on 2.18.2014
Tujuh jam yang lalu – kurang lebih
terakhir kali kita berhubungan
hanya lewat media sosial
yang akhir-akhir ini jarang aku manfaatkan

Buku-buku dan belajar menulis
mengurangi jarak kita menjadi jauh
hape pintarmu cukup menjadi bukti
kita hanya menghabiskan tekanan jari dengan ucapan selamat pagi yang hampa
lalu aku kembali tidur
dan kau sibuk menelponku agar mengikuti mata kuliah leksikografi yang membosankan

Bintang kuning membawa kita pada haleluyah
dan hal-hal yang mengusik perasaan
puisi itu memang tentang betapa aku merasa menjadi benalu
setidaknya, hanya menghabiskan waktumu
untuk memperhatikan juga mempertahankan seorang lelaki yang tidak pantas mendapatkannya

Puisi ini bangun, dengan kata-katanya sendiri
untuk menidurkanku yang akhir-akhir ini rumit dengan banyak hal-hal sederhana


Selamat, kau baru saja menemukan kekasih baru yang juga mencintaimu
on 2.17.2014
Kepada suratku yang pernah kau baca tepat di sampingku yang sedang sembunyi di balik daun telingamu

Suatu hari, di kamarmu, kau sedang telanjang
tanpa ketuk, tanpa salam, aku masuk lewat cela pintumu
baring, membujurkan tubuh diantara guling putih dan tumpukan pakaian kotor
kau sedang menyelesaikan puisi ini

Kamar hening, Leonard Cohen dan lembut Haleluyah terdengar, pelan, berulang-ulang
saat kau sadar ada orang lain di kamar ini - dan aku mulai tahu kau terusik keberadaanku,
aku menyuling tubuhku menjadi air dan berjalan keluar lewat jendela.
jatuh di taman rumahmu
tepat di pot bunga kamboja
memilih menetap, tak beranjak

Tahun bergerak lambat
suatu malam yang gelisah, gigimu sakit dan kau tidak bisa tertidur
kau meludah di jendela, tepat mengenai punggungku yang telungkup
kau sadar, aku masih air yang pernah menyelinap ke kamarmu
tak pergi
tak mati

Lama, aku mengusik dirimu, diam-diam
aku ingat kisah pada lagu di bait kedua

“Raja Daud melihat Betseba, istri Uria, mandi, tubuhnya montok, dan telanjang
ia kemudian ingin bercinta dengannya
lalu menyuruh Uria pergi ke medan perang dan akhirnya terbunuh”

Aku bertahun-tahun mematikan rasa nyamanmu, seandainya kau tahu
dan saat aku telah pergi, kau masih merasa aku mungkin sedang bersembunyi di laci menjamu, di bawah ranjangmu, atau di dalam behamu.

Ah, maafkan aku Uria – aku begitu hijau melihat pelangi cinta
juga terima kasihku milik Leonard Cohen, kau membuatku tahu
jatuh cinta itu hal sederhana yang istimewa
dan kita tak perlu menjelma menjadi tuhan
on 2.16.2014
Tubuhmu baru saja bau tanah
hingga sepasang mata menahan anak panah
sekali kedip, pengincar hatimu patah
kata orang, dia peziarah dari musim langit
tapi, kau tidak butuh peziarah, rupanya
lalu mininggalkannya sendiri

Kini, kau lebih banyak menghabiskan waktu di dapur milik cemburuku
orang-orang mulai senang memberi nasehat
“jangan bermain api, jika tidak ingin terbakar”
pepatah yang mirip kisah kita itu mungkin benar - tapi mungkin juga salah

Jutaan tahun yang lalu, seorang lelaki gagal dilahap api
semenjak itu, saya percaya, ada api yang bertugas untuk menyejukkan
setidaknya, Ibrahim tidak mati dalam pembakaran Raja Namrud

Alasanmu meninggalkan peziarah itu kini disapa ayah oleh anak-anakmu
sedang aku, peziarah yang kau tinggalkan itu, baru berpikir menyelesaikan puisi ini
jangan baca dari bait kedua, sebab, mungkin kau hanya menjadikan
kisah Ibrahim sebagai mitos
tapi yakinlah, aku masih bait pertama yang setia
mengunjungi masa lalu kita

meski hanya mendapatkan patahan anak panah
on 2.15.2014
Aku menulis puisi ini saat kau sedang marah – aku hampir tidak mengenalmu
usahaku memadamkan api selalu gagal
kau tahu mengapa?
karena api hanya padam, ketika ia sudah tidak dibutuhkan
begitulah elak api, saat dituduh tak setia

Kemarin, di sebuah cafe yang tidak sunyi, aku membaca ramai puisi untukmu
ada lilin, menyala, sendiri, di mejamu
semakin dekat puisiku, semakin redup cahayanya
ia mungkin tahu, bahwa setiap kejujuran membutuhkan ketidakjujuran
entah, siapa yang mahir berbohong

“kita mungkin gagal memahami cinta
jika hanya mengandalkannya – kembalilah ke baris ketiga”

Bahkan, cupid yang bodoh itu selalu gagal memaknai cinta
kata seorang lelaki yang baru saja sadar, ia tidak dicintai kekasihnya

“saya tidak bisa menlanjutkan puisi ini
winter lady milik leonard cohen ternyata lebih jujur mengatakan dirinya
aku kalah, aku salah“


aku memang selalu menjadi baris kedua dalam puisi ini
on 2.13.2014

Pernah, sekali, seumur hidupku
aku mencintaimu
sejak itu, aku selalu gagal membuat sajak yang cantik untukmu – juga yang ini
pula, selalu berhasil tak mati
sampai tuhan, bosan memanggilku, pulang
dan aku mulai marah tiap tuhan menyebut namaku, berkali-kali

“kepada makam: kau tak pernah rela seorang lelaki yang kau cintai mati
meninggalkanmu, dan kau harus jatuh cinta lagi”

Masa lampau, kau begitu hebat membayangkan
cinta yang kita pikul adalah beban buruk yang gembira
menjelma menjadi twitter, pengeras suara, macet, atau apapun yang kita tak suka

Katamu, aku kekasih terbaik
seperti melihat bianglala, hanya karena kita di bumi
sedang hujan tipis, cahaya matahari, dan garis warna menyimpan rahasia
masing-masing tak pernah jujur kepada manusia
apakah memang mereka diciptakan untuk menipu mata kita
atau manusia memang senang menipu dirinya sendiri dengan keindahan
aku takut, kau sebenarnya hanya tertipu
kepada bianglala - juga diriku

Dalam sajak ini
aku ingin menjadi kata kedua pada bagian judul
lalu memasukkan makam dan bianglala ke ruang makan kita
menyantapnya menjadi tawa
aku ingin kau jujur melihatku
dari tempatku dan semua yang ada padaku
sebab kita hanya dapat berbohong semasa hidup

aku takut, kau memanfaatkannya untukku.
on 2.11.2014
Seperti mimpi buruk yang kerap datang terlambat
kau mempercayakan tidurmu pada kasur yang lembut
dibuat dari ratusan bulir keringat yang tidak kau kenal
“ia mengorbankan tidurnya agar kau senantiasa bahagia,
memaksa tubuhnya bekerja agar kau bisa beristirahat dengan nyaman”

