggalkanku di saat aku terpuruk
Sementara kau tahu saat itu aku telah membuat mawar menjadi dua
Mengapa kau tak membenciku di saat aku koyak
Sementara kau tahu saat itu aku telah menitip luka padamu
Sajak ini akan menyampaikan maafku
Akan kukabarkan melalui seribu bait puisi yang kutulis di daun lontar
Meski kutahu umurku tak panjang lagi denganmu
Meski kutahu suatu saat engkau akan pergi
Biarkanlah aku belajar untuk membuatmu bahagia
Di sisa waktu yang masih bisa kukuasai
Inilah kekasihmu..
Maafkan dia yang pernah melukaimu
Mungkin kepergiannya membuat segalanya kembali menjadi indah

30.01.2011
Saat itu hari sudah gelap sementara hujan semakin deras saat Baso terpaksa berhenti disebuah rumah bekas kebakaran sekitar dua kilometer dari kostnya. Baso lupa membawa mantel sementara cuaca sangat tidak bersahabat. Setiap pulang kampus Baso sering memperhatikan rumah itu. Dari luar rumah ini tampak mewah meskipun warna catnya tak kentara lagi, gumam Baso. Saat kebakaran rumah itu sebenarnya tidak mengalami kerusakan yang terlalu parah, sisi samping rumah itu masih bisa di kategorikan utuh tapi entah mengapa pemiliknya enggan merenovasi ulang dan membiarkannya tak terurus. Akhirnya Baso memilih memarkir scooter bututnya di sisi kanan rumah itu kemudian masuk untuk berteduh sambil menghangatkan badannya.
Rasa penasaran serta naluri kelelakiannya memaksa dia untuk terus masuk kedalam rumah itu. Kosong tak terjamah sama sekali. Tak ada sisa-sisa kehidupan. Hanya ada satu pintu yang masih utuh namun tertutup rapat. Pasti kamar ini punya kenangan tersendiri bagi pemiliknya, imbuh Baso sambil memaksa membuka pintu kamar itu. Berhasil. Tampaknya kamar cowok, gumam Baso. Dinding kiri kamar itu dihiasi catatan-catatan yang tak kentara lagi. Baso tak mengerti maksudnya. Salah satu catatan yang masih dapat terbaca meski samar-samar. Selama ini aku berusaha untuk setia, jangan paksa aku untuk mencoba tidak setia. sepertinya aku pernah mendengar kata-kata ini. imbuh Baso. Banyak barang-barang yang berserakan di lantai kamar itu namun Baso lebih tertarik untuk mengambil buku ungu yang telah kusam. Baso membukanya. Sakti Gunawan nama pemilik buku itu. Halaman depan tertempel foto seorang wanita namanya Nilam Puspita. Nama yang entah berapa kali dituliskan dalam buku itu, Baso akhirnya memasukkan buku itu kedalam ranselnya.
Sementara diluar hujan menipis hanya suara kendaraan dan gerimis. Baso melangkah keluar meninggalkan rumah itu. Dia menyalakan scooternya dan bergegas kembali menuju ke kostnya. Diatas scooternya Baso terus terbayang dengan wajah wanita di buku kusam itu. Siapa sebenarnya dia. Kenapa pemiliknya membiarkan buku itu tergeletak begitu saja. Belasan pertanyaan muncul dibenaknya. Setelah sampai dikostnya dia memasak air panas dan menyeduh kopi kesukaannya. Belum sempat dia mengganti pakaian handphonenya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Tenri. Besok pagi kita kerumah Amran acara syukuran wisudanya. Setelah itu dia menuju kasurnya dan membalas pesan singkat Tenri. Baso kemudian teringat dengan buku ungu di ranselnya. Dia membuka dan menatap dalam foto itu. Manis untuk ukuran wanita Indonesia, hidungnya menjulang tinggi, senyumannya penuh karekter. Tatapan matanya manja dan menyimpan misteri. siapakah sebenarnya wanita ini. tanya Baso pada dirinya sendiri. Setelah cukup puas menatap foto itu dia kemudian membaca lembaran pertama.
09 Januari 2003
Nilam, mengenalmu sudah cukup membuatku bahagia. Kau selalu mampu menjadi pelipur laraku. Seandainya aku berani mengungkapkan rasa yang telah lama terpendam ini mungkin ceritanya akan berbeda. Seharusnya memang kamu tahu tentang perasaan ini. Itu jika selama ini kau mau mengerti tentang perasaanku. Tapi aku ragu dengan tingkahmu selamu ini. Seakan kau memberi sebuah harapan tapi selalu juga mengacuhkanku.
 Apakah surat yang aku selipkan di bukumu saat menjelang ujian itu tidak cukup jelas. Seandainya kamu tahu siapa yang telah membuat puisi di mading sekolah yang sempat menjadi bahan perbincangan di kelas. Itu aku Nilam. Tapi biarlah seperti ini. Aku cukup bahagia.
17 Januari 2003
Cemburu. Apa itu tadi sengaja kau lakukan untuk membuatku cemburu. Kamu tahu Wandi itu sahabatku. Tapi mengapa dia sengaja kau paksa menemanimu ke kantin. Sungguh itu membuatku terluka.


