Balada Komedi Putar Negara

on 2.11.2015


“Di antara manusia, hanya penyair, pendeta, dan prajutritlah yang agung. Lainnya hanya pantas dicambuk.” kata Baudelaire – penyair berkebangsaan Prancis. Saya membayangkan pasukan abadi Persia hidup kembali. Kali ini dengan mudah menginvasi negara yang elit politiknya sibuk merebut kuasa. Pasukan ini dipimpin penyair dan pendeta sebagai penasehatnya.
            Entah apa motivasi hidup Baudelaire menciptakan kalimat itu. Sekilas, terbaca amat tragis. Sepertinya ada rahasia yang dibiarkan Baudelaire hidup dalam kalimat itu. Alasan kuat yang mendorongnya memilih penyair, pendeta, dan prajurit sebagai kelompok manusia agung.
Abad berganti. Tahun berubah. Tapi tiga kategori manusia ini terus lahir sebagai penyambung sejarah. Dalam masyarakat, hampir tidak mungkin kebudayaan bertahan tanpa adanya penyair, pendeta, dan prajurit. Kita bahkan bisa pulang dan pergi melintasi waktu karena keterlibatan tiga kategori manusia ini. Mereka tak pernah musnah dan terus menulis sejarah dengan caranya masing-masing.
Peran mereka memiliki pengaruh cukup kuat sebagai simbol yang mencerminkan komunitas sosial dari masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang terus hidup sebagai penjaga kebenaran. Dari mata merekalah kita bisa melihat keadilan itu hidup atau mati.
Baudelaire mungkin memilih penyair, pendeta, dan prajurit sebagai kategori agung yang mewakili klasifikasi manusia. Penyair mewakili kaum intelek, pendeta mewakili kaum religius, dan prajurit mewakili rakyat jelata - kaum buruh dan pekerja.
***
Kisah Komisi Pemberantasan Korupsi yang menghadapi serangan bertubi-tubi dari banyak pihak – termasuk Polri, menjadi cerita paling romantis awal tahun ini. Bayangkan saja, pemimpin KPK, Abraham Samad diserang dengan foto ranjang bersama seorang perempuan. Adalah Zainal Taher, yang mengaku sahabat Abraham Samad sebagai juru gambar. Katanya, ia mengabadikan momen itu di salah satu hotel mewah di Makassar pada kisaran februari tahun 2007.
Terlepas foto itu asli atau rekayasa, kisruh ini tidak boleh berakhir seperti kasus Widji Thukul ataupun Munir – yang hingga saat ini belum jelas ujung pangkalnya.
Jika Abraham Samad terbukti bersalah, para pembela institusi yang menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka dugaan kepemilikan rekening tak wajar harus menerima kenyataan. Selama keputusan itu memang benar. Pun sebaliknya, polisi tidak boleh melibatkan dendam dalam menjalankan tugasnya. Sebab penjara bukan untuk orang bersalah dibuktikan kesalahan, penjara untuk orang-orang berkuasa membuktikan kekuasaan, kata Nassury Ibrahim dalam bukunya yang berjudul Dongeng Bapak.
Kita sudah jenuh menghadapi ketidakjelasan. Negara mendidik kita untuk menjadi pengabai dan membiarkan urusan negara menjadi tanggungan elit politik. Sialnya, yang akan merasakan dampak terbesar dari apa yang elit politik lakukan adalah kita – para rakyat jelata.
Masalah ini bukan tentang permen yang direbut dari tangan anak kecil hingga ia menangis, atau perempuan yang merelakan dirinya dicuri oleh lelaki lain dari pelukan kekasihnya sendiri. Ini kisruh serius yang harus tuntas.
KPK masih punya banyak kasus korupsi yang harus diusut dan diselesaikan. Jika ini berlarut, tentu berpengaruh terhadap penyelesaian beberapa kasus korupsi. Para koruptor yang akan diuntungkan dari kisruh yang sepertinya tidak mengenal usai dan semakin runyam.
Peran penyair, pendeta, dan prajurit sangat dibutuhkan agar kisruh ini dapat diselesaikan. Jika masalah ini menjadi layang-layang putus, saya mulai meragukan kalimat Badaulaire tersebut. Sepertinya, semua manusia pantas dicambuk. Terlebih presiden, mungkin bukan hukum cambuk lagi yang tepat untuk dirinya, tapi presiden harus dipancung ditiang hukum sebagai pendaga.
***
            Kita sepertinya butuh Komisi Pemberantasan Masalah. Tanpa bermaksud untuk berpihak pada kelompok manapun, tapi polisi tidak bisa lagi dipercaya sebagai pemecah masalah dan KPK bukan lembaga yang dipimpin malaikat.
            Saya mengingat kalimat Pramoedya Ananta Toer – seorang penulis yang menjadi korban negara yang salah urus, “Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.”
            Menemukan keadilan inilah yang menjadi tugas Komisi Pemberantasan Masalah. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki jiwa penyair, pendeta, dan prajurit. Bukan penyair gadungan, pendeta yang hanya mengurus pahala dan dosa manusia, atau prajurit yang hanya ikut perintah atasan.
            Negara tumbuh untuk dicintai dan rakyat berjuang membuktikan cintanya masing-masing. Jika kisruh ini yang dianggap cara mencintai negara oleh KPK dan Polri – juga orang-orang yang senang merawat kemurkaaan. Saya lebih memilih patah hati saja. 