Mimpi buruk itu kumpulan kantuk yang ditahan para pekerja
kali ini, dalam mimpimu, kau melihat puluhan juta gergaji
masuk ke dalam kepalamu yang sempit
memotong besar-besar otak kecilmu
gergaji itu mendorong biji matamu keluar, mirip pemain bola sodok
sengaja memasukkan bola besar ke dalam lubang kecil agar menjadi pememang
semakin kaumerasa ketakutan, semakin bahagia mimpi burukmu

Kau sangat mencintai tidur
sebab, hanya itu salah satu waktu yang dapat kau nikmati
-          tentu, selain bercinta dengan bosmu di kantor,
dan melayani suami orang yang istrinya juga sedang melayani orang lain

Meskipun mimpimu sangat buruk
kau tidak ingin terbangun dan memaksa tidurmu untuk betah
bertahan menutup matamu
sepejam-pejamnya, sekuat-kuatnya

Esok paginya, kau mandi dan kembali bekerja seperti biasa
yang terbayang di kepalamu hanya gaya seperti apa lagi yang akan bosmu gunakan hari ini
untuk memperkosa hari-hari indahmu

tapi, hari itu kau menolak
kau melepas seragam dan berjalan menuju gudang tua
tempat orang-orang menyucikan dirinya menjadi muda


Selamat, kau baru saja sadar dari mimpi burukmu
on 2.10.2014
Sebuah lagu terputar. Dengan senang hati, aku mendengarnya. Suara Pramoedya Ananta Toer mengawali lagu, “Pram adalah Pram. Pram adalah Pram.” Kalimat sederhana tapi membuatnya banyak menderita.
Pram kerap dituding sebagai komunis - juga PKI. Tapi, melalui lagu Catastrope yang berjudul Elegi Untuk Pramoedya Ananta Toer, kita diajak mengenal siapa Pram sebenarnya.
Jika membaca buku sejarah atau beberapa pranala yang ada di internet, kita akan mendapatkan beberapa informasi tentang Pram. Diantaranya, dia adalah aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), berhaluan komunis, dan pernah dipenjara belasan tahun pada masa Orde Baru.
Itu bukan lagi masalah yang perlu kita debatkan, toh masih ada ribuan orang yang juga bernasib sama dengan Pram. Dan sampai sekarang, belum ada pernyataan resmi negara untuk mengakui bahwa itu adalah kesalahan terindah yang pernah dilakukannya. Keji.

***

            Pramoedya Ananta Toer memang tidak bisa lagi dipisahkan dengan karyanya. Melintasi zaman dan terus bergerak menyadarkan banyak orang akan pentingnya mengetahui sejarah.
Seperti kebanyakan orang, kita kadang meletakkan Pram – juga karyanya, sebagai alternatif untuk mengenal sastra dan sejarah Indonesia. Ini membuat karya Pram seperti anak yang tidak diharapkan lahir, namun ternyata, pada masanya, ia berhasil menciptakan sebuah hegemoni.
Kerap kali, saya mendengar ungkapan dari teman-teman yang juga suka membaca karya Pram “buku itu tidak bagus, mending kamu baca Bumi Manusia, atau Anak Semua Bangsa, karya Pram”. Itu seperti ungkapan pemerintah, “beralihlah dari bensin bersubsidi ke pertamax.” Sama-sama menjadikan karya Pram dan pertamax sebagai alternatif.
Membuat orang tahu betapa pentingnya membaca karya Pram, bukan perkerjaan yang mudah, tapi juga tidak sulit. Seperti halnya orang tua yang menghegemoni anaknya dengan ungkapan, surga ada di telapak kaki ibu. Itu membuat banyak anak merasa harus berbakti lebih giat kepada ibu, jika ingin masuk surga.

***

            Saat diskusi mengenai Pram di halaman Kedai Buku Jenny, seorang teman mengatakan, bahwa pembaca Pram itu bukan hanya kalangan mahasiswa sastra, aktivis, atau orang-orang yang memang suka dengan Pram, tapi juga, mahasiswa ekonomi, hukum, bahkan kedokteran. Cukup beragam. Itu artinya, bahwa pembaca Pram sebenarnya cukup banyak, dan tidak bisa lagi dikatakan bacaan alternatif.
            Tapi, sampai sekarang, masih ada orang yang senang memperkenalkan karya Pram sebagai alternatif, seperti yang teman saya lakukan saat melihat temannya membaca teenlit, menyuruhnya untuk beralih membaca karya Pram.
            Sebagai pembaca, kita bukan diktator yang berkuasa memaksa orang lain membaca apa yang kita suka. Cukup memperkenalkan apa kenikmatan dan manfaat membaca Pram. Toh, sampai sekarang, orang-orang lebih senang membeli bensin bersubsidi, dari pada pertamax. Selain harganya murah, kita memang lebih senang menikmati subsidi. Begitupun dengan membaca, kita sebaiknya menikmati apa yang kita gemari. Bukan yang apa orang banyak baca. 

Selamat mencintai Pram – juga selamat ulang tahun kepadanya.
Kau senang menumbuhkan dirimu sendiri
menjadi puluhan pucuk surat yang manja
seperti deretan pelangi
setelah hujan, basah, dan hanya di langit

Katamu, kau suka mengunjungi rumah pesulap
melihatnya menipu matamu, menghabiskan waktumu, dan membantumu menjadi ajaib
simsalabim!

Tubuhmu sengaja menjadi pohon
membuahkan sakit hati
kau memang pendendam yang sopan
seolah mengerti perihal memutuskan
kapan waktu yang tepat menggugurkan daun, mematahkan ranting, dan memeluk tanah
mengizinkan sekelompok burung menyangkar
merawat anak-anaknya menjadi puluhan hal yang tak lazim kau lihat

Sebagai pohon, tubuhmu selalu bergetah setelah terluka
tahukah kau mengapa aku senang menyuburkan pohon di halamanku,
membuatnya terluka dan banyak meminum air sumur yang pernah kita gunakan membasuhi tubuh dan membasahi subuh
aku hendak mengundang dirimu untuk tumbuh
kembali menjadi pucuk surat yang manja
on 2.07.2014
Hujan jatuh. seorang kekasih kuyup di bawah langit
tubuhnya mencair, menjadi air seni, air sungai, luapan banjir, bensin, kuah bakso, juga darah
ia jatuh ke tanah, menggigil dan tak bisa lagi mengatakan
“aku mencintaimu” – tapi ia telah menghabiskan ribuan kata yang sama untukmu
ia tidak membiarkan siapapun menolongnya, kecuali kata
yang bibirmu tidak pernah menampungnya, juga menyimpannya
untuk seorang yang sedang meminta pertolongan kepada hujan

Kau mungkin kian dengki, wajahmu memerah, kesetanan sambil berkata
“aku juga mencintaimu, bodoh.
tapi aku sungguh membenci hujan, tempat kau kuyup
lihatlah, betapa menjijikkannya dirimu.”
tapi, di dalam engganmu yang raksasa, kau berbisik untuk telingamu sendiri
“sungguh, hujan juga membuatku semakin mencintaimu, semakin menginginkanmu. sangat”

Seperti belajar memahami perkataan orang-orang suci
mereka menyampaikannya dengan sederhana, berhutan, dan membunuh
kita mudah memahami, tapi lebih mudah tersesat di rimbunnya, hati-hati terbunuh

Kau memilih tidak pernah mengatakan perasaanmu
sedang gigil itu adalah panggilan telpon yang berdering, terus menerus.
ia butuh “halo”, bukan “tut, tut, tut,”
apa lagi, nomor yang anda hubungi sedang sibuk dengan orang lain, atau berada di luar jangkauan perasaanmu, tolong tinggalkan ia. mohon.

