on 1.14.2014

Di kotaku, rindu diadaptasi menjadi kebencian
orang gemar meninggalkan kiblat. menemukan cinta barunya
saling menikam, bahkan memakan
mirip adegan orang-orang depresi
akibat putus cinta yang mewarnai tivi rumahku atau mungkin juga tivi rumahmu

Orang-orang kemudian mencemari halaman rumah
bertumpuk sampah organik sisa belanja bulanan
mereka menerima gaji untuk memabayar utang
dari pemuka agama, makelar hidup, dan para pandai kata
menggadaikan hari-hari penting dalam hidupnya untuk menakar
selama apa ia bisa bertahan hidup

Pada mulanya, orang gemar saling mengunjungi. menyapa dengan  makanan
tapi tiba-tiba saja, tamu abad milenium mengunjungi dapurnya
mengubah jagung, ubi rebus, dan songkolo menjadi kfc, mcd, atau apapun labelnya

Orang-orang kemudian mendirikan pagar setinggi leher
mereka akhirnya saling curiga dan iri hati
saling mengintai dan membenci
kita seolah orang yang telah kehilangan rasa cintanya

Mungkin kita butuh gempa bumi yang disusul tsunami
agar rumah-rumah tinggi itu membuka pintunya
menjadikan kediamannya sebagai tempat yang aman
untuk orang-orang yang hidup dan menciptakan ketidakamanan
karena pagar tinggi memaksanya untuk memanjat lebih dalam

Makassar – januari 2013
on 1.06.2014
“Idealisme tidak untuk membunuh Tuhanmu, mengaburkan pandanganmu terhadap banyak sisi, dan mengubah caramu mencintai. Justru akan membuatmu merasa kesepian dan membesarkan hatimu untuk menerima, menerima, menerima semua yang datang padamu.”

Dalam Kitab Zarathustra, Nietzsche mengungkapkan ketidakbisaannya mengalahkan dirinya sendiri dengan “Tuhan telah mati, Tuhan telah terbunuh” yang Ia karang untuk mengajak pembacanya merasakan betapa sulitnya mengalahkan hidup, sebab selalu terbentur pada sudut pandang ke-Tuhan-an.
Pada masa itu, orang-orang belum membangun paru-paru dalam rongga maya yang saling menghubungkan dunia yang sebenarnya tidak punya hubungan sama sekali. Benar-benar membesarkan banyak jiwa dari pengalaman dan memberikan waktu yang cukup untuk merefleksi semua kejadian-kejadian yang manusia kerjakan. Manusia dipaksa untuk bertahan dengan keterbatasan peredaran informasi dan komunikasi.
Dengan kondisi seperti itu, akhirnya manusia bebas memilih repotnya masing-masing. Hidup survive dan menciptakan kelompok-kelompok yang dilatarbelakangi oleh kegemaran, kesamaan pikiran, sudut pandang, atau kebiasaan. Manusia terus berkembang dan menuai semua hasil yang ia kerjakan dengan senang hati.
***
Entah sejak kapan, internet kemudian hadir sebagai ruas utama hilangnya batasan-batasan yang awalnya membuat kita merasa sama, kokohnya sikap individualis, dan merangsang pertumbuhan dunia baru. Dunia ciptaan sekelompok orang adikuasa yang menentukan kebijakan dunia baru yang turut melibatkan kita sebagai objek yang memiliki peran penting.
Kita mungkin bisa membela diri dengan mengatakan “apa hubungannya perang di Palestina dengan saya” atau “mengapa saya mesti memikirkan kudeta politik di Mesir” secara sederhana tentu tidak ada hubungannya jika kita memposisikan diri sebagai “bukan bagian mereka” tapi tanpa sadar semua rutinitas manusia dan skandal yang terjadi memiliki benang merah yang jika ditarik akan ada hubungannya dengan kita.
Hubungan paling erat dari semua skandal dan kejadian itu adalah mampu mengubah pandangan kita terhadap hidup. Kita diburu ketakutan akan hilangnya pekerjaan meskipun sadar bahwa ada yang salah dari tempat kita kerja, mengapa kita mesti repot-repot ikut kerja bakti di lingkungan rumah, semua pasti akan kembali seperti semula. Pikiran-pikiran ini mengantarkan kita pada pandangan yang melihat dunia untuk hari ini saja. Tidak lagi melihat jauh ke depan dan mulai ragu dengan kekuatan mimpi dan cita-cita.
Kembali lagi pada persoalan kepentingan untuk memuluskan jalan bagi terciptanya dunia baru. Manusia akhirnya tanpa sadar menjadi bahan utama sebuah tatanan baru yang diciptakan melalui corong kebudayaan, politik, ekonomi, gaya hidup, hingga hal terkecil seperti buku bacaan. Manusia mulai tergila-gila pada kemudahan akses informasi dan komunikasi. Imingan menjadi orang kaya membuat semua orang berpikir untuk pekerjaan layak yang akan menguntungkan dirinya.
***
Entah kekuatan apa yang menciptakan kematian yang cantik ini. Kita merasa bahwa yang kita lakukan adalah proses mandiri, namun itulah sebenarnya inti dari sebuah rekayasa besar yang diciptakan oleh orang adikuasa. Membuat kita merasa nyaman dengan sekitar dan malas memikirkan hal-hal yang terjadi di luar sana.
Pernahkah kita menyadari bahwa setiap hari saat membuka akun sosial media seperti  facebook atau twitter kita diperhadapakn oleh pertanyaan “apa yang terjadi hari ini?” atau “apa yang sedang anda pikirkan?” kita didoktrin untuk terus memikirkan tentang “hari ini” saja. Tapi sekejam apapun sosial media membangun pikiran manusia, kita tidak bisa mengkambinghitamkannya dalam urusan ini. Tetap saja sosial media berhasil membantu banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Cara kitalah yang mesti sedikit diberikan ruang untuk merefleksi banyak hal.
Saya bermimpi suatu saat akan ada akun sosial media yang ketika dibuka, kita akan diperhadapkan oleh pertanyaan “seperti apa hidup anda 10 tahun yang lalu?” atau “sudah sejauh mana anda mempersiapkan masa depan keluarga anda?” dan pertanyaan itu membantu orang untuk bangun dari pengontrolan ini. Pertanyaan itu juga tiap hari akan berubah-ubah, tidak monoton dan mencoba membangun akal sehat manusia.

Seperti yang Nietzsche ingin katakan kepada kita bahwa membunuh Tuhan itu mustahil, tapi untuk mengalahkan ciptaannya pasti punya jalan sendiri. Sayapun berada diposisi yang sama dengan anda, mungkin senang berdunia maya namun pernahkah kita meluangkan satu hari dalam hidup kita untuk melakukan kebalikan dari semua yang rutin kita kerjakan. Mungkin jawabannya ada disitu. Media sosial baru.
on 12.31.2013
Saya, Ayah, dan menulis adalah tiga serangkai yang punyai kaitan sejarah di masa lalu. Sejak kecil, saya dianggap anak badung dan harus mendapatkan ceramah dari Ayah setiap melakukan ken-akal-an. Setiap saya diceramahi, pikiran saya keliling dunia, menemukan pembenaran bahwa mengapa saya harus seperti itu, mengapa saya harus memukul wajah orang yang memang pantas mendapatkannya, mengapa saya harus lari dari pesantren, mengapa saya harus ke stadion tanpa izin untuk menonton sepak bola. Setiap saya diceramahi, Ayah selalu punya kisah baru tentang dirinya di masa lalu, kadang saya harus menemukan cara agar mendapat ceramah yang saya inginkan. Untuk tahu apa yang dilakukan oleh Ayah di masa lalu, saya tinggal melakukan apa yang menurut sebagian orang salah, misalnya saat tidak memotong rambut, maka Ayah pasti berkisah tentang dia dan rambutnya di masa lalu. Saya selalu senang dan bahagia mendapatkan kisah-kisah yang tidak mungkin saya temukan dari orang lain. Intinya, saya kadang melakukan sesuatu untuk tahu seperti apa Ayah saya di masa lalu tanpa harus memintanya menjelaskan panjang lebar kepada saya.

Tapi sampai sekarang satu pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya dari Ayah adalah, siapa nama yang tersemat dibelakang nama saya. Yah, sejak saya sadar bahwa saya punya nama, Palogai sudah melekat seperti burung dan sayapnya. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Nama itu menjadi populer ketika saya masih SD, bahkan teman sekelas lebih sering memanggil saya Palogai dari pada sapaan kecil saya sendiri. Saya sedikit terganggu dan merasa risih. Tapi Ayah senyum-senyum saja ketika saya Tanya, siapa sebenarnya Palogai.

Saat saya masih kecil, dihukum adalah kebiasaan yang hampir tiap hari saya dapatkan. Salah satu cara Ayah menghukum anaknya selain menceramahi adalah dengan mengambil kertas dan pulpen lalu mengurungnya di kamar, dia hanya berpesan tulis apa yang kamu inginkan lalu berlalu dengan mengunci pintu dan membiarkan saya merasa sendiri. Ayah baru membukanya setelah beberapa jam. Di dalam kamar, saya mulai berfantasi dan mencoba mengeluarkan semua kata yang saya miliki meskipun tidak ada hubungannya dengan kesalahan saya. Menyedihkan.

Dari kebiasan dihukum seperti itu saya menjadi sadar bahwa orang tua saya lebih mudah mengerti apa yang saya inginkan melalui tulisan ketimbang menanyainya langsung. Sebab untuk anak seperti saya, bersuara di depan Ayah adalah salah satu hal yang membuat saya malu dan canggung. Kebiasaan itu saya bawa sampai sekarang. Bahkan parahnya, untuk sekadar meminta uang kepada Ayah, saya selalu meminta jasa Ibu saya untuk menyampaikannya kepada Ayah.

