Jhon William Godward, Negara, dan Cara Menghormati Kematian

on 12.19.2014


Hari ini saya sadar bahwa mereka yang tersenyum dan tertawa adalah yang paling menderita. Karena tawa bukan obat terbaik, itu juga merupakan penyamaran terbaik. Saya dan semua orang seharusnya tau. – Unknown.
Meskipun sumber kalimat ini tidak diketahui. Tapi saya percaya akan hal itu. Percaya bahwa mereka yang terlihat banyak tertawa adalah yang paling banyak menyimpan kesedihan. Dan mereka yang terlihat sedih, mungkin saja menyimpan banyak kebahagiaan di dalam dirinya.
Ini mengingatkan saya dengan kisah hidup Jhon William Godward. Pelukis asal Inggris yang hidup di akhir era Pre-Raphaelite. Tentu dalam tulisan ini saya tidak akan membahas bagaimana ketenaran karya Godward atau seperti apa proses ia berkesenian.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Godward adalah orang yang cukup periang. Dan tertawa adalah salah satu kebiasaannya.
Karya Godward yang paling dikagumi dan dipuji dunia adalah Eighty and Eighteen. Lukisan yang menggambarkan seorang perempuan muda yang cantik duduk di atas sofa panjang bersama lelaki tua.
Tapi bagi saya sendiri, karya paling agung dari Godward adalah kematiannya. Pada tahun 1922 ia akhirnya memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri. Sebelum meninggal, ia menulis pesan singkat; karena dunia ini tidak cukup luas baginya.
***
            Semakin banyak kita tertawa, semakin banyak kebohongan yang kita perlihatkan kepada orang lain. Kalimat klise semacam, hidup ini terlalu singkat untuk disedihkan atau badai pasti berlalu adalah ungkapan yang tidak berlaku bagi beberapa orang.
            Silakan bertanya pada Anita Ree – pelukis berkebangsaan Jerman yang berdarah Yahudi. Ia memutuskan untuk menghukum orang-orang yang menghina dan melecehkan dirinya dengan bunuh diri.
            Atau kepada Nicolas de Stael. Ia seorang pelukis berdarah Rusia. Pada tahun 1953 ia mengalami depresi yang cukup berat dan memilih untuk mengisolasi dirinya di Antibes – bagian selatan Prancis. Karena tidak kuat menghadapi tekanan dan kekecewaan, dua tahun setelah itu ia akhirnya menerjungkan tubuhnya dari studionya di lantai sebelas.
            Atau kepada Vincent van Gogh. Pelukis terkenal yang dikononka bunuh diri dengan cara menembakkan peluru ke dadanya. Theo – saudara van Gogh juga mengatakan bahwa van Gogh ingin mati setelah merasa kesedihannya tidak akan pernah berakhir.
            Jika mereka menjawab badai pasti berlalu. Mungkin ia tidak akan memilih bunuh diri. Mungkin ia masih terus hidup dan menunggu kematiannya untuk datang.  Tapi kematian seperti apa yang akan mendatangi mereka?
            Ketiga orang ini  - Ree, Nicolas, van Gogh, adalah orang-orang yang dianggap karyanya mempengaruhi kesenian dunia. Karyanya menuai banyak pujian. Bahkan hingga sekarang, nama mereka masih diingat. Tapi sisi lain dari itu, mereka adalah orang yang menyimpan kesedihan yang mendalam. Pujian dan kritikan terhadap karyanya tidak membuat hidupnya terus bahagia. Pada akhirnya, mereka memilih cara kematiannya sendiri.
Kisah ini bukan cerita amatir. Juga bukan hal yang terjadi tanpa melalui proses yang panjang. Bagi sebagian orang, bunuh diri adalah cara terbaik untuk hidup lebih lama. Setidaknya, sampai sekarang mereka masih dikenang. Bukan hanya karena karya mereka memang layak untuk diingat, tapi juga kematiannya patut untuk kita hormati. 
***
            Seandainya saya bunuh diri, tentu nasib saya tidak akan seperti mereka. Yang ada mungkin orang-orang akan menyayangkan dan menganggap saya gagal. Beberapa orang lagi tentu akan menjadikan saya pelajaran, kamu jangan sebodoh dia.
Jika bunuh diri adalah tindakan bodoh, maka Ariel – eks Peterpan, Ilham Arif Sirajudin, Andi Alfian Mallarangeng, atau Angelina Sondakh juga bisa dianggap bunuh diri.
Tentu saya tidak akan sepakat untuk membandingkan Ariel dengan Elliott Smith – penyanyi yang juga mati bunuh diri, itu sama halnya mengabaikan perjuangan Elliott untuk membunuh dirinya. Toh setelah skandalnya terbongkar banyak penggemar Ariel yang menganggapnya telah mati – salah satunya saya.
***
            Di jalanan, saya kerap melihat kumpulan anak kecil yang mengamen. Mereka tertawa seakan tidak ada lagi kesedihan yang patut untuk dipikirkan. Di televisi, acap kali melihat Presiden Jokowi tersenyum, saya mengingat betapa negara ini memang menyimpan kesedihan yang panjang. Atau para aktivis mahasiswa yang turun ke jalan. Wajah mereka yang murung durja sambil menggunakan pengeras suara mengabarkan betapa negara ini sedang darurat. Tapi apakah ia benar-benar sadar bahwa kemacetan membawa beberapa kebahagian. Kebahagian bagi mereka yang punya alasan untuk tidak berkantor, atau kampus yang akhirnya diliburkan, atau sepasang kekasih yang memilih menghabiskan waktu di warung kopi sambil menunggu kemacetan selesai.
            Seperti Jhon William Godward, saya berharap negara ini memilih untuk membunuh dirinya sendiri. Agar kita menemukan cara untuk menghormati kematiannya. Bukankah ungkapan, kadang kita baru merasakan kehilangan ketika yang kita cintai itu telah pergi, memang benar. Setelah negara ini bunuh diri, kita semua mungkin menemukan cara untuk bahagia.