Seperti yang kau tulis dalam surat yang tidak pernah kau kirim kepadanya
kau juga mencintainya, tapi mata siapa yang bisa menjangkau laci mejamu
juga kobaran api, yang mengabukan kertas-kertas suratmu

ingat, aku pernah mengirim merapati ke rumahmu?
di sayap kirinya, aku menyimpan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang belum kau sampaikan kepadaku
bertanyalah kepadanya. ia baik hati dan juga bisa pergi kapan saja.


Makassar – Februari 2014
on 2.06.2014
Pintu masuk ke dalam tubuhmu terbentuk dari ribuan bingkai
tempat tubuhku kau pajang
terpasung 

“tersalip dengan luka di tubuh
kawat duri melingkari kepala
ia kesakitan, tapi tak meronta
tubuh berdarah, merah, dan bergetar”

Kau menjadikan siksaan sebagai arsip candaan
tintamu mata, kau menulis kemarahan dengan bahagia
mencambukku dengan campakan yang berbunga
sedang aku memeluk tubuhmu dengan cara menikmati kesakitan. sendiri

“Aku adalah tubuh terpasung yang tak pernah lelah
mencintaimu dengan tangan terpaku dan kepala berkawat duri”

Aku pelukan yang tak pernah kauizinkan
menyentuh longgar tubuhmu
sementara lenganku dengan setia terpaku
lebih dalam. sangat dalam. melekat di tubuhmu. tiap waktu.

Kau mengutukku tanpa sadar, seperti dongeng dari Ibu yang anaknya menjadi batu
tapi kebencian memang terbuat dari pelukan - jika kepalamu terus memikirnya, kau sulit melepasnya,
kini aku siapkan sebuah palung raksasa, pukullah hal buruk dalam tubuhku
semoga kau tidak – atau sedang – menyakiti dirimu sendiri.

Makassar - Februari 2014
on 1.30.2014
[sebuah catatan sederhana]


Dalam novel Imperium karya Robert Harris, Tokoh Marcus Tellius Cicero adalah pengacara yang berani menggugat pemangku jabatan gubernur Roma, Verres. Korupsi yang dilakukan gubernur itu memang keterlaluan, ia tega memiskinkan banyak penduduk kota.
Kisah dimulai ketika Tiro, sekretaris pribadi senator Romawi, Marcus Tullius Cicero, membuka pintu pada suatu hari bulan november yang dingin dan menemukan seorang pria tua yang ketakutan, penduduk Sisilia yang menjadi korban perampokan gubernur Romawi korup, Verres. Orang itu meminta Cicero mewakilinya menuntut sang gubernur. Namun, bagaimana seorang senator yang tidak kaya, tak dikenal, bahkan dibenci kaum aristokrat, dapat memulai tuntutan terhadap seorang gubernur Romawi yang kejam dan memiliki pendukung di tempat tinggi?

***

           Fakultas kita saat ini mengalami krisis kepercayaan. Dekan yang memimpin telah mencoreng statuta Universitas Hasanuddin, seperti itulah yang diungkapkan Guru Besar Fakultas Sastra, Prof. Dr. H. Muhammad Darwis, MS dalam orasinya di depan Gedung Mattulada, bersama beberapa dosen yang kecewa melihat Fakultas Sastra saat ini.
           
on 1.26.2014

Mimpi buruk yang menyenangkan. Semalam saya diserang mimpi buruk dalam tidurku. Lagi-lagi tentang kematian. Entah ini mimpi yang keberapa. Latarnya selalu sama, sebuah kota yang semoga bukan kota Makassar. Kota itu diserang segerombolan penjahat dan membunuh orang-orang. Posisi saya selalu terjebak diantara kerusuhan namun selalu berhasil lolos.

Yang selalu hadir dalam mimpi saya adalah orang-orang yang sangat saya kenal. Orang tuaku, sahabat, kekasih, bahkan pernah sekali presiden esbeye. Melihat tubuh mereka digantung, saya sedih dan harus berpikir bagaimana menyelamatkan diri, juga kotaku.

Saya merasa mimpi buruk itu menolong saya. Setidaknya memberi rasa resah dan berhasil membangunkan saya dari tidur. Namun saya berterima kasih kepada mimpi buruk itu, setidaknya saya bisa melihat betapa cintaiku kepada orang-orang – yang dalam mimpi saya – terbunuh.


[refleksi sederhana]

Keindahan sebuah kota terasa dari serapi apa pemerintah menata bangunannya. Tata ruang yang bagus menghasilkan sebuah sistem pemerintahan yang bagus pula. Kedua hal tersebut saling berkaitan dalam sistem pemerintahan.
Selain mengatur tata ruang, pemerintah juga menyediakan ruang publik yang layak untuk masyarakat. Misalnya, di Kota Makassar ada Lapangan Karebosi yang menjadi tempat orang-orang yang gemar olahraga, Gedung Kesenian, tempat para seniman – atau mungkin juga orang-orang yang senang dengan dunia seni – berkumpul dan berdiskusi bersama.
Sejatinya, ruang publik menjadi tempat yang dimanfaatkan oleh orang-orang untuk membangun pemahaman dan bertukar gagasan. Ruang publik menjadi penting bagi sebuah kelompok, sebab dari ruang itulah mereka dapat membicarakan masalah-masalahnya.
Keputusan politik lahir dari ruang publik. Ruang itu pula dapat memengaruhi kebijakan-kebijakan politik pada masyarakat.
***
Fakultas Sastra adalah sebuah komunitas besar. Melingkupi sebuah organ tersendiri dalam kampus Universitas Hasanuddin. Organ ini terbagi lagi, ada yang bertindak sebagai dosen dan ada pula yang menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa.
Maka dosen harus punya ruang publik tersendiri, begitupun mahasiswa. Sebab, di dalam kampus,  dosen dan mahasiswa adalah organ yang menjalankan peranan yang berbeda. Dosen tidak boleh masuk ke dalam ruang privat mahasiswa meskipun tetap dapat bertukar gagasan di ruang publik Fakultas Sastra.
Layaknya penghangat di rumah-rumah eropa yang memiliki perapian. Maka ruang privat adalah ruang perapian sedangkan corong yang mengeluarkan asap dari atap itu adalah ruang publik. Publik tetap bisa melihat asap yang keluar dari perapian tanpa perlu tahu seperti apa ruang perapian yang ada di dalam.
Mahasiswa diwakili oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) – atau di sastra di kenal juga dengan nama KMFS-UH - badan ini menjadi corong yang mewakili mahasiswa Fakultas Sastra pada tataran yang lebih luas dan yang lebih tinggi.
BEM KMFS UH seharusnya memunyai ruang privat tersendiri. Orang-orang yang ada di dalamnya adalah kumpulan ide yang harus saling bertukar. Bersirkulasi satu sama lain.
Pertanyaan yang patut kita hadirkan adalah, dimana ruang privat serta ruang publik keluarga mahasiswa kita?. Sebuah jawaban sederhana tentu akan keluar dari mulut para mahasiswa; Himpunan, BEM, MAPERWA, dan UKM adalah ruang privat yang memiliki fungsinya masing-masing. Lantas ruang publik kita di mana?. Jawabannya koridor yang kini dijadikan lahar parkir.
Sejak dulu, tempat itu adalah sarana yang mampu mempertemukan warga KMFS. Biasa dimanfaatkan sebagai tempat diskusi, pemutaran film, atau tempat untuk mengadakan rapat warga.
Perubahan fungsi itu bisa saja terjadi akibat dua hal, pertama adalah kurangnya kegiatan pada tataran fakultas maupun himpunan yang memanfaatkan “Parkiran” tersebut. Kedua, akibat rasa tidak aman di dalam kampus yang menyebabkan para mahasiswa memarkir motornya di koridor. Beberapa kejadian pencurian motor memang cukup meresahkan bagi mahasiswa.

