[untuk: joko pinurbo]
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain
dinding-dinding masa membentuk kurun yang jauh lebih kutub dari selatan
kehilangan mata bukan berarti buta
kita melihat sesuatu keutuhan yang orang lain buta kepadanya
kehilangan telinga bukan berarti tuli
kita mendengar apa yang orang lain tidak cukup mampu mendengarnya
hidup adalah kutukan dan mati adalah cara untuk melepasnya
penjara-penjara menjadi surga bagi mereka yang ikhlas menerima segala tiba
tapi tidak pada tirani bagi mereka yang selalu mempertanyakan hakikat
matahari merendah dan panasnya ikut salibkan tuduh
kita sejenis buas yang hidup dalam kapas-kapas tanpa nafas
lalu mati kita adalah impas dari nifas selangkiri ibu yang kananya menjadi doa
kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain
warna apa lagi yang luput dari penerimaan
setelah semua cukup menjadi nama atas berhala-berhala retina
di sinilah ilham mulai dijatuhkan Tuhan kepada tinta
lalu dari gores-gores resah yang terayatkan
kita mulai membacanya satu demi bait lalu memahami sebagai kaki tangan kehidupan
kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
ternyata kita adalah pelupa atas tulis dan akhirnya orang lupa menjadi baca dalam tulis kita
Makassar, Februari 2013
di mataku: seluruh engkau adalah angka yang memenuhi retina dan menjadi suduttatap pada pandangku.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.
di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.
di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.
Makassar, Februari 2013
kepada
dinding dingin kamar yang tidak lagi muram.
baru
saja kita membuatnya sedikit berdarah oleh petikan warna kutukan.
berdiri
diantara pelukan-pelukan paling lekat milik yang menetap.
di
dalam seribu tawa menjadi teka-teki yang tidak perlu kita silangkan, itu sudah
terlalu rumit untuk tumit kata kita memahaminya.
berceritalah
seolah kita paham dengan semua noda dosa yang Tuhan ciptakan
setelah
lama mengutuk kutipan kata-kata dan semua judul puisi yang telah mereka
tuliskan
pada
hari yang entah kapan, kelak kita akas melepaskan diri lalu pura-pura saling
mengikhlaskan
biarlah
sunyi dan diam kita yang saling memahami
mungkin memang kamar kitalah yang paling berjodoh -
Diposting oleh
Unknown
di
00.33
ada masa kamu akan kembali bertemu di ruang tamu rumah tunggu
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa
ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib
ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu
kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa
ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib
ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu
kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -
Makassar, Februari 2013
perempuan itu adalah penjaga terpandai untuk cemburunya. dia suka menyimpannya sendiri. #tweetrhymes
rindunya pun
demikian. perempuan suka menyimpannya dalam hati. sangat dalam #tweetrhymes
juga ketika dia
terluka. perempuan selalu berusaha menutupinya dengan tetap tersenyum. #tweetrhymes
bagi perempuan: pada saat tertentu, air mata justru lebih mmapu menjelaskan segalanya. #tweetrhymes
jika perempuan
setia yang kau sia-siakan telah memilih pergi, mungkin waktunya penyesalan
untuk datang. #tweetrhymes
perempuan selalu memberikan "segalanya" hanya kepada dia yang membuatnya nyaman. #tweetrhymes
jangan berjanji kepada perempuan jika kamu tidak bisa memberi alasan mengapa dia harus percaya. #tweetrhymes
perempuan mencintai bukan dengan paksaan. biarkan dia memilih hati yang mana untuk iya cintai. #tweetrhymes
perempuan setia akan selalu menemanimu, bahkan saat susah. bukan saat bahagia saja. percayalah. #tweetrhymes
jangan percaya senyuman wanita saat matanya masih bengkak. mungkin saja dia pura-pura terlihat baik-baik saja agar kamu tenang. #tweetrhymes
di kota rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura
di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan
di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara
kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya
seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu
di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat
di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura
di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan
di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara
kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya
seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu
di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat
di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat
Makassar, Februari 2013
- John KeatsPuisi adalah suatu usahauntuk membaca indah atau subline tanpa gurdon dari membayangkan narasi proses pemikiran atau logis. Dia tidak menyiratkan puisi yang tidak masuk akal atau tidak memilik inarasi.
- William Wordswoth Puisia dalah overflow spontan perasaan kuat, yang diperlukan berasal dari emosi teringat dalam ketenangan, emosi yang dimaksud sampai, oleh suatu jenis reaksi, ketenangan secara bertahap menghilang, dan emosi, kerabat itu yang merupakan subjek kontemplasi, iproduksi secara bertahap, dan tidak itu sendiri sebenarnya ada dalam pikiran.
- Paul Valery: Puisia dalah seni didasarkan pada bahasa, namun puisi memiliki makna yang lebih umum yang sulit untuk menentukan karena kurang menentukan; puisi juga mengungkapkan keadaan pikiran tertentu.
- Putu Arya Tirtawirya (1980:9) menjabarkan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
- H. B. Jassin menjelaskan bahwa Puisi adalah pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandungi fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan.
- Waluyo (2005:1), mengemukakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
- Menurut Muhammad Hj. Salleh, Puisi merupakan bentuk sastra yang kental dengan muzik bahasa serta kebijaksanaan penyair dan tradisinya. Dalam segala kekentalan itu, maka puisi setelah dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana.
