umur akan sependek bulan, tapi setia akan membuatmu jadi bintang dengan jumlah yang lebih cahaya.
di kolong langit --
ada jembatan penghubung masa
bidadari bahkan kadang tersesat di dalamnya
hanya manusia bulan dan bukan cahaya yang tahu bagaimana cara menemukan ketersesatan itu -
dalam diam:
kita mengayun angin halau
mencoba kebal atas segala coba
tidak rasa lagi pada lalu
kita orangnya sudah kuat saja
namun luka kian dewasa
aku:
hidup hanya mencari kematian
kata-kataku akan hidup lebih juang
puisi-puisiku kelak akan meminta pertanggung jawaban
sedangkan aku tidak cukup kuat lagi
tidak cukup sekadar menolong diri sendiri
kemungkinan:
aku menjadi benci pada ambigu
malam-malam membual
membuang segala kata yang kaku
puisiku mungkin akan dewasa
tapi aku akan mati setelahnya
: Tuhan, aku pulang -
18 Maret 2013
[Sebuah
Kajian Histori Singkat tentang Sastra di Indonesia]
SEJARAH SINGKAT MASUKNYA SOSIALIS DI
INDONESIA
Sastra-sastra sosialis banyak menggambarkan
kondisi serta gejolak masyarakat di masa tersebut. Sastra sosialis banyak
muncul di surat kabar-surat kabar (antara lain yang dimuat secara bersambung)
yang dikelola oleh para aktivis gerakan, serta sebagian lagi diterbitkan oleh
penerbit-penerbit swasta atau badan-badan tertentu (mislanya oleh kantor KPI)
berikut merupakan perjalanan sastra Marxis di Indonesia (Teeuw, 1978)
Perkembangan Sastra Marxis di
Indonesia dimulai sejak awal abad ke-20. Era ini juga ditandai dengan masuknya
modernitas dan disaat yang bersamaan para tokoh-tokoh pribumi menggalang
kekuatan dan semangat tentang nasionalisme. Sosialisme di Indonesia sendiri di
bawah oleh para tokoh asal Belanda yang beraliran sosial-demokrat, antara lain
adalah Sneevliet, Dekker, Bransteder, Baars, Bergsma dan C. Hartogh. Merekalah
yang membawa ajaran Marx dan Engles ke Hindia Belanda yang kemudian disebut
Indonesia.
Sneevliet mendirikan ISDV (Indische
Sociaal Democratische Vereeninging) pada tahun 1914 kemudian berhasil mengambil
peranan penting dalam mempengaruhi organisasi-organisasi pribumi yang telah
berdiri sebelumnya dan mampu membuat para tokoh aktivis pergerakan akhirnya lebih
condong menjadi sosialis revolusioner. Tokoh Indonesia yang dianggap sebagai
pelopor Marxisme adalah Semaoen dan Darsono dari Serikat Islam (SI) Semarang.
MASA AWAL KARYA SASTRA SOSIALIS
Kondisi
politik dan ekonomi di Hindia Belanda pada waktu itu tidak karuan. Ini di
akibatkan oleh sistem kolonialisme, lebih terasa lagi ketika pemerintah Hindia
Belanda mengubah sistem dari VOC menjadi sistem liberal. Kemudian sistem kerja
paksa dihapuskan dan diubah menjadi sistem kerja upah yang bebas. Akhirnya
kondisi ini semakin kacau dan membuat para tokoh sastra sosialis semakin kritis.
Mereka kemudian menyuarakan perlawanan terhadap sistem kolonialisme di bumi
Indonesia melalui tulisan.
Karya-karya yang dianggap sebagai
jenis karya sastra perlawanan.
1.
Karangan
Hadji Moekti dari tahun 1910 sampai 1912 yang berjudul Hikajat Siti Mariah yang
berkisah tentang permasalahan yang terjadi disekitaran sosial, politik dan
ekonomi dari berbagai lapisan sosial masyarakat.
2.
Roman
Tirto Adhi Soerja, dikarang pada tahun 1912 berjudul Nyai Permana yang berkisah
tentang istri Menteri Polisi. Ketika suaminya mengkorup petani saat pembagian
tanah, Nyai Permana akhirnya sadar dan memilih untuk berpihak pada petani lalu
meninggalkan suaminya, kembali ke desa dan berkumpul bersama para petani.
3.
Hikayat
Kodiroen karya Semaoen (kelak menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia) yang di
tuliskan pada tahun 1920 berkisah tentang seorang pemuda cerdas bernama Kadirun
yang bekerja sebagai pegawai negeri dalam pemerintahan kolonial. Namun melihat
penderitaan dan kemiskinan mayarakat akhirnya ia kecewa kepada pemerintah
Hindia Belanda dan memilih untuk bergabung bersama took-tokoh PKI yang
mengajarkannya tentang teori-teori perjuangan dan perlawanan. Akhirnya
pimpinanya mengetahui gerak-gerik Kadirun dan menyuruhnya memilih jabatannya
atau partai yang akan membuat dirinya dipecat dari jabatannya. Kadirun kemudian
memilih untuk ikut dalam kegiatan politik PKI, karena menurutnya hanya dengan
cara seperti itu dia bias memperjuangkan cita-cita dan kebahagiaan rakyat.
Perkembangan sastra marxis atau
dikenal juga dengan istilah sastra sosialis di Hindia Belanda semakin matang.
Karya-karya yang muncul juga semakin kritis dan penuh perlawanan. Salah satu
karya yang dianggap sangat keras pada masanya adalah karya milik Marco
Kortodikromo yang berjudul Mata Gelap (1914), isinya di penuhi oleh pornografi
dan mendapatkan kecaman oleh masyarakat waktu itu. Akhirnya dia membuat satu
karya lagi yang berjudul Student Hidjo (1918) berkisah tentang awal munculnya
intelektual Indonesia dari kelas borjuis kecil, foedal, birokrat yang bermental
lemah, dan beruntung karena memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan Barat bahkan sampai ke
luar negeri.
Kaum sastra sosialis akhirnya digolongkan
kedalam “sastra pinggiran” yang karyanya oleh sebagian kritikus sastra di
Indoneia tidak dimasukan dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia.
Sebagiannya lagi menganggap bahwa karya-karya yang pernah muncul dari sastra
sosilialah yang dianggap mewakili keadaan Indonesia pada waktu itu.
KEMUNDURAN SASTRA SOSIALIS DAN
DOMINASI BALAI PUSTAKA
Salah satu alasan kemunduran sastra sosialis adalah hegemoni Balai
Pustaka yang pengaruhnya semakin kuat dan meluas di Indonesia. Disamping itu
tokoh sastra sosialis tidak mampu bertahan dalam dunia kesusastraan akibat
pencekalan karyanya dan keaktifan dalam pergerakan politik. Sebagaian tokoh
sastra sosialis juga ditahan oleh pemerintah kolonial dan ada juga yang
diasingkan.
Karya-karya yang dihasilkan oleh
Balai Pustaka akhirnya dianggap sebagai cerminan masyarakat waktu itu. Karya
Abdoel Moeis yang berjudul Salah Asuhan (1928) menjadi bukti usaha Balai
Pustaka untuk menampilkan karya bermutu dan mengenyampingkan persoalan politik.
Melalui karya tersebut Balai Pustaka seaolah-olah ingin mengubah paradigma
tokoh sastra sosialis bahwa kita tetap bisa membuat karya sastra yang bermutu
tanpa harus menghubungkannya dengan politik.
Balai Pustaka akhirnya muncul sebagai
simbol baru kesusastraan Indonesia yang dianggap lebih bermartabat namun nyatanya
kurang memperhatikan lagi kondisi sosial masyaratkat pada masa itu, sedangkan
jika dimaknai, karya sastra itu sendiri adalah cerminan dari masyarakat. Mungkin
inilah yang disebut oleh WS. Rendra dalam “Sajak Sebatang Lisong” sebagai
penyair-penyair salon.
Takdir Alisjahbana dalam karyanya,
Layar Terkembang (1936) dan Armijn Pane dengan novel Belenggu (1940) pernah
mencoba untuk kembali memunculkan semangat ke-Indonesia-an sebagai gerakan
untuk menolak kolonialisme. Namun nyatanya, kedua karya tersebut dianggap masih
jauh dari semangat ketika sastra-sastra sosialis, apa lagi realisme sastra.
Namun beruntung pada masa itu Pramoedya
Ananta Toer berhasil membuat karya sastra yang dianggap mampu mewakili kata “perlawanan”
yang selama ini diusahakan oleh tokoh-tokoh sastra sosialis. Namun kembali lagi
harus mendapatkan pencekalan oleh pemerintah pada waktu itu. Beberapa buku
Pramoedya akhirnya diterbitkan di luar negeri.
