on 3.28.2013
umur akan sependek bulan, tapi setia akan membuatmu jadi bintang dengan jumlah yang lebih cahaya.

di kolong langit --
ada jembatan penghubung masa
bidadari bahkan kadang tersesat di dalamnya
hanya manusia bulan dan bukan cahaya yang tahu bagaimana cara menemukan ketersesatan itu -

on 3.18.2013

dalam diam:
kita mengayun angin halau
mencoba kebal atas segala coba
tidak rasa lagi pada lalu
kita orangnya sudah kuat saja
namun luka kian dewasa

aku:
hidup hanya mencari kematian
kata-kataku akan hidup lebih juang
puisi-puisiku kelak akan meminta pertanggung jawaban
sedangkan aku tidak cukup kuat lagi
tidak cukup sekadar menolong diri sendiri

kemungkinan:
aku menjadi benci pada ambigu
malam-malam membual
membuang segala kata yang kaku
puisiku mungkin akan dewasa
tapi aku akan mati setelahnya
: Tuhan, aku pulang -

18 Maret 2013
on 3.15.2013

[Sebuah Kajian Histori Singkat tentang Sastra di Indonesia]

SEJARAH SINGKAT MASUKNYA SOSIALIS DI INDONESIA

Sastra-sastra sosialis banyak menggambarkan kondisi serta gejolak masyarakat di masa tersebut. Sastra sosialis banyak muncul di surat kabar-surat kabar (antara lain yang dimuat secara bersambung) yang dikelola oleh para aktivis gerakan, serta sebagian lagi diterbitkan oleh penerbit-penerbit swasta atau badan-badan tertentu (mislanya oleh kantor KPI) berikut merupakan perjalanan sastra Marxis di Indonesia (Teeuw, 1978)
Perkembangan Sastra Marxis di Indonesia dimulai sejak awal abad ke-20. Era ini juga ditandai dengan masuknya modernitas dan disaat yang bersamaan para tokoh-tokoh pribumi menggalang kekuatan dan semangat tentang nasionalisme. Sosialisme di Indonesia sendiri di bawah oleh para tokoh asal Belanda yang beraliran sosial-demokrat, antara lain adalah Sneevliet, Dekker, Bransteder, Baars, Bergsma dan C. Hartogh. Merekalah yang membawa ajaran Marx dan Engles ke Hindia Belanda yang kemudian disebut Indonesia.
Sneevliet mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeninging) pada tahun 1914 kemudian berhasil mengambil peranan penting dalam mempengaruhi organisasi-organisasi pribumi yang telah berdiri sebelumnya dan mampu membuat para tokoh aktivis pergerakan akhirnya lebih condong menjadi sosialis revolusioner. Tokoh Indonesia yang dianggap sebagai pelopor Marxisme adalah Semaoen dan Darsono dari Serikat Islam (SI) Semarang.

MASA AWAL KARYA SASTRA SOSIALIS

            Kondisi politik dan ekonomi di Hindia Belanda pada waktu itu tidak karuan. Ini di akibatkan oleh sistem kolonialisme, lebih terasa lagi ketika pemerintah Hindia Belanda mengubah sistem dari VOC menjadi sistem liberal. Kemudian sistem kerja paksa dihapuskan dan diubah menjadi sistem kerja upah yang bebas. Akhirnya kondisi ini semakin kacau dan membuat para tokoh sastra sosialis semakin kritis. Mereka kemudian menyuarakan perlawanan terhadap sistem kolonialisme di bumi Indonesia melalui tulisan.

Karya-karya yang dianggap sebagai jenis karya sastra perlawanan.
1.      Karangan Hadji Moekti dari tahun 1910 sampai 1912 yang berjudul Hikajat Siti Mariah yang berkisah tentang permasalahan yang terjadi disekitaran sosial, politik dan ekonomi dari berbagai lapisan sosial masyarakat.
2.      Roman Tirto Adhi Soerja, dikarang pada tahun 1912 berjudul Nyai Permana yang berkisah tentang istri Menteri Polisi. Ketika suaminya mengkorup petani saat pembagian tanah, Nyai Permana akhirnya sadar dan memilih untuk berpihak pada petani lalu meninggalkan suaminya, kembali ke desa dan berkumpul bersama para petani.
3.      Hikayat Kodiroen karya Semaoen (kelak menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia) yang di tuliskan pada tahun 1920 berkisah tentang seorang pemuda cerdas bernama Kadirun yang bekerja sebagai pegawai negeri dalam pemerintahan kolonial. Namun melihat penderitaan dan kemiskinan mayarakat akhirnya ia kecewa kepada pemerintah Hindia Belanda dan memilih untuk bergabung bersama took-tokoh PKI yang mengajarkannya tentang teori-teori perjuangan dan perlawanan. Akhirnya pimpinanya mengetahui gerak-gerik Kadirun dan menyuruhnya memilih jabatannya atau partai yang akan membuat dirinya dipecat dari jabatannya. Kadirun kemudian memilih untuk ikut dalam kegiatan politik PKI, karena menurutnya hanya dengan cara seperti itu dia bias memperjuangkan cita-cita dan kebahagiaan rakyat.

Perkembangan sastra marxis atau dikenal juga dengan istilah sastra sosialis di Hindia Belanda semakin matang. Karya-karya yang muncul juga semakin kritis dan penuh perlawanan. Salah satu karya yang dianggap sangat keras pada masanya adalah karya milik Marco Kortodikromo yang berjudul Mata Gelap (1914), isinya di penuhi oleh pornografi dan mendapatkan kecaman oleh masyarakat waktu itu. Akhirnya dia membuat satu karya lagi yang berjudul Student Hidjo (1918) berkisah tentang awal munculnya intelektual Indonesia dari kelas borjuis kecil, foedal, birokrat yang bermental lemah, dan beruntung karena memiliki kesempatan untuk  mendapatkan pendidikan Barat bahkan sampai ke luar negeri.
Kaum sastra sosialis akhirnya digolongkan kedalam “sastra pinggiran” yang karyanya oleh sebagian kritikus sastra di Indoneia tidak dimasukan dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia. Sebagiannya lagi menganggap bahwa karya-karya yang pernah muncul dari sastra sosilialah yang dianggap mewakili keadaan Indonesia pada waktu itu.

KEMUNDURAN SASTRA SOSIALIS DAN DOMINASI BALAI PUSTAKA

                Salah satu alasan kemunduran sastra sosialis adalah hegemoni Balai Pustaka yang pengaruhnya semakin kuat dan meluas di Indonesia. Disamping itu tokoh sastra sosialis tidak mampu bertahan dalam dunia kesusastraan akibat pencekalan karyanya dan keaktifan dalam pergerakan politik. Sebagaian tokoh sastra sosialis juga ditahan oleh pemerintah kolonial dan ada juga yang diasingkan.
Karya-karya yang dihasilkan oleh Balai Pustaka akhirnya dianggap sebagai cerminan masyarakat waktu itu. Karya Abdoel Moeis yang berjudul Salah Asuhan (1928) menjadi bukti usaha Balai Pustaka untuk menampilkan karya bermutu dan mengenyampingkan persoalan politik. Melalui karya tersebut Balai Pustaka seaolah-olah ingin mengubah paradigma tokoh sastra sosialis bahwa kita tetap bisa membuat karya sastra yang bermutu tanpa harus menghubungkannya dengan politik.
Balai Pustaka akhirnya muncul sebagai simbol baru kesusastraan Indonesia yang dianggap lebih bermartabat namun nyatanya kurang memperhatikan lagi kondisi sosial masyaratkat pada masa itu, sedangkan jika dimaknai, karya sastra itu sendiri adalah cerminan dari masyarakat. Mungkin inilah yang disebut oleh WS. Rendra dalam “Sajak Sebatang Lisong” sebagai penyair-penyair salon.
Takdir Alisjahbana dalam karyanya, Layar Terkembang (1936) dan Armijn Pane dengan novel Belenggu (1940) pernah mencoba untuk kembali memunculkan semangat ke-Indonesia-an sebagai gerakan untuk menolak kolonialisme. Namun nyatanya, kedua karya tersebut dianggap masih jauh dari semangat ketika sastra-sastra sosialis, apa lagi realisme sastra.
Namun beruntung pada masa itu Pramoedya Ananta Toer berhasil membuat karya sastra yang dianggap mampu mewakili kata “perlawanan” yang selama ini diusahakan oleh tokoh-tokoh sastra sosialis. Namun kembali lagi harus mendapatkan pencekalan oleh pemerintah pada waktu itu. Beberapa buku Pramoedya akhirnya diterbitkan di luar negeri.

