PT. Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.. Perusahaan ini adalah pembayar pajak terbesar kepada Indonesia dan merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. Freeport Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua, masing-masing tambang Erstberg (dari 1967) dan tambang Grasberg (sejak 1988), di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
Freeport berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan 2,3 miliar dolar AS. Menurut Freeport, keberadaannya memberikan manfaat langsung dan tidak langsung kepada Indonesia sebesar 33 miliar dolar dari tahun 1992–2004. Angka ini hampir sama dengan 2 persen PDB Indonesia. Dengan harga emas mencapai nilai tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yaitu 540 dolar per ons, Freeport diperkirakan akan mengisi kas pemerintah sebesar 1 miliar dolar.
Mining International, sebuah majalah perdagangan, menyebut tambang emas Freeport sebagai yang terbesar di dunia.
Pada tahun 2003 Freeport Indonesia mengaku bahwa mereka telah membayar TNI untuk mengusir para penduduk setempat dari wilayah mereka. Menurut laporan New York Times pada Desember 2005, jumlah yang telah dibayarkan antara tahun 1998 dan 2004 mencapai hampir 20 juta dolar AS. Freeport Indonesia sering dikabarkan telah melakukan penganiayaan terhadap para penduduk setempat. Pada Tahun 2011 seorang buruh bernama Petrus Ajam Seba seorang buruh di PT. Freeport terbunuh
Kontroversi PT Freeport
Menurut karyawan dan bekas karyawan Freeport, selama bertahun-tahun James R Moffett, seorang ahli geologi kelahiran Louisiana, yang juga adalah pimpinan perusahaan ini, dengan tekun membina persahabatan dengan Presiden Soeharto, dan kroni-kroninya. Ini dilakukannya untuk mengamankan usaha Freeport. Freeport membayar ongkos-ongkos mereka berlibur, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka, termasuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Surat-surat dan dokumen-dokumen lain yang diberikan kepada New York Times oleh para pejabat pemerintah menunjukkan, Kementerian Lingkungan Hidup telah berkali-kali memperingatkan perusahaan ini sejak tahun 1997, Freeport melanggar peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup. Menurut perhitungan Freeport sendiri, penambangan mereka dapat menghasilkan limbah/bahan buangan sebesar kira-kira 6 miliar ton (lebih dari dua kali bahan-bahan bumi yang digali untuk membuat Terusan Panama). Kebanyakan dari limbah itu dibuang di pegunungan di sekitar lokasi pertambangan, atau ke sistem sungai-sungai yang mengalir turun ke dataran rendah basah, yang dekat dengan Taman Nasional Lorentz, sebuah hutan hujan tropis yang telah diberikan status khusus oleh PBB.
Sebuah studi bernilai jutaan dolar tahun 2002 yang dilakukan Parametrix, perusahaan konsultan Amerika, dibayar oleh Freeport dan Rio Tinto, mitra bisnisnya, yang hasilnya tidak pernah diumumkan mencatat, bagian hulu sungai dan daerah dataran rendah basah yang dibanjiri dengan limbah tambang itu sekarang tidak cocok untuk kehidupan makhluk hidup akuatik. Laporan itu diserahkan ke New York Times oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. New York Times berkali-kali meminta izin kepada Freeport dan pemerintah Indonesia untuk mengunjungi tambang dan daerah di sekitarnya karena untuk itu diperlukan izin khusus bagi wartawan. Semua permintaan itu ditolak. Freeport hanya memberikan respon secara tertulis. Sebuah surat yang ditandatangani oleh Stanley S Arkin, penasihat hukum perusahaan ini menyatakan, Grasberg adalah tambang tembaga, dengan emas sebagai produk sampingan, dan bahwa banyak wartawan telah mengunjungi pertambangan itu sebelum pemerintah Indonesia memperketat aturan pada tahun 1990-an.
Menyadap e-mail
Menurut seorang pejabat dan dua bekas pejabat perusahaan yang terlibat dalam mengembangkan suatu program rahasia, Freeport selama ini menyadap e-mail para aktivis lingkungan yang melawan perusahaan ini untuk memata-matai apa yang mereka lakukan. Freeport menolak mengomentari hal ini. Freeport bergandengan tangan dengan perwira-perwira intelijen TNI, mulai menyadap korespondensi e-mail dan percakapan telepon lawan-lawan aktivis lingkungannya. Hal ini dikatakan oleh seorang karyawan Freeport yang terlibat dalam kegiatan ini dan bertugas membaca e-mail-e-mail tersebut.
Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, perusahaan ini juga membuat sistemnya sendiri untuk mencuri berita-berita melalui e-mail. Caranya adalah dengan membentuk sebuah kelompok pecinta lingkungan gadungan, yang meminta mereka yang berminat untuk mendaftar secara online dengan menggunakan kode rahasia (password) tertentu. Banyak di antara mereka yang mendaftar itu menggunakan password yang sama seperti yang mereka gunakan untuk e-mail mereka. Dengan cara ini, Freeport dengan gampang mencuri berita. Menurut seseorang yang waktu itu bekerja untuk perusahaan ini, awalnya para pengacara Freeport khawatir dengan pencurian ini. Tetapi, mereka kemudian memutuskan, secara legal perusahaan itu tidak dilarang untuk membaca e-mail pihak-pihak di luar negeri.
Hubungan Freeport dan TNI
Selama bertahun-tahun, Freeport memiliki unit pengamanannya sendiri, sementara militer Indonesia memerangi perlawanan separatis yang lemah dan rendah gerakannya. Kemudian kebutuhan keamanan ini mulai saling terkait.
Tidak ada investigasi yang menemukan keterkaitan Freeport secara langsung dengan pelanggaran HAM, tetapi semakin banyak orang-orang Papua yang menghubungkan Freeport dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh TNI, dan pada sejumlah kasus kekerasan itu dilakukan dengan menggunakan fasilitas Freeport. Seorang ahli antropologi Australia, Chris Ballard, yang pernah bekerja untuk Freeport, dan Abigail Abrash, seorang aktivis HAM dari Amerika Serikat, memperkirakan, sebanyak 160 orang telah dibunuh oleh militer antara tahun 1975–1997 di daerah tambang dan sekitarnya.
Pada bulan Maret 1996, kemarahan terhadap perusahaan pecah dalam bentuk kerusuhan ketika sentimen anti-perusahaan dari beberapa kelompok yang berbeda bergabung.
Freeport menyadap berita-berita dalam e-mail. Menurut dua orang yang membaca e-mail-e-mail itu pada saat itu, ada unit-unit militer tertentu, masyarakat setempat, dan kelompok-kelompok lingkungan hidup yang bekerjasama. Sebuah pertukaran informasi dengan menggunakan e-mail antara seorang tokoh masyarakat dengan pimpinan organisasi lingkungan hidup penuh dengan taktik intelijen militer. Dalam e-mail yang lain, seorang pimpinan organisasi lingkungan meminta para anggotanya mundur karena demonstrasi telah berubah menjadi kerusuhan.
Dari wawancara yang dilakukan, bekas pejabat dan pejabat Freeport menyatakan, mereka terkejut melihat sejumlah orang dengan potongan rambut militer, mengenakan sepatu tempur dan menggenggam radio walkie-talkie di antara para perusuh itu. Orang-orang itu terlihat mengarahkan kerusuhan itu, dan pada satu ketika, mengarahkan massa menuju ke laboratorium Freeport yang kemudian mereka obrak-abrik.
Keamanan
Dokumen-dokumen Freeport menunjukkan, dari tahun 1998 sampai 2004 Freeport memberikan hampir 20 juta dolar kepada para jenderal, kolonel, mayor dan kapten militer dan polisi, dan unit-unit militer. Setiap komandan menerima puluhan ribu dolar, bahkan dalam satu kasus sampai mencapai 150.000 dolar, sebagaimana tertera dalam dokumen itu.
Dokumen-dokumen itu diberikan kepada New York Times oleh seseorang yang dekat dengan Freeport, dan menurut bekas karyawan maupun karyawan Freeport sendiri, dokumen-dokumen itu asli alias otentik. Dalam respon tertulisnya kepada New York Times, Freeport menyatakan bahwa perusahaan itu telah mengambil langkah-langkah yang perlu sesuai dengan undang-undang Amerika Serikat dan Indonesia untuk memberikan lingkungan kerja yang aman bagi lebih dari 18.000 karyawannya maupun karyawan perusahaan-perusahaan kontraktornya. Freeport juga mengatakan tidak punya alternatif lain kecuali tergantung sepenuhnya kepada militer dan polisi Indonesia dan keputusan-keputusan yang diambil dalam kaitannya dengan hubungan dengan pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga keamanannya, adalah kegiatan bisnis biasa.
Dalam waktu singkat, Freeport menghabiskan 35 juta dolar untuk membangun infrastruktur militer — barak-barak, kantor-kantor pusat, ruang-ruang makan, jalan — dan perusahaan juga memberikan para komandan 70 buah mobil jenis Land Rover dan Land Cruiser, yang diganti setiap beberapa tahun. Semua memperoleh sesuatu, bahkan juga angkatan laut dan angkatan udara. Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, ketika itu perusahaan ini sudah merekrut seorang bekas agen lapangan CIA, dan atas rekomendasinya, perusahaan kemudian mendekati seorang atase militer di Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan memintanya untuk bergabung. Kemudian dua orang bekas perwira militer Amerika Serikat direkrut, dan sebuah departemen khusus, yang diberi nama Perencanaan Operasi Darurat (Emergency Planning Operation) didirikan untuk menangani hubungan baru Freeport dengan militer Indonesia.
Departemen Perencanaan Operasi Darurat yang baru ini mulai melakukan pembayaran bulanan kepada para komandan TNI, sementara kantor Pengelolaan Risiko Keamanan (Security Risk Management office) mengatur pembayaran kepada polisi. Informasi ini diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan dan keterangan bekas karyawan dan karyawan Freeport. Menurut dokumen perusahaan, Freeport membayar paling sedikit 20 juta dolar (sekitar Rp 184 miliar) kepada militer dan polisi di Papua dari tahun 1998 sampai bulan Mei 2004. Kemudian ada juga tambahan 10 juta dolar (sekitar Rp 92 miliar) yang juga dibayarkan kepada militer dan polisi pada jangka waktu itu sehingga totalnya sekitar Rp 276 miliar.
New York Times menerima dokumen keuangan Freeport selama tujuh tahun dari seorang yang dekat dengan perusahaan itu. Tambahan dokumen selama tiga tahun diberikan oleh Global Witness, sebuah LSM yang mengeluarkan laporan pada bulan Juli, yang berjudul Paying for Protection (Bayaran Perlindungan) [1] tentang hubungan Freeport dengan militer Indonesia. Diamird 0'Sullivan, yang bekerja untuk Global Witness di London, mengkritik pembayaran yang dilakukan Freeport itu.
Menurut perusahaan, semua pengeluaran yang dilakukannya itu harus melalui proses pemeriksaan anggaran. Catatan yang diterima New York Times menunjukkan adanya pembayaran kepada perwira-perwira militer secara perseorangan yang didaftarkan di bawah topik-topik seperti biaya makanan, jasa administrasi dan tambahan bulanan. Para komandan yang menerima dana tersebut tidak diharuskan menandatangani tanda terima.
Pendeta Lowry, yang pensiun dari Freeport pada bulan Maret 2004 tetapi tetap menjadi konsultan sampai bulan Juni, mengatakan, sebetulnya tidak ada alasan yang cukup bagi Freeport untuk memberikan dana secara langsung kepada para perwira militer itu.
Catatan perusahaan menunjukkan, penerima terbesar adalah komandan pasukan di daerah Freeport, Letnan Kolonel Togap F. Gultom. Selama enam bulan tahun 2001, ia diberikan hanya kurang sedikit dari 100.000 dolar untuk biaya makanan, dan lebih dari 150.000 dolar di tahun berikutnya. Pada tahun 2002, Freeport juga memberikan uang kepada paling tidak 10 komandan lainnya mencapai lebih dari 350.000 dolar untuk biaya makan.
Menurut para bekas karyawan dan karyawan Freeport, pembayaran-pembayaran tersebut dilakukan kepada para perwira itu, kepada istri-istri dan anak-anak mereka, secara perorangan. Yang berpangkat jenderal terbang di kelas satu atau kelas bisnis, dan para perwira yang lebih rendah pada kelas ekonomi, demikian kata Brigadir Jenderal Ramizan Tarigan yang menerima tiket senilai 14.000 dolar pada tahun 2002 untuk dirinya dan anggota keluarganya.
Jenderal Tarigan yang menduduki posisi senior di kepolisian mengatakan, para perwira polisi dibolehkan menerima tiket pesawat udara karena gaji mereka sangat rendah tetapi adalah melanggar peraturan kepolisian untuk menerima pembayaran uang tunai. Pada bulan April 2002, Freeport membayar perwira senior militer di Papua, Mayor Jenderal Mahidin Simbolon, lebih dari 64.000 dolar untuk yang disebut dalam buku keuangan Freeport sebagai "dana untuk rencana proyek militer tahun 2002".
Delapan bulan kemudian, di bulan Desember, Jenderal Simbolon menerima lebih dari 67.000 dolar untuk proyek aksi sipil kemanusiaan. Pembayaran-pembayaran ini pertama kali dilaporkan Global Witness. Jenderal Simbolon, yang kini menjadi Inspektur Jenderal Angkatan Darat Indonesia, menolak permohonan untuk diwawancarai.
Pada tahun 2003, sesudah terjadinya skandal Enron dan disahkannya Undang-undang Sarbanes-Oxley, yang mengharuskan praktik-praktik akuntansi keuangan yang lebih ketat pada perusahaan-perusahaan, Freeport mulai melakukan pembayaran kepada unit-unit militer ketimbang kepada para perwira secara individu. Demikian menurut catatan yang tersedia dan seperti yang dituturkan oleh bekas karyawan dan karyawan perusahaan ini.
Menurut catatan, perusahaan membayar unit-unit polisi di Papua sedikit di bawah angka 1 juta dolar di tahun 2003, didaftarkan di bawah topik-topik seperti "tambahan pembayaran bulanan," "biaya administrasi" dan "dukungan administratif." Freeport menyatakan kepada New York Times, di dalam menentukan jenis dukungan yang dapat diberikan, adalah merupakan kebijakan perusahaan untuk memperhitungkan kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM.” Menurut catatan yang diterima oleh New York Times, pasukan paramiliter polisi, yaitu Brigade Mobil (Brimob), yang sering dikutip oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat karena kekejamannya, menerima lebih dari 200.000 dolar di tahun 2003. @sumber Wikipedia Indonesia
Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi di negara ini. Untuk kesekian kalinya rakyat jadi korban ketidakadilan oleh rezim pemerintah yang saat ini berkuasa. Berapa banyak kemungkinan yang sebenarnya bisa terjadi. Namun mengapa hanya ada satu pilihan. Menderita dan terus menderita sampai mati. Rakyat harus menunggu sampai kapan untuk seperti ini. Saat harga pangan naik dan mereka tetap menjadi buruh yang dibudakkan dinegaranya sendiri.
Sebenarnya sekuat apa tenaga asing mengatur negara ini sehingga untuk mencabut izin Freeport di Papua saja sangat sulit. Jelas disana terjadi kesenjangan yang luar biasa antara pribumi dan makhluk asing. Saat emas negara ini dikeruk habis dan kita hanya menjadi buruh untuk kekayaan mereka. Bayangkan jika setiap detik keuntungan untuk perusahaan itu mencapai 6 M dan hanya satu persen yang lari kenegara itupun setelah dipangkas sana-sini oleh pemerintah daerah. Jadilah kita negara yang terus tertinggal, miskin, memalukan dan hanya bisa mempercayai mitos nenek moyang.
Bayangkan jika presiden berani mengambil keputusan untuk mencabut izin perusahaan itu kemudian emas diolah di negara sendiri, betapa makmurnya negara ini. Kemungkinan terdekat adalah kita akan di embargo habis-habisan tapi kita punya kekuatan untuk bangkit. Pesan Presiden Soekarno Berdikari "berdiri di atas kaki sendiri" sepertinya layak untuk kembali diperjuangkan saat ini.. Kita punya kekayaan alam yang luar biasa melimpah tapi mengapa bangsa lain tidak berani mengembargo negara kita? Jelas mereka takut akan kehilangan untung jadinya kita sendiri yang buntung. Melihat gejolak rakyat Papua, rasanya tidak salah jika mereka melakukan aksi protes saat melihat nasib mereka sendiri. Jadi rasanya lumayan rumit mengatasi masalah ini jika pemerintah sendiri yang kurang tegas mengatasinya.
Diposting oleh
Unknown
di
18.05
Keletihanku terpaksa aku sandarkan pada nostalgia subuh ini. Aku yang sudah cukup lama tak menemukan sikap keteguhan dari diri yang belum menemukan jatinya. Setiap aku melihat angin aku mengenang kembali keromantisan kisah yang kau suguhkan padaku. Secangkir rahasia dari kopi hitam pemberianmu selalu memaksaku berfikir bahwa bahagia itu berada di sisimu. Bersamamu adalah panggilan Tuhan tapi aku memilih mendahului takdirku bersamamu. Kematian bukan jalan satu-satunya dari sebuah perpisahan. Aroma penyesalan sempat menemaniku disetapak sepi ini. Mengiringi langkah kepastian yang meninggalkan jejak penuntunmu.
Aku terlepas terlalu lama sehingga menyisakan ragu. Tahukan banyak masa yang harusnya aku berada di sisimu membuka padang untuk kau jalani menemukan saripati keabadian tapi mengapa aku meninggalkan sepi dihatimu. Salahkan akru yang terlalu memberi ruang pada keadaan untuk menikmatiku.
Ku pantulkan senyuman dari akar mentari yang menjilat tembok kamar ini. Aku merindukan saat kau berdiri di sisiku dan menyandarkan kepalamu dibahuku sambil bertanya tentang keadaanku.
Aku terlepas terlalu lama sehingga menyisakan ragu. Tahukan banyak masa yang harusnya aku berada di sisimu membuka padang untuk kau jalani menemukan saripati keabadian tapi mengapa aku meninggalkan sepi dihatimu. Salahkan akru yang terlalu memberi ruang pada keadaan untuk menikmatiku.
Ku pantulkan senyuman dari akar mentari yang menjilat tembok kamar ini. Aku merindukan saat kau berdiri di sisiku dan menyandarkan kepalamu dibahuku sambil bertanya tentang keadaanku.
Diposting oleh
Unknown
di
18.04
Perempuanku
Aku yang
selalu mencemaskanmu
Yang selalu
memperhatikanmu
Menguraikan
hatimu
Dan kau
menganggapku sebagai bayangan saja dalam nokhtamu
Semu dan
sebatas itu saja
Biarlah angin
membawaku dan kau yang meniupkannya
Cukup kau
sadari disini aku menunggu
Menunggu
begitu lama senyum itu
Diposting oleh
Unknown
di
17.57
Masih samar ketika aku melihat rintik di wajahmu
Dan aku menghalau mendung yang berkabut senja
Ada teduh dari sisi jiwamu
Basuh kerontang nurani yang mengabu
Kekosongan menjadi taman yang berakar pada gelapnya kematianku
19-13-2012
Diposting oleh
Unknown
di
17.55
Seperti sepi yang menelanjangiku
Biarkan udara meski tak segar lagi untuk menawanku dalam
tirani kemunafikan
Di surau ini Tuhan tak begitu kuat untuk diyakini
Jadilah atheis
Tak percaya Tuhan dan segala omong kosongnya
Seolah ketakdiran hanya bermuara darinya
Persetan dengan agama yang kesemuanya merasa paling hebat
Merasa kitabnya paling benar yang hanya mereka lahirkan
dari bualan semata
Jika Tuhan hidup bersama kami
Dia akan lihat bagaimana sebuah kehidupan dioalah dengan
rekayasa manusia
Yang mungkin manusianya bukan lagi manusia
12-02-2012
Diposting oleh
Unknown
di
17.54
Untuk
mendapatkan kemurniannya
Aku
mempersentuhkan realitas dan khayalku
Dalam nalar
yang berbeda
Aku eratkan
kemaluanku lalu mempersetubuhimu dalam bayanganku
Estetik dengan
luapan dirimu
Mengekapresikan
kegamanganku
Dari akar
sebuah seni kehilangan
Aku menemukan
air mani yang masih hangat diselangkanganku
Meski sesak
tapi nikmat untuk dikenang
04-04-2012
Diposting oleh
Unknown
di
17.52
Di
puncak Malino aku taburkan abu kegelisahanku
Dari
buih embun aku lihat kelembutan hati
Dingin
Kupahatkan
untaian kenangan yang pernah aku kisahkan pada anging mamiri
Tanpa
restu membawanya menetap entah kemana
Rindu
yang telah lama kupaksa menjelajah
Menyembunyikan
kegalauan dari setiap senyum
Aku yang
telah membiarkan kisah ini terampas waktu
Kusengaja
membiarkannya mencari hirup udara sejuk
Agar dia
terbiasa hidup tanpa nyawa
Layaknya
lentik aroma nafsu dari hawa lembah ini
Dari
puncak Malino
Aku
kabarkan kisahku pada pucuk pinus yang menjeratku
Aku
simpan lekat paling dalam
Di
tempat sempurna para kenangan bersemayam
Malino, 05-06-2011
Tindakan
yang mereka lakukan tidak ada apa-apanya dibanding anarkisme Pemerintah yang
dengan kebijakannya memaksa rakyat untuk berhemat dan menginjak rakyat yang
sudah miskin dengan kenaikan harga BBM. Yusuf, demonstran.
Anarkis.
Kurang lebih kata itulah yang tepat saat oknum yang mengatas namakan mahasiswa
melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM di depan pintu satu kampus Unhas.
Aksi yang berlangsung sore hari itu menyebabkan macet disepanjang jalan
perintis kemerdekaan hingga tugu adipura.
Sebuah
aksi massal yang di pelopori oleh lembaga kemahasiswaan yang mengaku pro
terhadap rakyat ternyata keliru dalam memperjuangkan hak rakyat itu sendiri.
Lemparan batu dan beberapa senjata rakitan terlihat difungsikan saat aksi
tersebut. Hebatnya lagi para demonstran membajak sebuah mobil milik PT.
Coca-Cola Company dan menjarah muatannya lalu membakar hangus mobil tersebut.
Tidak sampai disitu, para demonstran yang menutupi wajahnya dengan scraft kemudian kembali menjarah mobil
yang mengangkut tabung gas elpiji 3 Kg lalu membagikan kepada pengendara yang
melintas. Para demonstran kemudian berjalan kearah pom bensin yang terletak
tepat di pintu satu Unhas kemudian membagikan secara gratis bensin yang telas
disubsidi dari uang rakyat sendiri. Parah.
Ada
indikasi bahwa banyak diantara demonstran tersebut yang hadir sebagai
provokator ditengah kerumunan massa. Mereka bukan dari kalangan mahasiswa tapi
ikut mengkeruhkan suasana. Aparat yang diturunkan dibantu satuan pengaman
kampus tidak cukup mampu meredam aksi mahasiswa tersebuat. Aparat yang terus
menembakkan gas air mata dan water cannon
kearah mahasiswa dan mendesak mahasiswa agar masuk kedalam kampus akhirnya
dipukul mundur kembali oleh mahasiswa yang melawan dengan lemparan batu.
Seakan
tak percaya dengan keanarkisan yang terjadi dalam negeri ini. Kondisi tak
menentu akibat kesenjangan yang terjadi memaksa mahasiswa untuk turun kejalan
dan mendesak agar pemerintah batal menaikkan harga BBM yang dianggap terlalu
mahal. Polemik justru terjadi dalam
tubuh pemerintah. Jika BBM tidak dinaikkan maka pemerintah akan merugi tapi
jika BBM naik, apakah rakyat tidak rugi dan semakin sengsara saja. Alhasil
tidak salah jika negara kita semakin terpuruk.
Siapa
yang harus dipersalahkan dalam kasus ini. Tatanan negara ini masih perlu
pembenahan yang berkelanjutan. Presiden sebagai kepala negara harus berani
mengambil resiko. Transparansi pendapatan negara salah satu solusi agar rakyat
bisa percaya dan yakin terhadap pemerintah. Akan semakin keruh jika kita terus
mengaduk di muara. Biarkan rakyat melihat dengan nurani akan kondisi bangsanya.
Makassar, 1510 M
Pagi yang cerah di dalam Istana Kerajaan Gowa. Di taman belakang sang Raja Agung Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna berbincang dengan permaisuri tentang anak bayi yang baru dia lahirkan sementara dayang kerajaan tak hentinya mengipas dan menyuguhkan buah segar di hadapannya. Angin sejuk berhembus menembus batas sadarnya. Tentram. Tiba-tiba Daeng Sangkilang, penasehat raja datang menghadap untuk melaporkan tentang kekacauan yang terjadi di wilayahnya. Saat itu tanah gowa ibarat rimba tak bertuan. Orang-orang saling adu kekuatan untuk membuktikan kehebatannya dan akhirnya orang lemah tersingkir dari kehidupan. Sang raja begitu kaget mendengar laporan Daeng Sangkilang.
Raja memerintahkan kepada Daeng Mattawang sebagai komandan tu barania untuk turun menenangkan kekacauan tersebut. Ia diberikan waktu seminggu untuk membuat wilayah ini kembali tenang. Namun seminggu kemudian Daeng Mattawang datang menghadap pada sang raja dan mengutarakan keadaan yang sebenarnya.
“Sangat sulit Karaeng. Kondisi rakyat sungguh diluar batas kewajaran. Mereka bertarung layaknya binatang. Saling membunuh satu sama lain. Kata Daeng Mattawang ciut dihadapan raja karena kegagalannya mengembalikan suasana wilayah kerajaan ini.
Sang raja berdiri dari singgasananya. Menatap jauh kedepan. Matawang agak takut melihat murka rajanya. Ia menunggu titah apa yang akan diberikan lagi kepadanya. Sang raja kemudian mencabut badik dari warangkanya dan mengacungkan ke langit.
“Hari ini aku bersumpah atas nama ayahku bahwa kerajaan ini akan kembali seperti dulu lagi jika tidak aku akan mati ditiang pancung. Setelah mengucapkan janjinya sang raja kemudian memerintahkan Daeng Mattawang untuk menyiapkan kudanya. Sang raja akan turun tangan sendiri. Namun Sangkilang menyarankan agar raja tetap disini. Biarkan pasukan tu barania patampulo yang menenangkan wilayah ini. Pasukan yang telah di latih khusus untuk menjadi duta perang kerajaan Gowa. Namun ternyata tekad sang raja untuk turun tangan dalam masalah ini sudah bulat. Raja bersama pasukan tu barania patampulo menyisir setiap wilayah yang diyakini sering terjadi kerusuhan namun ternyata itu juga tak membuahkan hasil apapun.
