Hukum Kecemasan

on 3.07.2015


Merayakan kecemasan adalah upaya mencari arti kehidupan. Kecemasan membuat seseorang bertindak. Bertindak agar kecemasannya dapat diredam. Tindak tidak selamanya dilakukan dengan hal besar. Kadang tindakan yang sederhana justru mampu meredam kecemasan yang hebat.
Kecemasan akan kehilangan orang yang dicintai mendorong kita melakukan banyak hal agar ia tidak pergi. Kecemasan hidup sendiri mendorong kita untuk mencintai seseorang agar punya teman hidup. Kecemasan tak mampu membahagiakan orang yang kita cintai di tengah kesibukan mendorong kita untuk meluangkan waktu bersama. Begitulah hukum kecemasan berlaku.
Mantan Presiden Indonesia yang ketiga, BJ Habibie punya cara unik untuk meredam kecemasannya – dalam hal kerjaan. Ia akan membakar kertas-kertas bekas dan menatap gelora api yang membara. Pria kelahiran Parepare itu mengaku mendapatkan energi postif setelah melihat bakaran kertas berubah menjadi abu yang hitam dan kelam.
Semakin baik cara yang kita pilih untuk meredam kecemasan dapat memperlihatkan secerdas apa dan sejauh mana kita menghormati diri sendiri.
Tidak ada yang benar-benar mampu kita kuasasi selain keingin-keinginan yang sangat absurd dari dalam diri. Keinginan ini cenderung hadir karena adanya perasaan enggan kecewa. Kekecewaan yang mendalam akan menimbulkan lebam kecemasan. Dan siapa yang hendak menanggung lebam kecemasan?
***
Ketakutan-ketakutan kecil dari dalam diri yang tidak mampu kita terka letaknya akan menciptakan kecemasan-kecemasan baru. Kecemasan ini tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Tapi jamur juga membagi dua dirinya. Ada yang layak dimakan manusia dan ada yang berfungsi sebagai racun berbahaya.
Silakan memilih ingin memakan jamur kecemasan yang mana. Sejak manusia lahir hingga meninggal dunia, kecemasan selalu ada. Selalu ada. Ia telah menjelma menjadi tanda lahir yang tidak pernah kita temukan di tubuh mana ia membakas.
Sigmund Freud - pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi, meyakini bahwa kecemasan merupakan hasil dari konflik antara dorongan-dorongan id dan desakan-desakan ego, dan superego. Dorongan ini dapat merupakan ancaman bagi setiap individu karena berlawanan dengan nilai-nilai personal dan sosial.
Dampak dari ancaman yang berlawanan dengan nilai-nilai itu sanggup membuat kita menjadi seorang pemurung – meskipun beberapa orang kemudian menyamarkan kemurungannya dengan memperbanyak tertawa.
Ada benarnya anggapan bahwa umur tidak dapat dijadikan patokan apakah manusia itu telah bersikap dewasa atau belum. Selama tidak mampu mengalahkan ancaman, selama itu pulalah kita hidup dalam bayangan.
Hidup sebagai bayangan tentu membutuhkan keterampilan khusus. Karena dalam kegelapan, bayangan akan menghilang. Ia hanya sanggup hidup di tengah terangnya dunia. Maka tidak perlu heran mengapa banyak orang memilih menghabiskan waktunya di tempat-tempat ramai. Merasa aman ketika melihat kumpulan orang yang senasib dengan dirinya. Karena itulah salah satu cara meredam kecemasan.
***
Tali yang panjang dan terurai adalah kecemasan yang tidak kita tahu di mana awal dan akhirnya. Tali itu membentang sepanjang mata memandang dan hanya mampu dirasakan. Ia tidak dapat digenggam. Mirip seorang perempuan yang hanya dapat kita cintai namun enggan dimiliki.
Apa yang kita lakukan setiap hari; kuliah, bekerja, patah hati, makan, minum, bercinta, hingga tidak melakukan apapun adalah upaya untuk menelusuri benang kecemasan. Kita menyembunyikan kecemasan dengan kecemasan yang lain. Menumpuknya hingga mencapai batas zenit tertinggi dan akan menjadi longsor yang menenggelamkan kita di titik nadir paling rendah.
Kecemasan bertindak seperti musuh dalam diri. Musuh yang berdiri di suatu tempat yang tidak kita tahu letaknya. Ketika lengah, ia akan menusukkan belati paling beracun tepat di jantung kita. Tidak sampai membunuh, tapi sanggup memaksa kita untuk melakukan hal yang konyol dan biasanya dikerjakan tanpa dasaran nalar lagi. Hal terburuk, karena bisa saja mengantar kita ke tiang gantung atau tegukan racun.
Barangkali, di bangku-bangku sekolah perlu diajarkan cara menghadapi kecemasan. Bukan anjuran menjadi manusia bermoral yang sabar dan tabah. Sebab, persoalan moral akan kita jumpai setiap saat dan dapat kita kerjakan dengan baik ketika mampu terlepas dari jerat kecemasan.
Tapi benarkah manusia mampu terlepas dari jerat kecemasan? Menjawab pertanyaan ini mungkin sama sulitnya dengan menjawab pertanyaan apakah Jokowi benar-benar memperjuangkan nasib rakyat Indonesia? Abracadabra!