25 Januari 2003
Aku sadar diriku memang tidak pantas untuk menjadi kekasihmu. Diriku tak ada apa-apanya di bandingkan dengan cowok yang kau ajak ke pesta ulang tahun Nisa kemarin malam. Tapi siapapun dirinya itu bukan masalah karena aku mencintai ikhlasmu bukan karena aku harus menyayangimu.
Cukup seru juga kisah mereka berdua, imbuh Baso setelah membaca beberapa penggalan isi buku tersebut. Saking seriusnya Baso lupa makan malam akhirnya dia bangkit untuk memasak mie rebus.
* * *
Karena kelelahan akhirnya Baso terlambat bangun pagi itu. Sementara dia punya rencana ke acara syukuran Amran bersama Tenri. Saat terbangun dia langsung melihat jam weker di atas meja kecilnya. Jam sudah menunjukkan Pukul 8:28 sementara dia janji bertemu di rumah tenri jam 9 pagi ini. Dengan sedikit kecewa Baso menuju ke kamar mandi. Berjalan sempoyongan sambil membawa alat mandi dan handuk birunya. Sampai didepan kamar mandi umum dia langsung lemas melihat antrian yang cukup mampu membuatnya terlambat untuk menjemput Tenri. Tidak ada pilihan lain Baso berbalik arah dan langsung pakaian kemudian menuju ke masjid untuk cuci muka dan sikat gigi ditambah sedikit memberi ornament wajib di rambutnya. Selesai.
Baso kemudian berangkat ke rumah Tenri untuk menjemputnya. Saat dalam perjalanan Baso kaget karena ada seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan. Baso merem mendadak scooternya kemudian berniat memarahi wanita tersebut namun dia sendiri heran. sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana. Gumam Baso. Karena sedang terburu-buru dia akhirnya lupa. Setelah sampai di rumah tenri dia masih terbayang wajah wanita itu.

รจ  Bersambung
mari kawan kita jalan di pematang ini
panggil raga yang sepi diantara tangisan malam
sampai hilang rasa menemui kedamaiaan dan terlelap diantara pelukan kebenaran
tak usah kau meminta imbalan dari perjuangan karena Tuhan telah memberimu nafas dari kasturi syurga
mampu menjinakkan nafsumu untuk membunuh harapan

mari kawan kita membuka jalan baru dari poros melingkar ini
tak usah ukir jejekmu disana
karena alam hanya memberi kita satu kali kesempatan
buanglah sisa dari ketangguhan akal untuk diam
karena saat ini kita harus terus meneriakkan keadilan
kepada siapa yang memerlukan dan harus memerlukan
ajari dia cara untuk meniup lilin dari setiap kado yang dia terima
seperti ketika kita diajarkan untuk meniup lilin harapan itu.


Makassar 21 Nov 2011
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

2.07.2015

Dewandaru

Diposting oleh Unknown di 09.13 0 komentar


Hutan lebat. Di tengahnya mengalir sungai cantik berair jernih. Selain sungai, tak ada yang tahu hulu dan hilirnya. Pohon Dewandaru berusia ratusan tahun tumbuh setia di bantaran sungai cantik itu. Ia jatuh cinta. Jatuh cinta pada sungai tersebut.
Setiap hari dipandangnya aliran sungai hingga hari jauh dan malam menggelap. Selalu begitu. Sampai ia tak mampu menahan lagi hasratnya untuk bersatu dan memilih menumbangkan tubuhnya ke aliran sungai dengan harapan dapat hidup abadi bersama sungai. Sungguh, harapan yang mulia.
Tapi, datanglah kenyataan yang jauh dari harapan. Sungai tak diciptakan dengan lengan yang mampu memeluk apapun. Tubuh pohon dewandaru itu diasak ke hilir dan berakhir di laut luas yang jauh dari harapan. Sangat jauh

7.23.2013

catatan kecil!

Diposting oleh Unknown di 12.15 0 komentar

Kenapa jika Ayah Saya Komunis?