Diantara sekian banyak peristiwa yang berkaitan dengan sejarah sastra indonesia, ada dua kisah yang ingin saya angkat disini
“Pengadilan Puisi dan Kredo Puisi”
1. Pengadilan Puisi (1974).
Pengadilan Puisi merupakan ”pemberontakan” terhadap dunia perpuisian Indonesia. Pemberontakan tersebut ditujukan kepada kritikus sastra Indonesia, para penyair mapan dan majalah sastra yang ada di Indonesia. Kritikus yang dibidik dalam konteks ini adalah H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, keduanya dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mereka dianggap tidak mampu lagi mengikuti perkembangan puisi Indonesia mutakhir. Penyair mapan yang dihujat adalah Subagio Sastrowardoyo, Rendra, dan Goenawan Mohamad. Mereka bertiga dianggap menghambat kewajaran perkembangan puisi Indonesia. Adapun. majalah sastra yang dijadikan terdakwa adalah Horison, yang dianggap tidak lagi menampung aspirasi orang banyak karena telah menjadi majalah keluarga atau majalah klik.
Slamet Sukirnanto sebagai jaksa menuding kelemahan para terdakwa dan mengajukan tuntutan sebagai berikut.
1) Para kritikus sastra yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir Indonesia, yakni H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, harus “dipensiunkan’ dari perannya sebagai kritikus.
2) Redaktur/editor majalah sastra Horison, khususnya Sapardi Djoko Damono, “dicutibesarkan”.
3) Para penyair mapan: Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Darnono, Rendra, dan para epigon mereka, dikenai hukuman pembuangan. Para reinkarnasinya dibuang ke pulau paling terpencil.
4) Majalah Horison dan majalah Budaya Jaya harus dicabut surat izin terbit (SIT)nya, dan yang sudah terbit dinyatakan tidak berlaku. Kedua majalah itu dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum karena akan mengisruhkan perkembangan sastra yang diharapkan sehat dan wajar.
Majelis hakim dalam sidang pengadilan menolak tuntutan jaksa penuntut. Majelis hakim yang diketuai oleh Sanento Yuliman mengambil keputusan yang intinya para kritikus dan para penyair mapan tetap diberi kesempatan berkarya.
Oleh sebab itu, H. B. Jassin mengemukakan sikapnya terhadap pengadilan puisi itu, yang menolak terhadap apa yang dituduhkan kepadanya. H. B. Jassin menganggap bahwa pengadilan puisi itu hanya suatu permainan kanak-kanak yang lucu. Akan tetapi, pengadilan itu merupakan perangsang untuk menimbulkan kesungguhan dalam mencari kebenaran material.
Hampir sama dengan pendirian H. B. Jassin, M. S. Hutagalung dalam makalahnya yang berjudul Puisi Kita Dewasa Ini: menyatakan bahwa dengan pandangan Sukirnanto dalam pengadilan puisi itu ia merasa tidak perlu mengubah prinsip-prinsip yang diyakininya. Pendiriannya itu disertai pula dengan sikapnya terhadap pengadi1an puisi. Tuduhan tentang kesalahan kritikus dalam melihat perkembangan sastra beralasan dan tidak benar. Sudut pandang Sukirnantolah yang brengsek. Dapat dikatakan bahwa pandangan-pandangan Sukimanto adalah pandangan yang tidak sehat.
Sapardi Djoko Damono mengemukakan pendiriannya dalam makalahnya yang berjudulCatatan atas Pengadilan Puisi dan Tuntutan Slamet Sukirnanto sebagai berikut.
Pencacimakian terhadap majalah Horison merupakan tindakan yang aneh karena majalah itu merupakan sumber terpenting bagi puji-pujiannya. Sapardi menganggap bahwa Slamet Sukirnanto merupakan korban kekocakan Darmanto Jatman. Sikap Sapardi itu terlihat juga dalam makalahnya. Sapardi rnenganggap bahwa keputusan pengadilan puisi tidak dapat diterima karena keberadaan majalah Horison tidak ditentukan oleh Slamet Sukirnanto.
1. Kredo Puisi
Kredo Puisi merupakan sikap dan konsep Sutardji Calzoum Bachri dalam penulisan puisi-puisinya. Kredo ini dimuat pertama kali dalam majalah Horison, Desember 1974, lengkapnya berbunyi:
Kredo Puisi
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam keseharian, kata cenderung dipergunakan untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dan tradisi lapuk yang membelenggu mereka seperti kamus dan penjajahan-.penjajahan seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata-kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, dan menentukan kemauannya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tidak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas: mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga, sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan Kata Pertama adalah Mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantra.
Jakarta, 30 Maret 1973
kepada mantan puisiku
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata
mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku
kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih
lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan
kepada mantan puisiku
berlalulah.
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata
mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku
kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih
lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan
kepada mantan puisiku
berlalulah.
Makassar, Januari 2013
“kamu pernah dengar cerita mayat yang bisa berjalan?”
“belum. memangnya bisa?”
“di Toraja itu tetap terjaga. Gilakan!!”
“kamu mau kesana?”
“besok saya mau kesana, mencoba berpetualang dengan bermodalkan
gila kawan!”
“kamu pergi sama siapa?”
“saya pergi snediri di temani motor butut saya”
“kamu memang gila kawan”
Kira-kira seperti inilah percakapan "maya" saya
dengan salah satu teman yang suka traveling.
Sore masih panjang. Dengan semangat yang keterlaluan, saya
mencoba memanaskan motor dan memulai perjalanan dari rumah ke tugu Adipura.
Perjalanan ke Toraja saja bisa memakan waktu sampai delapan jam dari kota
Makassar dan sore ini saya masih sempat menghabiskan sebatang rokok terlebih
dahulu [baca: ini ritual tersendiri].
