on 7.24.2016


“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.” ― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Di Pandora, tumbuhan itu bernama Pohon Kehidupan. Secara fungsi, dia memiliki jalinan paling inti yang memadukan manusia, tumbuhan, hewan, hingga sesuatu yang sifatnya makulat. Pohon itu menjadi sumber kekuatan yang menghubungkan jiwa semua warga Pandora, melalui akar, batang, daun, dan sulurnya.
Secara fisik, Pohon Kehidupan itu berdiameter lebar, membutuhkan dua atau tiga lengan orang dewasa untuk bisa memeluknya. Tubuhnya berotot dan tinggi semampai. Akarnya terpacak kokoh ke dalam tanah. Batang dan sulurnya merambat ke semua tempat di Pandora. Seolah memiliki mata untuk melihat ke mana lagi ia akan tumbuh menjulur.
Kisah pohon Kehidupan itu dituang ke dalam film berjudul Avatar – tayang perdana pada penghujung tahun 2009. Film yang disutradarai oleh James Cameron itu berkelakar tentang belahan semesta lain yang ditinggali oleh suku Na’vi, bertubuh mirip manusia tapi bertingkah sangat berbeda.
Sekilas, apa yang saya temukan selama mengikuti kegiatan edutrip yang dilakukan Blue Forests di pulau Pannikiang, antara Pohon Kehidupan di Pandora dan Mangrove di Pannikiang, memiliki kemiripan, baik fisik maupun fungsi.
Di Pandora, masyarakat sadar fungsi apa yang ditanggung oleh Pohon Kehidupan. Kesadaran itu yang membuatnya menjaga lingkungan sekitar – hutan basah, rawa-rawa berlumpur, tepian sungai dan bibir pantai, semua tempat dipenuhi Pohon Kehidupan.
Hingga suatu waktu, penjelajahan manusia akhirnya tiba di sana. Mereka menemukan satu batu mulia yang sangat berharga. Maka sebuah perusahaan tambang berencana melakukan invasi demi menguasai batu mulia tersebut. Beruntung, warga lokal memiliki pengetahuan dan kepandaian untuk mempertahankan tanahnya.
***

Manusia adalah kutukan bagi bumi yang mereka cintai. Setiap mendirikan rumah dan membangun kehidupan, di sana manusia akan menemukan tangannya berdarah karena merusak yang telah tertata indah di atas tanah.
Demi nama ilmu pengetahuan, mereka menebang pohon dan demi nama kemanusian, mereka kembali menanamnya. Pepohonan yang tumbuh lagi tidak mengajarkan apa-apa, selain penjelasan bahwa kebodohan tidak mampu menipu diri sendiri – bahkan jika itu adalah kawanan paling dungu sekalipun.
Penjelmaan dari tuduhan saya terhadap manusia di atas, pernah terjadi pada tahun 1960 hingga 1970-an di salah satu pulau dengan hutan mangrove paling beragam di Sulawesi Selatan, Pannikiang.
Kala itu, menurut Abu Nawar – kepala dusun Pannikiang, banyak masyarakat menebang pohon mangrove dan mengubah kayunya menjadi daya pembakar atau arang. Sikap masyarakat ini bukan tanpa alasan, disebab sulitnya menemukan pohon selain mangrove dan akses ke darat yang belum selaju sekarang, jadilah menebang pohonnya bukan pilihan, tapi keharusan, jika ingin dapur tetap berasap. Simalakama.
Beruntung kemudian, tahun-tahun selanjutnya, gas kian mudah didapatkan. Apakah masyarakat kemudian menjadi sadar tentang bahaya dari merusak mangrove? Meski ini hanya penalaran tanpa dasar yang kuat, sepertinya masyarakat saat itu belum hendak meninggalkan daya pembakar tradisionalnya, hanya disebabkan alasan bahwa jauh  lebih mudah menggunakan kompor gas.
Penalaran ini berangkat dari pertanyaan, apakah saat itu semua masyarakat telah mengunakan kompor gas? Salah seorang warga yang saat saya temui sedang duduk di teras rumahnya menjawab, belum. Dia sendiri, di dapurnya, masih menggunakan dua jenis kompor, gas dan tradisional.
Menurut cerita kepala dusun yang kakeknya telah turut menjaga hidup dan kehidupan mangrove di pulau tersebut, Pannikiang awalnya hanya gundakan pasir hidup yang kian waktu semakin membesar hingga layak ditinggali oleh manusia. Lantas mengapa mangrove bisa ada di sina? Itu disebabkan karena penyebaran secara alami. Ketika saya tanyakan kapan persisnya peristiwa itu, beliau hanya tersenyum.
***