Daftar Pustaka:
Faruk, 1994. Pengantar Sosilogi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kurniawan, Eka. 1999. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia.
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra. Malang: UMM Press.

*anggap saja sebagai catatan bawah: tulisan ini hanya sebuah kajian histori singkat tentang sastra sosialis di Indonesia. Masih minim referensi dan bagi pembaca ada baiknya untuk memberikan kritik yang membangun guna pengembangan pengetahuan.
on 3.13.2013

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sebdiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.
Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.
Bandung, 30 Maret 1973
on 3.12.2013
[kisah kartu nama dan cincin]

pernah coba membunuh diri. bertahun sesal menjadi langit-langit mendung yang tak pernah hasilkan hujan. di bawah wabah rindu menerkam kejam dengan caranya yang menyayat. aku menjadi sepotong jari yang kehilangan kuku-kuku putih tidak berdarah. lalu ayat-ayat aku baca mayat.

namun akhirnya, aku mencintai hujan:
malam ini hujan jelma rinai terakhir. kita batal pulang, hujan mendadak nakal. menghitung rintik yang rambat dari celah atap pohon yang malu-malu: berdua saja, semakin beradu.
saat seperti ini aku membenci waktu. aku lebih suka hujan yang menjebak. ingin rasanya aku tikam jantung detaknya yang seolah menegur untuk menembus badai malam ini saja. kita bertahan dengan alasan takut basah dan pisah.

aku suka kata dua, sebab disana ada aku dan kamu yang selalu menjadi akhir tanpa berakhir. di saku bajumu ada kartu nama percetakan undangan. aku tahu, kau ingin berikan itu kepadaku. maaf, aku belum punya cincin untuk membalas karta nama itu.

akhirnya, sengaja aku basahkan sakumu agar karta nama itu menjadi luntur. kau terpaksa mengeluarkannya, dugaanku benar, luntur dan menyisahkan kata kahni yang aku baci sebagai kenduri setia kita: pernikahan -
on 3.09.2013
bulan telah cukup redup dipelukanku. aku sangkakala malam yang cukup setia menunggu jatuhnya suara terompet dalam benar. mengunang dengan sayap patahnya cahaya. jatuh tepat pada ranjang yang kakinya telah pohon. aku berbaring semesta dengan segala prahara yang meniduriku mesra. tidak ingat lagi bagitu banyak tentang selimut, bantal ataupun gulingku yang lebih tertidur dari pada lelapku.

tentang penerimaan:
-- dia ada di jari manismu melingkar rapi. 
maaf, jika aku terpaksa memisahkan jarimu dengan tanganmu: cemburuku berumur sepekan lebih tua dari dia.

pada akar malam yang menyerap segala daya air ingatanku akal
kita pernah menyamakan pelukan dengan ingat lalu memisahkan dengan hangat. seandainya seangan itu melakukannya lupa, tidak akan ada puisi ini, tidak akan aku bacakan untuk telingamu, tidak akan aku paksa  hingga hatimu. membiarkannya begitu saja.

tentang penerimaan
-- di belakang namamu kini ada namanya mendiam mesra.
maaf, aku memaksamu untuk memasukkan namaku sebab jauh sebelumnya kita pernah dengan ikhlas saling meletakkan nama masing-masing dalam hangat.

pada akhirnya. malam yang membawamu pulang dan subuh membuatku harus menerima segala tiba.
aku letakkan ikhlas jauh lebih tinggi dari batas langit yang aku jangkau indra.










on 3.06.2013
air mata bukan hanya tentang kesedihan. ada banyak bahagia yang perlu kau tangisi. pertemuan juga kadang mengajarkan air mata, namun perpisahanlah yang lebih terasa.
-- ada yang lebih dewasa dari pada umur: pikiran.

jika mataku mulai menjadi tanda tanya untukmu. kau mungkin menemukan jawaban dari pergumalanmu dengan hidup. ada yang harus kau ikhlaskan, sebab sepasang tangannya telah amputasi memelukmu.
kadang dengan berjalan mundur kau akan tahu betapa dekat jarak kita. sayangnya, kamu enggan melakukannya untukku.

hingga tiba pisah, kita masih bernostalgia dengan cangkir bir hitam. lekatnya tumpah pada secarik kertas usang yang mungkin akan kau sesali: surat terakhir. setelahnya menjadi kabar yang hambar.

ada yang harus meninggalkan dan ada yang enggan ditinggalkan. namun perjalanan tidak akan pernah usai dihabiskan oleh pisah. masih ada temu selanjutnya, meskipun beda.



[kepada para pejuang hak]

sore yang kumat. berpenjara pada jalan panjang tidak kenal ujung. dimana sandarkan lelah itulah rumah. pulang dan membaca.
seharusnya bisa lebih juang lagi. mati hanyalah persoalan nasib.

berjuang adalah mempertahankan. mereka yang hidup dalam kebenaran tidak akan pernah tenang jika masih ada keluh tentang lapar dan tidak adil.

jalan panjang paling awal. senjata negara selalu membiarkan pelurunya terbang rendah diatas kepala pejuang negara. pejuang tidak akan pernah mengeluh. tabah adalah jalan satu-satunya dan menerima tiba adalah sebuah keikhlasan.

manuskrip indonesia. setelah membaca negara:
ada yang lebih hina dari penghianat, mereka yang lebih kenyang dari kelaparan saudara sendiri.
ada yang lebih hina dari pendusta, mereka yang lebih mewah dari kemiskinan saudara sendiri.
ada yang lebih hina dari pembohong, mereka yang lebih senang dari sedih saudara sendiri.
jika kita saudara, mengapa ada yang harus sangat kaya diantara rumah gubuk.
mengapa harus ada yang bayinya tidur kenyang dan ada yang bayinya mati kelaparan.

itulah mengapa pejuang hak selalu hidup lebih mati dari yang lain. mereka adalah korban dari semua korban. hidupnya dihantui pembunuhan dan matinya dikenang sebagai lupa.
sebab di mata negara, yang mengusik ketenangan raja adalah musuh bagi negara.

tidak salah jika di negara ini ada yang menjajah atas tanah sendiri dan yang dijajah adalah saudara sendiri. sebab perut kita berbeda dan raja lebih memilih mengorbankan pionnya dari pada ratunya sendiri.
-         -  indonesia
on 3.05.2013
berseteru dengan waktu. kadang lebih butuh hitungan jam dari pada detik yang lincah memutar sudut keadaan. nafas menjadi perihal tidak masuk akal yang mungkin lebih nyata dari pada janji.
-- di dinding, memoster bayangan masa yang sulit untuk kau ulangi. bisa saja itu berbentuk penyesalan yang entah.

melihat bayangan yang memayat kelam. ada yang lebih sakit dari sebuah derita tanpa batas: penyesalan ranjang kumat yang meniduri segala mimpimu. lalu kamu menjadi patung yang bernafas dengan rongga sesak sebuah corong kekalahan.

dalam tidur semua menjadi lebih mudah, sebab hanya mimpi yang menarungkan dirinya sendiri. kamu memejam mati sesaat. saat sadar, senyummu bahagia dan sedihmu adalah kutup dari kutuk yang saling berjarak jaga.

akhirnya kepergian jugalah yang paling menakutkan. banyak sepasang akhirnya yang saling berpaling setelahnya. seakan tidak pernah kenal lalu pura-pura tersenyum saat kembali bertemu di sebuah pesta pernikahan sahabatnya dulu.

