on 7.24.2016


“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.” ― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Di Pandora, tumbuhan itu bernama Pohon Kehidupan. Secara fungsi, dia memiliki jalinan paling inti yang memadukan manusia, tumbuhan, hewan, hingga sesuatu yang sifatnya makulat. Pohon itu menjadi sumber kekuatan yang menghubungkan jiwa semua warga Pandora, melalui akar, batang, daun, dan sulurnya.
Secara fisik, Pohon Kehidupan itu berdiameter lebar, membutuhkan dua atau tiga lengan orang dewasa untuk bisa memeluknya. Tubuhnya berotot dan tinggi semampai. Akarnya terpacak kokoh ke dalam tanah. Batang dan sulurnya merambat ke semua tempat di Pandora. Seolah memiliki mata untuk melihat ke mana lagi ia akan tumbuh menjulur.
Kisah pohon Kehidupan itu dituang ke dalam film berjudul Avatar – tayang perdana pada penghujung tahun 2009. Film yang disutradarai oleh James Cameron itu berkelakar tentang belahan semesta lain yang ditinggali oleh suku Na’vi, bertubuh mirip manusia tapi bertingkah sangat berbeda.
Sekilas, apa yang saya temukan selama mengikuti kegiatan edutrip yang dilakukan Blue Forests di pulau Pannikiang, antara Pohon Kehidupan di Pandora dan Mangrove di Pannikiang, memiliki kemiripan, baik fisik maupun fungsi.
Di Pandora, masyarakat sadar fungsi apa yang ditanggung oleh Pohon Kehidupan. Kesadaran itu yang membuatnya menjaga lingkungan sekitar – hutan basah, rawa-rawa berlumpur, tepian sungai dan bibir pantai, semua tempat dipenuhi Pohon Kehidupan.
Hingga suatu waktu, penjelajahan manusia akhirnya tiba di sana. Mereka menemukan satu batu mulia yang sangat berharga. Maka sebuah perusahaan tambang berencana melakukan invasi demi menguasai batu mulia tersebut. Beruntung, warga lokal memiliki pengetahuan dan kepandaian untuk mempertahankan tanahnya.
***

Manusia adalah kutukan bagi bumi yang mereka cintai. Setiap mendirikan rumah dan membangun kehidupan, di sana manusia akan menemukan tangannya berdarah karena merusak yang telah tertata indah di atas tanah.
Demi nama ilmu pengetahuan, mereka menebang pohon dan demi nama kemanusian, mereka kembali menanamnya. Pepohonan yang tumbuh lagi tidak mengajarkan apa-apa, selain penjelasan bahwa kebodohan tidak mampu menipu diri sendiri – bahkan jika itu adalah kawanan paling dungu sekalipun.
Penjelmaan dari tuduhan saya terhadap manusia di atas, pernah terjadi pada tahun 1960 hingga 1970-an di salah satu pulau dengan hutan mangrove paling beragam di Sulawesi Selatan, Pannikiang.
Kala itu, menurut Abu Nawar – kepala dusun Pannikiang, banyak masyarakat menebang pohon mangrove dan mengubah kayunya menjadi daya pembakar atau arang. Sikap masyarakat ini bukan tanpa alasan, disebab sulitnya menemukan pohon selain mangrove dan akses ke darat yang belum selaju sekarang, jadilah menebang pohonnya bukan pilihan, tapi keharusan, jika ingin dapur tetap berasap. Simalakama.
Beruntung kemudian, tahun-tahun selanjutnya, gas kian mudah didapatkan. Apakah masyarakat kemudian menjadi sadar tentang bahaya dari merusak mangrove? Meski ini hanya penalaran tanpa dasar yang kuat, sepertinya masyarakat saat itu belum hendak meninggalkan daya pembakar tradisionalnya, hanya disebabkan alasan bahwa jauh  lebih mudah menggunakan kompor gas.
Penalaran ini berangkat dari pertanyaan, apakah saat itu semua masyarakat telah mengunakan kompor gas? Salah seorang warga yang saat saya temui sedang duduk di teras rumahnya menjawab, belum. Dia sendiri, di dapurnya, masih menggunakan dua jenis kompor, gas dan tradisional.
Menurut cerita kepala dusun yang kakeknya telah turut menjaga hidup dan kehidupan mangrove di pulau tersebut, Pannikiang awalnya hanya gundakan pasir hidup yang kian waktu semakin membesar hingga layak ditinggali oleh manusia. Lantas mengapa mangrove bisa ada di sina? Itu disebabkan karena penyebaran secara alami. Ketika saya tanyakan kapan persisnya peristiwa itu, beliau hanya tersenyum.
***

            Pandora dan Pannikiang adalah simbol bagaimana kehidupan manusia dan tumbuhan seharusnya tidak dipisah dengan alasan apapun. Penyelarasan keduanya bukun untuk menguntungkan satu pihak saja.
Konon, pohon Kehidupan tidak butuh manusia untuk bertahan hidup tapi manusia butuh Pohon Kehidupan untuk tetap disebut manusia? Mari berangkat dari pertanyaan ini untuk menghadirkan kesadaran warga tentang pentingnya memelihara pohon Kehidupan di Pandora. Pertanyaan itu seharusnya juga bisa digunakan untuk mangrove di Pannikiang – dan di manapun tempat mangrove tumbuh.
Bertolak dari fakta bahwa banyak daerah di Indonesia yang mangrovenya rusak dikarenakan ulah manusia – mulai dengan alasan membuat tambak, membuka lahan pertanian, hingga tanah pemukiman. Selanjutnya dampak apa saja yang ditimbulkan jika mangrove di suatu daerah rusak?
Mengingat bahwa mangrove adalah ekosistem yang memiliki kemampuan menyerap karbon lebih banyak dan saat ini pemanasan global terjadi dan berdampak di hampir seluruh belahan bumi, maka tidak ada alasan untuk merusak mangrove. Terlebih hanya untuk membuka lahan tambak yang produktifitasnya hanya bertahan 3-5 tahun.  
Di Pannikiang, dengan tujuh belas jenis mangrove, rusaknya ekosistem berarti habislah harapan bahwa pulau itu tidak akan terkena abrasi. Lebih jauh lagi, penduduk akan kehilangan beberapa manfaat langsung seperti, buah dari jenis mangrove tertentu bisa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kue atau obat tradisional.
Saya merasa bersyukur karena di Pannikiang hanya ada 26 kepala keluarga. Di benak saya, seandainya ada 100-an lebih kepala keluarga, mungkin habitat mangrove juga akan terancam. Meski belum ada penjelasan secara mendalam, tapi itu terjadi di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, jumlah penduduk yang mencapai ribuan, berdampak pada kebutuhan pada pohon mangrove untuk membuat tiang perahu, balok rumah, atau sekadar kayu bakar.
Tepatlah penjelasan Pramoedya Ananta Toer pada pembuka tulisan ini. Perusakan mangrove adalah ulah manusia. Dan karena itu ulah manusia, maka saheharusnya kita bisa melawan. Dengan cara apa? Salah satunya adalah dengan mempelajari bagaimana cara kerja teman-teman di Blue Forests dalam elindungi ekosistem, khusunya mangrove. Bukankah manusia memang adalah kutukan bagi bumi yang mereka cintai?
on 7.19.2016


"Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya."
— Pramoedya Ananta Toer

Saya benci meletakkan Pramoedya pada pembuka tulisan ini. Ibarat jarum, matanya terlalu kecil untuk dikail benang paling tipis atau rumah yang halamannya terlalu luas untuk memelihara seekor anjing pemabuk yang malas membersihkan kotorannya. Tapi selalu saja, jarum itu membuat saya menemukan cara menjahit dengan apik kemeja yang sobek di punggungnya atau rumah itu memberi alasan untuk membersihkan halaman di tengah kesenangan saya tidak melakukan apa-apa. Pram sialan!
Sampai di sini, saya ingin menghapus kalimat pertama di atas dan membiarkannya hidup sebagai teman perjalanan petualang muda yang sibuk menghabiskan waktu menikmati keindahan alam. Mereka melakukan itu sebagai wujud kecintaan terhadap negara. Menganggap apa yang mereka lakukan sebagai sumbangan terbaik. Saya bersyukur. Setidaknya, ada orang yang merasa lebih mencintai negara ini dari pada orang lain.
Baiklah, kita mulai dengan kalimat, “Mungkin orang itu tidak mendapatkan....” Pram ragu dan membuka kalimat ini dengan kata mungkin. Untuk selanjutnya, saya menemukan banyak sekali peringatan di sini. Jurang yang terlalu curam atau asap yang terlalu tebal. Kabur dan berbahaya.
Saya berhenti pada penggalan mungkin yang kedua. Merasakan kesepian lebih tua dari umur saya. Melihat dunia lebih kecil dari kepala saya. Menyaksikan peluru membantai ingatan saya. Saya membaca mungkin selanjutnya dan tidak menemukan apa-apa. Kesepian membekas dan saya bertahan – atau didesak tidak beranjak, dari mungkin yang kedua.
Mungkin dia tidak mempunyai sahabat.
Saya ditanya oleh Aku, “Apakah kau punya sahabat?” Saya mengingat banyak nama dan sedikit sekali peristiwa. Saya mereka banyak sekali perjalanan dan tidak menemukan jalan pulang. Saya diam. Semua boleh tertawa. Saya diam. Tidak ada gelak. Saya tidak menjawab pertanyaan itu.
Malam boleh gelap, tapi pertanyaannya adalah, apakah kau butuh cahaya? Dunia terlalu padam untuk penakut seperti saya. Recehan 100 perak yang ingin membeli satu lampu jalan dan menanamnya di mana-mana.
Di jalan pulang, saya menemukan Pram sedang menggali masa silam di halam rumah. Saya takut. Bongkahan hitam yang diangkatnya dari tanah berdenyut. Cepat sekali. Lebih debar dari degup jantung yang saya kumpulkan sepanjang hidup.
Lelaki tuli itu bertanya, “Apakah kau punya sahabat?” Anjing pemabuk menjulurkan lidah. Liurnya adalah kesunyian. Senyap yang membesarkan suara retakan ranting atau kata terserah yang membuat kekasih menjungkirkan nalar terkaan. “Punya.” Saya menjawabnya dengan membiarkan bongkahan hitam itu menyerap seluruh bayangan di sekitar tubuh yang mungkin Aku.
Kini, saya membiarkan kalimat terakhir pada pembuka tulisan ini menjadi buta dan cenderung melenyapkan diri entah ke mana. “Apakah sahabat saya adalah orang-orang yang ingin dan akan dihormati karena jasa-jasanya?”
Saya tidak mengenal mereka cukup dalam. Tapi saya tahu bahwa mereka kumpulan orang yang tidak senang menghabiskan harta orang tua demi foya dan kesemuan. Mereka pemalas yang sadar bahwa menjadi rajin dan ambisius berarti membiarkan dunia ini dipenuhi robot-robot pekerja. Mereka berdiri memunggungi tembok-tembok kota dan menciptakan desa di dalam dirinya. Mereka anak-anak yang takut menjadi dewasa. Hidup mereka anomali dan saya mencintainya.
Pram, biarlah kami, yang saling menghormati dan saling menjasai.
Sampai di sini, saya membiarkan kalimat pertama dan terakhir pembuka tulisan ini bertemu di halaman rumah, “Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” Sebab manusia dan kemanusian tidak pernah tinggal di rumah yang sama, sebagai sahabat atau keluarga.


on 3.19.2016

“Saya pikir Liddle dan ilmuwan asing yang mendalami Indonesia berkutat dengan isi, sementara kaum terpelajar Indonesia bersolek dengan bungkus. Mereka berpikir seluruh, sedangkan kita berpikir separuh. Jadilah kita manusia separuh, hanya berperan sebagai bungkus-bungkus, dan itu sudah dimulai sejak di pikiran, ketika kita berbahasa." – Salomo Simanungkalit.

