on 5.18.2014
Di musium sunyi
kutemukan patung The Poet
tak lagi sungkawa memikirkan sajak
-    atau baju, atau dagu, atau lagu, atau kekasih
tubuhnya kini berpiama
hendak tidur di atas tubuh Maryam, katanya

Tangan yang dulu menopang dagu kini bergerak kaku
ia pandai mengacung kelingking
sambil mengonar senyum, ia sopan berkata The Thinker
lalu menjulurkan lidah
seolah paham kita derita yang patuh pada kitab purba

Di tahun akhirnya sebagai patung
Auguste Rodin baru, mengubahnya menjadi badut
dengan wajah topeng kayu, menyimpan senyum enigma palsu

The Poet mengakhiri diri
ia benturkan kepalanya ke kaki
perutnya retak, terburai seluruh bahagia
yang sembunyi di balik wajah masam
di usianya yang kini ribuan lampau

-          The Poet, patung lelaki yang termenung dan telanjang
memikirkan puisinya, karya Auguste Rodin
on 5.17.2014
Di tubuh Monalisa
ada sebidang tanah lapang di dadanya yang bukit
aku menjadi pohon yang tumbuh terlalu tumbang
kau memberi warna hijau pelangi pada rimbun daun
di buahnya, kau menambah warna cemas
buah itu jatuh, menimpa letak tangan Monalisa
yang sedang menyembunyikan duka di telapak tangannya
dan diam-diam hendak mengubahnya menjadi batu

“Sejak kau jatuh cinta pada hal-hal yang tua
aku tinggal di dada itu
bermukim sebagai pohon yang akarnya terbawa kuas pelukis”

Seorang lelaki muda
dengan lembut membuka baju Monalisa
hendak menemukan segala yang pergi, juga hilang dari dirinya
tapi ia hanya menemukan amuk dan dada lelaki yang penuh
bekas cupang yang masih merah luka

“Aku mati dalam bencana warna yang dahsyat
di bawah wajah perempuan yang tersenyum melihat kekasihnya
di sebuah bibir sedang bercinta dengan lukisan lain”
on 5.09.2014
Kau boleh percaya bahwa aku mungkin tidak mencintaimu, tapi kau harus yakin aku tidak akan meninggalkanmu.

Ini adalah kalimat yang tidak sempat kau dengar karena selalu terburu-buru mematikan panggilan teleponku. Masih kulekatkan gagang ini di kuping kiriku, sementara kau dengan paksa menekan tombol yang mampu menyulap jarak kita menjadi tiada. Seperti bunyi peringatan saat kapal ingin berlayar, nyaring, panjang, dan tak mengenal kata tunggu.

Benar katamu, cinta memang selalu membawa orang ke padang kembara. Mengajar kita menjadi pengelana. Kini aku harus menyiapkan perbekalan yang tidak sanggup kuterka cukup tidaknya. Perjalanan kali ini banyak memakan waktu, perasaan, juga angin. Namun belum juga cukup rasanya aku mengenalmu, kecuali seseorang yang selalu terburu-buru mematikan teleponku. Karena alasan itu pula, aku akhirnya menulis namamu di teleponku dengan sebutan, Pembunuh Harapan.

Sejak kau mulai memikirkan rumah besar dengan semua hal mewah, kupandangi dalam-dalam diriku. Tak sebuihpun yang layak kauperjuangkan. Aku memang bukan lelaki dari negeri emas yang akan menguningkan kehidupanmu. Sungguh, satu-satunya hal yang kumewahkan dalam hidupku adalah, caraku mencintaimu. Sederhana, apa adanya, dan selalu sadar diri.

Seminggu terakhir ini, kita bahkan tak pernah saling bertukar kabar. Kau kini menemukan persembunyian bersama orang lain, sedangkan aku selalu lari mengejar namamu yang diterbangkan angin kesuatu tempat istimewa yang tidak mungkin kukunjungi. Dengan terpaksa dan terluka, aku kembali merayakan kesendirianku.


Di sebuah jalan raya sebelum kita benar terpisah. Salamanya. Aku meneleponmu dan berharap kau dapat mendengar kalimat pembuka puisi ini kuucapkan sekali lagi. Sayangnya, seseorang yang tidak kukenal menjawab panggilanku, rekam suara anda setelah nada berikut. Aku menunggu berjam-jam, kuhabiskan seluruh perbekalanku disini. Namun nada berikut itu tak pernah ada. Tak pernah kau kehendaki.
on 5.05.2014
1/
Seorang lelaki yang tidak kau kenal sedang membenci dirinya, juga masa lalu yang ia ternakkan di dalam padang kembara. Ia berharap suatu kapan, dari ibunya, lahir jutaan palu-palu yang siap menghantam kepalanya. Menewaskan semua kebosanan yang ia benci. Seperti kata penyair, hidup adalah kesepian masing-masing. Ia memeluk tubuhnya, berusaha memberikan pencahayaan terang. Entah kuning, merah, atau bayangan ayahnya. Ia selalu percaya, tubuh ini adalah musibah.

