Kesepian dan Absurditas

on 12.06.2014


Saat duduk menghabiskan waktu di cafe dan melihat orang-orang datang dan pergi. Saya seperti masuk ke dalam ruang yang wujudnya seperti taman di kepala saya. Taman bagi yang membutuhkan sepi. Taman bagi yang membutuhkan keheningan sejenak dari riuhnya kota.
            Niat awal menghabiskan waktu panjang untuk duduk sendiri terpaksa gagal. Rombongan perempuan yang datang dan duduk di sebalah meja saya penyebabnya. Ternyata, salah seorang di antara mereka adalah teman kecil saya. Tak ada alasan untuk menolak bercerita panjang lebar dengan dia.
            Menceritakan segala hal yang menurut saya sangat mengganggu. Yang membahagiakan adalah karena teman perempuan saya itu tidak berubah. Cara dia tersenyum belum hilang. Kecerian masa kecilnya masih sama. Intinya, dia masih seperti gadis 8 tahun yang saya kenal dulu. Setelah kehabisan bahan cerita, saya memilih duduk dan bermain gawai. Sementara mereka berempat tampak tertawa, bahagia menceritakan pengalamannya. Pengalaman yang terasa sangat asing dalam kepala saya.
            Entah kebetulan atau tidak, teman kecil saya itu membuat status di facebook – kami memang sudah lama berteman di dunia maya, dan saya tanpa sengaja membacanya, kurang lebih redaksi katanya seperti ini, “buat apa bahagia kalau hati terluka.”
Tanpa bermaksud memberi tanggapan terhadap status facebook teman saya. Yang mengherankan dan masih sulit berterima dalam kepala saya adalah, bagaimana cara terlihat bahagia tapi di media sosial mengeluh tentang kedalaman perasaan?
***
Salah satu lirik lagu Ari Lasso - di dalam keramaian aku masih merasa sepi, memang ada benarnya. Seseorang bisa saja merasa sepi di tengah keramaian. Dalam tulisan ini saya lebih tertarik untuk menyebut hal itu sebagai karakter ganda. Di dunia nyata seseorang bisa saja terlihat bahagia dengan banyak tertawa tapi di media sosial, orang-orang mengeluhkan segala hal yang ia pendam. Ajaib.
Jika Ricard Rorty - seorang filsuf dari Amerika Serikat, menjelaskan bahwa kebenaran adalah milik dari kalimat-kalimat, dan karena kalimat bergantung keberadaannya pada kata-kata, dan karena kata-kata adalah buatan manusia, maka begitu pula kebenaran.
Apa yang benar adalah apa yang disepakati oleh manusia sebagai kebenaran. Apa yang dilakukan oleh teman saya mungkin saja benar bagi dirinya. Tapi amat mengganggu pikiran saya. Benarkah bahwa dunia maya adalah dunia yang berdiri sendiri? Dunia yang terpisah dari interaksi sosial yang kita bangun.
Sebagian dari kita mungkin sepakat bahwa dunia nyata dan dunia maya memang harus dipisahkan. Sebagian lagi mungkin meyakini bahwa keduanya saling berkaitan. Terserah. yang jelas kedua dunia ini kita sepakati ada dan menjadi bukti eksistensi manusia.
***
            Perasaan kesepian adalah rasa universal yang dapat dirasakan oleh siapa saja. Sedangkan absurditas adalah sintesa dari resio dan keajaiban. Kedua hal ini seringkali mewarnai kehidupan kita. Terlibat pada banyak hal dalam proses menemukan kesimpulan-kesimpulan dalam hidup ini.
Benarkah begitu sepi dan absurd kehidupan manusia sehingga harus diwarnai dengan proses pelenyapan melalui narasi dan cerita-cerita panjang tentang manusia itu sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa dengan mudah merasakan sepi ketika berada di suatu tempat yang ramai. Bukankah tempat yang ramai adalah ruang yang kemungkinan besar bersifat publik. Sedangkan kesepian adalah narasi seseorang dengan dirinya sendiri. Narasi tunggal ini juga bersifat sangat pribadi. Sangat privasi.
             Ketangguhan manusia memanipulasi kesedihan hanya akan berhenti ketika kita sadar bahwa tak ada satupun yang dapat kita selamatkan. Termasuk diri sendiri. Dengan lahirnya begitu banyak tempat-tempat yang bersifat publik. Maka semakin besar pelung manusia untuk masuk dan menemukan ruang privasi di dalamnya.
Terlihat bahagia di dunia nyata dan galau di dunia maya dapat kita masukkan sebagai salah satu penyakit sosial. Penyakit yang mungkin saja tanpa sadar telah menjangkiti kita. Dalam kasus ini, kisah teman saya bukanlah cerita tunggul. Mungkin di antara kita ada yang pernah melakukan hal yang sama.
            Kisah teman kecil yang saya tuliskan di atas adalah pembenaran dari apa yang pernah disebut oleh David Hall – dalam Tulisan R. A. Antonios, Ruang Publik dan Peran Penyair menurut Richard Rorty “pencarian kesempurnaan privat”. Hal ini kemudian disebut sebagai proses pemberian makna bagi keberadaan manusia. Meskipun harus diakui bahwa upaya ini tidak akan pernah selesai. Tidak mungkin berakhir.


