Negara Peler dan Cinta yang Dibredel

on 2.21.2015


Berita tes keperawanan dan keperjakaan belakangan ini kembali menghibur dunia pergosipan Indonesia. Setidaknya, berita kisruh KPK dan Polri punya tandingan. Siapa yang komedinya paling tragis? Cekidot!
***
Alkisah, jauh di selatan Atlantis, negeri yang berdiri kokoh dengan peradaban yang maju, terhampar di sebereng pilar-pilar Herkules. Berdiri kerajaan merdeka bernama Jembatan Utara atau disingkat Jembut. Dalam kamus bahasa Atlantis, Jembut diartikan sebagai daerah yang tidak perlu diperangi jika ingin dikuasai. Cukup tipuan sulap, penduduk kerajaan Jembut akan terpukau hebat.
Setelah kebudayaan Jembut tumbuh subur. Masalah-masalah baru muncul. Salah satunya adalah, seks bebas. Ini membuat salah seorang dewan kerajaan mengusulkan agar dibentuk peraturan jasa kerajaan – perjaka, perihal perilaku yang baik dan terpuji. Salah satu ayat dalam perjaka itu mengatur tentang tes keperjakaan dan keperawanan sebagai syarat kelulusan siswa di tingkat Sekolah Menengah Lanjutan - SML.
Si Peler, Siswa SML yang punya pacar bernama Telek mulai merasa kalau hubungan percintanya terancam. Segala kisah asmaranya akan terbongkar ke khalayak ramai. Terang saja, Ayah Telek adalah Mangkubumi Kerajaan Jembut dan Ibu Peler adalah Istri Mangkubumi. Mereka berdua menjalin kisah cinta yang absurd dan tidak biasa.
Sesuai rancangan peraturan jasa kerajaan, mereka yang ketahuan tidak lagi perjaka dan perawan, digugurkan dalam kelulusan SML. Diasingkan sebagai pengkhianat dan tidak diperbolehkan menginjakkan kaki kembali.
Tentu ada pengecualian. Mereka yang mampu menyewa juru hukum dan sanggup membayar suap ke dewan kerajaan, akan diloloskan dari tes yang bertujuan baik tapi sebenarnya adalah hukuman.
Meskipun dibela juru hukum paling terkenal semacam Marcus Tullius Cicero dan mampu menyuap dewan kerajaan yang memang senang disuap, Peler dan Telek tidak mampu menjelaskan kepada orang tua mereka. Mengetahui kalau anak lelakinya tidak perjaka dan gadisnya tidak perawan lagi adalah aib besar keluarga yang memalukan.
Sembari menunggu hasil rapat dewan kerajaan, mereka berdua terus dipusingkan dengan berita tes keperawanan ini. Mereka berdoa kepada Dewa Lama dan Dewa Baru agar anggota dewan kerajaan itu diberi kesadaran yang membuatnya membatalkan tes menakutkan ini.
Harapan itu setia, tapi selalu dikhianati kenyataan. Terjadilah apa yang paling mereka berdua takutkan. Dokter dari penjuru kota mulai dikumpulkan. Satu bulan lagi, tes keperjakaan dan keperawanan akan dilakukan di alun-alun kota. Alamak!
Telek mulai pasrah. Ia menerima kenyataan jika harus diasingkan dari kerajaan Jembut. Tentu lebih menyakitkankan lagi kenyataan jika keluarganya akan menanggung malu karena dirinya. Pasrah adalah jalan satu-satunya. Padahal, banyak jalan lain menuju Roma.
 Peler tidak kehabisan akal. Ia kemudian menelepon temannya di Amerika, Malia Obama – anak sulung Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Peler meminta dikirimkan obat pemulih keperawanan.

Gile lu Ndro, sejak kapan perawan bisa dipulihkan, Bangke!”

“Katanya negara kamu mampu melakukan apa saja. ISIS  mampu kamu bentuk, tentaramu membunuh bayi dan perempuan tidak berdosa di timur tengah. Masa pemulih keperawanan tidak bisa kamu ciptakan?’’

“Hush, jangan bahas itu di telepon. Nanti kamu disadap Rusia dan terbongkar lagi keburukan Amerika. Biarlah kita yang tahu. Itu urusan ayah saya, nanti kalau sudah besar, kita lagi yang…”

“Aha, Rusia. Betul. Apa yang tidak bisa dilakukan Amerika, pasti mampu diciptakan Rusia. Terima kasih. Assalamualaikum”

“saloom”

Peler menutup telepon dan segera menghubungi Mariya Putina – anak Vladimir Putin, Presiden Rusia.