***
Menjadikan koridor sebagai lahan parkir merupakan sebuah budaya yang akan terus berlanjut jika tidak diatur lebih baik lagi. Hilangnya ruang publik yang memiliki posisi penting dari perjuangan kawan-kawan mahasiswa di Fakultas Sastra memang merugikan. Siapa yang bisa tahu jika suatu saat nanti kepingan sejarah fakultas kita akan hilang. Tempat yang dulunya digunakan untuk konsolidasi atau diskusi berubah menjadi lahan parkir.
Semoga BEM KMFS-UH melihat ini sebagai sebuah masalah dan menemukan jalan keluarnya. Salah satunya mungkin dengan; motor hanya bisa diparkir selain di koridor tersebut!


Makassar – Januari 2014
on 1.19.2014
Seperti kerata api yang lincah berhenti di stasiun
tiap telingamu mendengar derap kaki, kau selalu membuka pintu 
meski hanya desis angin ribut yang mengacak-acak halamanmu
menerbangkan ranting patah, daun-daun, juga pembungkus plastik
yang sengaja kau letakkan di kiri pot bunga kamboja terasmu
kau menunggu seorang penumpang yang kau yakini pasti

Seorang lelaki muda
berjubah hitam dan mengenakan topi seniman yang kau temui di pasar malam
ia berjanji akan datang ke rumahmu membawa kopi
juga puisi-puisi yang ingin kau dengar ia bacakan untukmu
membawamu masuk ke dalam dunia yang tak kau kenal
sama sekali

Ini hari kesembilan kau menantinya
seorang lelaki aneh yang menarikmu ke sebuah lengkungan negeri yang jauh
membuatmu merasa berarti
kau selalu menyimpan selusin pembenaran atas ketidakdatangannya
“mungkin ia sedang tersesat, atau menghadapi masalah besar”
kau meyakininya seperti sarang merapati
selalu percaya bahwa pemiliknya pasti akan kembali

Namun penungguanmu tidak salah
lelaki itu datang bersama seorang perempuan
itu jarinya bercincin sama, sedang saat itu kau butuh teman untuk bercinta - juga bercerita
melampiaskan banyak hari dalam hidupmu yang bukan kebahagiaan
itu menyakitkan, luapanya membuatmu berlari ke dapur
membawa dirimu ke dalam dunia yang tak kau inginkan

“sebenarnya, aku hanya menunggu pisau untuk diriku”
katamu sambil mencocokkan tulang rusukmu dan sebilah pisau dapur yang merah

Makassar – Januari 2014
anak itu buah hati
oleh-oleh itu buah tangan
gosip itu buah bibir

khuldi itu buah dada
laso itu buah zakar

"lihatlah betapa mudahnya mengungkapkan"
tapi manusia memang senang berbibir manis!

on 1.17.2014
Edi Tansil itu lima koma tiga trilyun rupiah
Bob Hasan itu lima belas trilyun rupiah
Ginanjar Kartasasmita itu empat trilyun rupiah
Nazaruddin itu enam trilyun rupiah
Soeharto, tidak ternilai rupiahnya

Tapi di atas semua itu
hanya Anas yang siap digantung di Monas

"barangkali, negaraku memang dibuat dari kumpulan rupiah 
yang di pinang menjaid garuda"
Makassar 2014
on 1.16.2014
Aku kerap membayangkan wajahmu adalah dua buah dada yang terjangkit kanker
stadium wafat
sedang aku adalah seorang oda yang diasingkan oleh orang-orang

Tak usah kau takar sakitnya
bukankah kita pernah bersepakat untuk mencintai tanpa harus bercinta?
lalu apa guna kemaluan kita, tanyamu  dengan menanggalkan pakaian
memperlihatkan dua buah dada yang penuh luka
puting tak lagi layak disebut puting
tapi sungguh kekasihku, itu masih sangat indha untukku

Apakah aku harus menyiapkan tumpukan kondom agar oda ini tidak tertular,
tapi aku ingat, menyiumpun akan menularkan penyakit aneh ini
lalu apa nikmat sebuah hubungan badan jika tak berciuman?
atau kita hanya bertelanjang badan dan membiarkan para mani keluar dengan sendirinya
tidak, aku tidak ingin oda ini tertular kepadamu

25 tahun berlalu

Kini kita sudah tua, aku tetap dengan odaku dan kau masih setia dengan kankermu
kita kian larut menikmati cibir orang-orang yang keluar dari bibirnya
menjadi limbah pada perasaan kita
menghujat penyakit yang kita bahkan sudah lupa jika kita ini penganut sebuah agama penyakit

Kita sudah merawat luka sampai sejauh ini
menikmatinya setiap detik
seperti para pengukur sudut yang kerap membawa  teodolit
terima kasih telah menyiapkan satu masa yang panjang untuk tetap menjadi kanker untukku


Makassar – Januari 2014

2.18.2014

Tutup Buku

Diposting oleh Unknown di 07.05 0 komentar
Tujuh jam yang lalu – kurang lebih
terakhir kali kita berhubungan
hanya lewat media sosial
yang akhir-akhir ini jarang aku manfaatkan

Buku-buku dan belajar menulis
mengurangi jarak kita menjadi jauh
hape pintarmu cukup menjadi bukti
kita hanya menghabiskan tekanan jari dengan ucapan selamat pagi yang hampa
lalu aku kembali tidur
dan kau sibuk menelponku agar mengikuti mata kuliah leksikografi yang membosankan

Bintang kuning membawa kita pada haleluyah
dan hal-hal yang mengusik perasaan
puisi itu memang tentang betapa aku merasa menjadi benalu
setidaknya, hanya menghabiskan waktumu
untuk memperhatikan juga mempertahankan seorang lelaki yang tidak pantas mendapatkannya

Puisi ini bangun, dengan kata-katanya sendiri
untuk menidurkanku yang akhir-akhir ini rumit dengan banyak hal-hal sederhana