Gagasan di atas, secara sederhana, coba menyandarkan realita berbahasa kita pada sesuatu yang disebut Albert Einsten sebagai reality is merely an illusion. Istilah ini merujuk pada keadaan di mana realitas menjadi sinonim kepalsuan.
Stasiun televesi dan ruang diskusi menjadi tempat terbaik untuk melihat bagaimana gagapnya kita dalam berbahasa. Mari memperhatikan petikan wawancara artis Indonesia dan bandingkan dengan jumpa pers pelatih sepak bola di liga Inggris. Tanpa bermaksud menganggap pelatih lebih baik dari artis. Dalam konteks penggunaan bahasa, saya merasa peramu sepakbola memang nampaknya lebih jujur dan berani.
Mengutip komentar Jose Mourinho ketika dipecat oleh Chelsea FC, “Saya siap menjalaninya, untuk mengatasinya, karena saya punya kematangan dan pengalaman. Tapi saya membayangkan, bila hal seperti ini terjadi di awal, mungkin karier saya akan lebih baik.” Bandingkan dengan pernyataan Saipul Jamil saat diminta menjelaskan kronologi kasus pencabulan yang menimpanya "Dan saya khilaf, Pak. Enggak ada maksud ke sana. Itu pun terjadi sekali aja."
Bahasa yang dipilih Mourinho memiliki gairah penerimaan atas pemecatan dan semangat untuk bangkit kembali,  sementara bahasa yang dipilih Saipul Jamil, terbaca jika dia tidak menerima tuduhan pencabulan tersebut, meskipun telah terbukti bersalah.
Ini hanya penggambaran kecil dari perbandingan dua tokoh, namun tampaknya, bakat-bakat ketidakmapanan kita berbahasa dengan dalam dan terang memang dimulai sejak di pikiran. Atau mungkin pemilihan bahasa kita memang tidak pernah dipikirkan terlebih dahulu.
Persoalan seluruh dan separuh menjadi hal yang disinggung Salomo dengan serius. Pikiran yang patah atau logika yang mudah disangkal. Pembahasan dalam ruang-ruang diskusi sebatas ranah permukaan dan tidak menyelami pusat permasalahan. Barangkali tulisan ini juga, demikian adanya, hanya membahas persoalan-persoalan remeh yang tidak penting untuk diketahui.
Saya sendiri takut, bahasa bukan lagi alat untuk menjelaskan sebuah persoalan. Bahasa bukan lagi hasil pemikiran yang memiliki kedalaman, tapi menjadi kebohongan-kebohongan yang dibiarkan terus berbicara. Pada titik tertentu, kita lebih percaya hal yang heboh dan kosong dari pada kalimat sederhana yang berterus terang.
Apa yang kita ucapkan adalah bahasa, dan semua kata yang dipilih seharusnya melalui tahap pikiran. Namun bila di dalam sana, segala sesuatunya patah dan terbelah, maka tidak ada hal yang dapat selesai tanpa menderita gangguan.
Untuk menjelaskan cara mengatasi kelaparan, maka kita berbicara tentang bagaimana menjatuhkan sebuah rezim. Untuk menghentikan ketergantungan terhadap media sosial, maka kita berhenti menggunakan internet. Untuk membiarkan anak-anak mudah diatur, maka mereka diberikan telepon cerdas yang berisi permainan-permainan.
Semua solusi yang kita berikan adalah hasil pemikiran yang patah. Itu menyebabkan hal yang kita anggap penyelesaian justru bertindak sebagai penyamaran, permukaan yang tidak akan pernah membawa pemikiran kita untuk tenggelam ke inti masalah.
Penggambaran realitas oleh Einsten telah merasuki sistem kebahasaan kita. Bahasa hanyalah ilusi belaka. Segala kepalsuan dan hal-hal yang tidak kita pahami tersembunyi di dalamnya. Kita menggunakan bahasa dan berharap dapat menjelaskan jika kita adalah orang yang cerdas yang paham persoalan.
Ilmu sintaksis dan pragmatik akhirnya hanya menjelaskan tatanan kebahasaan dan dikelabui oleh semua ilusi itu. Peletakan subjek dalam kalimat seolah berhasil menjawab siapa dan peletakan objek dalam kalimat seolah sanggup menjawab bagaimana. Namun nyatanya, siapa dan bagaimana itu tidak pernah kita kenal seutuhnya.
Menjadi pembungkus yang hanya paham persoalan kulit. Terlebih jika ini menyangkut persoalan yang kita anggap sanggup kuasai. Semacam sepasang kekasih yang seharusnya bisa menjaga perasaan, namun salah seorang di antaranya justru berkhianat dan tetap merasa saling menyayangi. Ajaib.
Pada akhirnya, kita harus kembali membersihkan debu-debu dalam pikiran, mencoba menata kembali segala permasalahan dari awal. Toh, kesanggupan berbahasa tidak menunjukkan bagaimana kita menguasai sesuatu, tapi bagaimana kita jujur untuk melihat masalah. Dan semoga, harapan saya, pendangan Salomo pada pembuka tulisan ini suatu saat akan membalik dirinya sendiri.
on 5.17.2015


Membaca kisah yang tertuang dalam Illiad dan Odyssey, La Galigo, Aeneid atau Ramayana dan Mahabharata adalah upaya manusia untuk pulang ke dalam dirinya. Benturan narasi dan sejarah yang tidak bisa manusia tolak.
Meskipun telah dipisah ribuan tahun, tapi dengan adanya budaya literasi, memungkinkan kita untuk bertemu dengan Hanoman, Sawerigading, Aeneid, atau Agamemnon. Pertemuan yang terjadi dalam kisah-kisah yang terus dipelihara hingga saat ini.
Kisah itu mendarah dalam daging ingatan kita. Selain tuturan kisah, keindahan kalimat pada beberapa naskah epos tadi adalah untaian kata yang kita kenal saat ini sebagai puisi. Ini menunjukkan bahwa puisi telah ada sejak dulu. Mengandung nilai sejarah, selalu membumi, dan hidup di tengah masyarakat.
Nilai yang terkandung dalam puisi inilah yang terus manusia lanjutkan. Dibuatlah puisi-puisi baru. Terus menerus, tanpa angka pasti. Tidak ada data yang menunjukkan berapa jumlah puisi yang dibuat karena manusia merasakan kecewa, patah hati, penindasan, ketidakadilan dan beberapa keresahan lain yang terjadi di negara ini. Selain karena beberapa puisi sifatnya pribadi, mungkin memang tidak penting mengetahui jumlahnya.
Yang terpenting adalah puisi selalu ada dan tidak pernah berhenti dibuat manusia. Sebab menulis puisi adalah proses pembingkaian ingatan agar dapat bertahan dan pecahan sejarahnya masih dapat ditemukan generasi setelahnya.
Maka tidak salah jika saya menyimpulkan secara sepihak bahwa puisi adalah peristiwa yang terperangkap dalam narasi. Kisah yang diceritakan menggunakan kalimat indah, penuh makna, memiliki nubuat, dan berangkat dari pengalaman penyairnya.

***
Jauh sebelum 7 Alasan Mencela Diriku yang ditulis Kahlil Ghibran, manusia telah menjadikan puisi sebagai penguat spritual yang menjaga kesakralan suatu keyakinan. Pun dalam kitab suci, baik Injil, Tripitaka, Al-Quran, atau Talmud mengandung kisah yang ditulis dengan kalimat-kalimat indah.
Jika ada yang menyebut bahwa puisi sanggup mengubah hidup seseorang, maka saya sepakat. Bukan karena keindahan kata-kata atau anggapan kesucian yang dilekatkan padanya, tapi karena di dalamnya termaktub kisah yang mengandung kekuatan.
Kekuatan ini sering juga disebut sebagai pengalaman literasi. Pengalaman yang semua orang bisa dapatkan dengan mudah dan murah. Bergantung sebarapa tekun kita membaca dan memahami narasi pada sebuah teks puisi.
Penyebab perubahan itu karena kisah yang ditulis di dalam puisi mengandung pengalaman. Dan karena pengalaman adalah guru yang terbaik, maka tidak salah jika ia memiliki kekuatan untuk mengubah pandangan dan perilaku manusia.
Senada dengan hasil penelitian Dr. C. Edward Coffey - peneliti dari Henry Ford Health System, yang berhasil membuktikan bahwa dengan membaca, seseorang terhindar dari penyakit demensia. Demensia merupakan penyakit yang merusak jaringan otak. Seseorang yang terkena demensia dipastikan mengalami kepikunan.
Maka secara medis, pengetahuan, dan spritual, membaca dapat membantu manusia untuk hidup lebih sehat.
***
Salah satu berita menarik belakangan ini adalah aksi jual diri yang dilakukan pelajar sekolah menengah pertama di salah satu sekolah negeri di kota Makassar. Setelah berdiskusi dengan salah seorang kawan perihal peristiwa ini, ia menyimpulkan bahwa penyebab utamanya adalah moral. Menurutnya, moral siswi itu harus dibenahi dan agama adalah jalan keluarnya.
Tapi simpulan teman saya berbeda dari pengakuan seorang siswi yang berhasil diwawancarai salah satu media lokal di Makassar. Menurut pengakuannya, ia menjual diri karena membutuhkan uang untuk membeli parfum. Tentu, parfum tidak boleh dilihat sekadar pengharum tubuh, tapi sebagai benda yang memiliki nilai ekonomi.
Beli membeli ini menunjukkan jika persoalan uang dapat memperpendek akal seseorang dalam melakukan sesuatu. Maka saya menduga bahwa masalah utamanya bukan karena moral, tapi desakan ekonomi.
Lantas siapa yang harus kita mintai pertanggungjawaban? Pemuka agama, orang tua, guru, iklan yang menawarkan parfum, atau Jokowi yang senang manaikturunkan harga bahan bakar minyak?
Melihat peran puisi selama ini – sebagai instrumen yang mampu memperkuat religiositas, penyampai pesan, dan pelanjut kisah, maka puisi bisa dijadikan sebagai jalan keluar. Saya hanya berharap puisi belum kehilangan kekuatannya. Meskipun ada kesangsian untuk mengatakan bahwa dengan sastra, persoalan jual diri ini bisa selesai.
Pendidikan agama yang sudah diajarkan sejak sekolah dasar toh tidak membuat kita menjadi lebih bermoral. Sebab agama selalu bertumpu pada benar dan salah. Padahal, banyak persoalan di dunia ini yang hidup ditengah-tengah ruang kemungkinan. Ruang yang hanya bisa kita pahami setelah keluar dari dunia ideal yang selama ini kita yakini sebagai kebenaran. Itulah ruang ketidakjelasan. Ruang di mana segalanya berpeluang untuk benar.
on 4.16.2015