Kondisi ini terus berlanjut. Orang yang merasa kuat terus mencari lawan sepadan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat diantara mereka. Sang raja kemudian mengatur strategi. Dibuatlah sebuah sayembara berhadiah permaisuri cantik dan mengundang semua pendekar untuk ikut bertarung. Ternyata sayembara ini di dengar oleh Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang mulai dari wilayah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Mereka mengutus juga para jagoannya untuk ikut sayembara yang diadakan sang raja. Rivalitas Bate Salapang memang selalu mengundang perselisihan. Strategi ini memang berhasil meredam kekacauan. Berkat kecerdasan Karaeng Tumapa'risi' Kallonna melihat celah kemungkin untuk mengembalikkan suasana kerajaan meskipun hari-hari selanjutnya masih terdengar berita perkelahian di wilayahnya namun tidak seperti dulu lagi.
Sampai pada sutu hari di pagi yang buta. Wilayah kerajaan Gowa dihantam hujan deras disertai petir yang menyambar tanpa henti. Peristiwa ini berlangsung selama tujuh hari dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah kerajaan Gowa. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Sawah nan luas tergenang sisa air hujan. Saat bersamaan ratusan rakyat Gowa tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.
Semenjak saat itu rakyat Gowa mempercayai bahwa mereka adalah tomanurung yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi. Jadilah Raja Karaeng Tumapa'risi' Kallonna yang ikut menyaksikan kejadian itu kemudian menjadikannya sebagai sawah kerajaan. Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan.
Malam harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna bermimpi bahwa kelak akan kembali terjadi kerusuhan yang luar biasa di wilayahnya. Ketujuh tokoh tersebut akan turun lagi ke bumi suatu ketika nanti. Dan di tengah hamparan sawah itu berbinar tujuh cahaya. Namun, seperti kedatangan mereka semula, akan ada pula kondisi tak menentu yang mendahuluinya. Keesokan harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna memanggil Daeng Sangkilang untuk menafsirkan mimpinya. Ternyata itu benar. Bahwa kelak akan ada suasana tak menentu. Ditulislah dalam lontara : jarangji na kongkong sikokko na sitindang, ganca-gancamo cera’. “Hanya kuda (yang merupakan simbol penguasa) dan anjing (sebagai simbol penentu kebijakan), saling gigit dan tendang hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah,”
Di saat banjir darah itulah, di Karebosi akan muncul secara tiba-tiba tujuh Balla` Lompoa atau istana yang bentuknya serupa. Uniknya, bukan hanya bangunannya yang sama, tapi fisik, roman wajah, perilaku, dan kharisma penghuni istana juga bak pinang dibelah dua. Tapi di antara tujuh tokoh itu ada yang memiliki kharisma paling kuat. Tokoh itulah yang nanti akan jadi pemimpin utama dan menunjuk orang-orang yang dianggap bisa memulihkan keadaan pada saat itu. Tokoh itu merupakan penyeimbang antara 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, lanjut Daeng Sangkilang memberitahukan hasil tafsiran sang raja.
--> Berlanjut
Pagi yang cerah di dalam Istana Kerajaan Gowa. Di taman belakang sang Raja Agung Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna berbincang dengan permaisuri tentang anak bayi yang baru dia lahirkan sementara dayang kerajaan tak hentinya mengipas dan menyuguhkan buah segar di hadapannya. Angin sejuk berhembus menembus batas sadarnya. Tentram. Tiba-tiba Daeng Sangkilang, penasehat raja datang menghadap untuk melaporkan tentang kekacauan yang terjadi di wilayahnya. Saat itu tanah gowa ibarat rimba tak bertuan. Orang-orang saling adu kekuatan untuk membuktikan kehebatannya dan akhirnya orang lemah tersingkir dari kehidupan. Sang raja begitu kaget mendengar laporan Daeng Sangkilang.
Raja memerintahkan kepada Daeng Mattawang sebagai komandan tu barania untuk turun menenangkan kekacauan tersebut. Ia diberikan waktu seminggu untuk membuat wilayah ini kembali tenang. Namun seminggu kemudian Daeng Mattawang datang menghadap pada sang raja dan mengutarakan keadaan yang sebenarnya.
“Sangat sulit Karaeng. Kondisi rakyat sungguh diluar batas kewajaran. Mereka bertarung layaknya binatang. Saling membunuh satu sama lain. Kata Daeng Mattawang ciut dihadapan raja karena kegagalannya mengembalikan suasana wilayah kerajaan ini.
Sang raja berdiri dari singgasananya. Menatap jauh kedepan. Matawang agak takut melihat murka rajanya. Ia menunggu titah apa yang akan diberikan lagi kepadanya. Sang raja kemudian mencabut badik dari warangkanya dan mengacungkan ke langit.
“Hari ini aku bersumpah atas nama ayahku bahwa kerajaan ini akan kembali seperti dulu lagi jika tidak aku akan mati ditiang pancung. Setelah mengucapkan janjinya sang raja kemudian memerintahkan Daeng Mattawang untuk menyiapkan kudanya. Sang raja akan turun tangan sendiri. Namun Sangkilang menyarankan agar raja tetap disini. Biarkan pasukan tu barania patampulo yang menenangkan wilayah ini. Pasukan yang telah di latih khusus untuk menjadi duta perang kerajaan Gowa. Namun ternyata tekad sang raja untuk turun tangan dalam masalah ini sudah bulat. Raja bersama pasukan tu barania patampulo menyisir setiap wilayah yang diyakini sering terjadi kerusuhan namun ternyata itu juga tak membuahkan hasil apapun.
Kondisi ini terus berlanjut. Orang yang merasa kuat terus mencari lawan sepadan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat diantara mereka. Sang raja kemudian mengatur strategi. Dibuatlah sebuah sayembara berhadiah permaisuri cantik dan mengundang semua pendekar untuk ikut bertarung. Ternyata sayembara ini di dengar oleh Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang mulai dari wilayah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Mereka mengutus juga para jagoannya untuk ikut sayembara yang diadakan sang raja. Rivalitas Bate Salapang memang selalu mengundang perselisihan. Strategi ini memang berhasil meredam kekacauan. Berkat kecerdasan Karaeng Tumapa'risi' Kallonna melihat celah kemungkin untuk mengembalikkan suasana kerajaan meskipun hari-hari selanjutnya masih terdengar berita perkelahian di wilayahnya namun tidak seperti dulu lagi.
Sampai pada sutu hari di pagi yang buta. Wilayah kerajaan Gowa dihantam hujan deras disertai petir yang menyambar tanpa henti. Peristiwa ini berlangsung selama tujuh hari dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah kerajaan Gowa. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Sawah nan luas tergenang sisa air hujan. Saat bersamaan ratusan rakyat Gowa tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.
Semenjak saat itu rakyat Gowa mempercayai bahwa mereka adalah tomanurung yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi. Jadilah Raja Karaeng Tumapa'risi' Kallonna yang ikut menyaksikan kejadian itu kemudian menjadikannya sebagai sawah kerajaan. Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan.
Malam harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna bermimpi bahwa kelak akan kembali terjadi kerusuhan yang luar biasa di wilayahnya. Ketujuh tokoh tersebut akan turun lagi ke bumi suatu ketika nanti. Dan di tengah hamparan sawah itu berbinar tujuh cahaya. Namun, seperti kedatangan mereka semula, akan ada pula kondisi tak menentu yang mendahuluinya. Keesokan harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna memanggil Daeng Sangkilang untuk menafsirkan mimpinya. Ternyata itu benar. Bahwa kelak akan ada suasana tak menentu. Ditulislah dalam lontara : jarangji na kongkong sikokko na sitindang, ganca-gancamo cera’. “Hanya kuda (yang merupakan simbol penguasa) dan anjing (sebagai simbol penentu kebijakan), saling gigit dan tendang hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah,”
Di saat banjir darah itulah, di Karebosi akan muncul secara tiba-tiba tujuh Balla` Lompoa atau istana yang bentuknya serupa. Uniknya, bukan hanya bangunannya yang sama, tapi fisik, roman wajah, perilaku, dan kharisma penghuni istana juga bak pinang dibelah dua. Tapi di antara tujuh tokoh itu ada yang memiliki kharisma paling kuat. Tokoh itulah yang nanti akan jadi pemimpin utama dan menunjuk orang-orang yang dianggap bisa memulihkan keadaan pada saat itu. Tokoh itu merupakan penyeimbang antara 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, lanjut Daeng Sangkilang memberitahukan hasil tafsiran sang raja.
--> Berlanjut
Musim
ini
Di saat
rembulan memar menertawakanku
Jejakku
menipis dalam ribuan episode yang aku satukan
Bertahun-tahun
aku membawa penyesalan dari rumahku ke tempat yang aku tuju
Ia
membuat luka terselubung di hatiku
Lebam dan
meninggalkan lara berkepanjangan
Setiap
tidur aku dihantui tangismu
Seakan
membawa pesan yang samar untukku
Kepada
rembulan memar
Mengapa
aku harus menyesali penyesalanku
Bukankah
itu telah bertahun lamanya
Cahayamu
juga mungkin sudah lupa akan kepongahanku tempo itu
Rembulan
memar
Bukankah
hati itu juga telah bertahun lamanya dia miliki
Tentu
luka belum sembuh seutuhnya
Ia
kadang kambuh jika mengingatnya lagi
Menyesal
akan keadaan itu akan mengajarkanmu tentang cinta
Bukankah
dia telah memberimu berpuluh kesempatan untuk mengubah dirimu sendiri
Berdoalah
pada penyesalan
Tuhan
akan menentukan
30.11.2010
Pemuda adalah cerminan sebuah bangsa. Masa depan bangsa tidak ditentukan dari kebetulan. Kita meraih kemerdekaan dengan semangat dan keyakinan serta pertolongan Tuhan. Nasib boleh sama tapi takdir bangsa ini berbeda. Kita bisa melihat dari rekaman sejarah peranan pemuda dalam meraih kemerdekaan.
“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”
— Pramoedya Ananta Toer
Pertengahan Agustus 1945. Sekelompok pemuda mendatangi kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Bung Karno, yang sudah mengetahui kedatangan utusan pemuda ini, segera menemui mereka di beranda rumah.
“Sekarang, Bung! Sekarang, malam ini juga kita kobarkan revolusi,” ujar Chaerul Saleh, salah seorang dari pemuda tersebut. “Kami tidak ingin mengancammu, bung,” kata Wikana dengan suara serak.
Pemuda asal Sumedang, Jawa Barat, itu melangkah dengan sebilah pisau terjulur di tangannya. “Revolusi di tangan kami sekarang dan kami memerintah Bung. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, maka…”
“Maka apa?” teriak Bung Karno yang bangkit dari kursinya. “”Ini batang leherku,” katanya setengah berteriak sambil mendekati Wikana. “Seret saya ke pojok itu dan potong malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!” kata Bung Karno dengan setengah berteriak.
Seperti itulah sekilas dialog pemuda saat menemui Bung Karno. Akhirnya, karena rencana di atas menemui kegagalan akhirnya para pemuda kemudian nekat menculik Bung Karno dan membawanya ke Rengasdengklok, Karawang.
Inilah salah satu bukti peranan pemuda dalam menentukan proklamasi kemerdekaan. Keberanian untuk mengambil keputusan sangatlah berpengaruh pada kelanjutan bangsa ini.
Anderson pernah menulis dalam bukunya “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda ini,”
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia mengatakan sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda Indonesia, yang dimulai dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sumpah Pemuda, Revolusi Agustus 1945, hingga penggulingan diktator Soeharto. “Hanya sayang mereka tidak melahirkan pemimpin,”
Perhimpunan Indonesia, yang beranggotakan mahasiswa Indonesia di Belanda, merupakan salah satu organisasi pemuda yang banyak menyumbang gagasan mengenai Indonesia merdeka, terutama terkait terselenggaranya Kongres Pemuda dan lahirnya Sumpah Pemuda.
Para pemuda-pemuda itu, sekembalinya mereka ke tanah air, telah menjadi kemudi dari berbagai partai politik pergerakan di tanah air: Partai Nasional Indonesia (PNI)–sebelum dibubarkan, Partindo, PNI-Baru, PKI, dan Partai Syarekat Islam.
Merekalah, yang masih dalam usia dua-puluhan, menulis panjang lebar mengenai gagasan-gagasan Indonesia Merdeka: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Semaun, Tan Malaka, dan lain sebagainya. Gagasan-gagasan itu tidak hanya diuraikan dalam coretan tinta di atas kertas, tetapi diperjuangkan habis-habisan dan menjadi pegangan politik di sepanjang hidupnya.
Para pemuda pula, ketika kesempatan dan momen itu telah tiba, mendesak dan memaksa Bung Karno dan Bung Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, pasukan sekutu yang diboncengi oleh tentara Belanda, berusaha menjajah kembali Indonesia. Dalam banyak pertempuran, sebagaimana juga dikisahkan banyak saksi sejarah, para pemuda telah ambil-bagian sebagai martir-martir yang gugur di masa-masa awal mempertahankan Republik baru ini.
Ketika Sjahrir menempuh jalan berunding dengan pihak Belanda, para pemuda radikal dan revolusioner menyatakan “pembangkangan”. Tidak heran, ketika kabinet Sjahrir jatuh pada bulan Juni 1947, para pemuda bersorak gembira dan menganggap hari itu sebagai hari yang sudah lama ditunggu-tunggu.
PT. Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.. Perusahaan ini adalah pembayar pajak terbesar kepada Indonesia dan merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. Freeport Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua, masing-masing tambang Erstberg (dari 1967) dan tambang Grasberg (sejak 1988), di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
Freeport berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan 2,3 miliar dolar AS. Menurut Freeport, keberadaannya memberikan manfaat langsung dan tidak langsung kepada Indonesia sebesar 33 miliar dolar dari tahun 1992–2004. Angka ini hampir sama dengan 2 persen PDB Indonesia. Dengan harga emas mencapai nilai tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yaitu 540 dolar per ons, Freeport diperkirakan akan mengisi kas pemerintah sebesar 1 miliar dolar.
Mining International, sebuah majalah perdagangan, menyebut tambang emas Freeport sebagai yang terbesar di dunia.
Pada tahun 2003 Freeport Indonesia mengaku bahwa mereka telah membayar TNI untuk mengusir para penduduk setempat dari wilayah mereka. Menurut laporan New York Times pada Desember 2005, jumlah yang telah dibayarkan antara tahun 1998 dan 2004 mencapai hampir 20 juta dolar AS. Freeport Indonesia sering dikabarkan telah melakukan penganiayaan terhadap para penduduk setempat. Pada Tahun 2011 seorang buruh bernama Petrus Ajam Seba seorang buruh di PT. Freeport terbunuh.
Sejarah
Dahulu di tengah masyarakat ada mitologi menyangkut manusia sejati, yang berasal dari sebuah Ibu, yang menjadi setelah kematiannya berubah menjadi tanah yang membentang sepanjang daerah Amungsal (Tanah Amugme), daerah ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga secara adat tidak diizinkan untuk dimasuki.
Sejak tahun 1971, Freeport Indonesia, masuk ke daerah keramat ini, dan membuka tambang Erstberg. Sejak tahun 1971 itulah warga suku Amugme dipindahkan ke luar dari wilayah mereka ke wilayah kaki pegunungan.
Tambang Erstberg ini habis open-pit-nya pada 1989, dilanjutkan dengan penambangan pada wilayah Grasberg dengan izin produksi yang dikeluarkan Mentamben Ginandjar Kartasasmita pada 1996. Dalam izin ini, tercantum pada AMDAL produksi yang diizinkan adalah 300 ribu /ton/hari
Kontroversi
Menurut karyawan dan bekas karyawan Freeport, selama bertahun-tahun James R Moffett, seorang ahli geologi kelahiran Louisiana, yang juga adalah pimpinan perusahaan ini, dengan tekun membina persahabatan dengan Presiden Soeharto, dan kroni-kroninya. Ini dilakukannya untuk mengamankan usaha Freeport. Freeport membayar ongkos-ongkos mereka berlibur, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka, termasuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Surat-surat dan dokumen-dokumen lain yang diberikan kepada New York Times oleh para pejabat pemerintah menunjukkan, Kementerian Lingkungan Hidup telah berkali-kali memperingatkan perusahaan ini sejak tahun 1997, Freeport melanggar peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup. Menurut perhitungan Freeport sendiri, penambangan mereka dapat menghasilkan limbah/bahan buangan sebesar kira-kira 6 miliar ton (lebih dari dua kali bahan-bahan bumi yang digali untuk membuat Terusan Panama). Kebanyakan dari limbah itu dibuang di pegunungan di sekitar lokasi pertambangan, atau ke sistem sungai-sungai yang mengalir turun ke dataran rendah basah, yang dekat dengan Taman Nasional Lorentz, sebuah hutan hujan tropis yang telah diberikan status khusus oleh PBB.
Sebuah studi bernilai jutaan dolar tahun 2002 yang dilakukan Parametrix, perusahaan konsultan Amerika, dibayar oleh Freeport dan Rio Tinto, mitra bisnisnya, yang hasilnya tidak pernah diumumkan mencatat, bagian hulu sungai dan daerah dataran rendah basah yang dibanjiri dengan limbah tambang itu sekarang tidak cocok untuk kehidupan makhluk hidup akuatik. Laporan itu diserahkan ke New York Times oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. New York Times berkali-kali meminta izin kepada Freeport dan pemerintah Indonesia untuk mengunjungi tambang dan daerah di sekitarnya karena untuk itu diperlukan izin khusus bagi wartawan. Semua permintaan itu ditolak. Freeport hanya memberikan respon secara tertulis. Sebuah surat yang ditandatangani oleh Stanley S Arkin, penasihat hukum perusahaan ini menyatakan, Grasberg adalah tambang tembaga, dengan emas sebagai produk sampingan, dan bahwa banyak wartawan telah mengunjungi pertambangan itu sebelum pemerintah Indonesia memperketat aturan pada tahun 1990-an.
[sunting]
Menyadap e-mail
Menurut seorang pejabat dan dua bekas pejabat perusahaan yang terlibat dalam mengembangkan suatu program rahasia, Freeport selama ini menyadap e-mail para aktivis lingkungan yang melawan perusahaan ini untuk memata-matai apa yang mereka lakukan. Freeport menolak mengomentari hal ini. Freeport bergandengan tangan dengan perwira-perwira intelijen TNI, mulai menyadap korespondensi e-mail dan percakapan telepon lawan-lawan aktivis lingkungannya. Hal ini dikatakan oleh seorang karyawan Freeport yang terlibat dalam kegiatan ini dan bertugas membaca e-mail-e-mail tersebut.
Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, perusahaan ini juga membuat sistemnya sendiri untuk mencuri berita-berita melalui e-mail. Caranya adalah dengan membentuk sebuah kelompok pecinta lingkungan gadungan, yang meminta mereka yang berminat untuk mendaftar secara online dengan menggunakan kode rahasia (password) tertentu. Banyak di antara mereka yang mendaftar itu menggunakan password yang sama seperti yang mereka gunakan untuk e-mail mereka. Dengan cara ini, Freeport dengan gampang mencuri berita. Menurut seseorang yang waktu itu bekerja untuk perusahaan ini, awalnya para pengacara Freeport khawatir dengan pencurian ini. Tetapi, mereka kemudian memutuskan, secara legal perusahaan itu tidak dilarang untuk membaca e-mail pihak-pihak di luar negeri.
[sunting]
Hubungan Freeport dan TNI
Selama bertahun-tahun, Freeport memiliki unit pengamanannya sendiri, sementara militer Indonesia memerangi perlawanan separatis yang lemah dan rendah gerakannya. Kemudian kebutuhan keamanan ini mulai saling terkait.
Tidak ada investigasi yang menemukan keterkaitan Freeport secara langsung dengan pelanggaran HAM, tetapi semakin banyak orang-orang Papua yang menghubungkan Freeport dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh TNI, dan pada sejumlah kasus kekerasan itu dilakukan dengan menggunakan fasilitas Freeport. Seorang ahli antropologi Australia, Chris Ballard, yang pernah bekerja untuk Freeport, dan Abigail Abrash, seorang aktivis HAM dari Amerika Serikat, memperkirakan, sebanyak 160 orang telah dibunuh oleh militer antara tahun 1975–1997 di daerah tambang dan sekitarnya.
Pada bulan Maret 1996, kemarahan terhadap perusahaan pecah dalam bentuk kerusuhan ketika sentimen anti-perusahaan dari beberapa kelompok yang berbeda bergabung.
Freeport menyadap berita-berita dalam e-mail. Menurut dua orang yang membaca e-mail-e-mail itu pada saat itu, ada unit-unit militer tertentu, masyarakat setempat, dan kelompok-kelompok lingkungan hidup yang bekerjasama. Sebuah pertukaran informasi dengan menggunakan e-mail antara seorang tokoh masyarakat dengan pimpinan organisasi lingkungan hidup penuh dengan taktik intelijen militer. Dalam e-mail yang lain, seorang pimpinan organisasi lingkungan meminta para anggotanya mundur karena demonstrasi telah berubah menjadi kerusuhan.
Dari wawancara yang dilakukan, bekas pejabat dan pejabat Freeport menyatakan, mereka terkejut melihat sejumlah orang dengan potongan rambut militer, mengenakan sepatu tempur dan menggenggam radio walkie-talkie di antara para perusuh itu. Orang-orang itu terlihat mengarahkan kerusuhan itu, dan pada satu ketika, mengarahkan massa menuju ke laboratorium Freeport yang kemudian mereka obrak-abrik.
[sunting]
Keamanan
Dokumen-dokumen Freeport menunjukkan, dari tahun 1998 sampai 2004 Freeport memberikan hampir 20 juta dolar kepada para jenderal, kolonel, mayor dan kapten militer dan polisi, dan unit-unit militer. Setiap komandan menerima puluhan ribu dolar, bahkan dalam satu kasus sampai mencapai 150.000 dolar, sebagaimana tertera dalam dokumen itu.
Dokumen-dokumen itu diberikan kepada New York Times oleh seseorang yang dekat dengan Freeport, dan menurut bekas karyawan maupun karyawan Freeport sendiri, dokumen-dokumen itu asli alias otentik. Dalam respon tertulisnya kepada New York Times, Freeport menyatakan bahwa perusahaan itu telah mengambil langkah-langkah yang perlu sesuai dengan undang-undang Amerika Serikat dan Indonesia untuk memberikan lingkungan kerja yang aman bagi lebih dari 18.000 karyawannya maupun karyawan perusahaan-perusahaan kontraktornya. Freeport juga mengatakan tidak punya alternatif lain kecuali tergantung sepenuhnya kepada militer dan polisi Indonesia dan keputusan-keputusan yang diambil dalam kaitannya dengan hubungan dengan pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga keamanannya, adalah kegiatan bisnis biasa.
Dalam waktu singkat, Freeport menghabiskan 35 juta dolar untuk membangun infrastruktur militer — barak-barak, kantor-kantor pusat, ruang-ruang makan, jalan — dan perusahaan juga memberikan para komandan 70 buah mobil jenis Land Rover dan Land Cruiser, yang diganti setiap beberapa tahun. Semua memperoleh sesuatu, bahkan juga angkatan laut dan angkatan udara. Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, ketika itu perusahaan ini sudah merekrut seorang bekas agen lapangan CIA, dan atas rekomendasinya, perusahaan kemudian mendekati seorang atase militer di Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan memintanya untuk bergabung. Kemudian dua orang bekas perwira militer Amerika Serikat direkrut, dan sebuah departemen khusus, yang diberi nama Perencanaan Operasi Darurat (Emergency Planning Operation) didirikan untuk menangani hubungan baru Freeport dengan militer Indonesia.
Departemen Perencanaan Operasi Darurat yang baru ini mulai melakukan pembayaran bulanan kepada para komandan TNI, sementara kantor Pengelolaan Risiko Keamanan (Security Risk Management office) mengatur pembayaran kepada polisi. Informasi ini diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan dan keterangan bekas karyawan dan karyawan Freeport. Menurut dokumen perusahaan, Freeport membayar paling sedikit 20 juta dolar (sekitar Rp 184 miliar) kepada militer dan polisi di Papua dari tahun 1998 sampai bulan Mei 2004. Kemudian ada juga tambahan 10 juta dolar (sekitar Rp 92 miliar) yang juga dibayarkan kepada militer dan polisi pada jangka waktu itu sehingga totalnya sekitar Rp 276 miliar.
New York Times menerima dokumen keuangan Freeport selama tujuh tahun dari seorang yang dekat dengan perusahaan itu. Tambahan dokumen selama tiga tahun diberikan oleh Global Witness, sebuah LSM yang mengeluarkan laporan pada bulan Juli, yang berjudul Paying for Protection (Bayaran Perlindungan) [1] tentang hubungan Freeport dengan militer Indonesia. Diamird 0'Sullivan, yang bekerja untuk Global Witness di London, mengkritik pembayaran yang dilakukan Freeport itu.
Menurut perusahaan, semua pengeluaran yang dilakukannya itu harus melalui proses pemeriksaan anggaran. Catatan yang diterima New York Times menunjukkan adanya pembayaran kepada perwira-perwira militer secara perseorangan yang didaftarkan di bawah topik-topik seperti biaya makanan, jasa administrasi dan tambahan bulanan. Para komandan yang menerima dana tersebut tidak diharuskan menandatangani tanda terima.
Pendeta Lowry, yang pensiun dari Freeport pada bulan Maret 2004 tetapi tetap menjadi konsultan sampai bulan Juni, mengatakan, sebetulnya tidak ada alasan yang cukup bagi Freeport untuk memberikan dana secara langsung kepada para perwira militer itu.
Catatan perusahaan menunjukkan, penerima terbesar adalah komandan pasukan di daerah Freeport, Letnan Kolonel Togap F. Gultom. Selama enam bulan tahun 2001, ia diberikan hanya kurang sedikit dari 100.000 dolar untuk biaya makanan, dan lebih dari 150.000 dolar di tahun berikutnya. Pada tahun 2002, Freeport juga memberikan uang kepada paling tidak 10 komandan lainnya mencapai lebih dari 350.000 dolar untuk biaya makan.
Menurut para bekas karyawan dan karyawan Freeport, pembayaran-pembayaran tersebut dilakukan kepada para perwira itu, kepada istri-istri dan anak-anak mereka, secara perorangan. Yang berpangkat jenderal terbang di kelas satu atau kelas bisnis, dan para perwira yang lebih rendah pada kelas ekonomi, demikian kata Brigadir Jenderal Ramizan Tarigan yang menerima tiket senilai 14.000 dolar pada tahun 2002 untuk dirinya dan anggota keluarganya.
Jenderal Tarigan yang menduduki posisi senior di kepolisian mengatakan, para perwira polisi dibolehkan menerima tiket pesawat udara karena gaji mereka sangat rendah tetapi adalah melanggar peraturan kepolisian untuk menerima pembayaran uang tunai. Pada bulan April 2002, Freeport membayar perwira senior militer di Papua, Mayor Jenderal Mahidin Simbolon, lebih dari 64.000 dolar untuk yang disebut dalam buku keuangan Freeport sebagai "dana untuk rencana proyek militer tahun 2002".