Jakarta, 1955
Akhir bulan Juli. Pagi itu sedang cerah, musim penghujan masih jauh. Di lapangan Senayan Jakarta, massa berkumpul untuk merayakan masuknya PKI sebagai empat partai besar di Indonesia pada pemilu 1955. Ayah mengajak saya untuk datang di rapat akbar PKI. Umur saya waktu itu kira-kira 5 tahun. Tidak banyak yang saya ingat, lapangan penuh dengan warna merah dan umbul-umbul bergambarkan palu arit. Beberapa tahun kemudian saya baru mengerti jika itu adalah lambang Partai Komunis Indonesia.
Lapangan sesak, di atas panggung seorang sedang berpidato dengan penuh semangat. Siapa dia, saya tidak tertarik ditambah waktu itu saya tidak mengerti apa isi pidatonya. Saya lebih tertarik mendengar cerita Ayah saya dengan teman lamanya. Ayah saya sedang sibuk mengenang perjuangan mereka ketika partai ini baru terbentuk. Belakangan juga saya baru tahu jika ternyata orang yang sedang berpidato itu adalah D.N Aidit, ketua PKI waktu itu.
Sepulang dari rapat akbar itu, Ayah singgah di toko buku yang terletak di simpang jalan merpati nomor 58. Membeli beberapa buku dan memasukkannya ke tas jinjing yang selalu ia bawa kemanapun Ayah pergi. Ayah membonceng saya pulang dengan sepada. Satu hal yang terus saya ingat, bahwa Ayah saya adalah salah satu jenis manusia pendiam yang sangat ramah. Bahkan dengan anaknya sendiri, ayah selalu membatasi kata-katanya.
Ayah cukup dikenal di lingkungan tempat kami tinggal. Oh ya, saya hampir lupa mengisahkan tentang Ibu saya. Ibu saya adalah aktivis di Gerwani. Setidaknya itu kata yang suka ibu sebut ketika berkumpul dengan ibu-ibu yang sering bertandang ke rumah saya. Saya bersaudara hanya dua orang. Kakak saya seorang perempuan yang kala itu berumur 8 tahun.
Selain aktif di PKI, Ayah saya juga berkantor di Lekra atau dikenal juga dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat. Saya beberapa kali dibawa oleh Ayah ke kantornya. Dari situlah saya kenal beberapa teman Ayah yang sangat kritis dan anti imperialis, Pramoedya Ananta Toer salah satunya. Saya termasuk anak yang selalu ingin tahu dan saya lebih suka diajak ke kantor Ayah dari pada ikut pertemuan, apa lagi yang semacam rapat akbar seperti di lapangan senayan tempo hari itu.
Di usia delapan tahun, saya bisa membaca dan menulis. Itu membuat saya bisa tahu beberapa berita yang bahkan orang tua tidak bisa membacanya. Anak sebaya saya waktu itu masih senang bermain kelereng dan cangklok sedangkan saya sudah mulai gemar membaca buku-buku dan koran. Di kantor ayah, saya senang karena bisa membaca dengan puas beberapa tulisan dari teman ayah. Salah satu Koran yang sering saya baca adalah Bintang Timur.
Keluarga saya hidup sangat sederhana. Kakak perempuan saya beruntung, setidaknya ia bisa sekolah tidak seperti anak perempuan yang lain. Sedangkan saya terus diajar otodidak oleh ibu untuk menulis indah. Ayah suka dengan hewan, salah satu yang ayah pelihara adalah kuda. Nama kuda itu djagal. Ayah sangat merawatnya dan menganggap kuda kesayanggannya itu sebagai bagian dari keluarga kecil kami. Kebahagiaan ini berlangsung sampai usia saya belasan tahun

***

9.16.2012

Semua Berawal dari Sini

Diposting oleh Unknown di 23.48 0 komentar
Malam ini belum terlalu larut. Masih ada seribu bintang dan dingin belum terlalu kejam. Dinding kamarku masih menempel rapi poster Ernesto Guevara dan beberapa catatan abadi masih menghiasi dinding kamarku. Lantaikupun masih berserakan tulisan yang belum sempat kurampungkan. Celana dalam seminggu lalu juga belum sempat aku masukkan dikeranjang pakaian kotor. Dengan sedikit bahagia aku membuka pintu kamarku dan menyerahkan diriku pada kasur yang selalu terasa empuk aku tiduri. 

Mata terpejam tapi pikiran tetap menjelajah pada bayangan beberapa perjalanan rahasia seminggu belakangan ini. Betapa tidak. perempuan senja dilorong itu, pelayaran misterius tentang suku yang hampir punah di pulau ambangisu dan terakhir kisah juli yang baru berakhir di desember ini. Kesemuanya menjadi fragmen yang saling terkait. Semacam oases dalam diri yang masih remaja ini.

***

Berlanjut di pagi buta. Di luar udara masih sangat dingin. Kukucek mataku dan kuarahkan pandangan pada jam weker yang masih berkutat di jam 4 dini hari. Pintu digedor  dan samar kudengar suara seorang lelaki. Membentak.

"Awa, bangun. katanya dari balik pintu.

Hanya suara itu yang kudengar selebihnya semacam diskusi kecil yang membahas tentang apa dan siapa. aku meleleh di pembaringan. Sedikit takut namun selebihnya aku nampak tenang saja. Berdiri dan berjalan menuju pintu. Kubuka dan kain hitam menyekap kepalaku. sedikit pukulan di tengkuk membuatku tidak sadarkan diri. Pingsan.

Saat aku sadar, semua terasa aneh. ada beberapa pasang mata menatapku. di ruang yang masih aneh bagiku ini ada beberapa benda asing, Laptop putih tergeletak disampingku dan photo perempuan senja dilorong itu tepat diatas dadaku. Aku baru sadar ternyata kelompok radikal yang menai dirinya kelompok sosialisme prolateral inilah yang kemarin aku temui di warkop. Beberapa diantara mereka aku sempat aku lihat di tayangan berita beberapa malam yang lalu. Dia seorang aktivis yang terkenal keras dalam mengkritik pemerintah.

Kamu tahu mengapa harus dibawa kemari? tanya seorang lelaki yang belakangan aku tahu bernawa Warta. tidak jawabku dengan sedikit melototi matanya.
Tulisanmu di beberapa terlalu keras. Itu mengancam beberapa rencana besar kelompok kami.