Selamat, kau baru saja menemukan kekasih baru yang juga mencintaimu

2.17.2014

Haleluyah dan Aku yang Senang Mengusikmu Diam-diam

Diposting oleh Unknown di 21.03 0 komentar
Kepada suratku yang pernah kau baca tepat di sampingku yang sedang sembunyi di balik daun telingamu

Suatu hari, di kamarmu, kau sedang telanjang
tanpa ketuk, tanpa salam, aku masuk lewat cela pintumu
baring, membujurkan tubuh diantara guling putih dan tumpukan pakaian kotor
kau sedang menyelesaikan puisi ini

Kamar hening, Leonard Cohen dan lembut Haleluyah terdengar, pelan, berulang-ulang
saat kau sadar ada orang lain di kamar ini - dan aku mulai tahu kau terusik keberadaanku,
aku menyuling tubuhku menjadi air dan berjalan keluar lewat jendela.
jatuh di taman rumahmu
tepat di pot bunga kamboja
memilih menetap, tak beranjak

Tahun bergerak lambat
suatu malam yang gelisah, gigimu sakit dan kau tidak bisa tertidur
kau meludah di jendela, tepat mengenai punggungku yang telungkup
kau sadar, aku masih air yang pernah menyelinap ke kamarmu
tak pergi
tak mati

Lama, aku mengusik dirimu, diam-diam
aku ingat kisah pada lagu di bait kedua

“Raja Daud melihat Betseba, istri Uria, mandi, tubuhnya montok, dan telanjang
ia kemudian ingin bercinta dengannya
lalu menyuruh Uria pergi ke medan perang dan akhirnya terbunuh”

Aku bertahun-tahun mematikan rasa nyamanmu, seandainya kau tahu
dan saat aku telah pergi, kau masih merasa aku mungkin sedang bersembunyi di laci menjamu, di bawah ranjangmu, atau di dalam behamu.

Ah, maafkan aku Uria – aku begitu hijau melihat pelangi cinta
juga terima kasihku milik Leonard Cohen, kau membuatku tahu
jatuh cinta itu hal sederhana yang istimewa
dan kita tak perlu menjelma menjadi tuhan

2.16.2014

Peziarah dan Anak Panah

Diposting oleh Unknown di 05.00 0 komentar
Tubuhmu baru saja bau tanah
hingga sepasang mata menahan anak panah
sekali kedip, pengincar hatimu patah
kata orang, dia peziarah dari musim langit
tapi, kau tidak butuh peziarah, rupanya
lalu mininggalkannya sendiri

Kini, kau lebih banyak menghabiskan waktu di dapur milik cemburuku
orang-orang mulai senang memberi nasehat
“jangan bermain api, jika tidak ingin terbakar”
pepatah yang mirip kisah kita itu mungkin benar - tapi mungkin juga salah

Jutaan tahun yang lalu, seorang lelaki gagal dilahap api
semenjak itu, saya percaya, ada api yang bertugas untuk menyejukkan
setidaknya, Ibrahim tidak mati dalam pembakaran Raja Namrud

Alasanmu meninggalkan peziarah itu kini disapa ayah oleh anak-anakmu
sedang aku, peziarah yang kau tinggalkan itu, baru berpikir menyelesaikan puisi ini
jangan baca dari bait kedua, sebab, mungkin kau hanya menjadikan
kisah Ibrahim sebagai mitos
tapi yakinlah, aku masih bait pertama yang setia
mengunjungi masa lalu kita

meski hanya mendapatkan patahan anak panah

2.15.2014

Winter Lady dan Keinginanku Bertanya kepada Leonard Cohen

Diposting oleh Unknown di 06.15 0 komentar
Aku menulis puisi ini saat kau sedang marah – aku hampir tidak mengenalmu
usahaku memadamkan api selalu gagal
kau tahu mengapa?
karena api hanya padam, ketika ia sudah tidak dibutuhkan
begitulah elak api, saat dituduh tak setia

Kemarin, di sebuah cafe yang tidak sunyi, aku membaca ramai puisi untukmu
ada lilin, menyala, sendiri, di mejamu
semakin dekat puisiku, semakin redup cahayanya
ia mungkin tahu, bahwa setiap kejujuran membutuhkan ketidakjujuran
entah, siapa yang mahir berbohong

“kita mungkin gagal memahami cinta
jika hanya mengandalkannya – kembalilah ke baris ketiga”

Bahkan, cupid yang bodoh itu selalu gagal memaknai cinta
kata seorang lelaki yang baru saja sadar, ia tidak dicintai kekasihnya

“saya tidak bisa menlanjutkan puisi ini
winter lady milik leonard cohen ternyata lebih jujur mengatakan dirinya
aku kalah, aku salah“


aku memang selalu menjadi baris kedua dalam puisi ini

2.13.2014

Bianglala, Rumah, dan Perempuan yang Enggan Jatuh Cinta Kepada Makam

Diposting oleh Unknown di 20.33 0 komentar

Pernah, sekali, seumur hidupku
aku mencintaimu
sejak itu, aku selalu gagal membuat sajak yang cantik untukmu – juga yang ini
pula, selalu berhasil tak mati
sampai tuhan, bosan memanggilku, pulang
dan aku mulai marah tiap tuhan menyebut namaku, berkali-kali

“kepada makam: kau tak pernah rela seorang lelaki yang kau cintai mati
meninggalkanmu, dan kau harus jatuh cinta lagi”

Masa lampau, kau begitu hebat membayangkan
cinta yang kita pikul adalah beban buruk yang gembira
menjelma menjadi twitter, pengeras suara, macet, atau apapun yang kita tak suka

Katamu, aku kekasih terbaik
seperti melihat bianglala, hanya karena kita di bumi
sedang hujan tipis, cahaya matahari, dan garis warna menyimpan rahasia
masing-masing tak pernah jujur kepada manusia
apakah memang mereka diciptakan untuk menipu mata kita
atau manusia memang senang menipu dirinya sendiri dengan keindahan
aku takut, kau sebenarnya hanya tertipu
kepada bianglala - juga diriku

Dalam sajak ini
aku ingin menjadi kata kedua pada bagian judul
lalu memasukkan makam dan bianglala ke ruang makan kita
menyantapnya menjadi tawa
aku ingin kau jujur melihatku
dari tempatku dan semua yang ada padaku
sebab kita hanya dapat berbohong semasa hidup

aku takut, kau memanfaatkannya untukku.