Ia datang kepada seorang perempuan dengan menelanjangkan tubuh. Rajah mawar menancap tepat di dada kirinya. Ia berharap dapat memberimu bunga yang tak mungkin layu ini. Jangan kau merahkan lagi marah, katanya sambil menyerahkan senjata. Ia berharap kau menembaknya. Tapi aku bukan kaum vandal yang tega membunuh, juga bukan malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa, katamu.

Ia memang ingin mati di tangan perempuan itu. Ia habiskan separuh hidupnya untuk menemukan alasan mati di hadapanmu. Katanya, kesendirian memang perlu dicuri dari orang yang paling kau cintai.

Kisah itu mengingatkanku pada Clavo, lelaki yang hidup di abad pertengahan. Ia rela mati di ranjang kekasihnya. Sambil memegang tengkuknya, ia meneguk racun paling manis saat kekasihnya tidur. Ia mati dalam pelukan perempuan yang paling ia cintai.

2/
Sejak perempuan itu tak ingin membunuhnya, ia memilih hidup sebagai penjaga makam. Menyiasati kesendiriannya dengan melihat nisan-nisan yang berjejer seperti lintasan kereta. Mengantar orang-orang ketujuannya masing-masing.


Lelaki itu juga percaya bahwa ia memiliki tujuan. Namun seperti pepatah, jangan bermain api jika tidak ingin terbakar. Lelaki itu menggali makamnya sendiri. Tak ada nisan, kafan, ataupun papan. Ia masukkan tubuhnya ke dalam lubang dengan lukisan wajah perempuan itu sebagai temannya. Percayalah, dunia akan berakhir dengan kesia-siaan. Ia kemudian mati dalam dirinya sendiri. Matilah sebenar-benarnya mati.
on 4.16.2014


Aku mencuri sajak Sapardi, agar kau bisa dengan mudah memahami. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tak perlu api kepada kayu atau awan kepada hujan. Di bawah bulan, sepasang kita sedang menunggu pagi tanpa kantuk. Seperti lampu jalan, menunggu seorang waktu memadamkan cahaya, agar ia nampak seolah perca pelukan bayi dalam rahim. Mungil, bercahaya, dan selalu dinantikan.

Aku mencuri lengan ayahmu. Penyimpan semua hal lemah dalam tubuhmu. Ia yang pernah menjadi raksasa, saat kau kecil belajar berjalan. Kau meminjam lengannya untuk menghentikan berai tangismu. Memadamkan takut untuk menyalakan cerai tawamu. Ia selalu menyediakan lengan paling perkasa untuk melindungimu.

Aku mencuri senyum ibumu yang lembut. Ia pembuat kopi paling ajaib. Diselipkan hujan dalam cangkirku, menenangkan, tak pernah habis, membuatku betah mencintaimu. Setiap ia menyeduh kopi untukku, selalu ada kota dengan orang asing yang tersenyum di dalamnya. Aku berharap kau ingin menjadi aku, penikmat kopi ajaib dengan cinta yang tulus.

Aku mencuri hatiku sendiri, agar kupastikan ia tak bisa mencintai siapapun lagi. Dengan caraku sendiri, aku menyembunyikannya dalam kopi ibumu yang dijaga lengan ayahmu. Tabah, setia, dan penuh kemungkinan.
on 4.05.2014
Cinta

a/
Adalah negara yang tidak kenal belas kasih
ia dapat memiskinkanmu
menerjemahkan lapar sebagai angin
dan kau dipersilakan menunggu buah jatuh
dari pohon yang tidak pernah kau tanam

b/
Adalah kolam ikan raksasa
merawat jutaan hiu
membuatnya pandai memakan tanganmu sendiri
hingga kau tidak sanggup melihatnya tumbuh besar, semakin pintar
ia hilangkan tubuhmu, lekuk demi lekuk

c/
Adalah mangkuk berisi puluhan petisi jenis makanan
kau dapat memilih lezatnya
tapi koki yang akan menyiapkan untukmu
meski rasanya, tak seindah bayanganmu
kau tetap harus menyantapnya

d/
Adalah lagu tua
yang terputar di radio pemberian kekasihmu
kau tak tahu artinya, meski nadanya sangat romantis
di akhir lagu, suara tembakan mengetuk gendang telingamu
sang penyanyi mati di dalam radiomu
kekasihmu juga, dan kau tak dapat menolongnya

e/
Adalah gua dalam dirimu
tempat kau benamkan hal-hal yang tak ingin diketahui orang
suatu kapan, pengelana gila tersesat dan menyeret kenanganmu keluar
hingga akhirnya, kau memilih memasukkan dirimu sendiri
ke dalam gua yang gelap dan memusnah-asingkan tubuhmu menjadi pembohong

on 3.31.2014
 1/

Siapakah tubuhmu?
di tengah keramaian menarik pelatuk senjata
aku korban salah tembak yang tak tahu lagi rasanya luka
jika harus bersaksi di depan petugas,
aku akan mengaku
tubuhkulah yang salah menempatkan perasaannya