0 komentar:

Posting Komentar

3.07.2015

Hukum Kecemasan

Diposting oleh Jejak Sajak di 03.48


Merayakan kecemasan adalah upaya mencari arti kehidupan. Kecemasan membuat seseorang bertindak. Bertindak agar kecemasannya dapat diredam. Tindak tidak selamanya dilakukan dengan hal besar. Kadang tindakan yang sederhana justru mampu meredam kecemasan yang hebat.
Kecemasan akan kehilangan orang yang dicintai mendorong kita melakukan banyak hal agar ia tidak pergi. Kecemasan hidup sendiri mendorong kita untuk mencintai seseorang agar punya teman hidup. Kecemasan tak mampu membahagiakan orang yang kita cintai di tengah kesibukan mendorong kita untuk meluangkan waktu bersama. Begitulah hukum kecemasan berlaku.
Mantan Presiden Indonesia yang ketiga, BJ Habibie punya cara unik untuk meredam kecemasannya – dalam hal kerjaan. Ia akan membakar kertas-kertas bekas dan menatap gelora api yang membara. Pria kelahiran Parepare itu mengaku mendapatkan energi postif setelah melihat bakaran kertas berubah menjadi abu yang hitam dan kelam.
Semakin baik cara yang kita pilih untuk meredam kecemasan dapat memperlihatkan secerdas apa dan sejauh mana kita menghormati diri sendiri.
Tidak ada yang benar-benar mampu kita kuasasi selain keingin-keinginan yang sangat absurd dari dalam diri. Keinginan ini cenderung hadir karena adanya perasaan enggan kecewa. Kekecewaan yang mendalam akan menimbulkan lebam kecemasan. Dan siapa yang hendak menanggung lebam kecemasan?
***
Ketakutan-ketakutan kecil dari dalam diri yang tidak mampu kita terka letaknya akan menciptakan kecemasan-kecemasan baru. Kecemasan ini tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Tapi jamur juga membagi dua dirinya. Ada yang layak dimakan manusia dan ada yang berfungsi sebagai racun berbahaya.
Silakan memilih ingin memakan jamur kecemasan yang mana. Sejak manusia lahir hingga meninggal dunia, kecemasan selalu ada. Selalu ada. Ia telah menjelma menjadi tanda lahir yang tidak pernah kita temukan di tubuh mana ia membakas.
Sigmund Freud - pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi, meyakini bahwa kecemasan merupakan hasil dari konflik antara dorongan-dorongan id dan desakan-desakan ego, dan superego. Dorongan ini dapat merupakan ancaman bagi setiap individu karena berlawanan dengan nilai-nilai personal dan sosial.
Dampak dari ancaman yang berlawanan dengan nilai-nilai itu sanggup membuat kita menjadi seorang pemurung – meskipun beberapa orang kemudian menyamarkan kemurungannya dengan memperbanyak tertawa.
Ada benarnya anggapan bahwa umur tidak dapat dijadikan patokan apakah manusia itu telah bersikap dewasa atau belum. Selama tidak mampu mengalahkan ancaman, selama itu pulalah kita hidup dalam bayangan.
Hidup sebagai bayangan tentu membutuhkan keterampilan khusus. Karena dalam kegelapan, bayangan akan menghilang. Ia hanya sanggup hidup di tengah terangnya dunia. Maka tidak perlu heran mengapa banyak orang memilih menghabiskan waktunya di tempat-tempat ramai. Merasa aman ketika melihat kumpulan orang yang senasib dengan dirinya. Karena itulah salah satu cara meredam kecemasan.
***
Tali yang panjang dan terurai adalah kecemasan yang tidak kita tahu di mana awal dan akhirnya. Tali itu membentang sepanjang mata memandang dan hanya mampu dirasakan. Ia tidak dapat digenggam. Mirip seorang perempuan yang hanya dapat kita cintai namun enggan dimiliki.
Apa yang kita lakukan setiap hari; kuliah, bekerja, patah hati, makan, minum, bercinta, hingga tidak melakukan apapun adalah upaya untuk menelusuri benang kecemasan. Kita menyembunyikan kecemasan dengan kecemasan yang lain. Menumpuknya hingga mencapai batas zenit tertinggi dan akan menjadi longsor yang menenggelamkan kita di titik nadir paling rendah.
Kecemasan bertindak seperti musuh dalam diri. Musuh yang berdiri di suatu tempat yang tidak kita tahu letaknya. Ketika lengah, ia akan menusukkan belati paling beracun tepat di jantung kita. Tidak sampai membunuh, tapi sanggup memaksa kita untuk melakukan hal yang konyol dan biasanya dikerjakan tanpa dasaran nalar lagi. Hal terburuk, karena bisa saja mengantar kita ke tiang gantung atau tegukan racun.
Barangkali, di bangku-bangku sekolah perlu diajarkan cara menghadapi kecemasan. Bukan anjuran menjadi manusia bermoral yang sabar dan tabah. Sebab, persoalan moral akan kita jumpai setiap saat dan dapat kita kerjakan dengan baik ketika mampu terlepas dari jerat kecemasan.
Tapi benarkah manusia mampu terlepas dari jerat kecemasan? Menjawab pertanyaan ini mungkin sama sulitnya dengan menjawab pertanyaan apakah Jokowi benar-benar memperjuangkan nasib rakyat Indonesia? Abracadabra!

0 komentar on "Hukum Kecemasan"

Posting Komentar