Toraja: Saya Hanya Bermodalkan Gila

on 1.23.2013

“kamu pernah dengar cerita mayat yang bisa berjalan?”
“belum. memangnya bisa?”
“di Toraja itu tetap terjaga. Gilakan!!”
“kamu mau kesana?”
“besok saya mau kesana, mencoba berpetualang dengan bermodalkan gila kawan!”
“kamu pergi sama siapa?”
“saya pergi snediri di temani motor butut saya”
“kamu memang gila kawan”
Kira-kira seperti inilah percakapan "maya" saya dengan salah satu teman yang suka traveling.

Sore masih panjang. Dengan semangat yang keterlaluan, saya mencoba memanaskan motor dan memulai perjalanan dari rumah ke tugu Adipura. Perjalanan ke Toraja saja bisa memakan waktu sampai delapan jam dari kota Makassar dan sore ini saya masih sempat menghabiskan sebatang rokok terlebih dahulu [baca: ini ritual tersendiri]. 

Kira-kira jam 3 sore saya memulai trip gila ini. Angin sepoi dan keramaian jalan memang cukup menghibur trip kali ini. Kerel dan matras masih setia di punggung, tidak terasa sore mulai berganti menjadi malam dan pintu gerbang kabupaten Parepare belum juga terlihat. Masih dengan model yang sama, semangat. Meskipun sebenarnya dompet saya tidak bersemangat. Tapi disemangatkan sajalah.

Tiba di kota Parepare saya istirahat sambil menghabiskan bekal dari rumah, nasi dan "ikan paku" spesial yang saya buat sendiri. Selepas lelah saya kembali memulai perjalanan. Kali ini kabupaten Rappang yang saya lalui. Malam yang dingin dan jalan yang cukup berkelok memang menjadi tantangan tersendiri. Kerlap lampu jalan dan kendaraan silih berganti menerangi. Dengan hati-hati saya mencoba menikmati perjalanan dengan sesekali mengisap rokok kretek kebanggan lelaki.

Setelah berjam-jam akhirnya saya bertemu dengan hujan yang sialan. Ini di Enrekang. Jalanan berkelok dan sementara dalam pekerjaan membuat sedikit perjalanan saya terhambat. Belum lagi mobil truk yang mengambil hampir separuh badan jalan menghalangi pandangan saya. Kabut yang turun membuat saya harus singgah di warung sederhana dan menikmati segelas kopi tubruk racikan Pak Nawing (tuan rumah yang budiman). Jaket tebal yang saya gunakan tidak mempan menahan dingin. Alhasil, gemetar romantispun saya rasakan [baca: mencoba memeluk diri sendiri].

Satu yang perlu saya catat dalam perjalanan ini, masyarakat Enrekang itu sangat ramah, dia bahkan menawari saya untuk menginap di rumahnya saja jika memang sudah terlalu capek. Ini yang membuat saya semakin kagum dengan beliau dan keramahannya. 

Sekitar setengah jam istirahat, saya akhirnya pamit dan memulai lagi perjalanan ini. Semakin jauh berjalan, samakin tebal kabut yang yang saya temui. Sedikit "amazinglah" saya bisa bertahan dalam keadaan seperti ini. Di perjalanan hanya mobil yang melambung atau terlambung dengan sendirinya. Saya mencoba mengimbangi dingin dengan menggerak-gerakkan tubuh sambil tetap berhati-hati. Kalau nanti teman-teman mau trip ke Toraja, saran saya jangan mulai perjalanannya dari sore. Akibatnya seperti saya ini. Kedinginan dan perlu lebih berhati-hati. Diambang lelah saya berharap jalanan ini dengan sendirinya menjadi dekat agar saya bisa lebih cepat tiba.

Dan ini dia yang saya tunggu. Ucapan selamat datang di Kabupaten Toraja. Pukul 24.00 malam saya tiba setelah menempuh perjalan sekitar 300 kilo dari Makassar. Dari perbatasan saya masih harus melalui beberapa kecamatan untuk sampai di kota Rante Pao.

Tiba di Rante Pao saya masih sempat singgah untuk menikmati kopi khas toraja yang legendaris itu sebelum menuju penginapan. sebelum baring saya mengutuk dalam hati, akhirnya orang gila ini bisa juga sampai di toraja.