Kira-kira jam 3 sore saya memulai trip gila ini. Angin
sepoi dan keramaian jalan memang cukup menghibur trip kali ini. Kerel dan
matras masih setia di punggung, tidak terasa sore mulai berganti menjadi malam
dan pintu gerbang kabupaten Parepare belum juga terlihat. Masih dengan model
yang sama, semangat. Meskipun sebenarnya dompet saya tidak bersemangat. Tapi
disemangatkan sajalah.
Tiba di kota Parepare saya istirahat sambil menghabiskan
bekal dari rumah, nasi dan "ikan paku" spesial yang saya buat
sendiri. Selepas lelah saya kembali memulai perjalanan. Kali ini kabupaten Rappang
yang saya lalui. Malam yang dingin dan jalan yang cukup berkelok memang menjadi
tantangan tersendiri. Kerlap lampu jalan dan kendaraan silih berganti
menerangi. Dengan hati-hati saya mencoba menikmati perjalanan dengan sesekali
mengisap rokok kretek kebanggan lelaki.
Setelah berjam-jam akhirnya saya bertemu dengan hujan yang
sialan. Ini di Enrekang. Jalanan berkelok dan sementara dalam pekerjaan membuat
sedikit perjalanan saya terhambat. Belum lagi mobil truk yang mengambil hampir separuh
badan jalan menghalangi pandangan saya. Kabut yang turun membuat saya harus
singgah di warung sederhana dan menikmati segelas kopi tubruk racikan Pak
Nawing (tuan rumah yang budiman). Jaket tebal yang saya gunakan tidak mempan
menahan dingin. Alhasil, gemetar romantispun saya rasakan [baca: mencoba
memeluk diri sendiri].
Satu yang perlu saya catat dalam perjalanan ini, masyarakat
Enrekang itu sangat ramah, dia bahkan menawari saya untuk menginap di rumahnya
saja jika memang sudah terlalu capek. Ini yang membuat saya semakin kagum
dengan beliau dan keramahannya.
Sekitar setengah jam istirahat, saya akhirnya pamit dan
memulai lagi perjalanan ini. Semakin jauh berjalan, samakin tebal kabut yang
yang saya temui. Sedikit "amazinglah" saya bisa bertahan dalam
keadaan seperti ini. Di perjalanan hanya mobil yang melambung atau terlambung
dengan sendirinya. Saya mencoba mengimbangi dingin dengan menggerak-gerakkan
tubuh sambil tetap berhati-hati. Kalau nanti teman-teman mau trip ke Toraja,
saran saya jangan mulai perjalanannya dari sore. Akibatnya seperti saya ini.
Kedinginan dan perlu lebih berhati-hati. Diambang lelah saya berharap jalanan
ini dengan sendirinya menjadi dekat agar saya bisa lebih cepat tiba.
Dan ini dia yang saya tunggu. Ucapan selamat datang di
Kabupaten Toraja. Pukul 24.00 malam saya tiba setelah menempuh perjalan sekitar
300 kilo dari Makassar. Dari perbatasan saya masih harus melalui beberapa
kecamatan untuk sampai di kota Rante Pao.
Tiba di Rante Pao saya masih sempat singgah untuk menikmati
kopi khas toraja yang legendaris itu sebelum menuju penginapan. sebelum baring
saya mengutuk dalam hati, akhirnya
orang gila ini bisa juga sampai di toraja.
@Jalan2Seru_Mks
setahun berlalu
kita masih bernyanyi tentang cinta dan rasa yang sama
melupakan yang sedang terjadi
tentang rumah dan kota-kota tua
kota yang telah mengkotak-kotakkan kita
antara hitam dan putih
antara kaya dan miskin
antara kalah dan menang
lalu kita berserikat, terikat tanpa janji
setia tanpa harus disetiakan
selayaknya tanpa harus dilayakkan
setahun berlalu
kita masih bernyanyi tentang alam dan kebebasannya
menari bersama suara-suara kebebasan
melengkingkang bersama mammiri yang setia
dan kepada jalan yang masih panjang
berlalulah tanpa harus meninggalkan jejak banalu kepada kita
kepada: kau dan aku yang masih akan lebih setia lagi
selamat, kenduri kita sedang melangsungkan pestanya
hidup ini:
kita bisa bertingkah seperti kanak-kanak untuk menghindarinya
atau dewasa untuk menghadapinya
selamat mencintai jalan-jalan seru makassar
Makassar, Januari 2013
Diposting oleh
Unknown
di
04.21
aku adalah sebuah kebohongan
tempatmu membenci segala rupa
dan amarah yang sama bencinya kepada aku yang tertuduh
aku adalah sebuah kebohongan
tempatku jujur untuk mengatakan
sayangku adalah bohong yang berbicara jujur kepada dirinya sendiri
aku adalah sebuah kebohongan
rongsokan yang berbicara jujur tentang
apa yang dia rasakan
demi apa aku mencintaimu?
demikianlah adanya
aku adalah sebuah kebohongan
yang berani berkata tentang keindahan semu
mungkin hanya aku yang merasa bohong
malam begadang
beridabah dengan kesemuan
kita saling melempar senyum
Makassar, Januari 2013
@bolang_mks
Hidup ini Indah[ji]
Tidak semua yang biasa itu
berakhir biasa
Ada yang luar biasa dari yang
biasa itu
Menghina diri sendiri justru bisa
membuat kita menjadi luar biasa
Bukankah hidup ini indah[ji]?
