Fisher Tiger, Rasis, dan Perdamaian Manusia

on 9.03.2014


Akhir-akhir ini saya menghabiskan banyak waktu untuk menonton serial kartun One Piece. Kisah bajak laut yang mengajak kita memahami permasalahan hidup dengan cara sederhana, penuh humor, dan menyedihkan. Serial terakhir yang saya nonton adalah kisah manusia ikan yang membenci manusia dan manusia yang membenci manusia ikan.
Kisah ini berawal saat Fisher Tiger ditangkap oleh angkatan laut dan dijadikan budak di pulau suci Marie Joa oleh Tenryuubito – bangsawan dunia. Setiap orang yang dijadikan budak diberi tanda di tubuhnya. Tanda abadi yang tak mungkin hilang.
Saat menjadi budak, Tiger melihat bagaimana kekejaman beberapa manusia yang memperlakukan manusia ikan dengan kejam. Banyak di antara mereka yang dijual dan dijadikan budak. Disiksa dan dianggap menjadi ciptaan yang tidak berguna. Namun Tiger memberontak dan menghajar golongan bangsawan dunia yang paling dihormati, Tenryuubito.
Setelah pemberontakan, Tiger berhasil kabur dan membebaskan budak lainnya. Di antara budak itu juga banyak manusia. Sejak itu ia dianggap sebagai pahlawan bagi manusia ikan dan musuh bagi pemerintah dunia.
Setelah bebas, Tiger membentuk kelompok bajak laut Matahari. Kelompok ini pergi mengarungi lautan. Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan Koala, gadis kecil yang juga pernah dijadikan budak di Marie Joa. Koala ingin pulang ke pulaunya, namun ia tak bisa berlayar dengan aman sebab banyak bajak laut yang mengancam hidupnya.
Tiger berjanji untuk mengantar anak itu. Selama perjalanan, keakraban terjalin antara manusia ikan dan Koala dari golongan manusia. Di atas kapal, Jimbei – teman Tiger, bertanya kepada Koala, “Mengapa kau takut pada manusia ikan?” Koala menjawab, “Karena saya tidak mengerti apapun tentang kalian.” Jimbei yang mendengar jawaban Koala bergumam, “Karena tidak mengerti akhirnya manusia ikan itu dianggap menakutkan.”
Saat tiba di kampung halamannya, Koala disambut oleh penduduk desa. Mereka heran mengapa Koala tiba dengan seorang penjahat. Di kampung Koala, banyak orang dewasa yang masih sulit menerima kenyataan bahwa tidak semua manusia ikan itu jahat. Orang-orang dewasa itu menganggap manusia ikan sebagai makhluk menakutkan dan tidak dapat disandingkan dengan manusia. Pun sebaliknya.
Kepala Desa tempat Koala tinggal diam-diam menghubungi angkatan laut. Tiger yang dijadikan musuh dunia dan angkatan laut dikepung. Ia  di tembak tanpa ampun oleh angkatan laut.
Setelah bertarung, bajak laut Matahari berhasil membawa tubuh penuh luku tiger ke atas kapal. Tiger masih bisa ditolong. Tapi ia menolak didonor dari darah manusia. Ia belum bisa melupakan bagaimana pengalamannya dijadikan budak oleh manusia.
Sebelum meninggal, Tiger berpesan kepada anggotanya, “Semua menginginkan perdamaian. Tapi hanya ada satu orang yang membuat semuanya berbeda dari manusia, yaitu gadis seperti Koala, generasi selanjutnya yang tidak mengerti apa-apa.”

