Mitos Ketakutan

on 3.09.2015


Jika suatu negara dihuni seratus tiga puluh empat orang, dua puluh delapan pejuang yang tak bisa dikalahkan dan sisanya kumpulan orang cerdas nan santun tapi berjiwa penakut. Maka, akan datang masa negara itu hanya menyisahkan kisah dan sejarah kelam yang lebam.
Lewat cerita, dan berita, ketakutan dapat menyebar seumpama penyakit dan dapat menjangkiti siapapun yang tak siap menghadapi kenyataan. Polisi, anggota dewan, tentara, walikota, presiden dan kita semua memiliki kemungkinan mengidap penyakit ini.
Jika terus dipelihara, ketakutan akan menjelma endapan air. Suatu waktu ia akan meluap dan menenggelamkan kita sebagai bingkisan sejarah yang akan dikenang dengan gelar penebar ketakutan paling berbahaya.
Ketakutan tidak hanya menyerang pikiran, tapi berdampak pada perilaku. Perilakulah yang seringkali menunjukkan ketakutan seseorang. Enggan mengatakan cinta kepada seseorang yang ia segani, enggan membela perasaan ketika patah hati, atau enggan mengkritik pemimpin ketika mengambil kebijakan yang kontra rakyat, adalah rangkaian mengerikan dari rasa ketakutan.
Begitulah benih ketakutan tumbuh. Ia serupa pohon lebat. Jika dibiarkan subur dan panjang umur, kelak anak cucu kita memakan buahnya dan mereka tumbuh sebagai penakut generasi lanjut. Generasi yang tidak jauh berbeda dari kita.
***
Cornelia Funke – penulis buku Inkdeath, mengatakan “Ketakutan membunuh segalanya, akal, hati, dan juga fantasi.” Akal memberi manusia ide, hati memberi manusia rasa, sementara fantasi dapat mendorong keduanya menjadi nyata.
Beberapa orang percaya bahwa dengan memiliki tiga hal itu, seseorang dianggap manusia. Maka ketika tiga hal itu dibunuh, sama saja kita telah mati. Mati sebagai orang yang tak bisa melawan ketakutan.
Belakangan ini, banyak orang dengan lantang menyerukan suara perdamaian dan keamanan. Membela kepentingan orang banyak yang terancam oleh kelakuan bengis segelintir orang yang dijuluki penjahat bermotor.
Adalah Makassar Harus Aman. Tagar di media sosial yang disebar seperti benih. Diharapkan merajalela agar mampu mengurangi – bahkan menghilangkan, teror penjahat bermotor.
Dalam film X-Men Day of Future Past, saya menemukan percakapan menarik antara Charles tua dengan bayangan dirinya sendiri ketika masih muda yang datang dari masa lalu. Charles memiliki kekuatan yang sanggup mendengar semua rintih ketakutan manusia. Ketika bertemu dengan Charles tua, bayangan itu menuturkan ketakutannya setiap mendengar suara itu. Tapi Charles tua menanggapi dengan bijaksana “Bukan derita mereka yang kau takutkan, tapi deritamu sendiri, Charles.
 Perihal orang-orang yang gemar menggunakan tagar Makassar Harus Aman. Apakah ini keresahan sosial atau ketakutan pribadi? Atau bisa jadi keduanya? Memang mengerikan jika membayangkan diri kita yang menjadi korban kebanalan dan kebinalan penjahat bermotor.
Semakin sering kita membela ketakutan orang banyak, semakin menunjukkan betapa kita adalah orang yang tak bisa menaklukkan ketakutan. Manusiawi? Tentu.
Saya tidak tahu apakah semua orang yang menggunakan tagar itu benar-benar membela kepentingan orang banyak atau berusaha untuk meredam ketakutan dirinya. Apapun alasannya, tidak penting lagi. Kota kita memang harus berbenah. Aksi penjahat bermotor ini bukan hanya menyerang fisik – bahkan sampai membunuh. Beberapa teman yang mendengar kebejatan penjahat bermotor juga merasa menjadi korban. Korban yang mentalnya terkoyak-koyak oleh berita penjahat bermotor itu.
***
Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu upaya pertahanan hidup yang terjadi sebagai balasan terhadap gejolak batin tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Pranala yang menjelaskan tentang ketakutan ini saya temukan pada halaman di wikipedia.
Tidak ada cara untuk menemukan bentuk ketakutan. Ia seperti mitos, bisa diyakini atau dianggap hanya angin lalu. Tapi ketakutan selalu menyala dalam benak setiap orang. Maka cara terbaik untuk mengalahkannya adalah menemukan penyebabnya.
Ketakutan berhasil membuka mata kita bahwa di luar sana - di jalanan, warung kopi, rumah ibadah, banyak ancaman yang bisa saja melukai diri kita. Semakin mencari tempat aman untuk menghindari ketakutan, semakin besar dan setia bayangan ketakutan menguntit kita.
Tentang ketakutan, saya mengingat pesan Mega Irawan - seorang kawan yang senang diajak beridiskusi tentang banyak hal, “Ketakutan tidak mengubahmu dan menjadikanmu lebih baik dari ketakutan itu sendiri”
Pesan itu membuat saya ingin bertanya kepada walikota, Benarkah hal paling menakutkan adalah ketakutan? Mungkin walikota bisa menjawab itu ketika kota kita telah dijuluki sebagai kota terbaik yang pura-pura aman.