Kamu tahu bahawa negara ini sedang menghadapi

#berlanjut

3.01.2012

Kanrobosi

Diposting oleh Unknown di 04.31 2 komentar
Makassar, 1510 M
Pagi yang cerah di dalam Istana Kerajaan Gowa. Di taman belakang sang Raja Agung Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna berbincang dengan permaisuri tentang anak bayi yang baru dia lahirkan sementara dayang kerajaan tak hentinya mengipas dan menyuguhkan buah segar di hadapannya. Angin sejuk berhembus menembus batas sadarnya. Tentram. Tiba-tiba Daeng Sangkilang, penasehat raja datang menghadap untuk melaporkan tentang kekacauan yang terjadi di wilayahnya. Saat itu tanah gowa ibarat rimba tak bertuan. Orang-orang saling adu kekuatan untuk membuktikan kehebatannya dan akhirnya orang lemah tersingkir dari kehidupan. Sang raja begitu kaget mendengar laporan Daeng Sangkilang.
Raja memerintahkan kepada Daeng Mattawang sebagai komandan tu barania untuk turun menenangkan kekacauan tersebut. Ia diberikan waktu seminggu untuk membuat wilayah ini kembali tenang. Namun seminggu kemudian Daeng Mattawang datang menghadap pada sang raja dan mengutarakan keadaan yang sebenarnya.
“Sangat sulit Karaeng. Kondisi rakyat sungguh diluar batas kewajaran. Mereka bertarung layaknya binatang. Saling membunuh satu sama lain. Kata Daeng Mattawang ciut dihadapan raja karena kegagalannya mengembalikan suasana wilayah kerajaan ini.
Sang raja berdiri dari singgasananya. Menatap jauh kedepan. Matawang agak takut melihat murka rajanya. Ia menunggu titah apa yang akan diberikan lagi kepadanya. Sang raja kemudian mencabut badik dari warangkanya dan mengacungkan ke langit.
“Hari ini aku bersumpah atas nama ayahku bahwa kerajaan ini akan kembali seperti dulu lagi jika tidak aku akan mati ditiang pancung. Setelah mengucapkan janjinya sang raja kemudian memerintahkan Daeng Mattawang untuk menyiapkan kudanya. Sang raja akan turun tangan sendiri. Namun Sangkilang menyarankan agar raja tetap disini. Biarkan pasukan tu barania patampulo yang menenangkan wilayah ini. Pasukan yang telah di latih khusus untuk menjadi duta perang kerajaan Gowa. Namun ternyata tekad sang raja untuk turun tangan dalam masalah ini sudah bulat. Raja bersama pasukan tu barania patampulo menyisir setiap wilayah yang diyakini sering terjadi kerusuhan namun ternyata itu juga tak membuahkan hasil apapun.
Kondisi ini terus berlanjut. Orang yang merasa kuat terus mencari lawan sepadan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat diantara mereka. Sang raja kemudian mengatur strategi. Dibuatlah sebuah sayembara berhadiah permaisuri cantik dan mengundang semua pendekar untuk ikut bertarung. Ternyata sayembara ini di dengar oleh Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang mulai dari wilayah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Mereka mengutus juga para jagoannya untuk ikut sayembara yang diadakan sang raja. Rivalitas Bate Salapang memang selalu mengundang perselisihan. Strategi ini memang berhasil meredam kekacauan. Berkat kecerdasan Karaeng Tumapa'risi' Kallonna melihat celah kemungkin untuk mengembalikkan suasana kerajaan meskipun hari-hari selanjutnya masih terdengar berita perkelahian di wilayahnya namun tidak seperti dulu lagi.
Sampai pada sutu hari di pagi yang buta. Wilayah kerajaan Gowa dihantam hujan deras disertai petir yang menyambar tanpa henti. Peristiwa ini berlangsung selama tujuh hari dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah kerajaan Gowa. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Sawah nan luas tergenang sisa air hujan. Saat bersamaan ratusan rakyat Gowa tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.
Semenjak saat itu rakyat Gowa mempercayai bahwa mereka adalah tomanurung yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi. Jadilah Raja Karaeng Tumapa'risi' Kallonna yang ikut menyaksikan kejadian itu kemudian menjadikannya sebagai sawah kerajaan. Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan.
Malam harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna bermimpi bahwa kelak akan kembali terjadi kerusuhan yang luar biasa di wilayahnya. Ketujuh tokoh tersebut akan turun lagi ke bumi suatu ketika nanti. Dan di tengah hamparan sawah itu berbinar tujuh cahaya. Namun, seperti kedatangan mereka semula, akan ada pula kondisi tak menentu yang mendahuluinya. Keesokan harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna memanggil Daeng Sangkilang untuk menafsirkan mimpinya. Ternyata itu benar. Bahwa kelak akan ada suasana tak menentu. Ditulislah dalam lontara : jarangji na kongkong sikokko na sitindang, ganca-gancamo cera’. “Hanya kuda (yang merupakan simbol penguasa) dan anjing (sebagai simbol penentu kebijakan), saling gigit dan tendang hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah,”
Di saat banjir darah itulah, di Karebosi akan muncul secara tiba-tiba tujuh Balla` Lompoa atau istana yang bentuknya serupa. Uniknya, bukan hanya bangunannya yang sama, tapi fisik, roman wajah, perilaku, dan kharisma penghuni istana juga bak pinang dibelah dua. Tapi di antara tujuh tokoh itu ada yang memiliki kharisma paling kuat. Tokoh itulah yang nanti akan jadi pemimpin utama dan menunjuk orang-orang yang dianggap bisa memulihkan keadaan pada saat itu. Tokoh itu merupakan penyeimbang antara 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, lanjut Daeng Sangkilang memberitahukan hasil tafsiran sang raja.