Daftar Pustaka:
Faruk, 1994. Pengantar Sosilogi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kurniawan, Eka. 1999. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme
Sosialis. Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia.
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra. Malang: UMM Press.
*anggap saja sebagai catatan bawah: tulisan ini hanya sebuah kajian histori singkat
tentang sastra sosialis di Indonesia. Masih minim referensi dan bagi pembaca
ada baiknya untuk memberikan kritik yang membangun guna pengembangan
pengetahuan.
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sebdiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.
Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.
Bandung, 30 Maret 1973
[kisah kartu nama dan cincin]
namun akhirnya, aku mencintai hujan:
malam ini hujan jelma rinai terakhir. kita batal pulang, hujan mendadak nakal. menghitung rintik yang rambat dari celah atap pohon yang malu-malu: berdua saja, semakin beradu.
malam ini hujan jelma rinai terakhir. kita batal pulang, hujan mendadak nakal. menghitung rintik yang rambat dari celah atap pohon yang malu-malu: berdua saja, semakin beradu.
saat seperti ini aku membenci waktu. aku lebih suka hujan yang menjebak. ingin rasanya aku tikam jantung detaknya yang seolah menegur untuk menembus badai malam ini saja. kita bertahan dengan alasan takut basah dan pisah.
aku suka kata dua, sebab disana ada aku dan kamu yang selalu menjadi akhir tanpa berakhir. di saku bajumu ada kartu nama percetakan undangan. aku tahu, kau ingin berikan itu kepadaku. maaf, aku belum punya cincin untuk membalas karta nama itu.
akhirnya, sengaja aku basahkan sakumu agar karta nama itu menjadi luntur. kau terpaksa mengeluarkannya, dugaanku benar, luntur dan menyisahkan kata kahni yang aku baci sebagai kenduri setia kita: pernikahan -
bulan telah cukup redup dipelukanku. aku sangkakala malam yang cukup setia menunggu jatuhnya suara terompet dalam benar. mengunang dengan sayap patahnya cahaya. jatuh tepat pada ranjang yang kakinya telah pohon. aku berbaring semesta dengan segala prahara yang meniduriku mesra. tidak ingat lagi bagitu banyak tentang selimut, bantal ataupun gulingku yang lebih tertidur dari pada lelapku.
tentang penerimaan:
-- dia ada di jari manismu melingkar rapi.
maaf, jika aku terpaksa memisahkan jarimu dengan tanganmu: cemburuku berumur sepekan lebih tua dari dia.
pada akar malam yang menyerap segala daya air ingatanku akal
kita pernah menyamakan pelukan dengan ingat lalu memisahkan dengan hangat. seandainya seangan itu melakukannya lupa, tidak akan ada puisi ini, tidak akan aku bacakan untuk telingamu, tidak akan aku paksa hingga hatimu. membiarkannya begitu saja.
tentang penerimaan
-- di belakang namamu kini ada namanya mendiam mesra.
maaf, aku memaksamu untuk memasukkan namaku sebab jauh sebelumnya kita pernah dengan ikhlas saling meletakkan nama masing-masing dalam hangat.
pada akhirnya. malam yang membawamu pulang dan subuh membuatku harus menerima segala tiba.
aku letakkan ikhlas jauh lebih tinggi dari batas langit yang aku jangkau indra.
air mata bukan hanya tentang kesedihan. ada banyak bahagia yang perlu kau tangisi. pertemuan juga kadang mengajarkan air mata, namun perpisahanlah yang lebih terasa.
-- ada yang lebih dewasa dari pada umur: pikiran.
jika mataku mulai menjadi tanda tanya untukmu. kau mungkin menemukan jawaban dari pergumalanmu dengan hidup. ada yang harus kau ikhlaskan, sebab sepasang tangannya telah amputasi memelukmu.
kadang dengan berjalan mundur kau akan tahu betapa dekat jarak kita. sayangnya, kamu enggan melakukannya untukku.
hingga tiba pisah, kita masih bernostalgia dengan cangkir bir hitam. lekatnya tumpah pada secarik kertas usang yang mungkin akan kau sesali: surat terakhir. setelahnya menjadi kabar yang hambar.
ada yang harus meninggalkan dan ada yang enggan ditinggalkan. namun perjalanan tidak akan pernah usai dihabiskan oleh pisah. masih ada temu selanjutnya, meskipun beda.
Diposting oleh
Unknown
di
03.02
[kepada
para pejuang hak]
sore
yang kumat. berpenjara pada jalan panjang tidak kenal ujung. dimana sandarkan
lelah itulah rumah. pulang dan membaca.
seharusnya
bisa lebih juang lagi. mati hanyalah persoalan nasib.
berjuang
adalah mempertahankan. mereka yang hidup dalam kebenaran tidak akan pernah
tenang jika masih ada keluh tentang lapar dan tidak adil.
jalan
panjang paling awal. senjata negara selalu membiarkan pelurunya terbang rendah
diatas kepala pejuang negara. pejuang tidak akan pernah mengeluh. tabah adalah
jalan satu-satunya dan menerima tiba adalah sebuah keikhlasan.
manuskrip
indonesia. setelah membaca negara:
ada
yang lebih hina dari penghianat, mereka yang lebih kenyang dari kelaparan saudara
sendiri.
ada
yang lebih hina dari pendusta, mereka yang lebih mewah dari kemiskinan saudara
sendiri.
ada
yang lebih hina dari pembohong, mereka yang lebih senang dari sedih saudara
sendiri.
jika
kita saudara, mengapa ada yang harus sangat kaya diantara rumah gubuk.
mengapa
harus ada yang bayinya tidur kenyang dan ada yang bayinya mati kelaparan.
itulah
mengapa pejuang hak selalu hidup lebih mati dari yang lain. mereka adalah
korban dari semua korban. hidupnya dihantui pembunuhan dan matinya dikenang
sebagai lupa.
sebab
di mata negara, yang mengusik ketenangan raja adalah musuh bagi negara.
tidak
salah jika di negara ini ada yang menjajah atas tanah sendiri dan yang dijajah
adalah saudara sendiri. sebab perut kita berbeda dan raja lebih memilih
mengorbankan pionnya dari pada ratunya sendiri.
- - indonesia
berseteru dengan waktu. kadang lebih butuh hitungan jam dari pada detik yang lincah memutar sudut keadaan. nafas menjadi perihal tidak masuk akal yang mungkin lebih nyata dari pada janji.
-- di dinding, memoster bayangan masa yang sulit untuk kau ulangi. bisa saja itu berbentuk penyesalan yang entah.
melihat bayangan yang memayat kelam. ada yang lebih sakit dari sebuah derita tanpa batas: penyesalan ranjang kumat yang meniduri segala mimpimu. lalu kamu menjadi patung yang bernafas dengan rongga sesak sebuah corong kekalahan.
dalam tidur semua menjadi lebih mudah, sebab hanya mimpi yang menarungkan dirinya sendiri. kamu memejam mati sesaat. saat sadar, senyummu bahagia dan sedihmu adalah kutup dari kutuk yang saling berjarak jaga.
akhirnya kepergian jugalah yang paling menakutkan. banyak sepasang akhirnya yang saling berpaling setelahnya. seakan tidak pernah kenal lalu pura-pura tersenyum saat kembali bertemu di sebuah pesta pernikahan sahabatnya dulu.
-- waktu memang adalah badik paling hunus yang mengancam tanpa terlepas dari warangkanya sendiri.
pada sebuah ingin yang dingin:
ada hilang yang begitu jujur
aku semakin menjadi perasa yang kalah
setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat
pada sebuah harap yang bersahabat
ada kujur yang membujur di atas kasur
aku lekat yang semakin mayat
setelah cukup lama menggenggam harap
sila pilah untuk pilih
tapi jangan membedakan dengan nasib saja
lalu menjadi tekan pada sebuah akhir hayat yang jatuh di jendela takdir
aku semakin menjadi perasa yang kalah
setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat
aku lekat yang semakin mayat
setelah cukup lama menggenggam harap
- pada sebuah ingin: aku adalah bahagia yang hidup
Makassar, Maret 2013
[untuk: joko pinurbo]
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain
dinding-dinding masa membentuk kurun yang jauh lebih kutub dari selatan
kehilangan mata bukan berarti buta
kita melihat sesuatu keutuhan yang orang lain buta kepadanya
kehilangan telinga bukan berarti tuli
kita mendengar apa yang orang lain tidak cukup mampu mendengarnya
hidup adalah kutukan dan mati adalah cara untuk melepasnya
penjara-penjara menjadi surga bagi mereka yang ikhlas menerima segala tiba
tapi tidak pada tirani bagi mereka yang selalu mempertanyakan hakikat
matahari merendah dan panasnya ikut salibkan tuduh
kita sejenis buas yang hidup dalam kapas-kapas tanpa nafas
lalu mati kita adalah impas dari nifas selangkiri ibu yang kananya menjadi doa
kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain
warna apa lagi yang luput dari penerimaan
setelah semua cukup menjadi nama atas berhala-berhala retina
di sinilah ilham mulai dijatuhkan Tuhan kepada tinta
lalu dari gores-gores resah yang terayatkan
kita mulai membacanya satu demi bait lalu memahami sebagai kaki tangan kehidupan
kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
ternyata kita adalah pelupa atas tulis dan akhirnya orang lupa menjadi baca dalam tulis kita
Makassar, Februari 2013
di mataku: seluruh engkau adalah angka yang memenuhi retina dan menjadi suduttatap pada pandangku.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.
di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.
di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.