0 komentar:

Posting Komentar

3.09.2015

Mitos Ketakutan

Diposting oleh Jejak Sajak di 00.10


Jika suatu negara dihuni seratus tiga puluh empat orang, dua puluh delapan pejuang yang tak bisa dikalahkan dan sisanya kumpulan orang cerdas nan santun tapi berjiwa penakut. Maka, akan datang masa negara itu hanya menyisahkan kisah dan sejarah kelam yang lebam.
Lewat cerita, dan berita, ketakutan dapat menyebar seumpama penyakit dan dapat menjangkiti siapapun yang tak siap menghadapi kenyataan. Polisi, anggota dewan, tentara, walikota, presiden dan kita semua memiliki kemungkinan mengidap penyakit ini.
Jika terus dipelihara, ketakutan akan menjelma endapan air. Suatu waktu ia akan meluap dan menenggelamkan kita sebagai bingkisan sejarah yang akan dikenang dengan gelar penebar ketakutan paling berbahaya.
Ketakutan tidak hanya menyerang pikiran, tapi berdampak pada perilaku. Perilakulah yang seringkali menunjukkan ketakutan seseorang. Enggan mengatakan cinta kepada seseorang yang ia segani, enggan membela perasaan ketika patah hati, atau enggan mengkritik pemimpin ketika mengambil kebijakan yang kontra rakyat, adalah rangkaian mengerikan dari rasa ketakutan.
Begitulah benih ketakutan tumbuh. Ia serupa pohon lebat. Jika dibiarkan subur dan panjang umur, kelak anak cucu kita memakan buahnya dan mereka tumbuh sebagai penakut generasi lanjut. Generasi yang tidak jauh berbeda dari kita.
***
Cornelia Funke – penulis buku Inkdeath, mengatakan “Ketakutan membunuh segalanya, akal, hati, dan juga fantasi.” Akal memberi manusia ide, hati memberi manusia rasa, sementara fantasi dapat mendorong keduanya menjadi nyata.
Beberapa orang percaya bahwa dengan memiliki tiga hal itu, seseorang dianggap manusia. Maka ketika tiga hal itu dibunuh, sama saja kita telah mati. Mati sebagai orang yang tak bisa melawan ketakutan.
Belakangan ini, banyak orang dengan lantang menyerukan suara perdamaian dan keamanan. Membela kepentingan orang banyak yang terancam oleh kelakuan bengis segelintir orang yang dijuluki penjahat bermotor.
Adalah Makassar Harus Aman. Tagar di media sosial yang disebar seperti benih. Diharapkan merajalela agar mampu mengurangi – bahkan menghilangkan, teror penjahat bermotor.
Dalam film X-Men Day of Future Past, saya menemukan percakapan menarik antara Charles tua dengan bayangan dirinya sendiri ketika masih muda yang datang dari masa lalu. Charles memiliki kekuatan yang sanggup mendengar semua rintih ketakutan manusia. Ketika bertemu dengan Charles tua, bayangan itu menuturkan ketakutannya setiap mendengar suara itu. Tapi Charles tua menanggapi dengan bijaksana “Bukan derita mereka yang kau takutkan, tapi deritamu sendiri, Charles.
 Perihal orang-orang yang gemar menggunakan tagar Makassar Harus Aman. Apakah ini keresahan sosial atau ketakutan pribadi? Atau bisa jadi keduanya? Memang mengerikan jika membayangkan diri kita yang menjadi korban kebanalan dan kebinalan penjahat bermotor.
Semakin sering kita membela ketakutan orang banyak, semakin menunjukkan betapa kita adalah orang yang tak bisa menaklukkan ketakutan. Manusiawi? Tentu.
Saya tidak tahu apakah semua orang yang menggunakan tagar itu benar-benar membela kepentingan orang banyak atau berusaha untuk meredam ketakutan dirinya. Apapun alasannya, tidak penting lagi. Kota kita memang harus berbenah. Aksi penjahat bermotor ini bukan hanya menyerang fisik – bahkan sampai membunuh. Beberapa teman yang mendengar kebejatan penjahat bermotor juga merasa menjadi korban. Korban yang mentalnya terkoyak-koyak oleh berita penjahat bermotor itu.
***
Ketakutan adalah suatu tanggapan emosi terhadap ancaman. Takut adalah suatu upaya pertahanan hidup yang terjadi sebagai balasan terhadap gejolak batin tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Pranala yang menjelaskan tentang ketakutan ini saya temukan pada halaman di wikipedia.
Tidak ada cara untuk menemukan bentuk ketakutan. Ia seperti mitos, bisa diyakini atau dianggap hanya angin lalu. Tapi ketakutan selalu menyala dalam benak setiap orang. Maka cara terbaik untuk mengalahkannya adalah menemukan penyebabnya.
Ketakutan berhasil membuka mata kita bahwa di luar sana - di jalanan, warung kopi, rumah ibadah, banyak ancaman yang bisa saja melukai diri kita. Semakin mencari tempat aman untuk menghindari ketakutan, semakin besar dan setia bayangan ketakutan menguntit kita.
Tentang ketakutan, saya mengingat pesan Mega Irawan - seorang kawan yang senang diajak beridiskusi tentang banyak hal, “Ketakutan tidak mengubahmu dan menjadikanmu lebih baik dari ketakutan itu sendiri”
Pesan itu membuat saya ingin bertanya kepada walikota, Benarkah hal paling menakutkan adalah ketakutan? Mungkin walikota bisa menjawab itu ketika kota kita telah dijuluki sebagai kota terbaik yang pura-pura aman.

0 komentar on "Mitos Ketakutan"

Posting Komentar