Balada Cinta

on 12.23.2011

Bayangmu yang menyapaku sepi malam ini
Datang membawa sajak rindu yang pernah kutulis dalam salinan keterpaksaan
Senyummu menggetarkan sukmaku yang saat bersamaan telah koyak oleh api cemburu
Cemburu yang entah berantah kutujakan pada siapa maknanya
Aku yang masih bersembunyi dari cahaya rembulan ke tujuh hari ini
Menutup jendela dan berbaring rapuh di atas kemungkinan
Namun bayangmu yang menyapaku
Berhasil menghidupkan segenap naluri yang tersisa
Itupun hanya sebatas senyum pahit yang orang enggan melihatnya
Aku tahu aku rindu
Namun luka dari rasa bersalah ini tak mau mampus di terjangan waktu
Merajalela dalam ingatan dan membuatku terpuruk kaku sendiri
Menikmati sepi dengan tarian kunang-kunang yang lebih nikmat
Ketimbang harus menikmati seribu tubuh wanita dalam semalam
Hanya Tuhan yang membuatku kuat menarik nafas kehidupan
Aku bertahan dengan pahatan penyesalan
Kubiarkan bayanganku menjelajah menikmati kuatnya kenangan
Mencuri setiap cahaya rembulan dan menyimpannya untukku
Hingga aku kuat menyapa pemilik cahaya itu
Meskipun tertatih lemah terbungkus asa
Namun aku yakin dia mampu memberikan rahasianya padaku
Aku tak butuh pelangi dengan warnanya yang sering menipuku
Aku tak butuh bintang dengan cahayanya yang sering membodohiku
Aku tak butuh gerhana dengan fenomenanya yang sering menakutiku
Untuk menyatakan maaf kepadamu aku hanya butuh senyuman terakhir yang bisa kuberi
Kepada rembulan
Menjelmalah kau menjadi setiap keinginanku
Simpanlah simponi dari rahasia ini dalam bayanganmu
Kelak ceritakan pada alam raya tentang luka yang kubawa dari penyesalanku bertahun-tahun
Jadilah kau penulis biografi kisah ini
Kisah ini tak pernah usai
Meski nanar dan darah telah menghiasi jejakku
Mataku telah sayu menatap nestapa
Fikiranku dipenuhi penyesalan
Luka di tubuh tak lagi terasa
Sebab kutahu derita yang pernah kutitip padanya tak seberat ini
Malam ini
Aku masih tak beranjak meski kakiku telah mampu ku gerakkan
Lidahku keluh bisu dipertengahan cerita
Aku menunggumu dalam kesunyian meski kutahu kau tak akan datang
Membawa senyum ikhlasmu dan menyeretku keluar dari tempat ini
Tahukah kau saat ini aku membisikkan namamu
Dalam sunyi yang tak kau duga
Penyesalan abadi ini
Menerobos khayalanku dan membuatnya buram berantakan
Diamku cukup keras mengusirnya
Namun rasa bersalah itu masih tetap ada bersemayam
Sampai kapan
Aku tak tahu
Kepada Rembulan
Sampaikan gelisahku ini
Bacakan sajak yang aku pernah tuliskan untuknya
Bisikkan keberadaanku di dalam hatinya
Lalu pergilah kembali menyinari bumi
Jika dia mencintaiku dia pasti akan datang
Rasa bersalah ini
Mengikuti teriakan sunyiku
Mengapa kau tak meninggalkanku di saat aku terpuruk
Sementara kau tahu saat itu aku telah membuat mawar menjadi dua
Mengapa kau tak membenciku di saat aku koyak
Sementara kau tahu saat itu aku telah menitip luka padamu
Sajak ini akan menyampaikan maafku
Akan kukabarkan melalui seribu bait puisi yang kutulis di daun lontar
Meski kutahu umurku tak panjang lagi denganmu
Meski kutahu suatu saat engkau akan pergi
Biarkanlah aku belajar untuk membuatmu bahagia
Di sisa waktu yang masih bisa kukuasai
Inilah kekasihmu..
Maafkan dia yang pernah melukaimu
Mungkin kepergiannya membuat segalanya kembali menjadi indah

30.01.2011

2 komentar:

Ibnu Sina Palogai mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Ibnu Sina Palogai mengatakan...