            Pandora dan Pannikiang adalah simbol bagaimana kehidupan manusia dan tumbuhan seharusnya tidak dipisah dengan alasan apapun. Penyelarasan keduanya bukun untuk menguntungkan satu pihak saja.
Konon, pohon Kehidupan tidak butuh manusia untuk bertahan hidup tapi manusia butuh Pohon Kehidupan untuk tetap disebut manusia? Mari berangkat dari pertanyaan ini untuk menghadirkan kesadaran warga tentang pentingnya memelihara pohon Kehidupan di Pandora. Pertanyaan itu seharusnya juga bisa digunakan untuk mangrove di Pannikiang – dan di manapun tempat mangrove tumbuh.
Bertolak dari fakta bahwa banyak daerah di Indonesia yang mangrovenya rusak dikarenakan ulah manusia – mulai dengan alasan membuat tambak, membuka lahan pertanian, hingga tanah pemukiman. Selanjutnya dampak apa saja yang ditimbulkan jika mangrove di suatu daerah rusak?
Mengingat bahwa mangrove adalah ekosistem yang memiliki kemampuan menyerap karbon lebih banyak dan saat ini pemanasan global terjadi dan berdampak di hampir seluruh belahan bumi, maka tidak ada alasan untuk merusak mangrove. Terlebih hanya untuk membuka lahan tambak yang produktifitasnya hanya bertahan 3-5 tahun.  
Di Pannikiang, dengan tujuh belas jenis mangrove, rusaknya ekosistem berarti habislah harapan bahwa pulau itu tidak akan terkena abrasi. Lebih jauh lagi, penduduk akan kehilangan beberapa manfaat langsung seperti, buah dari jenis mangrove tertentu bisa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kue atau obat tradisional.
Saya merasa bersyukur karena di Pannikiang hanya ada 26 kepala keluarga. Di benak saya, seandainya ada 100-an lebih kepala keluarga, mungkin habitat mangrove juga akan terancam. Meski belum ada penjelasan secara mendalam, tapi itu terjadi di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, jumlah penduduk yang mencapai ribuan, berdampak pada kebutuhan pada pohon mangrove untuk membuat tiang perahu, balok rumah, atau sekadar kayu bakar.
Tepatlah penjelasan Pramoedya Ananta Toer pada pembuka tulisan ini. Perusakan mangrove adalah ulah manusia. Dan karena itu ulah manusia, maka saheharusnya kita bisa melawan. Dengan cara apa? Salah satunya adalah dengan mempelajari bagaimana cara kerja teman-teman di Blue Forests dalam elindungi ekosistem, khusunya mangrove. Bukankah manusia memang adalah kutukan bagi bumi yang mereka cintai?
on 7.19.2016


"Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya."
— Pramoedya Ananta Toer