2/

Aku selalu curiga
lenganmu dihuni mike tison
dengan kasar, kau meninju perasaanku
sejak itu, aku berani jatuh cinta kepadamu
meskipun tahu, suatu kapan, kau mungkin
menyulamkan pukulan KO tercantik untukku
dan pengadil itu tak berniat memberikan sepuluh detik terbaik
untuk menyatakan cintaku
aku keluar dari gelanggang sebagai pecundang yang paling bahagia

“apapun hasilnya, usaha memang puncak tertinggi”

3/

Luka memang bukan hal baik
tapi caramu menyakiti seolah pelajaran matematika di kepalaku
hasilnya sulit ditebak
terlebih jika tak mengerti rumusnya
tapi jatuh cinta memang tindakan sihir
kadang hal yang romantis hanya datang dari kecurigaan
dan kita menikmatinya sepanjang malam
mengubah luka menjadi ribuan alasan untuk mencintai

Oh, betapa cinta itu memang seperti tumpukan buku
kau berada dihalaman yang paling sulit kucurigai
sejak itu, kau menjadi beban paling indah
bahkan, jika aku telah tunggal di tanah
tak kurelakan kau sendiri, juga pergi


~ 2014
on 3.28.2014
Suatu hari di minggu ceria
aku berlibur ke dalam dirimu
bermain sesuka hati, tak kenal waktu, dan paling penting, tak ada tugas sekolah
kita ke taman panjang, menghabiskan bekal yang ibu buatkan
aku punya sekotak crispy cassava rasa senyum
dan kau membawa tiga bungkus roti rasa tawar
saranmu, supaya adil, kita saling bertukar

"menikmati roti rasa tawar dengan suguhan senyuman tak akan mengubah rasanya" 

Setelah perbekalan kita habis
kau memilih bermain petak hati
aturannya, kau harus menemukanku, jika ingin permainan ini selesai
katamu, caranya mudah
kau pergi bersenang-senang dengan orang lain,
sedang aku, berusaha menumpuk puluhan buku puisi kesukaanmu
jika tugasku selesai, aku harus sembunyi diantara tumpukan buku
di lembar yang tak mungkin kau curigai  
setelah itu, giliranmu yang harus mencariku

Jika kau berhasil menemukanku, maka hari itu pasti sudah berganti
menjadi senin, jumat, atau kiamat
sebab, kau tak pernah merelakan waktumu mencariku yang berharap ditemukan olehmu

Permainan kita selesai dan kau tak pernah benar-benar menemukanku
sejak itu, aku tak bisa keluar dari hari minggu milikmu

terjebak seperti roti tawar yang dimasukkan ke bibir yang menyuguhkan senyuman
on 3.18.2014
: zakiah dan amarah rupadewi

Bila esok malam, kau belum juga kalah
keluarlah dari rumahmu
berjalan penuh ke utara
kau akan tiba di sebuah kota
dengan penduduk yang senang menyembunyikan gelap
katanya, mereka tak ingin anaknya disentuh sihir jahat

Bila esok malam, kau masih ingin menjadi anak-anak
kunjungilah kuburanmu
baringlah di dalamnya, sentulah tanah
lihatlah, betapa dongeng malaikat munkar dan nakir itu benar
mereka punya palu godam raksasa
lihatlah, lidahmu terkunci, matamu bersaksi
jangan berbohong kepada malaikat itu, mereka tak kenal hak asasi manusia
jika kau jujur, ia akan sebaik dirimu, juga, jika berani jujur

Bila esok malam, aku tak pulang
datanglah kepadaku
dengan senang hati
akan kubiarkan tubuhku terbakar sepanjang tahun
setelah tertiup angin timur, abunya akan menjadi peta
lihatlah, lekuk hangus tubuhku yang paling hitam
itulah tempat kau berdiri saat ini
kota yang dihancurkan kaum vandal nakal
di sini, aku ingin sekali bermukim denganmu
meski berumah sisa gedung-gedung purba


on 3.11.2014
Seorang pelaut dikutuk tuhan
mengarungi tujuh samudera seumur tahun
tak bisa berlabuh di dermaga manapun
Flying Dutchman dan awak kapal yang kesepian

Jika Bernard Dokke adalah aku
bersama awak kapal, akan kuminum habis air di lautan
juga, dengan semua hal-hal yang tenggelam
agar tuhan yang senang memamerkan kekuasaan itu tahu
kecintaanku pada laut, telah lama kuwasiatkan
dan kini, ia menguasai seluruh cintaku