Kematian adalah sebuah perjumpaan antara yang ada dan tiada. Perkara yang seringkali sulit diterima tapi selalu kita rayakan dengan cara yang berbeda. Pertanyaan kemana perginya mereka yang mati adalah dasar bagi pertanyaan serupa; kemana datangnya mereka yang hidup?
Kematian dan kehidupan selalu berada dalam rumah yang sama. Hanya dipisah kamar dan cahaya lampu. Kita seringkali menggambarkan kematian dengan sempurna sehingga lupa jika kehidupan ini sebenarnya adalah perlombaan yang tak pernah dimenangkan oleh siapapun.
Setiap manusia kemudian menciptakan tuhan dalam kepalanya. Tempat mereka berlindung dari ancaman dan ketakutan. Disusunlah kitab suci sebagai pedoman yang mengatur manusia mulai dari cara masuk hingga keluar rumah. Dikaranglah doa agar bisa dimunajatkan sebagai usaha terakhir manusia untuk menunjukkan keberserahandirinya.
Nasib dan takdir terlihat seperti ketentuan utuh yang hanya boleh digugat oleh pemuka agama. Dirawatlah mitos tentang seseorang yang mampu menghidupkan orang yang telah mati atau hikayat tentang orang yang datang dari kematian selalu dipelihara agar keesaan tuhan kian kokoh dan tak tertandingi.
   Seperti itulah gambaran sederhana bagaimana manusia mendogmakan sesuatu. Tidak ada ruang bagi keraguan. Bela membela kepentingan menjadi juru kunci keselamatan. Memilih menjadi abu-abu hanya mendorong kita meletakkan ketakutan pada puncuk yang lebih esa dari tuhan. Itu penyakit dan berbahaya.

***
"Di mana ada kehidupan, di situ pasti ada kematian. Mati itu mudah; hiduplah yang sulit. Semakin berat kehidupan yang dihadapi, semakin kuat keinginan untuk bertahan. Dan semakin besar ketakutan untuk mati, semakin besar pula perjuangan untuk terus hidup."
Kalimat di atas adalah pesan Mo Yan yang entah saya temukan di mana. Peraih Nobel Sastra tahun 2012 itu berusaha memahami bagaimana kematian dan kehidupan berjalan dalam setapak yang sama dan dalam ruang yang lebih luas.
Kematian dan kehidupan melibatkan banyak hal. Bukan hanya tentang mati dan lahir. Berbagai elemen dalam hidup ini bisa merasakan hal yang sama. Ilmu pengetahuan salah satunya yang dapat dijadikan contoh abadi bagaimana orang-orang saling bunuh-membunuh pemikiran demi lahirnya satu pengetahuan baru.
Hukum materialisme dialektik dapat merumuskan bagaimana pertentangan ini memegang kendali. Tesa dan antitesa adalah suami istri yang melahirkan anak yang bernama sintesa. Sintesa kemudian dijadikan generasi mutakhir. Entah kapan tapi selalu ada kelompok yang meletakkan sintesa sebagai tesa. Kemudian oleh kelompok lain, dicarilah antitesanya. Hingga kembali lahir sintesa.
Pola segitiga ini adalah dahaga yang selalu membutuhkan air minum tapi tak pernah benar-benar usai apa lagi selesai. Memperlihatkan pada kita bahwa kematian selalu digantikan oleh kehidupan.
***
            Entah bagaimana caranya agar kematian dan kehidupan dapat dipisahkan. Tapi upaya ini tidak pernah berhasil. Keduanya selalu ada dan berjalan beriringan pada setapak yang sama. Kita hanya tak tahu sedang mengikuti jejak langkah yang mana.
            Apa yang terjadi pada Saut Situmorang adalah cuplikan bagimana bunuh membunuh ilmu pengetahuan itu terjadi. Perang pengetahuan di negara kita ini entah dapat digolongkan berkembang atau tertahan.
            Polemik ini dimulai ketika buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang diinisiasi oleh Fatin Hamama diterbitkan. Beberapa pegiat sastra keberatan karena nama Danny JA masuk sebagai tokoh sastra paling berpengaruh dan disandingkan dengan Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer. Muncullah kritikan dan kecaman serta aksi penolakan oleh beberapa kalangan. Salah satunya adalah Saut Situmorang yang mengkritik lewat satus facebook dan twitter-nya serta dalam berbagai forum diskusi.
Berawal dari puisi dan berakhir di kantor polisi. Itulah mungkin kalimat sederhana yang dapat digunakan untuk menggambarkan kisah Saut Situmorang yang dipolisikan oleh Fatin Hamama – Alumni Al-Azhar, Kairo yang disebut-sebut sebagai perantara Danny JA. Dengan tuduhan pencemaran nama baik dan melanggar UU ITE.
            Peradaban Barat pernah merasakan hal yang sama. Pada masa kegelapan atau dark ages antara tahun 325 sampai 1300 M terjadi pemerkosaan keyakinan dan pembunuhan intelektual oleh kalangan agamawan. Dengan dalih demi terjaganya sakralitas agama. Moral kemudian menjadi tuhan yang lebih Tuhan.
Memasuki pertengahan tahun 2015, kita masih saling bunuh membunuh keyakinan dan intelektual. Masih memperdebatkan hal yang di Barat telah selasai ratusan tahun lalu. Yassalam!