Tidak semua yang jujur itu
membahagiakan
Ada jujur yang menyakitkan
Berbohongpun demikian
Bukankah hidup ini Indah[ji]?
Nikmati keapaadaannya dirimu
yang berterus terang pada hidupnya adalah seorang pemenang
Bukankah hidup ini indah[ji]?
Rumah Dukun, Januari 2013
sajakku adalah celana dalam
tempat kamu menutupi kemaluan
aku suka kamu yang bulat dan selalu terlanjur: kepada telanjang
adakah rasa yang bisa aku ungkapkan tanpa harus bermain dengan kelamin
sebab dihadapanku, kamu selalu nampak seperti perempuan tanpa payu dan darah
sajakku adalah celana dalam
tempat kamu menutupi kemaluan
aku suka kamu yang sellu membuatku bertanya tentang mani dan dosa.
tempat kamu menutupi kemaluan
aku suka kamu yang bulat dan selalu terlanjur: kepada telanjang
adakah rasa yang bisa aku ungkapkan tanpa harus bermain dengan kelamin
sebab dihadapanku, kamu selalu nampak seperti perempuan tanpa payu dan darah
sajakku adalah celana dalam
tempat kamu menutupi kemaluan
aku suka kamu yang sellu membuatku bertanya tentang mani dan dosa.
yang semestinya bukan tentu yang sebaiknya: itulah perasaan. kadang ada yang perlu kita bicarakan dengan damai tapi kamu selalu menuduhku dengan tuduh. aku lupa membuatkanmu secarik surat bukan tentu telah melupakaanmukan?
hubungan itu bukan batasan, malah hubungan adalah pendewasan. bergantung bagaimana cara kita menyikapinya. banyak yang putus dari kekasihnya karena gagal untuk menjalin komunikasi yang baik. seorang pembelajar adalah yang mampu memengut semua hikmah dari perjalanannya.
pada malam yang malang
kita melintasi trotoar dengan kuyup yang sungguh
kukuku mengggil diikuti sekujur tubuh
tapi kamu tidak
jaket dan mantel memelukmu erat
aku katakan dengan bohong bahwa aku mencintai malam ini
sebab sepasang merpati yang kehilangan sangkar ikut tersesat seperti kita
seperti celana dalamku yang telah punah di kamarmu
seperti puisi-puisiku yang mengabu di laci dompetmu.
aku penyair gagal yang telah berhasil melupakanmu.
karena setia telah memanggilku pulang ke kamar dan mimpiku.
kita melintasi trotoar dengan kuyup yang sungguh
kukuku mengggil diikuti sekujur tubuh
tapi kamu tidak
jaket dan mantel memelukmu erat
aku katakan dengan bohong bahwa aku mencintai malam ini
sebab sepasang merpati yang kehilangan sangkar ikut tersesat seperti kita
seperti celana dalamku yang telah punah di kamarmu
seperti puisi-puisiku yang mengabu di laci dompetmu.
aku penyair gagal yang telah berhasil melupakanmu.
karena setia telah memanggilku pulang ke kamar dan mimpiku.
Makassar, Januari 2013
kepada november yang agung
setiap malam kau datang dengan rindu yang sama
rindu yang aneh
rindu yang sengaja
rindu yang tiba-tiba
semuanya rindu dan kau memintaku untuk tidak merindukanmu
kepada november yang agung
jangan terlalu sering memintaku untuk mengingat dia
sebab ketika kau pergi, apa alasanku untuk kembali mengatakan rindu
dia akan menjadi merah dan aku akan tetap ungu
saling memberi alasan lalu menolak jawaban
memelukmu adalah simbol merpati
tapi melupakanmu akan menjadikanku pemakan kacang yang keterlaluan
itulah mengapa aku terus menghinggapi rindu hingga kedahan
sebab sangkarmu terlalu kecil untuk kita bertiga
setiap malam kau datang dengan rindu yang sama
rindu yang aneh
rindu yang sengaja
rindu yang tiba-tiba
semuanya rindu dan kau memintaku untuk tidak merindukanmu
kepada november yang agung
jangan terlalu sering memintaku untuk mengingat dia
sebab ketika kau pergi, apa alasanku untuk kembali mengatakan rindu
dia akan menjadi merah dan aku akan tetap ungu
saling memberi alasan lalu menolak jawaban
memelukmu adalah simbol merpati
tapi melupakanmu akan menjadikanku pemakan kacang yang keterlaluan
itulah mengapa aku terus menghinggapi rindu hingga kedahan
sebab sangkarmu terlalu kecil untuk kita bertiga
Makassar, November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)
3.03.2013
pada sebuah ingin: aku
pada sebuah ingin yang dingin:
ada hilang yang begitu jujur
aku semakin menjadi perasa yang kalah
setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat
pada sebuah harap yang bersahabat
ada kujur yang membujur di atas kasur
aku lekat yang semakin mayat
setelah cukup lama menggenggam harap
sila pilah untuk pilih
tapi jangan membedakan dengan nasib saja
lalu menjadi tekan pada sebuah akhir hayat yang jatuh di jendela takdir
aku semakin menjadi perasa yang kalah
setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat
aku lekat yang semakin mayat
setelah cukup lama menggenggam harap
- pada sebuah ingin: aku adalah bahagia yang hidup
Makassar, Maret 2013
2.20.2013
Seseorang yang Aku Sebut dalam Puisiku
[untuk: joko pinurbo]
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain
dinding-dinding masa membentuk kurun yang jauh lebih kutub dari selatan
kehilangan mata bukan berarti buta
kita melihat sesuatu keutuhan yang orang lain buta kepadanya
kehilangan telinga bukan berarti tuli
kita mendengar apa yang orang lain tidak cukup mampu mendengarnya
hidup adalah kutukan dan mati adalah cara untuk melepasnya
penjara-penjara menjadi surga bagi mereka yang ikhlas menerima segala tiba
tapi tidak pada tirani bagi mereka yang selalu mempertanyakan hakikat
matahari merendah dan panasnya ikut salibkan tuduh
kita sejenis buas yang hidup dalam kapas-kapas tanpa nafas
lalu mati kita adalah impas dari nifas selangkiri ibu yang kananya menjadi doa
kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain
warna apa lagi yang luput dari penerimaan
setelah semua cukup menjadi nama atas berhala-berhala retina
di sinilah ilham mulai dijatuhkan Tuhan kepada tinta
lalu dari gores-gores resah yang terayatkan
kita mulai membacanya satu demi bait lalu memahami sebagai kaki tangan kehidupan
kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
ternyata kita adalah pelupa atas tulis dan akhirnya orang lupa menjadi baca dalam tulis kita
Makassar, Februari 2013
2.19.2013
[kepada yang aku sebut perempaunku]
di mataku: seluruh engkau adalah angka yang memenuhi retina dan menjadi suduttatap pada pandangku.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.