-- waktu memang adalah badik paling hunus yang mengancam tanpa terlepas dari warangkanya sendiri. 
on 3.03.2013

pada sebuah ingin yang dingin:

ada hilang yang begitu jujur

aku semakin menjadi perasa yang kalah

setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat

pada sebuah harap yang bersahabat

ada kujur yang membujur di atas kasur

aku lekat yang semakin mayat

setelah cukup lama menggenggam harap

sila pilah untuk pilih

tapi jangan membedakan dengan nasib saja

lalu menjadi tekan pada sebuah akhir hayat yang jatuh di jendela takdir

aku semakin menjadi perasa yang kalah

setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat

aku lekat yang semakin mayat

setelah cukup lama menggenggam harap

- pada sebuah ingin: aku adalah bahagia yang hidup

Makassar, Maret 2013

on 2.20.2013
[untuk: joko pinurbo]

kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain

dinding-dinding masa membentuk kurun yang jauh lebih kutub dari selatan
kehilangan mata bukan berarti buta
kita melihat sesuatu keutuhan yang orang lain buta kepadanya
kehilangan telinga bukan berarti tuli
kita mendengar apa yang orang lain tidak cukup mampu mendengarnya
hidup adalah kutukan dan mati adalah cara untuk melepasnya

penjara-penjara menjadi surga bagi mereka yang ikhlas menerima segala tiba
tapi tidak pada tirani bagi mereka yang selalu mempertanyakan hakikat

matahari merendah dan panasnya ikut salibkan tuduh
kita sejenis buas yang hidup dalam kapas-kapas tanpa nafas
lalu mati kita adalah impas dari nifas selangkiri ibu yang kananya menjadi doa

kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:

apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain

warna apa lagi yang luput dari penerimaan
setelah semua cukup menjadi nama atas berhala-berhala retina
di sinilah ilham mulai dijatuhkan Tuhan kepada tinta 
lalu dari gores-gores resah yang terayatkan
kita mulai membacanya satu demi bait lalu memahami sebagai kaki tangan kehidupan

kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
ternyata kita adalah pelupa atas tulis dan akhirnya orang lupa menjadi baca dalam tulis kita


Makassar, Februari 2013
on 2.19.2013
di mataku: seluruh engkau adalah angka yang memenuhi retina dan menjadi suduttatap pada pandangku.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.

di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.

Makassar, Februari 2013
on 2.16.2013

kepada dinding dingin kamar yang tidak lagi muram.
baru saja kita membuatnya sedikit berdarah oleh petikan warna kutukan.
berdiri diantara pelukan-pelukan paling lekat milik yang menetap.
di dalam seribu tawa menjadi teka-teki yang tidak perlu kita silangkan, itu sudah terlalu rumit untuk tumit kata kita memahaminya.

berceritalah seolah kita paham dengan semua noda dosa yang Tuhan ciptakan
setelah lama mengutuk kutipan kata-kata dan semua judul puisi yang telah mereka tuliskan
pada hari yang entah kapan, kelak kita akas melepaskan diri lalu pura-pura saling mengikhlaskan
biarlah sunyi dan diam kita yang saling memahami

mungkin memang kamar kitalah yang paling berjodoh - 
ada masa kamu akan kembali bertemu di ruang tamu rumah tunggu
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa

ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib

ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu

kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -


Makassar, Februari 2013





on 2.13.2013

perempuan itu adalah penjaga terpandai untuk cemburunya. dia suka menyimpannya sendiri. #tweetrhymes

rindunya pun demikian. perempuan suka menyimpannya dalam hati. sangat dalam #tweetrhymes

juga ketika dia terluka. perempuan selalu berusaha menutupinya dengan tetap tersenyum. #tweetrhymes

bagi perempuan: pada saat tertentu, air mata justru lebih mmapu menjelaskan segalanya. #tweetrhymes

jika perempuan setia yang kau sia-siakan telah memilih pergi, mungkin waktunya penyesalan untuk datang. #tweetrhymes

perempuan selalu memberikan "segalanya" hanya kepada dia yang membuatnya nyaman. #tweetrhymes

jangan berjanji kepada perempuan jika kamu tidak bisa memberi alasan mengapa dia harus percaya. #tweetrhymes

perempuan mencintai bukan dengan paksaan. biarkan dia memilih hati yang mana untuk iya cintai. #tweetrhymes

perempuan setia akan selalu menemanimu, bahkan saat susah. bukan saat bahagia saja. percayalah. #tweetrhymes

jangan percaya senyuman wanita saat matanya masih bengkak. mungkin saja dia pura-pura terlihat baik-baik saja agar kamu tenang. #tweetrhymes


on 2.12.2013
di kota rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura

di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan

di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara

kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya

seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu

di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat

di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat

Makassar, Februari 2013
on 2.10.2013

  1. John KeatsPuisi adalah suatu usahauntuk membaca indah atau subline tanpa gurdon dari membayangkan narasi proses pemikiran atau logis. Dia tidak menyiratkan puisi yang tidak masuk akal atau tidak memilik inarasi.   
  2. William Wordswoth Puisia dalah overflow spontan perasaan kuat, yang diperlukan berasal dari emosi teringat dalam ketenangan, emosi yang dimaksud sampai, oleh suatu jenis reaksi, ketenangan secara bertahap menghilang, dan emosi, kerabat itu yang merupakan subjek kontemplasi, iproduksi secara bertahap, dan tidak itu sendiri sebenarnya ada dalam pikiran.      
  3. Paul Valery: Puisia dalah seni didasarkan pada bahasa, namun puisi memiliki makna yang lebih umum yang  sulit untuk menentukan karena kurang menentukan; puisi juga mengungkapkan keadaan pikiran tertentu.
  4. Putu Arya Tirtawirya (1980:9) menjabarkan  bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
  5. H. B. Jassin menjelaskan bahwa Puisi adalah pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandungi fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan.
  6. Waluyo (2005:1), mengemukakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
  7. Menurut Muhammad Hj. Salleh, Puisi merupakan bentuk sastra yang kental dengan muzik bahasa serta kebijaksanaan penyair dan tradisinya. Dalam segala kekentalan itu, maka puisi setelah dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana. 


on 2.08.2013

Diantara sekian banyak peristiwa yang berkaitan dengan sejarah sastra indonesia, ada dua kisah yang ingin saya angkat disini