7.24.2016

Pandora

Diposkan oleh Jejak Sajak di 22.03 0 komentar


“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.” ― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Di Pandora, tumbuhan itu bernama Pohon Kehidupan. Secara fungsi, dia memiliki jalinan paling inti yang memadukan manusia, tumbuhan, hewan, hingga sesuatu yang sifatnya makulat. Pohon itu menjadi sumber kekuatan yang menghubungkan jiwa semua warga Pandora, melalui akar, batang, daun, dan sulurnya.
Secara fisik, Pohon Kehidupan itu berdiameter lebar, membutuhkan dua atau tiga lengan orang dewasa untuk bisa memeluknya. Tubuhnya berotot dan tinggi semampai. Akarnya terpacak kokoh ke dalam tanah. Batang dan sulurnya merambat ke semua tempat di Pandora. Seolah memiliki mata untuk melihat ke mana lagi ia akan tumbuh menjulur.
Kisah pohon Kehidupan itu dituang ke dalam film berjudul Avatar – tayang perdana pada penghujung tahun 2009. Film yang disutradarai oleh James Cameron itu berkelakar tentang belahan semesta lain yang ditinggali oleh suku Na’vi, bertubuh mirip manusia tapi bertingkah sangat berbeda.
Sekilas, apa yang saya temukan selama mengikuti kegiatan edutrip yang dilakukan Blue Forests di pulau Pannikiang, antara Pohon Kehidupan di Pandora dan Mangrove di Pannikiang, memiliki kemiripan, baik fisik maupun fungsi.
Di Pandora, masyarakat sadar fungsi apa yang ditanggung oleh Pohon Kehidupan. Kesadaran itu yang membuatnya menjaga lingkungan sekitar – hutan basah, rawa-rawa berlumpur, tepian sungai dan bibir pantai, semua tempat dipenuhi Pohon Kehidupan.
Hingga suatu waktu, penjelajahan manusia akhirnya tiba di sana. Mereka menemukan satu batu mulia yang sangat berharga. Maka sebuah perusahaan tambang berencana melakukan invasi demi menguasai batu mulia tersebut. Beruntung, warga lokal memiliki pengetahuan dan kepandaian untuk mempertahankan tanahnya.
***

Manusia adalah kutukan bagi bumi yang mereka cintai. Setiap mendirikan rumah dan membangun kehidupan, di sana manusia akan menemukan tangannya berdarah karena merusak yang telah tertata indah di atas tanah.
Demi nama ilmu pengetahuan, mereka menebang pohon dan demi nama kemanusian, mereka kembali menanamnya. Pepohonan yang tumbuh lagi tidak mengajarkan apa-apa, selain penjelasan bahwa kebodohan tidak mampu menipu diri sendiri – bahkan jika itu adalah kawanan paling dungu sekalipun.
Penjelmaan dari tuduhan saya terhadap manusia di atas, pernah terjadi pada tahun 1960 hingga 1970-an di salah satu pulau dengan hutan mangrove paling beragam di Sulawesi Selatan, Pannikiang.
Kala itu, menurut Abu Nawar – kepala dusun Pannikiang, banyak masyarakat menebang pohon mangrove dan mengubah kayunya menjadi daya pembakar atau arang. Sikap masyarakat ini bukan tanpa alasan, disebab sulitnya menemukan pohon selain mangrove dan akses ke darat yang belum selaju sekarang, jadilah menebang pohonnya bukan pilihan, tapi keharusan, jika ingin dapur tetap berasap. Simalakama.
Beruntung kemudian, tahun-tahun selanjutnya, gas kian mudah didapatkan. Apakah masyarakat kemudian menjadi sadar tentang bahaya dari merusak mangrove? Meski ini hanya penalaran tanpa dasar yang kuat, sepertinya masyarakat saat itu belum hendak meninggalkan daya pembakar tradisionalnya, hanya disebabkan alasan bahwa jauh  lebih mudah menggunakan kompor gas.
Penalaran ini berangkat dari pertanyaan, apakah saat itu semua masyarakat telah mengunakan kompor gas? Salah seorang warga yang saat saya temui sedang duduk di teras rumahnya menjawab, belum. Dia sendiri, di dapurnya, masih menggunakan dua jenis kompor, gas dan tradisional.
Menurut cerita kepala dusun yang kakeknya telah turut menjaga hidup dan kehidupan mangrove di pulau tersebut, Pannikiang awalnya hanya gundakan pasir hidup yang kian waktu semakin membesar hingga layak ditinggali oleh manusia. Lantas mengapa mangrove bisa ada di sina? Itu disebabkan karena penyebaran secara alami. Ketika saya tanyakan kapan persisnya peristiwa itu, beliau hanya tersenyum.
***

            Pandora dan Pannikiang adalah simbol bagaimana kehidupan manusia dan tumbuhan seharusnya tidak dipisah dengan alasan apapun. Penyelarasan keduanya bukun untuk menguntungkan satu pihak saja.
Konon, pohon Kehidupan tidak butuh manusia untuk bertahan hidup tapi manusia butuh Pohon Kehidupan untuk tetap disebut manusia? Mari berangkat dari pertanyaan ini untuk menghadirkan kesadaran warga tentang pentingnya memelihara pohon Kehidupan di Pandora. Pertanyaan itu seharusnya juga bisa digunakan untuk mangrove di Pannikiang – dan di manapun tempat mangrove tumbuh.
Bertolak dari fakta bahwa banyak daerah di Indonesia yang mangrovenya rusak dikarenakan ulah manusia – mulai dengan alasan membuat tambak, membuka lahan pertanian, hingga tanah pemukiman. Selanjutnya dampak apa saja yang ditimbulkan jika mangrove di suatu daerah rusak?
Mengingat bahwa mangrove adalah ekosistem yang memiliki kemampuan menyerap karbon lebih banyak dan saat ini pemanasan global terjadi dan berdampak di hampir seluruh belahan bumi, maka tidak ada alasan untuk merusak mangrove. Terlebih hanya untuk membuka lahan tambak yang produktifitasnya hanya bertahan 3-5 tahun.  
Di Pannikiang, dengan tujuh belas jenis mangrove, rusaknya ekosistem berarti habislah harapan bahwa pulau itu tidak akan terkena abrasi. Lebih jauh lagi, penduduk akan kehilangan beberapa manfaat langsung seperti, buah dari jenis mangrove tertentu bisa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kue atau obat tradisional.
Saya merasa bersyukur karena di Pannikiang hanya ada 26 kepala keluarga. Di benak saya, seandainya ada 100-an lebih kepala keluarga, mungkin habitat mangrove juga akan terancam. Meski belum ada penjelasan secara mendalam, tapi itu terjadi di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, jumlah penduduk yang mencapai ribuan, berdampak pada kebutuhan pada pohon mangrove untuk membuat tiang perahu, balok rumah, atau sekadar kayu bakar.
Tepatlah penjelasan Pramoedya Ananta Toer pada pembuka tulisan ini. Perusakan mangrove adalah ulah manusia. Dan karena itu ulah manusia, maka saheharusnya kita bisa melawan. Dengan cara apa? Salah satunya adalah dengan mempelajari bagaimana cara kerja teman-teman di Blue Forests dalam elindungi ekosistem, khusunya mangrove. Bukankah manusia memang adalah kutukan bagi bumi yang mereka cintai?