2.11.2014

Pegawai Bank dan Mimpi Buruk Nakal yang Menyadarkanmu

Diposting oleh Unknown di 02.01 0 komentar
Seperti mimpi buruk yang kerap datang terlambat
kau mempercayakan tidurmu pada kasur yang lembut
dibuat dari ratusan bulir keringat yang tidak kau kenal
“ia mengorbankan tidurnya agar kau senantiasa bahagia,
memaksa tubuhnya bekerja agar kau bisa beristirahat dengan nyaman”

Mimpi buruk itu kumpulan kantuk yang ditahan para pekerja
kali ini, dalam mimpimu, kau melihat puluhan juta gergaji
masuk ke dalam kepalamu yang sempit
memotong besar-besar otak kecilmu
gergaji itu mendorong biji matamu keluar, mirip pemain bola sodok
sengaja memasukkan bola besar ke dalam lubang kecil agar menjadi pememang
semakin kaumerasa ketakutan, semakin bahagia mimpi burukmu

Kau sangat mencintai tidur
sebab, hanya itu salah satu waktu yang dapat kau nikmati
-          tentu, selain bercinta dengan bosmu di kantor,
dan melayani suami orang yang istrinya juga sedang melayani orang lain

Meskipun mimpimu sangat buruk
kau tidak ingin terbangun dan memaksa tidurmu untuk betah
bertahan menutup matamu
sepejam-pejamnya, sekuat-kuatnya

Esok paginya, kau mandi dan kembali bekerja seperti biasa
yang terbayang di kepalamu hanya gaya seperti apa lagi yang akan bosmu gunakan hari ini
untuk memperkosa hari-hari indahmu

tapi, hari itu kau menolak
kau melepas seragam dan berjalan menuju gudang tua
tempat orang-orang menyucikan dirinya menjadi muda


Selamat, kau baru saja sadar dari mimpi burukmu

2.10.2014

Pramoedya Ananta Toer dan Kegemaran Orang-orang Menikmati Bensin Bersubsidi

Diposting oleh Unknown di 23.35 0 komentar
Sebuah lagu terputar. Dengan senang hati, aku mendengarnya. Suara Pramoedya Ananta Toer mengawali lagu, “Pram adalah Pram. Pram adalah Pram.” Kalimat sederhana tapi membuatnya banyak menderita.
Pram kerap dituding sebagai komunis - juga PKI. Tapi, melalui lagu Catastrope yang berjudul Elegi Untuk Pramoedya Ananta Toer, kita diajak mengenal siapa Pram sebenarnya.
Jika membaca buku sejarah atau beberapa pranala yang ada di internet, kita akan mendapatkan beberapa informasi tentang Pram. Diantaranya, dia adalah aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), berhaluan komunis, dan pernah dipenjara belasan tahun pada masa Orde Baru.
Itu bukan lagi masalah yang perlu kita debatkan, toh masih ada ribuan orang yang juga bernasib sama dengan Pram. Dan sampai sekarang, belum ada pernyataan resmi negara untuk mengakui bahwa itu adalah kesalahan terindah yang pernah dilakukannya. Keji.

***

            Pramoedya Ananta Toer memang tidak bisa lagi dipisahkan dengan karyanya. Melintasi zaman dan terus bergerak menyadarkan banyak orang akan pentingnya mengetahui sejarah.
Seperti kebanyakan orang, kita kadang meletakkan Pram – juga karyanya, sebagai alternatif untuk mengenal sastra dan sejarah Indonesia. Ini membuat karya Pram seperti anak yang tidak diharapkan lahir, namun ternyata, pada masanya, ia berhasil menciptakan sebuah hegemoni.
Kerap kali, saya mendengar ungkapan dari teman-teman yang juga suka membaca karya Pram “buku itu tidak bagus, mending kamu baca Bumi Manusia, atau Anak Semua Bangsa, karya Pram”. Itu seperti ungkapan pemerintah, “beralihlah dari bensin bersubsidi ke pertamax.” Sama-sama menjadikan karya Pram dan pertamax sebagai alternatif.
Membuat orang tahu betapa pentingnya membaca karya Pram, bukan perkerjaan yang mudah, tapi juga tidak sulit. Seperti halnya orang tua yang menghegemoni anaknya dengan ungkapan, surga ada di telapak kaki ibu. Itu membuat banyak anak merasa harus berbakti lebih giat kepada ibu, jika ingin masuk surga.

***

            Saat diskusi mengenai Pram di halaman Kedai Buku Jenny, seorang teman mengatakan, bahwa pembaca Pram itu bukan hanya kalangan mahasiswa sastra, aktivis, atau orang-orang yang memang suka dengan Pram, tapi juga, mahasiswa ekonomi, hukum, bahkan kedokteran. Cukup beragam. Itu artinya, bahwa pembaca Pram sebenarnya cukup banyak, dan tidak bisa lagi dikatakan bacaan alternatif.
            Tapi, sampai sekarang, masih ada orang yang senang memperkenalkan karya Pram sebagai alternatif, seperti yang teman saya lakukan saat melihat temannya membaca teenlit, menyuruhnya untuk beralih membaca karya Pram.
            Sebagai pembaca, kita bukan diktator yang berkuasa memaksa orang lain membaca apa yang kita suka. Cukup memperkenalkan apa kenikmatan dan manfaat membaca Pram. Toh, sampai sekarang, orang-orang lebih senang membeli bensin bersubsidi, dari pada pertamax. Selain harganya murah, kita memang lebih senang menikmati subsidi. Begitupun dengan membaca, kita sebaiknya menikmati apa yang kita gemari. Bukan yang apa orang banyak baca. 

Selamat mencintai Pram – juga selamat ulang tahun kepadanya.

Pucuk Surat, Tubuh Pohon, dan Pesulap yang Mahir Menyamarkan Lukamu

Diposting oleh Unknown di 04.36 0 komentar
Kau senang menumbuhkan dirimu sendiri
menjadi puluhan pucuk surat yang manja
seperti deretan pelangi
setelah hujan, basah, dan hanya di langit

Katamu, kau suka mengunjungi rumah pesulap
melihatnya menipu matamu, menghabiskan waktumu, dan membantumu menjadi ajaib
simsalabim!

Tubuhmu sengaja menjadi pohon
membuahkan sakit hati
kau memang pendendam yang sopan
seolah mengerti perihal memutuskan
kapan waktu yang tepat menggugurkan daun, mematahkan ranting, dan memeluk tanah
mengizinkan sekelompok burung menyangkar
merawat anak-anaknya menjadi puluhan hal yang tak lazim kau lihat

Sebagai pohon, tubuhmu selalu bergetah setelah terluka
tahukah kau mengapa aku senang menyuburkan pohon di halamanku,
membuatnya terluka dan banyak meminum air sumur yang pernah kita gunakan membasuhi tubuh dan membasahi subuh
aku hendak mengundang dirimu untuk tumbuh
kembali menjadi pucuk surat yang manja

2.07.2014

Perkara Hujan, Orang-orang Suci, dan Gagang Telpon yang Menyakitkan

Diposting oleh Unknown di 21.50 0 komentar
Hujan jatuh. seorang kekasih kuyup di bawah langit
tubuhnya mencair, menjadi air seni, air sungai, luapan banjir, bensin, kuah bakso, juga darah
ia jatuh ke tanah, menggigil dan tak bisa lagi mengatakan
“aku mencintaimu” – tapi ia telah menghabiskan ribuan kata yang sama untukmu
ia tidak membiarkan siapapun menolongnya, kecuali kata
yang bibirmu tidak pernah menampungnya, juga menyimpannya
untuk seorang yang sedang meminta pertolongan kepada hujan

Kau mungkin kian dengki, wajahmu memerah, kesetanan sambil berkata
“aku juga mencintaimu, bodoh.
tapi aku sungguh membenci hujan, tempat kau kuyup
lihatlah, betapa menjijikkannya dirimu.”
tapi, di dalam engganmu yang raksasa, kau berbisik untuk telingamu sendiri
“sungguh, hujan juga membuatku semakin mencintaimu, semakin menginginkanmu. sangat”

Seperti belajar memahami perkataan orang-orang suci
mereka menyampaikannya dengan sederhana, berhutan, dan membunuh
kita mudah memahami, tapi lebih mudah tersesat di rimbunnya, hati-hati terbunuh

Kau memilih tidak pernah mengatakan perasaanmu
sedang gigil itu adalah panggilan telpon yang berdering, terus menerus.
ia butuh “halo”, bukan “tut, tut, tut,”
apa lagi, nomor yang anda hubungi sedang sibuk dengan orang lain, atau berada di luar jangkauan perasaanmu, tolong tinggalkan ia. mohon.