--> Berlanjut

1.08.2012

Sepuncak Rahasia

Diposting oleh Unknown di 05.19 0 komentar
Kisah ini adalah RAHASIA terbesar bagi seorang pemuda yang dalam catatan ini dirinya sengaja aku palsukan. Kisahnya yang sempat tercatat dalam buku harian ini penuh dengan alur yang mampu menggugah nalar dan nurani. Perjalanan hidupnya yang begitu kejam serta sikapnya yang pantang menyerah mampu menjadi kiblat bagi para remaja dalam menyikapi kehidupan ini. Buku catatan yang berhasil diselamatkan sebelum pemiliknya sempat membakar sajarah ini menyimpan berbagai macam rasa yang membuat kita tertarik untuk mengenal lebih dalam akan sosoknya. Naming butuh waktu dua bulan untuk meyakinkan pemiliknya agar mau memberikan buku itu kemudian setelah mendapat izin saya rangkum menjadi potongan yang sederhana namun penuh sesak dan emosi. Kehidupan memberinya penjelasan yang menjadikannya seperti ini. Kisahnya menjadi inspirasi bagi saya dan mungkin juga orang lain.
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu  bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..

12.29.2011

Antara Asmara dan Amarah I

Diposting oleh Unknown di 07.01 0 komentar
Di kota Makassar. Senja di Pantai Losari membuat pemandangan penuh warna. Nampak dari kejauhan kapal-kapal berlalu lalang mencari ikan dan ada juga yang difungsikan sebagai alat transportasi menuju pulau-pulau sekitar selat Makassar. Di sepanjang jalan yang dilalui terlihat muda-mudi menghabiskan waktunya menikmati sunset di tambah dengan gorengan dan sara’ba khas Kota Daeng. Tidak ketinggalan para pengamen menghibur dengan paduan gitar dan jimbe klasik.
Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
 Ternyata kau mendua membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
 Jangan pernah memilih aku bukan pilihan
Reff lagu dari Iwan Fals “aku bukan pilihan” yang meraka nyanyikan memaksa pengunjung untuk ikut menyanyi bersama.
Motor scooter warisan nenek Baso melaju dari batas kota menuju bangunan tua peninggalan Belanda, Benteng Fort Rotterdam. Acara reuni Sekolah Losari Art Gallery (LOGA) Makassar yang ditempatkan di benteng itu mengumpulkan ratusan orang termasuk Baso Andika dan Andi Tenri Olle Zainal insan yang saling mencintai namun kenyataan tak mampu menyatukan mereka berdua. Setelah tamat dari LOGA’ Makassar Baso memilih menjauh dari kehidupan Tenri.
Kamu fikir kamu ini siapa, berani pacaran dengan anak saya. Bentak Ibu Tenri siang itu.
Inilah puncak alasan mengapa Baso pergi selain dari sejuta alasan lain yang dia pendam.
Baso kecewa tapi dia berhasil memperlihatkan gaya to rungka na mangkasara’ jika sedang patah hati. Kisah tragis, ini persoalan siri’. gumam Baso waktu itu. Hari-hari berikutnya dia berusaha bangkit kembali dari keterpurukan. Awalnya berat namun sisanya terlihat sempurna dia jalani. Baso ingin memulai masa baru dalam hidupnya tanpa mendustai perasaanya bahwa sebenarnya dia juga masih menyimpan perasaan itu. Cinta.
Keadaan sudah berubah namun perasaan itu tetap sama. Masa-masa sulit itu kini sudah menjadi bagian kenangan. Setelah 5 tahun terpisah mereka mungkin akan dipertemukan kembali di tempat ini. Segalanya dapat terjadi. Di atas benteng batu itu Baso duduk sendiri memandang jauh ke pantai. Kembali teringat masa-masa saat mereka bersama dulu.
Tidak mudah untuk melupakan kenangan ini seperti mudahnya aku meninggalkanmu waktu itu.
Mungkin kehadiranmu akan mengusir prahara ini tapi bisa juga membuat kebencianku kembali.  
Tiba-tiba Bara datang.
Apa kabar saudara? Lama tak bertemu, tanyanya membuka pembicaraan. Alhamdulillah aku baik-baik saja, jawab Baso dengan nada kering.