Saya benci meletakkan Pramoedya pada pembuka tulisan ini. Ibarat jarum, matanya terlalu kecil untuk dikail benang paling tipis atau rumah yang halamannya terlalu luas untuk memelihara seekor anjing pemabuk yang malas membersihkan kotorannya. Tapi selalu saja, jarum itu membuat saya menemukan cara menjahit dengan apik kemeja yang sobek di punggungnya atau rumah itu memberi alasan untuk membersihkan halaman di tengah kesenangan saya tidak melakukan apa-apa. Pram sialan!
Sampai di sini, saya ingin menghapus kalimat pertama di atas dan membiarkannya hidup sebagai teman perjalanan petualang muda yang sibuk menghabiskan waktu menikmati keindahan alam. Mereka melakukan itu sebagai wujud kecintaan terhadap negara. Menganggap apa yang mereka lakukan sebagai sumbangan terbaik. Saya bersyukur. Setidaknya, ada orang yang merasa lebih mencintai negara ini dari pada orang lain.
Baiklah, kita mulai dengan kalimat, “Mungkin orang itu tidak mendapatkan....” Pram ragu dan membuka kalimat ini dengan kata mungkin. Untuk selanjutnya, saya menemukan banyak sekali peringatan di sini. Jurang yang terlalu curam atau asap yang terlalu tebal. Kabur dan berbahaya.
Saya berhenti pada penggalan mungkin yang kedua. Merasakan kesepian lebih tua dari umur saya. Melihat dunia lebih kecil dari kepala saya. Menyaksikan peluru membantai ingatan saya. Saya membaca mungkin selanjutnya dan tidak menemukan apa-apa. Kesepian membekas dan saya bertahan – atau didesak tidak beranjak, dari mungkin yang kedua.
Mungkin dia tidak mempunyai sahabat.
Saya ditanya oleh Aku, “Apakah kau punya sahabat?” Saya mengingat banyak nama dan sedikit sekali peristiwa. Saya mereka banyak sekali perjalanan dan tidak menemukan jalan pulang. Saya diam. Semua boleh tertawa. Saya diam. Tidak ada gelak. Saya tidak menjawab pertanyaan itu.
Malam boleh gelap, tapi pertanyaannya adalah, apakah kau butuh cahaya? Dunia terlalu padam untuk penakut seperti saya. Recehan 100 perak yang ingin membeli satu lampu jalan dan menanamnya di mana-mana.
Di jalan pulang, saya menemukan Pram sedang menggali masa silam di halam rumah. Saya takut. Bongkahan hitam yang diangkatnya dari tanah berdenyut. Cepat sekali. Lebih debar dari degup jantung yang saya kumpulkan sepanjang hidup.
Lelaki tuli itu bertanya, “Apakah kau punya sahabat?” Anjing pemabuk menjulurkan lidah. Liurnya adalah kesunyian. Senyap yang membesarkan suara retakan ranting atau kata terserah yang membuat kekasih menjungkirkan nalar terkaan. “Punya.” Saya menjawabnya dengan membiarkan bongkahan hitam itu menyerap seluruh bayangan di sekitar tubuh yang mungkin Aku.
Kini, saya membiarkan kalimat terakhir pada pembuka tulisan ini menjadi buta dan cenderung melenyapkan diri entah ke mana. “Apakah sahabat saya adalah orang-orang yang ingin dan akan dihormati karena jasa-jasanya?”
Saya tidak mengenal mereka cukup dalam. Tapi saya tahu bahwa mereka kumpulan orang yang tidak senang menghabiskan harta orang tua demi foya dan kesemuan. Mereka pemalas yang sadar bahwa menjadi rajin dan ambisius berarti membiarkan dunia ini dipenuhi robot-robot pekerja. Mereka berdiri memunggungi tembok-tembok kota dan menciptakan desa di dalam dirinya. Mereka anak-anak yang takut menjadi dewasa. Hidup mereka anomali dan saya mencintainya.
Pram, biarlah kami, yang saling menghormati dan saling menjasai.
Sampai di sini, saya membiarkan kalimat pertama dan terakhir pembuka tulisan ini bertemu di halaman rumah, “Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” Sebab manusia dan kemanusian tidak pernah tinggal di rumah yang sama, sebagai sahabat atau keluarga.


on 3.19.2016

“Saya pikir Liddle dan ilmuwan asing yang mendalami Indonesia berkutat dengan isi, sementara kaum terpelajar Indonesia bersolek dengan bungkus. Mereka berpikir seluruh, sedangkan kita berpikir separuh. Jadilah kita manusia separuh, hanya berperan sebagai bungkus-bungkus, dan itu sudah dimulai sejak di pikiran, ketika kita berbahasa." – Salomo Simanungkalit.