Makassar, Februari 2013
kepada
dinding dingin kamar yang tidak lagi muram.
baru
saja kita membuatnya sedikit berdarah oleh petikan warna kutukan.
berdiri
diantara pelukan-pelukan paling lekat milik yang menetap.
di
dalam seribu tawa menjadi teka-teki yang tidak perlu kita silangkan, itu sudah
terlalu rumit untuk tumit kata kita memahaminya.
berceritalah
seolah kita paham dengan semua noda dosa yang Tuhan ciptakan
setelah
lama mengutuk kutipan kata-kata dan semua judul puisi yang telah mereka
tuliskan
pada
hari yang entah kapan, kelak kita akas melepaskan diri lalu pura-pura saling
mengikhlaskan
biarlah
sunyi dan diam kita yang saling memahami
mungkin memang kamar kitalah yang paling berjodoh -
Diposting oleh
Unknown
di
00.33
ada masa kamu akan kembali bertemu di ruang tamu rumah tunggu
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa
ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib
ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu
kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa
ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib
ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu
kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -
Makassar, Februari 2013
perempuan itu adalah penjaga terpandai untuk cemburunya. dia suka menyimpannya sendiri. #tweetrhymes
rindunya pun
demikian. perempuan suka menyimpannya dalam hati. sangat dalam #tweetrhymes
juga ketika dia
terluka. perempuan selalu berusaha menutupinya dengan tetap tersenyum. #tweetrhymes
bagi perempuan: pada saat tertentu, air mata justru lebih mmapu menjelaskan segalanya. #tweetrhymes
jika perempuan
setia yang kau sia-siakan telah memilih pergi, mungkin waktunya penyesalan
untuk datang. #tweetrhymes
perempuan selalu memberikan "segalanya" hanya kepada dia yang membuatnya nyaman. #tweetrhymes
jangan berjanji kepada perempuan jika kamu tidak bisa memberi alasan mengapa dia harus percaya. #tweetrhymes
perempuan mencintai bukan dengan paksaan. biarkan dia memilih hati yang mana untuk iya cintai. #tweetrhymes
perempuan setia akan selalu menemanimu, bahkan saat susah. bukan saat bahagia saja. percayalah. #tweetrhymes
jangan percaya senyuman wanita saat matanya masih bengkak. mungkin saja dia pura-pura terlihat baik-baik saja agar kamu tenang. #tweetrhymes
di kota rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura
di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan
di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara
kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya
seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu
di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat
di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura
di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan
di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara
kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya
seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu
di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat
di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat
Makassar, Februari 2013
- John KeatsPuisi adalah suatu usahauntuk membaca indah atau subline tanpa gurdon dari membayangkan narasi proses pemikiran atau logis. Dia tidak menyiratkan puisi yang tidak masuk akal atau tidak memilik inarasi.
- William Wordswoth Puisia dalah overflow spontan perasaan kuat, yang diperlukan berasal dari emosi teringat dalam ketenangan, emosi yang dimaksud sampai, oleh suatu jenis reaksi, ketenangan secara bertahap menghilang, dan emosi, kerabat itu yang merupakan subjek kontemplasi, iproduksi secara bertahap, dan tidak itu sendiri sebenarnya ada dalam pikiran.
- Paul Valery: Puisia dalah seni didasarkan pada bahasa, namun puisi memiliki makna yang lebih umum yang sulit untuk menentukan karena kurang menentukan; puisi juga mengungkapkan keadaan pikiran tertentu.
- Putu Arya Tirtawirya (1980:9) menjabarkan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
- H. B. Jassin menjelaskan bahwa Puisi adalah pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandungi fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan.
- Waluyo (2005:1), mengemukakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
- Menurut Muhammad Hj. Salleh, Puisi merupakan bentuk sastra yang kental dengan muzik bahasa serta kebijaksanaan penyair dan tradisinya. Dalam segala kekentalan itu, maka puisi setelah dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana.
Diantara sekian banyak peristiwa yang berkaitan dengan sejarah sastra indonesia, ada dua kisah yang ingin saya angkat disini
“Pengadilan Puisi dan Kredo Puisi”
1. Pengadilan Puisi (1974).
Pengadilan Puisi merupakan ”pemberontakan” terhadap dunia perpuisian Indonesia. Pemberontakan tersebut ditujukan kepada kritikus sastra Indonesia, para penyair mapan dan majalah sastra yang ada di Indonesia. Kritikus yang dibidik dalam konteks ini adalah H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, keduanya dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mereka dianggap tidak mampu lagi mengikuti perkembangan puisi Indonesia mutakhir. Penyair mapan yang dihujat adalah Subagio Sastrowardoyo, Rendra, dan Goenawan Mohamad. Mereka bertiga dianggap menghambat kewajaran perkembangan puisi Indonesia. Adapun. majalah sastra yang dijadikan terdakwa adalah Horison, yang dianggap tidak lagi menampung aspirasi orang banyak karena telah menjadi majalah keluarga atau majalah klik.
Slamet Sukirnanto sebagai jaksa menuding kelemahan para terdakwa dan mengajukan tuntutan sebagai berikut.
1) Para kritikus sastra yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir Indonesia, yakni H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, harus “dipensiunkan’ dari perannya sebagai kritikus.
2) Redaktur/editor majalah sastra Horison, khususnya Sapardi Djoko Damono, “dicutibesarkan”.
3) Para penyair mapan: Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Darnono, Rendra, dan para epigon mereka, dikenai hukuman pembuangan. Para reinkarnasinya dibuang ke pulau paling terpencil.
4) Majalah Horison dan majalah Budaya Jaya harus dicabut surat izin terbit (SIT)nya, dan yang sudah terbit dinyatakan tidak berlaku. Kedua majalah itu dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum karena akan mengisruhkan perkembangan sastra yang diharapkan sehat dan wajar.
Majelis hakim dalam sidang pengadilan menolak tuntutan jaksa penuntut. Majelis hakim yang diketuai oleh Sanento Yuliman mengambil keputusan yang intinya para kritikus dan para penyair mapan tetap diberi kesempatan berkarya.
Oleh sebab itu, H. B. Jassin mengemukakan sikapnya terhadap pengadilan puisi itu, yang menolak terhadap apa yang dituduhkan kepadanya. H. B. Jassin menganggap bahwa pengadilan puisi itu hanya suatu permainan kanak-kanak yang lucu. Akan tetapi, pengadilan itu merupakan perangsang untuk menimbulkan kesungguhan dalam mencari kebenaran material.
Hampir sama dengan pendirian H. B. Jassin, M. S. Hutagalung dalam makalahnya yang berjudul Puisi Kita Dewasa Ini: menyatakan bahwa dengan pandangan Sukirnanto dalam pengadilan puisi itu ia merasa tidak perlu mengubah prinsip-prinsip yang diyakininya. Pendiriannya itu disertai pula dengan sikapnya terhadap pengadi1an puisi. Tuduhan tentang kesalahan kritikus dalam melihat perkembangan sastra beralasan dan tidak benar. Sudut pandang Sukirnantolah yang brengsek. Dapat dikatakan bahwa pandangan-pandangan Sukimanto adalah pandangan yang tidak sehat.
Sapardi Djoko Damono mengemukakan pendiriannya dalam makalahnya yang berjudulCatatan atas Pengadilan Puisi dan Tuntutan Slamet Sukirnanto sebagai berikut.
Pencacimakian terhadap majalah Horison merupakan tindakan yang aneh karena majalah itu merupakan sumber terpenting bagi puji-pujiannya. Sapardi menganggap bahwa Slamet Sukirnanto merupakan korban kekocakan Darmanto Jatman. Sikap Sapardi itu terlihat juga dalam makalahnya. Sapardi rnenganggap bahwa keputusan pengadilan puisi tidak dapat diterima karena keberadaan majalah Horison tidak ditentukan oleh Slamet Sukirnanto.