Seperti yang kau tulis dalam surat yang tidak pernah kau kirim kepadanya
kau juga mencintainya, tapi mata siapa yang bisa menjangkau laci mejamu
juga kobaran api, yang mengabukan kertas-kertas suratmu

ingat, aku pernah mengirim merapati ke rumahmu?
di sayap kirinya, aku menyimpan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang belum kau sampaikan kepadaku
bertanyalah kepadanya. ia baik hati dan juga bisa pergi kapan saja.


Makassar – Februari 2014

2.06.2014

Kelak, Bencilah Aku dengan Membiarkan Tubuhku Memelukmu

Diposting oleh Unknown di 08.05 1 komentar
Pintu masuk ke dalam tubuhmu terbentuk dari ribuan bingkai
tempat tubuhku kau pajang
terpasung 

“tersalip dengan luka di tubuh
kawat duri melingkari kepala
ia kesakitan, tapi tak meronta
tubuh berdarah, merah, dan bergetar”

Kau menjadikan siksaan sebagai arsip candaan
tintamu mata, kau menulis kemarahan dengan bahagia
mencambukku dengan campakan yang berbunga
sedang aku memeluk tubuhmu dengan cara menikmati kesakitan. sendiri

“Aku adalah tubuh terpasung yang tak pernah lelah
mencintaimu dengan tangan terpaku dan kepala berkawat duri”

Aku pelukan yang tak pernah kauizinkan
menyentuh longgar tubuhmu
sementara lenganku dengan setia terpaku
lebih dalam. sangat dalam. melekat di tubuhmu. tiap waktu.

Kau mengutukku tanpa sadar, seperti dongeng dari Ibu yang anaknya menjadi batu
tapi kebencian memang terbuat dari pelukan - jika kepalamu terus memikirnya, kau sulit melepasnya,
kini aku siapkan sebuah palung raksasa, pukullah hal buruk dalam tubuhku
semoga kau tidak – atau sedang – menyakiti dirimu sendiri.

Makassar - Februari 2014

1.30.2014

Cicero, Lembaga Mahasiswa, dan guru Besar yang Turun Aksi

Diposting oleh Unknown di 19.15 0 komentar
[sebuah catatan sederhana]


Dalam novel Imperium karya Robert Harris, Tokoh Marcus Tellius Cicero adalah pengacara yang berani menggugat pemangku jabatan gubernur Roma, Verres. Korupsi yang dilakukan gubernur itu memang keterlaluan, ia tega memiskinkan banyak penduduk kota.
Kisah dimulai ketika Tiro, sekretaris pribadi senator Romawi, Marcus Tullius Cicero, membuka pintu pada suatu hari bulan november yang dingin dan menemukan seorang pria tua yang ketakutan, penduduk Sisilia yang menjadi korban perampokan gubernur Romawi korup, Verres. Orang itu meminta Cicero mewakilinya menuntut sang gubernur. Namun, bagaimana seorang senator yang tidak kaya, tak dikenal, bahkan dibenci kaum aristokrat, dapat memulai tuntutan terhadap seorang gubernur Romawi yang kejam dan memiliki pendukung di tempat tinggi?

***

           Fakultas kita saat ini mengalami krisis kepercayaan. Dekan yang memimpin telah mencoreng statuta Universitas Hasanuddin, seperti itulah yang diungkapkan Guru Besar Fakultas Sastra, Prof. Dr. H. Muhammad Darwis, MS dalam orasinya di depan Gedung Mattulada, bersama beberapa dosen yang kecewa melihat Fakultas Sastra saat ini.
           

1.26.2014

Kota yang Dijarah dan Mimpi Buruk

Diposting oleh Unknown di 23.35 0 komentar

Mimpi buruk yang menyenangkan. Semalam saya diserang mimpi buruk dalam tidurku. Lagi-lagi tentang kematian. Entah ini mimpi yang keberapa. Latarnya selalu sama, sebuah kota yang semoga bukan kota Makassar. Kota itu diserang segerombolan penjahat dan membunuh orang-orang. Posisi saya selalu terjebak diantara kerusuhan namun selalu berhasil lolos.

Yang selalu hadir dalam mimpi saya adalah orang-orang yang sangat saya kenal. Orang tuaku, sahabat, kekasih, bahkan pernah sekali presiden esbeye. Melihat tubuh mereka digantung, saya sedih dan harus berpikir bagaimana menyelamatkan diri, juga kotaku.

Saya merasa mimpi buruk itu menolong saya. Setidaknya memberi rasa resah dan berhasil membangunkan saya dari tidur. Namun saya berterima kasih kepada mimpi buruk itu, setidaknya saya bisa melihat betapa cintaiku kepada orang-orang – yang dalam mimpi saya – terbunuh.


Perapian dan Ruang Publik

Diposting oleh Unknown di 22.00 0 komentar
[refleksi sederhana]