Setelah cukup mengerti apa guna sebuah tulisan, pengalaman di masa kecil saya itu menjadi guru yang cukup berhasil mendekatkan saya dengan dunia tulis menulis. Saya juga merasa beruntung berada di sebuah rumah yang memiliki perpustakaan sendiri. Ayah saya adalah salah satu pembaca akut yang sebenarnya tidak pernah memaksa saya untuk ikut membaca atau senang dengan dunia baca tulis. Tapi karena semenjak kecil Ayah jarang membelikan mainan, maka saat kecil saya senang memilih buku-buku yang bersampul bagus lalu membacanya meskipun saya belum tahu apa maksud tulisan tersebut.

Kembali lagi pada persoalan kebiasaan, saya akhirnya mulai terbiasa membaca buku. Ayah saya juga langganan koran, maka kebiasan membaca koran sebelum berangkat ke sekolah saya lakukan. Saya senang membaca beberapa berita, terutama olah raga. Dari Koran itu saya banyak tahu nama tokoh-tokoh di Indonesia serta kejadian menarik apa saja yang terjadi. Hingga suatu hari saya menemukan lembaran koran yang memuat sebuah puisi, semenjak itu saya mulai suka dan senang membentuk kata-kata seperti yang saya temukan di koran tersebut.

Semakin hari, saya mulai menemukan jawaban bahwa menulis adalah pekerjaan yang mengabadikan. Meskipun selama proses pencarian makna kalimat tersebut, saya belum berhasil sampai dititik akhir untuk menarik kesimpulan.

Kuliah di Fakultas Sastra semakin menambah pengetahuan saya tentang dunia kepenulisan, khusunya puisi. Berdiskusi dan bertukar buka menambah wawasan dan membangkitkan semua kecamuk dalam kepalaku tentang dunia tulis membaca. Anggapan tiap anggapan akhirnya tumbang dan saya mantap memilih jalan ini. Meskipun penuh kesunyian dan kadang harus mengorbankan orang-orang di sekitar saya.
Saya beranggapan bahwa menulis adalah pekerjaan yang mengabadikan, sekaligus mengabaikan. Dalam banyak hal, saya hanya mencoba mengabadikan beberapa kejadian penting yang membuat saya merasa tidak penting untuk masuk ke dalam tulisan. Kadang sedikit tergesa-gesa, kadang sangat lama, kadang bahkan saya tidak menulis apa-apa. Menulis seperti juga kutukan, saya akhirnya tidak bisa meninggalkan pekerjaan menulis. Kesulitan terbaik dari menulis bagi saya adalah menyambungkan ide ke dalam realitas atau sederhananya memasukkan air ke dalam bejana. Terbaca sederhana namun butuh pengalaman yang kuat untuk mahir mengerjakannya.

Setiap saya menulis, saya selalu merasa diberikan mata baru untuk melihat ke dalam diri. Tapi semakin banyak mata yang lahir, rasanya semakin sulit pula untuk melihat ke dalam diri. Saya kadang harus mempekerjakan perasaan saya untuk berkelahi dengan diri sendiri. Pengalaman terburuk adalah saat harus merelakan waktu berjalan membawa semua kata yang saya butuhkan sedangkan diri saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Saat itulah saya tidak bisa berdamai dengan kondisi. Satu-satunya penghibur paling bijak adalah kesimpulan bahwa saya masih bisa membaca dengan baik.

Pekerjaan menulis benar-benar telah memisahkan saya dengan diri sendiri, sangat jauh. Bahkan tanpa sadar saya kadang merasa bertindak diluar diri saya. Suatu kapan, saya mungkin akan mati dengan keadaan tidak memiliki diri sendiri. Sebab itu, mungkin menulis adalah tindakan sihir. Simsalabim.

Menulis saya anggap sebagai pintu masuk kedalam diri saya. Pintu yang memiliki jendela, akar, kacamata, sekaligus pintu yang memiliki alamnya sendiri. Dalam menulis saya mencoba menghadirkan diri ke tengah-tengah halaman dimana orang-orang telah menciptakan pengertian tentang halaman itu sendiri. Semoga saya tidak tersesat.

Ritual menulis bagi sebagian orang mungkin tidak penting, tapi bagi saya itu adalah sebuah kewajaran yang akan saya lakukan dengan senang hati. Saya sangat jarang menemukan masalah dalam menentukan kata pertama saat menulis, maka ritual yang saya lakukan adalah membaca dengan sinis dan berulang-ulang sampai saya merasa bahwa tulisan ini jelek kemudian mencampakkannya. Beberapa hari kemudian saya akan mengunjunginya kembali dan mengubah beberapa kata atau kalimat yang saya anggap buruk.

Meskipun saya sendiri tidak yakin bahwa yang saya lakukan selama ini adalah “menulis” tapi saya selalu percaya bahwa yang saya kerjakan ini adalah kebaikan. Seperti yang Ayah saya selalu katakan sejak saya kecil, bahwa tersenyum, berbuat baik, dan beribadah itu adalah standar setiap manusia tanpa memandang kaya-miskin. 


Setelah kotaku dengan gembira diledakkan hujan empat hari berturut-turut
kau masih setia di atas kasur membujurkan tubuhmu ke jendala
menghitung kebencian yang ikut menetes dari rembes air di atapmu
membayangkan setumpuk selimut menutup buah dadamu dan aku ikut memelukmu dari salah satu celah pelukanmu, juga bertelanjang dada menghadap ke kiblat
satu tanganku menyamar menjadi rambutmu dan mengusapnya sedemikian lena
simsalabim, aku dikutuk menjadi pikiranmu
maka jadilah kita seselimut sambil meringkih manja.
Setelah hujan reda dan air kian rendah, kau berjalan dengan helai celana dalam
menuju ke bagasi memanaskan mesin mobil
lalu kembali ke atas kasur dan menyeretku sambil menyulap air mani
menjadi bahan bakar darurat yang tak ada habisnya
mobil ini adalah kendaraan yang digunakan adam ketika diungsikan ke bumi, katamu sambil mencium buah wajahku dengan mata terpejam
tapi saat itu surga sedang tak banjir, kataku sambil menyelinap di tengkukmu

Kau menggiringku ke suatu tempat di atas langit
menutup wajahku dengan bra merah yang kau petik dari pohon iklima
di luar rumah, para lelaki tak melihat kita sebab ia sibuk mengungsi pada ketinggian cahaya
sedangkan perempuan memenuhi mulutnya dengan hujat hujan
dan ramai berziarah ke rumah ibadah
berdoa agar banjir menjadi selangkangan pelacur
tak tahu bahwa di bawah hujan anak-anak mereka sedang bercinta dengan kematian

Setelah empat hari berseling matahari, hujan menjadi lima, enam, dan seterusnya
lalu banjir kian menganga membuaskan manusia menjadi beton bertingkat
mereka mengungsi ke mal dan gedung tinggi
membawa setiap masalah dan menyimpulkan kematian di kepalanya
menjarah setiap makanan, juga perawan yang butuh dijarah
lalu kota ini berubah menjadi museum masa lalu

Manusia menuju ladang perburuan abadi
sedang kita masih asik bercinta di dalam mobil adam sambil dituntun oleh Tuhan
on 10.14.2013
(sebuah catatan tidak penting dari seorang yang gila)

            Masih akrab di mata penyimak berita, kasus Andrea Hirata, seorang penulis buku trilogi Laskar Pelangi mengklaim bahwa karyanya telah mendapat pengakuan international best seller. Kemudian Damar Juniarto, seorang publisis membuat tulisan untuk meng-cross check beberapa pernyataan Andrea Hirata, diantaraanya adalah yang menyebutkan bahwa novelnya akan diterbitkan ulang oleh Farrar, Straus, dan Girroux (FSG), penerbit internasional yang menerbitkan buku-buku pemenang Nobel sastra. Hasilnya, menurut Damar Juniarto, Laskar Pelangi diterbitkan oleh imprint FSG, yaitu Sarah Crichton Books.
Kedua, soal pernyataan Andrea bahwa selama 100 tahun tidak ada karya anak bangsa yang mendunia. Hal ketiga yang diverifikasi Damar adalah klaim international best-seller untuk Laskar Pelangi. Menurutnya, dasar pencantuman label “international best-seller” pada novel Laskar Pelangi tidak jelas.
Alih-alih meluruskan masalah, Andrea Hirata bahkan berniat menggugat Damar Juniarto ke pihak berwajib. Tidak berhenti sampai disitu, “kubu-kubu” Damar Juniarto kemudian membalas ancaman Andrea Hirata dengan berbagai kritikan.