Delapan bulan kemudian, di bulan Desember, Jenderal Simbolon menerima lebih dari 67.000 dolar untuk proyek aksi sipil kemanusiaan. Pembayaran-pembayaran ini pertama kali dilaporkan Global Witness. Jenderal Simbolon, yang kini menjadi Inspektur Jenderal Angkatan Darat Indonesia, menolak permohonan untuk diwawancarai.
Pada tahun 2003, sesudah terjadinya skandal Enron dan disahkannya Undang-undang Sarbanes-Oxley, yang mengharuskan praktik-praktik akuntansi keuangan yang lebih ketat pada perusahaan-perusahaan, Freeport mulai melakukan pembayaran kepada unit-unit militer ketimbang kepada para perwira secara individu. Demikian menurut catatan yang tersedia dan seperti yang dituturkan oleh bekas karyawan dan karyawan perusahaan ini.
Menurut catatan, perusahaan membayar unit-unit polisi di Papua sedikit di bawah angka 1 juta dolar di tahun 2003, didaftarkan di bawah topik-topik seperti "tambahan pembayaran bulanan," "biaya administrasi" dan "dukungan administratif." Freeport menyatakan kepada New York Times, di dalam menentukan jenis dukungan yang dapat diberikan, adalah merupakan kebijakan perusahaan untuk memperhitungkan kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM.” Menurut catatan yang diterima oleh New York Times, pasukan paramiliter polisi, yaitu Brigade Mobil (Brimob), yang sering dikutip oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat karena kekejamannya, menerima lebih dari 200.000 dolar di tahun 2003.
[sunting]
Sumber
Laporan investigatif wartawan New York Times Jane Perlez, Raymond Bonner dan kontributor Evelyn Rusli, "Below a Mountain of Wealth, a River of Waste", 27 Desember 2005.
Disunting dan diberitakan dalam bahasa Indonesia oleh Rakyat Merdeka dengan judul "Menyusuri Sungai Limbah Di Kaki Gunung Emas Freeport" secara bersambung pada 16-22 Februari 2006
Peristiwa
21 Februari 2006, terjadi pengusiran terhadap penduduk setempat yang melakukan pendulangan emas dari sisa-sisa limbah produksi Freeport di Kali Kabur Wanamon. Pengusiran dilakukan oleh aparat gabungan kepolisian dan satpam Freeport. Akibat pengusiran ini terjadi bentrokan dan penembakan. Penduduk sekitar yang mengetahui kejadian itu kemudian menduduki dan menutup jalan utama Freeport di Ridge Camp, di Mile 72-74, selama beberapa hari. Jalan itu merupakan satu-satunya akses ke lokasi pengolahan dan penambangan Grasberg.
22 Februari 2006, sekelompok mahasiswa asal Papua beraksi terhadap penembakan di Timika sehari sebelumnya dengan merusak gedung Plasa 89 di Jakarta yang merupakan gedung tempat PT Freeport Indonesia berkantor.
23 Februari 2006, masyarakat Papua Barat yang tergabung dalam Solidaritas Tragedi Freeport menggelar unjuk rasa di depan Istana, menuntuk presiden untuk menutup Freeport Indonesia. Aksi yang sama juga dilakukan oleh sekitar 50 mahasiswa asal Papua di Manado.
25 Februari 2006, karyawan PT Freeport Indonesia kembali bekerja setelah palang di Mile 74 dibuka.
27 Februari 2006, Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat menduduki kantor PT Freeport Indonesia di Plasa 89, Jakarta. Aksi menentang Freeport juga terjadi di Jayapura dan Manado.
28 Februari 2006, Demonstran di Plasa 89, Jakarta, bentrok dengan polisi. Aksi ini mengakibatkan 8 orang polisi terluka.
1 Maret 2006, demonstrasi selama 3 hari di Plasa 89 berakhir. 8 aktivis LSM yang mendampingi mahasiswa Papua ditangkap dengan tuduhan menyusup ke dalam aksi mahasiswa Papua [6] [7]. Puluhan mahasiswa asal Papua di Makassar berdemonstrasi dan merusak Monumen Pembebasan Irian Barat.
3 Maret 2006, masyarakat Papua di Solo berdemonstrasi menentang Freeport.
7 Maret 2006, demonstrasi di Mile 28, Timika di dekat bandar udara Moses Kilangin mengakibatkan jadwal penerbangan pesawat terganggu.
14 Maret 2006, massa yang membawa anak panah dan tombak menutup checkpoint 28 di Timika. Massa juga mengamuk di depan Hotel Sheraton.
15 Maret 2006, Polisi membubarkan massa di Mile 28 dan menangkap delapan orang yang dituduh merusak Hotel Sheraton. Dua orang polisi terkena anak panah.
16 Maret 2006, aksi pemblokiran jalan di depan Kampus Universitas Cendrawasih, Abepura, Jayapura, oleh masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Parlemen Jalanan dan Front Pepera PB Kota Jayapura, berakhir dengan bentrokan berdarah, menyebabkan 3 orang anggota Brimob dan 1 intelijen TNI tewas dan puluhan luka-luka baik dari pihak mahasiswa dan pihak aparat.
17 Maret 2006, Tiga warga Abepura, Papua, terluka akibat terkena peluru pantulan setelah beberapa anggota Brimob menembakkan senjatanya ke udara di depan Kodim Abepura [10]. Beberapa wartawan televisi yang meliput dianiaya dan dirusak alat kerjanya oleh Brimob.
22 Maret 2006, satu lagi anggota Brimob meninggal dunia setelah berada dalam kondisi kritis selama enam hari
23 Maret 2006, lereng gunung di kawasan pertambangan terbuka PT Freeport Indonesia di Grasberg, longsor dan menimbun sejumlah pekerja. 3 orang meninggal dan puluhan lainnya cedera.
23 Maret 2006, Kementerian Lingkungan Hidup mempublikasi temuan pemantauan dan penataan kualitas lingkungan di wilayah penambangan PT Freeport Indonesia. Hasilnya, Freeport dinilai tak memenuhi batas air limbah dan telah mencemari air laut dan biota laut.
18 April 2007, sekitar 9.000 karyawan Freeport mogok kerja untuk menuntut perbaikan kesejahteraan. Perundingan akhirnya diselesaikan pada 21 April setelah tercapai kesepakatan yang termasuk mengenai kenaikan gaji terendah
21 Oktober 2011, sekitar tiga orang tewas akibat insiden penembakan di kawasan Freeport Timika Papua. Marcelianus, seorang personel polri berpangkat Brigadir Polisi Satu juga tewas tertembak.
@sumber Wikipedia
Apa yang terjadi di negara ini. Mari kita melihat sejarah panjang dari pembentukan bangsa ini. Bangsa yang di cita-citakan kelak menajadi negara merdeka dan bebas dalam menentukan nasibnya sendiri. Namun melihat nasib rakyat yang masih harus menjadi buruh yang diperbudakkan oleh bangsa lain di negrinya sendiri. Tidak salah rasanya jika pribumi di Papua melakukan aksi prostes terhadp makhluk asing yang terus menjarah tanah mereka. Tanah adat yang dijadikan tambang kemudian mereka di usir di kaki gunung.
Seandainya penguasa negeri ini berani mencabut izin Freeport kemudian emas itu diolah sendiri maka tentu hasilnya lebih memuaskan. Bayangkan jika keuntungan yang diraih Amerika setaip detiknya 6 M dan hanya satu persen yang di alihkan ke negara itupun setelah di pangkas sana-sini. Kemungkinan terbesar negara kita akan di embargo. Silahkan. Bukan masalah untuk negara yang sebenarnya kaya seperti Indonesia. Tapi ternyata Penguasa Negara ini juga boneka dari Amerika. Salut untuk perjuangan Rakyat di PAPUA.
Freeport berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan 2,3 miliar dolar AS. Menurut Freeport, keberadaannya memberikan manfaat langsung dan tidak langsung kepada Indonesia sebesar 33 miliar dolar dari tahun 1992–2004. Angka ini hampir sama dengan 2 persen PDB Indonesia. Dengan harga emas mencapai nilai tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yaitu 540 dolar per ons, Freeport diperkirakan akan mengisi kas pemerintah sebesar 1 miliar dolar.
Mining International, sebuah majalah perdagangan, menyebut tambang emas Freeport sebagai yang terbesar di dunia.
Pada tahun 2003 Freeport Indonesia mengaku bahwa mereka telah membayar TNI untuk mengusir para penduduk setempat dari wilayah mereka. Menurut laporan New York Times pada Desember 2005, jumlah yang telah dibayarkan antara tahun 1998 dan 2004 mencapai hampir 20 juta dolar AS. Freeport Indonesia sering dikabarkan telah melakukan penganiayaan terhadap para penduduk setempat. Pada Tahun 2011 seorang buruh bernama Petrus Ajam Seba seorang buruh di PT. Freeport terbunuh.
Sejarah
Dahulu di tengah masyarakat ada mitologi menyangkut manusia sejati, yang berasal dari sebuah Ibu, yang menjadi setelah kematiannya berubah menjadi tanah yang membentang sepanjang daerah Amungsal (Tanah Amugme), daerah ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga secara adat tidak diizinkan untuk dimasuki.
Sejak tahun 1971, Freeport Indonesia, masuk ke daerah keramat ini, dan membuka tambang Erstberg. Sejak tahun 1971 itulah warga suku Amugme dipindahkan ke luar dari wilayah mereka ke wilayah kaki pegunungan.
Tambang Erstberg ini habis open-pit-nya pada 1989, dilanjutkan dengan penambangan pada wilayah Grasberg dengan izin produksi yang dikeluarkan Mentamben Ginandjar Kartasasmita pada 1996. Dalam izin ini, tercantum pada AMDAL produksi yang diizinkan adalah 300 ribu /ton/hari
Kontroversi
Menurut karyawan dan bekas karyawan Freeport, selama bertahun-tahun James R Moffett, seorang ahli geologi kelahiran Louisiana, yang juga adalah pimpinan perusahaan ini, dengan tekun membina persahabatan dengan Presiden Soeharto, dan kroni-kroninya. Ini dilakukannya untuk mengamankan usaha Freeport. Freeport membayar ongkos-ongkos mereka berlibur, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka, termasuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Surat-surat dan dokumen-dokumen lain yang diberikan kepada New York Times oleh para pejabat pemerintah menunjukkan, Kementerian Lingkungan Hidup telah berkali-kali memperingatkan perusahaan ini sejak tahun 1997, Freeport melanggar peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup. Menurut perhitungan Freeport sendiri, penambangan mereka dapat menghasilkan limbah/bahan buangan sebesar kira-kira 6 miliar ton (lebih dari dua kali bahan-bahan bumi yang digali untuk membuat Terusan Panama). Kebanyakan dari limbah itu dibuang di pegunungan di sekitar lokasi pertambangan, atau ke sistem sungai-sungai yang mengalir turun ke dataran rendah basah, yang dekat dengan Taman Nasional Lorentz, sebuah hutan hujan tropis yang telah diberikan status khusus oleh PBB.
Sebuah studi bernilai jutaan dolar tahun 2002 yang dilakukan Parametrix, perusahaan konsultan Amerika, dibayar oleh Freeport dan Rio Tinto, mitra bisnisnya, yang hasilnya tidak pernah diumumkan mencatat, bagian hulu sungai dan daerah dataran rendah basah yang dibanjiri dengan limbah tambang itu sekarang tidak cocok untuk kehidupan makhluk hidup akuatik. Laporan itu diserahkan ke New York Times oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. New York Times berkali-kali meminta izin kepada Freeport dan pemerintah Indonesia untuk mengunjungi tambang dan daerah di sekitarnya karena untuk itu diperlukan izin khusus bagi wartawan. Semua permintaan itu ditolak. Freeport hanya memberikan respon secara tertulis. Sebuah surat yang ditandatangani oleh Stanley S Arkin, penasihat hukum perusahaan ini menyatakan, Grasberg adalah tambang tembaga, dengan emas sebagai produk sampingan, dan bahwa banyak wartawan telah mengunjungi pertambangan itu sebelum pemerintah Indonesia memperketat aturan pada tahun 1990-an.
[sunting]
Menyadap e-mail
Menurut seorang pejabat dan dua bekas pejabat perusahaan yang terlibat dalam mengembangkan suatu program rahasia, Freeport selama ini menyadap e-mail para aktivis lingkungan yang melawan perusahaan ini untuk memata-matai apa yang mereka lakukan. Freeport menolak mengomentari hal ini. Freeport bergandengan tangan dengan perwira-perwira intelijen TNI, mulai menyadap korespondensi e-mail dan percakapan telepon lawan-lawan aktivis lingkungannya. Hal ini dikatakan oleh seorang karyawan Freeport yang terlibat dalam kegiatan ini dan bertugas membaca e-mail-e-mail tersebut.
Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, perusahaan ini juga membuat sistemnya sendiri untuk mencuri berita-berita melalui e-mail. Caranya adalah dengan membentuk sebuah kelompok pecinta lingkungan gadungan, yang meminta mereka yang berminat untuk mendaftar secara online dengan menggunakan kode rahasia (password) tertentu. Banyak di antara mereka yang mendaftar itu menggunakan password yang sama seperti yang mereka gunakan untuk e-mail mereka. Dengan cara ini, Freeport dengan gampang mencuri berita. Menurut seseorang yang waktu itu bekerja untuk perusahaan ini, awalnya para pengacara Freeport khawatir dengan pencurian ini. Tetapi, mereka kemudian memutuskan, secara legal perusahaan itu tidak dilarang untuk membaca e-mail pihak-pihak di luar negeri.
[sunting]
Hubungan Freeport dan TNI
Selama bertahun-tahun, Freeport memiliki unit pengamanannya sendiri, sementara militer Indonesia memerangi perlawanan separatis yang lemah dan rendah gerakannya. Kemudian kebutuhan keamanan ini mulai saling terkait.
Tidak ada investigasi yang menemukan keterkaitan Freeport secara langsung dengan pelanggaran HAM, tetapi semakin banyak orang-orang Papua yang menghubungkan Freeport dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh TNI, dan pada sejumlah kasus kekerasan itu dilakukan dengan menggunakan fasilitas Freeport. Seorang ahli antropologi Australia, Chris Ballard, yang pernah bekerja untuk Freeport, dan Abigail Abrash, seorang aktivis HAM dari Amerika Serikat, memperkirakan, sebanyak 160 orang telah dibunuh oleh militer antara tahun 1975–1997 di daerah tambang dan sekitarnya.
Pada bulan Maret 1996, kemarahan terhadap perusahaan pecah dalam bentuk kerusuhan ketika sentimen anti-perusahaan dari beberapa kelompok yang berbeda bergabung.
Freeport menyadap berita-berita dalam e-mail. Menurut dua orang yang membaca e-mail-e-mail itu pada saat itu, ada unit-unit militer tertentu, masyarakat setempat, dan kelompok-kelompok lingkungan hidup yang bekerjasama. Sebuah pertukaran informasi dengan menggunakan e-mail antara seorang tokoh masyarakat dengan pimpinan organisasi lingkungan hidup penuh dengan taktik intelijen militer. Dalam e-mail yang lain, seorang pimpinan organisasi lingkungan meminta para anggotanya mundur karena demonstrasi telah berubah menjadi kerusuhan.
Dari wawancara yang dilakukan, bekas pejabat dan pejabat Freeport menyatakan, mereka terkejut melihat sejumlah orang dengan potongan rambut militer, mengenakan sepatu tempur dan menggenggam radio walkie-talkie di antara para perusuh itu. Orang-orang itu terlihat mengarahkan kerusuhan itu, dan pada satu ketika, mengarahkan massa menuju ke laboratorium Freeport yang kemudian mereka obrak-abrik.
[sunting]
Keamanan
Dokumen-dokumen Freeport menunjukkan, dari tahun 1998 sampai 2004 Freeport memberikan hampir 20 juta dolar kepada para jenderal, kolonel, mayor dan kapten militer dan polisi, dan unit-unit militer. Setiap komandan menerima puluhan ribu dolar, bahkan dalam satu kasus sampai mencapai 150.000 dolar, sebagaimana tertera dalam dokumen itu.
Dokumen-dokumen itu diberikan kepada New York Times oleh seseorang yang dekat dengan Freeport, dan menurut bekas karyawan maupun karyawan Freeport sendiri, dokumen-dokumen itu asli alias otentik. Dalam respon tertulisnya kepada New York Times, Freeport menyatakan bahwa perusahaan itu telah mengambil langkah-langkah yang perlu sesuai dengan undang-undang Amerika Serikat dan Indonesia untuk memberikan lingkungan kerja yang aman bagi lebih dari 18.000 karyawannya maupun karyawan perusahaan-perusahaan kontraktornya. Freeport juga mengatakan tidak punya alternatif lain kecuali tergantung sepenuhnya kepada militer dan polisi Indonesia dan keputusan-keputusan yang diambil dalam kaitannya dengan hubungan dengan pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga keamanannya, adalah kegiatan bisnis biasa.
Dalam waktu singkat, Freeport menghabiskan 35 juta dolar untuk membangun infrastruktur militer — barak-barak, kantor-kantor pusat, ruang-ruang makan, jalan — dan perusahaan juga memberikan para komandan 70 buah mobil jenis Land Rover dan Land Cruiser, yang diganti setiap beberapa tahun. Semua memperoleh sesuatu, bahkan juga angkatan laut dan angkatan udara. Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, ketika itu perusahaan ini sudah merekrut seorang bekas agen lapangan CIA, dan atas rekomendasinya, perusahaan kemudian mendekati seorang atase militer di Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan memintanya untuk bergabung. Kemudian dua orang bekas perwira militer Amerika Serikat direkrut, dan sebuah departemen khusus, yang diberi nama Perencanaan Operasi Darurat (Emergency Planning Operation) didirikan untuk menangani hubungan baru Freeport dengan militer Indonesia.
Departemen Perencanaan Operasi Darurat yang baru ini mulai melakukan pembayaran bulanan kepada para komandan TNI, sementara kantor Pengelolaan Risiko Keamanan (Security Risk Management office) mengatur pembayaran kepada polisi. Informasi ini diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan dan keterangan bekas karyawan dan karyawan Freeport. Menurut dokumen perusahaan, Freeport membayar paling sedikit 20 juta dolar (sekitar Rp 184 miliar) kepada militer dan polisi di Papua dari tahun 1998 sampai bulan Mei 2004. Kemudian ada juga tambahan 10 juta dolar (sekitar Rp 92 miliar) yang juga dibayarkan kepada militer dan polisi pada jangka waktu itu sehingga totalnya sekitar Rp 276 miliar.
New York Times menerima dokumen keuangan Freeport selama tujuh tahun dari seorang yang dekat dengan perusahaan itu. Tambahan dokumen selama tiga tahun diberikan oleh Global Witness, sebuah LSM yang mengeluarkan laporan pada bulan Juli, yang berjudul Paying for Protection (Bayaran Perlindungan) [1] tentang hubungan Freeport dengan militer Indonesia. Diamird 0'Sullivan, yang bekerja untuk Global Witness di London, mengkritik pembayaran yang dilakukan Freeport itu.
Menurut perusahaan, semua pengeluaran yang dilakukannya itu harus melalui proses pemeriksaan anggaran. Catatan yang diterima New York Times menunjukkan adanya pembayaran kepada perwira-perwira militer secara perseorangan yang didaftarkan di bawah topik-topik seperti biaya makanan, jasa administrasi dan tambahan bulanan. Para komandan yang menerima dana tersebut tidak diharuskan menandatangani tanda terima.
Pendeta Lowry, yang pensiun dari Freeport pada bulan Maret 2004 tetapi tetap menjadi konsultan sampai bulan Juni, mengatakan, sebetulnya tidak ada alasan yang cukup bagi Freeport untuk memberikan dana secara langsung kepada para perwira militer itu.
Catatan perusahaan menunjukkan, penerima terbesar adalah komandan pasukan di daerah Freeport, Letnan Kolonel Togap F. Gultom. Selama enam bulan tahun 2001, ia diberikan hanya kurang sedikit dari 100.000 dolar untuk biaya makanan, dan lebih dari 150.000 dolar di tahun berikutnya. Pada tahun 2002, Freeport juga memberikan uang kepada paling tidak 10 komandan lainnya mencapai lebih dari 350.000 dolar untuk biaya makan.
Menurut para bekas karyawan dan karyawan Freeport, pembayaran-pembayaran tersebut dilakukan kepada para perwira itu, kepada istri-istri dan anak-anak mereka, secara perorangan. Yang berpangkat jenderal terbang di kelas satu atau kelas bisnis, dan para perwira yang lebih rendah pada kelas ekonomi, demikian kata Brigadir Jenderal Ramizan Tarigan yang menerima tiket senilai 14.000 dolar pada tahun 2002 untuk dirinya dan anggota keluarganya.
Jenderal Tarigan yang menduduki posisi senior di kepolisian mengatakan, para perwira polisi dibolehkan menerima tiket pesawat udara karena gaji mereka sangat rendah tetapi adalah melanggar peraturan kepolisian untuk menerima pembayaran uang tunai. Pada bulan April 2002, Freeport membayar perwira senior militer di Papua, Mayor Jenderal Mahidin Simbolon, lebih dari 64.000 dolar untuk yang disebut dalam buku keuangan Freeport sebagai "dana untuk rencana proyek militer tahun 2002".
Delapan bulan kemudian, di bulan Desember, Jenderal Simbolon menerima lebih dari 67.000 dolar untuk proyek aksi sipil kemanusiaan. Pembayaran-pembayaran ini pertama kali dilaporkan Global Witness. Jenderal Simbolon, yang kini menjadi Inspektur Jenderal Angkatan Darat Indonesia, menolak permohonan untuk diwawancarai.
Pada tahun 2003, sesudah terjadinya skandal Enron dan disahkannya Undang-undang Sarbanes-Oxley, yang mengharuskan praktik-praktik akuntansi keuangan yang lebih ketat pada perusahaan-perusahaan, Freeport mulai melakukan pembayaran kepada unit-unit militer ketimbang kepada para perwira secara individu. Demikian menurut catatan yang tersedia dan seperti yang dituturkan oleh bekas karyawan dan karyawan perusahaan ini.
Menurut catatan, perusahaan membayar unit-unit polisi di Papua sedikit di bawah angka 1 juta dolar di tahun 2003, didaftarkan di bawah topik-topik seperti "tambahan pembayaran bulanan," "biaya administrasi" dan "dukungan administratif." Freeport menyatakan kepada New York Times, di dalam menentukan jenis dukungan yang dapat diberikan, adalah merupakan kebijakan perusahaan untuk memperhitungkan kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM.” Menurut catatan yang diterima oleh New York Times, pasukan paramiliter polisi, yaitu Brigade Mobil (Brimob), yang sering dikutip oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat karena kekejamannya, menerima lebih dari 200.000 dolar di tahun 2003.
[sunting]
Sumber
Laporan investigatif wartawan New York Times Jane Perlez, Raymond Bonner dan kontributor Evelyn Rusli, "Below a Mountain of Wealth, a River of Waste", 27 Desember 2005.
Disunting dan diberitakan dalam bahasa Indonesia oleh Rakyat Merdeka dengan judul "Menyusuri Sungai Limbah Di Kaki Gunung Emas Freeport" secara bersambung pada 16-22 Februari 2006
Peristiwa
21 Februari 2006, terjadi pengusiran terhadap penduduk setempat yang melakukan pendulangan emas dari sisa-sisa limbah produksi Freeport di Kali Kabur Wanamon. Pengusiran dilakukan oleh aparat gabungan kepolisian dan satpam Freeport. Akibat pengusiran ini terjadi bentrokan dan penembakan. Penduduk sekitar yang mengetahui kejadian itu kemudian menduduki dan menutup jalan utama Freeport di Ridge Camp, di Mile 72-74, selama beberapa hari. Jalan itu merupakan satu-satunya akses ke lokasi pengolahan dan penambangan Grasberg.
22 Februari 2006, sekelompok mahasiswa asal Papua beraksi terhadap penembakan di Timika sehari sebelumnya dengan merusak gedung Plasa 89 di Jakarta yang merupakan gedung tempat PT Freeport Indonesia berkantor.
23 Februari 2006, masyarakat Papua Barat yang tergabung dalam Solidaritas Tragedi Freeport menggelar unjuk rasa di depan Istana, menuntuk presiden untuk menutup Freeport Indonesia. Aksi yang sama juga dilakukan oleh sekitar 50 mahasiswa asal Papua di Manado.
25 Februari 2006, karyawan PT Freeport Indonesia kembali bekerja setelah palang di Mile 74 dibuka.
27 Februari 2006, Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat menduduki kantor PT Freeport Indonesia di Plasa 89, Jakarta. Aksi menentang Freeport juga terjadi di Jayapura dan Manado.
28 Februari 2006, Demonstran di Plasa 89, Jakarta, bentrok dengan polisi. Aksi ini mengakibatkan 8 orang polisi terluka.
1 Maret 2006, demonstrasi selama 3 hari di Plasa 89 berakhir. 8 aktivis LSM yang mendampingi mahasiswa Papua ditangkap dengan tuduhan menyusup ke dalam aksi mahasiswa Papua [6] [7]. Puluhan mahasiswa asal Papua di Makassar berdemonstrasi dan merusak Monumen Pembebasan Irian Barat.
3 Maret 2006, masyarakat Papua di Solo berdemonstrasi menentang Freeport.
7 Maret 2006, demonstrasi di Mile 28, Timika di dekat bandar udara Moses Kilangin mengakibatkan jadwal penerbangan pesawat terganggu.
14 Maret 2006, massa yang membawa anak panah dan tombak menutup checkpoint 28 di Timika. Massa juga mengamuk di depan Hotel Sheraton.
15 Maret 2006, Polisi membubarkan massa di Mile 28 dan menangkap delapan orang yang dituduh merusak Hotel Sheraton. Dua orang polisi terkena anak panah.
16 Maret 2006, aksi pemblokiran jalan di depan Kampus Universitas Cendrawasih, Abepura, Jayapura, oleh masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Parlemen Jalanan dan Front Pepera PB Kota Jayapura, berakhir dengan bentrokan berdarah, menyebabkan 3 orang anggota Brimob dan 1 intelijen TNI tewas dan puluhan luka-luka baik dari pihak mahasiswa dan pihak aparat.
17 Maret 2006, Tiga warga Abepura, Papua, terluka akibat terkena peluru pantulan setelah beberapa anggota Brimob menembakkan senjatanya ke udara di depan Kodim Abepura [10]. Beberapa wartawan televisi yang meliput dianiaya dan dirusak alat kerjanya oleh Brimob.
22 Maret 2006, satu lagi anggota Brimob meninggal dunia setelah berada dalam kondisi kritis selama enam hari
23 Maret 2006, lereng gunung di kawasan pertambangan terbuka PT Freeport Indonesia di Grasberg, longsor dan menimbun sejumlah pekerja. 3 orang meninggal dan puluhan lainnya cedera.