“Nomor yang anda hubungi sedang berkencan, innallaha ma’ashobirin. Bersabarlah beberapa menit lagi atau tinggalkan pesan setelah mendengar suara ledakan berikut: DOR”

Peler mulai putus asa. Hari tes keperawanan dan keperjakaan kian dekat. Telek sudah memikirkan beberapa kemungkinan jika tes itu akan dilakukan. Salah duanya adalah bunuh diri atau melarikan diri.
Pilihan terbaik sepertinya jatuh pada bunuh diri. Kalau melarikan diri resikonya sangat besar. Kalau bunuh diri, mati dan kerajaan berduka. Mungkin tes ini akan diundur. Setidaknya menyelamatkan beberapa waktu nyawa orang-orang yang senasib dengannya. Sungguh mulia pikiran perempuan seperti Telek ketika merasa hidupnya terancam.
***
            Tes keperawanaan adalah hasil. Sementara menjaga generasi muda adalah proses yang tidak bisa diabaikan. Sunguh celaka hidup di negara yang lebih memilih memuji hasil dan mengabaikan proses.
            Agama kemudian dijadikan sebagai jalan keluar paling mulia. Tameng yang melindungi wajah negara dari tuduhan kebobrokan. Dengan dalih karena agama tidak diajarkan dengan benar. Mungkin kita lupa, kasus-kasus guru mengaji yang melakukan pencabulan kepada muridnya sendiri? Suntilik!
            Moral kemudian dianggap rusak. Padahal, banyak keperawanan yang hilang karena ulah penguasa dan pengusaha yang doyan memesan gadis muda. Beberapa gadis muda yang tergiur dengan iming-iming uang dari mereka. Simbiosis mutualisme yang asalnya tidak kita tahu dari mana berawal. Siapa yang membutuhkan siapa. Entahlah.
            Dari pada pemertintah melakukan tes keperawanan dan keperjakaan, mending mereka melakukan tes kesetiaan. Berapa banyak jiwa yang patah karena bertemu hati yang salah. Padahal, banyak jomlonisti yang setia tapi disia-siakan. Oh Tuhan yang Maha Funky.

0 komentar:

Posting Komentar

2.21.2015

Negara Peler dan Cinta yang Dibredel

Diposting oleh Jejak Sajak di 10.57


Berita tes keperawanan dan keperjakaan belakangan ini kembali menghibur dunia pergosipan Indonesia. Setidaknya, berita kisruh KPK dan Polri punya tandingan. Siapa yang komedinya paling tragis? Cekidot!
***
Alkisah, jauh di selatan Atlantis, negeri yang berdiri kokoh dengan peradaban yang maju, terhampar di sebereng pilar-pilar Herkules. Berdiri kerajaan merdeka bernama Jembatan Utara atau disingkat Jembut. Dalam kamus bahasa Atlantis, Jembut diartikan sebagai daerah yang tidak perlu diperangi jika ingin dikuasai. Cukup tipuan sulap, penduduk kerajaan Jembut akan terpukau hebat.
Setelah kebudayaan Jembut tumbuh subur. Masalah-masalah baru muncul. Salah satunya adalah, seks bebas. Ini membuat salah seorang dewan kerajaan mengusulkan agar dibentuk peraturan jasa kerajaan – perjaka, perihal perilaku yang baik dan terpuji. Salah satu ayat dalam perjaka itu mengatur tentang tes keperjakaan dan keperawanan sebagai syarat kelulusan siswa di tingkat Sekolah Menengah Lanjutan - SML.
Si Peler, Siswa SML yang punya pacar bernama Telek mulai merasa kalau hubungan percintanya terancam. Segala kisah asmaranya akan terbongkar ke khalayak ramai. Terang saja, Ayah Telek adalah Mangkubumi Kerajaan Jembut dan Ibu Peler adalah Istri Mangkubumi. Mereka berdua menjalin kisah cinta yang absurd dan tidak biasa.
Sesuai rancangan peraturan jasa kerajaan, mereka yang ketahuan tidak lagi perjaka dan perawan, digugurkan dalam kelulusan SML. Diasingkan sebagai pengkhianat dan tidak diperbolehkan menginjakkan kaki kembali.
Tentu ada pengecualian. Mereka yang mampu menyewa juru hukum dan sanggup membayar suap ke dewan kerajaan, akan diloloskan dari tes yang bertujuan baik tapi sebenarnya adalah hukuman.
Meskipun dibela juru hukum paling terkenal semacam Marcus Tullius Cicero dan mampu menyuap dewan kerajaan yang memang senang disuap, Peler dan Telek tidak mampu menjelaskan kepada orang tua mereka. Mengetahui kalau anak lelakinya tidak perjaka dan gadisnya tidak perawan lagi adalah aib besar keluarga yang memalukan.
Sembari menunggu hasil rapat dewan kerajaan, mereka berdua terus dipusingkan dengan berita tes keperawanan ini. Mereka berdoa kepada Dewa Lama dan Dewa Baru agar anggota dewan kerajaan itu diberi kesadaran yang membuatnya membatalkan tes menakutkan ini.
Harapan itu setia, tapi selalu dikhianati kenyataan. Terjadilah apa yang paling mereka berdua takutkan. Dokter dari penjuru kota mulai dikumpulkan. Satu bulan lagi, tes keperjakaan dan keperawanan akan dilakukan di alun-alun kota. Alamak!
Telek mulai pasrah. Ia menerima kenyataan jika harus diasingkan dari kerajaan Jembut. Tentu lebih menyakitkankan lagi kenyataan jika keluarganya akan menanggung malu karena dirinya. Pasrah adalah jalan satu-satunya. Padahal, banyak jalan lain menuju Roma.
 Peler tidak kehabisan akal. Ia kemudian menelepon temannya di Amerika, Malia Obama – anak sulung Presiden Amerika Serikat, Barack Obama. Peler meminta dikirimkan obat pemulih keperawanan.