1. Kredo Puisi
Kredo Puisi merupakan sikap dan konsep Sutardji Calzoum Bachri dalam penulisan puisi-puisinya. Kredo ini dimuat pertama kali dalam majalah Horison, Desember 1974, lengkapnya berbunyi:
Kredo Puisi
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam keseharian, kata cenderung dipergunakan untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dan tradisi lapuk yang membelenggu mereka seperti kamus dan penjajahan-.penjajahan seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata-kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, dan menentukan kemauannya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tidak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas: mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga, sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan Kata Pertama adalah Mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantra.
Jakarta, 30 Maret 1973
kepada mantan puisiku
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata
mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku
kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih
lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan
kepada mantan puisiku
berlalulah.
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata
mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku
kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih
lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan
kepada mantan puisiku
berlalulah.
Makassar, Januari 2013
“kamu pernah dengar cerita mayat yang bisa berjalan?”
“belum. memangnya bisa?”
“di Toraja itu tetap terjaga. Gilakan!!”
“kamu mau kesana?”
“besok saya mau kesana, mencoba berpetualang dengan bermodalkan
gila kawan!”
“kamu pergi sama siapa?”
“saya pergi snediri di temani motor butut saya”
“kamu memang gila kawan”
Kira-kira seperti inilah percakapan "maya" saya
dengan salah satu teman yang suka traveling.
Sore masih panjang. Dengan semangat yang keterlaluan, saya
mencoba memanaskan motor dan memulai perjalanan dari rumah ke tugu Adipura.
Perjalanan ke Toraja saja bisa memakan waktu sampai delapan jam dari kota
Makassar dan sore ini saya masih sempat menghabiskan sebatang rokok terlebih
dahulu [baca: ini ritual tersendiri].
Kira-kira jam 3 sore saya memulai trip gila ini. Angin
sepoi dan keramaian jalan memang cukup menghibur trip kali ini. Kerel dan
matras masih setia di punggung, tidak terasa sore mulai berganti menjadi malam
dan pintu gerbang kabupaten Parepare belum juga terlihat. Masih dengan model
yang sama, semangat. Meskipun sebenarnya dompet saya tidak bersemangat. Tapi
disemangatkan sajalah.
Tiba di kota Parepare saya istirahat sambil menghabiskan
bekal dari rumah, nasi dan "ikan paku" spesial yang saya buat
sendiri. Selepas lelah saya kembali memulai perjalanan. Kali ini kabupaten Rappang
yang saya lalui. Malam yang dingin dan jalan yang cukup berkelok memang menjadi
tantangan tersendiri. Kerlap lampu jalan dan kendaraan silih berganti
menerangi. Dengan hati-hati saya mencoba menikmati perjalanan dengan sesekali
mengisap rokok kretek kebanggan lelaki.
Setelah berjam-jam akhirnya saya bertemu dengan hujan yang
sialan. Ini di Enrekang. Jalanan berkelok dan sementara dalam pekerjaan membuat
sedikit perjalanan saya terhambat. Belum lagi mobil truk yang mengambil hampir separuh
badan jalan menghalangi pandangan saya. Kabut yang turun membuat saya harus
singgah di warung sederhana dan menikmati segelas kopi tubruk racikan Pak
Nawing (tuan rumah yang budiman). Jaket tebal yang saya gunakan tidak mempan
menahan dingin. Alhasil, gemetar romantispun saya rasakan [baca: mencoba
memeluk diri sendiri].
Satu yang perlu saya catat dalam perjalanan ini, masyarakat
Enrekang itu sangat ramah, dia bahkan menawari saya untuk menginap di rumahnya
saja jika memang sudah terlalu capek. Ini yang membuat saya semakin kagum
dengan beliau dan keramahannya.
Sekitar setengah jam istirahat, saya akhirnya pamit dan
memulai lagi perjalanan ini. Semakin jauh berjalan, samakin tebal kabut yang
yang saya temui. Sedikit "amazinglah" saya bisa bertahan dalam
keadaan seperti ini. Di perjalanan hanya mobil yang melambung atau terlambung
dengan sendirinya. Saya mencoba mengimbangi dingin dengan menggerak-gerakkan
tubuh sambil tetap berhati-hati. Kalau nanti teman-teman mau trip ke Toraja,
saran saya jangan mulai perjalanannya dari sore. Akibatnya seperti saya ini.
Kedinginan dan perlu lebih berhati-hati. Diambang lelah saya berharap jalanan
ini dengan sendirinya menjadi dekat agar saya bisa lebih cepat tiba.
Dan ini dia yang saya tunggu. Ucapan selamat datang di
Kabupaten Toraja. Pukul 24.00 malam saya tiba setelah menempuh perjalan sekitar
300 kilo dari Makassar. Dari perbatasan saya masih harus melalui beberapa
kecamatan untuk sampai di kota Rante Pao.
Tiba di Rante Pao saya masih sempat singgah untuk menikmati
kopi khas toraja yang legendaris itu sebelum menuju penginapan. sebelum baring
saya mengutuk dalam hati, akhirnya
orang gila ini bisa juga sampai di toraja.
Langganan:
Postingan (Atom)
3.28.2013
MANUSIA BULAN
umur akan sependek bulan, tapi setia akan membuatmu jadi bintang dengan jumlah yang lebih cahaya.
di kolong langit --
ada jembatan penghubung masa
bidadari bahkan kadang tersesat di dalamnya
hanya manusia bulan dan bukan cahaya yang tahu bagaimana cara menemukan ketersesatan itu -
di kolong langit --
ada jembatan penghubung masa
bidadari bahkan kadang tersesat di dalamnya
hanya manusia bulan dan bukan cahaya yang tahu bagaimana cara menemukan ketersesatan itu -
3.18.2013
Dalam Diam: Aku Kemungkinan
dalam diam:
kita mengayun angin halau
mencoba kebal atas segala coba
tidak rasa lagi pada lalu
kita orangnya sudah kuat saja
namun luka kian dewasa
aku:
hidup hanya mencari kematian
kata-kataku akan hidup lebih juang
puisi-puisiku kelak akan meminta pertanggung jawaban
sedangkan aku tidak cukup kuat lagi
tidak cukup sekadar menolong diri sendiri
kemungkinan:
aku menjadi benci pada ambigu
malam-malam membual
membuang segala kata yang kaku
puisiku mungkin akan dewasa
tapi aku akan mati setelahnya
: Tuhan, aku pulang -
18 Maret 2013
3.15.2013
Meredam Sastra Marxis (Sosialis) dengan Simbol “Balai Pustaka”
[Sebuah
Kajian Histori Singkat tentang Sastra di Indonesia]
SEJARAH SINGKAT MASUKNYA SOSIALIS DI
INDONESIA
Sastra-sastra sosialis banyak menggambarkan
kondisi serta gejolak masyarakat di masa tersebut. Sastra sosialis banyak
muncul di surat kabar-surat kabar (antara lain yang dimuat secara bersambung)
yang dikelola oleh para aktivis gerakan, serta sebagian lagi diterbitkan oleh
penerbit-penerbit swasta atau badan-badan tertentu (mislanya oleh kantor KPI)
berikut merupakan perjalanan sastra Marxis di Indonesia (Teeuw, 1978)
Perkembangan Sastra Marxis di
Indonesia dimulai sejak awal abad ke-20. Era ini juga ditandai dengan masuknya
modernitas dan disaat yang bersamaan para tokoh-tokoh pribumi menggalang
kekuatan dan semangat tentang nasionalisme. Sosialisme di Indonesia sendiri di
bawah oleh para tokoh asal Belanda yang beraliran sosial-demokrat, antara lain
adalah Sneevliet, Dekker, Bransteder, Baars, Bergsma dan C. Hartogh. Merekalah
yang membawa ajaran Marx dan Engles ke Hindia Belanda yang kemudian disebut
Indonesia.
Sneevliet mendirikan ISDV (Indische
Sociaal Democratische Vereeninging) pada tahun 1914 kemudian berhasil mengambil
peranan penting dalam mempengaruhi organisasi-organisasi pribumi yang telah
berdiri sebelumnya dan mampu membuat para tokoh aktivis pergerakan akhirnya lebih
condong menjadi sosialis revolusioner. Tokoh Indonesia yang dianggap sebagai
pelopor Marxisme adalah Semaoen dan Darsono dari Serikat Islam (SI) Semarang.
MASA AWAL KARYA SASTRA SOSIALIS
Kondisi
politik dan ekonomi di Hindia Belanda pada waktu itu tidak karuan. Ini di
akibatkan oleh sistem kolonialisme, lebih terasa lagi ketika pemerintah Hindia
Belanda mengubah sistem dari VOC menjadi sistem liberal. Kemudian sistem kerja
paksa dihapuskan dan diubah menjadi sistem kerja upah yang bebas. Akhirnya
kondisi ini semakin kacau dan membuat para tokoh sastra sosialis semakin kritis.
Mereka kemudian menyuarakan perlawanan terhadap sistem kolonialisme di bumi
Indonesia melalui tulisan.