23 Maret 2006, Kementerian Lingkungan Hidup mempublikasi temuan pemantauan dan penataan kualitas lingkungan di wilayah penambangan PT Freeport Indonesia. Hasilnya, Freeport dinilai tak memenuhi batas air limbah dan telah mencemari air laut dan biota laut.
18 April 2007, sekitar 9.000 karyawan Freeport mogok kerja untuk menuntut perbaikan kesejahteraan. Perundingan akhirnya diselesaikan pada 21 April setelah tercapai kesepakatan yang termasuk mengenai kenaikan gaji terendah
21 Oktober 2011, sekitar tiga orang tewas akibat insiden penembakan di kawasan Freeport Timika Papua. Marcelianus, seorang personel polri berpangkat Brigadir Polisi Satu juga tewas tertembak.
@sumber Wikipedia
Apa yang terjadi di negara ini. Mari kita melihat sejarah panjang dari pembentukan bangsa ini. Bangsa yang di cita-citakan kelak menajadi negara merdeka dan bebas dalam menentukan nasibnya sendiri. Namun melihat nasib rakyat yang masih harus menjadi buruh yang diperbudakkan oleh bangsa lain di negrinya sendiri. Tidak salah rasanya jika pribumi di Papua melakukan aksi prostes terhadp makhluk asing yang terus menjarah tanah mereka. Tanah adat yang dijadikan tambang kemudian mereka di usir di kaki gunung.
Seandainya penguasa negeri ini berani mencabut izin Freeport kemudian emas itu diolah sendiri maka tentu hasilnya lebih memuaskan. Bayangkan jika keuntungan yang diraih Amerika setaip detiknya 6 M dan hanya satu persen yang di alihkan ke negara itupun setelah di pangkas sana-sini. Kemungkinan terbesar negara kita akan di embargo. Silahkan. Bukan masalah untuk negara yang sebenarnya kaya seperti Indonesia. Tapi ternyata Penguasa Negara ini juga boneka dari Amerika. Salut untuk perjuangan Rakyat di PAPUA.
Kutemukan jejak tipis dari kisah yang mengantarku menemukan dirimu
Semalam aku baru saja mengantarmu pulang dengan rintik penutup malam
Dingin derai angin menemani menghalau badai ketakutan tipis di fikiranmu
Berupaya kaburkan rindu yang kubiarkan terlantar
Aku bukan takut kehilangan tapi sekedar aku mencintai bagian ini
Kemarin saat kita menghabiskan sepotong malam di teras rumahmu
Aku menemukan urat wajahku di keningmu
Kutatap sampai kau tertidur dalam bingkai hangatku
Aku tak mengenalmu lebih dari pertanyaan
Kau hadir dalam imajinasi waktu yang terus menjalar dalam ingatanku
Kau hidup di nadiku sebagai nyawa yang tiap waktu sang malaikat bisa saja mencabutnya tanpa seizinku.
Aku menempatkanmu pada sisi kiri tubuhku
Dalam bagian rindu namamulah yang akan tiap saat mendekat untuk dirindukan
Setelah kau tanyakan padaku tentang rindu itu
Kini kubiarkan angin membawanya menemukan sukma kehidupan
Aku membiarkan diriku terbiasa untuk menyepi
Karena kutahu ini akan lama saat aku kembali menemukan apa yang kau tanya
Kesepian ini yang menarikku ke keranda takdirku
Makassar 17-19-2012
Semalam aku baru saja mengantarmu pulang dengan rintik penutup malam
Dingin derai angin menemani menghalau badai ketakutan tipis di fikiranmu
Berupaya kaburkan rindu yang kubiarkan terlantar
Aku bukan takut kehilangan tapi sekedar aku mencintai bagian ini
Kemarin saat kita menghabiskan sepotong malam di teras rumahmu
Aku menemukan urat wajahku di keningmu
Kutatap sampai kau tertidur dalam bingkai hangatku
Aku tak mengenalmu lebih dari pertanyaan
Kau hadir dalam imajinasi waktu yang terus menjalar dalam ingatanku
Kau hidup di nadiku sebagai nyawa yang tiap waktu sang malaikat bisa saja mencabutnya tanpa seizinku.
Aku menempatkanmu pada sisi kiri tubuhku
Dalam bagian rindu namamulah yang akan tiap saat mendekat untuk dirindukan
Setelah kau tanyakan padaku tentang rindu itu
Kini kubiarkan angin membawanya menemukan sukma kehidupan
Aku membiarkan diriku terbiasa untuk menyepi
Karena kutahu ini akan lama saat aku kembali menemukan apa yang kau tanya
Kesepian ini yang menarikku ke keranda takdirku
Makassar 17-19-2012
mengapa kamu memilih menjadi pelacur?
tanyaku pada seorang wanita
di ujung jalan memarkir tubuhnya yang hampir mirip telanjang
membasuh sisa mani diselangkangannya
terpaksa
jawabnya lirih menutup wajahnya
semua demi anak dan sisa kenangan pada mantan suaminya
keras hidup dia lalui sendiri
membungkam malu demi kelanjutan nafas anaknya
bukan salah siapa-siapa
semua bisa menyalahkan
tapi apakah mereka mengerti dan ingin berbagi bahagia
siapapun tak ingin terjebak
namun kadang situasi memaksa untuk melakukannya
kutanya lagi
apakah ini benar
jawabnya singkat dan wajahnya mengusirku
tidak dan tidak akan pernah benar
18.09.2011
tanyaku pada seorang wanita
di ujung jalan memarkir tubuhnya yang hampir mirip telanjang
membasuh sisa mani diselangkangannya
terpaksa
jawabnya lirih menutup wajahnya
semua demi anak dan sisa kenangan pada mantan suaminya
keras hidup dia lalui sendiri
membungkam malu demi kelanjutan nafas anaknya
bukan salah siapa-siapa
semua bisa menyalahkan
tapi apakah mereka mengerti dan ingin berbagi bahagia
siapapun tak ingin terjebak
namun kadang situasi memaksa untuk melakukannya
kutanya lagi
apakah ini benar
jawabnya singkat dan wajahnya mengusirku
tidak dan tidak akan pernah benar
18.09.2011
Semoga kami tidak lahir dari kaki-kaki penguasa
Yang dibuat dari unsur tatanan yang baku akan penindasan
Menutup jeritan kami dengan halusinasi palsu akan kebenaran
Ketidakadilan menjadi jaminan atas keberlangsungan hidup
Cukup sudah derita yang semestinya tidak menjadi takdir kami.
Bagi penguasa negri ini
Jika rakyat terlantar dan kerontang meminta keadilan yang benar
Para ibu susah mengepul asap di dapur akibat bahan pokok melambung
Dan kami masih mendapati kaum buruh tak mendapatkan upah layak
Haruskah tirani kebangsawananmu kamu ambrukkan dengan darah perjuangan
Selama bendera revolusi belum menjadi putih
Masih ada kejantanan untuk menekukkan lututmu
Dan menjilat hasil lendir di kemaluanmu
Seperti itulah sebagaian rasa dari kami yang hidup dibawah merah putih
Garuda terbang meninggalkan kami
Tinggallah buih dihantam gelombang pertiwi
10.01.12
Yang dibuat dari unsur tatanan yang baku akan penindasan
Menutup jeritan kami dengan halusinasi palsu akan kebenaran
Ketidakadilan menjadi jaminan atas keberlangsungan hidup
Cukup sudah derita yang semestinya tidak menjadi takdir kami.
Bagi penguasa negri ini
Jika rakyat terlantar dan kerontang meminta keadilan yang benar
Para ibu susah mengepul asap di dapur akibat bahan pokok melambung
Dan kami masih mendapati kaum buruh tak mendapatkan upah layak
Haruskah tirani kebangsawananmu kamu ambrukkan dengan darah perjuangan
Selama bendera revolusi belum menjadi putih
Masih ada kejantanan untuk menekukkan lututmu
Dan menjilat hasil lendir di kemaluanmu
Seperti itulah sebagaian rasa dari kami yang hidup dibawah merah putih
Garuda terbang meninggalkan kami
Tinggallah buih dihantam gelombang pertiwi
10.01.12
Diposting oleh
Unknown
di
00.05
Rolf de Maré was born in Stockholm in 1888. In 1913 he made friends with post-impressionist painter Nils von Dardel
who was not particularly well off, but imaginative and talented, while
de Maré was enthusiastic and had money. Together they were a very
fruitful duo and in 1920 they created Ballets Suédois at the Théâtre des Champs-Élysées in Paris. In the autumn of 1924 Giorgio de Chirico curated the scenography and costumes for Pirandello's La Giara. In 1933, Rolf de Maré founded Les Archives internationales de la Danse (AID) in Paris — the world's first museum and research institute for dance.
The Archive became a famous centre for studies in dance and visitors
came from all over the world to see exhibitions or to study in its vast
library. The dance center also published its own magazine and books,
arranged lecture demonstrations in the building which de Maré had
constructed for his dance centre. After the World War
the archives had grown too large for a private person to maintain, de
Maré closed his business in Paris and donated parts of the collections —
some 6,000 books, engravings and other items, all concerned mainly with
Western dance — to the French government which placed them at the museum and library of the Paris Opera.
However, the museum declined to accept two substantial elements of de
Maré's collection: firstly, material from the Ballets Suédois, and
secondly, the fruits of his expedition of exploration to Indonesia in 1936 — the first to have been undertaken with the purpose of documenting dance.
Therefore, the collection from the Swedish Ballet in Paris and the
non-European collections were brought by de Maré to Stockholm to form
the Dance Museum, which he opened in 1953 in the basement of the Royal Swedish Opera
in Stockholm. On his death he made the Dance Museum the sole heir to
his fortune, and this enabled the museum to make further acquisitions. After dissolving the Ballets Suedois in 1925, de Maré made no attempt
to revive its works. The various, concrete collectibles de Maré amassed
and that exist today as the bedrock of Stockholm's Dance Museum,
illuminate our picture of him as archivist and art collector, all the while they question his role as a connoisseur
of a theater based on the art of dancing. Throughout his life, Rolf de
Maré was also a distinguished art collector. In the early 1960s, he made
an important donation of modernist art to the Moderna Museet. Rolf de Maré died in Barcelona in 1964.
Rolf de Mare (1888 - 1964) was an art collector and leader Suédois Swedish Ballet in Paris 1920-1925. In 1933, Rolf de Mare was founded "Les Archives Internationales de la Danse" (AID) in Paris a world's first museum and research institute for dance. Archives became famous center for studies in dance and visitors come from all over the world to see the exhibition or to study in the extensive library. After the war, de Mare donated his collection of Swedish Ballet in Paris and the fruits of exploration expedition to Indonesia in 1938 - the first has been done with the purpose of documenting dance - to Stockholm to form the Museum of Dance, which he opened in 1953. During his visit to Indonesia Rolf de Mare, also took to the land of southern Sulawesi to mengdokumentasikan Bugis Makassar culture's land. Here is a set of photographs of works of Rolf de Mare who was in grimy from digitalgallery.nypl.org.
Berikut Karya Rolf de Mare tentang Budaya Bugis Makassar di Tahun 1938
aku berani mencintaimu lebih besar dari Tuhan
tapi aku tahu Tuhan akan marah
aku bisa mencintaimu lebih besar dari Orang Tuaku
tapi aku tahu Orang Tuaku akan kecewa
aku mampu mencintaimu lebih besar dari Saudaraku
tapi aku tahu Saudaraku akan menyesal
aku dapat mencintaimu lebih besar dari Sahabatku
tapi aku tahu Sahabatku akan terluka
saat aku menemukan Tuhan dalam dirimu
dan aku dapati kau mulai untuk mencariku
aku tersadar kemampuanku hanya sebatas mencintaimu lebih dari diriku sendiri
kubenamkan pada keyakinanku untuk menjadikan ini sebagai kisah
meski aku tahu keberadaanku hanya untuk ini saja
terlepas dari waktu yang akan menarikmu kembali
aku salamkan pada penghujung kelak yang akan menentukan.
[CR]
18.12.2011
tapi aku tahu Tuhan akan marah
aku bisa mencintaimu lebih besar dari Orang Tuaku
tapi aku tahu Orang Tuaku akan kecewa
aku mampu mencintaimu lebih besar dari Saudaraku
tapi aku tahu Saudaraku akan menyesal
aku dapat mencintaimu lebih besar dari Sahabatku
tapi aku tahu Sahabatku akan terluka
saat aku menemukan Tuhan dalam dirimu
dan aku dapati kau mulai untuk mencariku
aku tersadar kemampuanku hanya sebatas mencintaimu lebih dari diriku sendiri
kubenamkan pada keyakinanku untuk menjadikan ini sebagai kisah
meski aku tahu keberadaanku hanya untuk ini saja
terlepas dari waktu yang akan menarikmu kembali
aku salamkan pada penghujung kelak yang akan menentukan.
[CR]
18.12.2011
Baru saja kembali dari pelukan misteri
Sempat aku tujukan tanya pada hatimu
Namun kau sendiri belum cukup yakin
Aku dipersalahkan namun banyak yang membenarkan
Menunggu nampaknya akan mengajarimu kesabaran
Alasan utama yang membuatku memaksamu untuk merasakannya
Maaf jika jenuh
Bukankah akan lebih banyak badai yang akan menahan langkah
Rasa sayang itu kehendak hatiBukan harus dipaksakan dan terpaksa
Aku kembali bertanya adakah dirimu kini sudah yakin?
[CR]
27.11.2011
Sempat aku tujukan tanya pada hatimu
Namun kau sendiri belum cukup yakin
Aku dipersalahkan namun banyak yang membenarkan
Menunggu nampaknya akan mengajarimu kesabaran
Alasan utama yang membuatku memaksamu untuk merasakannya
Maaf jika jenuh
Bukankah akan lebih banyak badai yang akan menahan langkah
Rasa sayang itu kehendak hatiBukan harus dipaksakan dan terpaksa
Aku kembali bertanya adakah dirimu kini sudah yakin?
[CR]
27.11.2011
Diposting oleh
Unknown
di
05.19
Kisah ini adalah RAHASIA terbesar bagi seorang pemuda yang dalam
catatan ini dirinya sengaja aku palsukan. Kisahnya yang sempat tercatat
dalam buku harian ini penuh dengan alur yang mampu menggugah nalar dan
nurani. Perjalanan hidupnya yang begitu kejam serta sikapnya yang
pantang menyerah mampu menjadi kiblat bagi para remaja dalam menyikapi
kehidupan ini. Buku catatan yang berhasil diselamatkan sebelum
pemiliknya sempat membakar sajarah ini menyimpan berbagai macam rasa
yang membuat kita tertarik untuk mengenal lebih dalam akan sosoknya.
Naming butuh waktu dua bulan untuk meyakinkan pemiliknya agar mau
memberikan buku itu kemudian setelah mendapat izin saya rangkum menjadi
potongan yang sederhana namun penuh sesak dan emosi. Kehidupan
memberinya penjelasan yang menjadikannya seperti ini. Kisahnya menjadi
inspirasi bagi saya dan mungkin juga orang lain.
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..
Diposting oleh
Unknown
di
03.15
deras tipis mendera
dan kau masih memanggil lembayu kesunyian
sudahi menguntit penyesalan
tutup kata di akhir tahun
marilah kita benahi warangka badik ini.
episode sepi I
31.12.2011
dan kau masih memanggil lembayu kesunyian
sudahi menguntit penyesalan
tutup kata di akhir tahun
marilah kita benahi warangka badik ini.
episode sepi I
31.12.2011
Langganan:
Postingan (Atom)
4.11.2012
Sedikit Komentar Mengenai PT Freeport
PT. Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.. Perusahaan ini adalah pembayar pajak terbesar kepada Indonesia dan merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. Freeport Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua, masing-masing tambang Erstberg (dari 1967) dan tambang Grasberg (sejak 1988), di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
Freeport berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan 2,3 miliar dolar AS. Menurut Freeport, keberadaannya memberikan manfaat langsung dan tidak langsung kepada Indonesia sebesar 33 miliar dolar dari tahun 1992–2004. Angka ini hampir sama dengan 2 persen PDB Indonesia. Dengan harga emas mencapai nilai tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yaitu 540 dolar per ons, Freeport diperkirakan akan mengisi kas pemerintah sebesar 1 miliar dolar.
Mining International, sebuah majalah perdagangan, menyebut tambang emas Freeport sebagai yang terbesar di dunia.
Pada tahun 2003 Freeport Indonesia mengaku bahwa mereka telah membayar TNI untuk mengusir para penduduk setempat dari wilayah mereka. Menurut laporan New York Times pada Desember 2005, jumlah yang telah dibayarkan antara tahun 1998 dan 2004 mencapai hampir 20 juta dolar AS. Freeport Indonesia sering dikabarkan telah melakukan penganiayaan terhadap para penduduk setempat. Pada Tahun 2011 seorang buruh bernama Petrus Ajam Seba seorang buruh di PT. Freeport terbunuh
Kontroversi PT Freeport
Menurut karyawan dan bekas karyawan Freeport, selama bertahun-tahun James R Moffett, seorang ahli geologi kelahiran Louisiana, yang juga adalah pimpinan perusahaan ini, dengan tekun membina persahabatan dengan Presiden Soeharto, dan kroni-kroninya. Ini dilakukannya untuk mengamankan usaha Freeport. Freeport membayar ongkos-ongkos mereka berlibur, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka, termasuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Surat-surat dan dokumen-dokumen lain yang diberikan kepada New York Times oleh para pejabat pemerintah menunjukkan, Kementerian Lingkungan Hidup telah berkali-kali memperingatkan perusahaan ini sejak tahun 1997, Freeport melanggar peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup. Menurut perhitungan Freeport sendiri, penambangan mereka dapat menghasilkan limbah/bahan buangan sebesar kira-kira 6 miliar ton (lebih dari dua kali bahan-bahan bumi yang digali untuk membuat Terusan Panama). Kebanyakan dari limbah itu dibuang di pegunungan di sekitar lokasi pertambangan, atau ke sistem sungai-sungai yang mengalir turun ke dataran rendah basah, yang dekat dengan Taman Nasional Lorentz, sebuah hutan hujan tropis yang telah diberikan status khusus oleh PBB.
Sebuah studi bernilai jutaan dolar tahun 2002 yang dilakukan Parametrix, perusahaan konsultan Amerika, dibayar oleh Freeport dan Rio Tinto, mitra bisnisnya, yang hasilnya tidak pernah diumumkan mencatat, bagian hulu sungai dan daerah dataran rendah basah yang dibanjiri dengan limbah tambang itu sekarang tidak cocok untuk kehidupan makhluk hidup akuatik. Laporan itu diserahkan ke New York Times oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. New York Times berkali-kali meminta izin kepada Freeport dan pemerintah Indonesia untuk mengunjungi tambang dan daerah di sekitarnya karena untuk itu diperlukan izin khusus bagi wartawan. Semua permintaan itu ditolak. Freeport hanya memberikan respon secara tertulis. Sebuah surat yang ditandatangani oleh Stanley S Arkin, penasihat hukum perusahaan ini menyatakan, Grasberg adalah tambang tembaga, dengan emas sebagai produk sampingan, dan bahwa banyak wartawan telah mengunjungi pertambangan itu sebelum pemerintah Indonesia memperketat aturan pada tahun 1990-an.
Menyadap e-mail
Menurut seorang pejabat dan dua bekas pejabat perusahaan yang terlibat dalam mengembangkan suatu program rahasia, Freeport selama ini menyadap e-mail para aktivis lingkungan yang melawan perusahaan ini untuk memata-matai apa yang mereka lakukan. Freeport menolak mengomentari hal ini. Freeport bergandengan tangan dengan perwira-perwira intelijen TNI, mulai menyadap korespondensi e-mail dan percakapan telepon lawan-lawan aktivis lingkungannya. Hal ini dikatakan oleh seorang karyawan Freeport yang terlibat dalam kegiatan ini dan bertugas membaca e-mail-e-mail tersebut.
Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, perusahaan ini juga membuat sistemnya sendiri untuk mencuri berita-berita melalui e-mail. Caranya adalah dengan membentuk sebuah kelompok pecinta lingkungan gadungan, yang meminta mereka yang berminat untuk mendaftar secara online dengan menggunakan kode rahasia (password) tertentu. Banyak di antara mereka yang mendaftar itu menggunakan password yang sama seperti yang mereka gunakan untuk e-mail mereka. Dengan cara ini, Freeport dengan gampang mencuri berita. Menurut seseorang yang waktu itu bekerja untuk perusahaan ini, awalnya para pengacara Freeport khawatir dengan pencurian ini. Tetapi, mereka kemudian memutuskan, secara legal perusahaan itu tidak dilarang untuk membaca e-mail pihak-pihak di luar negeri.
Hubungan Freeport dan TNI
Selama bertahun-tahun, Freeport memiliki unit pengamanannya sendiri, sementara militer Indonesia memerangi perlawanan separatis yang lemah dan rendah gerakannya. Kemudian kebutuhan keamanan ini mulai saling terkait.
Tidak ada investigasi yang menemukan keterkaitan Freeport secara langsung dengan pelanggaran HAM, tetapi semakin banyak orang-orang Papua yang menghubungkan Freeport dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh TNI, dan pada sejumlah kasus kekerasan itu dilakukan dengan menggunakan fasilitas Freeport. Seorang ahli antropologi Australia, Chris Ballard, yang pernah bekerja untuk Freeport, dan Abigail Abrash, seorang aktivis HAM dari Amerika Serikat, memperkirakan, sebanyak 160 orang telah dibunuh oleh militer antara tahun 1975–1997 di daerah tambang dan sekitarnya.
Pada bulan Maret 1996, kemarahan terhadap perusahaan pecah dalam bentuk kerusuhan ketika sentimen anti-perusahaan dari beberapa kelompok yang berbeda bergabung.
Freeport menyadap berita-berita dalam e-mail. Menurut dua orang yang membaca e-mail-e-mail itu pada saat itu, ada unit-unit militer tertentu, masyarakat setempat, dan kelompok-kelompok lingkungan hidup yang bekerjasama. Sebuah pertukaran informasi dengan menggunakan e-mail antara seorang tokoh masyarakat dengan pimpinan organisasi lingkungan hidup penuh dengan taktik intelijen militer. Dalam e-mail yang lain, seorang pimpinan organisasi lingkungan meminta para anggotanya mundur karena demonstrasi telah berubah menjadi kerusuhan.
Dari wawancara yang dilakukan, bekas pejabat dan pejabat Freeport menyatakan, mereka terkejut melihat sejumlah orang dengan potongan rambut militer, mengenakan sepatu tempur dan menggenggam radio walkie-talkie di antara para perusuh itu. Orang-orang itu terlihat mengarahkan kerusuhan itu, dan pada satu ketika, mengarahkan massa menuju ke laboratorium Freeport yang kemudian mereka obrak-abrik.
Keamanan
Dokumen-dokumen Freeport menunjukkan, dari tahun 1998 sampai 2004 Freeport memberikan hampir 20 juta dolar kepada para jenderal, kolonel, mayor dan kapten militer dan polisi, dan unit-unit militer. Setiap komandan menerima puluhan ribu dolar, bahkan dalam satu kasus sampai mencapai 150.000 dolar, sebagaimana tertera dalam dokumen itu.
Dokumen-dokumen itu diberikan kepada New York Times oleh seseorang yang dekat dengan Freeport, dan menurut bekas karyawan maupun karyawan Freeport sendiri, dokumen-dokumen itu asli alias otentik. Dalam respon tertulisnya kepada New York Times, Freeport menyatakan bahwa perusahaan itu telah mengambil langkah-langkah yang perlu sesuai dengan undang-undang Amerika Serikat dan Indonesia untuk memberikan lingkungan kerja yang aman bagi lebih dari 18.000 karyawannya maupun karyawan perusahaan-perusahaan kontraktornya. Freeport juga mengatakan tidak punya alternatif lain kecuali tergantung sepenuhnya kepada militer dan polisi Indonesia dan keputusan-keputusan yang diambil dalam kaitannya dengan hubungan dengan pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga keamanannya, adalah kegiatan bisnis biasa.
Dalam waktu singkat, Freeport menghabiskan 35 juta dolar untuk membangun infrastruktur militer — barak-barak, kantor-kantor pusat, ruang-ruang makan, jalan — dan perusahaan juga memberikan para komandan 70 buah mobil jenis Land Rover dan Land Cruiser, yang diganti setiap beberapa tahun. Semua memperoleh sesuatu, bahkan juga angkatan laut dan angkatan udara. Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, ketika itu perusahaan ini sudah merekrut seorang bekas agen lapangan CIA, dan atas rekomendasinya, perusahaan kemudian mendekati seorang atase militer di Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan memintanya untuk bergabung. Kemudian dua orang bekas perwira militer Amerika Serikat direkrut, dan sebuah departemen khusus, yang diberi nama Perencanaan Operasi Darurat (Emergency Planning Operation) didirikan untuk menangani hubungan baru Freeport dengan militer Indonesia.
Departemen Perencanaan Operasi Darurat yang baru ini mulai melakukan pembayaran bulanan kepada para komandan TNI, sementara kantor Pengelolaan Risiko Keamanan (Security Risk Management office) mengatur pembayaran kepada polisi. Informasi ini diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan dan keterangan bekas karyawan dan karyawan Freeport. Menurut dokumen perusahaan, Freeport membayar paling sedikit 20 juta dolar (sekitar Rp 184 miliar) kepada militer dan polisi di Papua dari tahun 1998 sampai bulan Mei 2004. Kemudian ada juga tambahan 10 juta dolar (sekitar Rp 92 miliar) yang juga dibayarkan kepada militer dan polisi pada jangka waktu itu sehingga totalnya sekitar Rp 276 miliar.
New York Times menerima dokumen keuangan Freeport selama tujuh tahun dari seorang yang dekat dengan perusahaan itu. Tambahan dokumen selama tiga tahun diberikan oleh Global Witness, sebuah LSM yang mengeluarkan laporan pada bulan Juli, yang berjudul Paying for Protection (Bayaran Perlindungan) [1] tentang hubungan Freeport dengan militer Indonesia. Diamird 0'Sullivan, yang bekerja untuk Global Witness di London, mengkritik pembayaran yang dilakukan Freeport itu.
Menurut perusahaan, semua pengeluaran yang dilakukannya itu harus melalui proses pemeriksaan anggaran. Catatan yang diterima New York Times menunjukkan adanya pembayaran kepada perwira-perwira militer secara perseorangan yang didaftarkan di bawah topik-topik seperti biaya makanan, jasa administrasi dan tambahan bulanan. Para komandan yang menerima dana tersebut tidak diharuskan menandatangani tanda terima.
