Kepada Tuhan yang Maha Lagi

on 12.25.2014


Adam – seorang pemuda dari kelompok Islam garis keras, bersama puluhan penduduk beragama nasrani terjebak di gereja saat perang itu menghancurkan Kota Yursala. Suara tembakan, bom meledak, dan teriakan orang-orang yang tidak bisa menyelamatkan diri terdengar sangat nyaring.
Suara ketakutan dari orang-orang di luar sana menggema hingga ke altar gereja. Mereka yang berhasil sembunyi di dalam gereja juga terlihat menyimpan kesedihan, ketakutan, juga kebencian. Perasaan itu bersatu dan melahirkan keputusasaan yang dalam.
Keadaan yang mencekam ini membuat Pastor Costana berlari ke atas mimbar gereja. Ia menyerukan kepada seluruh yang ada di ruangan ini untuk berdoa. Adam juga ikut berdoa. Berdoa dengan cara nasrani, bukan karena ia takut dikeluarkan dari gereja. Tapi Adam sadar bahwa perang ini tidak memandang agama apa. Maka ia berdoa kepada Tuhan di hadapan patung Yesus dan Bunda Maria agar perang sipil antar kelompok masyarakat dan pasukan pemberontak ini segera berakhir.
Setelah larut malam, samar-samar Adam melihat Ghandi, teman sekolahnya dulu yang beragama Hindu, Dr. Patra, seorang pengacara yang Atheis, dan Dini, penganut kepercayaan kuno di Kota Yursala. Mereka semua berkumpul di gereja yang sama. Berdoa agar perang ini segera usai.
***
Jangan cari kisah di atas. Karena tidak akan ditemukan di novel, cerpen, apa lagi dikehidupan nyata. Saya mengutipnya di sebuah diskusi kecil dengan seorang kawan. Kisah itu hanya bayangan kami berdua.
Seperti biasa, menjelang natal, selalu saja muncul perdebatan berulang. Di media sosial, di televisi, di warung kopi, di ruang kuliah, bahkan di atas ranjang. Perihal seorang muslim yang memberikan ucapan selamat natal kepada seorang kristiani.
Di Twitter, beberapa orang memenggal kalimat perkalimat dan mendadak menjadi juru kebenaran. Juru kebenaran yang menyerukan agar seorang muslim tak memberikan ucapan selamat natal.
Atau di Facebook, beberapa orang menyusun status yang panjang. Mengutip kiri dan kanan apapun yang bisa digunakan sebagai pembenaran agar tak seorangpun yang beragama islam berani mengucapkan selamat natal.
Tapi saya kurang yakin di antara mereka ada yang benar-benar kembali ke Alquran dan hadis. Mereka hanya berlindung di belakang dogma keyakinan yang sangat picik. Dogma yang seringkali mengurung kita pada perkara yang terlihat meyakinkan padahal sebenarnya itu sangat meragukan.
Yang paling mengerikan, beberapa hari yang lalu ada sekelompok mahasiswa yang mengaku beragama tapi  melakukan pemboikotan perayaan natal di fakultas sastra – ini terjadi di salah satu universitas negeri di Makasssar. Dengan keadaan dan tekanan yang tentu sulit diterima, kegiatan khidmat itu akhirnya dipindahkan keluar kampus.
Meskipun membahas tulisan seperti ini terlalu rentan dan bisa menjadi pemantik sebuah konflik. Tapi saya yakin, masih lebih banyak di antara kita yang beragama dan menjunjung keberagaman sebagai pilar utama kehidupan. Masih banyak di antara kita yang bisa menerima perbedaan. Bahkan Rasullullah SAW pernah mengatakan; Perbedaan adalah rahmat.
Saya lahir dan besar di pesantren tapi tidak sekalipun ada ajaran untuk bersikap intoleran terhadap agama lain. Apa lagi sampai menghalangi saudara kita untuk beribadah. Tuhan yang mana melarang agama lain untuk beribadah?
 Ini bukan perkara siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi perkara kita meletakkan Tuhan di mana saat melakukan pelarangan orang lain untuk beribadah. Apakah Tuhan kita masih hidup jika sebagai hamba menganggap Tuhannya yang paling benar?
Sikap-sikap arogan seperti itu hanya dimiliki oleh pecundang sosial. Pecundang yang memiliki pembenaran yang buta di dalam hatinya. Arogansi seperti itu lebih tepat disebut sebuah ego. Ego yang juga dimiliki oleh para iblis.
***
Terkikisnya kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan adalah bukti jika kita adalah manusia biasa. Manusia biasa yang dengan mudah dicuri oleh pemahaman yang sangat jauh dari konsep kebudayaan kita.
Kita bisa belajar dari sepasang kekasih yang menjalani kisah cinta tapi dalam banyak hal mereka berbeda, tentu terasa hangat dan menggairahkan. Tak bermaksud berkhutbah, tapi hidup di tengah perbedaan dan bisa menerima itu sebagai keindahan tentu terasa menenangkan.
  Saya mengingat puisi Robert Frost – penyair asal Amerika Serikat, di hutan, kulihat dua cabang jalan terbentang. Kuambil yang jarang dilalui orang. Dan itulah yang membuat segala perbedaan.
Perbedaan itu memang tidak menciptakan dirinya sendiri atau diciptakan oleh manusia. Tapi ia selalu ada. Selelah apapun kita menghindarinya, ia hidup dalam bayang-bayang setiap benda bernyawa ataupun tidak.
Siapa yang tahu, Tuhan mungkin saja menciptakan banyak agama dan kepercayaan agar ia bisa disembah dengan banyak cara. Agar kita bisa hidup dalam banyak rasa. Selamat hari natal.