Karya-karya yang dianggap sebagai
jenis karya sastra perlawanan.
1.
Karangan
Hadji Moekti dari tahun 1910 sampai 1912 yang berjudul Hikajat Siti Mariah yang
berkisah tentang permasalahan yang terjadi disekitaran sosial, politik dan
ekonomi dari berbagai lapisan sosial masyarakat.
2.
Roman
Tirto Adhi Soerja, dikarang pada tahun 1912 berjudul Nyai Permana yang berkisah
tentang istri Menteri Polisi. Ketika suaminya mengkorup petani saat pembagian
tanah, Nyai Permana akhirnya sadar dan memilih untuk berpihak pada petani lalu
meninggalkan suaminya, kembali ke desa dan berkumpul bersama para petani.
3.
Hikayat
Kodiroen karya Semaoen (kelak menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia) yang di
tuliskan pada tahun 1920 berkisah tentang seorang pemuda cerdas bernama Kadirun
yang bekerja sebagai pegawai negeri dalam pemerintahan kolonial. Namun melihat
penderitaan dan kemiskinan mayarakat akhirnya ia kecewa kepada pemerintah
Hindia Belanda dan memilih untuk bergabung bersama took-tokoh PKI yang
mengajarkannya tentang teori-teori perjuangan dan perlawanan. Akhirnya
pimpinanya mengetahui gerak-gerik Kadirun dan menyuruhnya memilih jabatannya
atau partai yang akan membuat dirinya dipecat dari jabatannya. Kadirun kemudian
memilih untuk ikut dalam kegiatan politik PKI, karena menurutnya hanya dengan
cara seperti itu dia bias memperjuangkan cita-cita dan kebahagiaan rakyat.
Perkembangan sastra marxis atau
dikenal juga dengan istilah sastra sosialis di Hindia Belanda semakin matang.
Karya-karya yang muncul juga semakin kritis dan penuh perlawanan. Salah satu
karya yang dianggap sangat keras pada masanya adalah karya milik Marco
Kortodikromo yang berjudul Mata Gelap (1914), isinya di penuhi oleh pornografi
dan mendapatkan kecaman oleh masyarakat waktu itu. Akhirnya dia membuat satu
karya lagi yang berjudul Student Hidjo (1918) berkisah tentang awal munculnya
intelektual Indonesia dari kelas borjuis kecil, foedal, birokrat yang bermental
lemah, dan beruntung karena memiliki kesempatan untuk mendapatkan pendidikan Barat bahkan sampai ke
luar negeri.
Kaum sastra sosialis akhirnya digolongkan
kedalam “sastra pinggiran” yang karyanya oleh sebagian kritikus sastra di
Indoneia tidak dimasukan dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia.
Sebagiannya lagi menganggap bahwa karya-karya yang pernah muncul dari sastra
sosilialah yang dianggap mewakili keadaan Indonesia pada waktu itu.
KEMUNDURAN SASTRA SOSIALIS DAN
DOMINASI BALAI PUSTAKA
Salah satu alasan kemunduran sastra sosialis adalah hegemoni Balai
Pustaka yang pengaruhnya semakin kuat dan meluas di Indonesia. Disamping itu
tokoh sastra sosialis tidak mampu bertahan dalam dunia kesusastraan akibat
pencekalan karyanya dan keaktifan dalam pergerakan politik. Sebagaian tokoh
sastra sosialis juga ditahan oleh pemerintah kolonial dan ada juga yang
diasingkan.
Karya-karya yang dihasilkan oleh
Balai Pustaka akhirnya dianggap sebagai cerminan masyarakat waktu itu. Karya
Abdoel Moeis yang berjudul Salah Asuhan (1928) menjadi bukti usaha Balai
Pustaka untuk menampilkan karya bermutu dan mengenyampingkan persoalan politik.
Melalui karya tersebut Balai Pustaka seaolah-olah ingin mengubah paradigma
tokoh sastra sosialis bahwa kita tetap bisa membuat karya sastra yang bermutu
tanpa harus menghubungkannya dengan politik.
Balai Pustaka akhirnya muncul sebagai
simbol baru kesusastraan Indonesia yang dianggap lebih bermartabat namun nyatanya
kurang memperhatikan lagi kondisi sosial masyaratkat pada masa itu, sedangkan
jika dimaknai, karya sastra itu sendiri adalah cerminan dari masyarakat. Mungkin
inilah yang disebut oleh WS. Rendra dalam “Sajak Sebatang Lisong” sebagai
penyair-penyair salon.
Takdir Alisjahbana dalam karyanya,
Layar Terkembang (1936) dan Armijn Pane dengan novel Belenggu (1940) pernah
mencoba untuk kembali memunculkan semangat ke-Indonesia-an sebagai gerakan
untuk menolak kolonialisme. Namun nyatanya, kedua karya tersebut dianggap masih
jauh dari semangat ketika sastra-sastra sosialis, apa lagi realisme sastra.
Namun beruntung pada masa itu Pramoedya
Ananta Toer berhasil membuat karya sastra yang dianggap mampu mewakili kata “perlawanan”
yang selama ini diusahakan oleh tokoh-tokoh sastra sosialis. Namun kembali lagi
harus mendapatkan pencekalan oleh pemerintah pada waktu itu. Beberapa buku
Pramoedya akhirnya diterbitkan di luar negeri.
Daftar Pustaka:
Faruk, 1994. Pengantar Sosilogi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kurniawan, Eka. 1999. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme
Sosialis. Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia.
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra. Malang: UMM Press.
*anggap saja sebagai catatan bawah: tulisan ini hanya sebuah kajian histori singkat
tentang sastra sosialis di Indonesia. Masih minim referensi dan bagi pembaca
ada baiknya untuk memberikan kritik yang membangun guna pengembangan
pengetahuan.
3.13.2013
Kredo Puisi oleh Sutardji Calzoum Bachri
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sebdiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.
Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.
Bandung, 30 Maret 1973
3.12.2013
Berdua yang Sederhana
[kisah kartu nama dan cincin]
namun akhirnya, aku mencintai hujan:
malam ini hujan jelma rinai terakhir. kita batal pulang, hujan mendadak nakal. menghitung rintik yang rambat dari celah atap pohon yang malu-malu: berdua saja, semakin beradu.
malam ini hujan jelma rinai terakhir. kita batal pulang, hujan mendadak nakal. menghitung rintik yang rambat dari celah atap pohon yang malu-malu: berdua saja, semakin beradu.
saat seperti ini aku membenci waktu. aku lebih suka hujan yang menjebak. ingin rasanya aku tikam jantung detaknya yang seolah menegur untuk menembus badai malam ini saja. kita bertahan dengan alasan takut basah dan pisah.
aku suka kata dua, sebab disana ada aku dan kamu yang selalu menjadi akhir tanpa berakhir. di saku bajumu ada kartu nama percetakan undangan. aku tahu, kau ingin berikan itu kepadaku. maaf, aku belum punya cincin untuk membalas karta nama itu.
akhirnya, sengaja aku basahkan sakumu agar karta nama itu menjadi luntur. kau terpaksa mengeluarkannya, dugaanku benar, luntur dan menyisahkan kata kahni yang aku baci sebagai kenduri setia kita: pernikahan -
3.09.2013
Telah Cukup Redup di Pelukanku: Bulan
bulan telah cukup redup dipelukanku. aku sangkakala malam yang cukup setia menunggu jatuhnya suara terompet dalam benar. mengunang dengan sayap patahnya cahaya. jatuh tepat pada ranjang yang kakinya telah pohon. aku berbaring semesta dengan segala prahara yang meniduriku mesra. tidak ingat lagi bagitu banyak tentang selimut, bantal ataupun gulingku yang lebih tertidur dari pada lelapku.
tentang penerimaan:
-- dia ada di jari manismu melingkar rapi.
maaf, jika aku terpaksa memisahkan jarimu dengan tanganmu: cemburuku berumur sepekan lebih tua dari dia.
pada akar malam yang menyerap segala daya air ingatanku akal
kita pernah menyamakan pelukan dengan ingat lalu memisahkan dengan hangat. seandainya seangan itu melakukannya lupa, tidak akan ada puisi ini, tidak akan aku bacakan untuk telingamu, tidak akan aku paksa hingga hatimu. membiarkannya begitu saja.
tentang penerimaan
-- di belakang namamu kini ada namanya mendiam mesra.
maaf, aku memaksamu untuk memasukkan namaku sebab jauh sebelumnya kita pernah dengan ikhlas saling meletakkan nama masing-masing dalam hangat.
pada akhirnya. malam yang membawamu pulang dan subuh membuatku harus menerima segala tiba.
aku letakkan ikhlas jauh lebih tinggi dari batas langit yang aku jangkau indra.