7.19.2016

Anomali

Diposkan oleh Jejak Sajak di 18.24 0 komentar


"Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya."
— Pramoedya Ananta Toer

Saya benci meletakkan Pramoedya pada pembuka tulisan ini. Ibarat jarum, matanya terlalu kecil untuk dikail benang paling tipis atau rumah yang halamannya terlalu luas untuk memelihara seekor anjing pemabuk yang malas membersihkan kotorannya. Tapi selalu saja, jarum itu membuat saya menemukan cara menjahit dengan apik kemeja yang sobek di punggungnya atau rumah itu memberi alasan untuk membersihkan halaman di tengah kesenangan saya tidak melakukan apa-apa. Pram sialan!
Sampai di sini, saya ingin menghapus kalimat pertama di atas dan membiarkannya hidup sebagai teman perjalanan petualang muda yang sibuk menghabiskan waktu menikmati keindahan alam. Mereka melakukan itu sebagai wujud kecintaan terhadap negara. Menganggap apa yang mereka lakukan sebagai sumbangan terbaik. Saya bersyukur. Setidaknya, ada orang yang merasa lebih mencintai negara ini dari pada orang lain.
Baiklah, kita mulai dengan kalimat, “Mungkin orang itu tidak mendapatkan....” Pram ragu dan membuka kalimat ini dengan kata mungkin. Untuk selanjutnya, saya menemukan banyak sekali peringatan di sini. Jurang yang terlalu curam atau asap yang terlalu tebal. Kabur dan berbahaya.
Saya berhenti pada penggalan mungkin yang kedua. Merasakan kesepian lebih tua dari umur saya. Melihat dunia lebih kecil dari kepala saya. Menyaksikan peluru membantai ingatan saya. Saya membaca mungkin selanjutnya dan tidak menemukan apa-apa. Kesepian membekas dan saya bertahan – atau didesak tidak beranjak, dari mungkin yang kedua.
Mungkin dia tidak mempunyai sahabat.
Saya ditanya oleh Aku, “Apakah kau punya sahabat?” Saya mengingat banyak nama dan sedikit sekali peristiwa. Saya mereka banyak sekali perjalanan dan tidak menemukan jalan pulang. Saya diam. Semua boleh tertawa. Saya diam. Tidak ada gelak. Saya tidak menjawab pertanyaan itu.
Malam boleh gelap, tapi pertanyaannya adalah, apakah kau butuh cahaya? Dunia terlalu padam untuk penakut seperti saya. Recehan 100 perak yang ingin membeli satu lampu jalan dan menanamnya di mana-mana.
Di jalan pulang, saya menemukan Pram sedang menggali masa silam di halam rumah. Saya takut. Bongkahan hitam yang diangkatnya dari tanah berdenyut. Cepat sekali. Lebih debar dari degup jantung yang saya kumpulkan sepanjang hidup.
Lelaki tuli itu bertanya, “Apakah kau punya sahabat?” Anjing pemabuk menjulurkan lidah. Liurnya adalah kesunyian. Senyap yang membesarkan suara retakan ranting atau kata terserah yang membuat kekasih menjungkirkan nalar terkaan. “Punya.” Saya menjawabnya dengan membiarkan bongkahan hitam itu menyerap seluruh bayangan di sekitar tubuh yang mungkin Aku.
Kini, saya membiarkan kalimat terakhir pada pembuka tulisan ini menjadi buta dan cenderung melenyapkan diri entah ke mana. “Apakah sahabat saya adalah orang-orang yang ingin dan akan dihormati karena jasa-jasanya?”
Saya tidak mengenal mereka cukup dalam. Tapi saya tahu bahwa mereka kumpulan orang yang tidak senang menghabiskan harta orang tua demi foya dan kesemuan. Mereka pemalas yang sadar bahwa menjadi rajin dan ambisius berarti membiarkan dunia ini dipenuhi robot-robot pekerja. Mereka berdiri memunggungi tembok-tembok kota dan menciptakan desa di dalam dirinya. Mereka anak-anak yang takut menjadi dewasa. Hidup mereka anomali dan saya mencintainya.
Pram, biarlah kami, yang saling menghormati dan saling menjasai.
Sampai di sini, saya membiarkan kalimat pertama dan terakhir pembuka tulisan ini bertemu di halaman rumah, “Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” Sebab manusia dan kemanusian tidak pernah tinggal di rumah yang sama, sebagai sahabat atau keluarga.


3.19.2016

Akrobat Bahasa

Diposkan oleh Jejak Sajak di 21.56 0 komentar

“Saya pikir Liddle dan ilmuwan asing yang mendalami Indonesia berkutat dengan isi, sementara kaum terpelajar Indonesia bersolek dengan bungkus. Mereka berpikir seluruh, sedangkan kita berpikir separuh. Jadilah kita manusia separuh, hanya berperan sebagai bungkus-bungkus, dan itu sudah dimulai sejak di pikiran, ketika kita berbahasa." – Salomo Simanungkalit.