Termuat dalam Kolom Literasi Tempo Makassar  11/02/2015

0 komentar:

Posting Komentar

2.11.2015

Balada Komedi Putar Negara

Diposting oleh Jejak Sajak di 05.32


“Di antara manusia, hanya penyair, pendeta, dan prajutritlah yang agung. Lainnya hanya pantas dicambuk.” kata Baudelaire – penyair berkebangsaan Prancis. Saya membayangkan pasukan abadi Persia hidup kembali. Kali ini dengan mudah menginvasi negara yang elit politiknya sibuk merebut kuasa. Pasukan ini dipimpin penyair dan pendeta sebagai penasehatnya.
            Entah apa motivasi hidup Baudelaire menciptakan kalimat itu. Sekilas, terbaca amat tragis. Sepertinya ada rahasia yang dibiarkan Baudelaire hidup dalam kalimat itu. Alasan kuat yang mendorongnya memilih penyair, pendeta, dan prajurit sebagai kelompok manusia agung.
Abad berganti. Tahun berubah. Tapi tiga kategori manusia ini terus lahir sebagai penyambung sejarah. Dalam masyarakat, hampir tidak mungkin kebudayaan bertahan tanpa adanya penyair, pendeta, dan prajurit. Kita bahkan bisa pulang dan pergi melintasi waktu karena keterlibatan tiga kategori manusia ini. Mereka tak pernah musnah dan terus menulis sejarah dengan caranya masing-masing.
Peran mereka memiliki pengaruh cukup kuat sebagai simbol yang mencerminkan komunitas sosial dari masyarakat. Mereka adalah orang-orang yang terus hidup sebagai penjaga kebenaran. Dari mata merekalah kita bisa melihat keadilan itu hidup atau mati.
Baudelaire mungkin memilih penyair, pendeta, dan prajurit sebagai kategori agung yang mewakili klasifikasi manusia. Penyair mewakili kaum intelek, pendeta mewakili kaum religius, dan prajurit mewakili rakyat jelata - kaum buruh dan pekerja.
***
Kisah Komisi Pemberantasan Korupsi yang menghadapi serangan bertubi-tubi dari banyak pihak – termasuk Polri, menjadi cerita paling romantis awal tahun ini. Bayangkan saja, pemimpin KPK, Abraham Samad diserang dengan foto ranjang bersama seorang perempuan. Adalah Zainal Taher, yang mengaku sahabat Abraham Samad sebagai juru gambar. Katanya, ia mengabadikan momen itu di salah satu hotel mewah di Makassar pada kisaran februari tahun 2007.
Terlepas foto itu asli atau rekayasa, kisruh ini tidak boleh berakhir seperti kasus Widji Thukul ataupun Munir – yang hingga saat ini belum jelas ujung pangkalnya.
Jika Abraham Samad terbukti bersalah, para pembela institusi yang menetapkan Budi Gunawan sebagai tersangka dugaan kepemilikan rekening tak wajar harus menerima kenyataan. Selama keputusan itu memang benar. Pun sebaliknya, polisi tidak boleh melibatkan dendam dalam menjalankan tugasnya. Sebab penjara bukan untuk orang bersalah dibuktikan kesalahan, penjara untuk orang-orang berkuasa membuktikan kekuasaan, kata Nassury Ibrahim dalam bukunya yang berjudul Dongeng Bapak.
Kita sudah jenuh menghadapi ketidakjelasan. Negara mendidik kita untuk menjadi pengabai dan membiarkan urusan negara menjadi tanggungan elit politik. Sialnya, yang akan merasakan dampak terbesar dari apa yang elit politik lakukan adalah kita – para rakyat jelata.
Masalah ini bukan tentang permen yang direbut dari tangan anak kecil hingga ia menangis, atau perempuan yang merelakan dirinya dicuri oleh lelaki lain dari pelukan kekasihnya sendiri. Ini kisruh serius yang harus tuntas.
KPK masih punya banyak kasus korupsi yang harus diusut dan diselesaikan. Jika ini berlarut, tentu berpengaruh terhadap penyelesaian beberapa kasus korupsi. Para koruptor yang akan diuntungkan dari kisruh yang sepertinya tidak mengenal usai dan semakin runyam.
Peran penyair, pendeta, dan prajurit sangat dibutuhkan agar kisruh ini dapat diselesaikan. Jika masalah ini menjadi layang-layang putus, saya mulai meragukan kalimat Badaulaire tersebut. Sepertinya, semua manusia pantas dicambuk. Terlebih presiden, mungkin bukan hukum cambuk lagi yang tepat untuk dirinya, tapi presiden harus dipancung ditiang hukum sebagai pendaga.
***
            Kita sepertinya butuh Komisi Pemberantasan Masalah. Tanpa bermaksud untuk berpihak pada kelompok manapun, tapi polisi tidak bisa lagi dipercaya sebagai pemecah masalah dan KPK bukan lembaga yang dipimpin malaikat.
            Saya mengingat kalimat Pramoedya Ananta Toer – seorang penulis yang menjadi korban negara yang salah urus, “Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.”
            Menemukan keadilan inilah yang menjadi tugas Komisi Pemberantasan Masalah. Dan ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar memiliki jiwa penyair, pendeta, dan prajurit. Bukan penyair gadungan, pendeta yang hanya mengurus pahala dan dosa manusia, atau prajurit yang hanya ikut perintah atasan.
            Negara tumbuh untuk dicintai dan rakyat berjuang membuktikan cintanya masing-masing. Jika kisruh ini yang dianggap cara mencintai negara oleh KPK dan Polri – juga orang-orang yang senang merawat kemurkaaan. Saya lebih memilih patah hati saja. 

Termuat dalam Kolom Literasi Tempo Makassar  11/02/2015

0 komentar on "Balada Komedi Putar Negara"

Posting Komentar