***
            Kisah di atas mengingatkan saya dengan kekerasan rasial yang dimuat di koran beberapa hari lalu lalu. Kasus berdarah yang terjadi di Kota Ferguson dan Ohio, Amerika Serikat. Pertengahan tahun 2014, isu rasial memang sedang hangat di Amerika Serikat. Padahal saat Barack Obama terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat, banyak masyarakat yang berharap masalah kesenjangan ras dapat diselesaikan.
            Tapi kenyataan juga adalah kemungkinan. Michael Brown adalah buktinya, pemuda 18 tahun itu meninggal dunia dengan 6 luka tembak disekujur tubuhnya. Pelakunya adalah polisi kulit putih yang seharusnya bertugas untuk melindungi masyarakat. Saat dievakuasi, Brown bahkan tak memiliki senjata. Kasus ini juga diduga tanpa sebab yang pasti.
            Jhon Crawford, pria kulit hitam yang berusia 22 tahun juga ditembak mati oleh polisi kulit putih karena kedapatan membawa senjata tajam di pusat perbelanjaan. Sementara Eric Garner, pria kulit hitam yang berusia 43 tahun dicekik hingga tewas oleh polisi di Staten Island.
            Hasil penelitian yang dilakukan Pew Research Center pada tanggal 14-17 Agustus lalu menunjukkan hasil yang sama. 64 persen responden kulit hitam memiliki sedikit kepercayaan kepada institusi kepolisian Amerika Serikat.
Penyebabnya adalah tindakan represif pemerintah, terutama polisi dalam memperlakukan kulit hitam di negara itu. Perlakuan polisi sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh kulit putih. Ini menimbulkan kecemburuan sosial yang rentan untuk tersulut.


***
Dalam kisah One Piece, apa yang Fisher Tiger perjuangkan adalah langkah yang mulia. Tapi harapan itu membutuhkan perjuangan. Menghidupkan perdamaian antara dua kelompok yang merasa berbeda bukan sesuatu yang mudah. Kulit hitam dan polisi Amerika Serikat telah menjawabnya.
Situasi ini menjadi bukti bahwa manusia kian sulit menerima perbedaan. Penyeragaman pola pikir mungkin salah satu penyebabnya. Sebab lain adalah sulitnya mengubah paradigma yang telah tertanam dalam kepala kita.
Pernahkah kita membayangkan, isu Sara - suku, agama, dan ras, yang selama ini dianggap pembeda yang rentan menimbulkan kejahatan juga akan terjadi pada golongan darah, jenis mata, klub sepak bola, makanan favorit, bahkan hingga ke persoalan tinggi dan berat badan?
Semoga saja kita bisa melahirkan generasi seperti Koala, generasi yang berani melihat perbedaan sebagai hal yang indah.


dimuat di Leterasi Tempo 30/8/2014


0 komentar:

Posting Komentar

9.03.2014

Fisher Tiger, Rasis, dan Perdamaian Manusia

Diposting oleh Jejak Sajak di 02.19


Akhir-akhir ini saya menghabiskan banyak waktu untuk menonton serial kartun One Piece. Kisah bajak laut yang mengajak kita memahami permasalahan hidup dengan cara sederhana, penuh humor, dan menyedihkan. Serial terakhir yang saya nonton adalah kisah manusia ikan yang membenci manusia dan manusia yang membenci manusia ikan.
Kisah ini berawal saat Fisher Tiger ditangkap oleh angkatan laut dan dijadikan budak di pulau suci Marie Joa oleh Tenryuubito – bangsawan dunia. Setiap orang yang dijadikan budak diberi tanda di tubuhnya. Tanda abadi yang tak mungkin hilang.
Saat menjadi budak, Tiger melihat bagaimana kekejaman beberapa manusia yang memperlakukan manusia ikan dengan kejam. Banyak di antara mereka yang dijual dan dijadikan budak. Disiksa dan dianggap menjadi ciptaan yang tidak berguna. Namun Tiger memberontak dan menghajar golongan bangsawan dunia yang paling dihormati, Tenryuubito.
Setelah pemberontakan, Tiger berhasil kabur dan membebaskan budak lainnya. Di antara budak itu juga banyak manusia. Sejak itu ia dianggap sebagai pahlawan bagi manusia ikan dan musuh bagi pemerintah dunia.
Setelah bebas, Tiger membentuk kelompok bajak laut Matahari. Kelompok ini pergi mengarungi lautan. Dalam perjalanannya, mereka bertemu dengan Koala, gadis kecil yang juga pernah dijadikan budak di Marie Joa. Koala ingin pulang ke pulaunya, namun ia tak bisa berlayar dengan aman sebab banyak bajak laut yang mengancam hidupnya.
Tiger berjanji untuk mengantar anak itu. Selama perjalanan, keakraban terjalin antara manusia ikan dan Koala dari golongan manusia. Di atas kapal, Jimbei – teman Tiger, bertanya kepada Koala, “Mengapa kau takut pada manusia ikan?” Koala menjawab, “Karena saya tidak mengerti apapun tentang kalian.” Jimbei yang mendengar jawaban Koala bergumam, “Karena tidak mengerti akhirnya manusia ikan itu dianggap menakutkan.”
Saat tiba di kampung halamannya, Koala disambut oleh penduduk desa. Mereka heran mengapa Koala tiba dengan seorang penjahat. Di kampung Koala, banyak orang dewasa yang masih sulit menerima kenyataan bahwa tidak semua manusia ikan itu jahat. Orang-orang dewasa itu menganggap manusia ikan sebagai makhluk menakutkan dan tidak dapat disandingkan dengan manusia. Pun sebaliknya.
Kepala Desa tempat Koala tinggal diam-diam menghubungi angkatan laut. Tiger yang dijadikan musuh dunia dan angkatan laut dikepung. Ia  di tembak tanpa ampun oleh angkatan laut.
Setelah bertarung, bajak laut Matahari berhasil membawa tubuh penuh luku tiger ke atas kapal. Tiger masih bisa ditolong. Tapi ia menolak didonor dari darah manusia. Ia belum bisa melupakan bagaimana pengalamannya dijadikan budak oleh manusia.
Sebelum meninggal, Tiger berpesan kepada anggotanya, “Semua menginginkan perdamaian. Tapi hanya ada satu orang yang membuat semuanya berbeda dari manusia, yaitu gadis seperti Koala, generasi selanjutnya yang tidak mengerti apa-apa.”