Gagasan di atas, secara sederhana, coba menyandarkan realita berbahasa kita pada sesuatu yang disebut Albert Einsten sebagai reality is merely an illusion. Istilah ini merujuk pada keadaan di mana realitas menjadi sinonim kepalsuan.
Stasiun televesi dan ruang diskusi menjadi tempat terbaik untuk melihat bagaimana gagapnya kita dalam berbahasa. Mari memperhatikan petikan wawancara artis Indonesia dan bandingkan dengan jumpa pers pelatih sepak bola di liga Inggris. Tanpa bermaksud menganggap pelatih lebih baik dari artis. Dalam konteks penggunaan bahasa, saya merasa peramu sepakbola memang nampaknya lebih jujur dan berani.
Mengutip komentar Jose Mourinho ketika dipecat oleh Chelsea FC, “Saya siap menjalaninya, untuk mengatasinya, karena saya punya kematangan dan pengalaman. Tapi saya membayangkan, bila hal seperti ini terjadi di awal, mungkin karier saya akan lebih baik.” Bandingkan dengan pernyataan Saipul Jamil saat diminta menjelaskan kronologi kasus pencabulan yang menimpanya "Dan saya khilaf, Pak. Enggak ada maksud ke sana. Itu pun terjadi sekali aja."
Bahasa yang dipilih Mourinho memiliki gairah penerimaan atas pemecatan dan semangat untuk bangkit kembali,  sementara bahasa yang dipilih Saipul Jamil, terbaca jika dia tidak menerima tuduhan pencabulan tersebut, meskipun telah terbukti bersalah.
Ini hanya penggambaran kecil dari perbandingan dua tokoh, namun tampaknya, bakat-bakat ketidakmapanan kita berbahasa dengan dalam dan terang memang dimulai sejak di pikiran. Atau mungkin pemilihan bahasa kita memang tidak pernah dipikirkan terlebih dahulu.
Persoalan seluruh dan separuh menjadi hal yang disinggung Salomo dengan serius. Pikiran yang patah atau logika yang mudah disangkal. Pembahasan dalam ruang-ruang diskusi sebatas ranah permukaan dan tidak menyelami pusat permasalahan. Barangkali tulisan ini juga, demikian adanya, hanya membahas persoalan-persoalan remeh yang tidak penting untuk diketahui.
Saya sendiri takut, bahasa bukan lagi alat untuk menjelaskan sebuah persoalan. Bahasa bukan lagi hasil pemikiran yang memiliki kedalaman, tapi menjadi kebohongan-kebohongan yang dibiarkan terus berbicara. Pada titik tertentu, kita lebih percaya hal yang heboh dan kosong dari pada kalimat sederhana yang berterus terang.
Apa yang kita ucapkan adalah bahasa, dan semua kata yang dipilih seharusnya melalui tahap pikiran. Namun bila di dalam sana, segala sesuatunya patah dan terbelah, maka tidak ada hal yang dapat selesai tanpa menderita gangguan.
Untuk menjelaskan cara mengatasi kelaparan, maka kita berbicara tentang bagaimana menjatuhkan sebuah rezim. Untuk menghentikan ketergantungan terhadap media sosial, maka kita berhenti menggunakan internet. Untuk membiarkan anak-anak mudah diatur, maka mereka diberikan telepon cerdas yang berisi permainan-permainan.
Semua solusi yang kita berikan adalah hasil pemikiran yang patah. Itu menyebabkan hal yang kita anggap penyelesaian justru bertindak sebagai penyamaran, permukaan yang tidak akan pernah membawa pemikiran kita untuk tenggelam ke inti masalah.
Penggambaran realitas oleh Einsten telah merasuki sistem kebahasaan kita. Bahasa hanyalah ilusi belaka. Segala kepalsuan dan hal-hal yang tidak kita pahami tersembunyi di dalamnya. Kita menggunakan bahasa dan berharap dapat menjelaskan jika kita adalah orang yang cerdas yang paham persoalan.
Ilmu sintaksis dan pragmatik akhirnya hanya menjelaskan tatanan kebahasaan dan dikelabui oleh semua ilusi itu. Peletakan subjek dalam kalimat seolah berhasil menjawab siapa dan peletakan objek dalam kalimat seolah sanggup menjawab bagaimana. Namun nyatanya, siapa dan bagaimana itu tidak pernah kita kenal seutuhnya.
Menjadi pembungkus yang hanya paham persoalan kulit. Terlebih jika ini menyangkut persoalan yang kita anggap sanggup kuasai. Semacam sepasang kekasih yang seharusnya bisa menjaga perasaan, namun salah seorang di antaranya justru berkhianat dan tetap merasa saling menyayangi. Ajaib.
Pada akhirnya, kita harus kembali membersihkan debu-debu dalam pikiran, mencoba menata kembali segala permasalahan dari awal. Toh, kesanggupan berbahasa tidak menunjukkan bagaimana kita menguasai sesuatu, tapi bagaimana kita jujur untuk melihat masalah. Dan semoga, harapan saya, pendangan Salomo pada pembuka tulisan ini suatu saat akan membalik dirinya sendiri.