***
           
Contoh kasus di atas memang mengerikan untuk menjadi bahan pembelajaran. Penulis mengambil contoh kasus di atas bukan untuk mengungkit kejadian yang telah berlalu ataupun menghakimi Andrea Hirata dan membela Damar Juniarto, tetapi penulis merasa bahwa perlu membuka ulang sebuah permasalahan sebagai pembelajaran untuk menyikapi perbedaan dan menerima kritikan.
Jika kita telaah kasus di atas, salah satu pemicu orgasme pada masalah tersebut adalah, “kubu-kubu” yang saling melancarkan serangan. Kubu-kubu inilah yang akhirnya saling melibatkan diri dan menyulutkan ketidaksepahaman terhadap sebuah gagasan. Pada akhirnya, masalah yang sebenarnya hanya perlu diselesaikan oleh dua orang malah semakin ramai dan memperlihatkan betapa kita tidak bisa menerima sebuah perbedaan.
Dalam sejarahnya, kita sering dituding sebagai manusia Indonesia yang bermental budak, tudingan ini terjadi akibat lamanya nusantara kita dijajah oleh bangsa yang lebih terkontrol dan dapat memanfaatkan peluang invasi terhadap suatu wilayah.
Untuk lepas dari mental tersebut dibutuhkan pendidikan karakter yang mengakar dalam kepala setiap manusia Indonesia. Tetapi bukan berarti bahwa kita juga mesti menolak untuk dikritik ataupun membalas kritikan dengan ancaman. Melainkan dapat menerima kritikan sebagai suatu hal yang membangun jati diri setiap manusia yang berkarya.
Penulis mengingat jawaban dari salah seorang Kritikus Sastra dari Makassar (Alm) Ahyar Anwar dalam sebuah diskusi. Ia melontarkan pernyataan “tugas anda sebagai penulis adalah menghasilkan karya sastra, sedangkan tugas kritikus untuk mengkrtik karya sastra.” Dua hal berbeda yang saling berhubungan erat.
Karya yang telah dikritik seharusnya menjadi pelajaran terhadap karya itu sendiri, bukan terhadap penulisnya. Lantas jika bukan penulisnya, bagaimana kritik itu hidup? kritik itu hidup karena dituliskan, bukan karena dipertentangkan. Dalam uraian singkat, seorang penulis yang karyanya dikritik tetaplah terus menghasilkan karya sastra. Penulis itu sendirilah yang bisa memlih, apakah kritik itu diterima atau memilih menyimpannya sebagai hal yang tidak penting selama proses berkaryanya. Itu manusiawi bagi seorang yang dikritik dan bukan masalah yang mesti kita bawa kemana-mana.
Dalam melihat sebuah masalah, Emanuel Kant berpendapat bahwa untuk mencapai kebenaran kita perlu mengkritisi Rasionalisme dan Empirisme serta tidak boleh mementingkan satu sisi dari dua unsur (akal dan pengalaman) saja. Menonjolkan satu unsur dengan mengabaikan yang lain hanya akan menghasilkan sesuatu yang berat sebelah. Kant jelas-jelas menolak cara berfikir seperti ini. Karena itu, ia menawarkan sebuah konsep “Filsafat Kritisisme” yang merupakan sintesis dari rasionalisme dan empirisme. Ada benarnya, sebab secara harfiah kata kritik memang berarti pemisahan, bukan pembeda.

***

Sikap anti kritik dan membela “karena teman” inilah yang kemudian menjadi persoalan telak. Ditambah sikap segelintir orang yang senang mempertautkan dirinya pada permasalahan yang orang lain hadapi, lalu memberikan komentar yang malah semakin mempersulit posisi masalah tersebut. Keganjilan inilah yang sepatutunya kita kaji sebagai pokok persoalan.

Alangkah konyolnya ketika sebuah kritikan dibalas dengan ancaman. Meski jauh lebih konyol ketika kita membiarkan ancaman itu hidup seperti sebuah dogma yang amat suci, bahkan kita sendiri tidak bisa meredamnya. Menanam dendam sama halnya memupuk rerumputan di halaman rumah yang nantinya akan menjalar lalu menjerat rumah kita sendiri. Berpisah bukan berarti berbeda, dikritik bukan berarti dibenci.
on 9.19.2013
“di kotaku, badik adalah kata lain dari kebenaran
sedangkan matanya adalah keberanian
semakin kau mengasahnya menjadi jiwa, maka semakin kau tidak menemukan muaranya
suatu waktu, badik yang kau hunus akan menjadi sebatang lidi rapuh yang tidak lagi bersepuh
sebab kau selalu menyelipkannya di pinggangmu
sebagai mata angin yang menyesatkan”

“di kotaku, lautan adalah kehidupan
sedangkan ombaknya adalah kemakmuran
semakin kau memperindahnya dengan buatan, maka semakin kau menghilangkan kemurniannya
suatu waktu, lautan yang kau puja itu akan menjadi gemuruh yang meluluhkan kedamaianmu
sebab kau selalu memberinya apa yang tidak lautan butuhkan
sebagai upah dari kekeliaruan kita memahami lautan kehidupan”

hidupilah kehidupanmu dengan apa yang akan menghidupimu
bukan apa yang membuat hidupmu seolah benar, semuanya!



Makassar – dua ribu tiga belas

bagimu adalah perasaanmu dan bagiku adalah perasaanku
aku tidak akan menyatakan apa yang aku rasakan
dan kamu tidak pula perlu mengatakan apa yang aku nyatakan
sungguh, sebaik-baik perasaan adalah yang kita rahasiakan.

mengingatmu adalah cara tersopan
untuk mengatakan bahwa aku menginginkan kita yang lampau
yang mendampa meski dengan jumpa yang seumur imsak

di pelaminan 
matamu adalah duka bagi kesehatanku
yang tempuhnya melemahkan hingga kambuh tidak juga sembuh
kursiku bergerak dari satu rembes ke sisi yang paling sungkan
sekadar menanyakan 
apakah kamu sehat?

semalam aku menghabiskan sabun di kamar mandi ibu
membayangkan tubuhmu yang tak tua-tua itu menindihku dengan kata-kata
semua lekuk yang kamu tutupi adalah bekas puisiku
yang semakin hendak menyengsarakan dirinya sendiri dengan kelambu

semakin aku ingin menyerupai pikiranmu
semakin hilang semua bentuk asli dari rumus-rumus pasti
pada jalannya, aku hanya halaman buku yang kamu baca berdasarkan abjad
masuk sebagai huruf-huruf yang tidak pasti

setiap pagi aku menanam payudada meski akhirnya orang-orang menamainya payudara
lalu aku memintamu untuk mengikat tali jemuran dari dagingku yang sembah di selaput darahmu
agar semua celana dalam yang kamu kaitkan untuk matahari
tidak hinggap di sela selangkangan orang lain yang jahannam

apakah cinta itu selebar teras rumahmu?
pertanyaanku yang kamu sebar menjadi pertanyaan baru
begitulah seterusnya kita biarkan hidup berlalu seperti pertanyaan yang berjalan
dari satu arah ke mata yang lain

itulah mulanya
pada akhirnya kita akan menjadi penjaga rahasia
yang membiarkan kata-kata menanggalkan seragamnya sendiri
sebelum meninggalkan kita dengan doanya yang belum mandiri


Makassar – dua ribu tiga belas
on 8.31.2013
kita telah memasuki musim yang terlepas
menghangatkan bibir yang lazim kita sebut kutukan
meski bukan itu yang akan kita beri sesembahan
di dasar-dasar kelenjar ingatan kita yang masih berdaun sangir

apakah kita masih perlu menyimpan
segala kesebentaran yang sangat lama kita pelihara diam-diam
yang kita rebut dari kesepian-kesepian terpilih
sementara pelukan sudah bukan jauh
lalu kematian datang untuk menjabatmu
mengantarmu dari pengasingan ke pengasingan lainnya

apakah kita masih perlu merebut kesepian yang sangat lama kita omongkan
di ranjang yang bukan milik pengantin
meski tubuh kita sudah tidak berhelai kain
sungguh kita memang bukan pemain
yang setia pada kemahiran kata-kata
para penyihir untuk merebut zahir bayi terakhir
yang ditinggalkan oleh ibunya saat kematian sudah semakin jauh
membawa hal terakhir yang juga kita miliki

aku ingin mencintaimu tanpa kebohongan
tapi apakah ada kata-kata yang dapat mewakili perasaanku selain kiasan klise
yang bagi sebagian kiai, itu adalah kebohongan

tapi apakah ada hal yang pernah kita jujurkan
selain bahwa kita memang adalah sepasang lengan yang saling menguntungkan
atau saat kita memilih tidak saling bercakap
setelah menghabiskan separuh hari dengan memperbincangkan masa depan
lalu membiarkan hayalan kita saling bertemu

aku masih sebatang lidi yang kau tanam di antara janur kelapa yang maha tinggi

yang masih setia di tanah tanpa perlu kau suburkan dengan air atau semacamnya
on 8.02.2013


nama                       : djawadi
tempat tanggal lahir  : indonesia, 17 agustus 1932
alamat                     : jalan kudus kebangsaan bangsat nomor 30
pekerjaan                :
1.      menjaga rakyat agar tidak berani membangkang 
      kepada kesewenang-wenangan aparat.
2.      menakut-nakuti rakyat yang berani berjuang 
      demi keadilan sama rata.
3.      tunduk dan patuh pada atasan meskipun itu tidak benar 
      dan diluar etika bangsa
4.      menembaki kepala siapapun yang berani berorasi 
      dan menghina pejabat publik busuk.
5.      membunuh dan menyerang siapa saja yang 
      berani mengusik sesama polisi
6.      menculik para aktivis yang dianggap sebagai     
      provokator massa.
7.      membantai habis kekuatan rakyat untuk 
      berjuang demi tanahnya sendiri.
gaji             : uang pajak dan pemalakan rakyat.
fasilitas       : senjata dan kendaraan gratis dari uang rakyat.

masih butuhka kita polisi?
jika nyatanya rasa aman itu harus dibeli
masih butuhka kita polisi?
jika anak cucu kita nantinya habis dibantai

Makassar – dua ribu tiga belas
on 7.23.2013

Kenapa jika Ayah Saya Komunis?