***
            Kisah di atas mengingatkan saya dengan kekerasan rasial yang dimuat di koran beberapa hari lalu lalu. Kasus berdarah yang terjadi di Kota Ferguson dan Ohio, Amerika Serikat. Pertengahan tahun 2014, isu rasial memang sedang hangat di Amerika Serikat. Padahal saat Barack Obama terpilih sebagai presiden kulit hitam pertama Amerika Serikat, banyak masyarakat yang berharap masalah kesenjangan ras dapat diselesaikan.
            Tapi kenyataan juga adalah kemungkinan. Michael Brown adalah buktinya, pemuda 18 tahun itu meninggal dunia dengan 6 luka tembak disekujur tubuhnya. Pelakunya adalah polisi kulit putih yang seharusnya bertugas untuk melindungi masyarakat. Saat dievakuasi, Brown bahkan tak memiliki senjata. Kasus ini juga diduga tanpa sebab yang pasti.
            Jhon Crawford, pria kulit hitam yang berusia 22 tahun juga ditembak mati oleh polisi kulit putih karena kedapatan membawa senjata tajam di pusat perbelanjaan. Sementara Eric Garner, pria kulit hitam yang berusia 43 tahun dicekik hingga tewas oleh polisi di Staten Island.
            Hasil penelitian yang dilakukan Pew Research Center pada tanggal 14-17 Agustus lalu menunjukkan hasil yang sama. 64 persen responden kulit hitam memiliki sedikit kepercayaan kepada institusi kepolisian Amerika Serikat.
Penyebabnya adalah tindakan represif pemerintah, terutama polisi dalam memperlakukan kulit hitam di negara itu. Perlakuan polisi sangat berbeda dengan apa yang dirasakan oleh kulit putih. Ini menimbulkan kecemburuan sosial yang rentan untuk tersulut.


***
Dalam kisah One Piece, apa yang Fisher Tiger perjuangkan adalah langkah yang mulia. Tapi harapan itu membutuhkan perjuangan. Menghidupkan perdamaian antara dua kelompok yang merasa berbeda bukan sesuatu yang mudah. Kulit hitam dan polisi Amerika Serikat telah menjawabnya.
Situasi ini menjadi bukti bahwa manusia kian sulit menerima perbedaan. Penyeragaman pola pikir mungkin salah satu penyebabnya. Sebab lain adalah sulitnya mengubah paradigma yang telah tertanam dalam kepala kita.
Pernahkah kita membayangkan, isu Sara - suku, agama, dan ras, yang selama ini dianggap pembeda yang rentan menimbulkan kejahatan juga akan terjadi pada golongan darah, jenis mata, klub sepak bola, makanan favorit, bahkan hingga ke persoalan tinggi dan berat badan?
Semoga saja kita bisa melahirkan generasi seperti Koala, generasi yang berani melihat perbedaan sebagai hal yang indah.


dimuat di Leterasi Tempo 30/8/2014


0 komentar on "Fisher Tiger, Rasis, dan Perdamaian Manusia"

Posting Komentar