Pendeta Lowry, yang pensiun dari Freeport pada bulan Maret 2004 tetapi tetap menjadi konsultan sampai bulan Juni, mengatakan, sebetulnya tidak ada alasan yang cukup bagi Freeport untuk memberikan dana secara langsung kepada para perwira militer itu.
Catatan perusahaan menunjukkan, penerima terbesar adalah komandan pasukan di daerah Freeport, Letnan Kolonel Togap F. Gultom. Selama enam bulan tahun 2001, ia diberikan hanya kurang sedikit dari 100.000 dolar untuk biaya makanan, dan lebih dari 150.000 dolar di tahun berikutnya. Pada tahun 2002, Freeport juga memberikan uang kepada paling tidak 10 komandan lainnya mencapai lebih dari 350.000 dolar untuk biaya makan.
Menurut para bekas karyawan dan karyawan Freeport, pembayaran-pembayaran tersebut dilakukan kepada para perwira itu, kepada istri-istri dan anak-anak mereka, secara perorangan. Yang berpangkat jenderal terbang di kelas satu atau kelas bisnis, dan para perwira yang lebih rendah pada kelas ekonomi, demikian kata Brigadir Jenderal Ramizan Tarigan yang menerima tiket senilai 14.000 dolar pada tahun 2002 untuk dirinya dan anggota keluarganya.
Jenderal Tarigan yang menduduki posisi senior di kepolisian mengatakan, para perwira polisi dibolehkan menerima tiket pesawat udara karena gaji mereka sangat rendah tetapi adalah melanggar peraturan kepolisian untuk menerima pembayaran uang tunai. Pada bulan April 2002, Freeport membayar perwira senior militer di Papua, Mayor Jenderal Mahidin Simbolon, lebih dari 64.000 dolar untuk yang disebut dalam buku keuangan Freeport sebagai "dana untuk rencana proyek militer tahun 2002".
Delapan bulan kemudian, di bulan Desember, Jenderal Simbolon menerima lebih dari 67.000 dolar untuk proyek aksi sipil kemanusiaan. Pembayaran-pembayaran ini pertama kali dilaporkan Global Witness. Jenderal Simbolon, yang kini menjadi Inspektur Jenderal Angkatan Darat Indonesia, menolak permohonan untuk diwawancarai.
Pada tahun 2003, sesudah terjadinya skandal Enron dan disahkannya Undang-undang Sarbanes-Oxley, yang mengharuskan praktik-praktik akuntansi keuangan yang lebih ketat pada perusahaan-perusahaan, Freeport mulai melakukan pembayaran kepada unit-unit militer ketimbang kepada para perwira secara individu. Demikian menurut catatan yang tersedia dan seperti yang dituturkan oleh bekas karyawan dan karyawan perusahaan ini.
Menurut catatan, perusahaan membayar unit-unit polisi di Papua sedikit di bawah angka 1 juta dolar di tahun 2003, didaftarkan di bawah topik-topik seperti "tambahan pembayaran bulanan," "biaya administrasi" dan "dukungan administratif." Freeport menyatakan kepada New York Times, di dalam menentukan jenis dukungan yang dapat diberikan, adalah merupakan kebijakan perusahaan untuk memperhitungkan kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM.” Menurut catatan yang diterima oleh New York Times, pasukan paramiliter polisi, yaitu Brigade Mobil (Brimob), yang sering dikutip oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat karena kekejamannya, menerima lebih dari 200.000 dolar di tahun 2003. @sumber Wikipedia Indonesia
Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi di negara ini. Untuk kesekian kalinya rakyat jadi korban ketidakadilan oleh rezim pemerintah yang saat ini berkuasa. Berapa banyak kemungkinan yang sebenarnya bisa terjadi. Namun mengapa hanya ada satu pilihan. Menderita dan terus menderita sampai mati. Rakyat harus menunggu sampai kapan untuk seperti ini. Saat harga pangan naik dan mereka tetap menjadi buruh yang dibudakkan dinegaranya sendiri.
Sebenarnya sekuat apa tenaga asing mengatur negara ini sehingga untuk mencabut izin Freeport di Papua saja sangat sulit. Jelas disana terjadi kesenjangan yang luar biasa antara pribumi dan makhluk asing. Saat emas negara ini dikeruk habis dan kita hanya menjadi buruh untuk kekayaan mereka. Bayangkan jika setiap detik keuntungan untuk perusahaan itu mencapai 6 M dan hanya satu persen yang lari kenegara itupun setelah dipangkas sana-sini oleh pemerintah daerah. Jadilah kita negara yang terus tertinggal, miskin, memalukan dan hanya bisa mempercayai mitos nenek moyang.
Bayangkan jika presiden berani mengambil keputusan untuk mencabut izin perusahaan itu kemudian emas diolah di negara sendiri, betapa makmurnya negara ini. Kemungkinan terdekat adalah kita akan di embargo habis-habisan tapi kita punya kekuatan untuk bangkit. Pesan Presiden Soekarno Berdikari "berdiri di atas kaki sendiri" sepertinya layak untuk kembali diperjuangkan saat ini.. Kita punya kekayaan alam yang luar biasa melimpah tapi mengapa bangsa lain tidak berani mengembargo negara kita? Jelas mereka takut akan kehilangan untung jadinya kita sendiri yang buntung. Melihat gejolak rakyat Papua, rasanya tidak salah jika mereka melakukan aksi protes saat melihat nasib mereka sendiri. Jadi rasanya lumayan rumit mengatasi masalah ini jika pemerintah sendiri yang kurang tegas mengatasinya.
Freeport berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan 2,3 miliar dolar AS. Menurut Freeport, keberadaannya memberikan manfaat langsung dan tidak langsung kepada Indonesia sebesar 33 miliar dolar dari tahun 1992–2004. Angka ini hampir sama dengan 2 persen PDB Indonesia. Dengan harga emas mencapai nilai tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yaitu 540 dolar per ons, Freeport diperkirakan akan mengisi kas pemerintah sebesar 1 miliar dolar.
Mining International, sebuah majalah perdagangan, menyebut tambang emas Freeport sebagai yang terbesar di dunia.
Pada tahun 2003 Freeport Indonesia mengaku bahwa mereka telah membayar TNI untuk mengusir para penduduk setempat dari wilayah mereka. Menurut laporan New York Times pada Desember 2005, jumlah yang telah dibayarkan antara tahun 1998 dan 2004 mencapai hampir 20 juta dolar AS. Freeport Indonesia sering dikabarkan telah melakukan penganiayaan terhadap para penduduk setempat. Pada Tahun 2011 seorang buruh bernama Petrus Ajam Seba seorang buruh di PT. Freeport terbunuh
Kontroversi PT Freeport
Menurut karyawan dan bekas karyawan Freeport, selama bertahun-tahun James R Moffett, seorang ahli geologi kelahiran Louisiana, yang juga adalah pimpinan perusahaan ini, dengan tekun membina persahabatan dengan Presiden Soeharto, dan kroni-kroninya. Ini dilakukannya untuk mengamankan usaha Freeport. Freeport membayar ongkos-ongkos mereka berlibur, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka, termasuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Surat-surat dan dokumen-dokumen lain yang diberikan kepada New York Times oleh para pejabat pemerintah menunjukkan, Kementerian Lingkungan Hidup telah berkali-kali memperingatkan perusahaan ini sejak tahun 1997, Freeport melanggar peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup. Menurut perhitungan Freeport sendiri, penambangan mereka dapat menghasilkan limbah/bahan buangan sebesar kira-kira 6 miliar ton (lebih dari dua kali bahan-bahan bumi yang digali untuk membuat Terusan Panama). Kebanyakan dari limbah itu dibuang di pegunungan di sekitar lokasi pertambangan, atau ke sistem sungai-sungai yang mengalir turun ke dataran rendah basah, yang dekat dengan Taman Nasional Lorentz, sebuah hutan hujan tropis yang telah diberikan status khusus oleh PBB.
Sebuah studi bernilai jutaan dolar tahun 2002 yang dilakukan Parametrix, perusahaan konsultan Amerika, dibayar oleh Freeport dan Rio Tinto, mitra bisnisnya, yang hasilnya tidak pernah diumumkan mencatat, bagian hulu sungai dan daerah dataran rendah basah yang dibanjiri dengan limbah tambang itu sekarang tidak cocok untuk kehidupan makhluk hidup akuatik. Laporan itu diserahkan ke New York Times oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. New York Times berkali-kali meminta izin kepada Freeport dan pemerintah Indonesia untuk mengunjungi tambang dan daerah di sekitarnya karena untuk itu diperlukan izin khusus bagi wartawan. Semua permintaan itu ditolak. Freeport hanya memberikan respon secara tertulis. Sebuah surat yang ditandatangani oleh Stanley S Arkin, penasihat hukum perusahaan ini menyatakan, Grasberg adalah tambang tembaga, dengan emas sebagai produk sampingan, dan bahwa banyak wartawan telah mengunjungi pertambangan itu sebelum pemerintah Indonesia memperketat aturan pada tahun 1990-an.
Menyadap e-mail
Menurut seorang pejabat dan dua bekas pejabat perusahaan yang terlibat dalam mengembangkan suatu program rahasia, Freeport selama ini menyadap e-mail para aktivis lingkungan yang melawan perusahaan ini untuk memata-matai apa yang mereka lakukan. Freeport menolak mengomentari hal ini. Freeport bergandengan tangan dengan perwira-perwira intelijen TNI, mulai menyadap korespondensi e-mail dan percakapan telepon lawan-lawan aktivis lingkungannya. Hal ini dikatakan oleh seorang karyawan Freeport yang terlibat dalam kegiatan ini dan bertugas membaca e-mail-e-mail tersebut.
Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, perusahaan ini juga membuat sistemnya sendiri untuk mencuri berita-berita melalui e-mail. Caranya adalah dengan membentuk sebuah kelompok pecinta lingkungan gadungan, yang meminta mereka yang berminat untuk mendaftar secara online dengan menggunakan kode rahasia (password) tertentu. Banyak di antara mereka yang mendaftar itu menggunakan password yang sama seperti yang mereka gunakan untuk e-mail mereka. Dengan cara ini, Freeport dengan gampang mencuri berita. Menurut seseorang yang waktu itu bekerja untuk perusahaan ini, awalnya para pengacara Freeport khawatir dengan pencurian ini. Tetapi, mereka kemudian memutuskan, secara legal perusahaan itu tidak dilarang untuk membaca e-mail pihak-pihak di luar negeri.
Hubungan Freeport dan TNI
Selama bertahun-tahun, Freeport memiliki unit pengamanannya sendiri, sementara militer Indonesia memerangi perlawanan separatis yang lemah dan rendah gerakannya. Kemudian kebutuhan keamanan ini mulai saling terkait.
Tidak ada investigasi yang menemukan keterkaitan Freeport secara langsung dengan pelanggaran HAM, tetapi semakin banyak orang-orang Papua yang menghubungkan Freeport dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh TNI, dan pada sejumlah kasus kekerasan itu dilakukan dengan menggunakan fasilitas Freeport. Seorang ahli antropologi Australia, Chris Ballard, yang pernah bekerja untuk Freeport, dan Abigail Abrash, seorang aktivis HAM dari Amerika Serikat, memperkirakan, sebanyak 160 orang telah dibunuh oleh militer antara tahun 1975–1997 di daerah tambang dan sekitarnya.
Pada bulan Maret 1996, kemarahan terhadap perusahaan pecah dalam bentuk kerusuhan ketika sentimen anti-perusahaan dari beberapa kelompok yang berbeda bergabung.
Freeport menyadap berita-berita dalam e-mail. Menurut dua orang yang membaca e-mail-e-mail itu pada saat itu, ada unit-unit militer tertentu, masyarakat setempat, dan kelompok-kelompok lingkungan hidup yang bekerjasama. Sebuah pertukaran informasi dengan menggunakan e-mail antara seorang tokoh masyarakat dengan pimpinan organisasi lingkungan hidup penuh dengan taktik intelijen militer. Dalam e-mail yang lain, seorang pimpinan organisasi lingkungan meminta para anggotanya mundur karena demonstrasi telah berubah menjadi kerusuhan.
Dari wawancara yang dilakukan, bekas pejabat dan pejabat Freeport menyatakan, mereka terkejut melihat sejumlah orang dengan potongan rambut militer, mengenakan sepatu tempur dan menggenggam radio walkie-talkie di antara para perusuh itu. Orang-orang itu terlihat mengarahkan kerusuhan itu, dan pada satu ketika, mengarahkan massa menuju ke laboratorium Freeport yang kemudian mereka obrak-abrik.
Keamanan
Dokumen-dokumen Freeport menunjukkan, dari tahun 1998 sampai 2004 Freeport memberikan hampir 20 juta dolar kepada para jenderal, kolonel, mayor dan kapten militer dan polisi, dan unit-unit militer. Setiap komandan menerima puluhan ribu dolar, bahkan dalam satu kasus sampai mencapai 150.000 dolar, sebagaimana tertera dalam dokumen itu.
Dokumen-dokumen itu diberikan kepada New York Times oleh seseorang yang dekat dengan Freeport, dan menurut bekas karyawan maupun karyawan Freeport sendiri, dokumen-dokumen itu asli alias otentik. Dalam respon tertulisnya kepada New York Times, Freeport menyatakan bahwa perusahaan itu telah mengambil langkah-langkah yang perlu sesuai dengan undang-undang Amerika Serikat dan Indonesia untuk memberikan lingkungan kerja yang aman bagi lebih dari 18.000 karyawannya maupun karyawan perusahaan-perusahaan kontraktornya. Freeport juga mengatakan tidak punya alternatif lain kecuali tergantung sepenuhnya kepada militer dan polisi Indonesia dan keputusan-keputusan yang diambil dalam kaitannya dengan hubungan dengan pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga keamanannya, adalah kegiatan bisnis biasa.
Dalam waktu singkat, Freeport menghabiskan 35 juta dolar untuk membangun infrastruktur militer — barak-barak, kantor-kantor pusat, ruang-ruang makan, jalan — dan perusahaan juga memberikan para komandan 70 buah mobil jenis Land Rover dan Land Cruiser, yang diganti setiap beberapa tahun. Semua memperoleh sesuatu, bahkan juga angkatan laut dan angkatan udara. Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, ketika itu perusahaan ini sudah merekrut seorang bekas agen lapangan CIA, dan atas rekomendasinya, perusahaan kemudian mendekati seorang atase militer di Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan memintanya untuk bergabung. Kemudian dua orang bekas perwira militer Amerika Serikat direkrut, dan sebuah departemen khusus, yang diberi nama Perencanaan Operasi Darurat (Emergency Planning Operation) didirikan untuk menangani hubungan baru Freeport dengan militer Indonesia.
Departemen Perencanaan Operasi Darurat yang baru ini mulai melakukan pembayaran bulanan kepada para komandan TNI, sementara kantor Pengelolaan Risiko Keamanan (Security Risk Management office) mengatur pembayaran kepada polisi. Informasi ini diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan dan keterangan bekas karyawan dan karyawan Freeport. Menurut dokumen perusahaan, Freeport membayar paling sedikit 20 juta dolar (sekitar Rp 184 miliar) kepada militer dan polisi di Papua dari tahun 1998 sampai bulan Mei 2004. Kemudian ada juga tambahan 10 juta dolar (sekitar Rp 92 miliar) yang juga dibayarkan kepada militer dan polisi pada jangka waktu itu sehingga totalnya sekitar Rp 276 miliar.
New York Times menerima dokumen keuangan Freeport selama tujuh tahun dari seorang yang dekat dengan perusahaan itu. Tambahan dokumen selama tiga tahun diberikan oleh Global Witness, sebuah LSM yang mengeluarkan laporan pada bulan Juli, yang berjudul Paying for Protection (Bayaran Perlindungan) [1] tentang hubungan Freeport dengan militer Indonesia. Diamird 0'Sullivan, yang bekerja untuk Global Witness di London, mengkritik pembayaran yang dilakukan Freeport itu.
Menurut perusahaan, semua pengeluaran yang dilakukannya itu harus melalui proses pemeriksaan anggaran. Catatan yang diterima New York Times menunjukkan adanya pembayaran kepada perwira-perwira militer secara perseorangan yang didaftarkan di bawah topik-topik seperti biaya makanan, jasa administrasi dan tambahan bulanan. Para komandan yang menerima dana tersebut tidak diharuskan menandatangani tanda terima.
Pendeta Lowry, yang pensiun dari Freeport pada bulan Maret 2004 tetapi tetap menjadi konsultan sampai bulan Juni, mengatakan, sebetulnya tidak ada alasan yang cukup bagi Freeport untuk memberikan dana secara langsung kepada para perwira militer itu.
Catatan perusahaan menunjukkan, penerima terbesar adalah komandan pasukan di daerah Freeport, Letnan Kolonel Togap F. Gultom. Selama enam bulan tahun 2001, ia diberikan hanya kurang sedikit dari 100.000 dolar untuk biaya makanan, dan lebih dari 150.000 dolar di tahun berikutnya. Pada tahun 2002, Freeport juga memberikan uang kepada paling tidak 10 komandan lainnya mencapai lebih dari 350.000 dolar untuk biaya makan.
Menurut para bekas karyawan dan karyawan Freeport, pembayaran-pembayaran tersebut dilakukan kepada para perwira itu, kepada istri-istri dan anak-anak mereka, secara perorangan. Yang berpangkat jenderal terbang di kelas satu atau kelas bisnis, dan para perwira yang lebih rendah pada kelas ekonomi, demikian kata Brigadir Jenderal Ramizan Tarigan yang menerima tiket senilai 14.000 dolar pada tahun 2002 untuk dirinya dan anggota keluarganya.
Jenderal Tarigan yang menduduki posisi senior di kepolisian mengatakan, para perwira polisi dibolehkan menerima tiket pesawat udara karena gaji mereka sangat rendah tetapi adalah melanggar peraturan kepolisian untuk menerima pembayaran uang tunai. Pada bulan April 2002, Freeport membayar perwira senior militer di Papua, Mayor Jenderal Mahidin Simbolon, lebih dari 64.000 dolar untuk yang disebut dalam buku keuangan Freeport sebagai "dana untuk rencana proyek militer tahun 2002".
Delapan bulan kemudian, di bulan Desember, Jenderal Simbolon menerima lebih dari 67.000 dolar untuk proyek aksi sipil kemanusiaan. Pembayaran-pembayaran ini pertama kali dilaporkan Global Witness. Jenderal Simbolon, yang kini menjadi Inspektur Jenderal Angkatan Darat Indonesia, menolak permohonan untuk diwawancarai.
Pada tahun 2003, sesudah terjadinya skandal Enron dan disahkannya Undang-undang Sarbanes-Oxley, yang mengharuskan praktik-praktik akuntansi keuangan yang lebih ketat pada perusahaan-perusahaan, Freeport mulai melakukan pembayaran kepada unit-unit militer ketimbang kepada para perwira secara individu. Demikian menurut catatan yang tersedia dan seperti yang dituturkan oleh bekas karyawan dan karyawan perusahaan ini.
Menurut catatan, perusahaan membayar unit-unit polisi di Papua sedikit di bawah angka 1 juta dolar di tahun 2003, didaftarkan di bawah topik-topik seperti "tambahan pembayaran bulanan," "biaya administrasi" dan "dukungan administratif." Freeport menyatakan kepada New York Times, di dalam menentukan jenis dukungan yang dapat diberikan, adalah merupakan kebijakan perusahaan untuk memperhitungkan kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM.” Menurut catatan yang diterima oleh New York Times, pasukan paramiliter polisi, yaitu Brigade Mobil (Brimob), yang sering dikutip oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat karena kekejamannya, menerima lebih dari 200.000 dolar di tahun 2003. @sumber Wikipedia Indonesia
Mari kita lihat sejenak apa yang terjadi di negara ini. Untuk kesekian kalinya rakyat jadi korban ketidakadilan oleh rezim pemerintah yang saat ini berkuasa. Berapa banyak kemungkinan yang sebenarnya bisa terjadi. Namun mengapa hanya ada satu pilihan. Menderita dan terus menderita sampai mati. Rakyat harus menunggu sampai kapan untuk seperti ini. Saat harga pangan naik dan mereka tetap menjadi buruh yang dibudakkan dinegaranya sendiri.
Sebenarnya sekuat apa tenaga asing mengatur negara ini sehingga untuk mencabut izin Freeport di Papua saja sangat sulit. Jelas disana terjadi kesenjangan yang luar biasa antara pribumi dan makhluk asing. Saat emas negara ini dikeruk habis dan kita hanya menjadi buruh untuk kekayaan mereka. Bayangkan jika setiap detik keuntungan untuk perusahaan itu mencapai 6 M dan hanya satu persen yang lari kenegara itupun setelah dipangkas sana-sini oleh pemerintah daerah. Jadilah kita negara yang terus tertinggal, miskin, memalukan dan hanya bisa mempercayai mitos nenek moyang.
Bayangkan jika presiden berani mengambil keputusan untuk mencabut izin perusahaan itu kemudian emas diolah di negara sendiri, betapa makmurnya negara ini. Kemungkinan terdekat adalah kita akan di embargo habis-habisan tapi kita punya kekuatan untuk bangkit. Pesan Presiden Soekarno Berdikari "berdiri di atas kaki sendiri" sepertinya layak untuk kembali diperjuangkan saat ini.. Kita punya kekayaan alam yang luar biasa melimpah tapi mengapa bangsa lain tidak berani mengembargo negara kita? Jelas mereka takut akan kehilangan untung jadinya kita sendiri yang buntung. Melihat gejolak rakyat Papua, rasanya tidak salah jika mereka melakukan aksi protes saat melihat nasib mereka sendiri. Jadi rasanya lumayan rumit mengatasi masalah ini jika pemerintah sendiri yang kurang tegas mengatasinya.
Sedikit Kerinduan
Keletihanku terpaksa aku sandarkan pada nostalgia subuh ini. Aku yang sudah cukup lama tak menemukan sikap keteguhan dari diri yang belum menemukan jatinya. Setiap aku melihat angin aku mengenang kembali keromantisan kisah yang kau suguhkan padaku. Secangkir rahasia dari kopi hitam pemberianmu selalu memaksaku berfikir bahwa bahagia itu berada di sisimu. Bersamamu adalah panggilan Tuhan tapi aku memilih mendahului takdirku bersamamu. Kematian bukan jalan satu-satunya dari sebuah perpisahan. Aroma penyesalan sempat menemaniku disetapak sepi ini. Mengiringi langkah kepastian yang meninggalkan jejak penuntunmu.
Aku terlepas terlalu lama sehingga menyisakan ragu. Tahukan banyak masa yang harusnya aku berada di sisimu membuka padang untuk kau jalani menemukan saripati keabadian tapi mengapa aku meninggalkan sepi dihatimu. Salahkan akru yang terlalu memberi ruang pada keadaan untuk menikmatiku.
Ku pantulkan senyuman dari akar mentari yang menjilat tembok kamar ini. Aku merindukan saat kau berdiri di sisiku dan menyandarkan kepalamu dibahuku sambil bertanya tentang keadaanku.
Aku terlepas terlalu lama sehingga menyisakan ragu. Tahukan banyak masa yang harusnya aku berada di sisimu membuka padang untuk kau jalani menemukan saripati keabadian tapi mengapa aku meninggalkan sepi dihatimu. Salahkan akru yang terlalu memberi ruang pada keadaan untuk menikmatiku.
Ku pantulkan senyuman dari akar mentari yang menjilat tembok kamar ini. Aku merindukan saat kau berdiri di sisiku dan menyandarkan kepalamu dibahuku sambil bertanya tentang keadaanku.
Tanpa Kau Tahu
Perempuanku
Aku yang
selalu mencemaskanmu
Yang selalu
memperhatikanmu
Menguraikan
hatimu
Dan kau
menganggapku sebagai bayangan saja dalam nokhtamu
Semu dan
sebatas itu saja
Biarlah angin
membawaku dan kau yang meniupkannya
Cukup kau
sadari disini aku menunggu
Menunggu
begitu lama senyum itu
Berkabut Senja
Atheis
Seperti sepi yang menelanjangiku
Biarkan udara meski tak segar lagi untuk menawanku dalam
tirani kemunafikan
Di surau ini Tuhan tak begitu kuat untuk diyakini
Jadilah atheis
Tak percaya Tuhan dan segala omong kosongnya
Seolah ketakdiran hanya bermuara darinya
Persetan dengan agama yang kesemuanya merasa paling hebat
Merasa kitabnya paling benar yang hanya mereka lahirkan
dari bualan semata
Jika Tuhan hidup bersama kami
Dia akan lihat bagaimana sebuah kehidupan dioalah dengan
rekayasa manusia
Yang mungkin manusianya bukan lagi manusia
12-02-2012
Seni Kehilangan
Untuk
mendapatkan kemurniannya
Aku
mempersentuhkan realitas dan khayalku
Dalam nalar
yang berbeda
Aku eratkan
kemaluanku lalu mempersetubuhimu dalam bayanganku
Estetik dengan
luapan dirimu
Mengekapresikan
kegamanganku
Dari akar
sebuah seni kehilangan
Aku menemukan
air mani yang masih hangat diselangkanganku
Meski sesak
tapi nikmat untuk dikenang
04-04-2012
Dari Puncak Malino
Di
puncak Malino aku taburkan abu kegelisahanku
Dari
buih embun aku lihat kelembutan hati
Dingin
Kupahatkan
untaian kenangan yang pernah aku kisahkan pada anging mamiri
Tanpa
restu membawanya menetap entah kemana
Rindu
yang telah lama kupaksa menjelajah
Menyembunyikan
kegalauan dari setiap senyum
Aku yang
telah membiarkan kisah ini terampas waktu
Kusengaja
membiarkannya mencari hirup udara sejuk
Agar dia
terbiasa hidup tanpa nyawa
Layaknya
lentik aroma nafsu dari hawa lembah ini
Dari
puncak Malino
Aku
kabarkan kisahku pada pucuk pinus yang menjeratku
Aku
simpan lekat paling dalam
Di
tempat sempurna para kenangan bersemayam
Malino, 05-06-2011
4.01.2012
Aksi Mahasiswa yang Diaksikan
Tindakan
yang mereka lakukan tidak ada apa-apanya dibanding anarkisme Pemerintah yang
dengan kebijakannya memaksa rakyat untuk berhemat dan menginjak rakyat yang
sudah miskin dengan kenaikan harga BBM. Yusuf, demonstran.
Anarkis.
Kurang lebih kata itulah yang tepat saat oknum yang mengatas namakan mahasiswa
melakukan aksi penolakan kenaikan harga BBM di depan pintu satu kampus Unhas.
Aksi yang berlangsung sore hari itu menyebabkan macet disepanjang jalan
perintis kemerdekaan hingga tugu adipura.
Sebuah
aksi massal yang di pelopori oleh lembaga kemahasiswaan yang mengaku pro
terhadap rakyat ternyata keliru dalam memperjuangkan hak rakyat itu sendiri.