"Orang-orang memang senang membangun mitos
bahkan kita dituduh menyuburkan penyakit mengerikan
yang membuat tak satupun pulau sudi menerima kesepian ini
ah, rasanya, kesepian memang satu-satunya dermaga kita"

Di tanjung harapan, teropong Pattingaloang membantuku
membaca rasi bintang, mencurigai tuduhan cancer padaku
di dekat bulan, aku melihat Flying Dutchman berlayar
menjatuhkan jangkarnya ke pusat bumi

“ia kini, menguasai dunia
dengan kesepian dan kesendirian”

Maka, aku mencuri puisi Joost van den Vondel yang ia tulis untuk Pattingaloang

Wiens aldoor snuffelende brein
Een gansche werelt valt te klein

aku mengirim puisi ini ke surat elektronik Bernard Dokke
kapten kapal Flying Dutchman yang dikutuk oleh tuhan yang maha pengasih itu
kesepian dan kesendirian
on 3.07.2014
hanya sebuah, layaknya sesuatu

Di depan kamar seorang lelaki yang patah hati
aku mengucapkan setumpuk kata
entah itu dari mana, dan untuk menjelaskan apa
aku hanya membayangkan itu adalah percakapan pertama Adam dan Hawa
“Hawa yang tak tahu apa-apa, ditawarkan bibir untuk ia nikmati
maka bibir itu merekam semua kata-kata Adam dengan tabah”
lidah menari seperti salmon yang dijaring nelayan
dan nafsu adalah lautan yang menyiapkan ombak untukmu
dengan telanjang, ia dapat menghantam tubuhmu
menyeretnya ke bumi
tanpa bertanya, apakah kau mahir meloloskan diri dari nafsu?

Petaka yang baik adalah kutukan, katamu
tanpa permisi, dengan tanganku yang sopan, meratakan dadamu untuk menyuburkan tumbuhan
aku ingin menancapkan pohon di tanahmu yang lapang
tapi, cinta memang butuh kau masukkan dalam kepala
agar akarnya mampu menahan subur tumbuhan, juga tubuhmu

Kita sama-sama tahu, masing-masing sedang membangun rumah
tapi, Adam dan Hawa juga melakukan hal yang sama untuk ke bumi?
on 2.28.2014
Enam puluh hari sebelum kiamat tiba
Isa turun ke bumi - ah, mungkin Yesus, Sangkala, atau Bagong
terserah, tidak penting siapa gerangan
katanya, ia bertugas membantah mata satu
dan menolong orang-orang dari fitnah menyesatkan

Kita pernah berpelukan di sebuah bukit
pohon akasia rimbun berdiri tegak, ia ikhlas mematahkan daunnya
kemudian kita menyulamnya menjadi ranjang
di hadapan paus agung yang berdoa kepada kepada hari minggu
kita bercinta dengan puas, juga buas

Setelah tak bisa lagi mengucapkan sepatah kata
dengan gigimu yang tajam, kau runcingkan sebuah tangkai
menusuk kemaluanku dan menikam jantungmu
kita baring, berdua, dengan mata pejam
kau tahu, pada bagian ini, aku merasa lebih romantis dari kisah manapun
termasuk, romeo dan juliet
setelah kematian kita, akasia tegak itu meleleh menjadi selimut
menutup tubuh telanjang kita

Dajjal yang bertugas mewakili tuhan untuk memfitnah manusia,
tiba di hadapan kita
dengan mata satunya, ia menyihir tubuhmu menjadi pohon akasia baru
dan ia rampingkan tubuhku lalu menjadikannya akar untukmu
ia mengabarkan kepada khalayak ramai
tentang kisah dua orang pezina yang dihukum tuhan di atas bukit
lalu, penyelamat yang aku lupa namanya itu, mendatangi kita
ia berdoa kepada tuhan
“atas nama cinta, aku meminta kepadamu
janganlah tibakan kiamat buat mereka berdua”

Tuhan kemudian menyehatkan tubuh kita dari kematian
tapi, kisah yang panjang ini harus kau akhiri
kau pergi bersama dajjal itu, sedangkan aku, membangun rumah di atas bukit
mungkin, penyelamat itu suka membuat orang-orang menyendiri

dan aku tahu, selamat yang sebenarnya adalah kiamat

5.18.2014

Memahat Sajak

Diposting oleh Unknown di 10.43 0 komentar
Di musium sunyi
kutemukan patung The Poet
tak lagi sungkawa memikirkan sajak
-    atau baju, atau dagu, atau lagu, atau kekasih
tubuhnya kini berpiama
hendak tidur di atas tubuh Maryam, katanya

Tangan yang dulu menopang dagu kini bergerak kaku
ia pandai mengacung kelingking
sambil mengonar senyum, ia sopan berkata The Thinker
lalu menjulurkan lidah
seolah paham kita derita yang patuh pada kitab purba