“Pengadilan Puisi dan Kredo Puisi”
1. Pengadilan Puisi (1974).
Pengadilan Puisi merupakan ”pemberontakan” terhadap dunia perpuisian Indonesia. Pemberontakan tersebut ditujukan kepada kritikus sastra Indonesia, para penyair mapan dan majalah sastra yang ada di Indonesia. Kritikus yang dibidik dalam konteks ini adalah H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, keduanya dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mereka dianggap tidak mampu lagi mengikuti perkembangan puisi Indonesia mutakhir. Penyair mapan yang dihujat adalah Subagio Sastrowardoyo, Rendra, dan Goenawan Mohamad. Mereka bertiga  dianggap menghambat kewajaran perkembangan puisi Indonesia. Adapun. majalah sastra yang dijadikan terdakwa adalah Horison, yang dianggap tidak lagi menampung aspirasi orang banyak karena telah menjadi majalah keluarga atau majalah klik.
Slamet Sukirnanto sebagai jaksa menuding  kelemahan para terdakwa dan mengajukan tuntutan sebagai berikut.
1) Para kritikus sastra yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir Indonesia, yakni H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, harus “dipensiunkan’ dari perannya sebagai kritikus.
2) Redaktur/editor majalah sastra Horison, khususnya Sapardi Djoko Damono,  “dicutibesarkan”.
3) Para penyair mapan: Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Darnono,  Rendra, dan para epigon mereka, dikenai hukuman pembuangan. Para reinkarnasinya dibuang ke pulau paling terpencil.
4) Majalah Horison dan majalah Budaya Jaya harus dicabut surat izin terbit (SIT)nya, dan yang sudah terbit dinyatakan tidak berlaku. Kedua majalah itu dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum karena akan mengisruhkan perkembangan sastra yang diharapkan sehat dan wajar.
Majelis hakim dalam sidang pengadilan menolak tuntutan jaksa penuntut. Majelis hakim yang diketuai oleh Sanento Yuliman mengambil keputusan yang intinya para kritikus dan para penyair mapan tetap diberi kesempatan berkarya.
Oleh sebab itu, H. B. Jassin mengemukakan sikapnya terhadap pengadilan puisi itu, yang menolak terhadap apa yang dituduhkan kepadanya. H. B. Jassin menganggap bahwa pengadilan puisi itu hanya suatu permainan kanak-kanak yang lucu. Akan tetapi, pengadilan itu merupakan perangsang untuk menimbulkan kesungguhan dalam mencari kebenaran material.
Hampir sama dengan pendirian H. B. Jassin, M. S. Hutagalung dalam makalahnya yang berjudul Puisi Kita Dewasa Ini:  menyatakan bahwa dengan pandangan Sukirnanto dalam pengadilan puisi itu ia merasa tidak perlu mengubah prinsip-prinsip yang diyakininya. Pendiriannya itu disertai pula dengan sikapnya terhadap pengadi1an puisi. Tuduhan tentang kesalahan kritikus dalam melihat perkembangan sastra  beralasan dan tidak benar. Sudut pandang Sukirnantolah yang brengsek. Dapat dikatakan bahwa pandangan-pandangan Sukimanto adalah pandangan yang tidak sehat.
Sapardi Djoko Damono mengemukakan pendiriannya dalam makalahnya yang berjudulCatatan atas Pengadilan Puisi dan Tuntutan Slamet Sukirnanto sebagai berikut.
Pencacimakian terhadap majalah Horison merupakan tindakan yang aneh karena majalah itu merupakan sumber terpenting bagi puji-pujiannya. Sapardi menganggap bahwa Slamet Sukirnanto merupakan korban kekocakan Darmanto Jatman. Sikap Sapardi itu terlihat juga dalam makalahnya. Sapardi rnenganggap bahwa keputusan pengadilan puisi tidak dapat diterima karena keberadaan majalah Horison tidak ditentukan  oleh Slamet Sukirnanto.

1. Kredo Puisi

Kredo Puisi merupakan  sikap dan konsep Sutardji Calzoum Bachri dalam penulisan puisi-puisinya. Kredo ini dimuat pertama kali dalam majalah Horison, Desember 1974, lengkapnya berbunyi:

Kredo Puisi

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam keseharian, kata cenderung dipergunakan untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dan tradisi lapuk yang membelenggu mereka seperti kamus dan penjajahan-.penjajahan seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata-kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, dan menentukan kemauannya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tidak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas: mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga, sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan Kata Pertama adalah Mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantra.
Jakarta, 30 Maret 1973
on 1.31.2013
kepada mantan puisiku
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata

mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku

kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih

lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan

kepada mantan puisiku
berlalulah.

Makassar, Januari 2013
on 1.23.2013

“kamu pernah dengar cerita mayat yang bisa berjalan?”
“belum. memangnya bisa?”
“di Toraja itu tetap terjaga. Gilakan!!”
“kamu mau kesana?”
“besok saya mau kesana, mencoba berpetualang dengan bermodalkan gila kawan!”
“kamu pergi sama siapa?”
“saya pergi snediri di temani motor butut saya”
“kamu memang gila kawan”
Kira-kira seperti inilah percakapan "maya" saya dengan salah satu teman yang suka traveling.

Sore masih panjang. Dengan semangat yang keterlaluan, saya mencoba memanaskan motor dan memulai perjalanan dari rumah ke tugu Adipura. Perjalanan ke Toraja saja bisa memakan waktu sampai delapan jam dari kota Makassar dan sore ini saya masih sempat menghabiskan sebatang rokok terlebih dahulu [baca: ini ritual tersendiri]. 

Kira-kira jam 3 sore saya memulai trip gila ini. Angin sepoi dan keramaian jalan memang cukup menghibur trip kali ini. Kerel dan matras masih setia di punggung, tidak terasa sore mulai berganti menjadi malam dan pintu gerbang kabupaten Parepare belum juga terlihat. Masih dengan model yang sama, semangat. Meskipun sebenarnya dompet saya tidak bersemangat. Tapi disemangatkan sajalah.

Tiba di kota Parepare saya istirahat sambil menghabiskan bekal dari rumah, nasi dan "ikan paku" spesial yang saya buat sendiri. Selepas lelah saya kembali memulai perjalanan. Kali ini kabupaten Rappang yang saya lalui. Malam yang dingin dan jalan yang cukup berkelok memang menjadi tantangan tersendiri. Kerlap lampu jalan dan kendaraan silih berganti menerangi. Dengan hati-hati saya mencoba menikmati perjalanan dengan sesekali mengisap rokok kretek kebanggan lelaki.

Setelah berjam-jam akhirnya saya bertemu dengan hujan yang sialan. Ini di Enrekang. Jalanan berkelok dan sementara dalam pekerjaan membuat sedikit perjalanan saya terhambat. Belum lagi mobil truk yang mengambil hampir separuh badan jalan menghalangi pandangan saya. Kabut yang turun membuat saya harus singgah di warung sederhana dan menikmati segelas kopi tubruk racikan Pak Nawing (tuan rumah yang budiman). Jaket tebal yang saya gunakan tidak mempan menahan dingin. Alhasil, gemetar romantispun saya rasakan [baca: mencoba memeluk diri sendiri].

Satu yang perlu saya catat dalam perjalanan ini, masyarakat Enrekang itu sangat ramah, dia bahkan menawari saya untuk menginap di rumahnya saja jika memang sudah terlalu capek. Ini yang membuat saya semakin kagum dengan beliau dan keramahannya. 

Sekitar setengah jam istirahat, saya akhirnya pamit dan memulai lagi perjalanan ini. Semakin jauh berjalan, samakin tebal kabut yang yang saya temui. Sedikit "amazinglah" saya bisa bertahan dalam keadaan seperti ini. Di perjalanan hanya mobil yang melambung atau terlambung dengan sendirinya. Saya mencoba mengimbangi dingin dengan menggerak-gerakkan tubuh sambil tetap berhati-hati. Kalau nanti teman-teman mau trip ke Toraja, saran saya jangan mulai perjalanannya dari sore. Akibatnya seperti saya ini. Kedinginan dan perlu lebih berhati-hati. Diambang lelah saya berharap jalanan ini dengan sendirinya menjadi dekat agar saya bisa lebih cepat tiba.

Dan ini dia yang saya tunggu. Ucapan selamat datang di Kabupaten Toraja. Pukul 24.00 malam saya tiba setelah menempuh perjalan sekitar 300 kilo dari Makassar. Dari perbatasan saya masih harus melalui beberapa kecamatan untuk sampai di kota Rante Pao.

Tiba di Rante Pao saya masih sempat singgah untuk menikmati kopi khas toraja yang legendaris itu sebelum menuju penginapan. sebelum baring saya mengutuk dalam hati, akhirnya orang gila ini bisa juga sampai di toraja.