Jakarta, 1955
Akhir bulan Juli. Pagi itu sedang cerah, musim penghujan masih jauh. Di lapangan Senayan Jakarta, massa berkumpul untuk merayakan masuknya PKI sebagai empat partai besar di Indonesia pada pemilu 1955. Ayah mengajak saya untuk datang di rapat akbar PKI. Umur saya waktu itu kira-kira 5 tahun. Tidak banyak yang saya ingat, lapangan penuh dengan warna merah dan umbul-umbul bergambarkan palu arit. Beberapa tahun kemudian saya baru mengerti jika itu adalah lambang Partai Komunis Indonesia.
Lapangan sesak, di atas panggung seorang sedang berpidato dengan penuh semangat. Siapa dia, saya tidak tertarik ditambah waktu itu saya tidak mengerti apa isi pidatonya. Saya lebih tertarik mendengar cerita Ayah saya dengan teman lamanya. Ayah saya sedang sibuk mengenang perjuangan mereka ketika partai ini baru terbentuk. Belakangan juga saya baru tahu jika ternyata orang yang sedang berpidato itu adalah D.N Aidit, ketua PKI waktu itu.
Sepulang dari rapat akbar itu, Ayah singgah di toko buku yang terletak di simpang jalan merpati nomor 58. Membeli beberapa buku dan memasukkannya ke tas jinjing yang selalu ia bawa kemanapun Ayah pergi. Ayah membonceng saya pulang dengan sepada. Satu hal yang terus saya ingat, bahwa Ayah saya adalah salah satu jenis manusia pendiam yang sangat ramah. Bahkan dengan anaknya sendiri, ayah selalu membatasi kata-katanya.
Ayah cukup dikenal di lingkungan tempat kami tinggal. Oh ya, saya hampir lupa mengisahkan tentang Ibu saya. Ibu saya adalah aktivis di Gerwani. Setidaknya itu kata yang suka ibu sebut ketika berkumpul dengan ibu-ibu yang sering bertandang ke rumah saya. Saya bersaudara hanya dua orang. Kakak saya seorang perempuan yang kala itu berumur 8 tahun.
Selain aktif di PKI, Ayah saya juga berkantor di Lekra atau dikenal juga dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat. Saya beberapa kali dibawa oleh Ayah ke kantornya. Dari situlah saya kenal beberapa teman Ayah yang sangat kritis dan anti imperialis, Pramoedya Ananta Toer salah satunya. Saya termasuk anak yang selalu ingin tahu dan saya lebih suka diajak ke kantor Ayah dari pada ikut pertemuan, apa lagi yang semacam rapat akbar seperti di lapangan senayan tempo hari itu.
Di usia delapan tahun, saya bisa membaca dan menulis. Itu membuat saya bisa tahu beberapa berita yang bahkan orang tua tidak bisa membacanya. Anak sebaya saya waktu itu masih senang bermain kelereng dan cangklok sedangkan saya sudah mulai gemar membaca buku-buku dan koran. Di kantor ayah, saya senang karena bisa membaca dengan puas beberapa tulisan dari teman ayah. Salah satu Koran yang sering saya baca adalah Bintang Timur.
Keluarga saya hidup sangat sederhana. Kakak perempuan saya beruntung, setidaknya ia bisa sekolah tidak seperti anak perempuan yang lain. Sedangkan saya terus diajar otodidak oleh ibu untuk menulis indah. Ayah suka dengan hewan, salah satu yang ayah pelihara adalah kuda. Nama kuda itu djagal. Ayah sangat merawatnya dan menganggap kuda kesayanggannya itu sebagai bagian dari keluarga kecil kami. Kebahagiaan ini berlangsung sampai usia saya belasan tahun

***

on 7.17.2013
ada setanak luka yang kau tanam di akar rumahku yang banjir. tak pernah ungkap.
ada setanak duka yang kau simpan di puncak rumahku yang gunung. tak pernah ungkap.

ada setanak ingatan yang kau hanyutkan di laut kepalaku yang maha lepas. tak pernah tiba.
ada setanak kenangan yang kau leburkan di badai kepalaku yang maha gaduh. tak pernah tiba.


Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara lain: pilihan kata,frasa, klausa, dan kalimat.
Majas dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
a. Majas perulangan        c.     Majas pertentangan
b. Majas perbandingan    d.     Majas pertautan
berikut adalah contoh majas yang sering digunakan secara umum:

on 7.03.2013
pagi-pagi di kantor urusan pajak
hari ini orang pertama yang aku temui adalah perempuan penjaga pintu masuk
saban hari ia tiba tepat waktu
dengan setia berdiri menyambut tamu
menyampaikan pesan berbeda ke tiap tamu pertamu yang ia temui
jangan menimang banyak perasaan, pesannya kepadaku

keesokannya
aku datang lebih tiba dari perempuan itu
berdiri di gerbang lebih siap dari dirinya
yang setia itu langsung meminang, pesanku kepadanya



Makassar – dua ribu tiga belas
on 6.25.2013
ada perempuan yang menjaga air mata mahahati di kidungnya
ditekuknya kujur penindih pelukannya yang setia
tubuhnya yang telah berdoa secara lumut tidak sempat mengeja akhiran
dengan segala redah yang tidak kunjung henti
ia menadah rintik tanah yang menabur payung hati tanpa pernah tahu benih apa yang akan tumbuh

disegala tabah
perempuan itu memayungi dirinya dengan segan yang jelas
bahwa terluka seumpama kaset piringan hitam yang akan berputar dan menyanyikan lagu sepenuh warna
disegala sabar
perempuan itu memahat kuku-kuku yang telah ia kumpul dalam gelas kepatahan
bahwa terluka seumpama puisi yang tidak sempat terberi judul lalu menjadi sampul yang tidak terlabeli apapun

perempuan itu sedang menanak luka di hatinya
dan tidak membiarkan seseorangpun yang tahu tanakannya.


on 6.24.2013
ada doa yang berbaris di geligimu
menunggu jutaan amin mengatup yakin
lalu sebaris demi sebaris menanggalkan demi kanaknya yang tidak kunjung tumbuh

ada doa yang bersila di bangkumu
menanti puluhan hati untuk bertamu di ruangmu
lalu satu demi satu rela memenggalkan kuping kananya untuk mendengar puisimu yang tidak kunjung akhir

ada doa yang berbaring di sujudmu
menungkul kalah setelah puluhun alasannya adalah muslihat di matamu
lalu satu persatu mengembalikan lembar kacanya yang tidak pernah dusta

inilah cintaku yang tidak pernah genap oleh doa -
rawatlah serahasia mungkin
dipeluknya banyak buku
sedang ibunya menanak nasi di tanah yang liatnya menakutkan
dipeluknya banyak buku
sedang ayahnya mengemis doa di surau yang penuh susah

seorang pejuang hak berorasi di teras wakil rakyat
peluru bersangkar di otaknya yang banyak menampung masa depan
aparat berdalih ini salah tembak
tapi darah sudah penuh oleh ambisi mematikan
lantang suaranya menyusun kata
lawan
lawan
lawan
Tuhan bersama kalian
berkali-kali sepatu laras dan gagang senjata dihantamkan di bibirnya yang sudah sumbing oleh luka
aparat berdalih dia adalah provokator massa
namun suara itu maish Tuhan
menggema dilangit, menggantung banyak harap dan desakan sosial
siang ini satu lagi nyawa indonesia melayang

on 6.20.2013
ada seorang perempuan yang tertawa di bawah bulan sambil mengunci banyak cahaya di dadanya yang busung
buncit perutnya menandai usia kehamilan yang tua
katanya sudah sembilan bulan ia mengandung kata-kata
namun belum melahirkan sesajak apapun selain umpatan yang menghimpit makna

aku takut ia telah keguguran oleh waktu yang purna
dan hanya ada jerit berdarah di selangkangan yang memerahkan kasur serta sarung miliknya
dalam riwayat, kata-kata memang mendentum-dentum hingga menggelinding ke dinding paling tebing dan akhirnya terpikunkan

kata-kata lahir dengan senggama yang murni
dan kelahirannya ditandai dengan halaman demi halaman
lalu dari buku ke buku

namun ingatlah soal keguguran itu
banyak kata-kata yang lahir dari keguguran dan menjadi halaman juga
tapi telah kehilangan kemurnian makna

yang tersampaikan hanya berita kebohongan dan kata-kata yang mengutuk kebenaran
tidak sanggup lagi menetap di kepala yang tebal ini oleh derita bernegara yang sehatnya sangat mustahil
on 6.14.2013
sehabis membaca
banyak penderitaan yang hidup
dan bayang-bayang paling tayang menggentayangkan ketakutannya
di mata kita yang buta - tidak ada tanggal yang menanggalkan kedamaian

kita hidup di mata pedang
tidak mengenal lagi kata tenang
semua penuh pandang
dan kita diserang kematian yang mendadak
dan berakhir pada ketidaktahuan pada diri sendiri

berabad kita mencari jati diri
nyatanya tidak ada yang mengenal lebih dari sekadar nama
dan negara kita hidup seperti gentayangan di awan yang tidak berpijak dan tidak juga tidak berpajak -
kita tidak mengenal diri sendiri -

maka carilah -

1.14.2014

Kota yang Putus Cinta Berjuta Tahun Lamanya

Diposting oleh Unknown di 07.10 0 komentar

Di kotaku, rindu diadaptasi menjadi kebencian
orang gemar meninggalkan kiblat. menemukan cinta barunya
saling menikam, bahkan memakan
mirip adegan orang-orang depresi
akibat putus cinta yang mewarnai tivi rumahku atau mungkin juga tivi rumahmu

Orang-orang kemudian mencemari halaman rumah
bertumpuk sampah organik sisa belanja bulanan
mereka menerima gaji untuk memabayar utang
dari pemuka agama, makelar hidup, dan para pandai kata
menggadaikan hari-hari penting dalam hidupnya untuk menakar
selama apa ia bisa bertahan hidup

Pada mulanya, orang gemar saling mengunjungi. menyapa dengan  makanan
tapi tiba-tiba saja, tamu abad milenium mengunjungi dapurnya
mengubah jagung, ubi rebus, dan songkolo menjadi kfc, mcd, atau apapun labelnya

Orang-orang kemudian mendirikan pagar setinggi leher
mereka akhirnya saling curiga dan iri hati
saling mengintai dan membenci
kita seolah orang yang telah kehilangan rasa cintanya

Mungkin kita butuh gempa bumi yang disusul tsunami
agar rumah-rumah tinggi itu membuka pintunya
menjadikan kediamannya sebagai tempat yang aman
untuk orang-orang yang hidup dan menciptakan ketidakamanan
karena pagar tinggi memaksanya untuk memanjat lebih dalam

Makassar – januari 2013

1.06.2014

Menjemput Media Sosial Baru

Diposting oleh Unknown di 03.42 0 komentar
“Idealisme tidak untuk membunuh Tuhanmu, mengaburkan pandanganmu terhadap banyak sisi, dan mengubah caramu mencintai. Justru akan membuatmu merasa kesepian dan membesarkan hatimu untuk menerima, menerima, menerima semua yang datang padamu.”