0 komentar:

Posting Komentar

1.23.2013

Toraja: Saya Hanya Bermodalkan Gila

Diposting oleh Jejak Sajak di 01.36

“kamu pernah dengar cerita mayat yang bisa berjalan?”
“belum. memangnya bisa?”
“di Toraja itu tetap terjaga. Gilakan!!”
“kamu mau kesana?”
“besok saya mau kesana, mencoba berpetualang dengan bermodalkan gila kawan!”
“kamu pergi sama siapa?”
“saya pergi snediri di temani motor butut saya”
“kamu memang gila kawan”
Kira-kira seperti inilah percakapan "maya" saya dengan salah satu teman yang suka traveling.

Sore masih panjang. Dengan semangat yang keterlaluan, saya mencoba memanaskan motor dan memulai perjalanan dari rumah ke tugu Adipura. Perjalanan ke Toraja saja bisa memakan waktu sampai delapan jam dari kota Makassar dan sore ini saya masih sempat menghabiskan sebatang rokok terlebih dahulu [baca: ini ritual tersendiri]. 

Kira-kira jam 3 sore saya memulai trip gila ini. Angin sepoi dan keramaian jalan memang cukup menghibur trip kali ini. Kerel dan matras masih setia di punggung, tidak terasa sore mulai berganti menjadi malam dan pintu gerbang kabupaten Parepare belum juga terlihat. Masih dengan model yang sama, semangat. Meskipun sebenarnya dompet saya tidak bersemangat. Tapi disemangatkan sajalah.

Tiba di kota Parepare saya istirahat sambil menghabiskan bekal dari rumah, nasi dan "ikan paku" spesial yang saya buat sendiri. Selepas lelah saya kembali memulai perjalanan. Kali ini kabupaten Rappang yang saya lalui. Malam yang dingin dan jalan yang cukup berkelok memang menjadi tantangan tersendiri. Kerlap lampu jalan dan kendaraan silih berganti menerangi. Dengan hati-hati saya mencoba menikmati perjalanan dengan sesekali mengisap rokok kretek kebanggan lelaki.

Setelah berjam-jam akhirnya saya bertemu dengan hujan yang sialan. Ini di Enrekang. Jalanan berkelok dan sementara dalam pekerjaan membuat sedikit perjalanan saya terhambat. Belum lagi mobil truk yang mengambil hampir separuh badan jalan menghalangi pandangan saya. Kabut yang turun membuat saya harus singgah di warung sederhana dan menikmati segelas kopi tubruk racikan Pak Nawing (tuan rumah yang budiman). Jaket tebal yang saya gunakan tidak mempan menahan dingin. Alhasil, gemetar romantispun saya rasakan [baca: mencoba memeluk diri sendiri].

Satu yang perlu saya catat dalam perjalanan ini, masyarakat Enrekang itu sangat ramah, dia bahkan menawari saya untuk menginap di rumahnya saja jika memang sudah terlalu capek. Ini yang membuat saya semakin kagum dengan beliau dan keramahannya. 

Sekitar setengah jam istirahat, saya akhirnya pamit dan memulai lagi perjalanan ini. Semakin jauh berjalan, samakin tebal kabut yang yang saya temui. Sedikit "amazinglah" saya bisa bertahan dalam keadaan seperti ini. Di perjalanan hanya mobil yang melambung atau terlambung dengan sendirinya. Saya mencoba mengimbangi dingin dengan menggerak-gerakkan tubuh sambil tetap berhati-hati. Kalau nanti teman-teman mau trip ke Toraja, saran saya jangan mulai perjalanannya dari sore. Akibatnya seperti saya ini. Kedinginan dan perlu lebih berhati-hati. Diambang lelah saya berharap jalanan ini dengan sendirinya menjadi dekat agar saya bisa lebih cepat tiba.

Dan ini dia yang saya tunggu. Ucapan selamat datang di Kabupaten Toraja. Pukul 24.00 malam saya tiba setelah menempuh perjalan sekitar 300 kilo dari Makassar. Dari perbatasan saya masih harus melalui beberapa kecamatan untuk sampai di kota Rante Pao.

Tiba di Rante Pao saya masih sempat singgah untuk menikmati kopi khas toraja yang legendaris itu sebelum menuju penginapan. sebelum baring saya mengutuk dalam hati, akhirnya orang gila ini bisa juga sampai di toraja.

0 komentar on "Toraja: Saya Hanya Bermodalkan Gila"

Posting Komentar