di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.
di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.
Makassar, Februari 2013
2.16.2013
Sunyi dan Diam yang Saling Memahami
kepada
dinding dingin kamar yang tidak lagi muram.
baru
saja kita membuatnya sedikit berdarah oleh petikan warna kutukan.
berdiri
diantara pelukan-pelukan paling lekat milik yang menetap.
di
dalam seribu tawa menjadi teka-teki yang tidak perlu kita silangkan, itu sudah
terlalu rumit untuk tumit kata kita memahaminya.
berceritalah
seolah kita paham dengan semua noda dosa yang Tuhan ciptakan
setelah
lama mengutuk kutipan kata-kata dan semua judul puisi yang telah mereka
tuliskan
pada
hari yang entah kapan, kelak kita akas melepaskan diri lalu pura-pura saling
mengikhlaskan
biarlah
sunyi dan diam kita yang saling memahami
mungkin memang kamar kitalah yang paling berjodoh -
Tamu yang Senasib di Ruang Temu
ada masa kamu akan kembali bertemu di ruang tamu rumah tunggu
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa
ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib
ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu
kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa
ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib
ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu
kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -
Makassar, Februari 2013
2.13.2013
#combinedtweet: perempuanku
perempuan itu adalah penjaga terpandai untuk cemburunya. dia suka menyimpannya sendiri. #tweetrhymes
rindunya pun
demikian. perempuan suka menyimpannya dalam hati. sangat dalam #tweetrhymes
juga ketika dia
terluka. perempuan selalu berusaha menutupinya dengan tetap tersenyum. #tweetrhymes
bagi perempuan: pada saat tertentu, air mata justru lebih mmapu menjelaskan segalanya. #tweetrhymes
jika perempuan
setia yang kau sia-siakan telah memilih pergi, mungkin waktunya penyesalan
untuk datang. #tweetrhymes
perempuan selalu memberikan "segalanya" hanya kepada dia yang membuatnya nyaman. #tweetrhymes
jangan berjanji kepada perempuan jika kamu tidak bisa memberi alasan mengapa dia harus percaya. #tweetrhymes
perempuan mencintai bukan dengan paksaan. biarkan dia memilih hati yang mana untuk iya cintai. #tweetrhymes
perempuan setia akan selalu menemanimu, bahkan saat susah. bukan saat bahagia saja. percayalah. #tweetrhymes
jangan percaya senyuman wanita saat matanya masih bengkak. mungkin saja dia pura-pura terlihat baik-baik saja agar kamu tenang. #tweetrhymes
2.12.2013
Kota Rakyat
di kota rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura
di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan
di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara
kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya
seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu
di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat
di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura
di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan
di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara
kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya
seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu
di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat
di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat
Makassar, Februari 2013
2.10.2013
Definisi Puisi Menurut beberapa Ahli
- John KeatsPuisi adalah suatu usahauntuk membaca indah atau subline tanpa gurdon dari membayangkan narasi proses pemikiran atau logis. Dia tidak menyiratkan puisi yang tidak masuk akal atau tidak memilik inarasi.
- William Wordswoth Puisia dalah overflow spontan perasaan kuat, yang diperlukan berasal dari emosi teringat dalam ketenangan, emosi yang dimaksud sampai, oleh suatu jenis reaksi, ketenangan secara bertahap menghilang, dan emosi, kerabat itu yang merupakan subjek kontemplasi, iproduksi secara bertahap, dan tidak itu sendiri sebenarnya ada dalam pikiran.
- Paul Valery: Puisia dalah seni didasarkan pada bahasa, namun puisi memiliki makna yang lebih umum yang sulit untuk menentukan karena kurang menentukan; puisi juga mengungkapkan keadaan pikiran tertentu.
- Putu Arya Tirtawirya (1980:9) menjabarkan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
- H. B. Jassin menjelaskan bahwa Puisi adalah pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandungi fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan.
- Waluyo (2005:1), mengemukakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
- Menurut Muhammad Hj. Salleh, Puisi merupakan bentuk sastra yang kental dengan muzik bahasa serta kebijaksanaan penyair dan tradisinya. Dalam segala kekentalan itu, maka puisi setelah dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana.