Dalam Kitab Zarathustra, Nietzsche mengungkapkan ketidakbisaannya mengalahkan dirinya sendiri dengan “Tuhan telah mati, Tuhan telah terbunuh” yang Ia karang untuk mengajak pembacanya merasakan betapa sulitnya mengalahkan hidup, sebab selalu terbentur pada sudut pandang ke-Tuhan-an.
Pada masa itu, orang-orang belum membangun paru-paru dalam rongga maya yang saling menghubungkan dunia yang sebenarnya tidak punya hubungan sama sekali. Benar-benar membesarkan banyak jiwa dari pengalaman dan memberikan waktu yang cukup untuk merefleksi semua kejadian-kejadian yang manusia kerjakan. Manusia dipaksa untuk bertahan dengan keterbatasan peredaran informasi dan komunikasi.
Dengan kondisi seperti itu, akhirnya manusia bebas memilih repotnya masing-masing. Hidup survive dan menciptakan kelompok-kelompok yang dilatarbelakangi oleh kegemaran, kesamaan pikiran, sudut pandang, atau kebiasaan. Manusia terus berkembang dan menuai semua hasil yang ia kerjakan dengan senang hati.
***
Entah sejak kapan, internet kemudian hadir sebagai ruas utama hilangnya batasan-batasan yang awalnya membuat kita merasa sama, kokohnya sikap individualis, dan merangsang pertumbuhan dunia baru. Dunia ciptaan sekelompok orang adikuasa yang menentukan kebijakan dunia baru yang turut melibatkan kita sebagai objek yang memiliki peran penting.
Kita mungkin bisa membela diri dengan mengatakan “apa hubungannya perang di Palestina dengan saya” atau “mengapa saya mesti memikirkan kudeta politik di Mesir” secara sederhana tentu tidak ada hubungannya jika kita memposisikan diri sebagai “bukan bagian mereka” tapi tanpa sadar semua rutinitas manusia dan skandal yang terjadi memiliki benang merah yang jika ditarik akan ada hubungannya dengan kita.
Hubungan paling erat dari semua skandal dan kejadian itu adalah mampu mengubah pandangan kita terhadap hidup. Kita diburu ketakutan akan hilangnya pekerjaan meskipun sadar bahwa ada yang salah dari tempat kita kerja, mengapa kita mesti repot-repot ikut kerja bakti di lingkungan rumah, semua pasti akan kembali seperti semula. Pikiran-pikiran ini mengantarkan kita pada pandangan yang melihat dunia untuk hari ini saja. Tidak lagi melihat jauh ke depan dan mulai ragu dengan kekuatan mimpi dan cita-cita.
Kembali lagi pada persoalan kepentingan untuk memuluskan jalan bagi terciptanya dunia baru. Manusia akhirnya tanpa sadar menjadi bahan utama sebuah tatanan baru yang diciptakan melalui corong kebudayaan, politik, ekonomi, gaya hidup, hingga hal terkecil seperti buku bacaan. Manusia mulai tergila-gila pada kemudahan akses informasi dan komunikasi. Imingan menjadi orang kaya membuat semua orang berpikir untuk pekerjaan layak yang akan menguntungkan dirinya.
***
Entah kekuatan apa yang menciptakan kematian yang cantik ini. Kita merasa bahwa yang kita lakukan adalah proses mandiri, namun itulah sebenarnya inti dari sebuah rekayasa besar yang diciptakan oleh orang adikuasa. Membuat kita merasa nyaman dengan sekitar dan malas memikirkan hal-hal yang terjadi di luar sana.
Pernahkah kita menyadari bahwa setiap hari saat membuka akun sosial media seperti  facebook atau twitter kita diperhadapakn oleh pertanyaan “apa yang terjadi hari ini?” atau “apa yang sedang anda pikirkan?” kita didoktrin untuk terus memikirkan tentang “hari ini” saja. Tapi sekejam apapun sosial media membangun pikiran manusia, kita tidak bisa mengkambinghitamkannya dalam urusan ini. Tetap saja sosial media berhasil membantu banyak orang dalam kehidupan sehari-hari. Cara kitalah yang mesti sedikit diberikan ruang untuk merefleksi banyak hal.
Saya bermimpi suatu saat akan ada akun sosial media yang ketika dibuka, kita akan diperhadapkan oleh pertanyaan “seperti apa hidup anda 10 tahun yang lalu?” atau “sudah sejauh mana anda mempersiapkan masa depan keluarga anda?” dan pertanyaan itu membantu orang untuk bangun dari pengontrolan ini. Pertanyaan itu juga tiap hari akan berubah-ubah, tidak monoton dan mencoba membangun akal sehat manusia.

Seperti yang Nietzsche ingin katakan kepada kita bahwa membunuh Tuhan itu mustahil, tapi untuk mengalahkan ciptaannya pasti punya jalan sendiri. Sayapun berada diposisi yang sama dengan anda, mungkin senang berdunia maya namun pernahkah kita meluangkan satu hari dalam hidup kita untuk melakukan kebalikan dari semua yang rutin kita kerjakan. Mungkin jawabannya ada disitu. Media sosial baru.

12.31.2013

Ini Sebenarnya Surat untuk ayah dan Saya

Diposting oleh Unknown di 22.07 1 komentar
Saya, Ayah, dan menulis adalah tiga serangkai yang punyai kaitan sejarah di masa lalu. Sejak kecil, saya dianggap anak badung dan harus mendapatkan ceramah dari Ayah setiap melakukan ken-akal-an. Setiap saya diceramahi, pikiran saya keliling dunia, menemukan pembenaran bahwa mengapa saya harus seperti itu, mengapa saya harus memukul wajah orang yang memang pantas mendapatkannya, mengapa saya harus lari dari pesantren, mengapa saya harus ke stadion tanpa izin untuk menonton sepak bola. Setiap saya diceramahi, Ayah selalu punya kisah baru tentang dirinya di masa lalu, kadang saya harus menemukan cara agar mendapat ceramah yang saya inginkan. Untuk tahu apa yang dilakukan oleh Ayah di masa lalu, saya tinggal melakukan apa yang menurut sebagian orang salah, misalnya saat tidak memotong rambut, maka Ayah pasti berkisah tentang dia dan rambutnya di masa lalu. Saya selalu senang dan bahagia mendapatkan kisah-kisah yang tidak mungkin saya temukan dari orang lain. Intinya, saya kadang melakukan sesuatu untuk tahu seperti apa Ayah saya di masa lalu tanpa harus memintanya menjelaskan panjang lebar kepada saya.

Tapi sampai sekarang satu pertanyaan yang belum saya temukan jawabannya dari Ayah adalah, siapa nama yang tersemat dibelakang nama saya. Yah, sejak saya sadar bahwa saya punya nama, Palogai sudah melekat seperti burung dan sayapnya. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Nama itu menjadi populer ketika saya masih SD, bahkan teman sekelas lebih sering memanggil saya Palogai dari pada sapaan kecil saya sendiri. Saya sedikit terganggu dan merasa risih. Tapi Ayah senyum-senyum saja ketika saya Tanya, siapa sebenarnya Palogai.

Saat saya masih kecil, dihukum adalah kebiasaan yang hampir tiap hari saya dapatkan. Salah satu cara Ayah menghukum anaknya selain menceramahi adalah dengan mengambil kertas dan pulpen lalu mengurungnya di kamar, dia hanya berpesan tulis apa yang kamu inginkan lalu berlalu dengan mengunci pintu dan membiarkan saya merasa sendiri. Ayah baru membukanya setelah beberapa jam. Di dalam kamar, saya mulai berfantasi dan mencoba mengeluarkan semua kata yang saya miliki meskipun tidak ada hubungannya dengan kesalahan saya. Menyedihkan.

Dari kebiasan dihukum seperti itu saya menjadi sadar bahwa orang tua saya lebih mudah mengerti apa yang saya inginkan melalui tulisan ketimbang menanyainya langsung. Sebab untuk anak seperti saya, bersuara di depan Ayah adalah salah satu hal yang membuat saya malu dan canggung. Kebiasaan itu saya bawa sampai sekarang. Bahkan parahnya, untuk sekadar meminta uang kepada Ayah, saya selalu meminta jasa Ibu saya untuk menyampaikannya kepada Ayah.

Setelah cukup mengerti apa guna sebuah tulisan, pengalaman di masa kecil saya itu menjadi guru yang cukup berhasil mendekatkan saya dengan dunia tulis menulis. Saya juga merasa beruntung berada di sebuah rumah yang memiliki perpustakaan sendiri. Ayah saya adalah salah satu pembaca akut yang sebenarnya tidak pernah memaksa saya untuk ikut membaca atau senang dengan dunia baca tulis. Tapi karena semenjak kecil Ayah jarang membelikan mainan, maka saat kecil saya senang memilih buku-buku yang bersampul bagus lalu membacanya meskipun saya belum tahu apa maksud tulisan tersebut.