Gile lu Ndro, sejak kapan perawan bisa dipulihkan, Bangke!”

“Katanya negara kamu mampu melakukan apa saja. ISIS  mampu kamu bentuk, tentaramu membunuh bayi dan perempuan tidak berdosa di timur tengah. Masa pemulih keperawanan tidak bisa kamu ciptakan?’’

“Hush, jangan bahas itu di telepon. Nanti kamu disadap Rusia dan terbongkar lagi keburukan Amerika. Biarlah kita yang tahu. Itu urusan ayah saya, nanti kalau sudah besar, kita lagi yang…”

“Aha, Rusia. Betul. Apa yang tidak bisa dilakukan Amerika, pasti mampu diciptakan Rusia. Terima kasih. Assalamualaikum”

“saloom”

Peler menutup telepon dan segera menghubungi Mariya Putina – anak Vladimir Putin, Presiden Rusia.

“Nomor yang anda hubungi sedang berkencan, innallaha ma’ashobirin. Bersabarlah beberapa menit lagi atau tinggalkan pesan setelah mendengar suara ledakan berikut: DOR”

Peler mulai putus asa. Hari tes keperawanan dan keperjakaan kian dekat. Telek sudah memikirkan beberapa kemungkinan jika tes itu akan dilakukan. Salah duanya adalah bunuh diri atau melarikan diri.
Pilihan terbaik sepertinya jatuh pada bunuh diri. Kalau melarikan diri resikonya sangat besar. Kalau bunuh diri, mati dan kerajaan berduka. Mungkin tes ini akan diundur. Setidaknya menyelamatkan beberapa waktu nyawa orang-orang yang senasib dengannya. Sungguh mulia pikiran perempuan seperti Telek ketika merasa hidupnya terancam.
***
            Tes keperawanaan adalah hasil. Sementara menjaga generasi muda adalah proses yang tidak bisa diabaikan. Sunguh celaka hidup di negara yang lebih memilih memuji hasil dan mengabaikan proses.
            Agama kemudian dijadikan sebagai jalan keluar paling mulia. Tameng yang melindungi wajah negara dari tuduhan kebobrokan. Dengan dalih karena agama tidak diajarkan dengan benar. Mungkin kita lupa, kasus-kasus guru mengaji yang melakukan pencabulan kepada muridnya sendiri? Suntilik!
            Moral kemudian dianggap rusak. Padahal, banyak keperawanan yang hilang karena ulah penguasa dan pengusaha yang doyan memesan gadis muda. Beberapa gadis muda yang tergiur dengan iming-iming uang dari mereka. Simbiosis mutualisme yang asalnya tidak kita tahu dari mana berawal. Siapa yang membutuhkan siapa. Entahlah.
            Dari pada pemertintah melakukan tes keperawanan dan keperjakaan, mending mereka melakukan tes kesetiaan. Berapa banyak jiwa yang patah karena bertemu hati yang salah. Padahal, banyak jomlonisti yang setia tapi disia-siakan. Oh Tuhan yang Maha Funky.

0 komentar on "Negara Peler dan Cinta yang Dibredel"

Posting Komentar