kabarkan sastra pada mereka yang tak jelas berkata

Posting Komentar

12.23.2011

Balada Cinta

Diposting oleh Jejak Sajak di 21.56

Bayangmu yang menyapaku sepi malam ini
Datang membawa sajak rindu yang pernah kutulis dalam salinan keterpaksaan
Senyummu menggetarkan sukmaku yang saat bersamaan telah koyak oleh api cemburu
Cemburu yang entah berantah kutujakan pada siapa maknanya
Aku yang masih bersembunyi dari cahaya rembulan ke tujuh hari ini
Menutup jendela dan berbaring rapuh di atas kemungkinan
Namun bayangmu yang menyapaku
Berhasil menghidupkan segenap naluri yang tersisa
Itupun hanya sebatas senyum pahit yang orang enggan melihatnya
Aku tahu aku rindu
Namun luka dari rasa bersalah ini tak mau mampus di terjangan waktu
Merajalela dalam ingatan dan membuatku terpuruk kaku sendiri
Menikmati sepi dengan tarian kunang-kunang yang lebih nikmat
Ketimbang harus menikmati seribu tubuh wanita dalam semalam
Hanya Tuhan yang membuatku kuat menarik nafas kehidupan
Aku bertahan dengan pahatan penyesalan
Kubiarkan bayanganku menjelajah menikmati kuatnya kenangan
Mencuri setiap cahaya rembulan dan menyimpannya untukku
Hingga aku kuat menyapa pemilik cahaya itu
Meskipun tertatih lemah terbungkus asa
Namun aku yakin dia mampu memberikan rahasianya padaku
Aku tak butuh pelangi dengan warnanya yang sering menipuku
Aku tak butuh bintang dengan cahayanya yang sering membodohiku
Aku tak butuh gerhana dengan fenomenanya yang sering menakutiku
Untuk menyatakan maaf kepadamu aku hanya butuh senyuman terakhir yang bisa kuberi
Kepada rembulan
Menjelmalah kau menjadi setiap keinginanku
Simpanlah simponi dari rahasia ini dalam bayanganmu
Kelak ceritakan pada alam raya tentang luka yang kubawa dari penyesalanku bertahun-tahun
Jadilah kau penulis biografi kisah ini
Kisah ini tak pernah usai
Meski nanar dan darah telah menghiasi jejakku
Mataku telah sayu menatap nestapa
Fikiranku dipenuhi penyesalan
Luka di tubuh tak lagi terasa
Sebab kutahu derita yang pernah kutitip padanya tak seberat ini
Malam ini
Aku masih tak beranjak meski kakiku telah mampu ku gerakkan
Lidahku keluh bisu dipertengahan cerita
Aku menunggumu dalam kesunyian meski kutahu kau tak akan datang
Membawa senyum ikhlasmu dan menyeretku keluar dari tempat ini
Tahukah kau saat ini aku membisikkan namamu
Dalam sunyi yang tak kau duga
Penyesalan abadi ini
Menerobos khayalanku dan membuatnya buram berantakan
Diamku cukup keras mengusirnya
Namun rasa bersalah itu masih tetap ada bersemayam
Sampai kapan
Aku tak tahu
Kepada Rembulan
Sampaikan gelisahku ini
Bacakan sajak yang aku pernah tuliskan untuknya
Bisikkan keberadaanku di dalam hatinya
Lalu pergilah kembali menyinari bumi
Jika dia mencintaiku dia pasti akan datang
Rasa bersalah ini
Mengikuti teriakan sunyiku
Mengapa kau tak meninggalkanku di saat aku terpuruk
Sementara kau tahu saat itu aku telah membuat mawar menjadi dua
Mengapa kau tak membenciku di saat aku koyak
Sementara kau tahu saat itu aku telah menitip luka padamu
Sajak ini akan menyampaikan maafku
Akan kukabarkan melalui seribu bait puisi yang kutulis di daun lontar
Meski kutahu umurku tak panjang lagi denganmu
Meski kutahu suatu saat engkau akan pergi
Biarkanlah aku belajar untuk membuatmu bahagia
Di sisa waktu yang masih bisa kukuasai
Inilah kekasihmu..
Maafkan dia yang pernah melukaimu
Mungkin kepergiannya membuat segalanya kembali menjadi indah

30.01.2011

2 komentar on "Balada Cinta"

Ibnu Sina Palogai on 23 Desember 2011 21.58 mengatakan...
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Ibnu Sina Palogai on 23 Desember 2011 21.59 mengatakan...

kabarkan sastra pada mereka yang tak jelas berkata

Posting Komentar