Kembali lagi pada persoalan kebiasaan, saya akhirnya mulai terbiasa membaca buku. Ayah saya juga langganan koran, maka kebiasan membaca koran sebelum berangkat ke sekolah saya lakukan. Saya senang membaca beberapa berita, terutama olah raga. Dari Koran itu saya banyak tahu nama tokoh-tokoh di Indonesia serta kejadian menarik apa saja yang terjadi. Hingga suatu hari saya menemukan lembaran koran yang memuat sebuah puisi, semenjak itu saya mulai suka dan senang membentuk kata-kata seperti yang saya temukan di koran tersebut.

Semakin hari, saya mulai menemukan jawaban bahwa menulis adalah pekerjaan yang mengabadikan. Meskipun selama proses pencarian makna kalimat tersebut, saya belum berhasil sampai dititik akhir untuk menarik kesimpulan.

Kuliah di Fakultas Sastra semakin menambah pengetahuan saya tentang dunia kepenulisan, khusunya puisi. Berdiskusi dan bertukar buka menambah wawasan dan membangkitkan semua kecamuk dalam kepalaku tentang dunia tulis membaca. Anggapan tiap anggapan akhirnya tumbang dan saya mantap memilih jalan ini. Meskipun penuh kesunyian dan kadang harus mengorbankan orang-orang di sekitar saya.
Saya beranggapan bahwa menulis adalah pekerjaan yang mengabadikan, sekaligus mengabaikan. Dalam banyak hal, saya hanya mencoba mengabadikan beberapa kejadian penting yang membuat saya merasa tidak penting untuk masuk ke dalam tulisan. Kadang sedikit tergesa-gesa, kadang sangat lama, kadang bahkan saya tidak menulis apa-apa. Menulis seperti juga kutukan, saya akhirnya tidak bisa meninggalkan pekerjaan menulis. Kesulitan terbaik dari menulis bagi saya adalah menyambungkan ide ke dalam realitas atau sederhananya memasukkan air ke dalam bejana. Terbaca sederhana namun butuh pengalaman yang kuat untuk mahir mengerjakannya.

Setiap saya menulis, saya selalu merasa diberikan mata baru untuk melihat ke dalam diri. Tapi semakin banyak mata yang lahir, rasanya semakin sulit pula untuk melihat ke dalam diri. Saya kadang harus mempekerjakan perasaan saya untuk berkelahi dengan diri sendiri. Pengalaman terburuk adalah saat harus merelakan waktu berjalan membawa semua kata yang saya butuhkan sedangkan diri saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Saat itulah saya tidak bisa berdamai dengan kondisi. Satu-satunya penghibur paling bijak adalah kesimpulan bahwa saya masih bisa membaca dengan baik.

Pekerjaan menulis benar-benar telah memisahkan saya dengan diri sendiri, sangat jauh. Bahkan tanpa sadar saya kadang merasa bertindak diluar diri saya. Suatu kapan, saya mungkin akan mati dengan keadaan tidak memiliki diri sendiri. Sebab itu, mungkin menulis adalah tindakan sihir. Simsalabim.

Menulis saya anggap sebagai pintu masuk kedalam diri saya. Pintu yang memiliki jendela, akar, kacamata, sekaligus pintu yang memiliki alamnya sendiri. Dalam menulis saya mencoba menghadirkan diri ke tengah-tengah halaman dimana orang-orang telah menciptakan pengertian tentang halaman itu sendiri. Semoga saya tidak tersesat.

Ritual menulis bagi sebagian orang mungkin tidak penting, tapi bagi saya itu adalah sebuah kewajaran yang akan saya lakukan dengan senang hati. Saya sangat jarang menemukan masalah dalam menentukan kata pertama saat menulis, maka ritual yang saya lakukan adalah membaca dengan sinis dan berulang-ulang sampai saya merasa bahwa tulisan ini jelek kemudian mencampakkannya. Beberapa hari kemudian saya akan mengunjunginya kembali dan mengubah beberapa kata atau kalimat yang saya anggap buruk.

Meskipun saya sendiri tidak yakin bahwa yang saya lakukan selama ini adalah “menulis” tapi saya selalu percaya bahwa yang saya kerjakan ini adalah kebaikan. Seperti yang Ayah saya selalu katakan sejak saya kecil, bahwa tersenyum, berbuat baik, dan beribadah itu adalah standar setiap manusia tanpa memandang kaya-miskin. 


Setelah Kotaku dengan Gembira Diledakkan Hujan Empat Hari Berturut-turut

Diposting oleh Unknown di 06.53 0 komentar
Setelah kotaku dengan gembira diledakkan hujan empat hari berturut-turut
kau masih setia di atas kasur membujurkan tubuhmu ke jendala
menghitung kebencian yang ikut menetes dari rembes air di atapmu
membayangkan setumpuk selimut menutup buah dadamu dan aku ikut memelukmu dari salah satu celah pelukanmu, juga bertelanjang dada menghadap ke kiblat
satu tanganku menyamar menjadi rambutmu dan mengusapnya sedemikian lena
simsalabim, aku dikutuk menjadi pikiranmu
maka jadilah kita seselimut sambil meringkih manja.
Setelah hujan reda dan air kian rendah, kau berjalan dengan helai celana dalam
menuju ke bagasi memanaskan mesin mobil
lalu kembali ke atas kasur dan menyeretku sambil menyulap air mani
menjadi bahan bakar darurat yang tak ada habisnya
mobil ini adalah kendaraan yang digunakan adam ketika diungsikan ke bumi, katamu sambil mencium buah wajahku dengan mata terpejam
tapi saat itu surga sedang tak banjir, kataku sambil menyelinap di tengkukmu

Kau menggiringku ke suatu tempat di atas langit
menutup wajahku dengan bra merah yang kau petik dari pohon iklima
di luar rumah, para lelaki tak melihat kita sebab ia sibuk mengungsi pada ketinggian cahaya
sedangkan perempuan memenuhi mulutnya dengan hujat hujan
dan ramai berziarah ke rumah ibadah
berdoa agar banjir menjadi selangkangan pelacur
tak tahu bahwa di bawah hujan anak-anak mereka sedang bercinta dengan kematian

Setelah empat hari berseling matahari, hujan menjadi lima, enam, dan seterusnya
lalu banjir kian menganga membuaskan manusia menjadi beton bertingkat
mereka mengungsi ke mal dan gedung tinggi
membawa setiap masalah dan menyimpulkan kematian di kepalanya
menjarah setiap makanan, juga perawan yang butuh dijarah
lalu kota ini berubah menjadi museum masa lalu

Manusia menuju ladang perburuan abadi
sedang kita masih asik bercinta di dalam mobil adam sambil dituntun oleh Tuhan

10.14.2013

Kritik kepada Kritikus

Diposting oleh Unknown di 00.39 0 komentar
(sebuah catatan tidak penting dari seorang yang gila)

            Masih akrab di mata penyimak berita, kasus Andrea Hirata, seorang penulis buku trilogi Laskar Pelangi mengklaim bahwa karyanya telah mendapat pengakuan international best seller. Kemudian Damar Juniarto, seorang publisis membuat tulisan untuk meng-cross check beberapa pernyataan Andrea Hirata, diantaraanya adalah yang menyebutkan bahwa novelnya akan diterbitkan ulang oleh Farrar, Straus, dan Girroux (FSG), penerbit internasional yang menerbitkan buku-buku pemenang Nobel sastra. Hasilnya, menurut Damar Juniarto, Laskar Pelangi diterbitkan oleh imprint FSG, yaitu Sarah Crichton Books.
Kedua, soal pernyataan Andrea bahwa selama 100 tahun tidak ada karya anak bangsa yang mendunia. Hal ketiga yang diverifikasi Damar adalah klaim international best-seller untuk Laskar Pelangi. Menurutnya, dasar pencantuman label “international best-seller” pada novel Laskar Pelangi tidak jelas.
Alih-alih meluruskan masalah, Andrea Hirata bahkan berniat menggugat Damar Juniarto ke pihak berwajib. Tidak berhenti sampai disitu, “kubu-kubu” Damar Juniarto kemudian membalas ancaman Andrea Hirata dengan berbagai kritikan.