Di tahun akhirnya sebagai patung
Auguste Rodin baru, mengubahnya menjadi badut
dengan wajah topeng kayu, menyimpan senyum enigma palsu

The Poet mengakhiri diri
ia benturkan kepalanya ke kaki
perutnya retak, terburai seluruh bahagia
yang sembunyi di balik wajah masam
di usianya yang kini ribuan lampau

-          The Poet, patung lelaki yang termenung dan telanjang
memikirkan puisinya, karya Auguste Rodin

5.17.2014

Melukis Sajak

Diposting oleh Unknown di 01.55 0 komentar
Di tubuh Monalisa
ada sebidang tanah lapang di dadanya yang bukit
aku menjadi pohon yang tumbuh terlalu tumbang
kau memberi warna hijau pelangi pada rimbun daun
di buahnya, kau menambah warna cemas
buah itu jatuh, menimpa letak tangan Monalisa
yang sedang menyembunyikan duka di telapak tangannya
dan diam-diam hendak mengubahnya menjadi batu

“Sejak kau jatuh cinta pada hal-hal yang tua
aku tinggal di dada itu
bermukim sebagai pohon yang akarnya terbawa kuas pelukis”

Seorang lelaki muda
dengan lembut membuka baju Monalisa
hendak menemukan segala yang pergi, juga hilang dari dirinya
tapi ia hanya menemukan amuk dan dada lelaki yang penuh
bekas cupang yang masih merah luka

“Aku mati dalam bencana warna yang dahsyat
di bawah wajah perempuan yang tersenyum melihat kekasihnya
di sebuah bibir sedang bercinta dengan lukisan lain”

5.09.2014

Pembunuh Harapan dan Nada Berikut

Diposting oleh Unknown di 02.55 0 komentar
Kau boleh percaya bahwa aku mungkin tidak mencintaimu, tapi kau harus yakin aku tidak akan meninggalkanmu.

Ini adalah kalimat yang tidak sempat kau dengar karena selalu terburu-buru mematikan panggilan teleponku. Masih kulekatkan gagang ini di kuping kiriku, sementara kau dengan paksa menekan tombol yang mampu menyulap jarak kita menjadi tiada. Seperti bunyi peringatan saat kapal ingin berlayar, nyaring, panjang, dan tak mengenal kata tunggu.

Benar katamu, cinta memang selalu membawa orang ke padang kembara. Mengajar kita menjadi pengelana. Kini aku harus menyiapkan perbekalan yang tidak sanggup kuterka cukup tidaknya. Perjalanan kali ini banyak memakan waktu, perasaan, juga angin. Namun belum juga cukup rasanya aku mengenalmu, kecuali seseorang yang selalu terburu-buru mematikan teleponku. Karena alasan itu pula, aku akhirnya menulis namamu di teleponku dengan sebutan, Pembunuh Harapan.

Sejak kau mulai memikirkan rumah besar dengan semua hal mewah, kupandangi dalam-dalam diriku. Tak sebuihpun yang layak kauperjuangkan. Aku memang bukan lelaki dari negeri emas yang akan menguningkan kehidupanmu. Sungguh, satu-satunya hal yang kumewahkan dalam hidupku adalah, caraku mencintaimu. Sederhana, apa adanya, dan selalu sadar diri.

Seminggu terakhir ini, kita bahkan tak pernah saling bertukar kabar. Kau kini menemukan persembunyian bersama orang lain, sedangkan aku selalu lari mengejar namamu yang diterbangkan angin kesuatu tempat istimewa yang tidak mungkin kukunjungi. Dengan terpaksa dan terluka, aku kembali merayakan kesendirianku.


Di sebuah jalan raya sebelum kita benar terpisah. Salamanya. Aku meneleponmu dan berharap kau dapat mendengar kalimat pembuka puisi ini kuucapkan sekali lagi. Sayangnya, seseorang yang tidak kukenal menjawab panggilanku, rekam suara anda setelah nada berikut. Aku menunggu berjam-jam, kuhabiskan seluruh perbekalanku disini. Namun nada berikut itu tak pernah ada. Tak pernah kau kehendaki.

5.05.2014

Rajah

Diposting oleh Unknown di 03.40 0 komentar
1/
Seorang lelaki yang tidak kau kenal sedang membenci dirinya, juga masa lalu yang ia ternakkan di dalam padang kembara. Ia berharap suatu kapan, dari ibunya, lahir jutaan palu-palu yang siap menghantam kepalanya. Menewaskan semua kebosanan yang ia benci. Seperti kata penyair, hidup adalah kesepian masing-masing. Ia memeluk tubuhnya, berusaha memberikan pencahayaan terang. Entah kuning, merah, atau bayangan ayahnya. Ia selalu percaya, tubuh ini adalah musibah.