Dimuat di kolom literasi Tempo 3/12/2014

12.06.2014

Kesepian dan Absurditas

Diposting oleh Jejak Sajak di 08.32


Saat duduk menghabiskan waktu di cafe dan melihat orang-orang datang dan pergi. Saya seperti masuk ke dalam ruang yang wujudnya seperti taman di kepala saya. Taman bagi yang membutuhkan sepi. Taman bagi yang membutuhkan keheningan sejenak dari riuhnya kota.
            Niat awal menghabiskan waktu panjang untuk duduk sendiri terpaksa gagal. Rombongan perempuan yang datang dan duduk di sebalah meja saya penyebabnya. Ternyata, salah seorang di antara mereka adalah teman kecil saya. Tak ada alasan untuk menolak bercerita panjang lebar dengan dia.
            Menceritakan segala hal yang menurut saya sangat mengganggu. Yang membahagiakan adalah karena teman perempuan saya itu tidak berubah. Cara dia tersenyum belum hilang. Kecerian masa kecilnya masih sama. Intinya, dia masih seperti gadis 8 tahun yang saya kenal dulu. Setelah kehabisan bahan cerita, saya memilih duduk dan bermain gawai. Sementara mereka berempat tampak tertawa, bahagia menceritakan pengalamannya. Pengalaman yang terasa sangat asing dalam kepala saya.
            Entah kebetulan atau tidak, teman kecil saya itu membuat status di facebook – kami memang sudah lama berteman di dunia maya, dan saya tanpa sengaja membacanya, kurang lebih redaksi katanya seperti ini, “buat apa bahagia kalau hati terluka.”
Tanpa bermaksud memberi tanggapan terhadap status facebook teman saya. Yang mengherankan dan masih sulit berterima dalam kepala saya adalah, bagaimana cara terlihat bahagia tapi di media sosial mengeluh tentang kedalaman perasaan?
***
Salah satu lirik lagu Ari Lasso - di dalam keramaian aku masih merasa sepi, memang ada benarnya. Seseorang bisa saja merasa sepi di tengah keramaian. Dalam tulisan ini saya lebih tertarik untuk menyebut hal itu sebagai karakter ganda. Di dunia nyata seseorang bisa saja terlihat bahagia dengan banyak tertawa tapi di media sosial, orang-orang mengeluhkan segala hal yang ia pendam. Ajaib.
Jika Ricard Rorty - seorang filsuf dari Amerika Serikat, menjelaskan bahwa kebenaran adalah milik dari kalimat-kalimat, dan karena kalimat bergantung keberadaannya pada kata-kata, dan karena kata-kata adalah buatan manusia, maka begitu pula kebenaran.
Apa yang benar adalah apa yang disepakati oleh manusia sebagai kebenaran. Apa yang dilakukan oleh teman saya mungkin saja benar bagi dirinya. Tapi amat mengganggu pikiran saya. Benarkah bahwa dunia maya adalah dunia yang berdiri sendiri? Dunia yang terpisah dari interaksi sosial yang kita bangun.
Sebagian dari kita mungkin sepakat bahwa dunia nyata dan dunia maya memang harus dipisahkan. Sebagian lagi mungkin meyakini bahwa keduanya saling berkaitan. Terserah. yang jelas kedua dunia ini kita sepakati ada dan menjadi bukti eksistensi manusia.
***
            Perasaan kesepian adalah rasa universal yang dapat dirasakan oleh siapa saja. Sedangkan absurditas adalah sintesa dari resio dan keajaiban. Kedua hal ini seringkali mewarnai kehidupan kita. Terlibat pada banyak hal dalam proses menemukan kesimpulan-kesimpulan dalam hidup ini.
Benarkah begitu sepi dan absurd kehidupan manusia sehingga harus diwarnai dengan proses pelenyapan melalui narasi dan cerita-cerita panjang tentang manusia itu sendiri. Bagaimana mungkin seseorang bisa dengan mudah merasakan sepi ketika berada di suatu tempat yang ramai. Bukankah tempat yang ramai adalah ruang yang kemungkinan besar bersifat publik. Sedangkan kesepian adalah narasi seseorang dengan dirinya sendiri. Narasi tunggal ini juga bersifat sangat pribadi. Sangat privasi.
             Ketangguhan manusia memanipulasi kesedihan hanya akan berhenti ketika kita sadar bahwa tak ada satupun yang dapat kita selamatkan. Termasuk diri sendiri. Dengan lahirnya begitu banyak tempat-tempat yang bersifat publik. Maka semakin besar pelung manusia untuk masuk dan menemukan ruang privasi di dalamnya.
Terlihat bahagia di dunia nyata dan galau di dunia maya dapat kita masukkan sebagai salah satu penyakit sosial. Penyakit yang mungkin saja tanpa sadar telah menjangkiti kita. Dalam kasus ini, kisah teman saya bukanlah cerita tunggul. Mungkin di antara kita ada yang pernah melakukan hal yang sama.
            Kisah teman kecil yang saya tuliskan di atas adalah pembenaran dari apa yang pernah disebut oleh David Hall – dalam Tulisan R. A. Antonios, Ruang Publik dan Peran Penyair menurut Richard Rorty “pencarian kesempurnaan privat”. Hal ini kemudian disebut sebagai proses pemberian makna bagi keberadaan manusia. Meskipun harus diakui bahwa upaya ini tidak akan pernah selesai. Tidak mungkin berakhir.


Dimuat di kolom literasi Tempo 3/12/2014