Antara Asmara dan Amarah I

on 12.29.2011
Di kota Makassar. Senja di Pantai Losari membuat pemandangan penuh warna. Nampak dari kejauhan kapal-kapal berlalu lalang mencari ikan dan ada juga yang difungsikan sebagai alat transportasi menuju pulau-pulau sekitar selat Makassar. Di sepanjang jalan yang dilalui terlihat muda-mudi menghabiskan waktunya menikmati sunset di tambah dengan gorengan dan sara’ba khas Kota Daeng. Tidak ketinggalan para pengamen menghibur dengan paduan gitar dan jimbe klasik.
Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
 Ternyata kau mendua membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
 Jangan pernah memilih aku bukan pilihan
Reff lagu dari Iwan Fals “aku bukan pilihan” yang meraka nyanyikan memaksa pengunjung untuk ikut menyanyi bersama.
Motor scooter warisan nenek Baso melaju dari batas kota menuju bangunan tua peninggalan Belanda, Benteng Fort Rotterdam. Acara reuni Sekolah Losari Art Gallery (LOGA) Makassar yang ditempatkan di benteng itu mengumpulkan ratusan orang termasuk Baso Andika dan Andi Tenri Olle Zainal insan yang saling mencintai namun kenyataan tak mampu menyatukan mereka berdua. Setelah tamat dari LOGA’ Makassar Baso memilih menjauh dari kehidupan Tenri.
Kamu fikir kamu ini siapa, berani pacaran dengan anak saya. Bentak Ibu Tenri siang itu.
Inilah puncak alasan mengapa Baso pergi selain dari sejuta alasan lain yang dia pendam.
Baso kecewa tapi dia berhasil memperlihatkan gaya to rungka na mangkasara’ jika sedang patah hati. Kisah tragis, ini persoalan siri’. gumam Baso waktu itu. Hari-hari berikutnya dia berusaha bangkit kembali dari keterpurukan. Awalnya berat namun sisanya terlihat sempurna dia jalani. Baso ingin memulai masa baru dalam hidupnya tanpa mendustai perasaanya bahwa sebenarnya dia juga masih menyimpan perasaan itu. Cinta.
Keadaan sudah berubah namun perasaan itu tetap sama. Masa-masa sulit itu kini sudah menjadi bagian kenangan. Setelah 5 tahun terpisah mereka mungkin akan dipertemukan kembali di tempat ini. Segalanya dapat terjadi. Di atas benteng batu itu Baso duduk sendiri memandang jauh ke pantai. Kembali teringat masa-masa saat mereka bersama dulu.
Tidak mudah untuk melupakan kenangan ini seperti mudahnya aku meninggalkanmu waktu itu.
Mungkin kehadiranmu akan mengusir prahara ini tapi bisa juga membuat kebencianku kembali.  
Tiba-tiba Bara datang.
Apa kabar saudara? Lama tak bertemu, tanyanya membuka pembicaraan. Alhamdulillah aku baik-baik saja, jawab Baso dengan nada kering.
Bagai mana kisahmu dengan Tenri?, Tanya Bara langsung menghentak perasaan Baso. Semua menjadi biasa saja. Aku sekarang mencoba memaafkan takdirku sendiri dan mencoba memulai kembali kisahku.  Jawab Baso mencoba tegar. Dia ada di acara ini tapi kenapa kamu tidak menemuinya? Bara memberi tahu tentang kedatangan Tenri di acara ini. Maksud kamu Tenri?. Cukup dengan anggukan kepala Baso langsung melompat dan menuju ke taman.
Lama Baso mencari dalam seluk beluk benteng tapi ia belum menemukan sosok Tenri, sebelum Ulfa datang memberi tahu keberadaan Tenri. Baso, Tenri tadi mencarimu. Tapi aku bilang kamu tidak jadi datang karena sibuk mengurusi pementasanmu yang akan berangkat ke Palopo. Ulfa menjelaskan kepada Baso. Tapi sekarang, Tenri di mana? Tanpa basa-basi Baso langsung bertanya. Sepertinya dia di taman depan. Jawab Ulfa.
Baso segera meninggalkan Ulfa dan menuju ke taman depan, keramaian Nampak jelas. Mata Baso terus melototi setiap wanita yang duduk sendirian namun Baso belum juga menemukan sosok yang ia cari hingga adzan berkumandang, Baso pun berangkat ke Mesjid.
Setelah shalat acara pembukaan baru akan mulai Nampak para anggota panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya diruangan tempat acara di mulai. Baso sebagai ketua panitia mengkoordinir teman-teman yang lain untuk mempersiapkan gedung acara.
Jam di tangan telah menunjuk pukul 18:45 acara hampir dimulai segala sesuatunya telah siap. 10 menit kemudian gedung telah penuhi hiruk-pikuk manusia. Acara pembukaanpun dimulai, laporan ketua panitia oleh Baso Andhika, selama membacakan laporan dia terus gelisah seakan mencari sesuatu. Mata itu tiba-tiba berhenti mencari ketika pandangan terarah pada sosok gadis yang selama ini ia cari-cari, Tenri. Tak terasa acara pembukaan telah selesai di tutup dengan pembacaan do’a. Tiba-tiba ada kejadian tak terduga. Tenri naik ke mimbar lalu berbicara.
Tolong jangan ada yang meninggalkan ruangan ini. Aku ingin kalian semua jadi saksi malam ini.untuk semua kesetiaan yang aku punya. Tiba-tiba semua orang diam dan kembali ketempatnya. Tenri melanjutkan kata-katanya.
Aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang telah lama kubiarkan terpendam sendiri. Aku sadar ini kesalahan takdir yang dengan sendirinya menjadikan kisah kami seperti ini. Tragis. Aku tahu kamu pasti kecewa dan terluka. Tapi apakah aku salah, itu bukan inginku. Isakan tangis mulai terdengar mengiringi keluarnya kata-kata itu. Baso, masih adakah kesempatan kedua untukku?. Semua orang tersentak kaget dan tak percaya. Tatapan mata tertuju pada sosok lelaki kurus duduk di bangku deretan ke tujuh. Heran. Siapa yang tak mengenal Pak Zain di kota ini. Konglomerat papan atas. Sedangkan Baso, ayahnya hanyalah nelayan di pinggir kota ini.
Dengan langkah yang masih tak percaya dengan apa yang baru dia dengar Baso melangkah ke samping Tenri. Dengan sigap dia meraih microphone. Untuk apa yang barusan anda dengar itu hanyalah masa lalu kami. Tidak penting untuk menjadi bahan pikiran anda. Dan untuk pertanyaan tadi, semua orang menatap antusias. Penasaran. Apakah jawaban yang akan keluar dari mulut Baso. Lelaki bodoh mana yang berani menyianyiakan cinta Tenri, cerdas, kaya, baik dan shalehah. Maaf, untuk saat ini biarkan saja aku seperti ini. Bukan berarti aku menolak tapi biarlah aku sendiri dulu. Terima kasih. Tenri, jika engkau meminta penjelasan tentang perasaanku, hingga kini aku masih mencintaimu. Sambil berlari ke taman depan, Tenri menyeka air mata. Kisah ini meraka biarkan mengalir dan berharap suatu saat nanti tali nasib akan mempertemukan mereka kembali.