dimuat di kolom Literasi Tempo 24/12/2014

0 komentar:

Posting Komentar

12.25.2014

Kepada Tuhan yang Maha Lagi

Diposting oleh Jejak Sajak di 22.24


Adam – seorang pemuda dari kelompok Islam garis keras, bersama puluhan penduduk beragama nasrani terjebak di gereja saat perang itu menghancurkan Kota Yursala. Suara tembakan, bom meledak, dan teriakan orang-orang yang tidak bisa menyelamatkan diri terdengar sangat nyaring.
Suara ketakutan dari orang-orang di luar sana menggema hingga ke altar gereja. Mereka yang berhasil sembunyi di dalam gereja juga terlihat menyimpan kesedihan, ketakutan, juga kebencian. Perasaan itu bersatu dan melahirkan keputusasaan yang dalam.
Keadaan yang mencekam ini membuat Pastor Costana berlari ke atas mimbar gereja. Ia menyerukan kepada seluruh yang ada di ruangan ini untuk berdoa. Adam juga ikut berdoa. Berdoa dengan cara nasrani, bukan karena ia takut dikeluarkan dari gereja. Tapi Adam sadar bahwa perang ini tidak memandang agama apa. Maka ia berdoa kepada Tuhan di hadapan patung Yesus dan Bunda Maria agar perang sipil antar kelompok masyarakat dan pasukan pemberontak ini segera berakhir.
Setelah larut malam, samar-samar Adam melihat Ghandi, teman sekolahnya dulu yang beragama Hindu, Dr. Patra, seorang pengacara yang Atheis, dan Dini, penganut kepercayaan kuno di Kota Yursala. Mereka semua berkumpul di gereja yang sama. Berdoa agar perang ini segera usai.
***
Jangan cari kisah di atas. Karena tidak akan ditemukan di novel, cerpen, apa lagi dikehidupan nyata. Saya mengutipnya di sebuah diskusi kecil dengan seorang kawan. Kisah itu hanya bayangan kami berdua.
Seperti biasa, menjelang natal, selalu saja muncul perdebatan berulang. Di media sosial, di televisi, di warung kopi, di ruang kuliah, bahkan di atas ranjang. Perihal seorang muslim yang memberikan ucapan selamat natal kepada seorang kristiani.
Di Twitter, beberapa orang memenggal kalimat perkalimat dan mendadak menjadi juru kebenaran. Juru kebenaran yang menyerukan agar seorang muslim tak memberikan ucapan selamat natal.
Atau di Facebook, beberapa orang menyusun status yang panjang. Mengutip kiri dan kanan apapun yang bisa digunakan sebagai pembenaran agar tak seorangpun yang beragama islam berani mengucapkan selamat natal.
Tapi saya kurang yakin di antara mereka ada yang benar-benar kembali ke Alquran dan hadis. Mereka hanya berlindung di belakang dogma keyakinan yang sangat picik. Dogma yang seringkali mengurung kita pada perkara yang terlihat meyakinkan padahal sebenarnya itu sangat meragukan.