Keindahan sebuah kota terasa dari serapi apa pemerintah menata bangunannya. Tata ruang yang bagus menghasilkan sebuah sistem pemerintahan yang bagus pula. Kedua hal tersebut saling berkaitan dalam sistem pemerintahan.
Selain mengatur tata ruang, pemerintah juga menyediakan ruang publik yang layak untuk masyarakat. Misalnya, di Kota Makassar ada Lapangan Karebosi yang menjadi tempat orang-orang yang gemar olahraga, Gedung Kesenian, tempat para seniman – atau mungkin juga orang-orang yang senang dengan dunia seni – berkumpul dan berdiskusi bersama.
Sejatinya, ruang publik menjadi tempat yang dimanfaatkan oleh orang-orang untuk membangun pemahaman dan bertukar gagasan. Ruang publik menjadi penting bagi sebuah kelompok, sebab dari ruang itulah mereka dapat membicarakan masalah-masalahnya.
Keputusan politik lahir dari ruang publik. Ruang itu pula dapat memengaruhi kebijakan-kebijakan politik pada masyarakat.
***
Fakultas Sastra adalah sebuah komunitas besar. Melingkupi sebuah organ tersendiri dalam kampus Universitas Hasanuddin. Organ ini terbagi lagi, ada yang bertindak sebagai dosen dan ada pula yang menjalankan kewajiban sebagai mahasiswa.
Maka dosen harus punya ruang publik tersendiri, begitupun mahasiswa. Sebab, di dalam kampus,  dosen dan mahasiswa adalah organ yang menjalankan peranan yang berbeda. Dosen tidak boleh masuk ke dalam ruang privat mahasiswa meskipun tetap dapat bertukar gagasan di ruang publik Fakultas Sastra.
Layaknya penghangat di rumah-rumah eropa yang memiliki perapian. Maka ruang privat adalah ruang perapian sedangkan corong yang mengeluarkan asap dari atap itu adalah ruang publik. Publik tetap bisa melihat asap yang keluar dari perapian tanpa perlu tahu seperti apa ruang perapian yang ada di dalam.
Mahasiswa diwakili oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) – atau di sastra di kenal juga dengan nama KMFS-UH - badan ini menjadi corong yang mewakili mahasiswa Fakultas Sastra pada tataran yang lebih luas dan yang lebih tinggi.
BEM KMFS UH seharusnya memunyai ruang privat tersendiri. Orang-orang yang ada di dalamnya adalah kumpulan ide yang harus saling bertukar. Bersirkulasi satu sama lain.
Pertanyaan yang patut kita hadirkan adalah, dimana ruang privat serta ruang publik keluarga mahasiswa kita?. Sebuah jawaban sederhana tentu akan keluar dari mulut para mahasiswa; Himpunan, BEM, MAPERWA, dan UKM adalah ruang privat yang memiliki fungsinya masing-masing. Lantas ruang publik kita di mana?. Jawabannya koridor yang kini dijadikan lahar parkir.
Sejak dulu, tempat itu adalah sarana yang mampu mempertemukan warga KMFS. Biasa dimanfaatkan sebagai tempat diskusi, pemutaran film, atau tempat untuk mengadakan rapat warga.
Perubahan fungsi itu bisa saja terjadi akibat dua hal, pertama adalah kurangnya kegiatan pada tataran fakultas maupun himpunan yang memanfaatkan “Parkiran” tersebut. Kedua, akibat rasa tidak aman di dalam kampus yang menyebabkan para mahasiswa memarkir motornya di koridor. Beberapa kejadian pencurian motor memang cukup meresahkan bagi mahasiswa.

***
Menjadikan koridor sebagai lahan parkir merupakan sebuah budaya yang akan terus berlanjut jika tidak diatur lebih baik lagi. Hilangnya ruang publik yang memiliki posisi penting dari perjuangan kawan-kawan mahasiswa di Fakultas Sastra memang merugikan. Siapa yang bisa tahu jika suatu saat nanti kepingan sejarah fakultas kita akan hilang. Tempat yang dulunya digunakan untuk konsolidasi atau diskusi berubah menjadi lahan parkir.
Semoga BEM KMFS-UH melihat ini sebagai sebuah masalah dan menemukan jalan keluarnya. Salah satunya mungkin dengan; motor hanya bisa diparkir selain di koridor tersebut!


Makassar – Januari 2014

1.19.2014

Perempuan yang Menunggu Mata Pisau

Diposting oleh Unknown di 23.18 0 komentar
Seperti kerata api yang lincah berhenti di stasiun
tiap telingamu mendengar derap kaki, kau selalu membuka pintu 
meski hanya desis angin ribut yang mengacak-acak halamanmu
menerbangkan ranting patah, daun-daun, juga pembungkus plastik
yang sengaja kau letakkan di kiri pot bunga kamboja terasmu
kau menunggu seorang penumpang yang kau yakini pasti

Seorang lelaki muda
berjubah hitam dan mengenakan topi seniman yang kau temui di pasar malam
ia berjanji akan datang ke rumahmu membawa kopi
juga puisi-puisi yang ingin kau dengar ia bacakan untukmu
membawamu masuk ke dalam dunia yang tak kau kenal
sama sekali

Ini hari kesembilan kau menantinya
seorang lelaki aneh yang menarikmu ke sebuah lengkungan negeri yang jauh
membuatmu merasa berarti
kau selalu menyimpan selusin pembenaran atas ketidakdatangannya
“mungkin ia sedang tersesat, atau menghadapi masalah besar”
kau meyakininya seperti sarang merapati
selalu percaya bahwa pemiliknya pasti akan kembali

Namun penungguanmu tidak salah
lelaki itu datang bersama seorang perempuan
itu jarinya bercincin sama, sedang saat itu kau butuh teman untuk bercinta - juga bercerita
melampiaskan banyak hari dalam hidupmu yang bukan kebahagiaan
itu menyakitkan, luapanya membuatmu berlari ke dapur
membawa dirimu ke dalam dunia yang tak kau inginkan

“sebenarnya, aku hanya menunggu pisau untuk diriku”
katamu sambil mencocokkan tulang rusukmu dan sebilah pisau dapur yang merah

Makassar – Januari 2014

Vegetarian

Diposting oleh Unknown di 22.54 0 komentar
anak itu buah hati
oleh-oleh itu buah tangan
gosip itu buah bibir

khuldi itu buah dada
laso itu buah zakar

"lihatlah betapa mudahnya mengungkapkan"
tapi manusia memang senang berbibir manis!

1.17.2014

Dari Generasi ke Generasi

Diposting oleh Unknown di 16.24 0 komentar
Edi Tansil itu lima koma tiga trilyun rupiah
Bob Hasan itu lima belas trilyun rupiah
Ginanjar Kartasasmita itu empat trilyun rupiah
Nazaruddin itu enam trilyun rupiah
Soeharto, tidak ternilai rupiahnya

Tapi di atas semua itu
hanya Anas yang siap digantung di Monas

"barangkali, negaraku memang dibuat dari kumpulan rupiah 
yang di pinang menjaid garuda"
Makassar 2014

1.16.2014

Para Perawat Luka

Diposting oleh Unknown di 06.06 1 komentar
Aku kerap membayangkan wajahmu adalah dua buah dada yang terjangkit kanker
stadium wafat
sedang aku adalah seorang oda yang diasingkan oleh orang-orang

Tak usah kau takar sakitnya
bukankah kita pernah bersepakat untuk mencintai tanpa harus bercinta?
lalu apa guna kemaluan kita, tanyamu  dengan menanggalkan pakaian
memperlihatkan dua buah dada yang penuh luka
puting tak lagi layak disebut puting
tapi sungguh kekasihku, itu masih sangat indha untukku

Apakah aku harus menyiapkan tumpukan kondom agar oda ini tidak tertular,
tapi aku ingat, menyiumpun akan menularkan penyakit aneh ini
lalu apa nikmat sebuah hubungan badan jika tak berciuman?
atau kita hanya bertelanjang badan dan membiarkan para mani keluar dengan sendirinya
tidak, aku tidak ingin oda ini tertular kepadamu

25 tahun berlalu

Kini kita sudah tua, aku tetap dengan odaku dan kau masih setia dengan kankermu
kita kian larut menikmati cibir orang-orang yang keluar dari bibirnya
menjadi limbah pada perasaan kita
menghujat penyakit yang kita bahkan sudah lupa jika kita ini penganut sebuah agama penyakit

Kita sudah merawat luka sampai sejauh ini
menikmatinya setiap detik
seperti para pengukur sudut yang kerap membawa  teodolit
terima kasih telah menyiapkan satu masa yang panjang untuk tetap menjadi kanker untukku


Makassar – Januari 2014