2.08.2013
ANTARA PENGADILAN PUISI DAN KREDO PUISI
Diantara sekian banyak peristiwa yang berkaitan dengan sejarah sastra indonesia, ada dua kisah yang ingin saya angkat disini
“Pengadilan Puisi dan Kredo Puisi”
1. Pengadilan Puisi (1974).
Pengadilan Puisi merupakan ”pemberontakan” terhadap dunia perpuisian Indonesia. Pemberontakan tersebut ditujukan kepada kritikus sastra Indonesia, para penyair mapan dan majalah sastra yang ada di Indonesia. Kritikus yang dibidik dalam konteks ini adalah H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, keduanya dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mereka dianggap tidak mampu lagi mengikuti perkembangan puisi Indonesia mutakhir. Penyair mapan yang dihujat adalah Subagio Sastrowardoyo, Rendra, dan Goenawan Mohamad. Mereka bertiga dianggap menghambat kewajaran perkembangan puisi Indonesia. Adapun. majalah sastra yang dijadikan terdakwa adalah Horison, yang dianggap tidak lagi menampung aspirasi orang banyak karena telah menjadi majalah keluarga atau majalah klik.
Slamet Sukirnanto sebagai jaksa menuding kelemahan para terdakwa dan mengajukan tuntutan sebagai berikut.
1) Para kritikus sastra yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir Indonesia, yakni H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, harus “dipensiunkan’ dari perannya sebagai kritikus.
2) Redaktur/editor majalah sastra Horison, khususnya Sapardi Djoko Damono, “dicutibesarkan”.
3) Para penyair mapan: Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Darnono, Rendra, dan para epigon mereka, dikenai hukuman pembuangan. Para reinkarnasinya dibuang ke pulau paling terpencil.
4) Majalah Horison dan majalah Budaya Jaya harus dicabut surat izin terbit (SIT)nya, dan yang sudah terbit dinyatakan tidak berlaku. Kedua majalah itu dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum karena akan mengisruhkan perkembangan sastra yang diharapkan sehat dan wajar.
Majelis hakim dalam sidang pengadilan menolak tuntutan jaksa penuntut. Majelis hakim yang diketuai oleh Sanento Yuliman mengambil keputusan yang intinya para kritikus dan para penyair mapan tetap diberi kesempatan berkarya.
Oleh sebab itu, H. B. Jassin mengemukakan sikapnya terhadap pengadilan puisi itu, yang menolak terhadap apa yang dituduhkan kepadanya. H. B. Jassin menganggap bahwa pengadilan puisi itu hanya suatu permainan kanak-kanak yang lucu. Akan tetapi, pengadilan itu merupakan perangsang untuk menimbulkan kesungguhan dalam mencari kebenaran material.
Hampir sama dengan pendirian H. B. Jassin, M. S. Hutagalung dalam makalahnya yang berjudul Puisi Kita Dewasa Ini: menyatakan bahwa dengan pandangan Sukirnanto dalam pengadilan puisi itu ia merasa tidak perlu mengubah prinsip-prinsip yang diyakininya. Pendiriannya itu disertai pula dengan sikapnya terhadap pengadi1an puisi. Tuduhan tentang kesalahan kritikus dalam melihat perkembangan sastra beralasan dan tidak benar. Sudut pandang Sukirnantolah yang brengsek. Dapat dikatakan bahwa pandangan-pandangan Sukimanto adalah pandangan yang tidak sehat.
Sapardi Djoko Damono mengemukakan pendiriannya dalam makalahnya yang berjudulCatatan atas Pengadilan Puisi dan Tuntutan Slamet Sukirnanto sebagai berikut.
Pencacimakian terhadap majalah Horison merupakan tindakan yang aneh karena majalah itu merupakan sumber terpenting bagi puji-pujiannya. Sapardi menganggap bahwa Slamet Sukirnanto merupakan korban kekocakan Darmanto Jatman. Sikap Sapardi itu terlihat juga dalam makalahnya. Sapardi rnenganggap bahwa keputusan pengadilan puisi tidak dapat diterima karena keberadaan majalah Horison tidak ditentukan oleh Slamet Sukirnanto.
1. Kredo Puisi
Kredo Puisi merupakan sikap dan konsep Sutardji Calzoum Bachri dalam penulisan puisi-puisinya. Kredo ini dimuat pertama kali dalam majalah Horison, Desember 1974, lengkapnya berbunyi:
Kredo Puisi
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam keseharian, kata cenderung dipergunakan untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dan tradisi lapuk yang membelenggu mereka seperti kamus dan penjajahan-.penjajahan seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata-kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, dan menentukan kemauannya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tidak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas: mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga, sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan Kata Pertama adalah Mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantra.
Jakarta, 30 Maret 1973
1.31.2013
Wajah Waktu
kepada mantan puisiku
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata
mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku
kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih
lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan
kepada mantan puisiku
berlalulah.
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata
mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku
kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih
lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan
kepada mantan puisiku
berlalulah.
Makassar, Januari 2013
1.23.2013
Toraja: Saya Hanya Bermodalkan Gila
“kamu pernah dengar cerita mayat yang bisa berjalan?”
“belum. memangnya bisa?”
“di Toraja itu tetap terjaga. Gilakan!!”
“kamu mau kesana?”
“besok saya mau kesana, mencoba berpetualang dengan bermodalkan
gila kawan!”
“kamu pergi sama siapa?”
“saya pergi snediri di temani motor butut saya”
“kamu memang gila kawan”
Kira-kira seperti inilah percakapan "maya" saya
dengan salah satu teman yang suka traveling.