dimuat di kolom Literasi 18/12/2014

0 komentar:

Posting Komentar

12.19.2014

Jhon William Godward, Negara, dan Cara Menghormati Kematian

Diposting oleh Jejak Sajak di 00.38


Hari ini saya sadar bahwa mereka yang tersenyum dan tertawa adalah yang paling menderita. Karena tawa bukan obat terbaik, itu juga merupakan penyamaran terbaik. Saya dan semua orang seharusnya tau. – Unknown.
Meskipun sumber kalimat ini tidak diketahui. Tapi saya percaya akan hal itu. Percaya bahwa mereka yang terlihat banyak tertawa adalah yang paling banyak menyimpan kesedihan. Dan mereka yang terlihat sedih, mungkin saja menyimpan banyak kebahagiaan di dalam dirinya.
Ini mengingatkan saya dengan kisah hidup Jhon William Godward. Pelukis asal Inggris yang hidup di akhir era Pre-Raphaelite. Tentu dalam tulisan ini saya tidak akan membahas bagaimana ketenaran karya Godward atau seperti apa proses ia berkesenian.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa Godward adalah orang yang cukup periang. Dan tertawa adalah salah satu kebiasaannya.
Karya Godward yang paling dikagumi dan dipuji dunia adalah Eighty and Eighteen. Lukisan yang menggambarkan seorang perempuan muda yang cantik duduk di atas sofa panjang bersama lelaki tua.
Tapi bagi saya sendiri, karya paling agung dari Godward adalah kematiannya. Pada tahun 1922 ia akhirnya memutuskan untuk membunuh dirinya sendiri. Sebelum meninggal, ia menulis pesan singkat; karena dunia ini tidak cukup luas baginya.
***
            Semakin banyak kita tertawa, semakin banyak kebohongan yang kita perlihatkan kepada orang lain. Kalimat klise semacam, hidup ini terlalu singkat untuk disedihkan atau badai pasti berlalu adalah ungkapan yang tidak berlaku bagi beberapa orang.
            Silakan bertanya pada Anita Ree – pelukis berkebangsaan Jerman yang berdarah Yahudi. Ia memutuskan untuk menghukum orang-orang yang menghina dan melecehkan dirinya dengan bunuh diri.
            Atau kepada Nicolas de Stael. Ia seorang pelukis berdarah Rusia. Pada tahun 1953 ia mengalami depresi yang cukup berat dan memilih untuk mengisolasi dirinya di Antibes – bagian selatan Prancis. Karena tidak kuat menghadapi tekanan dan kekecewaan, dua tahun setelah itu ia akhirnya menerjungkan tubuhnya dari studionya di lantai sebelas.
            Atau kepada Vincent van Gogh. Pelukis terkenal yang dikononka bunuh diri dengan cara menembakkan peluru ke dadanya. Theo – saudara van Gogh juga mengatakan bahwa van Gogh ingin mati setelah merasa kesedihannya tidak akan pernah berakhir.
            Jika mereka menjawab badai pasti berlalu. Mungkin ia tidak akan memilih bunuh diri. Mungkin ia masih terus hidup dan menunggu kematiannya untuk datang.  Tapi kematian seperti apa yang akan mendatangi mereka?