  BERSAMBUNG --> II

0 komentar:

Posting Komentar

12.29.2011

Antara Asmara dan Amarah I

Diposting oleh Jejak Sajak di 07.01
Di kota Makassar. Senja di Pantai Losari membuat pemandangan penuh warna. Nampak dari kejauhan kapal-kapal berlalu lalang mencari ikan dan ada juga yang difungsikan sebagai alat transportasi menuju pulau-pulau sekitar selat Makassar. Di sepanjang jalan yang dilalui terlihat muda-mudi menghabiskan waktunya menikmati sunset di tambah dengan gorengan dan sara’ba khas Kota Daeng. Tidak ketinggalan para pengamen menghibur dengan paduan gitar dan jimbe klasik.
Aku lelaki tak mungkin menerimamu bila
 Ternyata kau mendua membuatku terluka
Tinggalkan saja diriku yang tak mungkin menunggu
 Jangan pernah memilih aku bukan pilihan
Reff lagu dari Iwan Fals “aku bukan pilihan” yang meraka nyanyikan memaksa pengunjung untuk ikut menyanyi bersama.
Motor scooter warisan nenek Baso melaju dari batas kota menuju bangunan tua peninggalan Belanda, Benteng Fort Rotterdam. Acara reuni Sekolah Losari Art Gallery (LOGA) Makassar yang ditempatkan di benteng itu mengumpulkan ratusan orang termasuk Baso Andika dan Andi Tenri Olle Zainal insan yang saling mencintai namun kenyataan tak mampu menyatukan mereka berdua. Setelah tamat dari LOGA’ Makassar Baso memilih menjauh dari kehidupan Tenri.
Kamu fikir kamu ini siapa, berani pacaran dengan anak saya. Bentak Ibu Tenri siang itu.
Inilah puncak alasan mengapa Baso pergi selain dari sejuta alasan lain yang dia pendam.
Baso kecewa tapi dia berhasil memperlihatkan gaya to rungka na mangkasara’ jika sedang patah hati. Kisah tragis, ini persoalan siri’. gumam Baso waktu itu. Hari-hari berikutnya dia berusaha bangkit kembali dari keterpurukan. Awalnya berat namun sisanya terlihat sempurna dia jalani. Baso ingin memulai masa baru dalam hidupnya tanpa mendustai perasaanya bahwa sebenarnya dia juga masih menyimpan perasaan itu. Cinta.
Keadaan sudah berubah namun perasaan itu tetap sama. Masa-masa sulit itu kini sudah menjadi bagian kenangan. Setelah 5 tahun terpisah mereka mungkin akan dipertemukan kembali di tempat ini. Segalanya dapat terjadi. Di atas benteng batu itu Baso duduk sendiri memandang jauh ke pantai. Kembali teringat masa-masa saat mereka bersama dulu.
Tidak mudah untuk melupakan kenangan ini seperti mudahnya aku meninggalkanmu waktu itu.
Mungkin kehadiranmu akan mengusir prahara ini tapi bisa juga membuat kebencianku kembali.  
Tiba-tiba Bara datang.
Apa kabar saudara? Lama tak bertemu, tanyanya membuka pembicaraan. Alhamdulillah aku baik-baik saja, jawab Baso dengan nada kering.
Bagai mana kisahmu dengan Tenri?, Tanya Bara langsung menghentak perasaan Baso. Semua menjadi biasa saja. Aku sekarang mencoba memaafkan takdirku sendiri dan mencoba memulai kembali kisahku.  Jawab Baso mencoba tegar. Dia ada di acara ini tapi kenapa kamu tidak menemuinya? Bara memberi tahu tentang kedatangan Tenri di acara ini. Maksud kamu Tenri?. Cukup dengan anggukan kepala Baso langsung melompat dan menuju ke taman.