Ia datang kepada seorang perempuan dengan menelanjangkan tubuh. Rajah mawar menancap tepat di dada kirinya. Ia berharap dapat memberimu bunga yang tak mungkin layu ini. Jangan kau merahkan lagi marah, katanya sambil menyerahkan senjata. Ia berharap kau menembaknya. Tapi aku bukan kaum vandal yang tega membunuh, juga bukan malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa, katamu.

Ia memang ingin mati di tangan perempuan itu. Ia habiskan separuh hidupnya untuk menemukan alasan mati di hadapanmu. Katanya, kesendirian memang perlu dicuri dari orang yang paling kau cintai.

Kisah itu mengingatkanku pada Clavo, lelaki yang hidup di abad pertengahan. Ia rela mati di ranjang kekasihnya. Sambil memegang tengkuknya, ia meneguk racun paling manis saat kekasihnya tidur. Ia mati dalam pelukan perempuan yang paling ia cintai.

2/
Sejak perempuan itu tak ingin membunuhnya, ia memilih hidup sebagai penjaga makam. Menyiasati kesendiriannya dengan melihat nisan-nisan yang berjejer seperti lintasan kereta. Mengantar orang-orang ketujuannya masing-masing.


Lelaki itu juga percaya bahwa ia memiliki tujuan. Namun seperti pepatah, jangan bermain api jika tidak ingin terbakar. Lelaki itu menggali makamnya sendiri. Tak ada nisan, kafan, ataupun papan. Ia masukkan tubuhnya ke dalam lubang dengan lukisan wajah perempuan itu sebagai temannya. Percayalah, dunia akan berakhir dengan kesia-siaan. Ia kemudian mati dalam dirinya sendiri. Matilah sebenar-benarnya mati.

4.16.2014

Aku Ingin Menjadi Pencuri

Diposting oleh Unknown di 22.34 0 komentar


Aku mencuri sajak Sapardi, agar kau bisa dengan mudah memahami. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Tak perlu api kepada kayu atau awan kepada hujan. Di bawah bulan, sepasang kita sedang menunggu pagi tanpa kantuk. Seperti lampu jalan, menunggu seorang waktu memadamkan cahaya, agar ia nampak seolah perca pelukan bayi dalam rahim. Mungil, bercahaya, dan selalu dinantikan.

Aku mencuri lengan ayahmu. Penyimpan semua hal lemah dalam tubuhmu. Ia yang pernah menjadi raksasa, saat kau kecil belajar berjalan. Kau meminjam lengannya untuk menghentikan berai tangismu. Memadamkan takut untuk menyalakan cerai tawamu. Ia selalu menyediakan lengan paling perkasa untuk melindungimu.

Aku mencuri senyum ibumu yang lembut. Ia pembuat kopi paling ajaib. Diselipkan hujan dalam cangkirku, menenangkan, tak pernah habis, membuatku betah mencintaimu. Setiap ia menyeduh kopi untukku, selalu ada kota dengan orang asing yang tersenyum di dalamnya. Aku berharap kau ingin menjadi aku, penikmat kopi ajaib dengan cinta yang tulus.

Aku mencuri hatiku sendiri, agar kupastikan ia tak bisa mencintai siapapun lagi. Dengan caraku sendiri, aku menyembunyikannya dalam kopi ibumu yang dijaga lengan ayahmu. Tabah, setia, dan penuh kemungkinan.

4.05.2014

Belajar Menjadi Pembohong

Diposting oleh Unknown di 23.01 1 komentar
Cinta

a/
Adalah negara yang tidak kenal belas kasih
ia dapat memiskinkanmu
menerjemahkan lapar sebagai angin
dan kau dipersilakan menunggu buah jatuh
dari pohon yang tidak pernah kau tanam

b/
Adalah kolam ikan raksasa
merawat jutaan hiu
membuatnya pandai memakan tanganmu sendiri
hingga kau tidak sanggup melihatnya tumbuh besar, semakin pintar
ia hilangkan tubuhmu, lekuk demi lekuk

c/
Adalah mangkuk berisi puluhan petisi jenis makanan
kau dapat memilih lezatnya
tapi koki yang akan menyiapkan untukmu
meski rasanya, tak seindah bayanganmu
kau tetap harus menyantapnya

d/
Adalah lagu tua
yang terputar di radio pemberian kekasihmu
kau tak tahu artinya, meski nadanya sangat romantis
di akhir lagu, suara tembakan mengetuk gendang telingamu
sang penyanyi mati di dalam radiomu
kekasihmu juga, dan kau tak dapat menolongnya

e/
Adalah gua dalam dirimu
tempat kau benamkan hal-hal yang tak ingin diketahui orang
suatu kapan, pengelana gila tersesat dan menyeret kenanganmu keluar
hingga akhirnya, kau memilih memasukkan dirimu sendiri
ke dalam gua yang gelap dan memusnah-asingkan tubuhmu menjadi pembohong