7.24.2016

Pandora

Diposting oleh Unknown di 22.03 2 komentar


“Selama penderitaan datang dari manusia, dia bukan bencana alam, dia pun pasti bisa dilawan oleh manusia.” ― Pramoedya Ananta Toer, Child of All Nations

Di Pandora, tumbuhan itu bernama Pohon Kehidupan. Secara fungsi, dia memiliki jalinan paling inti yang memadukan manusia, tumbuhan, hewan, hingga sesuatu yang sifatnya makulat. Pohon itu menjadi sumber kekuatan yang menghubungkan jiwa semua warga Pandora, melalui akar, batang, daun, dan sulurnya.
Secara fisik, Pohon Kehidupan itu berdiameter lebar, membutuhkan dua atau tiga lengan orang dewasa untuk bisa memeluknya. Tubuhnya berotot dan tinggi semampai. Akarnya terpacak kokoh ke dalam tanah. Batang dan sulurnya merambat ke semua tempat di Pandora. Seolah memiliki mata untuk melihat ke mana lagi ia akan tumbuh menjulur.
Kisah pohon Kehidupan itu dituang ke dalam film berjudul Avatar – tayang perdana pada penghujung tahun 2009. Film yang disutradarai oleh James Cameron itu berkelakar tentang belahan semesta lain yang ditinggali oleh suku Na’vi, bertubuh mirip manusia tapi bertingkah sangat berbeda.
Sekilas, apa yang saya temukan selama mengikuti kegiatan edutrip yang dilakukan Blue Forests di pulau Pannikiang, antara Pohon Kehidupan di Pandora dan Mangrove di Pannikiang, memiliki kemiripan, baik fisik maupun fungsi.
Di Pandora, masyarakat sadar fungsi apa yang ditanggung oleh Pohon Kehidupan. Kesadaran itu yang membuatnya menjaga lingkungan sekitar – hutan basah, rawa-rawa berlumpur, tepian sungai dan bibir pantai, semua tempat dipenuhi Pohon Kehidupan.
Hingga suatu waktu, penjelajahan manusia akhirnya tiba di sana. Mereka menemukan satu batu mulia yang sangat berharga. Maka sebuah perusahaan tambang berencana melakukan invasi demi menguasai batu mulia tersebut. Beruntung, warga lokal memiliki pengetahuan dan kepandaian untuk mempertahankan tanahnya.
***

Manusia adalah kutukan bagi bumi yang mereka cintai. Setiap mendirikan rumah dan membangun kehidupan, di sana manusia akan menemukan tangannya berdarah karena merusak yang telah tertata indah di atas tanah.
Demi nama ilmu pengetahuan, mereka menebang pohon dan demi nama kemanusian, mereka kembali menanamnya. Pepohonan yang tumbuh lagi tidak mengajarkan apa-apa, selain penjelasan bahwa kebodohan tidak mampu menipu diri sendiri – bahkan jika itu adalah kawanan paling dungu sekalipun.
Penjelmaan dari tuduhan saya terhadap manusia di atas, pernah terjadi pada tahun 1960 hingga 1970-an di salah satu pulau dengan hutan mangrove paling beragam di Sulawesi Selatan, Pannikiang.
Kala itu, menurut Abu Nawar – kepala dusun Pannikiang, banyak masyarakat menebang pohon mangrove dan mengubah kayunya menjadi daya pembakar atau arang. Sikap masyarakat ini bukan tanpa alasan, disebab sulitnya menemukan pohon selain mangrove dan akses ke darat yang belum selaju sekarang, jadilah menebang pohonnya bukan pilihan, tapi keharusan, jika ingin dapur tetap berasap. Simalakama.
Beruntung kemudian, tahun-tahun selanjutnya, gas kian mudah didapatkan. Apakah masyarakat kemudian menjadi sadar tentang bahaya dari merusak mangrove? Meski ini hanya penalaran tanpa dasar yang kuat, sepertinya masyarakat saat itu belum hendak meninggalkan daya pembakar tradisionalnya, hanya disebabkan alasan bahwa jauh  lebih mudah menggunakan kompor gas.
Penalaran ini berangkat dari pertanyaan, apakah saat itu semua masyarakat telah mengunakan kompor gas? Salah seorang warga yang saat saya temui sedang duduk di teras rumahnya menjawab, belum. Dia sendiri, di dapurnya, masih menggunakan dua jenis kompor, gas dan tradisional.
Menurut cerita kepala dusun yang kakeknya telah turut menjaga hidup dan kehidupan mangrove di pulau tersebut, Pannikiang awalnya hanya gundakan pasir hidup yang kian waktu semakin membesar hingga layak ditinggali oleh manusia. Lantas mengapa mangrove bisa ada di sina? Itu disebabkan karena penyebaran secara alami. Ketika saya tanyakan kapan persisnya peristiwa itu, beliau hanya tersenyum.
***