Lemparan batu dan beberapa senjata rakitan terlihat difungsikan saat aksi
tersebut. Hebatnya lagi para demonstran membajak sebuah mobil milik PT.
Coca-Cola Company dan menjarah muatannya lalu membakar hangus mobil tersebut.
Tidak sampai disitu, para demonstran yang menutupi wajahnya dengan scraft kemudian kembali menjarah mobil
yang mengangkut tabung gas elpiji 3 Kg lalu membagikan kepada pengendara yang
melintas. Para demonstran kemudian berjalan kearah pom bensin yang terletak
tepat di pintu satu Unhas kemudian membagikan secara gratis bensin yang telas
disubsidi dari uang rakyat sendiri. Parah.
Ada
indikasi bahwa banyak diantara demonstran tersebut yang hadir sebagai
provokator ditengah kerumunan massa. Mereka bukan dari kalangan mahasiswa tapi
ikut mengkeruhkan suasana. Aparat yang diturunkan dibantu satuan pengaman
kampus tidak cukup mampu meredam aksi mahasiswa tersebuat. Aparat yang terus
menembakkan gas air mata dan water cannon
kearah mahasiswa dan mendesak mahasiswa agar masuk kedalam kampus akhirnya
dipukul mundur kembali oleh mahasiswa yang melawan dengan lemparan batu.
Seakan
tak percaya dengan keanarkisan yang terjadi dalam negeri ini. Kondisi tak
menentu akibat kesenjangan yang terjadi memaksa mahasiswa untuk turun kejalan
dan mendesak agar pemerintah batal menaikkan harga BBM yang dianggap terlalu
mahal. Polemik justru terjadi dalam
tubuh pemerintah. Jika BBM tidak dinaikkan maka pemerintah akan merugi tapi
jika BBM naik, apakah rakyat tidak rugi dan semakin sengsara saja. Alhasil
tidak salah jika negara kita semakin terpuruk.
Siapa
yang harus dipersalahkan dalam kasus ini. Tatanan negara ini masih perlu
pembenahan yang berkelanjutan. Presiden sebagai kepala negara harus berani
mengambil resiko. Transparansi pendapatan negara salah satu solusi agar rakyat
bisa percaya dan yakin terhadap pemerintah. Akan semakin keruh jika kita terus
mengaduk di muara. Biarkan rakyat melihat dengan nurani akan kondisi bangsanya.
3.29.2012
Kisah Senja yang Dipecundangi
3.01.2012
Kanrobosi
Makassar, 1510 M
Pagi yang cerah di dalam Istana Kerajaan Gowa. Di taman belakang sang Raja Agung Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna berbincang dengan permaisuri tentang anak bayi yang baru dia lahirkan sementara dayang kerajaan tak hentinya mengipas dan menyuguhkan buah segar di hadapannya. Angin sejuk berhembus menembus batas sadarnya. Tentram. Tiba-tiba Daeng Sangkilang, penasehat raja datang menghadap untuk melaporkan tentang kekacauan yang terjadi di wilayahnya. Saat itu tanah gowa ibarat rimba tak bertuan. Orang-orang saling adu kekuatan untuk membuktikan kehebatannya dan akhirnya orang lemah tersingkir dari kehidupan. Sang raja begitu kaget mendengar laporan Daeng Sangkilang.
Raja memerintahkan kepada Daeng Mattawang sebagai komandan tu barania untuk turun menenangkan kekacauan tersebut. Ia diberikan waktu seminggu untuk membuat wilayah ini kembali tenang. Namun seminggu kemudian Daeng Mattawang datang menghadap pada sang raja dan mengutarakan keadaan yang sebenarnya.
“Sangat sulit Karaeng. Kondisi rakyat sungguh diluar batas kewajaran. Mereka bertarung layaknya binatang. Saling membunuh satu sama lain. Kata Daeng Mattawang ciut dihadapan raja karena kegagalannya mengembalikan suasana wilayah kerajaan ini.
Sang raja berdiri dari singgasananya. Menatap jauh kedepan. Matawang agak takut melihat murka rajanya. Ia menunggu titah apa yang akan diberikan lagi kepadanya. Sang raja kemudian mencabut badik dari warangkanya dan mengacungkan ke langit.
“Hari ini aku bersumpah atas nama ayahku bahwa kerajaan ini akan kembali seperti dulu lagi jika tidak aku akan mati ditiang pancung. Setelah mengucapkan janjinya sang raja kemudian memerintahkan Daeng Mattawang untuk menyiapkan kudanya. Sang raja akan turun tangan sendiri. Namun Sangkilang menyarankan agar raja tetap disini. Biarkan pasukan tu barania patampulo yang menenangkan wilayah ini. Pasukan yang telah di latih khusus untuk menjadi duta perang kerajaan Gowa. Namun ternyata tekad sang raja untuk turun tangan dalam masalah ini sudah bulat. Raja bersama pasukan tu barania patampulo menyisir setiap wilayah yang diyakini sering terjadi kerusuhan namun ternyata itu juga tak membuahkan hasil apapun.
Kondisi ini terus berlanjut. Orang yang merasa kuat terus mencari lawan sepadan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat diantara mereka. Sang raja kemudian mengatur strategi. Dibuatlah sebuah sayembara berhadiah permaisuri cantik dan mengundang semua pendekar untuk ikut bertarung. Ternyata sayembara ini di dengar oleh Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang mulai dari wilayah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Mereka mengutus juga para jagoannya untuk ikut sayembara yang diadakan sang raja. Rivalitas Bate Salapang memang selalu mengundang perselisihan. Strategi ini memang berhasil meredam kekacauan. Berkat kecerdasan Karaeng Tumapa'risi' Kallonna melihat celah kemungkin untuk mengembalikkan suasana kerajaan meskipun hari-hari selanjutnya masih terdengar berita perkelahian di wilayahnya namun tidak seperti dulu lagi.
Sampai pada sutu hari di pagi yang buta. Wilayah kerajaan Gowa dihantam hujan deras disertai petir yang menyambar tanpa henti. Peristiwa ini berlangsung selama tujuh hari dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah kerajaan Gowa. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Sawah nan luas tergenang sisa air hujan. Saat bersamaan ratusan rakyat Gowa tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.
Semenjak saat itu rakyat Gowa mempercayai bahwa mereka adalah tomanurung yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi. Jadilah Raja Karaeng Tumapa'risi' Kallonna yang ikut menyaksikan kejadian itu kemudian menjadikannya sebagai sawah kerajaan. Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan.
Malam harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna bermimpi bahwa kelak akan kembali terjadi kerusuhan yang luar biasa di wilayahnya. Ketujuh tokoh tersebut akan turun lagi ke bumi suatu ketika nanti. Dan di tengah hamparan sawah itu berbinar tujuh cahaya. Namun, seperti kedatangan mereka semula, akan ada pula kondisi tak menentu yang mendahuluinya. Keesokan harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna memanggil Daeng Sangkilang untuk menafsirkan mimpinya. Ternyata itu benar. Bahwa kelak akan ada suasana tak menentu. Ditulislah dalam lontara : jarangji na kongkong sikokko na sitindang, ganca-gancamo cera’. “Hanya kuda (yang merupakan simbol penguasa) dan anjing (sebagai simbol penentu kebijakan), saling gigit dan tendang hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah,”
Di saat banjir darah itulah, di Karebosi akan muncul secara tiba-tiba tujuh Balla` Lompoa atau istana yang bentuknya serupa. Uniknya, bukan hanya bangunannya yang sama, tapi fisik, roman wajah, perilaku, dan kharisma penghuni istana juga bak pinang dibelah dua. Tapi di antara tujuh tokoh itu ada yang memiliki kharisma paling kuat. Tokoh itulah yang nanti akan jadi pemimpin utama dan menunjuk orang-orang yang dianggap bisa memulihkan keadaan pada saat itu. Tokoh itu merupakan penyeimbang antara 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, lanjut Daeng Sangkilang memberitahukan hasil tafsiran sang raja.
--> Berlanjut
Pagi yang cerah di dalam Istana Kerajaan Gowa. Di taman belakang sang Raja Agung Daeng Matanre Karaeng Tumapa'risi' Kallonna berbincang dengan permaisuri tentang anak bayi yang baru dia lahirkan sementara dayang kerajaan tak hentinya mengipas dan menyuguhkan buah segar di hadapannya. Angin sejuk berhembus menembus batas sadarnya. Tentram. Tiba-tiba Daeng Sangkilang, penasehat raja datang menghadap untuk melaporkan tentang kekacauan yang terjadi di wilayahnya. Saat itu tanah gowa ibarat rimba tak bertuan. Orang-orang saling adu kekuatan untuk membuktikan kehebatannya dan akhirnya orang lemah tersingkir dari kehidupan. Sang raja begitu kaget mendengar laporan Daeng Sangkilang.
Raja memerintahkan kepada Daeng Mattawang sebagai komandan tu barania untuk turun menenangkan kekacauan tersebut. Ia diberikan waktu seminggu untuk membuat wilayah ini kembali tenang. Namun seminggu kemudian Daeng Mattawang datang menghadap pada sang raja dan mengutarakan keadaan yang sebenarnya.
“Sangat sulit Karaeng. Kondisi rakyat sungguh diluar batas kewajaran. Mereka bertarung layaknya binatang. Saling membunuh satu sama lain. Kata Daeng Mattawang ciut dihadapan raja karena kegagalannya mengembalikan suasana wilayah kerajaan ini.
Sang raja berdiri dari singgasananya. Menatap jauh kedepan. Matawang agak takut melihat murka rajanya. Ia menunggu titah apa yang akan diberikan lagi kepadanya. Sang raja kemudian mencabut badik dari warangkanya dan mengacungkan ke langit.
“Hari ini aku bersumpah atas nama ayahku bahwa kerajaan ini akan kembali seperti dulu lagi jika tidak aku akan mati ditiang pancung. Setelah mengucapkan janjinya sang raja kemudian memerintahkan Daeng Mattawang untuk menyiapkan kudanya. Sang raja akan turun tangan sendiri. Namun Sangkilang menyarankan agar raja tetap disini. Biarkan pasukan tu barania patampulo yang menenangkan wilayah ini. Pasukan yang telah di latih khusus untuk menjadi duta perang kerajaan Gowa. Namun ternyata tekad sang raja untuk turun tangan dalam masalah ini sudah bulat. Raja bersama pasukan tu barania patampulo menyisir setiap wilayah yang diyakini sering terjadi kerusuhan namun ternyata itu juga tak membuahkan hasil apapun.
Kondisi ini terus berlanjut. Orang yang merasa kuat terus mencari lawan sepadan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat diantara mereka. Sang raja kemudian mengatur strategi. Dibuatlah sebuah sayembara berhadiah permaisuri cantik dan mengundang semua pendekar untuk ikut bertarung. Ternyata sayembara ini di dengar oleh Bate Selapang atau Kasuwiyang Salapang mulai dari wilayah Tombolo, Lakiung, Parang-Parang, Data, Agang Jekne, Bissei, Kalling dan Serro. Mereka mengutus juga para jagoannya untuk ikut sayembara yang diadakan sang raja. Rivalitas Bate Salapang memang selalu mengundang perselisihan. Strategi ini memang berhasil meredam kekacauan. Berkat kecerdasan Karaeng Tumapa'risi' Kallonna melihat celah kemungkin untuk mengembalikkan suasana kerajaan meskipun hari-hari selanjutnya masih terdengar berita perkelahian di wilayahnya namun tidak seperti dulu lagi.
Sampai pada sutu hari di pagi yang buta. Wilayah kerajaan Gowa dihantam hujan deras disertai petir yang menyambar tanpa henti. Peristiwa ini berlangsung selama tujuh hari dan mengakibatkan banjir di beberapa wilayah kerajaan Gowa. Dan di hari ke delapan, petir akhirnya berhenti berkilat-kilat dan hujan hanya bersisa pelangi dan gerimis seperti benang halus yang jatuh dari langit. Sawah nan luas tergenang sisa air hujan. Saat bersamaan ratusan rakyat Gowa tiba-tiba menyaksikan timbulnya tujuh gundukan tanah di tengah hamparan tersebut. Tujuh orang bergaun kuning keemas-emasan pun muncul sesaat lalu menghilang di tengah gerimis. Yang tersisa kemudian hanya tujuh gundukan tanah berbau harum.
Semenjak saat itu rakyat Gowa mempercayai bahwa mereka adalah tomanurung yang dikirimkan oleh Tuhan untuk negeri mereka. Kehadiran tujuh orang yang disebut sebagai Karaeng Angngerang Bosi. Jadilah Raja Karaeng Tumapa'risi' Kallonna yang ikut menyaksikan kejadian itu kemudian menjadikannya sebagai sawah kerajaan. Jadilah nama Kanrobosi diberikan pada sawah itu. Kanro berarti anugerah yang Maha Kuasa dan bosi berarti hujan atau bisa juga bermakna kelimpahan.
Malam harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna bermimpi bahwa kelak akan kembali terjadi kerusuhan yang luar biasa di wilayahnya. Ketujuh tokoh tersebut akan turun lagi ke bumi suatu ketika nanti. Dan di tengah hamparan sawah itu berbinar tujuh cahaya. Namun, seperti kedatangan mereka semula, akan ada pula kondisi tak menentu yang mendahuluinya. Keesokan harinya Karaeng Tumapa'risi' Kallonna memanggil Daeng Sangkilang untuk menafsirkan mimpinya. Ternyata itu benar. Bahwa kelak akan ada suasana tak menentu. Ditulislah dalam lontara : jarangji na kongkong sikokko na sitindang, ganca-gancamo cera’. “Hanya kuda (yang merupakan simbol penguasa) dan anjing (sebagai simbol penentu kebijakan), saling gigit dan tendang hingga akhirnya terjadi pertumpahan darah,”
Di saat banjir darah itulah, di Karebosi akan muncul secara tiba-tiba tujuh Balla` Lompoa atau istana yang bentuknya serupa. Uniknya, bukan hanya bangunannya yang sama, tapi fisik, roman wajah, perilaku, dan kharisma penghuni istana juga bak pinang dibelah dua. Tapi di antara tujuh tokoh itu ada yang memiliki kharisma paling kuat. Tokoh itulah yang nanti akan jadi pemimpin utama dan menunjuk orang-orang yang dianggap bisa memulihkan keadaan pada saat itu. Tokoh itu merupakan penyeimbang antara 7 lapis langit dan 7 lapis bumi, lanjut Daeng Sangkilang memberitahukan hasil tafsiran sang raja.
--> Berlanjut
2.22.2012
Mengapa Menyesali Penyesalan
Musim
ini
Di saat
rembulan memar menertawakanku
Jejakku
menipis dalam ribuan episode yang aku satukan
Bertahun-tahun
aku membawa penyesalan dari rumahku ke tempat yang aku tuju
Ia
membuat luka terselubung di hatiku
Lebam dan
meninggalkan lara berkepanjangan
Setiap
tidur aku dihantui tangismu
Seakan
membawa pesan yang samar untukku
Kepada
rembulan memar
Mengapa
aku harus menyesali penyesalanku
Bukankah
itu telah bertahun lamanya
Cahayamu
juga mungkin sudah lupa akan kepongahanku tempo itu
Rembulan
memar
Bukankah
hati itu juga telah bertahun lamanya dia miliki
Tentu
luka belum sembuh seutuhnya
Ia
kadang kambuh jika mengingatnya lagi
Menyesal
akan keadaan itu akan mengajarkanmu tentang cinta
Bukankah
dia telah memberimu berpuluh kesempatan untuk mengubah dirimu sendiri
Berdoalah
pada penyesalan
Tuhan
akan menentukan
30.11.2010
2.20.2012
Pemuda adalah Cerminan Sebuah Bangsa
Pemuda adalah cerminan sebuah bangsa. Masa depan bangsa tidak ditentukan dari kebetulan. Kita meraih kemerdekaan dengan semangat dan keyakinan serta pertolongan Tuhan. Nasib boleh sama tapi takdir bangsa ini berbeda. Kita bisa melihat dari rekaman sejarah peranan pemuda dalam meraih kemerdekaan.
“Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri”
— Pramoedya Ananta Toer
Pertengahan Agustus 1945. Sekelompok pemuda mendatangi kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta. Bung Karno, yang sudah mengetahui kedatangan utusan pemuda ini, segera menemui mereka di beranda rumah.
“Sekarang, Bung! Sekarang, malam ini juga kita kobarkan revolusi,” ujar Chaerul Saleh, salah seorang dari pemuda tersebut. “Kami tidak ingin mengancammu, bung,” kata Wikana dengan suara serak.
Pemuda asal Sumedang, Jawa Barat, itu melangkah dengan sebilah pisau terjulur di tangannya. “Revolusi di tangan kami sekarang dan kami memerintah Bung. Kalau Bung tidak memulai revolusi malam ini, maka…”
“Maka apa?” teriak Bung Karno yang bangkit dari kursinya. “”Ini batang leherku,” katanya setengah berteriak sambil mendekati Wikana. “Seret saya ke pojok itu dan potong malam ini juga! Kamu tidak usah menunggu esok hari!” kata Bung Karno dengan setengah berteriak.
Seperti itulah sekilas dialog pemuda saat menemui Bung Karno. Akhirnya, karena rencana di atas menemui kegagalan akhirnya para pemuda kemudian nekat menculik Bung Karno dan membawanya ke Rengasdengklok, Karawang.
Inilah salah satu bukti peranan pemuda dalam menentukan proklamasi kemerdekaan. Keberanian untuk mengambil keputusan sangatlah berpengaruh pada kelanjutan bangsa ini.
Anderson pernah menulis dalam bukunya “Akhirnya saya percaya bahwa watak khas dan arah dari revolusi Indonesia pada permulaannya memang ditentukan oleh kesadaran pemuda ini,”
Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar Indonesia mengatakan sejarah Indonesia adalah sejarah pemuda Indonesia, yang dimulai dengan Perhimpunan Indonesia di Belanda, Sumpah Pemuda, Revolusi Agustus 1945, hingga penggulingan diktator Soeharto. “Hanya sayang mereka tidak melahirkan pemimpin,”
Perhimpunan Indonesia, yang beranggotakan mahasiswa Indonesia di Belanda, merupakan salah satu organisasi pemuda yang banyak menyumbang gagasan mengenai Indonesia merdeka, terutama terkait terselenggaranya Kongres Pemuda dan lahirnya Sumpah Pemuda.
Para pemuda-pemuda itu, sekembalinya mereka ke tanah air, telah menjadi kemudi dari berbagai partai politik pergerakan di tanah air: Partai Nasional Indonesia (PNI)–sebelum dibubarkan, Partindo, PNI-Baru, PKI, dan Partai Syarekat Islam.
Merekalah, yang masih dalam usia dua-puluhan, menulis panjang lebar mengenai gagasan-gagasan Indonesia Merdeka: Soekarno, Hatta, Sjahrir, Semaun, Tan Malaka, dan lain sebagainya. Gagasan-gagasan itu tidak hanya diuraikan dalam coretan tinta di atas kertas, tetapi diperjuangkan habis-habisan dan menjadi pegangan politik di sepanjang hidupnya.
Para pemuda pula, ketika kesempatan dan momen itu telah tiba, mendesak dan memaksa Bung Karno dan Bung Hatta membacakan proklamasi kemerdekaan. Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, pasukan sekutu yang diboncengi oleh tentara Belanda, berusaha menjajah kembali Indonesia. Dalam banyak pertempuran, sebagaimana juga dikisahkan banyak saksi sejarah, para pemuda telah ambil-bagian sebagai martir-martir yang gugur di masa-masa awal mempertahankan Republik baru ini.
Ketika Sjahrir menempuh jalan berunding dengan pihak Belanda, para pemuda radikal dan revolusioner menyatakan “pembangkangan”. Tidak heran, ketika kabinet Sjahrir jatuh pada bulan Juni 1947, para pemuda bersorak gembira dan menganggap hari itu sebagai hari yang sudah lama ditunggu-tunggu.
2.19.2012
Sedikit Komentar Untuk PT Freeport "Amerika"
PT. Freeport Indonesia adalah sebuah perusahaan pertambangan yang mayoritas sahamnya dimiliki Freeport-McMoRan Copper & Gold Inc.. Perusahaan ini adalah pembayar pajak terbesar kepada Indonesia dan merupakan perusahaan penghasil emas terbesar di dunia melalui tambang Grasberg. Freeport Indonesia telah melakukan eksplorasi di dua tempat di Papua, masing-masing tambang Erstberg (dari 1967) dan tambang Grasberg (sejak 1988), di kawasan Tembaga Pura, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua.
Freeport berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan 2,3 miliar dolar AS. Menurut Freeport, keberadaannya memberikan manfaat langsung dan tidak langsung kepada Indonesia sebesar 33 miliar dolar dari tahun 1992–2004. Angka ini hampir sama dengan 2 persen PDB Indonesia. Dengan harga emas mencapai nilai tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yaitu 540 dolar per ons, Freeport diperkirakan akan mengisi kas pemerintah sebesar 1 miliar dolar.
Mining International, sebuah majalah perdagangan, menyebut tambang emas Freeport sebagai yang terbesar di dunia.
Pada tahun 2003 Freeport Indonesia mengaku bahwa mereka telah membayar TNI untuk mengusir para penduduk setempat dari wilayah mereka. Menurut laporan New York Times pada Desember 2005, jumlah yang telah dibayarkan antara tahun 1998 dan 2004 mencapai hampir 20 juta dolar AS. Freeport Indonesia sering dikabarkan telah melakukan penganiayaan terhadap para penduduk setempat. Pada Tahun 2011 seorang buruh bernama Petrus Ajam Seba seorang buruh di PT. Freeport terbunuh.
Sejarah
Dahulu di tengah masyarakat ada mitologi menyangkut manusia sejati, yang berasal dari sebuah Ibu, yang menjadi setelah kematiannya berubah menjadi tanah yang membentang sepanjang daerah Amungsal (Tanah Amugme), daerah ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga secara adat tidak diizinkan untuk dimasuki.
Sejak tahun 1971, Freeport Indonesia, masuk ke daerah keramat ini, dan membuka tambang Erstberg. Sejak tahun 1971 itulah warga suku Amugme dipindahkan ke luar dari wilayah mereka ke wilayah kaki pegunungan.
Tambang Erstberg ini habis open-pit-nya pada 1989, dilanjutkan dengan penambangan pada wilayah Grasberg dengan izin produksi yang dikeluarkan Mentamben Ginandjar Kartasasmita pada 1996. Dalam izin ini, tercantum pada AMDAL produksi yang diizinkan adalah 300 ribu /ton/hari
Kontroversi
Menurut karyawan dan bekas karyawan Freeport, selama bertahun-tahun James R Moffett, seorang ahli geologi kelahiran Louisiana, yang juga adalah pimpinan perusahaan ini, dengan tekun membina persahabatan dengan Presiden Soeharto, dan kroni-kroninya. Ini dilakukannya untuk mengamankan usaha Freeport. Freeport membayar ongkos-ongkos mereka berlibur, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka, termasuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Surat-surat dan dokumen-dokumen lain yang diberikan kepada New York Times oleh para pejabat pemerintah menunjukkan, Kementerian Lingkungan Hidup telah berkali-kali memperingatkan perusahaan ini sejak tahun 1997, Freeport melanggar peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup. Menurut perhitungan Freeport sendiri, penambangan mereka dapat menghasilkan limbah/bahan buangan sebesar kira-kira 6 miliar ton (lebih dari dua kali bahan-bahan bumi yang digali untuk membuat Terusan Panama). Kebanyakan dari limbah itu dibuang di pegunungan di sekitar lokasi pertambangan, atau ke sistem sungai-sungai yang mengalir turun ke dataran rendah basah, yang dekat dengan Taman Nasional Lorentz, sebuah hutan hujan tropis yang telah diberikan status khusus oleh PBB.
Sebuah studi bernilai jutaan dolar tahun 2002 yang dilakukan Parametrix, perusahaan konsultan Amerika, dibayar oleh Freeport dan Rio Tinto, mitra bisnisnya, yang hasilnya tidak pernah diumumkan mencatat, bagian hulu sungai dan daerah dataran rendah basah yang dibanjiri dengan limbah tambang itu sekarang tidak cocok untuk kehidupan makhluk hidup akuatik. Laporan itu diserahkan ke New York Times oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. New York Times berkali-kali meminta izin kepada Freeport dan pemerintah Indonesia untuk mengunjungi tambang dan daerah di sekitarnya karena untuk itu diperlukan izin khusus bagi wartawan. Semua permintaan itu ditolak. Freeport hanya memberikan respon secara tertulis. Sebuah surat yang ditandatangani oleh Stanley S Arkin, penasihat hukum perusahaan ini menyatakan, Grasberg adalah tambang tembaga, dengan emas sebagai produk sampingan, dan bahwa banyak wartawan telah mengunjungi pertambangan itu sebelum pemerintah Indonesia memperketat aturan pada tahun 1990-an.
[sunting]
Menyadap e-mail
Menurut seorang pejabat dan dua bekas pejabat perusahaan yang terlibat dalam mengembangkan suatu program rahasia, Freeport selama ini menyadap e-mail para aktivis lingkungan yang melawan perusahaan ini untuk memata-matai apa yang mereka lakukan. Freeport menolak mengomentari hal ini. Freeport bergandengan tangan dengan perwira-perwira intelijen TNI, mulai menyadap korespondensi e-mail dan percakapan telepon lawan-lawan aktivis lingkungannya. Hal ini dikatakan oleh seorang karyawan Freeport yang terlibat dalam kegiatan ini dan bertugas membaca e-mail-e-mail tersebut.
Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, perusahaan ini juga membuat sistemnya sendiri untuk mencuri berita-berita melalui e-mail. Caranya adalah dengan membentuk sebuah kelompok pecinta lingkungan gadungan, yang meminta mereka yang berminat untuk mendaftar secara online dengan menggunakan kode rahasia (password) tertentu. Banyak di antara mereka yang mendaftar itu menggunakan password yang sama seperti yang mereka gunakan untuk e-mail mereka. Dengan cara ini, Freeport dengan gampang mencuri berita. Menurut seseorang yang waktu itu bekerja untuk perusahaan ini, awalnya para pengacara Freeport khawatir dengan pencurian ini. Tetapi, mereka kemudian memutuskan, secara legal perusahaan itu tidak dilarang untuk membaca e-mail pihak-pihak di luar negeri.
[sunting]
Hubungan Freeport dan TNI
Selama bertahun-tahun, Freeport memiliki unit pengamanannya sendiri, sementara militer Indonesia memerangi perlawanan separatis yang lemah dan rendah gerakannya. Kemudian kebutuhan keamanan ini mulai saling terkait.
Tidak ada investigasi yang menemukan keterkaitan Freeport secara langsung dengan pelanggaran HAM, tetapi semakin banyak orang-orang Papua yang menghubungkan Freeport dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh TNI, dan pada sejumlah kasus kekerasan itu dilakukan dengan menggunakan fasilitas Freeport. Seorang ahli antropologi Australia, Chris Ballard, yang pernah bekerja untuk Freeport, dan Abigail Abrash, seorang aktivis HAM dari Amerika Serikat, memperkirakan, sebanyak 160 orang telah dibunuh oleh militer antara tahun 1975–1997 di daerah tambang dan sekitarnya.