Bagai mana kisahmu dengan Tenri?, Tanya Bara langsung menghentak perasaan Baso. Semua menjadi biasa saja. Aku sekarang mencoba memaafkan takdirku sendiri dan mencoba memulai kembali kisahku.  Jawab Baso mencoba tegar. Dia ada di acara ini tapi kenapa kamu tidak menemuinya? Bara memberi tahu tentang kedatangan Tenri di acara ini. Maksud kamu Tenri?. Cukup dengan anggukan kepala Baso langsung melompat dan menuju ke taman.
Lama Baso mencari dalam seluk beluk benteng tapi ia belum menemukan sosok Tenri, sebelum Ulfa datang memberi tahu keberadaan Tenri. Baso, Tenri tadi mencarimu. Tapi aku bilang kamu tidak jadi datang karena sibuk mengurusi pementasanmu yang akan berangkat ke Palopo. Ulfa menjelaskan kepada Baso. Tapi sekarang, Tenri di mana? Tanpa basa-basi Baso langsung bertanya. Sepertinya dia di taman depan. Jawab Ulfa.
Baso segera meninggalkan Ulfa dan menuju ke taman depan, keramaian Nampak jelas. Mata Baso terus melototi setiap wanita yang duduk sendirian namun Baso belum juga menemukan sosok yang ia cari hingga adzan berkumandang, Baso pun berangkat ke Mesjid.
Setelah shalat acara pembukaan baru akan mulai Nampak para anggota panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya diruangan tempat acara di mulai. Baso sebagai ketua panitia mengkoordinir teman-teman yang lain untuk mempersiapkan gedung acara.
Jam di tangan telah menunjuk pukul 18:45 acara hampir dimulai segala sesuatunya telah siap. 10 menit kemudian gedung telah penuhi hiruk-pikuk manusia. Acara pembukaanpun dimulai, laporan ketua panitia oleh Baso Andhika, selama membacakan laporan dia terus gelisah seakan mencari sesuatu. Mata itu tiba-tiba berhenti mencari ketika pandangan terarah pada sosok gadis yang selama ini ia cari-cari, Tenri. Tak terasa acara pembukaan telah selesai di tutup dengan pembacaan do’a. Tiba-tiba ada kejadian tak terduga. Tenri naik ke mimbar lalu berbicara.
Tolong jangan ada yang meninggalkan ruangan ini. Aku ingin kalian semua jadi saksi malam ini.untuk semua kesetiaan yang aku punya. Tiba-tiba semua orang diam dan kembali ketempatnya. Tenri melanjutkan kata-katanya.
Aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang telah lama kubiarkan terpendam sendiri. Aku sadar ini kesalahan takdir yang dengan sendirinya menjadikan kisah kami seperti ini. Tragis. Aku tahu kamu pasti kecewa dan terluka. Tapi apakah aku salah, itu bukan inginku. Isakan tangis mulai terdengar mengiringi keluarnya kata-kata itu. Baso, masih adakah kesempatan kedua untukku?. Semua orang tersentak kaget dan tak percaya. Tatapan mata tertuju pada sosok lelaki kurus duduk di bangku deretan ke tujuh. Heran. Siapa yang tak mengenal Pak Zain di kota ini. Konglomerat papan atas. Sedangkan Baso, ayahnya hanyalah nelayan di pinggir kota ini.
Dengan langkah yang masih tak percaya dengan apa yang baru dia dengar Baso melangkah ke samping Tenri. Dengan sigap dia meraih microphone. Untuk apa yang barusan anda dengar itu hanyalah masa lalu kami. Tidak penting untuk menjadi bahan pikiran anda. Dan untuk pertanyaan tadi, semua orang menatap antusias. Penasaran. Apakah jawaban yang akan keluar dari mulut Baso. Lelaki bodoh mana yang berani menyianyiakan cinta Tenri, cerdas, kaya, baik dan shalehah. Maaf, untuk saat ini biarkan saja aku seperti ini. Bukan berarti aku menolak tapi biarlah aku sendiri dulu. Terima kasih. Tenri, jika engkau meminta penjelasan tentang perasaanku, hingga kini aku masih mencintaimu. Sambil berlari ke taman depan, Tenri menyeka air mata. Kisah ini meraka biarkan mengalir dan berharap suatu saat nanti tali nasib akan mempertemukan mereka kembali.