Yang paling mengerikan, beberapa hari yang lalu ada sekelompok mahasiswa yang mengaku beragama tapi  melakukan pemboikotan perayaan natal di fakultas sastra – ini terjadi di salah satu universitas negeri di Makasssar. Dengan keadaan dan tekanan yang tentu sulit diterima, kegiatan khidmat itu akhirnya dipindahkan keluar kampus.
Meskipun membahas tulisan seperti ini terlalu rentan dan bisa menjadi pemantik sebuah konflik. Tapi saya yakin, masih lebih banyak di antara kita yang beragama dan menjunjung keberagaman sebagai pilar utama kehidupan. Masih banyak di antara kita yang bisa menerima perbedaan. Bahkan Rasullullah SAW pernah mengatakan; Perbedaan adalah rahmat.
Saya lahir dan besar di pesantren tapi tidak sekalipun ada ajaran untuk bersikap intoleran terhadap agama lain. Apa lagi sampai menghalangi saudara kita untuk beribadah. Tuhan yang mana melarang agama lain untuk beribadah?
 Ini bukan perkara siapa yang benar dan siapa yang salah. Tapi perkara kita meletakkan Tuhan di mana saat melakukan pelarangan orang lain untuk beribadah. Apakah Tuhan kita masih hidup jika sebagai hamba menganggap Tuhannya yang paling benar?
Sikap-sikap arogan seperti itu hanya dimiliki oleh pecundang sosial. Pecundang yang memiliki pembenaran yang buta di dalam hatinya. Arogansi seperti itu lebih tepat disebut sebuah ego. Ego yang juga dimiliki oleh para iblis.
***
Terkikisnya kemampuan untuk hidup berdampingan dalam perbedaan adalah bukti jika kita adalah manusia biasa. Manusia biasa yang dengan mudah dicuri oleh pemahaman yang sangat jauh dari konsep kebudayaan kita.
Kita bisa belajar dari sepasang kekasih yang menjalani kisah cinta tapi dalam banyak hal mereka berbeda, tentu terasa hangat dan menggairahkan. Tak bermaksud berkhutbah, tapi hidup di tengah perbedaan dan bisa menerima itu sebagai keindahan tentu terasa menenangkan.
  Saya mengingat puisi Robert Frost – penyair asal Amerika Serikat, di hutan, kulihat dua cabang jalan terbentang. Kuambil yang jarang dilalui orang. Dan itulah yang membuat segala perbedaan.
Perbedaan itu memang tidak menciptakan dirinya sendiri atau diciptakan oleh manusia. Tapi ia selalu ada. Selelah apapun kita menghindarinya, ia hidup dalam bayang-bayang setiap benda bernyawa ataupun tidak.
Siapa yang tahu, Tuhan mungkin saja menciptakan banyak agama dan kepercayaan agar ia bisa disembah dengan banyak cara. Agar kita bisa hidup dalam banyak rasa. Selamat hari natal.


dimuat di kolom Literasi Tempo 24/12/2014

0 komentar on "Kepada Tuhan yang Maha Lagi"

Posting Komentar