            Pandora dan Pannikiang adalah simbol bagaimana kehidupan manusia dan tumbuhan seharusnya tidak dipisah dengan alasan apapun. Penyelarasan keduanya bukun untuk menguntungkan satu pihak saja.
Konon, pohon Kehidupan tidak butuh manusia untuk bertahan hidup tapi manusia butuh Pohon Kehidupan untuk tetap disebut manusia? Mari berangkat dari pertanyaan ini untuk menghadirkan kesadaran warga tentang pentingnya memelihara pohon Kehidupan di Pandora. Pertanyaan itu seharusnya juga bisa digunakan untuk mangrove di Pannikiang – dan di manapun tempat mangrove tumbuh.
Bertolak dari fakta bahwa banyak daerah di Indonesia yang mangrovenya rusak dikarenakan ulah manusia – mulai dengan alasan membuat tambak, membuka lahan pertanian, hingga tanah pemukiman. Selanjutnya dampak apa saja yang ditimbulkan jika mangrove di suatu daerah rusak?
Mengingat bahwa mangrove adalah ekosistem yang memiliki kemampuan menyerap karbon lebih banyak dan saat ini pemanasan global terjadi dan berdampak di hampir seluruh belahan bumi, maka tidak ada alasan untuk merusak mangrove. Terlebih hanya untuk membuka lahan tambak yang produktifitasnya hanya bertahan 3-5 tahun.  
Di Pannikiang, dengan tujuh belas jenis mangrove, rusaknya ekosistem berarti habislah harapan bahwa pulau itu tidak akan terkena abrasi. Lebih jauh lagi, penduduk akan kehilangan beberapa manfaat langsung seperti, buah dari jenis mangrove tertentu bisa digunakan sebagai bahan dasar pembuatan kue atau obat tradisional.
Saya merasa bersyukur karena di Pannikiang hanya ada 26 kepala keluarga. Di benak saya, seandainya ada 100-an lebih kepala keluarga, mungkin habitat mangrove juga akan terancam. Meski belum ada penjelasan secara mendalam, tapi itu terjadi di Pulau Tanakeke, Kabupaten Takalar, jumlah penduduk yang mencapai ribuan, berdampak pada kebutuhan pada pohon mangrove untuk membuat tiang perahu, balok rumah, atau sekadar kayu bakar.
Tepatlah penjelasan Pramoedya Ananta Toer pada pembuka tulisan ini. Perusakan mangrove adalah ulah manusia. Dan karena itu ulah manusia, maka saheharusnya kita bisa melawan. Dengan cara apa? Salah satunya adalah dengan mempelajari bagaimana cara kerja teman-teman di Blue Forests dalam elindungi ekosistem, khusunya mangrove. Bukankah manusia memang adalah kutukan bagi bumi yang mereka cintai?

7.19.2016

Anomali

Diposting oleh Unknown di 18.24 3 komentar


"Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Mungkin orang itu tidak mendapatkan sesuatu sukses dalam hidupnya, mungkin dia tidak mempunyai sahabat, mungkin tak mempunyai kekuasaan barang secuwil pun. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya."
— Pramoedya Ananta Toer