Gagasan di atas, secara sederhana, coba menyandarkan realita berbahasa kita pada sesuatu yang disebut Albert Einsten sebagai reality is merely an illusion. Istilah ini merujuk pada keadaan di mana realitas menjadi sinonim kepalsuan.
Stasiun televesi dan ruang diskusi menjadi tempat terbaik untuk melihat bagaimana gagapnya kita dalam berbahasa. Mari memperhatikan petikan wawancara artis Indonesia dan bandingkan dengan jumpa pers pelatih sepak bola di liga Inggris. Tanpa bermaksud menganggap pelatih lebih baik dari artis. Dalam konteks penggunaan bahasa, saya merasa peramu sepakbola memang nampaknya lebih jujur dan berani.
Mengutip komentar Jose Mourinho ketika dipecat oleh Chelsea FC, “Saya siap menjalaninya, untuk mengatasinya, karena saya punya kematangan dan pengalaman. Tapi saya membayangkan, bila hal seperti ini terjadi di awal, mungkin karier saya akan lebih baik.” Bandingkan dengan pernyataan Saipul Jamil saat diminta menjelaskan kronologi kasus pencabulan yang menimpanya "Dan saya khilaf, Pak. Enggak ada maksud ke sana. Itu pun terjadi sekali aja."
Bahasa yang dipilih Mourinho memiliki gairah penerimaan atas pemecatan dan semangat untuk bangkit kembali,  sementara bahasa yang dipilih Saipul Jamil, terbaca jika dia tidak menerima tuduhan pencabulan tersebut, meskipun telah terbukti bersalah.
Ini hanya penggambaran kecil dari perbandingan dua tokoh, namun tampaknya, bakat-bakat ketidakmapanan kita berbahasa dengan dalam dan terang memang dimulai sejak di pikiran. Atau mungkin pemilihan bahasa kita memang tidak pernah dipikirkan terlebih dahulu.
Persoalan seluruh dan separuh menjadi hal yang disinggung Salomo dengan serius. Pikiran yang patah atau logika yang mudah disangkal. Pembahasan dalam ruang-ruang diskusi sebatas ranah permukaan dan tidak menyelami pusat permasalahan. Barangkali tulisan ini juga, demikian adanya, hanya membahas persoalan-persoalan remeh yang tidak penting untuk diketahui.
Saya sendiri takut, bahasa bukan lagi alat untuk menjelaskan sebuah persoalan. Bahasa bukan lagi hasil pemikiran yang memiliki kedalaman, tapi menjadi kebohongan-kebohongan yang dibiarkan terus berbicara. Pada titik tertentu, kita lebih percaya hal yang heboh dan kosong dari pada kalimat sederhana yang berterus terang.
Apa yang kita ucapkan adalah bahasa, dan semua kata yang dipilih seharusnya melalui tahap pikiran. Namun bila di dalam sana, segala sesuatunya patah dan terbelah, maka tidak ada hal yang dapat selesai tanpa menderita gangguan.
Untuk menjelaskan cara mengatasi kelaparan, maka kita berbicara tentang bagaimana menjatuhkan sebuah rezim. Untuk menghentikan ketergantungan terhadap media sosial, maka kita berhenti menggunakan internet. Untuk membiarkan anak-anak mudah diatur, maka mereka diberikan telepon cerdas yang berisi permainan-permainan.
Semua solusi yang kita berikan adalah hasil pemikiran yang patah. Itu menyebabkan hal yang kita anggap penyelesaian justru bertindak sebagai penyamaran, permukaan yang tidak akan pernah membawa pemikiran kita untuk tenggelam ke inti masalah.
Penggambaran realitas oleh Einsten telah merasuki sistem kebahasaan kita. Bahasa hanyalah ilusi belaka. Segala kepalsuan dan hal-hal yang tidak kita pahami tersembunyi di dalamnya. Kita menggunakan bahasa dan berharap dapat menjelaskan jika kita adalah orang yang cerdas yang paham persoalan.
Ilmu sintaksis dan pragmatik akhirnya hanya menjelaskan tatanan kebahasaan dan dikelabui oleh semua ilusi itu. Peletakan subjek dalam kalimat seolah berhasil menjawab siapa dan peletakan objek dalam kalimat seolah sanggup menjawab bagaimana. Namun nyatanya, siapa dan bagaimana itu tidak pernah kita kenal seutuhnya.
Menjadi pembungkus yang hanya paham persoalan kulit. Terlebih jika ini menyangkut persoalan yang kita anggap sanggup kuasai. Semacam sepasang kekasih yang seharusnya bisa menjaga perasaan, namun salah seorang di antaranya justru berkhianat dan tetap merasa saling menyayangi. Ajaib.
Pada akhirnya, kita harus kembali membersihkan debu-debu dalam pikiran, mencoba menata kembali segala permasalahan dari awal. Toh, kesanggupan berbahasa tidak menunjukkan bagaimana kita menguasai sesuatu, tapi bagaimana kita jujur untuk melihat masalah. Dan semoga, harapan saya, pendangan Salomo pada pembuka tulisan ini suatu saat akan membalik dirinya sendiri.

5.17.2015

Tuhan Terpenjara di Nerekanya Sendiri

Diposkan oleh Jejak Sajak di 02.09 4 komentar


Membaca kisah yang tertuang dalam Illiad dan Odyssey, La Galigo, Aeneid atau Ramayana dan Mahabharata adalah upaya manusia untuk pulang ke dalam dirinya. Benturan narasi dan sejarah yang tidak bisa manusia tolak.
Meskipun telah dipisah ribuan tahun, tapi dengan adanya budaya literasi, memungkinkan kita untuk bertemu dengan Hanoman, Sawerigading, Aeneid, atau Agamemnon. Pertemuan yang terjadi dalam kisah-kisah yang terus dipelihara hingga saat ini.
Kisah itu mendarah dalam daging ingatan kita. Selain tuturan kisah, keindahan kalimat pada beberapa naskah epos tadi adalah untaian kata yang kita kenal saat ini sebagai puisi. Ini menunjukkan bahwa puisi telah ada sejak dulu. Mengandung nilai sejarah, selalu membumi, dan hidup di tengah masyarakat.
Nilai yang terkandung dalam puisi inilah yang terus manusia lanjutkan. Dibuatlah puisi-puisi baru. Terus menerus, tanpa angka pasti. Tidak ada data yang menunjukkan berapa jumlah puisi yang dibuat karena manusia merasakan kecewa, patah hati, penindasan, ketidakadilan dan beberapa keresahan lain yang terjadi di negara ini. Selain karena beberapa puisi sifatnya pribadi, mungkin memang tidak penting mengetahui jumlahnya.
Yang terpenting adalah puisi selalu ada dan tidak pernah berhenti dibuat manusia. Sebab menulis puisi adalah proses pembingkaian ingatan agar dapat bertahan dan pecahan sejarahnya masih dapat ditemukan generasi setelahnya.
Maka tidak salah jika saya menyimpulkan secara sepihak bahwa puisi adalah peristiwa yang terperangkap dalam narasi. Kisah yang diceritakan menggunakan kalimat indah, penuh makna, memiliki nubuat, dan berangkat dari pengalaman penyairnya.

***
Jauh sebelum 7 Alasan Mencela Diriku yang ditulis Kahlil Ghibran, manusia telah menjadikan puisi sebagai penguat spritual yang menjaga kesakralan suatu keyakinan. Pun dalam kitab suci, baik Injil, Tripitaka, Al-Quran, atau Talmud mengandung kisah yang ditulis dengan kalimat-kalimat indah.
Jika ada yang menyebut bahwa puisi sanggup mengubah hidup seseorang, maka saya sepakat. Bukan karena keindahan kata-kata atau anggapan kesucian yang dilekatkan padanya, tapi karena di dalamnya termaktub kisah yang mengandung kekuatan.
Kekuatan ini sering juga disebut sebagai pengalaman literasi. Pengalaman yang semua orang bisa dapatkan dengan mudah dan murah. Bergantung sebarapa tekun kita membaca dan memahami narasi pada sebuah teks puisi.
Penyebab perubahan itu karena kisah yang ditulis di dalam puisi mengandung pengalaman. Dan karena pengalaman adalah guru yang terbaik, maka tidak salah jika ia memiliki kekuatan untuk mengubah pandangan dan perilaku manusia.
Senada dengan hasil penelitian Dr. C. Edward Coffey - peneliti dari Henry Ford Health System, yang berhasil membuktikan bahwa dengan membaca, seseorang terhindar dari penyakit demensia. Demensia merupakan penyakit yang merusak jaringan otak. Seseorang yang terkena demensia dipastikan mengalami kepikunan.
Maka secara medis, pengetahuan, dan spritual, membaca dapat membantu manusia untuk hidup lebih sehat.
***
Salah satu berita menarik belakangan ini adalah aksi jual diri yang dilakukan pelajar sekolah menengah pertama di salah satu sekolah negeri di kota Makassar. Setelah berdiskusi dengan salah seorang kawan perihal peristiwa ini, ia menyimpulkan bahwa penyebab utamanya adalah moral. Menurutnya, moral siswi itu harus dibenahi dan agama adalah jalan keluarnya.
Tapi simpulan teman saya berbeda dari pengakuan seorang siswi yang berhasil diwawancarai salah satu media lokal di Makassar. Menurut pengakuannya, ia menjual diri karena membutuhkan uang untuk membeli parfum. Tentu, parfum tidak boleh dilihat sekadar pengharum tubuh, tapi sebagai benda yang memiliki nilai ekonomi.
Beli membeli ini menunjukkan jika persoalan uang dapat memperpendek akal seseorang dalam melakukan sesuatu. Maka saya menduga bahwa masalah utamanya bukan karena moral, tapi desakan ekonomi.
Lantas siapa yang harus kita mintai pertanggungjawaban? Pemuka agama, orang tua, guru, iklan yang menawarkan parfum, atau Jokowi yang senang manaikturunkan harga bahan bakar minyak?
Melihat peran puisi selama ini – sebagai instrumen yang mampu memperkuat religiositas, penyampai pesan, dan pelanjut kisah, maka puisi bisa dijadikan sebagai jalan keluar. Saya hanya berharap puisi belum kehilangan kekuatannya. Meskipun ada kesangsian untuk mengatakan bahwa dengan sastra, persoalan jual diri ini bisa selesai.
Pendidikan agama yang sudah diajarkan sejak sekolah dasar toh tidak membuat kita menjadi lebih bermoral. Sebab agama selalu bertumpu pada benar dan salah. Padahal, banyak persoalan di dunia ini yang hidup ditengah-tengah ruang kemungkinan. Ruang yang hanya bisa kita pahami setelah keluar dari dunia ideal yang selama ini kita yakini sebagai kebenaran. Itulah ruang ketidakjelasan. Ruang di mana segalanya berpeluang untuk benar.