3.06.2013
Surat Terakhir
air mata bukan hanya tentang kesedihan. ada banyak bahagia yang perlu kau tangisi. pertemuan juga kadang mengajarkan air mata, namun perpisahanlah yang lebih terasa.
-- ada yang lebih dewasa dari pada umur: pikiran.
jika mataku mulai menjadi tanda tanya untukmu. kau mungkin menemukan jawaban dari pergumalanmu dengan hidup. ada yang harus kau ikhlaskan, sebab sepasang tangannya telah amputasi memelukmu.
kadang dengan berjalan mundur kau akan tahu betapa dekat jarak kita. sayangnya, kamu enggan melakukannya untukku.
hingga tiba pisah, kita masih bernostalgia dengan cangkir bir hitam. lekatnya tumpah pada secarik kertas usang yang mungkin akan kau sesali: surat terakhir. setelahnya menjadi kabar yang hambar.
ada yang harus meninggalkan dan ada yang enggan ditinggalkan. namun perjalanan tidak akan pernah usai dihabiskan oleh pisah. masih ada temu selanjutnya, meskipun beda.
Manuskrip Indonesia
[kepada
para pejuang hak]
sore
yang kumat. berpenjara pada jalan panjang tidak kenal ujung. dimana sandarkan
lelah itulah rumah. pulang dan membaca.
seharusnya
bisa lebih juang lagi. mati hanyalah persoalan nasib.
berjuang
adalah mempertahankan. mereka yang hidup dalam kebenaran tidak akan pernah
tenang jika masih ada keluh tentang lapar dan tidak adil.
jalan
panjang paling awal. senjata negara selalu membiarkan pelurunya terbang rendah
diatas kepala pejuang negara. pejuang tidak akan pernah mengeluh. tabah adalah
jalan satu-satunya dan menerima tiba adalah sebuah keikhlasan.
manuskrip
indonesia. setelah membaca negara:
ada
yang lebih hina dari penghianat, mereka yang lebih kenyang dari kelaparan saudara
sendiri.
ada
yang lebih hina dari pendusta, mereka yang lebih mewah dari kemiskinan saudara
sendiri.
ada
yang lebih hina dari pembohong, mereka yang lebih senang dari sedih saudara
sendiri.
jika
kita saudara, mengapa ada yang harus sangat kaya diantara rumah gubuk.
mengapa
harus ada yang bayinya tidur kenyang dan ada yang bayinya mati kelaparan.
itulah
mengapa pejuang hak selalu hidup lebih mati dari yang lain. mereka adalah
korban dari semua korban. hidupnya dihantui pembunuhan dan matinya dikenang
sebagai lupa.
sebab
di mata negara, yang mengusik ketenangan raja adalah musuh bagi negara.
tidak
salah jika di negara ini ada yang menjajah atas tanah sendiri dan yang dijajah
adalah saudara sendiri. sebab perut kita berbeda dan raja lebih memilih
mengorbankan pionnya dari pada ratunya sendiri.
- - indonesia
3.05.2013
berseteru dengan waktu
berseteru dengan waktu. kadang lebih butuh hitungan jam dari pada detik yang lincah memutar sudut keadaan. nafas menjadi perihal tidak masuk akal yang mungkin lebih nyata dari pada janji.
-- di dinding, memoster bayangan masa yang sulit untuk kau ulangi. bisa saja itu berbentuk penyesalan yang entah.
melihat bayangan yang memayat kelam. ada yang lebih sakit dari sebuah derita tanpa batas: penyesalan ranjang kumat yang meniduri segala mimpimu. lalu kamu menjadi patung yang bernafas dengan rongga sesak sebuah corong kekalahan.
dalam tidur semua menjadi lebih mudah, sebab hanya mimpi yang menarungkan dirinya sendiri. kamu memejam mati sesaat. saat sadar, senyummu bahagia dan sedihmu adalah kutup dari kutuk yang saling berjarak jaga.
akhirnya kepergian jugalah yang paling menakutkan. banyak sepasang akhirnya yang saling berpaling setelahnya. seakan tidak pernah kenal lalu pura-pura tersenyum saat kembali bertemu di sebuah pesta pernikahan sahabatnya dulu.
-- waktu memang adalah badik paling hunus yang mengancam tanpa terlepas dari warangkanya sendiri.
3.03.2013
pada sebuah ingin: aku
pada sebuah ingin yang dingin:
ada hilang yang begitu jujur
aku semakin menjadi perasa yang kalah
setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat
pada sebuah harap yang bersahabat
ada kujur yang membujur di atas kasur
aku lekat yang semakin mayat
setelah cukup lama menggenggam harap
sila pilah untuk pilih
tapi jangan membedakan dengan nasib saja
lalu menjadi tekan pada sebuah akhir hayat yang jatuh di jendela takdir
aku semakin menjadi perasa yang kalah
setelah cukup tua menjadi pura-pura yang kuat
aku lekat yang semakin mayat
setelah cukup lama menggenggam harap
- pada sebuah ingin: aku adalah bahagia yang hidup
Makassar, Maret 2013
2.20.2013
Seseorang yang Aku Sebut dalam Puisiku
[untuk: joko pinurbo]
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain
dinding-dinding masa membentuk kurun yang jauh lebih kutub dari selatan
kehilangan mata bukan berarti buta
kita melihat sesuatu keutuhan yang orang lain buta kepadanya
kehilangan telinga bukan berarti tuli
kita mendengar apa yang orang lain tidak cukup mampu mendengarnya
hidup adalah kutukan dan mati adalah cara untuk melepasnya
penjara-penjara menjadi surga bagi mereka yang ikhlas menerima segala tiba
tapi tidak pada tirani bagi mereka yang selalu mempertanyakan hakikat
matahari merendah dan panasnya ikut salibkan tuduh
kita sejenis buas yang hidup dalam kapas-kapas tanpa nafas
lalu mati kita adalah impas dari nifas selangkiri ibu yang kananya menjadi doa
kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
apa yang tidak pernah kita tuliskan, tidak akan mampu menjadi baca buat orang lain
warna apa lagi yang luput dari penerimaan
setelah semua cukup menjadi nama atas berhala-berhala retina
di sinilah ilham mulai dijatuhkan Tuhan kepada tinta
lalu dari gores-gores resah yang terayatkan
kita mulai membacanya satu demi bait lalu memahami sebagai kaki tangan kehidupan
kepada seseorang yang aku sebut dalam puisiku:
ternyata kita adalah pelupa atas tulis dan akhirnya orang lupa menjadi baca dalam tulis kita
Makassar, Februari 2013
2.19.2013
[kepada yang aku sebut perempaunku]
di mataku: seluruh engkau adalah angka yang memenuhi retina dan menjadi suduttatap pada pandangku.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.
di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.
tidak terbilang jumlah sangka pada prahara. aku turut prihatin pada rangka dalam kepalamu yang menjadikanku sebagai tersangka.
di rumah Tuhan, kita bukan lagi hamba yang disebut pada sebuah pesta penghitungan amal
sebab, kita mencoba bertolak dari realita-realita kesunyian.
jatuh cinta itu bukan agama yang harus memaksamu kita untuk tidak mencintai selain dirimu sendiri.
tangan kita juga bukan duri yang akirnya harus diharamkan untuk bersentuhan.
mata kita juga.
hati kita juga.
bagiku: kau adalah pahala yang lisan tidak cukup kuat merapalnya satu persatu.
di bibirmu: seluruh aku menjadi gelas-gelas bir yang nantinya akan kau susun menjadi bahasa
entah enyah atau sebagai buih, kita memang bukan sepasang mata yang hanya bisa berfokus pada titik yang sama.
kita seliar angin yang tidak pernah menduga arahnya akan kemana setelah berhembus pertama.
juga sepekat kopi yang lupa diadukkan gula.
namun pada akhirnya, sabda Tuhan menutup debat-debat kita di ranjang-ranjang berdarah
kau dan aku, sepasang yang selalu menajdi sama.
sampai kapan aku menduga selamanya.