Saya benci meletakkan Pramoedya pada pembuka tulisan ini. Ibarat jarum, matanya terlalu kecil untuk dikail benang paling tipis atau rumah yang halamannya terlalu luas untuk memelihara seekor anjing pemabuk yang malas membersihkan kotorannya. Tapi selalu saja, jarum itu membuat saya menemukan cara menjahit dengan apik kemeja yang sobek di punggungnya atau rumah itu memberi alasan untuk membersihkan halaman di tengah kesenangan saya tidak melakukan apa-apa. Pram sialan!
Sampai di sini, saya ingin menghapus kalimat pertama di atas dan membiarkannya hidup sebagai teman perjalanan petualang muda yang sibuk menghabiskan waktu menikmati keindahan alam. Mereka melakukan itu sebagai wujud kecintaan terhadap negara. Menganggap apa yang mereka lakukan sebagai sumbangan terbaik. Saya bersyukur. Setidaknya, ada orang yang merasa lebih mencintai negara ini dari pada orang lain.
Baiklah, kita mulai dengan kalimat, “Mungkin orang itu tidak mendapatkan....” Pram ragu dan membuka kalimat ini dengan kata mungkin. Untuk selanjutnya, saya menemukan banyak sekali peringatan di sini. Jurang yang terlalu curam atau asap yang terlalu tebal. Kabur dan berbahaya.
Saya berhenti pada penggalan mungkin yang kedua. Merasakan kesepian lebih tua dari umur saya. Melihat dunia lebih kecil dari kepala saya. Menyaksikan peluru membantai ingatan saya. Saya membaca mungkin selanjutnya dan tidak menemukan apa-apa. Kesepian membekas dan saya bertahan – atau didesak tidak beranjak, dari mungkin yang kedua.
Mungkin dia tidak mempunyai sahabat.
Saya ditanya oleh Aku, “Apakah kau punya sahabat?” Saya mengingat banyak nama dan sedikit sekali peristiwa. Saya mereka banyak sekali perjalanan dan tidak menemukan jalan pulang. Saya diam. Semua boleh tertawa. Saya diam. Tidak ada gelak. Saya tidak menjawab pertanyaan itu.
Malam boleh gelap, tapi pertanyaannya adalah, apakah kau butuh cahaya? Dunia terlalu padam untuk penakut seperti saya. Recehan 100 perak yang ingin membeli satu lampu jalan dan menanamnya di mana-mana.
Di jalan pulang, saya menemukan Pram sedang menggali masa silam di halam rumah. Saya takut. Bongkahan hitam yang diangkatnya dari tanah berdenyut. Cepat sekali. Lebih debar dari degup jantung yang saya kumpulkan sepanjang hidup.
Lelaki tuli itu bertanya, “Apakah kau punya sahabat?” Anjing pemabuk menjulurkan lidah. Liurnya adalah kesunyian. Senyap yang membesarkan suara retakan ranting atau kata terserah yang membuat kekasih menjungkirkan nalar terkaan. “Punya.” Saya menjawabnya dengan membiarkan bongkahan hitam itu menyerap seluruh bayangan di sekitar tubuh yang mungkin Aku.
Kini, saya membiarkan kalimat terakhir pada pembuka tulisan ini menjadi buta dan cenderung melenyapkan diri entah ke mana. “Apakah sahabat saya adalah orang-orang yang ingin dan akan dihormati karena jasa-jasanya?”
Saya tidak mengenal mereka cukup dalam. Tapi saya tahu bahwa mereka kumpulan orang yang tidak senang menghabiskan harta orang tua demi foya dan kesemuan. Mereka pemalas yang sadar bahwa menjadi rajin dan ambisius berarti membiarkan dunia ini dipenuhi robot-robot pekerja. Mereka berdiri memunggungi tembok-tembok kota dan menciptakan desa di dalam dirinya. Mereka anak-anak yang takut menjadi dewasa. Hidup mereka anomali dan saya mencintainya.
Pram, biarlah kami, yang saling menghormati dan saling menjasai.
Sampai di sini, saya membiarkan kalimat pertama dan terakhir pembuka tulisan ini bertemu di halaman rumah, “Barang siapa mempunyai sumbangan pada kemanusian dia tetap terhormat sepanjang jaman, bukan kehormatan sementara. Namun umat manusia akan menghormati karena jasa-jasanya.” Sebab manusia dan kemanusian tidak pernah tinggal di rumah yang sama, sebagai sahabat atau keluarga.


3.19.2016

Akrobat Bahasa

Diposting oleh Unknown di 21.56 2 komentar

“Saya pikir Liddle dan ilmuwan asing yang mendalami Indonesia berkutat dengan isi, sementara kaum terpelajar Indonesia bersolek dengan bungkus. Mereka berpikir seluruh, sedangkan kita berpikir separuh. Jadilah kita manusia separuh, hanya berperan sebagai bungkus-bungkus, dan itu sudah dimulai sejak di pikiran, ketika kita berbahasa." – Salomo Simanungkalit.