3.28.2013

MANUSIA BULAN

Diposting oleh Unknown di 07.44 0 komentar
umur akan sependek bulan, tapi setia akan membuatmu jadi bintang dengan jumlah yang lebih cahaya.

di kolong langit --
ada jembatan penghubung masa
bidadari bahkan kadang tersesat di dalamnya
hanya manusia bulan dan bukan cahaya yang tahu bagaimana cara menemukan ketersesatan itu -

3.18.2013

Dalam Diam: Aku Kemungkinan

Diposting oleh Unknown di 06.44 7 komentar

dalam diam:
kita mengayun angin halau
mencoba kebal atas segala coba
tidak rasa lagi pada lalu
kita orangnya sudah kuat saja
namun luka kian dewasa

aku:
hidup hanya mencari kematian
kata-kataku akan hidup lebih juang
puisi-puisiku kelak akan meminta pertanggung jawaban
sedangkan aku tidak cukup kuat lagi
tidak cukup sekadar menolong diri sendiri

kemungkinan:
aku menjadi benci pada ambigu
malam-malam membual
membuang segala kata yang kaku
puisiku mungkin akan dewasa
tapi aku akan mati setelahnya
: Tuhan, aku pulang -

18 Maret 2013

3.15.2013

Meredam Sastra Marxis (Sosialis) dengan Simbol “Balai Pustaka”

Diposting oleh Unknown di 04.22 0 komentar

[Sebuah Kajian Histori Singkat tentang Sastra di Indonesia]

SEJARAH SINGKAT MASUKNYA SOSIALIS DI INDONESIA

Sastra-sastra sosialis banyak menggambarkan kondisi serta gejolak masyarakat di masa tersebut. Sastra sosialis banyak muncul di surat kabar-surat kabar (antara lain yang dimuat secara bersambung) yang dikelola oleh para aktivis gerakan, serta sebagian lagi diterbitkan oleh penerbit-penerbit swasta atau badan-badan tertentu (mislanya oleh kantor KPI) berikut merupakan perjalanan sastra Marxis di Indonesia (Teeuw, 1978)
Perkembangan Sastra Marxis di Indonesia dimulai sejak awal abad ke-20. Era ini juga ditandai dengan masuknya modernitas dan disaat yang bersamaan para tokoh-tokoh pribumi menggalang kekuatan dan semangat tentang nasionalisme. Sosialisme di Indonesia sendiri di bawah oleh para tokoh asal Belanda yang beraliran sosial-demokrat, antara lain adalah Sneevliet, Dekker, Bransteder, Baars, Bergsma dan C. Hartogh. Merekalah yang membawa ajaran Marx dan Engles ke Hindia Belanda yang kemudian disebut Indonesia.
Sneevliet mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeninging) pada tahun 1914 kemudian berhasil mengambil peranan penting dalam mempengaruhi organisasi-organisasi pribumi yang telah berdiri sebelumnya dan mampu membuat para tokoh aktivis pergerakan akhirnya lebih condong menjadi sosialis revolusioner. Tokoh Indonesia yang dianggap sebagai pelopor Marxisme adalah Semaoen dan Darsono dari Serikat Islam (SI) Semarang.

MASA AWAL KARYA SASTRA SOSIALIS

            Kondisi politik dan ekonomi di Hindia Belanda pada waktu itu tidak karuan. Ini di akibatkan oleh sistem kolonialisme, lebih terasa lagi ketika pemerintah Hindia Belanda mengubah sistem dari VOC menjadi sistem liberal. Kemudian sistem kerja paksa dihapuskan dan diubah menjadi sistem kerja upah yang bebas. Akhirnya kondisi ini semakin kacau dan membuat para tokoh sastra sosialis semakin kritis. Mereka kemudian menyuarakan perlawanan terhadap sistem kolonialisme di bumi Indonesia melalui tulisan.

Karya-karya yang dianggap sebagai jenis karya sastra perlawanan.
1.      Karangan Hadji Moekti dari tahun 1910 sampai 1912 yang berjudul Hikajat Siti Mariah yang berkisah tentang permasalahan yang terjadi disekitaran sosial, politik dan ekonomi dari berbagai lapisan sosial masyarakat.
2.      Roman Tirto Adhi Soerja, dikarang pada tahun 1912 berjudul Nyai Permana yang berkisah tentang istri Menteri Polisi. Ketika suaminya mengkorup petani saat pembagian tanah, Nyai Permana akhirnya sadar dan memilih untuk berpihak pada petani lalu meninggalkan suaminya, kembali ke desa dan berkumpul bersama para petani.
3.      Hikayat Kodiroen karya Semaoen (kelak menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia) yang di tuliskan pada tahun 1920 berkisah tentang seorang pemuda cerdas bernama Kadirun yang bekerja sebagai pegawai negeri dalam pemerintahan kolonial. Namun melihat penderitaan dan kemiskinan mayarakat akhirnya ia kecewa kepada pemerintah Hindia Belanda dan memilih untuk bergabung bersama took-tokoh PKI yang mengajarkannya tentang teori-teori perjuangan dan perlawanan. Akhirnya pimpinanya mengetahui gerak-gerik Kadirun dan menyuruhnya memilih jabatannya atau partai yang akan membuat dirinya dipecat dari jabatannya. Kadirun kemudian memilih untuk ikut dalam kegiatan politik PKI, karena menurutnya hanya dengan cara seperti itu dia bias memperjuangkan cita-cita dan kebahagiaan rakyat.

Perkembangan sastra marxis atau dikenal juga dengan istilah sastra sosialis di Hindia Belanda semakin matang. Karya-karya yang muncul juga semakin kritis dan penuh perlawanan. Salah satu karya yang dianggap sangat keras pada masanya adalah karya milik Marco Kortodikromo yang berjudul Mata Gelap (1914), isinya di penuhi oleh pornografi dan mendapatkan kecaman oleh masyarakat waktu itu. Akhirnya dia membuat satu karya lagi yang berjudul Student Hidjo (1918) berkisah tentang awal munculnya intelektual Indonesia dari kelas borjuis kecil, foedal, birokrat yang bermental lemah, dan beruntung karena memiliki kesempatan untuk  mendapatkan pendidikan Barat bahkan sampai ke luar negeri.
Kaum sastra sosialis akhirnya digolongkan kedalam “sastra pinggiran” yang karyanya oleh sebagian kritikus sastra di Indoneia tidak dimasukan dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia. Sebagiannya lagi menganggap bahwa karya-karya yang pernah muncul dari sastra sosilialah yang dianggap mewakili keadaan Indonesia pada waktu itu.

KEMUNDURAN SASTRA SOSIALIS DAN DOMINASI BALAI PUSTAKA

                Salah satu alasan kemunduran sastra sosialis adalah hegemoni Balai Pustaka yang pengaruhnya semakin kuat dan meluas di Indonesia. Disamping itu tokoh sastra sosialis tidak mampu bertahan dalam dunia kesusastraan akibat pencekalan karyanya dan keaktifan dalam pergerakan politik. Sebagaian tokoh sastra sosialis juga ditahan oleh pemerintah kolonial dan ada juga yang diasingkan.
Karya-karya yang dihasilkan oleh Balai Pustaka akhirnya dianggap sebagai cerminan masyarakat waktu itu. Karya Abdoel Moeis yang berjudul Salah Asuhan (1928) menjadi bukti usaha Balai Pustaka untuk menampilkan karya bermutu dan mengenyampingkan persoalan politik. Melalui karya tersebut Balai Pustaka seaolah-olah ingin mengubah paradigma tokoh sastra sosialis bahwa kita tetap bisa membuat karya sastra yang bermutu tanpa harus menghubungkannya dengan politik.
Balai Pustaka akhirnya muncul sebagai simbol baru kesusastraan Indonesia yang dianggap lebih bermartabat namun nyatanya kurang memperhatikan lagi kondisi sosial masyaratkat pada masa itu, sedangkan jika dimaknai, karya sastra itu sendiri adalah cerminan dari masyarakat. Mungkin inilah yang disebut oleh WS. Rendra dalam “Sajak Sebatang Lisong” sebagai penyair-penyair salon.
Takdir Alisjahbana dalam karyanya, Layar Terkembang (1936) dan Armijn Pane dengan novel Belenggu (1940) pernah mencoba untuk kembali memunculkan semangat ke-Indonesia-an sebagai gerakan untuk menolak kolonialisme. Namun nyatanya, kedua karya tersebut dianggap masih jauh dari semangat ketika sastra-sastra sosialis, apa lagi realisme sastra.
Namun beruntung pada masa itu Pramoedya Ananta Toer berhasil membuat karya sastra yang dianggap mampu mewakili kata “perlawanan” yang selama ini diusahakan oleh tokoh-tokoh sastra sosialis. Namun kembali lagi harus mendapatkan pencekalan oleh pemerintah pada waktu itu. Beberapa buku Pramoedya akhirnya diterbitkan di luar negeri.

