Setelah Kotaku dengan Gembira Diledakkan Hujan Empat Hari Berturut-turut

on 12.31.2013
Setelah kotaku dengan gembira diledakkan hujan empat hari berturut-turut
kau masih setia di atas kasur membujurkan tubuhmu ke jendala
menghitung kebencian yang ikut menetes dari rembes air di atapmu
membayangkan setumpuk selimut menutup buah dadamu dan aku ikut memelukmu dari salah satu celah pelukanmu, juga bertelanjang dada menghadap ke kiblat
satu tanganku menyamar menjadi rambutmu dan mengusapnya sedemikian lena
simsalabim, aku dikutuk menjadi pikiranmu
maka jadilah kita seselimut sambil meringkih manja.
Setelah hujan reda dan air kian rendah, kau berjalan dengan helai celana dalam
menuju ke bagasi memanaskan mesin mobil
lalu kembali ke atas kasur dan menyeretku sambil menyulap air mani
menjadi bahan bakar darurat yang tak ada habisnya
mobil ini adalah kendaraan yang digunakan adam ketika diungsikan ke bumi, katamu sambil mencium buah wajahku dengan mata terpejam
tapi saat itu surga sedang tak banjir, kataku sambil menyelinap di tengkukmu

Kau menggiringku ke suatu tempat di atas langit
menutup wajahku dengan bra merah yang kau petik dari pohon iklima
di luar rumah, para lelaki tak melihat kita sebab ia sibuk mengungsi pada ketinggian cahaya
sedangkan perempuan memenuhi mulutnya dengan hujat hujan
dan ramai berziarah ke rumah ibadah
berdoa agar banjir menjadi selangkangan pelacur
tak tahu bahwa di bawah hujan anak-anak mereka sedang bercinta dengan kematian

Setelah empat hari berseling matahari, hujan menjadi lima, enam, dan seterusnya
lalu banjir kian menganga membuaskan manusia menjadi beton bertingkat
mereka mengungsi ke mal dan gedung tinggi
membawa setiap masalah dan menyimpulkan kematian di kepalanya
menjarah setiap makanan, juga perawan yang butuh dijarah
lalu kota ini berubah menjadi museum masa lalu

Manusia menuju ladang perburuan abadi
sedang kita masih asik bercinta di dalam mobil adam sambil dituntun oleh Tuhan

0 komentar:

Posting Komentar

12.31.2013

Setelah Kotaku dengan Gembira Diledakkan Hujan Empat Hari Berturut-turut

Diposting oleh Jejak Sajak di 06.53
Setelah kotaku dengan gembira diledakkan hujan empat hari berturut-turut
kau masih setia di atas kasur membujurkan tubuhmu ke jendala
menghitung kebencian yang ikut menetes dari rembes air di atapmu
membayangkan setumpuk selimut menutup buah dadamu dan aku ikut memelukmu dari salah satu celah pelukanmu, juga bertelanjang dada menghadap ke kiblat
satu tanganku menyamar menjadi rambutmu dan mengusapnya sedemikian lena
simsalabim, aku dikutuk menjadi pikiranmu
maka jadilah kita seselimut sambil meringkih manja.
Setelah hujan reda dan air kian rendah, kau berjalan dengan helai celana dalam
menuju ke bagasi memanaskan mesin mobil
lalu kembali ke atas kasur dan menyeretku sambil menyulap air mani
menjadi bahan bakar darurat yang tak ada habisnya
mobil ini adalah kendaraan yang digunakan adam ketika diungsikan ke bumi, katamu sambil mencium buah wajahku dengan mata terpejam
tapi saat itu surga sedang tak banjir, kataku sambil menyelinap di tengkukmu

Kau menggiringku ke suatu tempat di atas langit
menutup wajahku dengan bra merah yang kau petik dari pohon iklima
di luar rumah, para lelaki tak melihat kita sebab ia sibuk mengungsi pada ketinggian cahaya
sedangkan perempuan memenuhi mulutnya dengan hujat hujan
dan ramai berziarah ke rumah ibadah
berdoa agar banjir menjadi selangkangan pelacur
tak tahu bahwa di bawah hujan anak-anak mereka sedang bercinta dengan kematian

Setelah empat hari berseling matahari, hujan menjadi lima, enam, dan seterusnya
lalu banjir kian menganga membuaskan manusia menjadi beton bertingkat
mereka mengungsi ke mal dan gedung tinggi
membawa setiap masalah dan menyimpulkan kematian di kepalanya
menjarah setiap makanan, juga perawan yang butuh dijarah
lalu kota ini berubah menjadi museum masa lalu

Manusia menuju ladang perburuan abadi
sedang kita masih asik bercinta di dalam mobil adam sambil dituntun oleh Tuhan

0 komentar on "Setelah Kotaku dengan Gembira Diledakkan Hujan Empat Hari Berturut-turut"

Posting Komentar