Sore masih panjang. Dengan semangat yang keterlaluan, saya
mencoba memanaskan motor dan memulai perjalanan dari rumah ke tugu Adipura.
Perjalanan ke Toraja saja bisa memakan waktu sampai delapan jam dari kota
Makassar dan sore ini saya masih sempat menghabiskan sebatang rokok terlebih
dahulu [baca: ini ritual tersendiri].
Kira-kira jam 3 sore saya memulai trip gila ini. Angin
sepoi dan keramaian jalan memang cukup menghibur trip kali ini. Kerel dan
matras masih setia di punggung, tidak terasa sore mulai berganti menjadi malam
dan pintu gerbang kabupaten Parepare belum juga terlihat. Masih dengan model
yang sama, semangat. Meskipun sebenarnya dompet saya tidak bersemangat. Tapi
disemangatkan sajalah.
Tiba di kota Parepare saya istirahat sambil menghabiskan
bekal dari rumah, nasi dan "ikan paku" spesial yang saya buat
sendiri. Selepas lelah saya kembali memulai perjalanan. Kali ini kabupaten Rappang
yang saya lalui. Malam yang dingin dan jalan yang cukup berkelok memang menjadi
tantangan tersendiri. Kerlap lampu jalan dan kendaraan silih berganti
menerangi. Dengan hati-hati saya mencoba menikmati perjalanan dengan sesekali
mengisap rokok kretek kebanggan lelaki.
Setelah berjam-jam akhirnya saya bertemu dengan hujan yang
sialan. Ini di Enrekang. Jalanan berkelok dan sementara dalam pekerjaan membuat
sedikit perjalanan saya terhambat. Belum lagi mobil truk yang mengambil hampir separuh
badan jalan menghalangi pandangan saya. Kabut yang turun membuat saya harus
singgah di warung sederhana dan menikmati segelas kopi tubruk racikan Pak
Nawing (tuan rumah yang budiman). Jaket tebal yang saya gunakan tidak mempan
menahan dingin. Alhasil, gemetar romantispun saya rasakan [baca: mencoba
memeluk diri sendiri].
Satu yang perlu saya catat dalam perjalanan ini, masyarakat
Enrekang itu sangat ramah, dia bahkan menawari saya untuk menginap di rumahnya
saja jika memang sudah terlalu capek. Ini yang membuat saya semakin kagum
dengan beliau dan keramahannya.
Sekitar setengah jam istirahat, saya akhirnya pamit dan
memulai lagi perjalanan ini. Semakin jauh berjalan, samakin tebal kabut yang
yang saya temui. Sedikit "amazinglah" saya bisa bertahan dalam
keadaan seperti ini. Di perjalanan hanya mobil yang melambung atau terlambung
dengan sendirinya. Saya mencoba mengimbangi dingin dengan menggerak-gerakkan
tubuh sambil tetap berhati-hati. Kalau nanti teman-teman mau trip ke Toraja,
saran saya jangan mulai perjalanannya dari sore. Akibatnya seperti saya ini.
Kedinginan dan perlu lebih berhati-hati. Diambang lelah saya berharap jalanan
ini dengan sendirinya menjadi dekat agar saya bisa lebih cepat tiba.
Dan ini dia yang saya tunggu. Ucapan selamat datang di
Kabupaten Toraja. Pukul 24.00 malam saya tiba setelah menempuh perjalan sekitar
300 kilo dari Makassar. Dari perbatasan saya masih harus melalui beberapa
kecamatan untuk sampai di kota Rante Pao.
Tiba di Rante Pao saya masih sempat singgah untuk menikmati
kopi khas toraja yang legendaris itu sebelum menuju penginapan. sebelum baring
saya mengutuk dalam hati, akhirnya
orang gila ini bisa juga sampai di toraja.
1.16.2013
KEPADA JALAN-JALAN SERU MAKASSAR
@Jalan2Seru_Mks
setahun berlalu
kita masih bernyanyi tentang cinta dan rasa yang sama
melupakan yang sedang terjadi
tentang rumah dan kota-kota tua
kota yang telah mengkotak-kotakkan kita
antara hitam dan putih
antara kaya dan miskin
antara kalah dan menang
lalu kita berserikat, terikat tanpa janji
setia tanpa harus disetiakan
selayaknya tanpa harus dilayakkan
setahun berlalu
kita masih bernyanyi tentang alam dan kebebasannya
menari bersama suara-suara kebebasan
melengkingkang bersama mammiri yang setia
dan kepada jalan yang masih panjang
berlalulah tanpa harus meninggalkan jejak banalu kepada kita
kepada: kau dan aku yang masih akan lebih setia lagi
selamat, kenduri kita sedang melangsungkan pestanya
hidup ini:
kita bisa bertingkah seperti kanak-kanak untuk menghindarinya
atau dewasa untuk menghadapinya
selamat mencintai jalan-jalan seru makassar
Makassar, Januari 2013
1.14.2013
Letupan Ketukan dalam Kutukan
Bohong yang Berbicara Jujur Kepada Dirinya Sendiri
aku adalah sebuah kebohongan
tempatmu membenci segala rupa
dan amarah yang sama bencinya kepada aku yang tertuduh
aku adalah sebuah kebohongan
tempatku jujur untuk mengatakan
sayangku adalah bohong yang berbicara jujur kepada dirinya sendiri
aku adalah sebuah kebohongan
rongsokan yang berbicara jujur tentang
apa yang dia rasakan
demi apa aku mencintaimu?
demikianlah adanya
aku adalah sebuah kebohongan
yang berani berkata tentang keindahan semu
mungkin hanya aku yang merasa bohong
malam begadang
beridabah dengan kesemuan
kita saling melempar senyum
Makassar, Januari 2013
1.13.2013
KEPADA KAKAK YANG TERLANJUR GANTENG
@bolang_mks
Hidup ini Indah[ji]
Tidak semua yang biasa itu
berakhir biasa
Ada yang luar biasa dari yang
biasa itu
Menghina diri sendiri justru bisa
membuat kita menjadi luar biasa
Bukankah hidup ini indah[ji]?