Daftar Pustaka:
Faruk, 1994. Pengantar Sosilogi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kurniawan, Eka. 1999. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia.
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra. Malang: UMM Press.

*anggap saja sebagai catatan bawah: tulisan ini hanya sebuah kajian histori singkat tentang sastra sosialis di Indonesia. Masih minim referensi dan bagi pembaca ada baiknya untuk memberikan kritik yang membangun guna pengembangan pengetahuan.

3.13.2013

Kredo Puisi oleh Sutardji Calzoum Bachri

Diposting oleh Unknown di 22.04 0 komentar

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sebdiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.
Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.
Bandung, 30 Maret 1973

3.12.2013

Berdua yang Sederhana

Diposting oleh Unknown di 12.08 0 komentar
[kisah kartu nama dan cincin]

pernah coba membunuh diri. bertahun sesal menjadi langit-langit mendung yang tak pernah hasilkan hujan. di bawah wabah rindu menerkam kejam dengan caranya yang menyayat. aku menjadi sepotong jari yang kehilangan kuku-kuku putih tidak berdarah. lalu ayat-ayat aku baca mayat.

namun akhirnya, aku mencintai hujan:
malam ini hujan jelma rinai terakhir. kita batal pulang, hujan mendadak nakal. menghitung rintik yang rambat dari celah atap pohon yang malu-malu: berdua saja, semakin beradu.
saat seperti ini aku membenci waktu. aku lebih suka hujan yang menjebak. ingin rasanya aku tikam jantung detaknya yang seolah menegur untuk menembus badai malam ini saja. kita bertahan dengan alasan takut basah dan pisah.

aku suka kata dua, sebab disana ada aku dan kamu yang selalu menjadi akhir tanpa berakhir. di saku bajumu ada kartu nama percetakan undangan. aku tahu, kau ingin berikan itu kepadaku. maaf, aku belum punya cincin untuk membalas karta nama itu.

akhirnya, sengaja aku basahkan sakumu agar karta nama itu menjadi luntur. kau terpaksa mengeluarkannya, dugaanku benar, luntur dan menyisahkan kata kahni yang aku baci sebagai kenduri setia kita: pernikahan -

3.09.2013

Telah Cukup Redup di Pelukanku: Bulan

Diposting oleh Unknown di 09.40 0 komentar
bulan telah cukup redup dipelukanku. aku sangkakala malam yang cukup setia menunggu jatuhnya suara terompet dalam benar. mengunang dengan sayap patahnya cahaya. jatuh tepat pada ranjang yang kakinya telah pohon. aku berbaring semesta dengan segala prahara yang meniduriku mesra. tidak ingat lagi bagitu banyak tentang selimut, bantal ataupun gulingku yang lebih tertidur dari pada lelapku.

tentang penerimaan:
-- dia ada di jari manismu melingkar rapi. 
maaf, jika aku terpaksa memisahkan jarimu dengan tanganmu: cemburuku berumur sepekan lebih tua dari dia.

pada akar malam yang menyerap segala daya air ingatanku akal
kita pernah menyamakan pelukan dengan ingat lalu memisahkan dengan hangat. seandainya seangan itu melakukannya lupa, tidak akan ada puisi ini, tidak akan aku bacakan untuk telingamu, tidak akan aku paksa  hingga hatimu. membiarkannya begitu saja.

tentang penerimaan
-- di belakang namamu kini ada namanya mendiam mesra.
maaf, aku memaksamu untuk memasukkan namaku sebab jauh sebelumnya kita pernah dengan ikhlas saling meletakkan nama masing-masing dalam hangat.

pada akhirnya. malam yang membawamu pulang dan subuh membuatku harus menerima segala tiba.
aku letakkan ikhlas jauh lebih tinggi dari batas langit yang aku jangkau indra.










3.06.2013

Surat Terakhir

Diposting oleh Unknown di 07.08 0 komentar
air mata bukan hanya tentang kesedihan. ada banyak bahagia yang perlu kau tangisi. pertemuan juga kadang mengajarkan air mata, namun perpisahanlah yang lebih terasa.
-- ada yang lebih dewasa dari pada umur: pikiran.

jika mataku mulai menjadi tanda tanya untukmu. kau mungkin menemukan jawaban dari pergumalanmu dengan hidup. ada yang harus kau ikhlaskan, sebab sepasang tangannya telah amputasi memelukmu.
kadang dengan berjalan mundur kau akan tahu betapa dekat jarak kita. sayangnya, kamu enggan melakukannya untukku.

hingga tiba pisah, kita masih bernostalgia dengan cangkir bir hitam. lekatnya tumpah pada secarik kertas usang yang mungkin akan kau sesali: surat terakhir. setelahnya menjadi kabar yang hambar.

ada yang harus meninggalkan dan ada yang enggan ditinggalkan. namun perjalanan tidak akan pernah usai dihabiskan oleh pisah. masih ada temu selanjutnya, meskipun beda.


Manuskrip Indonesia

Diposting oleh Unknown di 03.02 0 komentar

[kepada para pejuang hak]

sore yang kumat. berpenjara pada jalan panjang tidak kenal ujung. dimana sandarkan lelah itulah rumah. pulang dan membaca.
seharusnya bisa lebih juang lagi. mati hanyalah persoalan nasib.

berjuang adalah mempertahankan. mereka yang hidup dalam kebenaran tidak akan pernah tenang jika masih ada keluh tentang lapar dan tidak adil.

jalan panjang paling awal. senjata negara selalu membiarkan pelurunya terbang rendah diatas kepala pejuang negara. pejuang tidak akan pernah mengeluh. tabah adalah jalan satu-satunya dan menerima tiba adalah sebuah keikhlasan.

manuskrip indonesia. setelah membaca negara:
ada yang lebih hina dari penghianat, mereka yang lebih kenyang dari kelaparan saudara sendiri.
ada yang lebih hina dari pendusta, mereka yang lebih mewah dari kemiskinan saudara sendiri.
ada yang lebih hina dari pembohong, mereka yang lebih senang dari sedih saudara sendiri.
jika kita saudara, mengapa ada yang harus sangat kaya diantara rumah gubuk.
mengapa harus ada yang bayinya tidur kenyang dan ada yang bayinya mati kelaparan.

itulah mengapa pejuang hak selalu hidup lebih mati dari yang lain. mereka adalah korban dari semua korban. hidupnya dihantui pembunuhan dan matinya dikenang sebagai lupa.
sebab di mata negara, yang mengusik ketenangan raja adalah musuh bagi negara.

tidak salah jika di negara ini ada yang menjajah atas tanah sendiri dan yang dijajah adalah saudara sendiri. sebab perut kita berbeda dan raja lebih memilih mengorbankan pionnya dari pada ratunya sendiri.
-         -  indonesia

3.05.2013

berseteru dengan waktu

Diposting oleh Unknown di 08.58 0 komentar
berseteru dengan waktu. kadang lebih butuh hitungan jam dari pada detik yang lincah memutar sudut keadaan. nafas menjadi perihal tidak masuk akal yang mungkin lebih nyata dari pada janji.
-- di dinding, memoster bayangan masa yang sulit untuk kau ulangi. bisa saja itu berbentuk penyesalan yang entah.

melihat bayangan yang memayat kelam. ada yang lebih sakit dari sebuah derita tanpa batas: penyesalan ranjang kumat yang meniduri segala mimpimu. lalu kamu menjadi patung yang bernafas dengan rongga sesak sebuah corong kekalahan.

dalam tidur semua menjadi lebih mudah, sebab hanya mimpi yang menarungkan dirinya sendiri. kamu memejam mati sesaat. saat sadar, senyummu bahagia dan sedihmu adalah kutup dari kutuk yang saling berjarak jaga.

akhirnya kepergian jugalah yang paling menakutkan. banyak sepasang akhirnya yang saling berpaling setelahnya. seakan tidak pernah kenal lalu pura-pura tersenyum saat kembali bertemu di sebuah pesta pernikahan sahabatnya dulu.

-- waktu memang adalah badik paling hunus yang mengancam tanpa terlepas dari warangkanya sendiri. 