Makassar, Februari 2013
2.16.2013
Sunyi dan Diam yang Saling Memahami
kepada
dinding dingin kamar yang tidak lagi muram.
baru
saja kita membuatnya sedikit berdarah oleh petikan warna kutukan.
berdiri
diantara pelukan-pelukan paling lekat milik yang menetap.
di
dalam seribu tawa menjadi teka-teki yang tidak perlu kita silangkan, itu sudah
terlalu rumit untuk tumit kata kita memahaminya.
berceritalah
seolah kita paham dengan semua noda dosa yang Tuhan ciptakan
setelah
lama mengutuk kutipan kata-kata dan semua judul puisi yang telah mereka
tuliskan
pada
hari yang entah kapan, kelak kita akas melepaskan diri lalu pura-pura saling
mengikhlaskan
biarlah
sunyi dan diam kita yang saling memahami
mungkin memang kamar kitalah yang paling berjodoh -
Tamu yang Senasib di Ruang Temu
ada masa kamu akan kembali bertemu di ruang tamu rumah tunggu
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa
ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib
ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu
kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -
membicarakan semisal temu yang masih ingin di angan
memeluk pelukan paling bersaling
adalah kuat yang masih menghinggapi kita di dua tempat kenangan
lalu dan depan: masa
ada kita yang saling bercumbu dengan asmara setelah lama saling ber-amarah
di ruang tamu yang sama
kita masih menjadi penilai pada layak
sepandainya menjaga mata dengan wajah air ketenangan
mambasuh sesekali kursi dan meja yang mulai jenuh menunggu kepulangannya menjadi kayu kembali
itu setelah patah dan dirongsokkan di gudang atau ruang pojokan gedung
tentunya kita senasib
ada saatnya nanti kita akan meminta pada pintu untuk terbuka kembali
setelah lama berjelajah di dahan-dahan tahun masa lalu yang tidak sanggup
membawamu masuk ke masa depan yang masih entah
akupun demikian membacanya sebagai perhatikan
kita tamu-tamu ajaib di rumah kenangan yang ruang tamunya telah menyengsarakan tamu
kita adalah tamu yang senasib di ruang tamu, mungkin kita jodoh -
Makassar, Februari 2013
2.13.2013
#combinedtweet: perempuanku
perempuan itu adalah penjaga terpandai untuk cemburunya. dia suka menyimpannya sendiri. #tweetrhymes
rindunya pun
demikian. perempuan suka menyimpannya dalam hati. sangat dalam #tweetrhymes
juga ketika dia
terluka. perempuan selalu berusaha menutupinya dengan tetap tersenyum. #tweetrhymes
bagi perempuan: pada saat tertentu, air mata justru lebih mmapu menjelaskan segalanya. #tweetrhymes
jika perempuan
setia yang kau sia-siakan telah memilih pergi, mungkin waktunya penyesalan
untuk datang. #tweetrhymes
perempuan selalu memberikan "segalanya" hanya kepada dia yang membuatnya nyaman. #tweetrhymes
jangan berjanji kepada perempuan jika kamu tidak bisa memberi alasan mengapa dia harus percaya. #tweetrhymes
perempuan mencintai bukan dengan paksaan. biarkan dia memilih hati yang mana untuk iya cintai. #tweetrhymes
perempuan setia akan selalu menemanimu, bahkan saat susah. bukan saat bahagia saja. percayalah. #tweetrhymes
jangan percaya senyuman wanita saat matanya masih bengkak. mungkin saja dia pura-pura terlihat baik-baik saja agar kamu tenang. #tweetrhymes
2.12.2013
Kota Rakyat
di kota rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura
di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan
di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara
kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya
seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu
di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat
di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat
adipura menjadi buruan wali
tak beradipura berarti kota gagal, walinyapun dianggap demikian.
sedangkan, seenak apa adipura untuk menjadi sarapan buat penghuni perumahan kumuh tanpa nomor dan blok
meraka lapar, tidak butuh adipura
di kota rakyat
adidaya adalah Tuhan
yang punya hak membangun gedung mewah adalah adidaya
tidak beradidaya berarti budak
sedangkan walilah yang memilih adidaya
anak Tuhan yang dilahirkan dari konspirasi setan
di kota rakyat
matinya nurani adalah simbol langit terbalik
kita menjadi beda yang seharusnya sama
kita tidak dise-darah-kan, lalu dianggap tidak saudara
kita tidak sebagaian, kita seluruh
itulah roh bangsa ini
semakin kamu cari persamaan kita
maka semakin kamu temukan perbedaan kita
sebaliknyalah yang akan membantumu menemukan siapa kamu sebenarnya
seluruh juga bukan berarti sama
kita memang adalah beda yang berarti sama
itulah mengapa kita harus bersaudara
negara tidak akan mampu mempertahankan hakmu
sedangkan, saudaramulah yang akan memperjuangjagakan hakmu
di kota rakyat
pelacur dan ustadz adalah sama
tempatnya saja yang berbeda
ada yang melacurkan tubuhnya dan ada yang melacurkan otaknya
jangan-jangan, kita semua adalah pelacur di masing-masing tempat
aku juga pelacur kata-kata di jalanan
kamu juga
dia juga
kita adalah pelacur di kota rakyat
di kota rakyat
kamu tidak akan menemukan siapa-siapa selain rakyat
nasib saja yang membuatnya ber-merah
selebihnya kita semua adalah rakyat
Makassar, Februari 2013
2.10.2013
Definisi Puisi Menurut beberapa Ahli
- John KeatsPuisi adalah suatu usahauntuk membaca indah atau subline tanpa gurdon dari membayangkan narasi proses pemikiran atau logis. Dia tidak menyiratkan puisi yang tidak masuk akal atau tidak memilik inarasi.
- William Wordswoth Puisia dalah overflow spontan perasaan kuat, yang diperlukan berasal dari emosi teringat dalam ketenangan, emosi yang dimaksud sampai, oleh suatu jenis reaksi, ketenangan secara bertahap menghilang, dan emosi, kerabat itu yang merupakan subjek kontemplasi, iproduksi secara bertahap, dan tidak itu sendiri sebenarnya ada dalam pikiran.
- Paul Valery: Puisia dalah seni didasarkan pada bahasa, namun puisi memiliki makna yang lebih umum yang sulit untuk menentukan karena kurang menentukan; puisi juga mengungkapkan keadaan pikiran tertentu.
- Putu Arya Tirtawirya (1980:9) menjabarkan bahwa puisi merupakan ungkapan secara implisit dan samar, dengan makna yang tersirat, di mana kata-katanya condong pada makna konotatif.
- H. B. Jassin menjelaskan bahwa Puisi adalah pengucapan dengan perasaan yang didalamnya mengandungi fikiran-fikiran dan tanggapan-tanggapan.
- Waluyo (2005:1), mengemukakan bahwa puisi adalah karya sastra dengan bahasa yang dipadatkan, dipersingkat dan diberi irama dengan bunyi yang padu dan pemilihan kata-kata kias (imajinatif).
- Menurut Muhammad Hj. Salleh, Puisi merupakan bentuk sastra yang kental dengan muzik bahasa serta kebijaksanaan penyair dan tradisinya. Dalam segala kekentalan itu, maka puisi setelah dibaca akan menjadikan kita lebih bijaksana.
2.08.2013
ANTARA PENGADILAN PUISI DAN KREDO PUISI
Diantara sekian banyak peristiwa yang berkaitan dengan sejarah sastra indonesia, ada dua kisah yang ingin saya angkat disini
“Pengadilan Puisi dan Kredo Puisi”
1. Pengadilan Puisi (1974).
Pengadilan Puisi merupakan ”pemberontakan” terhadap dunia perpuisian Indonesia. Pemberontakan tersebut ditujukan kepada kritikus sastra Indonesia, para penyair mapan dan majalah sastra yang ada di Indonesia. Kritikus yang dibidik dalam konteks ini adalah H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, keduanya dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Mereka dianggap tidak mampu lagi mengikuti perkembangan puisi Indonesia mutakhir. Penyair mapan yang dihujat adalah Subagio Sastrowardoyo, Rendra, dan Goenawan Mohamad. Mereka bertiga dianggap menghambat kewajaran perkembangan puisi Indonesia. Adapun. majalah sastra yang dijadikan terdakwa adalah Horison, yang dianggap tidak lagi menampung aspirasi orang banyak karena telah menjadi majalah keluarga atau majalah klik.
Slamet Sukirnanto sebagai jaksa menuding kelemahan para terdakwa dan mengajukan tuntutan sebagai berikut.
1) Para kritikus sastra yang tidak mampu lagi mengikuti perkembangan kehidupan puisi mutakhir Indonesia, yakni H.B. Jassin dan M.S. Hutagalung, harus “dipensiunkan’ dari perannya sebagai kritikus.
2) Redaktur/editor majalah sastra Horison, khususnya Sapardi Djoko Damono, “dicutibesarkan”.
3) Para penyair mapan: Subagio Sastrowardoyo, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Darnono, Rendra, dan para epigon mereka, dikenai hukuman pembuangan. Para reinkarnasinya dibuang ke pulau paling terpencil.
4) Majalah Horison dan majalah Budaya Jaya harus dicabut surat izin terbit (SIT)nya, dan yang sudah terbit dinyatakan tidak berlaku. Kedua majalah itu dilarang dibaca oleh peminat sastra dan masyarakat umum karena akan mengisruhkan perkembangan sastra yang diharapkan sehat dan wajar.
Majelis hakim dalam sidang pengadilan menolak tuntutan jaksa penuntut. Majelis hakim yang diketuai oleh Sanento Yuliman mengambil keputusan yang intinya para kritikus dan para penyair mapan tetap diberi kesempatan berkarya.