3.31.2014

Luka dari Penyihir Sakti

Diposting oleh Unknown di 03.54 0 komentar
 1/

Siapakah tubuhmu?
di tengah keramaian menarik pelatuk senjata
aku korban salah tembak yang tak tahu lagi rasanya luka
jika harus bersaksi di depan petugas,
aku akan mengaku
tubuhkulah yang salah menempatkan perasaannya

2/

Aku selalu curiga
lenganmu dihuni mike tison
dengan kasar, kau meninju perasaanku
sejak itu, aku berani jatuh cinta kepadamu
meskipun tahu, suatu kapan, kau mungkin
menyulamkan pukulan KO tercantik untukku
dan pengadil itu tak berniat memberikan sepuluh detik terbaik
untuk menyatakan cintaku
aku keluar dari gelanggang sebagai pecundang yang paling bahagia

“apapun hasilnya, usaha memang puncak tertinggi”

3/

Luka memang bukan hal baik
tapi caramu menyakiti seolah pelajaran matematika di kepalaku
hasilnya sulit ditebak
terlebih jika tak mengerti rumusnya
tapi jatuh cinta memang tindakan sihir
kadang hal yang romantis hanya datang dari kecurigaan
dan kita menikmatinya sepanjang malam
mengubah luka menjadi ribuan alasan untuk mencintai

Oh, betapa cinta itu memang seperti tumpukan buku
kau berada dihalaman yang paling sulit kucurigai
sejak itu, kau menjadi beban paling indah
bahkan, jika aku telah tunggal di tanah
tak kurelakan kau sendiri, juga pergi


~ 2014

3.28.2014

Setiap Orang dapat Menjual hari Minggu Miliknya kepada Cinta yang Asing

Diposting oleh Unknown di 02.06 0 komentar
Suatu hari di minggu ceria
aku berlibur ke dalam dirimu
bermain sesuka hati, tak kenal waktu, dan paling penting, tak ada tugas sekolah
kita ke taman panjang, menghabiskan bekal yang ibu buatkan
aku punya sekotak crispy cassava rasa senyum
dan kau membawa tiga bungkus roti rasa tawar
saranmu, supaya adil, kita saling bertukar

"menikmati roti rasa tawar dengan suguhan senyuman tak akan mengubah rasanya" 

Setelah perbekalan kita habis
kau memilih bermain petak hati
aturannya, kau harus menemukanku, jika ingin permainan ini selesai
katamu, caranya mudah
kau pergi bersenang-senang dengan orang lain,
sedang aku, berusaha menumpuk puluhan buku puisi kesukaanmu
jika tugasku selesai, aku harus sembunyi diantara tumpukan buku
di lembar yang tak mungkin kau curigai  
setelah itu, giliranmu yang harus mencariku

Jika kau berhasil menemukanku, maka hari itu pasti sudah berganti
menjadi senin, jumat, atau kiamat
sebab, kau tak pernah merelakan waktumu mencariku yang berharap ditemukan olehmu

Permainan kita selesai dan kau tak pernah benar-benar menemukanku
sejak itu, aku tak bisa keluar dari hari minggu milikmu

terjebak seperti roti tawar yang dimasukkan ke bibir yang menyuguhkan senyuman

3.18.2014

Kaum Vandal dan Gedung-gedung Purba

Diposting oleh Unknown di 04.44 0 komentar
: zakiah dan amarah rupadewi

Bila esok malam, kau belum juga kalah
keluarlah dari rumahmu
berjalan penuh ke utara
kau akan tiba di sebuah kota
dengan penduduk yang senang menyembunyikan gelap
katanya, mereka tak ingin anaknya disentuh sihir jahat

Bila esok malam, kau masih ingin menjadi anak-anak
kunjungilah kuburanmu
baringlah di dalamnya, sentulah tanah
lihatlah, betapa dongeng malaikat munkar dan nakir itu benar
mereka punya palu godam raksasa
lihatlah, lidahmu terkunci, matamu bersaksi
jangan berbohong kepada malaikat itu, mereka tak kenal hak asasi manusia
jika kau jujur, ia akan sebaik dirimu, juga, jika berani jujur

Bila esok malam, aku tak pulang
datanglah kepadaku
dengan senang hati
akan kubiarkan tubuhku terbakar sepanjang tahun
setelah tertiup angin timur, abunya akan menjadi peta
lihatlah, lekuk hangus tubuhku yang paling hitam
itulah tempat kau berdiri saat ini
kota yang dihancurkan kaum vandal nakal
di sini, aku ingin sekali bermukim denganmu
meski berumah sisa gedung-gedung purba


3.11.2014

Flying Dutchman, Joost van den Vondel , dan Pattingaloang

Diposting oleh Unknown di 00.53 0 komentar
Seorang pelaut dikutuk tuhan
mengarungi tujuh samudera seumur tahun
tak bisa berlabuh di dermaga manapun
Flying Dutchman dan awak kapal yang kesepian