3.03.2013

pada sebuah ingin: aku

Diposting oleh Unknown di 22.06 0 komentar

pada sebuah ingin yang dingin:

ada hilang yang begitu jujur

aku semakin menjadi perasa yang kalah

setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat

pada sebuah harap yang bersahabat

ada kujur yang membujur di atas kasur

aku lekat yang semakin mayat

setelah cukup lama menggenggam harap

sila pilah untuk pilih

tapi jangan membedakan dengan nasib saja

lalu menjadi tekan pada sebuah akhir hayat yang jatuh di jendela takdir

aku semakin menjadi perasa yang kalah

setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat

aku lekat yang semakin mayat

setelah cukup lama menggenggam harap

- pada sebuah ingin: aku adalah bahagia yang hidup

Makassar, Maret 2013

2.20.2013

Seseorang yang Aku Sebut dalam Puisiku

Diposting oleh Unknown di 15.31 0 komentar
[untuk: joko pinurbo]

kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain

dinding-dinding masa membentuk kurun yang jauh lebih kutub dari selatan
kehilangan mata bukan berarti buta
kita melihat sesuatu keutuhan yang orang lain buta kepadanya
kehilangan telinga bukan berarti tuli
kita mendengar apa yang orang lain tidak cukup mampu mendengarnya
hidup adalah kutukan dan mati adalah cara untuk melepasnya

penjara-penjara menjadi surga bagi mereka yang ikhlas menerima segala tiba
tapi tidak pada tirani bagi mereka yang selalu mempertanyakan hakikat

matahari merendah dan panasnya ikut salibkan tuduh
kita sejenis buas yang hidup dalam kapas-kapas tanpa nafas
lalu mati kita adalah impas dari nifas selangkiri ibu yang kananya menjadi doa

kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:

apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain

warna apa lagi yang luput dari penerimaan
setelah semua cukup menjadi nama atas berhala-berhala retina
di sinilah ilham mulai dijatuhkan Tuhan kepada tinta 
lalu dari gores-gores resah yang terayatkan
kita mulai membacanya satu demi bait lalu memahami sebagai kaki tangan kehidupan

kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
ternyata kita adalah pelupa atas tulis dan akhirnya orang lupa menjadi baca dalam tulis kita


Makassar, Februari 2013

2.19.2013

[kepada yang aku sebut perempaunku]

Diposting oleh Unknown di 05.48 0 komentar
di mataku: seluruh engkau adalah angka yang memenuhi retina dan menjadi suduttatap pada pandangku.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.

di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.

Makassar, Februari 2013

2.16.2013

Sunyi dan Diam yang Saling Memahami

Diposting oleh Unknown di 08.15 0 komentar

kepada dinding dingin kamar yang tidak lagi muram.
baru saja kita membuatnya sedikit berdarah oleh petikan warna kutukan.
berdiri diantara pelukan-pelukan paling lekat milik yang menetap.
di dalam seribu tawa menjadi teka-teki yang tidak perlu kita silangkan, itu sudah terlalu rumit untuk tumit kata kita memahaminya.

berceritalah seolah kita paham dengan semua noda dosa yang Tuhan ciptakan
setelah lama mengutuk kutipan kata-kata dan semua judul puisi yang telah mereka tuliskan
pada hari yang entah kapan, kelak kita akas melepaskan diri lalu pura-pura saling mengikhlaskan
biarlah sunyi dan diam kita yang saling memahami

mungkin memang kamar kitalah yang paling berjodoh - 

Tamu yang Senasib di Ruang Temu

Diposting oleh Unknown di 00.33 0 komentar
ada masa kamu akan kembali bertemu di ruang tamu rumah tunggu
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa

ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib

ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu

kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -


Makassar, Februari 2013





2.13.2013

#combinedtweet: perempuanku

Diposting oleh Unknown di 23.27 0 komentar

perempuan itu adalah penjaga terpandai untuk cemburunya. dia suka menyimpannya sendiri. #tweetrhymes

rindunya pun demikian. perempuan suka menyimpannya dalam hati. sangat dalam #tweetrhymes

juga ketika dia terluka. perempuan selalu berusaha menutupinya dengan tetap tersenyum. #tweetrhymes

bagi perempuan: pada saat tertentu, air mata justru lebih mmapu menjelaskan segalanya. #tweetrhymes

jika perempuan setia yang kau sia-siakan telah memilih pergi, mungkin waktunya penyesalan untuk datang. #tweetrhymes

perempuan selalu memberikan "segalanya" hanya kepada dia yang membuatnya nyaman. #tweetrhymes

jangan berjanji kepada perempuan jika kamu tidak bisa memberi alasan mengapa dia harus percaya. #tweetrhymes

perempuan mencintai bukan dengan paksaan. biarkan dia memilih hati yang mana untuk iya cintai. #tweetrhymes

perempuan setia akan selalu menemanimu, bahkan saat susah. bukan saat bahagia saja. percayalah. #tweetrhymes

jangan percaya senyuman wanita saat matanya masih bengkak. mungkin saja dia pura-pura terlihat baik-baik saja agar kamu tenang. #tweetrhymes


2.12.2013

Kota Rakyat

Diposting oleh Unknown di 19.12 0 komentar
di kota rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura

di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan

di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara

kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya

seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu

di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat

di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat

Makassar, Februari 2013

2.10.2013

Definisi Puisi Menurut beberapa Ahli

Diposting oleh Unknown di 05.21 0 komentar

  1. John KeatsPuisi adalah suatu usahauntuk membaca indah atau subline tanpa gurdon dari membayangkan narasi proses pemikiran atau logis. Dia tidak menyiratkan puisi yang tidak masuk akal atau tidak memilik inarasi.   
  2. William Wordswoth Puisia dalah overflow spontan perasaan kuat, yang diperlukan berasal dari emosi teringat dalam ketenangan, emosi yang dimaksud sampai, oleh suatu jenis reaksi, ketenangan secara bertahap menghilang, dan emosi, kerabat itu yang merupakan subjek kontemplasi, iproduksi secara bertahap, dan tidak itu sendiri sebenarnya ada dalam pikiran.      
  3. Paul Valery: Puisia dalah seni didasarkan pada bahasa, namun puisi memiliki makna yang lebih umum yang  sulit untuk menentukan karena kurang menentukan; puisi juga mengungkapkan keadaan pikiran tertentu.
  4. Putu Arya Tirtawirya (1980:9) menjabarkan  bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
  5. H. B. Jassin menjelaskan bahwa Puisi adalah pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandungi fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan.
  6. Waluyo (2005:1), mengemukakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
  7. Menurut Muhammad Hj. Salleh, Puisi merupakan bentuk sastra yang kental dengan muzik bahasa serta kebijaksanaan penyair dan tradisinya. Dalam segala kekentalan itu, maka puisi setelah dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana. 


2.08.2013

ANTARA PENGADILAN PUISI DAN KREDO PUISI

Diposting oleh Unknown di 20.53 0 komentar

Diantara sekian banyak peristiwa yang berkaitan dengan sejarah sastra indonesia, ada dua kisah yang ingin saya angkat disini