***
           
Contoh kasus di atas memang mengerikan untuk menjadi bahan pembelajaran. Penulis mengambil contoh kasus di atas bukan untuk mengungkit kejadian yang telah berlalu ataupun menghakimi Andrea Hirata dan membela Damar Juniarto, tetapi penulis merasa bahwa perlu membuka ulang sebuah permasalahan sebagai pembelajaran untuk menyikapi perbedaan dan menerima kritikan.
Jika kita telaah kasus di atas, salah satu pemicu orgasme pada masalah tersebut adalah, “kubu-kubu” yang saling melancarkan serangan. Kubu-kubu inilah yang akhirnya saling melibatkan diri dan menyulutkan ketidaksepahaman terhadap sebuah gagasan. Pada akhirnya, masalah yang sebenarnya hanya perlu diselesaikan oleh dua orang malah semakin ramai dan memperlihatkan betapa kita tidak bisa menerima sebuah perbedaan.
Dalam sejarahnya, kita sering dituding sebagai manusia Indonesia yang bermental budak, tudingan ini terjadi akibat lamanya nusantara kita dijajah oleh bangsa yang lebih terkontrol dan dapat memanfaatkan peluang invasi terhadap suatu wilayah.
Untuk lepas dari mental tersebut dibutuhkan pendidikan karakter yang mengakar dalam kepala setiap manusia Indonesia. Tetapi bukan berarti bahwa kita juga mesti menolak untuk dikritik ataupun membalas kritikan dengan ancaman. Melainkan dapat menerima kritikan sebagai suatu hal yang membangun jati diri setiap manusia yang berkarya.
Penulis mengingat jawaban dari salah seorang Kritikus Sastra dari Makassar (Alm) Ahyar Anwar dalam sebuah diskusi. Ia melontarkan pernyataan “tugas anda sebagai penulis adalah menghasilkan karya sastra, sedangkan tugas kritikus untuk mengkrtik karya sastra.” Dua hal berbeda yang saling berhubungan erat.
Karya yang telah dikritik seharusnya menjadi pelajaran terhadap karya itu sendiri, bukan terhadap penulisnya. Lantas jika bukan penulisnya, bagaimana kritik itu hidup? kritik itu hidup karena dituliskan, bukan karena dipertentangkan. Dalam uraian singkat, seorang penulis yang karyanya dikritik tetaplah terus menghasilkan karya sastra. Penulis itu sendirilah yang bisa memlih, apakah kritik itu diterima atau memilih menyimpannya sebagai hal yang tidak penting selama proses berkaryanya. Itu manusiawi bagi seorang yang dikritik dan bukan masalah yang mesti kita bawa kemana-mana.
Dalam melihat sebuah masalah, Emanuel Kant berpendapat bahwa untuk mencapai kebenaran kita perlu mengkritisi Rasionalisme dan Empirisme serta tidak boleh mementingkan satu sisi dari dua unsur (akal dan pengalaman) saja. Menonjolkan satu unsur dengan mengabaikan yang lain hanya akan menghasilkan sesuatu yang berat sebelah. Kant jelas-jelas menolak cara berfikir seperti ini. Karena itu, ia menawarkan sebuah konsep “Filsafat Kritisisme” yang merupakan sintesis dari rasionalisme dan empirisme. Ada benarnya, sebab secara harfiah kata kritik memang berarti pemisahan, bukan pembeda.

***

Sikap anti kritik dan membela “karena teman” inilah yang kemudian menjadi persoalan telak. Ditambah sikap segelintir orang yang senang mempertautkan dirinya pada permasalahan yang orang lain hadapi, lalu memberikan komentar yang malah semakin mempersulit posisi masalah tersebut. Keganjilan inilah yang sepatutunya kita kaji sebagai pokok persoalan.

Alangkah konyolnya ketika sebuah kritikan dibalas dengan ancaman. Meski jauh lebih konyol ketika kita membiarkan ancaman itu hidup seperti sebuah dogma yang amat suci, bahkan kita sendiri tidak bisa meredamnya. Menanam dendam sama halnya memupuk rerumputan di halaman rumah yang nantinya akan menjalar lalu menjerat rumah kita sendiri. Berpisah bukan berarti berbeda, dikritik bukan berarti dibenci.

9.19.2013

Badik Lautan

Diposting oleh Unknown di 11.54 0 komentar
“di kotaku, badik adalah kata lain dari kebenaran
sedangkan matanya adalah keberanian
semakin kau mengasahnya menjadi jiwa, maka semakin kau tidak menemukan muaranya
suatu waktu, badik yang kau hunus akan menjadi sebatang lidi rapuh yang tidak lagi bersepuh
sebab kau selalu menyelipkannya di pinggangmu
sebagai mata angin yang menyesatkan”

“di kotaku, lautan adalah kehidupan
sedangkan ombaknya adalah kemakmuran
semakin kau memperindahnya dengan buatan, maka semakin kau menghilangkan kemurniannya
suatu waktu, lautan yang kau puja itu akan menjadi gemuruh yang meluluhkan kedamaianmu
sebab kau selalu memberinya apa yang tidak lautan butuhkan
sebagai upah dari kekeliaruan kita memahami lautan kehidupan”

hidupilah kehidupanmu dengan apa yang akan menghidupimu
bukan apa yang membuat hidupmu seolah benar, semuanya!



Makassar – dua ribu tiga belas

Solilokui

Diposting oleh Unknown di 11.35 0 komentar

bagimu adalah perasaanmu dan bagiku adalah perasaanku
aku tidak akan menyatakan apa yang aku rasakan
dan kamu tidak pula perlu mengatakan apa yang aku nyatakan
sungguh, sebaik-baik perasaan adalah yang kita rahasiakan.

mengingatmu adalah cara tersopan
untuk mengatakan bahwa aku menginginkan kita yang lampau
yang mendampa meski dengan jumpa yang seumur imsak

di pelaminan 
matamu adalah duka bagi kesehatanku
yang tempuhnya melemahkan hingga kambuh tidak juga sembuh
kursiku bergerak dari satu rembes ke sisi yang paling sungkan
sekadar menanyakan 
apakah kamu sehat?

semalam aku menghabiskan sabun di kamar mandi ibu
membayangkan tubuhmu yang tak tua-tua itu menindihku dengan kata-kata
semua lekuk yang kamu tutupi adalah bekas puisiku
yang semakin hendak menyengsarakan dirinya sendiri dengan kelambu

semakin aku ingin menyerupai pikiranmu
semakin hilang semua bentuk asli dari rumus-rumus pasti
pada jalannya, aku hanya halaman buku yang kamu baca berdasarkan abjad
masuk sebagai huruf-huruf yang tidak pasti

setiap pagi aku menanam payudada meski akhirnya orang-orang menamainya payudara
lalu aku memintamu untuk mengikat tali jemuran dari dagingku yang sembah di selaput darahmu
agar semua celana dalam yang kamu kaitkan untuk matahari
tidak hinggap di sela selangkangan orang lain yang jahannam

apakah cinta itu selebar teras rumahmu?
pertanyaanku yang kamu sebar menjadi pertanyaan baru
begitulah seterusnya kita biarkan hidup berlalu seperti pertanyaan yang berjalan
dari satu arah ke mata yang lain

itulah mulanya
pada akhirnya kita akan menjadi penjaga rahasia
yang membiarkan kata-kata menanggalkan seragamnya sendiri
sebelum meninggalkan kita dengan doanya yang belum mandiri


Makassar – dua ribu tiga belas

8.31.2013

Yang Setia pada Kemahiran Kata-kata

Diposting oleh Unknown di 04.02 1 komentar
kita telah memasuki musim yang terlepas
menghangatkan bibir yang lazim kita sebut kutukan
meski bukan itu yang akan kita beri sesembahan
di dasar-dasar kelenjar ingatan kita yang masih berdaun sangir

apakah kita masih perlu menyimpan
segala kesebentaran yang sangat lama kita pelihara diam-diam
yang kita rebut dari kesepian-kesepian terpilih
sementara pelukan sudah bukan jauh
lalu kematian datang untuk menjabatmu
mengantarmu dari pengasingan ke pengasingan lainnya

apakah kita masih perlu merebut kesepian yang sangat lama kita omongkan
di ranjang yang bukan milik pengantin
meski tubuh kita sudah tidak berhelai kain
sungguh kita memang bukan pemain
yang setia pada kemahiran kata-kata
para penyihir untuk merebut zahir bayi terakhir
yang ditinggalkan oleh ibunya saat kematian sudah semakin jauh
membawa hal terakhir yang juga kita miliki

aku ingin mencintaimu tanpa kebohongan
tapi apakah ada kata-kata yang dapat mewakili perasaanku selain kiasan klise
yang bagi sebagian kiai, itu adalah kebohongan

tapi apakah ada hal yang pernah kita jujurkan
selain bahwa kita memang adalah sepasang lengan yang saling menguntungkan
atau saat kita memilih tidak saling bercakap
setelah menghabiskan separuh hari dengan memperbincangkan masa depan
lalu membiarkan hayalan kita saling bertemu

aku masih sebatang lidi yang kau tanam di antara janur kelapa yang maha tinggi

yang masih setia di tanah tanpa perlu kau suburkan dengan air atau semacamnya

8.02.2013

Biodata Seorang Polisi

Diposting oleh Unknown di 10.40 4 komentar


nama                       : djawadi
tempat tanggal lahir  : indonesia, 17 agustus 1932
alamat                     : jalan kudus kebangsaan bangsat nomor 30
pekerjaan                :
1.      menjaga rakyat agar tidak berani membangkang 
      kepada kesewenang-wenangan aparat.
2.      menakut-nakuti rakyat yang berani berjuang 
      demi keadilan sama rata.
3.      tunduk dan patuh pada atasan meskipun itu tidak benar 
      dan diluar etika bangsa
4.      menembaki kepala siapapun yang berani berorasi 
      dan menghina pejabat publik busuk.
5.      membunuh dan menyerang siapa saja yang 
      berani mengusik sesama polisi
6.      menculik para aktivis yang dianggap sebagai     
      provokator massa.
7.      membantai habis kekuatan rakyat untuk 
      berjuang demi tanahnya sendiri.
gaji             : uang pajak dan pemalakan rakyat.
fasilitas       : senjata dan kendaraan gratis dari uang rakyat.

masih butuhka kita polisi?
jika nyatanya rasa aman itu harus dibeli
masih butuhka kita polisi?
jika anak cucu kita nantinya habis dibantai

Makassar – dua ribu tiga belas

7.23.2013

catatan kecil!

Diposting oleh Unknown di 12.15 0 komentar

Kenapa jika Ayah Saya Komunis?