            Ketiga orang ini  - Ree, Nicolas, van Gogh, adalah orang-orang yang dianggap karyanya mempengaruhi kesenian dunia. Karyanya menuai banyak pujian. Bahkan hingga sekarang, nama mereka masih diingat. Tapi sisi lain dari itu, mereka adalah orang yang menyimpan kesedihan yang mendalam. Pujian dan kritikan terhadap karyanya tidak membuat hidupnya terus bahagia. Pada akhirnya, mereka memilih cara kematiannya sendiri.
Kisah ini bukan cerita amatir. Juga bukan hal yang terjadi tanpa melalui proses yang panjang. Bagi sebagian orang, bunuh diri adalah cara terbaik untuk hidup lebih lama. Setidaknya, sampai sekarang mereka masih dikenang. Bukan hanya karena karya mereka memang layak untuk diingat, tapi juga kematiannya patut untuk kita hormati. 
***
            Seandainya saya bunuh diri, tentu nasib saya tidak akan seperti mereka. Yang ada mungkin orang-orang akan menyayangkan dan menganggap saya gagal. Beberapa orang lagi tentu akan menjadikan saya pelajaran, kamu jangan sebodoh dia.
Jika bunuh diri adalah tindakan bodoh, maka Ariel – eks Peterpan, Ilham Arif Sirajudin, Andi Alfian Mallarangeng, atau Angelina Sondakh juga bisa dianggap bunuh diri.
Tentu saya tidak akan sepakat untuk membandingkan Ariel dengan Elliott Smith – penyanyi yang juga mati bunuh diri, itu sama halnya mengabaikan perjuangan Elliott untuk membunuh dirinya. Toh setelah skandalnya terbongkar banyak penggemar Ariel yang menganggapnya telah mati – salah satunya saya.
***
            Di jalanan, saya kerap melihat kumpulan anak kecil yang mengamen. Mereka tertawa seakan tidak ada lagi kesedihan yang patut untuk dipikirkan. Di televisi, acap kali melihat Presiden Jokowi tersenyum, saya mengingat betapa negara ini memang menyimpan kesedihan yang panjang. Atau para aktivis mahasiswa yang turun ke jalan. Wajah mereka yang murung durja sambil menggunakan pengeras suara mengabarkan betapa negara ini sedang darurat. Tapi apakah ia benar-benar sadar bahwa kemacetan membawa beberapa kebahagian. Kebahagian bagi mereka yang punya alasan untuk tidak berkantor, atau kampus yang akhirnya diliburkan, atau sepasang kekasih yang memilih menghabiskan waktu di warung kopi sambil menunggu kemacetan selesai.
            Seperti Jhon William Godward, saya berharap negara ini memilih untuk membunuh dirinya sendiri. Agar kita menemukan cara untuk menghormati kematiannya. Bukankah ungkapan, kadang kita baru merasakan kehilangan ketika yang kita cintai itu telah pergi, memang benar. Setelah negara ini bunuh diri, kita semua mungkin menemukan cara untuk bahagia.

dimuat di kolom Literasi 18/12/2014

0 komentar on "Jhon William Godward, Negara, dan Cara Menghormati Kematian"

Posting Komentar