Pada bulan Maret 1996, kemarahan terhadap perusahaan pecah dalam bentuk kerusuhan ketika sentimen anti-perusahaan dari beberapa kelompok yang berbeda bergabung.
Freeport menyadap berita-berita dalam e-mail. Menurut dua orang yang membaca e-mail-e-mail itu pada saat itu, ada unit-unit militer tertentu, masyarakat setempat, dan kelompok-kelompok lingkungan hidup yang bekerjasama. Sebuah pertukaran informasi dengan menggunakan e-mail antara seorang tokoh masyarakat dengan pimpinan organisasi lingkungan hidup penuh dengan taktik intelijen militer. Dalam e-mail yang lain, seorang pimpinan organisasi lingkungan meminta para anggotanya mundur karena demonstrasi telah berubah menjadi kerusuhan.
Dari wawancara yang dilakukan, bekas pejabat dan pejabat Freeport menyatakan, mereka terkejut melihat sejumlah orang dengan potongan rambut militer, mengenakan sepatu tempur dan menggenggam radio walkie-talkie di antara para perusuh itu. Orang-orang itu terlihat mengarahkan kerusuhan itu, dan pada satu ketika, mengarahkan massa menuju ke laboratorium Freeport yang kemudian mereka obrak-abrik.
[sunting]
Keamanan
Dokumen-dokumen Freeport menunjukkan, dari tahun 1998 sampai 2004 Freeport memberikan hampir 20 juta dolar kepada para jenderal, kolonel, mayor dan kapten militer dan polisi, dan unit-unit militer. Setiap komandan menerima puluhan ribu dolar, bahkan dalam satu kasus sampai mencapai 150.000 dolar, sebagaimana tertera dalam dokumen itu.
Dokumen-dokumen itu diberikan kepada New York Times oleh seseorang yang dekat dengan Freeport, dan menurut bekas karyawan maupun karyawan Freeport sendiri, dokumen-dokumen itu asli alias otentik. Dalam respon tertulisnya kepada New York Times, Freeport menyatakan bahwa perusahaan itu telah mengambil langkah-langkah yang perlu sesuai dengan undang-undang Amerika Serikat dan Indonesia untuk memberikan lingkungan kerja yang aman bagi lebih dari 18.000 karyawannya maupun karyawan perusahaan-perusahaan kontraktornya. Freeport juga mengatakan tidak punya alternatif lain kecuali tergantung sepenuhnya kepada militer dan polisi Indonesia dan keputusan-keputusan yang diambil dalam kaitannya dengan hubungan dengan pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga keamanannya, adalah kegiatan bisnis biasa.
Dalam waktu singkat, Freeport menghabiskan 35 juta dolar untuk membangun infrastruktur militer — barak-barak, kantor-kantor pusat, ruang-ruang makan, jalan — dan perusahaan juga memberikan para komandan 70 buah mobil jenis Land Rover dan Land Cruiser, yang diganti setiap beberapa tahun. Semua memperoleh sesuatu, bahkan juga angkatan laut dan angkatan udara. Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, ketika itu perusahaan ini sudah merekrut seorang bekas agen lapangan CIA, dan atas rekomendasinya, perusahaan kemudian mendekati seorang atase militer di Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan memintanya untuk bergabung. Kemudian dua orang bekas perwira militer Amerika Serikat direkrut, dan sebuah departemen khusus, yang diberi nama Perencanaan Operasi Darurat (Emergency Planning Operation) didirikan untuk menangani hubungan baru Freeport dengan militer Indonesia.
Departemen Perencanaan Operasi Darurat yang baru ini mulai melakukan pembayaran bulanan kepada para komandan TNI, sementara kantor Pengelolaan Risiko Keamanan (Security Risk Management office) mengatur pembayaran kepada polisi. Informasi ini diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan dan keterangan bekas karyawan dan karyawan Freeport. Menurut dokumen perusahaan, Freeport membayar paling sedikit 20 juta dolar (sekitar Rp 184 miliar) kepada militer dan polisi di Papua dari tahun 1998 sampai bulan Mei 2004. Kemudian ada juga tambahan 10 juta dolar (sekitar Rp 92 miliar) yang juga dibayarkan kepada militer dan polisi pada jangka waktu itu sehingga totalnya sekitar Rp 276 miliar.
New York Times menerima dokumen keuangan Freeport selama tujuh tahun dari seorang yang dekat dengan perusahaan itu. Tambahan dokumen selama tiga tahun diberikan oleh Global Witness, sebuah LSM yang mengeluarkan laporan pada bulan Juli, yang berjudul Paying for Protection (Bayaran Perlindungan) [1] tentang hubungan Freeport dengan militer Indonesia. Diamird 0'Sullivan, yang bekerja untuk Global Witness di London, mengkritik pembayaran yang dilakukan Freeport itu.
Menurut perusahaan, semua pengeluaran yang dilakukannya itu harus melalui proses pemeriksaan anggaran. Catatan yang diterima New York Times menunjukkan adanya pembayaran kepada perwira-perwira militer secara perseorangan yang didaftarkan di bawah topik-topik seperti biaya makanan, jasa administrasi dan tambahan bulanan. Para komandan yang menerima dana tersebut tidak diharuskan menandatangani tanda terima.
Pendeta Lowry, yang pensiun dari Freeport pada bulan Maret 2004 tetapi tetap menjadi konsultan sampai bulan Juni, mengatakan, sebetulnya tidak ada alasan yang cukup bagi Freeport untuk memberikan dana secara langsung kepada para perwira militer itu.
Catatan perusahaan menunjukkan, penerima terbesar adalah komandan pasukan di daerah Freeport, Letnan Kolonel Togap F. Gultom. Selama enam bulan tahun 2001, ia diberikan hanya kurang sedikit dari 100.000 dolar untuk biaya makanan, dan lebih dari 150.000 dolar di tahun berikutnya. Pada tahun 2002, Freeport juga memberikan uang kepada paling tidak 10 komandan lainnya mencapai lebih dari 350.000 dolar untuk biaya makan.
Menurut para bekas karyawan dan karyawan Freeport, pembayaran-pembayaran tersebut dilakukan kepada para perwira itu, kepada istri-istri dan anak-anak mereka, secara perorangan. Yang berpangkat jenderal terbang di kelas satu atau kelas bisnis, dan para perwira yang lebih rendah pada kelas ekonomi, demikian kata Brigadir Jenderal Ramizan Tarigan yang menerima tiket senilai 14.000 dolar pada tahun 2002 untuk dirinya dan anggota keluarganya.
Jenderal Tarigan yang menduduki posisi senior di kepolisian mengatakan, para perwira polisi dibolehkan menerima tiket pesawat udara karena gaji mereka sangat rendah tetapi adalah melanggar peraturan kepolisian untuk menerima pembayaran uang tunai. Pada bulan April 2002, Freeport membayar perwira senior militer di Papua, Mayor Jenderal Mahidin Simbolon, lebih dari 64.000 dolar untuk yang disebut dalam buku keuangan Freeport sebagai "dana untuk rencana proyek militer tahun 2002".
Delapan bulan kemudian, di bulan Desember, Jenderal Simbolon menerima lebih dari 67.000 dolar untuk proyek aksi sipil kemanusiaan. Pembayaran-pembayaran ini pertama kali dilaporkan Global Witness. Jenderal Simbolon, yang kini menjadi Inspektur Jenderal Angkatan Darat Indonesia, menolak permohonan untuk diwawancarai.
Pada tahun 2003, sesudah terjadinya skandal Enron dan disahkannya Undang-undang Sarbanes-Oxley, yang mengharuskan praktik-praktik akuntansi keuangan yang lebih ketat pada perusahaan-perusahaan, Freeport mulai melakukan pembayaran kepada unit-unit militer ketimbang kepada para perwira secara individu. Demikian menurut catatan yang tersedia dan seperti yang dituturkan oleh bekas karyawan dan karyawan perusahaan ini.
Menurut catatan, perusahaan membayar unit-unit polisi di Papua sedikit di bawah angka 1 juta dolar di tahun 2003, didaftarkan di bawah topik-topik seperti "tambahan pembayaran bulanan," "biaya administrasi" dan "dukungan administratif." Freeport menyatakan kepada New York Times, di dalam menentukan jenis dukungan yang dapat diberikan, adalah merupakan kebijakan perusahaan untuk memperhitungkan kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM.” Menurut catatan yang diterima oleh New York Times, pasukan paramiliter polisi, yaitu Brigade Mobil (Brimob), yang sering dikutip oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat karena kekejamannya, menerima lebih dari 200.000 dolar di tahun 2003.
[sunting]
Sumber
Laporan investigatif wartawan New York Times Jane Perlez, Raymond Bonner dan kontributor Evelyn Rusli, "Below a Mountain of Wealth, a River of Waste", 27 Desember 2005.
Disunting dan diberitakan dalam bahasa Indonesia oleh Rakyat Merdeka dengan judul "Menyusuri Sungai Limbah Di Kaki Gunung Emas Freeport" secara bersambung pada 16-22 Februari 2006
Peristiwa
21 Februari 2006, terjadi pengusiran terhadap penduduk setempat yang melakukan pendulangan emas dari sisa-sisa limbah produksi Freeport di Kali Kabur Wanamon. Pengusiran dilakukan oleh aparat gabungan kepolisian dan satpam Freeport. Akibat pengusiran ini terjadi bentrokan dan penembakan. Penduduk sekitar yang mengetahui kejadian itu kemudian menduduki dan menutup jalan utama Freeport di Ridge Camp, di Mile 72-74, selama beberapa hari. Jalan itu merupakan satu-satunya akses ke lokasi pengolahan dan penambangan Grasberg.
22 Februari 2006, sekelompok mahasiswa asal Papua beraksi terhadap penembakan di Timika sehari sebelumnya dengan merusak gedung Plasa 89 di Jakarta yang merupakan gedung tempat PT Freeport Indonesia berkantor.
23 Februari 2006, masyarakat Papua Barat yang tergabung dalam Solidaritas Tragedi Freeport menggelar unjuk rasa di depan Istana, menuntuk presiden untuk menutup Freeport Indonesia. Aksi yang sama juga dilakukan oleh sekitar 50 mahasiswa asal Papua di Manado.
25 Februari 2006, karyawan PT Freeport Indonesia kembali bekerja setelah palang di Mile 74 dibuka.
27 Februari 2006, Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat menduduki kantor PT Freeport Indonesia di Plasa 89, Jakarta. Aksi menentang Freeport juga terjadi di Jayapura dan Manado.
28 Februari 2006, Demonstran di Plasa 89, Jakarta, bentrok dengan polisi. Aksi ini mengakibatkan 8 orang polisi terluka.
1 Maret 2006, demonstrasi selama 3 hari di Plasa 89 berakhir. 8 aktivis LSM yang mendampingi mahasiswa Papua ditangkap dengan tuduhan menyusup ke dalam aksi mahasiswa Papua [6] [7]. Puluhan mahasiswa asal Papua di Makassar berdemonstrasi dan merusak Monumen Pembebasan Irian Barat.
3 Maret 2006, masyarakat Papua di Solo berdemonstrasi menentang Freeport.
7 Maret 2006, demonstrasi di Mile 28, Timika di dekat bandar udara Moses Kilangin mengakibatkan jadwal penerbangan pesawat terganggu.
14 Maret 2006, massa yang membawa anak panah dan tombak menutup checkpoint 28 di Timika. Massa juga mengamuk di depan Hotel Sheraton.
15 Maret 2006, Polisi membubarkan massa di Mile 28 dan menangkap delapan orang yang dituduh merusak Hotel Sheraton. Dua orang polisi terkena anak panah.
16 Maret 2006, aksi pemblokiran jalan di depan Kampus Universitas Cendrawasih, Abepura, Jayapura, oleh masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Parlemen Jalanan dan Front Pepera PB Kota Jayapura, berakhir dengan bentrokan berdarah, menyebabkan 3 orang anggota Brimob dan 1 intelijen TNI tewas dan puluhan luka-luka baik dari pihak mahasiswa dan pihak aparat.
17 Maret 2006, Tiga warga Abepura, Papua, terluka akibat terkena peluru pantulan setelah beberapa anggota Brimob menembakkan senjatanya ke udara di depan Kodim Abepura [10]. Beberapa wartawan televisi yang meliput dianiaya dan dirusak alat kerjanya oleh Brimob.
22 Maret 2006, satu lagi anggota Brimob meninggal dunia setelah berada dalam kondisi kritis selama enam hari
23 Maret 2006, lereng gunung di kawasan pertambangan terbuka PT Freeport Indonesia di Grasberg, longsor dan menimbun sejumlah pekerja. 3 orang meninggal dan puluhan lainnya cedera.
23 Maret 2006, Kementerian Lingkungan Hidup mempublikasi temuan pemantauan dan penataan kualitas lingkungan di wilayah penambangan PT Freeport Indonesia. Hasilnya, Freeport dinilai tak memenuhi batas air limbah dan telah mencemari air laut dan biota laut.
18 April 2007, sekitar 9.000 karyawan Freeport mogok kerja untuk menuntut perbaikan kesejahteraan. Perundingan akhirnya diselesaikan pada 21 April setelah tercapai kesepakatan yang termasuk mengenai kenaikan gaji terendah
21 Oktober 2011, sekitar tiga orang tewas akibat insiden penembakan di kawasan Freeport Timika Papua. Marcelianus, seorang personel polri berpangkat Brigadir Polisi Satu juga tewas tertembak.
@sumber Wikipedia
Apa yang terjadi di negara ini. Mari kita melihat sejarah panjang dari pembentukan bangsa ini. Bangsa yang di cita-citakan kelak menajadi negara merdeka dan bebas dalam menentukan nasibnya sendiri. Namun melihat nasib rakyat yang masih harus menjadi buruh yang diperbudakkan oleh bangsa lain di negrinya sendiri. Tidak salah rasanya jika pribumi di Papua melakukan aksi prostes terhadp makhluk asing yang terus menjarah tanah mereka. Tanah adat yang dijadikan tambang kemudian mereka di usir di kaki gunung.
Seandainya penguasa negeri ini berani mencabut izin Freeport kemudian emas itu diolah sendiri maka tentu hasilnya lebih memuaskan. Bayangkan jika keuntungan yang diraih Amerika setaip detiknya 6 M dan hanya satu persen yang di alihkan ke negara itupun setelah di pangkas sana-sini. Kemungkinan terbesar negara kita akan di embargo. Silahkan. Bukan masalah untuk negara yang sebenarnya kaya seperti Indonesia. Tapi ternyata Penguasa Negara ini juga boneka dari Amerika. Salut untuk perjuangan Rakyat di PAPUA.
Freeport berkembang menjadi perusahaan dengan penghasilan 2,3 miliar dolar AS. Menurut Freeport, keberadaannya memberikan manfaat langsung dan tidak langsung kepada Indonesia sebesar 33 miliar dolar dari tahun 1992–2004. Angka ini hampir sama dengan 2 persen PDB Indonesia. Dengan harga emas mencapai nilai tertinggi dalam 25 tahun terakhir, yaitu 540 dolar per ons, Freeport diperkirakan akan mengisi kas pemerintah sebesar 1 miliar dolar.
Mining International, sebuah majalah perdagangan, menyebut tambang emas Freeport sebagai yang terbesar di dunia.
Pada tahun 2003 Freeport Indonesia mengaku bahwa mereka telah membayar TNI untuk mengusir para penduduk setempat dari wilayah mereka. Menurut laporan New York Times pada Desember 2005, jumlah yang telah dibayarkan antara tahun 1998 dan 2004 mencapai hampir 20 juta dolar AS. Freeport Indonesia sering dikabarkan telah melakukan penganiayaan terhadap para penduduk setempat. Pada Tahun 2011 seorang buruh bernama Petrus Ajam Seba seorang buruh di PT. Freeport terbunuh.
Sejarah
Dahulu di tengah masyarakat ada mitologi menyangkut manusia sejati, yang berasal dari sebuah Ibu, yang menjadi setelah kematiannya berubah menjadi tanah yang membentang sepanjang daerah Amungsal (Tanah Amugme), daerah ini dianggap keramat oleh masyarakat setempat, sehingga secara adat tidak diizinkan untuk dimasuki.
Sejak tahun 1971, Freeport Indonesia, masuk ke daerah keramat ini, dan membuka tambang Erstberg. Sejak tahun 1971 itulah warga suku Amugme dipindahkan ke luar dari wilayah mereka ke wilayah kaki pegunungan.
Tambang Erstberg ini habis open-pit-nya pada 1989, dilanjutkan dengan penambangan pada wilayah Grasberg dengan izin produksi yang dikeluarkan Mentamben Ginandjar Kartasasmita pada 1996. Dalam izin ini, tercantum pada AMDAL produksi yang diizinkan adalah 300 ribu /ton/hari
Kontroversi
Menurut karyawan dan bekas karyawan Freeport, selama bertahun-tahun James R Moffett, seorang ahli geologi kelahiran Louisiana, yang juga adalah pimpinan perusahaan ini, dengan tekun membina persahabatan dengan Presiden Soeharto, dan kroni-kroninya. Ini dilakukannya untuk mengamankan usaha Freeport. Freeport membayar ongkos-ongkos mereka berlibur, bahkan biaya kuliah anak-anak mereka, termasuk membuat kesepakatan-kesepakatan yang memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.
Surat-surat dan dokumen-dokumen lain yang diberikan kepada New York Times oleh para pejabat pemerintah menunjukkan, Kementerian Lingkungan Hidup telah berkali-kali memperingatkan perusahaan ini sejak tahun 1997, Freeport melanggar peraturan perundang-undangan tentang lingkungan hidup. Menurut perhitungan Freeport sendiri, penambangan mereka dapat menghasilkan limbah/bahan buangan sebesar kira-kira 6 miliar ton (lebih dari dua kali bahan-bahan bumi yang digali untuk membuat Terusan Panama). Kebanyakan dari limbah itu dibuang di pegunungan di sekitar lokasi pertambangan, atau ke sistem sungai-sungai yang mengalir turun ke dataran rendah basah, yang dekat dengan Taman Nasional Lorentz, sebuah hutan hujan tropis yang telah diberikan status khusus oleh PBB.
Sebuah studi bernilai jutaan dolar tahun 2002 yang dilakukan Parametrix, perusahaan konsultan Amerika, dibayar oleh Freeport dan Rio Tinto, mitra bisnisnya, yang hasilnya tidak pernah diumumkan mencatat, bagian hulu sungai dan daerah dataran rendah basah yang dibanjiri dengan limbah tambang itu sekarang tidak cocok untuk kehidupan makhluk hidup akuatik. Laporan itu diserahkan ke New York Times oleh Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. New York Times berkali-kali meminta izin kepada Freeport dan pemerintah Indonesia untuk mengunjungi tambang dan daerah di sekitarnya karena untuk itu diperlukan izin khusus bagi wartawan. Semua permintaan itu ditolak. Freeport hanya memberikan respon secara tertulis. Sebuah surat yang ditandatangani oleh Stanley S Arkin, penasihat hukum perusahaan ini menyatakan, Grasberg adalah tambang tembaga, dengan emas sebagai produk sampingan, dan bahwa banyak wartawan telah mengunjungi pertambangan itu sebelum pemerintah Indonesia memperketat aturan pada tahun 1990-an.
[sunting]
Menyadap e-mail
Menurut seorang pejabat dan dua bekas pejabat perusahaan yang terlibat dalam mengembangkan suatu program rahasia, Freeport selama ini menyadap e-mail para aktivis lingkungan yang melawan perusahaan ini untuk memata-matai apa yang mereka lakukan. Freeport menolak mengomentari hal ini. Freeport bergandengan tangan dengan perwira-perwira intelijen TNI, mulai menyadap korespondensi e-mail dan percakapan telepon lawan-lawan aktivis lingkungannya. Hal ini dikatakan oleh seorang karyawan Freeport yang terlibat dalam kegiatan ini dan bertugas membaca e-mail-e-mail tersebut.
Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, perusahaan ini juga membuat sistemnya sendiri untuk mencuri berita-berita melalui e-mail. Caranya adalah dengan membentuk sebuah kelompok pecinta lingkungan gadungan, yang meminta mereka yang berminat untuk mendaftar secara online dengan menggunakan kode rahasia (password) tertentu. Banyak di antara mereka yang mendaftar itu menggunakan password yang sama seperti yang mereka gunakan untuk e-mail mereka. Dengan cara ini, Freeport dengan gampang mencuri berita. Menurut seseorang yang waktu itu bekerja untuk perusahaan ini, awalnya para pengacara Freeport khawatir dengan pencurian ini. Tetapi, mereka kemudian memutuskan, secara legal perusahaan itu tidak dilarang untuk membaca e-mail pihak-pihak di luar negeri.
[sunting]
Hubungan Freeport dan TNI
Selama bertahun-tahun, Freeport memiliki unit pengamanannya sendiri, sementara militer Indonesia memerangi perlawanan separatis yang lemah dan rendah gerakannya. Kemudian kebutuhan keamanan ini mulai saling terkait.
Tidak ada investigasi yang menemukan keterkaitan Freeport secara langsung dengan pelanggaran HAM, tetapi semakin banyak orang-orang Papua yang menghubungkan Freeport dengan tindak kekerasan yang dilakukan oleh TNI, dan pada sejumlah kasus kekerasan itu dilakukan dengan menggunakan fasilitas Freeport. Seorang ahli antropologi Australia, Chris Ballard, yang pernah bekerja untuk Freeport, dan Abigail Abrash, seorang aktivis HAM dari Amerika Serikat, memperkirakan, sebanyak 160 orang telah dibunuh oleh militer antara tahun 1975–1997 di daerah tambang dan sekitarnya.
Pada bulan Maret 1996, kemarahan terhadap perusahaan pecah dalam bentuk kerusuhan ketika sentimen anti-perusahaan dari beberapa kelompok yang berbeda bergabung.
Freeport menyadap berita-berita dalam e-mail. Menurut dua orang yang membaca e-mail-e-mail itu pada saat itu, ada unit-unit militer tertentu, masyarakat setempat, dan kelompok-kelompok lingkungan hidup yang bekerjasama. Sebuah pertukaran informasi dengan menggunakan e-mail antara seorang tokoh masyarakat dengan pimpinan organisasi lingkungan hidup penuh dengan taktik intelijen militer. Dalam e-mail yang lain, seorang pimpinan organisasi lingkungan meminta para anggotanya mundur karena demonstrasi telah berubah menjadi kerusuhan.
Dari wawancara yang dilakukan, bekas pejabat dan pejabat Freeport menyatakan, mereka terkejut melihat sejumlah orang dengan potongan rambut militer, mengenakan sepatu tempur dan menggenggam radio walkie-talkie di antara para perusuh itu. Orang-orang itu terlihat mengarahkan kerusuhan itu, dan pada satu ketika, mengarahkan massa menuju ke laboratorium Freeport yang kemudian mereka obrak-abrik.
[sunting]
Keamanan
Dokumen-dokumen Freeport menunjukkan, dari tahun 1998 sampai 2004 Freeport memberikan hampir 20 juta dolar kepada para jenderal, kolonel, mayor dan kapten militer dan polisi, dan unit-unit militer. Setiap komandan menerima puluhan ribu dolar, bahkan dalam satu kasus sampai mencapai 150.000 dolar, sebagaimana tertera dalam dokumen itu.
Dokumen-dokumen itu diberikan kepada New York Times oleh seseorang yang dekat dengan Freeport, dan menurut bekas karyawan maupun karyawan Freeport sendiri, dokumen-dokumen itu asli alias otentik. Dalam respon tertulisnya kepada New York Times, Freeport menyatakan bahwa perusahaan itu telah mengambil langkah-langkah yang perlu sesuai dengan undang-undang Amerika Serikat dan Indonesia untuk memberikan lingkungan kerja yang aman bagi lebih dari 18.000 karyawannya maupun karyawan perusahaan-perusahaan kontraktornya. Freeport juga mengatakan tidak punya alternatif lain kecuali tergantung sepenuhnya kepada militer dan polisi Indonesia dan keputusan-keputusan yang diambil dalam kaitannya dengan hubungan dengan pemerintah Indonesia dan lembaga-lembaga keamanannya, adalah kegiatan bisnis biasa.
Dalam waktu singkat, Freeport menghabiskan 35 juta dolar untuk membangun infrastruktur militer — barak-barak, kantor-kantor pusat, ruang-ruang makan, jalan — dan perusahaan juga memberikan para komandan 70 buah mobil jenis Land Rover dan Land Cruiser, yang diganti setiap beberapa tahun. Semua memperoleh sesuatu, bahkan juga angkatan laut dan angkatan udara. Menurut bekas karyawan dan karyawan Freeport, ketika itu perusahaan ini sudah merekrut seorang bekas agen lapangan CIA, dan atas rekomendasinya, perusahaan kemudian mendekati seorang atase militer di Kedubes Amerika Serikat di Jakarta dan memintanya untuk bergabung. Kemudian dua orang bekas perwira militer Amerika Serikat direkrut, dan sebuah departemen khusus, yang diberi nama Perencanaan Operasi Darurat (Emergency Planning Operation) didirikan untuk menangani hubungan baru Freeport dengan militer Indonesia.
Departemen Perencanaan Operasi Darurat yang baru ini mulai melakukan pembayaran bulanan kepada para komandan TNI, sementara kantor Pengelolaan Risiko Keamanan (Security Risk Management office) mengatur pembayaran kepada polisi. Informasi ini diperoleh dari dokumen-dokumen perusahaan dan keterangan bekas karyawan dan karyawan Freeport. Menurut dokumen perusahaan, Freeport membayar paling sedikit 20 juta dolar (sekitar Rp 184 miliar) kepada militer dan polisi di Papua dari tahun 1998 sampai bulan Mei 2004. Kemudian ada juga tambahan 10 juta dolar (sekitar Rp 92 miliar) yang juga dibayarkan kepada militer dan polisi pada jangka waktu itu sehingga totalnya sekitar Rp 276 miliar.
New York Times menerima dokumen keuangan Freeport selama tujuh tahun dari seorang yang dekat dengan perusahaan itu. Tambahan dokumen selama tiga tahun diberikan oleh Global Witness, sebuah LSM yang mengeluarkan laporan pada bulan Juli, yang berjudul Paying for Protection (Bayaran Perlindungan) [1] tentang hubungan Freeport dengan militer Indonesia. Diamird 0'Sullivan, yang bekerja untuk Global Witness di London, mengkritik pembayaran yang dilakukan Freeport itu.