Jakarta, 1955
Akhir bulan Juli. Pagi itu sedang cerah, musim penghujan masih jauh. Di lapangan Senayan Jakarta, massa berkumpul untuk merayakan masuknya PKI sebagai empat partai besar di Indonesia pada pemilu 1955. Ayah mengajak saya untuk datang di rapat akbar PKI. Umur saya waktu itu kira-kira 5 tahun. Tidak banyak yang saya ingat, lapangan penuh dengan warna merah dan umbul-umbul bergambarkan palu arit. Beberapa tahun kemudian saya baru mengerti jika itu adalah lambang Partai Komunis Indonesia.
Lapangan sesak, di atas panggung seorang sedang berpidato dengan penuh semangat. Siapa dia, saya tidak tertarik ditambah waktu itu saya tidak mengerti apa isi pidatonya. Saya lebih tertarik mendengar cerita Ayah saya dengan teman lamanya. Ayah saya sedang sibuk mengenang perjuangan mereka ketika partai ini baru terbentuk. Belakangan juga saya baru tahu jika ternyata orang yang sedang berpidato itu adalah D.N Aidit, ketua PKI waktu itu.
Sepulang dari rapat akbar itu, Ayah singgah di toko buku yang terletak di simpang jalan merpati nomor 58. Membeli beberapa buku dan memasukkannya ke tas jinjing yang selalu ia bawa kemanapun Ayah pergi. Ayah membonceng saya pulang dengan sepada. Satu hal yang terus saya ingat, bahwa Ayah saya adalah salah satu jenis manusia pendiam yang sangat ramah. Bahkan dengan anaknya sendiri, ayah selalu membatasi kata-katanya.
Ayah cukup dikenal di lingkungan tempat kami tinggal. Oh ya, saya hampir lupa mengisahkan tentang Ibu saya. Ibu saya adalah aktivis di Gerwani. Setidaknya itu kata yang suka ibu sebut ketika berkumpul dengan ibu-ibu yang sering bertandang ke rumah saya. Saya bersaudara hanya dua orang. Kakak saya seorang perempuan yang kala itu berumur 8 tahun.
Selain aktif di PKI, Ayah saya juga berkantor di Lekra atau dikenal juga dengan Lembaga Kebudayaan Rakyat. Saya beberapa kali dibawa oleh Ayah ke kantornya. Dari situlah saya kenal beberapa teman Ayah yang sangat kritis dan anti imperialis, Pramoedya Ananta Toer salah satunya. Saya termasuk anak yang selalu ingin tahu dan saya lebih suka diajak ke kantor Ayah dari pada ikut pertemuan, apa lagi yang semacam rapat akbar seperti di lapangan senayan tempo hari itu.
Di usia delapan tahun, saya bisa membaca dan menulis. Itu membuat saya bisa tahu beberapa berita yang bahkan orang tua tidak bisa membacanya. Anak sebaya saya waktu itu masih senang bermain kelereng dan cangklok sedangkan saya sudah mulai gemar membaca buku-buku dan koran. Di kantor ayah, saya senang karena bisa membaca dengan puas beberapa tulisan dari teman ayah. Salah satu Koran yang sering saya baca adalah Bintang Timur.
Keluarga saya hidup sangat sederhana. Kakak perempuan saya beruntung, setidaknya ia bisa sekolah tidak seperti anak perempuan yang lain. Sedangkan saya terus diajar otodidak oleh ibu untuk menulis indah. Ayah suka dengan hewan, salah satu yang ayah pelihara adalah kuda. Nama kuda itu djagal. Ayah sangat merawatnya dan menganggap kuda kesayanggannya itu sebagai bagian dari keluarga kecil kami. Kebahagiaan ini berlangsung sampai usia saya belasan tahun

***

7.17.2013

yang tidak pernah ungkap dan tiba

Diposting oleh Unknown di 03.49 0 komentar
ada setanak luka yang kau tanam di akar rumahku yang banjir. tak pernah ungkap.
ada setanak duka yang kau simpan di puncak rumahku yang gunung. tak pernah ungkap.

ada setanak ingatan yang kau hanyutkan di laut kepalaku yang maha lepas. tak pernah tiba.
ada setanak kenangan yang kau leburkan di badai kepalaku yang maha gaduh. tak pernah tiba.


Majas

Diposting oleh Unknown di 03.42 0 komentar
Menurut Prof. Dr. H. G. Tarigan majas adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis. Unsur kebahasaan antara lain: pilihan kata,frasa, klausa, dan kalimat.
Majas dapat dikelompokkan menjadi empat, yaitu:
a. Majas perulangan        c.     Majas pertentangan
b. Majas perbandingan    d.     Majas pertautan
berikut adalah contoh majas yang sering digunakan secara umum:

7.03.2013

Pintu Masuk

Diposting oleh Unknown di 22.16 0 komentar
pagi-pagi di kantor urusan pajak
hari ini orang pertama yang aku temui adalah perempuan penjaga pintu masuk
saban hari ia tiba tepat waktu
dengan setia berdiri menyambut tamu
menyampaikan pesan berbeda ke tiap tamu pertamu yang ia temui
jangan menimang banyak perasaan, pesannya kepadaku

keesokannya
aku datang lebih tiba dari perempuan itu
berdiri di gerbang lebih siap dari dirinya
yang setia itu langsung meminang, pesanku kepadanya



Makassar – dua ribu tiga belas

6.25.2013

perempuan yang menanak luka di hatinya

Diposting oleh Unknown di 10.19 0 komentar
ada perempuan yang menjaga air mata mahahati di kidungnya
ditekuknya kujur penindih pelukannya yang setia
tubuhnya yang telah berdoa secara lumut tidak sempat mengeja akhiran
dengan segala redah yang tidak kunjung henti
ia menadah rintik tanah yang menabur payung hati tanpa pernah tahu benih apa yang akan tumbuh

disegala tabah
perempuan itu memayungi dirinya dengan segan yang jelas
bahwa terluka seumpama kaset piringan hitam yang akan berputar dan menyanyikan lagu sepenuh warna
disegala sabar
perempuan itu memahat kuku-kuku yang telah ia kumpul dalam gelas kepatahan
bahwa terluka seumpama puisi yang tidak sempat terberi judul lalu menjadi sampul yang tidak terlabeli apapun

perempuan itu sedang menanak luka di hatinya
dan tidak membiarkan seseorangpun yang tahu tanakannya.


6.24.2013

ada doa yang berbaris di geligimu

Diposting oleh Unknown di 12.57 1 komentar
ada doa yang berbaris di geligimu
menunggu jutaan amin mengatup yakin
lalu sebaris demi sebaris menanggalkan demi kanaknya yang tidak kunjung tumbuh

ada doa yang bersila di bangkumu
menanti puluhan hati untuk bertamu di ruangmu
lalu satu demi satu rela memenggalkan kuping kananya untuk mendengar puisimu yang tidak kunjung akhir

ada doa yang berbaring di sujudmu
menungkul kalah setelah puluhun alasannya adalah muslihat di matamu
lalu satu persatu mengembalikan lembar kacanya yang tidak pernah dusta

inilah cintaku yang tidak pernah genap oleh doa -
rawatlah serahasia mungkin

teruntuk pejuang hak

Diposting oleh Unknown di 12.41 0 komentar
dipeluknya banyak buku
sedang ibunya menanak nasi di tanah yang liatnya menakutkan
dipeluknya banyak buku
sedang ayahnya mengemis doa di surau yang penuh susah

seorang pejuang hak berorasi di teras wakil rakyat
peluru bersangkar di otaknya yang banyak menampung masa depan
aparat berdalih ini salah tembak
tapi darah sudah penuh oleh ambisi mematikan
lantang suaranya menyusun kata
lawan
lawan
lawan
Tuhan bersama kalian
berkali-kali sepatu laras dan gagang senjata dihantamkan di bibirnya yang sudah sumbing oleh luka
aparat berdalih dia adalah provokator massa
namun suara itu maish Tuhan
menggema dilangit, menggantung banyak harap dan desakan sosial
siang ini satu lagi nyawa indonesia melayang

6.20.2013

Perempuan yang Melahirkan Kata-Kata

Diposting oleh Unknown di 09.48 1 komentar
ada seorang perempuan yang tertawa di bawah bulan sambil mengunci banyak cahaya di dadanya yang busung
buncit perutnya menandai usia kehamilan yang tua
katanya sudah sembilan bulan ia mengandung kata-kata
namun belum melahirkan sesajak apapun selain umpatan yang menghimpit makna

aku takut ia telah keguguran oleh waktu yang purna
dan hanya ada jerit berdarah di selangkangan yang memerahkan kasur serta sarung miliknya
dalam riwayat, kata-kata memang mendentum-dentum hingga menggelinding ke dinding paling tebing dan akhirnya terpikunkan

kata-kata lahir dengan senggama yang murni
dan kelahirannya ditandai dengan halaman demi halaman
lalu dari buku ke buku

namun ingatlah soal keguguran itu
banyak kata-kata yang lahir dari keguguran dan menjadi halaman juga
tapi telah kehilangan kemurnian makna

yang tersampaikan hanya berita kebohongan dan kata-kata yang mengutuk kebenaran
tidak sanggup lagi menetap di kepala yang tebal ini oleh derita bernegara yang sehatnya sangat mustahil

6.14.2013

Sehabis Membaca

Diposting oleh Unknown di 00.45 0 komentar
sehabis membaca
banyak penderitaan yang hidup
dan bayang-bayang paling tayang menggentayangkan ketakutannya
di mata kita yang buta - tidak ada tanggal yang menanggalkan kedamaian

kita hidup di mata pedang
tidak mengenal lagi kata tenang
semua penuh pandang
dan kita diserang kematian yang mendadak
dan berakhir pada ketidaktahuan pada diri sendiri

berabad kita mencari jati diri
nyatanya tidak ada yang mengenal lebih dari sekadar nama
dan negara kita hidup seperti gentayangan di awan yang tidak berpijak dan tidak juga tidak berpajak -
kita tidak mengenal diri sendiri -

maka carilah -