Lama Baso mencari dalam seluk beluk benteng tapi ia belum menemukan sosok Tenri, sebelum Ulfa datang memberi tahu keberadaan Tenri. Baso, Tenri tadi mencarimu. Tapi aku bilang kamu tidak jadi datang karena sibuk mengurusi pementasanmu yang akan berangkat ke Palopo. Ulfa menjelaskan kepada Baso. Tapi sekarang, Tenri di mana? Tanpa basa-basi Baso langsung bertanya. Sepertinya dia di taman depan. Jawab Ulfa.
Baso segera meninggalkan Ulfa dan menuju ke taman depan, keramaian Nampak jelas. Mata Baso terus melototi setiap wanita yang duduk sendirian namun Baso belum juga menemukan sosok yang ia cari hingga adzan berkumandang, Baso pun berangkat ke Mesjid.
Setelah shalat acara pembukaan baru akan mulai Nampak para anggota panitia sibuk mempersiapkan segala sesuatunya diruangan tempat acara di mulai. Baso sebagai ketua panitia mengkoordinir teman-teman yang lain untuk mempersiapkan gedung acara.
Jam di tangan telah menunjuk pukul 18:45 acara hampir dimulai segala sesuatunya telah siap. 10 menit kemudian gedung telah penuhi hiruk-pikuk manusia. Acara pembukaanpun dimulai, laporan ketua panitia oleh Baso Andhika, selama membacakan laporan dia terus gelisah seakan mencari sesuatu. Mata itu tiba-tiba berhenti mencari ketika pandangan terarah pada sosok gadis yang selama ini ia cari-cari, Tenri. Tak terasa acara pembukaan telah selesai di tutup dengan pembacaan do’a. Tiba-tiba ada kejadian tak terduga. Tenri naik ke mimbar lalu berbicara.
Tolong jangan ada yang meninggalkan ruangan ini. Aku ingin kalian semua jadi saksi malam ini.untuk semua kesetiaan yang aku punya. Tiba-tiba semua orang diam dan kembali ketempatnya. Tenri melanjutkan kata-katanya.
Aku ingin mengungkapkan perasaan ini. Perasaan yang telah lama kubiarkan terpendam sendiri. Aku sadar ini kesalahan takdir yang dengan sendirinya menjadikan kisah kami seperti ini. Tragis. Aku tahu kamu pasti kecewa dan terluka. Tapi apakah aku salah, itu bukan inginku. Isakan tangis mulai terdengar mengiringi keluarnya kata-kata itu. Baso, masih adakah kesempatan kedua untukku?. Semua orang tersentak kaget dan tak percaya. Tatapan mata tertuju pada sosok lelaki kurus duduk di bangku deretan ke tujuh. Heran. Siapa yang tak mengenal Pak Zain di kota ini. Konglomerat papan atas. Sedangkan Baso, ayahnya hanyalah nelayan di pinggir kota ini.
Dengan langkah yang masih tak percaya dengan apa yang baru dia dengar Baso melangkah ke samping Tenri. Dengan sigap dia meraih microphone. Untuk apa yang barusan anda dengar itu hanyalah masa lalu kami. Tidak penting untuk menjadi bahan pikiran anda. Dan untuk pertanyaan tadi, semua orang menatap antusias. Penasaran. Apakah jawaban yang akan keluar dari mulut Baso. Lelaki bodoh mana yang berani menyianyiakan cinta Tenri, cerdas, kaya, baik dan shalehah. Maaf, untuk saat ini biarkan saja aku seperti ini. Bukan berarti aku menolak tapi biarlah aku sendiri dulu. Terima kasih. Tenri, jika engkau meminta penjelasan tentang perasaanku, hingga kini aku masih mencintaimu. Sambil berlari ke taman depan, Tenri menyeka air mata. Kisah ini meraka biarkan mengalir dan berharap suatu saat nanti tali nasib akan mempertemukan mereka kembali.


  BERSAMBUNG --> II

0 komentar on "Antara Asmara dan Amarah I"

Posting Komentar