  BERSAMBUNG --> II

12.23.2011

Balada Cinta

Diposting oleh Unknown di 21.56 2 komentar

Bayangmu yang menyapaku sepi malam ini
Datang membawa sajak rindu yang pernah kutulis dalam salinan keterpaksaan
Senyummu menggetarkan sukmaku yang saat bersamaan telah koyak oleh api cemburu
Cemburu yang entah berantah kutujakan pada siapa maknanya
Aku yang masih bersembunyi dari cahaya rembulan ke tujuh hari ini
Menutup jendela dan berbaring rapuh di atas kemungkinan
Namun bayangmu yang menyapaku
Berhasil menghidupkan segenap naluri yang tersisa
Itupun hanya sebatas senyum pahit yang orang enggan melihatnya
Aku tahu aku rindu
Namun luka dari rasa bersalah ini tak mau mampus di terjangan waktu
Merajalela dalam ingatan dan membuatku terpuruk kaku sendiri
Menikmati sepi dengan tarian kunang-kunang yang lebih nikmat
Ketimbang harus menikmati seribu tubuh wanita dalam semalam
Hanya Tuhan yang membuatku kuat menarik nafas kehidupan
Aku bertahan dengan pahatan penyesalan
Kubiarkan bayanganku menjelajah menikmati kuatnya kenangan
Mencuri setiap cahaya rembulan dan menyimpannya untukku
Hingga aku kuat menyapa pemilik cahaya itu
Meskipun tertatih lemah terbungkus asa
Namun aku yakin dia mampu memberikan rahasianya padaku
Aku tak butuh pelangi dengan warnanya yang sering menipuku
Aku tak butuh bintang dengan cahayanya yang sering membodohiku
Aku tak butuh gerhana dengan fenomenanya yang sering menakutiku
Untuk menyatakan maaf kepadamu aku hanya butuh senyuman terakhir yang bisa kuberi
Kepada rembulan
Menjelmalah kau menjadi setiap keinginanku
Simpanlah simponi dari rahasia ini dalam bayanganmu
Kelak ceritakan pada alam raya tentang luka yang kubawa dari penyesalanku bertahun-tahun
Jadilah kau penulis biografi kisah ini
Kisah ini tak pernah usai
Meski nanar dan darah telah menghiasi jejakku
Mataku telah sayu menatap nestapa
Fikiranku dipenuhi penyesalan
Luka di tubuh tak lagi terasa
Sebab kutahu derita yang pernah kutitip padanya tak seberat ini
Malam ini
Aku masih tak beranjak meski kakiku telah mampu ku gerakkan
Lidahku keluh bisu dipertengahan cerita
Aku menunggumu dalam kesunyian meski kutahu kau tak akan datang
Membawa senyum ikhlasmu dan menyeretku keluar dari tempat ini
Tahukah kau saat ini aku membisikkan namamu
Dalam sunyi yang tak kau duga
Penyesalan abadi ini
Menerobos khayalanku dan membuatnya buram berantakan
Diamku cukup keras mengusirnya
Namun rasa bersalah itu masih tetap ada bersemayam
Sampai kapan
Aku tak tahu
Kepada Rembulan
Sampaikan gelisahku ini
Bacakan sajak yang aku pernah tuliskan untuknya
Bisikkan keberadaanku di dalam hatinya
Lalu pergilah kembali menyinari bumi
Jika dia mencintaiku dia pasti akan datang
Rasa bersalah ini
Mengikuti teriakan sunyiku
Mengapa kau tak meninggalkanku di saat aku terpuruk
Sementara kau tahu saat itu aku telah membuat mawar menjadi dua
Mengapa kau tak membenciku di saat aku koyak
Sementara kau tahu saat itu aku telah menitip luka padamu
Sajak ini akan menyampaikan maafku
Akan kukabarkan melalui seribu bait puisi yang kutulis di daun lontar
Meski kutahu umurku tak panjang lagi denganmu
Meski kutahu suatu saat engkau akan pergi
Biarkanlah aku belajar untuk membuatmu bahagia
Di sisa waktu yang masih bisa kukuasai
Inilah kekasihmu..
Maafkan dia yang pernah melukaimu
Mungkin kepergiannya membuat segalanya kembali menjadi indah