Tidak semua yang jujur itu
membahagiakan
Ada jujur yang menyakitkan
Berbohongpun demikian
Bukankah hidup ini Indah[ji]?
Nikmati keapaadaannya dirimu
yang berterus terang pada hidupnya adalah seorang pemenang
Bukankah hidup ini indah[ji]?
Rumah Dukun, Januari 2013
1.10.2013
sajakku adalah celana dalam
sajakku adalah celana dalam
tempat kamu menutupi kemaluan
aku suka kamu yang bulat dan selalu terlanjur: kepada telanjang
adakah rasa yang bisa aku ungkapkan tanpa harus bermain dengan kelamin
sebab dihadapanku, kamu selalu nampak seperti perempuan tanpa payu dan darah
sajakku adalah celana dalam
tempat kamu menutupi kemaluan
aku suka kamu yang sellu membuatku bertanya tentang mani dan dosa.
tempat kamu menutupi kemaluan
aku suka kamu yang bulat dan selalu terlanjur: kepada telanjang
adakah rasa yang bisa aku ungkapkan tanpa harus bermain dengan kelamin
sebab dihadapanku, kamu selalu nampak seperti perempuan tanpa payu dan darah
sajakku adalah celana dalam
tempat kamu menutupi kemaluan
aku suka kamu yang sellu membuatku bertanya tentang mani dan dosa.
1.09.2013
Itulah Perasaan
yang semestinya bukan tentu yang sebaiknya: itulah perasaan. kadang ada yang perlu kita bicarakan dengan damai tapi kamu selalu menuduhku dengan tuduh. aku lupa membuatkanmu secarik surat bukan tentu telah melupakaanmukan?
hubungan itu bukan batasan, malah hubungan adalah pendewasan. bergantung bagaimana cara kita menyikapinya. banyak yang putus dari kekasihnya karena gagal untuk menjalin komunikasi yang baik. seorang pembelajar adalah yang mampu memengut semua hikmah dari perjalanannya.
1.06.2013
aku penyair gagal yang telah berhasil melupakanmu
pada malam yang malang
kita melintasi trotoar dengan kuyup yang sungguh
kukuku mengggil diikuti sekujur tubuh
tapi kamu tidak
jaket dan mantel memelukmu erat
aku katakan dengan bohong bahwa aku mencintai malam ini
sebab sepasang merpati yang kehilangan sangkar ikut tersesat seperti kita
seperti celana dalamku yang telah punah di kamarmu
seperti puisi-puisiku yang mengabu di laci dompetmu.
aku penyair gagal yang telah berhasil melupakanmu.
karena setia telah memanggilku pulang ke kamar dan mimpiku.
kita melintasi trotoar dengan kuyup yang sungguh
kukuku mengggil diikuti sekujur tubuh
tapi kamu tidak
jaket dan mantel memelukmu erat
aku katakan dengan bohong bahwa aku mencintai malam ini
sebab sepasang merpati yang kehilangan sangkar ikut tersesat seperti kita
seperti celana dalamku yang telah punah di kamarmu
seperti puisi-puisiku yang mengabu di laci dompetmu.
aku penyair gagal yang telah berhasil melupakanmu.
karena setia telah memanggilku pulang ke kamar dan mimpiku.
Makassar, Januari 2013
1.02.2013
Kepada Mantan Puisiku
11.10.2012
Sajak November
kepada november yang agung
setiap malam kau datang dengan rindu yang sama
rindu yang aneh
rindu yang sengaja
rindu yang tiba-tiba
semuanya rindu dan kau memintaku untuk tidak merindukanmu
kepada november yang agung
jangan terlalu sering memintaku untuk mengingat dia
sebab ketika kau pergi, apa alasanku untuk kembali mengatakan rindu
dia akan menjadi merah dan aku akan tetap ungu
saling memberi alasan lalu menolak jawaban
memelukmu adalah simbol merpati
tapi melupakanmu akan menjadikanku pemakan kacang yang keterlaluan
itulah mengapa aku terus menghinggapi rindu hingga kedahan
sebab sangkarmu terlalu kecil untuk kita bertiga
setiap malam kau datang dengan rindu yang sama
rindu yang aneh
rindu yang sengaja
rindu yang tiba-tiba
semuanya rindu dan kau memintaku untuk tidak merindukanmu
kepada november yang agung
jangan terlalu sering memintaku untuk mengingat dia
sebab ketika kau pergi, apa alasanku untuk kembali mengatakan rindu
dia akan menjadi merah dan aku akan tetap ungu
saling memberi alasan lalu menolak jawaban
memelukmu adalah simbol merpati
tapi melupakanmu akan menjadikanku pemakan kacang yang keterlaluan
itulah mengapa aku terus menghinggapi rindu hingga kedahan
sebab sangkarmu terlalu kecil untuk kita bertiga
Makassar, November 2012
Langganan:
Postingan (Atom)