“Pengadilan Puisi dan Kredo Puisi”
1. Pengadilan Puisi (1974).
Pengadilan Puisi merupakan ”pemberontakan” terhadap dunia perpuisian Indonesia. Pemberontakan tersebut ditujukan kepada kritikus sastra Indonesia, para penyair mapan dan majalah sastra yang ada di Indonesia. Kritikus yang dibidik dalam konteks ini adalah H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, keduanya dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mereka dianggap tidak mampu lagi mengikuti perkembangan puisi Indonesia mutakhir. Penyair mapan yang dihujat adalah Subagio Sastrowardoyo, Rendra, dan Goenawan Mohamad. Mereka bertiga  dianggap menghambat kewajaran perkembangan puisi Indonesia. Adapun. majalah sastra yang dijadikan terdakwa adalah Horison, yang dianggap tidak lagi menampung aspirasi orang banyak karena telah menjadi majalah keluarga atau majalah klik.
Slamet Sukirnanto sebagai jaksa menuding  kelemahan para terdakwa dan mengajukan tuntutan sebagai berikut.
1) Para kritikus sastra yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir Indonesia, yakni H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, harus “dipensiunkan’ dari perannya sebagai kritikus.
2) Redaktur/editor majalah sastra Horison, khususnya Sapardi Djoko Damono,  “dicutibesarkan”.
3) Para penyair mapan: Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Darnono,  Rendra, dan para epigon mereka, dikenai hukuman pembuangan. Para reinkarnasinya dibuang ke pulau paling terpencil.
4) Majalah Horison dan majalah Budaya Jaya harus dicabut surat izin terbit (SIT)nya, dan yang sudah terbit dinyatakan tidak berlaku. Kedua majalah itu dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum karena akan mengisruhkan perkembangan sastra yang diharapkan sehat dan wajar.
Majelis hakim dalam sidang pengadilan menolak tuntutan jaksa penuntut. Majelis hakim yang diketuai oleh Sanento Yuliman mengambil keputusan yang intinya para kritikus dan para penyair mapan tetap diberi kesempatan berkarya.
Oleh sebab itu, H. B. Jassin mengemukakan sikapnya terhadap pengadilan puisi itu, yang menolak terhadap apa yang dituduhkan kepadanya. H. B. Jassin menganggap bahwa pengadilan puisi itu hanya suatu permainan kanak-kanak yang lucu. Akan tetapi, pengadilan itu merupakan perangsang untuk menimbulkan kesungguhan dalam mencari kebenaran material.
Hampir sama dengan pendirian H. B. Jassin, M. S. Hutagalung dalam makalahnya yang berjudul Puisi Kita Dewasa Ini:  menyatakan bahwa dengan pandangan Sukirnanto dalam pengadilan puisi itu ia merasa tidak perlu mengubah prinsip-prinsip yang diyakininya. Pendiriannya itu disertai pula dengan sikapnya terhadap pengadi1an puisi. Tuduhan tentang kesalahan kritikus dalam melihat perkembangan sastra  beralasan dan tidak benar. Sudut pandang Sukirnantolah yang brengsek. Dapat dikatakan bahwa pandangan-pandangan Sukimanto adalah pandangan yang tidak sehat.
Sapardi Djoko Damono mengemukakan pendiriannya dalam makalahnya yang berjudulCatatan atas Pengadilan Puisi dan Tuntutan Slamet Sukirnanto sebagai berikut.
Pencacimakian terhadap majalah Horison merupakan tindakan yang aneh karena majalah itu merupakan sumber terpenting bagi puji-pujiannya. Sapardi menganggap bahwa Slamet Sukirnanto merupakan korban kekocakan Darmanto Jatman. Sikap Sapardi itu terlihat juga dalam makalahnya. Sapardi rnenganggap bahwa keputusan pengadilan puisi tidak dapat diterima karena keberadaan majalah Horison tidak ditentukan  oleh Slamet Sukirnanto.

1. Kredo Puisi

Kredo Puisi merupakan  sikap dan konsep Sutardji Calzoum Bachri dalam penulisan puisi-puisinya. Kredo ini dimuat pertama kali dalam majalah Horison, Desember 1974, lengkapnya berbunyi:

Kredo Puisi

Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam keseharian, kata cenderung dipergunakan untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dan tradisi lapuk yang membelenggu mereka seperti kamus dan penjajahan-.penjajahan seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata-kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, dan menentukan kemauannya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tidak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas: mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga, sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan Kata Pertama adalah Mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantra.
Jakarta, 30 Maret 1973

1.31.2013

Wajah Waktu

Diposting oleh Unknown di 00.40 0 komentar
kepada mantan puisiku
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata

mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku

kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih

lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan

kepada mantan puisiku
berlalulah.

Makassar, Januari 2013

1.23.2013

Toraja: Saya Hanya Bermodalkan Gila

Diposting oleh Unknown di 01.36 0 komentar

“kamu pernah dengar cerita mayat yang bisa berjalan?”
“belum. memangnya bisa?”
“di Toraja itu tetap terjaga. Gilakan!!”
“kamu mau kesana?”
“besok saya mau kesana, mencoba berpetualang dengan bermodalkan gila kawan!”
“kamu pergi sama siapa?”
“saya pergi snediri di temani motor butut saya”
“kamu memang gila kawan”
Kira-kira seperti inilah percakapan "maya" saya dengan salah satu teman yang suka traveling.

Sore masih panjang. Dengan semangat yang keterlaluan, saya mencoba memanaskan motor dan memulai perjalanan dari rumah ke tugu Adipura. Perjalanan ke Toraja saja bisa memakan waktu sampai delapan jam dari kota Makassar dan sore ini saya masih sempat menghabiskan sebatang rokok terlebih dahulu [baca: ini ritual tersendiri]. 

Kira-kira jam 3 sore saya memulai trip gila ini. Angin sepoi dan keramaian jalan memang cukup menghibur trip kali ini. Kerel dan matras masih setia di punggung, tidak terasa sore mulai berganti menjadi malam dan pintu gerbang kabupaten Parepare belum juga terlihat. Masih dengan model yang sama, semangat. Meskipun sebenarnya dompet saya tidak bersemangat. Tapi disemangatkan sajalah.

Tiba di kota Parepare saya istirahat sambil menghabiskan bekal dari rumah, nasi dan "ikan paku" spesial yang saya buat sendiri. Selepas lelah saya kembali memulai perjalanan. Kali ini kabupaten Rappang yang saya lalui. Malam yang dingin dan jalan yang cukup berkelok memang menjadi tantangan tersendiri. Kerlap lampu jalan dan kendaraan silih berganti menerangi. Dengan hati-hati saya mencoba menikmati perjalanan dengan sesekali mengisap rokok kretek kebanggan lelaki.

Setelah berjam-jam akhirnya saya bertemu dengan hujan yang sialan. Ini di Enrekang. Jalanan berkelok dan sementara dalam pekerjaan membuat sedikit perjalanan saya terhambat. Belum lagi mobil truk yang mengambil hampir separuh badan jalan menghalangi pandangan saya. Kabut yang turun membuat saya harus singgah di warung sederhana dan menikmati segelas kopi tubruk racikan Pak Nawing (tuan rumah yang budiman). Jaket tebal yang saya gunakan tidak mempan menahan dingin. Alhasil, gemetar romantispun saya rasakan [baca: mencoba memeluk diri sendiri].

Satu yang perlu saya catat dalam perjalanan ini, masyarakat Enrekang itu sangat ramah, dia bahkan menawari saya untuk menginap di rumahnya saja jika memang sudah terlalu capek. Ini yang membuat saya semakin kagum dengan beliau dan keramahannya. 

Sekitar setengah jam istirahat, saya akhirnya pamit dan memulai lagi perjalanan ini. Semakin jauh berjalan, samakin tebal kabut yang yang saya temui. Sedikit "amazinglah" saya bisa bertahan dalam keadaan seperti ini. Di perjalanan hanya mobil yang melambung atau terlambung dengan sendirinya. Saya mencoba mengimbangi dingin dengan menggerak-gerakkan tubuh sambil tetap berhati-hati. Kalau nanti teman-teman mau trip ke Toraja, saran saya jangan mulai perjalanannya dari sore. Akibatnya seperti saya ini. Kedinginan dan perlu lebih berhati-hati. Diambang lelah saya berharap jalanan ini dengan sendirinya menjadi dekat agar saya bisa lebih cepat tiba.

Dan ini dia yang saya tunggu. Ucapan selamat datang di Kabupaten Toraja. Pukul 24.00 malam saya tiba setelah menempuh perjalan sekitar 300 kilo dari Makassar. Dari perbatasan saya masih harus melalui beberapa kecamatan untuk sampai di kota Rante Pao.

Tiba di Rante Pao saya masih sempat singgah untuk menikmati kopi khas toraja yang legendaris itu sebelum menuju penginapan. sebelum baring saya mengutuk dalam hati, akhirnya orang gila ini bisa juga sampai di toraja.