30.01.2011

Rahasia Buku Catatan Ungu

Diposting oleh Unknown di 19.55 0 komentar
Saat itu hari sudah gelap sementara hujan semakin deras saat Baso terpaksa berhenti disebuah rumah bekas kebakaran sekitar dua kilometer dari kostnya. Baso lupa membawa mantel sementara cuaca sangat tidak bersahabat. Setiap pulang kampus Baso sering memperhatikan rumah itu. Dari luar rumah ini tampak mewah meskipun warna catnya tak kentara lagi, gumam Baso. Saat kebakaran rumah itu sebenarnya tidak mengalami kerusakan yang terlalu parah, sisi samping rumah itu masih bisa di kategorikan utuh tapi entah mengapa pemiliknya enggan merenovasi ulang dan membiarkannya tak terurus. Akhirnya Baso memilih memarkir scooter bututnya di sisi kanan rumah itu kemudian masuk untuk berteduh sambil menghangatkan badannya.
Rasa penasaran serta naluri kelelakiannya memaksa dia untuk terus masuk kedalam rumah itu. Kosong tak terjamah sama sekali. Tak ada sisa-sisa kehidupan. Hanya ada satu pintu yang masih utuh namun tertutup rapat. Pasti kamar ini punya kenangan tersendiri bagi pemiliknya, imbuh Baso sambil memaksa membuka pintu kamar itu. Berhasil. Tampaknya kamar cowok, gumam Baso. Dinding kiri kamar itu dihiasi catatan-catatan yang tak kentara lagi. Baso tak mengerti maksudnya. Salah satu catatan yang masih dapat terbaca meski samar-samar. Selama ini aku berusaha untuk setia, jangan paksa aku untuk mencoba tidak setia. sepertinya aku pernah mendengar kata-kata ini. imbuh Baso. Banyak barang-barang yang berserakan di lantai kamar itu namun Baso lebih tertarik untuk mengambil buku ungu yang telah kusam. Baso membukanya. Sakti Gunawan nama pemilik buku itu. Halaman depan tertempel foto seorang wanita namanya Nilam Puspita. Nama yang entah berapa kali dituliskan dalam buku itu, Baso akhirnya memasukkan buku itu kedalam ranselnya.
Sementara diluar hujan menipis hanya suara kendaraan dan gerimis. Baso melangkah keluar meninggalkan rumah itu. Dia menyalakan scooternya dan bergegas kembali menuju ke kostnya. Diatas scooternya Baso terus terbayang dengan wajah wanita di buku kusam itu. Siapa sebenarnya dia. Kenapa pemiliknya membiarkan buku itu tergeletak begitu saja. Belasan pertanyaan muncul dibenaknya. Setelah sampai dikostnya dia memasak air panas dan menyeduh kopi kesukaannya. Belum sempat dia mengganti pakaian handphonenya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Tenri. Besok pagi kita kerumah Amran acara syukuran wisudanya. Setelah itu dia menuju kasurnya dan membalas pesan singkat Tenri. Baso kemudian teringat dengan buku ungu di ranselnya. Dia membuka dan menatap dalam foto itu. Manis untuk ukuran wanita Indonesia, hidungnya menjulang tinggi, senyumannya penuh karekter. Tatapan matanya manja dan menyimpan misteri. siapakah sebenarnya wanita ini. tanya Baso pada dirinya sendiri. Setelah cukup puas menatap foto itu dia kemudian membaca lembaran pertama.
09 Januari 2003
Nilam, mengenalmu sudah cukup membuatku bahagia. Kau selalu mampu menjadi pelipur laraku. Seandainya aku berani mengungkapkan rasa yang telah lama terpendam ini mungkin ceritanya akan berbeda. Seharusnya memang kamu tahu tentang perasaan ini. Itu jika selama ini kau mau mengerti tentang perasaanku. Tapi aku ragu dengan tingkahmu selamu ini. Seakan kau memberi sebuah harapan tapi selalu juga mengacuhkanku.
 Apakah surat yang aku selipkan di bukumu saat menjelang ujian itu tidak cukup jelas. Seandainya kamu tahu siapa yang telah membuat puisi di mading sekolah yang sempat menjadi bahan perbincangan di kelas. Itu aku Nilam. Tapi biarlah seperti ini. Aku cukup bahagia.
17 Januari 2003
Cemburu. Apa itu tadi sengaja kau lakukan untuk membuatku cemburu. Kamu tahu Wandi itu sahabatku. Tapi mengapa dia sengaja kau paksa menemanimu ke kantin. Sungguh itu membuatku terluka.


25 Januari 2003
Aku sadar diriku memang tidak pantas untuk menjadi kekasihmu. Diriku tak ada apa-apanya di bandingkan dengan cowok yang kau ajak ke pesta ulang tahun Nisa kemarin malam. Tapi siapapun dirinya itu bukan masalah karena aku mencintai ikhlasmu bukan karena aku harus menyayangimu.
Cukup seru juga kisah mereka berdua, imbuh Baso setelah membaca beberapa penggalan isi buku tersebut. Saking seriusnya Baso lupa makan malam akhirnya dia bangkit untuk memasak mie rebus.
* * *
Karena kelelahan akhirnya Baso terlambat bangun pagi itu. Sementara dia punya rencana ke acara syukuran Amran bersama Tenri. Saat terbangun dia langsung melihat jam weker di atas meja kecilnya. Jam sudah menunjukkan Pukul 8:28 sementara dia janji bertemu di rumah tenri jam 9 pagi ini. Dengan sedikit kecewa Baso menuju ke kamar mandi. Berjalan sempoyongan sambil membawa alat mandi dan handuk birunya. Sampai didepan kamar mandi umum dia langsung lemas melihat antrian yang cukup mampu membuatnya terlambat untuk menjemput Tenri. Tidak ada pilihan lain Baso berbalik arah dan langsung pakaian kemudian menuju ke masjid untuk cuci muka dan sikat gigi ditambah sedikit memberi ornament wajib di rambutnya. Selesai.
Baso kemudian berangkat ke rumah Tenri untuk menjemputnya. Saat dalam perjalanan Baso kaget karena ada seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan. Baso merem mendadak scooternya kemudian berniat memarahi wanita tersebut namun dia sendiri heran. sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana. Gumam Baso. Karena sedang terburu-buru dia akhirnya lupa. Setelah sampai di rumah tenri dia masih terbayang wajah wanita itu.

รจ  Bersambung

Zenit

Diposting oleh Unknown di 19.51 0 komentar
mari kawan kita jalan di pematang ini
panggil raga yang sepi diantara tangisan malam
sampai hilang rasa menemui kedamaiaan dan terlelap diantara pelukan kebenaran
tak usah kau meminta imbalan dari perjuangan karena Tuhan telah memberimu nafas dari kasturi syurga
mampu menjinakkan nafsumu untuk membunuh harapan

mari kawan kita membuka jalan baru dari poros melingkar ini
tak usah ukir jejekmu disana
karena alam hanya memberi kita satu kali kesempatan
buanglah sisa dari ketangguhan akal untuk diam
karena saat ini kita harus terus meneriakkan keadilan
kepada siapa yang memerlukan dan harus memerlukan
ajari dia cara untuk meniup lilin dari setiap kado yang dia terima
seperti ketika kita diajarkan untuk meniup lilin harapan itu.


Makassar 21 Nov 2011