Menurut perusahaan, semua pengeluaran yang dilakukannya itu harus melalui proses pemeriksaan anggaran. Catatan yang diterima New York Times menunjukkan adanya pembayaran kepada perwira-perwira militer secara perseorangan yang didaftarkan di bawah topik-topik seperti biaya makanan, jasa administrasi dan tambahan bulanan. Para komandan yang menerima dana tersebut tidak diharuskan menandatangani tanda terima.
Pendeta Lowry, yang pensiun dari Freeport pada bulan Maret 2004 tetapi tetap menjadi konsultan sampai bulan Juni, mengatakan, sebetulnya tidak ada alasan yang cukup bagi Freeport untuk memberikan dana secara langsung kepada para perwira militer itu.
Catatan perusahaan menunjukkan, penerima terbesar adalah komandan pasukan di daerah Freeport, Letnan Kolonel Togap F. Gultom. Selama enam bulan tahun 2001, ia diberikan hanya kurang sedikit dari 100.000 dolar untuk biaya makanan, dan lebih dari 150.000 dolar di tahun berikutnya. Pada tahun 2002, Freeport juga memberikan uang kepada paling tidak 10 komandan lainnya mencapai lebih dari 350.000 dolar untuk biaya makan.
Menurut para bekas karyawan dan karyawan Freeport, pembayaran-pembayaran tersebut dilakukan kepada para perwira itu, kepada istri-istri dan anak-anak mereka, secara perorangan. Yang berpangkat jenderal terbang di kelas satu atau kelas bisnis, dan para perwira yang lebih rendah pada kelas ekonomi, demikian kata Brigadir Jenderal Ramizan Tarigan yang menerima tiket senilai 14.000 dolar pada tahun 2002 untuk dirinya dan anggota keluarganya.
Jenderal Tarigan yang menduduki posisi senior di kepolisian mengatakan, para perwira polisi dibolehkan menerima tiket pesawat udara karena gaji mereka sangat rendah tetapi adalah melanggar peraturan kepolisian untuk menerima pembayaran uang tunai. Pada bulan April 2002, Freeport membayar perwira senior militer di Papua, Mayor Jenderal Mahidin Simbolon, lebih dari 64.000 dolar untuk yang disebut dalam buku keuangan Freeport sebagai "dana untuk rencana proyek militer tahun 2002".
Delapan bulan kemudian, di bulan Desember, Jenderal Simbolon menerima lebih dari 67.000 dolar untuk proyek aksi sipil kemanusiaan. Pembayaran-pembayaran ini pertama kali dilaporkan Global Witness. Jenderal Simbolon, yang kini menjadi Inspektur Jenderal Angkatan Darat Indonesia, menolak permohonan untuk diwawancarai.
Pada tahun 2003, sesudah terjadinya skandal Enron dan disahkannya Undang-undang Sarbanes-Oxley, yang mengharuskan praktik-praktik akuntansi keuangan yang lebih ketat pada perusahaan-perusahaan, Freeport mulai melakukan pembayaran kepada unit-unit militer ketimbang kepada para perwira secara individu. Demikian menurut catatan yang tersedia dan seperti yang dituturkan oleh bekas karyawan dan karyawan perusahaan ini.
Menurut catatan, perusahaan membayar unit-unit polisi di Papua sedikit di bawah angka 1 juta dolar di tahun 2003, didaftarkan di bawah topik-topik seperti "tambahan pembayaran bulanan," "biaya administrasi" dan "dukungan administratif." Freeport menyatakan kepada New York Times, di dalam menentukan jenis dukungan yang dapat diberikan, adalah merupakan kebijakan perusahaan untuk memperhitungkan kemungkinan terjadinya pelanggaran HAM.” Menurut catatan yang diterima oleh New York Times, pasukan paramiliter polisi, yaitu Brigade Mobil (Brimob), yang sering dikutip oleh Departemen Luar Negeri Amerika Serikat karena kekejamannya, menerima lebih dari 200.000 dolar di tahun 2003.
[sunting]
Sumber
Laporan investigatif wartawan New York Times Jane Perlez, Raymond Bonner dan kontributor Evelyn Rusli, "Below a Mountain of Wealth, a River of Waste", 27 Desember 2005.
Disunting dan diberitakan dalam bahasa Indonesia oleh Rakyat Merdeka dengan judul "Menyusuri Sungai Limbah Di Kaki Gunung Emas Freeport" secara bersambung pada 16-22 Februari 2006
Peristiwa
21 Februari 2006, terjadi pengusiran terhadap penduduk setempat yang melakukan pendulangan emas dari sisa-sisa limbah produksi Freeport di Kali Kabur Wanamon. Pengusiran dilakukan oleh aparat gabungan kepolisian dan satpam Freeport. Akibat pengusiran ini terjadi bentrokan dan penembakan. Penduduk sekitar yang mengetahui kejadian itu kemudian menduduki dan menutup jalan utama Freeport di Ridge Camp, di Mile 72-74, selama beberapa hari. Jalan itu merupakan satu-satunya akses ke lokasi pengolahan dan penambangan Grasberg.
22 Februari 2006, sekelompok mahasiswa asal Papua beraksi terhadap penembakan di Timika sehari sebelumnya dengan merusak gedung Plasa 89 di Jakarta yang merupakan gedung tempat PT Freeport Indonesia berkantor.
23 Februari 2006, masyarakat Papua Barat yang tergabung dalam Solidaritas Tragedi Freeport menggelar unjuk rasa di depan Istana, menuntuk presiden untuk menutup Freeport Indonesia. Aksi yang sama juga dilakukan oleh sekitar 50 mahasiswa asal Papua di Manado.
25 Februari 2006, karyawan PT Freeport Indonesia kembali bekerja setelah palang di Mile 74 dibuka.
27 Februari 2006, Front Persatuan Perjuangan Rakyat Papua Barat menduduki kantor PT Freeport Indonesia di Plasa 89, Jakarta. Aksi menentang Freeport juga terjadi di Jayapura dan Manado.
28 Februari 2006, Demonstran di Plasa 89, Jakarta, bentrok dengan polisi. Aksi ini mengakibatkan 8 orang polisi terluka.
1 Maret 2006, demonstrasi selama 3 hari di Plasa 89 berakhir. 8 aktivis LSM yang mendampingi mahasiswa Papua ditangkap dengan tuduhan menyusup ke dalam aksi mahasiswa Papua [6] [7]. Puluhan mahasiswa asal Papua di Makassar berdemonstrasi dan merusak Monumen Pembebasan Irian Barat.
3 Maret 2006, masyarakat Papua di Solo berdemonstrasi menentang Freeport.
7 Maret 2006, demonstrasi di Mile 28, Timika di dekat bandar udara Moses Kilangin mengakibatkan jadwal penerbangan pesawat terganggu.
14 Maret 2006, massa yang membawa anak panah dan tombak menutup checkpoint 28 di Timika. Massa juga mengamuk di depan Hotel Sheraton.
15 Maret 2006, Polisi membubarkan massa di Mile 28 dan menangkap delapan orang yang dituduh merusak Hotel Sheraton. Dua orang polisi terkena anak panah.
16 Maret 2006, aksi pemblokiran jalan di depan Kampus Universitas Cendrawasih, Abepura, Jayapura, oleh masyarakat dan mahasiswa yang tergabung dalam Parlemen Jalanan dan Front Pepera PB Kota Jayapura, berakhir dengan bentrokan berdarah, menyebabkan 3 orang anggota Brimob dan 1 intelijen TNI tewas dan puluhan luka-luka baik dari pihak mahasiswa dan pihak aparat.
17 Maret 2006, Tiga warga Abepura, Papua, terluka akibat terkena peluru pantulan setelah beberapa anggota Brimob menembakkan senjatanya ke udara di depan Kodim Abepura [10]. Beberapa wartawan televisi yang meliput dianiaya dan dirusak alat kerjanya oleh Brimob.
22 Maret 2006, satu lagi anggota Brimob meninggal dunia setelah berada dalam kondisi kritis selama enam hari
23 Maret 2006, lereng gunung di kawasan pertambangan terbuka PT Freeport Indonesia di Grasberg, longsor dan menimbun sejumlah pekerja. 3 orang meninggal dan puluhan lainnya cedera.
23 Maret 2006, Kementerian Lingkungan Hidup mempublikasi temuan pemantauan dan penataan kualitas lingkungan di wilayah penambangan PT Freeport Indonesia. Hasilnya, Freeport dinilai tak memenuhi batas air limbah dan telah mencemari air laut dan biota laut.
18 April 2007, sekitar 9.000 karyawan Freeport mogok kerja untuk menuntut perbaikan kesejahteraan. Perundingan akhirnya diselesaikan pada 21 April setelah tercapai kesepakatan yang termasuk mengenai kenaikan gaji terendah
21 Oktober 2011, sekitar tiga orang tewas akibat insiden penembakan di kawasan Freeport Timika Papua. Marcelianus, seorang personel polri berpangkat Brigadir Polisi Satu juga tewas tertembak.
@sumber Wikipedia
Apa yang terjadi di negara ini. Mari kita melihat sejarah panjang dari pembentukan bangsa ini. Bangsa yang di cita-citakan kelak menajadi negara merdeka dan bebas dalam menentukan nasibnya sendiri. Namun melihat nasib rakyat yang masih harus menjadi buruh yang diperbudakkan oleh bangsa lain di negrinya sendiri. Tidak salah rasanya jika pribumi di Papua melakukan aksi prostes terhadp makhluk asing yang terus menjarah tanah mereka. Tanah adat yang dijadikan tambang kemudian mereka di usir di kaki gunung.
Seandainya penguasa negeri ini berani mencabut izin Freeport kemudian emas itu diolah sendiri maka tentu hasilnya lebih memuaskan. Bayangkan jika keuntungan yang diraih Amerika setaip detiknya 6 M dan hanya satu persen yang di alihkan ke negara itupun setelah di pangkas sana-sini. Kemungkinan terbesar negara kita akan di embargo. Silahkan. Bukan masalah untuk negara yang sebenarnya kaya seperti Indonesia. Tapi ternyata Penguasa Negara ini juga boneka dari Amerika. Salut untuk perjuangan Rakyat di PAPUA.
2.11.2012
Dalam Bagian Rindu
Kutemukan jejak tipis dari kisah yang mengantarku menemukan dirimu
Semalam aku baru saja mengantarmu pulang dengan rintik penutup malam
Dingin derai angin menemani menghalau badai ketakutan tipis di fikiranmu
Berupaya kaburkan rindu yang kubiarkan terlantar
Aku bukan takut kehilangan tapi sekedar aku mencintai bagian ini
Kemarin saat kita menghabiskan sepotong malam di teras rumahmu
Aku menemukan urat wajahku di keningmu
Kutatap sampai kau tertidur dalam bingkai hangatku
Aku tak mengenalmu lebih dari pertanyaan
Kau hadir dalam imajinasi waktu yang terus menjalar dalam ingatanku
Kau hidup di nadiku sebagai nyawa yang tiap waktu sang malaikat bisa saja mencabutnya tanpa seizinku.
Aku menempatkanmu pada sisi kiri tubuhku
Dalam bagian rindu namamulah yang akan tiap saat mendekat untuk dirindukan
Setelah kau tanyakan padaku tentang rindu itu
Kini kubiarkan angin membawanya menemukan sukma kehidupan
Aku membiarkan diriku terbiasa untuk menyepi
Karena kutahu ini akan lama saat aku kembali menemukan apa yang kau tanya
Kesepian ini yang menarikku ke keranda takdirku
Makassar 17-19-2012
Semalam aku baru saja mengantarmu pulang dengan rintik penutup malam
Dingin derai angin menemani menghalau badai ketakutan tipis di fikiranmu
Berupaya kaburkan rindu yang kubiarkan terlantar
Aku bukan takut kehilangan tapi sekedar aku mencintai bagian ini
Kemarin saat kita menghabiskan sepotong malam di teras rumahmu
Aku menemukan urat wajahku di keningmu
Kutatap sampai kau tertidur dalam bingkai hangatku
Aku tak mengenalmu lebih dari pertanyaan
Kau hadir dalam imajinasi waktu yang terus menjalar dalam ingatanku
Kau hidup di nadiku sebagai nyawa yang tiap waktu sang malaikat bisa saja mencabutnya tanpa seizinku.
Aku menempatkanmu pada sisi kiri tubuhku
Dalam bagian rindu namamulah yang akan tiap saat mendekat untuk dirindukan
Setelah kau tanyakan padaku tentang rindu itu
Kini kubiarkan angin membawanya menemukan sukma kehidupan
Aku membiarkan diriku terbiasa untuk menyepi
Karena kutahu ini akan lama saat aku kembali menemukan apa yang kau tanya
Kesepian ini yang menarikku ke keranda takdirku
Makassar 17-19-2012
1.14.2012
Mengapa Kamu Memilih Menjadi Pelacur
mengapa kamu memilih menjadi pelacur?
tanyaku pada seorang wanita
di ujung jalan memarkir tubuhnya yang hampir mirip telanjang
membasuh sisa mani diselangkangannya
terpaksa
jawabnya lirih menutup wajahnya
semua demi anak dan sisa kenangan pada mantan suaminya
keras hidup dia lalui sendiri
membungkam malu demi kelanjutan nafas anaknya
bukan salah siapa-siapa
semua bisa menyalahkan
tapi apakah mereka mengerti dan ingin berbagi bahagia
siapapun tak ingin terjebak
namun kadang situasi memaksa untuk melakukannya
kutanya lagi
apakah ini benar
jawabnya singkat dan wajahnya mengusirku
tidak dan tidak akan pernah benar
18.09.2011
tanyaku pada seorang wanita
di ujung jalan memarkir tubuhnya yang hampir mirip telanjang
membasuh sisa mani diselangkangannya
terpaksa
jawabnya lirih menutup wajahnya
semua demi anak dan sisa kenangan pada mantan suaminya
keras hidup dia lalui sendiri
membungkam malu demi kelanjutan nafas anaknya
bukan salah siapa-siapa
semua bisa menyalahkan
tapi apakah mereka mengerti dan ingin berbagi bahagia
siapapun tak ingin terjebak
namun kadang situasi memaksa untuk melakukannya
kutanya lagi
apakah ini benar
jawabnya singkat dan wajahnya mengusirku
tidak dan tidak akan pernah benar
18.09.2011
1.10.2012
Hidup di Bawah Merah Putih
Semoga kami tidak lahir dari kaki-kaki penguasa
Yang dibuat dari unsur tatanan yang baku akan penindasan
Menutup jeritan kami dengan halusinasi palsu akan kebenaran
Ketidakadilan menjadi jaminan atas keberlangsungan hidup
Cukup sudah derita yang semestinya tidak menjadi takdir kami.
Bagi penguasa negri ini
Jika rakyat terlantar dan kerontang meminta keadilan yang benar
Para ibu susah mengepul asap di dapur akibat bahan pokok melambung
Dan kami masih mendapati kaum buruh tak mendapatkan upah layak
Haruskah tirani kebangsawananmu kamu ambrukkan dengan darah perjuangan
Selama bendera revolusi belum menjadi putih
Masih ada kejantanan untuk menekukkan lututmu
Dan menjilat hasil lendir di kemaluanmu
Seperti itulah sebagaian rasa dari kami yang hidup dibawah merah putih
Garuda terbang meninggalkan kami
Tinggallah buih dihantam gelombang pertiwi
10.01.12
Yang dibuat dari unsur tatanan yang baku akan penindasan
Menutup jeritan kami dengan halusinasi palsu akan kebenaran
Ketidakadilan menjadi jaminan atas keberlangsungan hidup
Cukup sudah derita yang semestinya tidak menjadi takdir kami.
Bagi penguasa negri ini
Jika rakyat terlantar dan kerontang meminta keadilan yang benar
Para ibu susah mengepul asap di dapur akibat bahan pokok melambung
Dan kami masih mendapati kaum buruh tak mendapatkan upah layak
Haruskah tirani kebangsawananmu kamu ambrukkan dengan darah perjuangan
Selama bendera revolusi belum menjadi putih
Masih ada kejantanan untuk menekukkan lututmu
Dan menjilat hasil lendir di kemaluanmu
Seperti itulah sebagaian rasa dari kami yang hidup dibawah merah putih
Garuda terbang meninggalkan kami
Tinggallah buih dihantam gelombang pertiwi
10.01.12
Budaya Bugis Makassar di tahun 1938
Rolf de Maré was born in Stockholm in 1888. In 1913 he made friends with post-impressionist painter Nils von Dardel
who was not particularly well off, but imaginative and talented, while
de Maré was enthusiastic and had money. Together they were a very
fruitful duo and in 1920 they created Ballets Suédois at the Théâtre des Champs-Élysées in Paris. In the autumn of 1924 Giorgio de Chirico curated the scenography and costumes for Pirandello's La Giara. In 1933, Rolf de Maré founded Les Archives internationales de la Danse (AID) in Paris — the world's first museum and research institute for dance.
The Archive became a famous centre for studies in dance and visitors
came from all over the world to see exhibitions or to study in its vast
library. The dance center also published its own magazine and books,
arranged lecture demonstrations in the building which de Maré had
constructed for his dance centre. After the World War
the archives had grown too large for a private person to maintain, de
Maré closed his business in Paris and donated parts of the collections —
some 6,000 books, engravings and other items, all concerned mainly with
Western dance — to the French government which placed them at the museum and library of the Paris Opera.
However, the museum declined to accept two substantial elements of de
Maré's collection: firstly, material from the Ballets Suédois, and
secondly, the fruits of his expedition of exploration to Indonesia in 1936 — the first to have been undertaken with the purpose of documenting dance.
Therefore, the collection from the Swedish Ballet in Paris and the
non-European collections were brought by de Maré to Stockholm to form
the Dance Museum, which he opened in 1953 in the basement of the Royal Swedish Opera
in Stockholm. On his death he made the Dance Museum the sole heir to
his fortune, and this enabled the museum to make further acquisitions. After dissolving the Ballets Suedois in 1925, de Maré made no attempt
to revive its works. The various, concrete collectibles de Maré amassed
and that exist today as the bedrock of Stockholm's Dance Museum,
illuminate our picture of him as archivist and art collector, all the while they question his role as a connoisseur
of a theater based on the art of dancing. Throughout his life, Rolf de
Maré was also a distinguished art collector. In the early 1960s, he made
an important donation of modernist art to the Moderna Museet. Rolf de Maré died in Barcelona in 1964.
Rolf de Mare (1888 - 1964) was an art collector and leader Suédois Swedish Ballet in Paris 1920-1925. In 1933, Rolf de Mare was founded "Les Archives Internationales de la Danse" (AID) in Paris a world's first museum and research institute for dance. Archives became famous center for studies in dance and visitors come from all over the world to see the exhibition or to study in the extensive library. After the war, de Mare donated his collection of Swedish Ballet in Paris and the fruits of exploration expedition to Indonesia in 1938 - the first has been done with the purpose of documenting dance - to Stockholm to form the Museum of Dance, which he opened in 1953. During his visit to Indonesia Rolf de Mare, also took to the land of southern Sulawesi to mengdokumentasikan Bugis Makassar culture's land. Here is a set of photographs of works of Rolf de Mare who was in grimy from digitalgallery.nypl.org.
Berikut Karya Rolf de Mare tentang Budaya Bugis Makassar di Tahun 1938
1.09.2012
Waktu yang Akan Menarikmu Kembali
aku berani mencintaimu lebih besar dari Tuhan
tapi aku tahu Tuhan akan marah
aku bisa mencintaimu lebih besar dari Orang Tuaku
tapi aku tahu Orang Tuaku akan kecewa
aku mampu mencintaimu lebih besar dari Saudaraku
tapi aku tahu Saudaraku akan menyesal
aku dapat mencintaimu lebih besar dari Sahabatku
tapi aku tahu Sahabatku akan terluka
saat aku menemukan Tuhan dalam dirimu
dan aku dapati kau mulai untuk mencariku
aku tersadar kemampuanku hanya sebatas mencintaimu lebih dari diriku sendiri
kubenamkan pada keyakinanku untuk menjadikan ini sebagai kisah
meski aku tahu keberadaanku hanya untuk ini saja
terlepas dari waktu yang akan menarikmu kembali
aku salamkan pada penghujung kelak yang akan menentukan.
[CR]
18.12.2011
tapi aku tahu Tuhan akan marah
aku bisa mencintaimu lebih besar dari Orang Tuaku
tapi aku tahu Orang Tuaku akan kecewa
aku mampu mencintaimu lebih besar dari Saudaraku
tapi aku tahu Saudaraku akan menyesal
aku dapat mencintaimu lebih besar dari Sahabatku
tapi aku tahu Sahabatku akan terluka
saat aku menemukan Tuhan dalam dirimu
dan aku dapati kau mulai untuk mencariku
aku tersadar kemampuanku hanya sebatas mencintaimu lebih dari diriku sendiri
kubenamkan pada keyakinanku untuk menjadikan ini sebagai kisah
meski aku tahu keberadaanku hanya untuk ini saja
terlepas dari waktu yang akan menarikmu kembali
aku salamkan pada penghujung kelak yang akan menentukan.
[CR]
18.12.2011
1.08.2012
Adakah Dirimu Kini Sudah Yakin
Baru saja kembali dari pelukan misteri
Sempat aku tujukan tanya pada hatimu
Namun kau sendiri belum cukup yakin
Aku dipersalahkan namun banyak yang membenarkan
Menunggu nampaknya akan mengajarimu kesabaran
Alasan utama yang membuatku memaksamu untuk merasakannya
Maaf jika jenuh
Bukankah akan lebih banyak badai yang akan menahan langkah
Rasa sayang itu kehendak hatiBukan harus dipaksakan dan terpaksa
Aku kembali bertanya adakah dirimu kini sudah yakin?
[CR]
27.11.2011
Sempat aku tujukan tanya pada hatimu
Namun kau sendiri belum cukup yakin
Aku dipersalahkan namun banyak yang membenarkan
Menunggu nampaknya akan mengajarimu kesabaran
Alasan utama yang membuatku memaksamu untuk merasakannya
Maaf jika jenuh
Bukankah akan lebih banyak badai yang akan menahan langkah
Rasa sayang itu kehendak hatiBukan harus dipaksakan dan terpaksa
Aku kembali bertanya adakah dirimu kini sudah yakin?
[CR]
27.11.2011
Sepuncak Rahasia
Kisah ini adalah RAHASIA terbesar bagi seorang pemuda yang dalam
catatan ini dirinya sengaja aku palsukan. Kisahnya yang sempat tercatat
dalam buku harian ini penuh dengan alur yang mampu menggugah nalar dan
nurani. Perjalanan hidupnya yang begitu kejam serta sikapnya yang
pantang menyerah mampu menjadi kiblat bagi para remaja dalam menyikapi
kehidupan ini. Buku catatan yang berhasil diselamatkan sebelum
pemiliknya sempat membakar sajarah ini menyimpan berbagai macam rasa
yang membuat kita tertarik untuk mengenal lebih dalam akan sosoknya.
Naming butuh waktu dua bulan untuk meyakinkan pemiliknya agar mau
memberikan buku itu kemudian setelah mendapat izin saya rangkum menjadi
potongan yang sederhana namun penuh sesak dan emosi. Kehidupan
memberinya penjelasan yang menjadikannya seperti ini. Kisahnya menjadi
inspirasi bagi saya dan mungkin juga orang lain.
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..
2006
Aku memperkenalkan diriku. Baso Andika. Keadaanlah yang menjadikan aku seperti ini. Belajar dari sekian masalah yang membuatku dewasa, dari sekian curiga yang menjadikan aku penuh tanya. Walau kehidupan tak selalu sama aku tetap berjalan hingga akhirnya tertarik kedalam gelombang MADESU. Sekian lama bermukim di sana namun tak ada orang lain yang berhasil menarikku keluar dari gelombang itu. Ditempat itu aku banyak memahami kehidupan. Melihat orang merekayasa dirinya sendiri. Memalsukan hatinya dan hidup dalam diri orang lain. Hati kecilku mengatakan itu salah namun akalku membenarkan sampai aku merasa inilah sebenarnya hidup. Terjebak dalam fikiran hampa dan tak mampu keluar. Aku sering berteriak memanggil nama agar ada orang tertarik untuk melihatku disini. Namun mereka lebih senang untuk menjilati mimpi-mimpinya. Aku bisa membaca tatapan matanya. penuh HINAAN. Aku merasa sepertinya arus yang aku jalani akan membuatku tertanam kaku. Maka aku memilih tetap berdiam diri untuk waktu yang tak kutentukan.
2007
Kurasa hidup semakin kejam saja. Tak ada pembenaran untuk orang sepertiku. Berulang kali dalam sujudku aku berdo’a agar ada yang bisa memahami jiwa ini meski kutahu hati ini telah luntur dari warna sucinya. Namun mereka hanya datang untuk memperkanalkan diri sendiri dan memberi pujian atas hidupnya. Setelah itu dia kembali pergi untuk menemui orang sepertiku lalu kembali menceritakan kepahlawanannya. PALSU. Aku terpaksa memberikan penilaian untuk orang seperti itu. MUNAFIK. Sementara itu waktu terus berjalan mengganti warnanya. Namun bagiku semua tetap sama. Tawa yang kubawa hanyalah bagian dari BAHAGIA yang semu. Keadaan jiwa semakin tertekan melihat semuanya harus berubah. Tapi kembali nurani berkata SISI YANG MANA HARUS KUUBAH. Aku terjebak dalam lintas waktu yang panjang dengan kondisiku seperti ini.
2008
PSIKOPAT. Orang mengatakan itu padaku. Aku sempat terpojok ketika tahu bahwa psikopat itu bererti ORANG GILA TANPA GANGGUAN MENTAL. Semenjak saat itu aku merasa semakin sendiri. Akhirnya dengan ditemani Ibu, kuputuskan untuk bertemu dengan PSIKOLOG. Aku bersyukur dia mau membantuku dan menjaga rahasia ini. Aku menjawab setiap pertanyaannya dan memberikan penilaian dengan apa yang dia perlihatkan kepadaku. Kemudian terakhir dia menjelaskan kepadaku apa sebenarnya Psikopat itu dan dari hasil konsultasi itu dia memberikan penilaian 53 % total kondisi jiwaku. Itu berarti sebagian besar tingkahku sudah terpengaruhi oleh VIRUS PSIKOPAT. Itu bukan jawaban yang aku harapkan. Aku berusaha melihat diriku dari sisi masa lalu. Namun aku tidak menemukan apa yang aku cari. Dari setiap kejadian yang telah kulalui aku berusaha tetap menjalani hidupku dan kembali menemukan diriku yang sebenarnya. Hingga suatu hari nasib mempertemukanku dengan seorang wanita. Perkenalanku dengannya sedikit membawa perubahan. Meski ku akui godaan kadang masih lebih dahsyat ketimbang rayuan. Padanya aku masih merahasiakan semua ini. Aku berharap dia mampu menerimaku apa adanya. HARAPKU..
1.04.2012
Sajak Tipis
1.01.2012
sajak debu II
Sajak Debu I
Langganan:
Postingan (Atom)