Jika Bernard Dokke adalah aku
bersama awak kapal, akan kuminum habis air di lautan
juga, dengan semua hal-hal yang tenggelam
agar tuhan yang senang memamerkan kekuasaan itu tahu
kecintaanku pada laut, telah lama kuwasiatkan
dan kini, ia menguasai seluruh cintaku

"Orang-orang memang senang membangun mitos
bahkan kita dituduh menyuburkan penyakit mengerikan
yang membuat tak satupun pulau sudi menerima kesepian ini
ah, rasanya, kesepian memang satu-satunya dermaga kita"

Di tanjung harapan, teropong Pattingaloang membantuku
membaca rasi bintang, mencurigai tuduhan cancer padaku
di dekat bulan, aku melihat Flying Dutchman berlayar
menjatuhkan jangkarnya ke pusat bumi

“ia kini, menguasai dunia
dengan kesepian dan kesendirian”

Maka, aku mencuri puisi Joost van den Vondel yang ia tulis untuk Pattingaloang

Wiens aldoor snuffelende brein
Een gansche werelt valt te klein

aku mengirim puisi ini ke surat elektronik Bernard Dokke
kapten kapal Flying Dutchman yang dikutuk oleh tuhan yang maha pengasih itu
kesepian dan kesendirian

3.07.2014

Karena Adam, Hawa ke Bumi

Diposting oleh Unknown di 07.30 0 komentar
hanya sebuah, layaknya sesuatu

Di depan kamar seorang lelaki yang patah hati
aku mengucapkan setumpuk kata
entah itu dari mana, dan untuk menjelaskan apa
aku hanya membayangkan itu adalah percakapan pertama Adam dan Hawa
“Hawa yang tak tahu apa-apa, ditawarkan bibir untuk ia nikmati
maka bibir itu merekam semua kata-kata Adam dengan tabah”
lidah menari seperti salmon yang dijaring nelayan
dan nafsu adalah lautan yang menyiapkan ombak untukmu
dengan telanjang, ia dapat menghantam tubuhmu
menyeretnya ke bumi
tanpa bertanya, apakah kau mahir meloloskan diri dari nafsu?

Petaka yang baik adalah kutukan, katamu
tanpa permisi, dengan tanganku yang sopan, meratakan dadamu untuk menyuburkan tumbuhan
aku ingin menancapkan pohon di tanahmu yang lapang
tapi, cinta memang butuh kau masukkan dalam kepala
agar akarnya mampu menahan subur tumbuhan, juga tubuhmu

Kita sama-sama tahu, masing-masing sedang membangun rumah
tapi, Adam dan Hawa juga melakukan hal yang sama untuk ke bumi?

2.28.2014

Kun!

Diposting oleh Unknown di 06.47 0 komentar
Enam puluh hari sebelum kiamat tiba
Isa turun ke bumi - ah, mungkin Yesus, Sangkala, atau Bagong
terserah, tidak penting siapa gerangan
katanya, ia bertugas membantah mata satu
dan menolong orang-orang dari fitnah menyesatkan

Kita pernah berpelukan di sebuah bukit
pohon akasia rimbun berdiri tegak, ia ikhlas mematahkan daunnya
kemudian kita menyulamnya menjadi ranjang
di hadapan paus agung yang berdoa kepada kepada hari minggu
kita bercinta dengan puas, juga buas

Setelah tak bisa lagi mengucapkan sepatah kata
dengan gigimu yang tajam, kau runcingkan sebuah tangkai
menusuk kemaluanku dan menikam jantungmu
kita baring, berdua, dengan mata pejam
kau tahu, pada bagian ini, aku merasa lebih romantis dari kisah manapun
termasuk, romeo dan juliet
setelah kematian kita, akasia tegak itu meleleh menjadi selimut
menutup tubuh telanjang kita

Dajjal yang bertugas mewakili tuhan untuk memfitnah manusia,
tiba di hadapan kita
dengan mata satunya, ia menyihir tubuhmu menjadi pohon akasia baru
dan ia rampingkan tubuhku lalu menjadikannya akar untukmu
ia mengabarkan kepada khalayak ramai
tentang kisah dua orang pezina yang dihukum tuhan di atas bukit
lalu, penyelamat yang aku lupa namanya itu, mendatangi kita
ia berdoa kepada tuhan
“atas nama cinta, aku meminta kepadamu
janganlah tibakan kiamat buat mereka berdua”

Tuhan kemudian menyehatkan tubuh kita dari kematian
tapi, kisah yang panjang ini harus kau akhiri
kau pergi bersama dajjal itu, sedangkan aku, membangun rumah di atas bukit
mungkin, penyelamat itu suka membuat orang-orang menyendiri

dan aku tahu, selamat yang sebenarnya adalah kiamat