Oleh sebab itu, H. B. Jassin mengemukakan sikapnya terhadap pengadilan puisi itu, yang menolak terhadap apa yang dituduhkan kepadanya. H. B. Jassin menganggap bahwa pengadilan puisi itu hanya suatu permainan kanak-kanak yang lucu. Akan tetapi, pengadilan itu merupakan perangsang untuk menimbulkan kesungguhan dalam mencari kebenaran material.
Hampir sama dengan pendirian H. B. Jassin, M. S. Hutagalung dalam makalahnya yang berjudul Puisi Kita Dewasa Ini: menyatakan bahwa dengan pandangan Sukirnanto dalam pengadilan puisi itu ia merasa tidak perlu mengubah prinsip-prinsip yang diyakininya. Pendiriannya itu disertai pula dengan sikapnya terhadap pengadi1an puisi. Tuduhan tentang kesalahan kritikus dalam melihat perkembangan sastra beralasan dan tidak benar. Sudut pandang Sukirnantolah yang brengsek. Dapat dikatakan bahwa pandangan-pandangan Sukimanto adalah pandangan yang tidak sehat.
Sapardi Djoko Damono mengemukakan pendiriannya dalam makalahnya yang berjudulCatatan atas Pengadilan Puisi dan Tuntutan Slamet Sukirnanto sebagai berikut.
Pencacimakian terhadap majalah Horison merupakan tindakan yang aneh karena majalah itu merupakan sumber terpenting bagi puji-pujiannya. Sapardi menganggap bahwa Slamet Sukirnanto merupakan korban kekocakan Darmanto Jatman. Sikap Sapardi itu terlihat juga dalam makalahnya. Sapardi rnenganggap bahwa keputusan pengadilan puisi tidak dapat diterima karena keberadaan majalah Horison tidak ditentukan oleh Slamet Sukirnanto.
1. Kredo Puisi
Kredo Puisi merupakan sikap dan konsep Sutardji Calzoum Bachri dalam penulisan puisi-puisinya. Kredo ini dimuat pertama kali dalam majalah Horison, Desember 1974, lengkapnya berbunyi:
Kredo Puisi
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukanlah seperti pipa yang menyalurkan air. Kata-kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.
Dalam keseharian, kata cenderung dipergunakan untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.
Kata-kata haruslah bebas dari penjajahan pengertian, dari beban ide. Kata-kata harus bebas menentukan dirinya sendiri.
Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dan tradisi lapuk yang membelenggu mereka seperti kamus dan penjajahan-.penjajahan seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata-kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.
Bila kata-kata telah dibebaskan, kreativitas pun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, dan menentukan kemauannya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tidak terduga sebelumnya, yang kreatif.
Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. Dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari-nari di atas kertas: mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mondar-mandir berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sendiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.
Sebagai penyair saya hanya menjaga, sepanjang tidak mengganggu kebebasannya agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.
Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah kata. Dan Kata Pertama adalah Mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantra.
Jakarta, 30 Maret 1973
1.31.2013
Wajah Waktu
kepada mantan puisiku
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata
mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku
kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih
lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan
kepada mantan puisiku
berlalulah.
kamu pernah lama tergeletak di atas ranjang kenangan
tertutup kelambu dupa hingga terlewatlupakan sebagai entah yang indah
aku kadang lupa menanyakan kabarmu
meski sesekali aku melihatmu memurungkan kusut kertasmu
aku lebih asyik bermain dengan masing-masing sudut kota air mata
mantan puisiku
dari segala wajah waktu, aku adalah seorang fobia photo
photo yang kadang menarik paksa diriku pada suatu masa
dimana semua kenangan saling munuduh dan akulah tersangka yang dikurung dalam sesal
anjing, dasar penyair gagal
gumamku dalam hati untuk hatiku
kepada mantan puisiku
kita pernah sama-sama saling melipat diri dalam gerangan
membaca kata satu sama lain
lebih mesra
lebih
lalu sama-sama mengikhlaskan
lebih mesra
lebih
lalu
seseroang berlalu dari mataku dan menganggapmu ada
berharga di atas segala amarah
mengambilrebutmu dan aku masih menikammati sudut-sudut kota air mata.
dia menikmatimu lebih dari nikmatnya kita dulu
lalu aku masih menunggu kamu sebagai mantan
mantan puisimu yang gagal sebagai mantan
kepada mantan puisiku
berlalulah.
Makassar, Januari 2013
1.23.2013
Toraja: Saya Hanya Bermodalkan Gila
“kamu pernah dengar cerita mayat yang bisa berjalan?”
“belum. memangnya bisa?”
“di Toraja itu tetap terjaga. Gilakan!!”
“kamu mau kesana?”
“besok saya mau kesana, mencoba berpetualang dengan bermodalkan
gila kawan!”
“kamu pergi sama siapa?”
“saya pergi snediri di temani motor butut saya”
“kamu memang gila kawan”
Kira-kira seperti inilah percakapan "maya" saya
dengan salah satu teman yang suka traveling.
Sore masih panjang. Dengan semangat yang keterlaluan, saya
mencoba memanaskan motor dan memulai perjalanan dari rumah ke tugu Adipura.
Perjalanan ke Toraja saja bisa memakan waktu sampai delapan jam dari kota
Makassar dan sore ini saya masih sempat menghabiskan sebatang rokok terlebih
dahulu [baca: ini ritual tersendiri].
Kira-kira jam 3 sore saya memulai trip gila ini. Angin
sepoi dan keramaian jalan memang cukup menghibur trip kali ini. Kerel dan
matras masih setia di punggung, tidak terasa sore mulai berganti menjadi malam
dan pintu gerbang kabupaten Parepare belum juga terlihat. Masih dengan model
yang sama, semangat. Meskipun sebenarnya dompet saya tidak bersemangat. Tapi
disemangatkan sajalah.
Tiba di kota Parepare saya istirahat sambil menghabiskan
bekal dari rumah, nasi dan "ikan paku" spesial yang saya buat
sendiri. Selepas lelah saya kembali memulai perjalanan. Kali ini kabupaten Rappang
yang saya lalui. Malam yang dingin dan jalan yang cukup berkelok memang menjadi
tantangan tersendiri. Kerlap lampu jalan dan kendaraan silih berganti
menerangi. Dengan hati-hati saya mencoba menikmati perjalanan dengan sesekali
mengisap rokok kretek kebanggan lelaki.
Setelah berjam-jam akhirnya saya bertemu dengan hujan yang
sialan. Ini di Enrekang. Jalanan berkelok dan sementara dalam pekerjaan membuat
sedikit perjalanan saya terhambat. Belum lagi mobil truk yang mengambil hampir separuh
badan jalan menghalangi pandangan saya. Kabut yang turun membuat saya harus
singgah di warung sederhana dan menikmati segelas kopi tubruk racikan Pak
Nawing (tuan rumah yang budiman). Jaket tebal yang saya gunakan tidak mempan
menahan dingin. Alhasil, gemetar romantispun saya rasakan [baca: mencoba
memeluk diri sendiri].
Satu yang perlu saya catat dalam perjalanan ini, masyarakat
Enrekang itu sangat ramah, dia bahkan menawari saya untuk menginap di rumahnya
saja jika memang sudah terlalu capek. Ini yang membuat saya semakin kagum
dengan beliau dan keramahannya.
Sekitar setengah jam istirahat, saya akhirnya pamit dan
memulai lagi perjalanan ini. Semakin jauh berjalan, samakin tebal kabut yang
yang saya temui. Sedikit "amazinglah" saya bisa bertahan dalam
keadaan seperti ini. Di perjalanan hanya mobil yang melambung atau terlambung
dengan sendirinya. Saya mencoba mengimbangi dingin dengan menggerak-gerakkan
tubuh sambil tetap berhati-hati. Kalau nanti teman-teman mau trip ke Toraja,
saran saya jangan mulai perjalanannya dari sore. Akibatnya seperti saya ini.
Kedinginan dan perlu lebih berhati-hati. Diambang lelah saya berharap jalanan
ini dengan sendirinya menjadi dekat agar saya bisa lebih cepat tiba.
Dan ini dia yang saya tunggu. Ucapan selamat datang di
Kabupaten Toraja. Pukul 24.00 malam saya tiba setelah menempuh perjalan sekitar
300 kilo dari Makassar. Dari perbatasan saya masih harus melalui beberapa
kecamatan untuk sampai di kota Rante Pao.
Tiba di Rante Pao saya masih sempat singgah untuk menikmati
kopi khas toraja yang legendaris itu sebelum menuju penginapan. sebelum baring
saya mengutuk dalam hati, akhirnya
orang gila ini bisa juga sampai di toraja.
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)