4.16.2015

Moral dan Intelektual

Diposkan oleh Jejak Sajak di 04.26 0 komentar


Kematian adalah sebuah perjumpaan antara yang ada dan tiada. Perkara yang seringkali sulit diterima tapi selalu kita rayakan dengan cara yang berbeda. Pertanyaan kemana perginya mereka yang mati adalah dasar bagi pertanyaan serupa; kemana datangnya mereka yang hidup?
Kematian dan kehidupan selalu berada dalam rumah yang sama. Hanya dipisah kamar dan cahaya lampu. Kita seringkali menggambarkan kematian dengan sempurna sehingga lupa jika kehidupan ini sebenarnya adalah perlombaan yang tak pernah dimenangkan oleh siapapun.
Setiap manusia kemudian menciptakan tuhan dalam kepalanya. Tempat mereka berlindung dari ancaman dan ketakutan. Disusunlah kitab suci sebagai pedoman yang mengatur manusia mulai dari cara masuk hingga keluar rumah. Dikaranglah doa agar bisa dimunajatkan sebagai usaha terakhir manusia untuk menunjukkan keberserahandirinya.
Nasib dan takdir terlihat seperti ketentuan utuh yang hanya boleh digugat oleh pemuka agama. Dirawatlah mitos tentang seseorang yang mampu menghidupkan orang yang telah mati atau hikayat tentang orang yang datang dari kematian selalu dipelihara agar keesaan tuhan kian kokoh dan tak tertandingi.
   Seperti itulah gambaran sederhana bagaimana manusia mendogmakan sesuatu. Tidak ada ruang bagi keraguan. Bela membela kepentingan menjadi juru kunci keselamatan. Memilih menjadi abu-abu hanya mendorong kita meletakkan ketakutan pada puncuk yang lebih esa dari tuhan. Itu penyakit dan berbahaya.

***
"Di mana ada kehidupan, di situ pasti ada kematian. Mati itu mudah; hiduplah yang sulit. Semakin berat kehidupan yang dihadapi, semakin kuat keinginan untuk bertahan. Dan semakin besar ketakutan untuk mati, semakin besar pula perjuangan untuk terus hidup."
Kalimat di atas adalah pesan Mo Yan yang entah saya temukan di mana. Peraih Nobel Sastra tahun 2012 itu berusaha memahami bagaimana kematian dan kehidupan berjalan dalam setapak yang sama dan dalam ruang yang lebih luas.
Kematian dan kehidupan melibatkan banyak hal. Bukan hanya tentang mati dan lahir. Berbagai elemen dalam hidup ini bisa merasakan hal yang sama. Ilmu pengetahuan salah satunya yang dapat dijadikan contoh abadi bagaimana orang-orang saling bunuh-membunuh pemikiran demi lahirnya satu pengetahuan baru.
Hukum materialisme dialektik dapat merumuskan bagaimana pertentangan ini memegang kendali. Tesa dan antitesa adalah suami istri yang melahirkan anak yang bernama sintesa. Sintesa kemudian dijadikan generasi mutakhir. Entah kapan tapi selalu ada kelompok yang meletakkan sintesa sebagai tesa. Kemudian oleh kelompok lain, dicarilah antitesanya. Hingga kembali lahir sintesa.
Pola segitiga ini adalah dahaga yang selalu membutuhkan air minum tapi tak pernah benar-benar usai apa lagi selesai. Memperlihatkan pada kita bahwa kematian selalu digantikan oleh kehidupan.
***
            Entah bagaimana caranya agar kematian dan kehidupan dapat dipisahkan. Tapi upaya ini tidak pernah berhasil. Keduanya selalu ada dan berjalan beriringan pada setapak yang sama. Kita hanya tak tahu sedang mengikuti jejak langkah yang mana.
            Apa yang terjadi pada Saut Situmorang adalah cuplikan bagimana bunuh membunuh ilmu pengetahuan itu terjadi. Perang pengetahuan di negara kita ini entah dapat digolongkan berkembang atau tertahan.
            Polemik ini dimulai ketika buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh yang diinisiasi oleh Fatin Hamama diterbitkan. Beberapa pegiat sastra keberatan karena nama Danny JA masuk sebagai tokoh sastra paling berpengaruh dan disandingkan dengan Chairil Anwar dan Pramoedya Ananta Toer. Muncullah kritikan dan kecaman serta aksi penolakan oleh beberapa kalangan. Salah satunya adalah Saut Situmorang yang mengkritik lewat satus facebook dan twitter-nya serta dalam berbagai forum diskusi.
Berawal dari puisi dan berakhir di kantor polisi. Itulah mungkin kalimat sederhana yang dapat digunakan untuk menggambarkan kisah Saut Situmorang yang dipolisikan oleh Fatin Hamama – Alumni Al-Azhar, Kairo yang disebut-sebut sebagai perantara Danny JA. Dengan tuduhan pencemaran nama baik dan melanggar UU ITE.
            Peradaban Barat pernah merasakan hal yang sama. Pada masa kegelapan atau dark ages antara tahun 325 sampai 1300 M terjadi pemerkosaan keyakinan dan pembunuhan intelektual oleh kalangan agamawan. Dengan dalih demi terjaganya sakralitas agama. Moral kemudian menjadi tuhan yang lebih Tuhan.
Memasuki pertengahan tahun 2015, kita masih saling bunuh membunuh keyakinan dan intelektual. Masih memperdebatkan hal yang di Barat telah selasai ratusan tahun lalu. Yassalam!