Gagasan di atas, secara sederhana, coba menyandarkan realita berbahasa kita pada sesuatu yang disebut Albert Einsten sebagai reality is merely an illusion. Istilah ini merujuk pada keadaan di mana realitas menjadi sinonim kepalsuan.
Stasiun televesi dan ruang diskusi menjadi tempat terbaik untuk melihat bagaimana gagapnya kita dalam berbahasa. Mari memperhatikan petikan wawancara artis Indonesia dan bandingkan dengan jumpa pers pelatih sepak bola di liga Inggris. Tanpa bermaksud menganggap pelatih lebih baik dari artis. Dalam konteks penggunaan bahasa, saya merasa peramu sepakbola memang nampaknya lebih jujur dan berani.
Mengutip komentar Jose Mourinho ketika dipecat oleh Chelsea FC, “Saya siap menjalaninya, untuk mengatasinya, karena saya punya kematangan dan pengalaman. Tapi saya membayangkan, bila hal seperti ini terjadi di awal, mungkin karier saya akan lebih baik.” Bandingkan dengan pernyataan Saipul Jamil saat diminta menjelaskan kronologi kasus pencabulan yang menimpanya "Dan saya khilaf, Pak. Enggak ada maksud ke sana. Itu pun terjadi sekali aja."
Bahasa yang dipilih Mourinho memiliki gairah penerimaan atas pemecatan dan semangat untuk bangkit kembali,  sementara bahasa yang dipilih Saipul Jamil, terbaca jika dia tidak menerima tuduhan pencabulan tersebut, meskipun telah terbukti bersalah.
Ini hanya penggambaran kecil dari perbandingan dua tokoh, namun tampaknya, bakat-bakat ketidakmapanan kita berbahasa dengan dalam dan terang memang dimulai sejak di pikiran. Atau mungkin pemilihan bahasa kita memang tidak pernah dipikirkan terlebih dahulu.
Persoalan seluruh dan separuh menjadi hal yang disinggung Salomo dengan serius. Pikiran yang patah atau logika yang mudah disangkal. Pembahasan dalam ruang-ruang diskusi sebatas ranah permukaan dan tidak menyelami pusat permasalahan. Barangkali tulisan ini juga, demikian adanya, hanya membahas persoalan-persoalan remeh yang tidak penting untuk diketahui.
Saya sendiri takut, bahasa bukan lagi alat untuk menjelaskan sebuah persoalan. Bahasa bukan lagi hasil pemikiran yang memiliki kedalaman, tapi menjadi kebohongan-kebohongan yang dibiarkan terus berbicara. Pada titik tertentu, kita lebih percaya hal yang heboh dan kosong dari pada kalimat sederhana yang berterus terang.
Apa yang kita ucapkan adalah bahasa, dan semua kata yang dipilih seharusnya melalui tahap pikiran. Namun bila di dalam sana, segala sesuatunya patah dan terbelah, maka tidak ada hal yang dapat selesai tanpa menderita gangguan.
Untuk menjelaskan cara mengatasi kelaparan, maka kita berbicara tentang bagaimana menjatuhkan sebuah rezim. Untuk menghentikan ketergantungan terhadap media sosial, maka kita berhenti menggunakan internet. Untuk membiarkan anak-anak mudah diatur, maka mereka diberikan telepon cerdas yang berisi permainan-permainan.
Semua solusi yang kita berikan adalah hasil pemikiran yang patah. Itu menyebabkan hal yang kita anggap penyelesaian justru bertindak sebagai penyamaran, permukaan yang tidak akan pernah membawa pemikiran kita untuk tenggelam ke inti masalah.
Penggambaran realitas oleh Einsten telah merasuki sistem kebahasaan kita. Bahasa hanyalah ilusi belaka. Segala kepalsuan dan hal-hal yang tidak kita pahami tersembunyi di dalamnya. Kita menggunakan bahasa dan berharap dapat menjelaskan jika kita adalah orang yang cerdas yang paham persoalan.
Ilmu sintaksis dan pragmatik akhirnya hanya menjelaskan tatanan kebahasaan dan dikelabui oleh semua ilusi itu. Peletakan subjek dalam kalimat seolah berhasil menjawab siapa dan peletakan objek dalam kalimat seolah sanggup menjawab bagaimana. Namun nyatanya, siapa dan bagaimana itu tidak pernah kita kenal seutuhnya.
Menjadi pembungkus yang hanya paham persoalan kulit. Terlebih jika ini menyangkut persoalan yang kita anggap sanggup kuasai. Semacam sepasang kekasih yang seharusnya bisa menjaga perasaan, namun salah seorang di antaranya justru berkhianat dan tetap merasa saling menyayangi. Ajaib.
Pada akhirnya, kita harus kembali membersihkan debu-debu dalam pikiran, mencoba menata kembali segala permasalahan dari awal. Toh, kesanggupan berbahasa tidak menunjukkan bagaimana kita menguasai sesuatu, tapi bagaimana kita jujur untuk melihat masalah. Dan semoga, harapan saya, pendangan Salomo pada pembuka tulisan ini suatu saat akan membalik dirinya sendiri.