Rahasia Buku Catatan Ungu

on 12.23.2011
Saat itu hari sudah gelap sementara hujan semakin deras saat Baso terpaksa berhenti disebuah rumah bekas kebakaran sekitar dua kilometer dari kostnya. Baso lupa membawa mantel sementara cuaca sangat tidak bersahabat. Setiap pulang kampus Baso sering memperhatikan rumah itu. Dari luar rumah ini tampak mewah meskipun warna catnya tak kentara lagi, gumam Baso. Saat kebakaran rumah itu sebenarnya tidak mengalami kerusakan yang terlalu parah, sisi samping rumah itu masih bisa di kategorikan utuh tapi entah mengapa pemiliknya enggan merenovasi ulang dan membiarkannya tak terurus. Akhirnya Baso memilih memarkir scooter bututnya di sisi kanan rumah itu kemudian masuk untuk berteduh sambil menghangatkan badannya.
Rasa penasaran serta naluri kelelakiannya memaksa dia untuk terus masuk kedalam rumah itu. Kosong tak terjamah sama sekali. Tak ada sisa-sisa kehidupan. Hanya ada satu pintu yang masih utuh namun tertutup rapat. Pasti kamar ini punya kenangan tersendiri bagi pemiliknya, imbuh Baso sambil memaksa membuka pintu kamar itu. Berhasil. Tampaknya kamar cowok, gumam Baso. Dinding kiri kamar itu dihiasi catatan-catatan yang tak kentara lagi. Baso tak mengerti maksudnya. Salah satu catatan yang masih dapat terbaca meski samar-samar. Selama ini aku berusaha untuk setia, jangan paksa aku untuk mencoba tidak setia. sepertinya aku pernah mendengar kata-kata ini. imbuh Baso. Banyak barang-barang yang berserakan di lantai kamar itu namun Baso lebih tertarik untuk mengambil buku ungu yang telah kusam. Baso membukanya. Sakti Gunawan nama pemilik buku itu. Halaman depan tertempel foto seorang wanita namanya Nilam Puspita. Nama yang entah berapa kali dituliskan dalam buku itu, Baso akhirnya memasukkan buku itu kedalam ranselnya.
Sementara diluar hujan menipis hanya suara kendaraan dan gerimis. Baso melangkah keluar meninggalkan rumah itu. Dia menyalakan scooternya dan bergegas kembali menuju ke kostnya. Diatas scooternya Baso terus terbayang dengan wajah wanita di buku kusam itu. Siapa sebenarnya dia. Kenapa pemiliknya membiarkan buku itu tergeletak begitu saja. Belasan pertanyaan muncul dibenaknya. Setelah sampai dikostnya dia memasak air panas dan menyeduh kopi kesukaannya. Belum sempat dia mengganti pakaian handphonenya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Tenri. Besok pagi kita kerumah Amran acara syukuran wisudanya. Setelah itu dia menuju kasurnya dan membalas pesan singkat Tenri. Baso kemudian teringat dengan buku ungu di ranselnya. Dia membuka dan menatap dalam foto itu. Manis untuk ukuran wanita Indonesia, hidungnya menjulang tinggi, senyumannya penuh karekter. Tatapan matanya manja dan menyimpan misteri. siapakah sebenarnya wanita ini. tanya Baso pada dirinya sendiri. Setelah cukup puas menatap foto itu dia kemudian membaca lembaran pertama.
09 Januari 2003
Nilam, mengenalmu sudah cukup membuatku bahagia. Kau selalu mampu menjadi pelipur laraku. Seandainya aku berani mengungkapkan rasa yang telah lama terpendam ini mungkin ceritanya akan berbeda. Seharusnya memang kamu tahu tentang perasaan ini. Itu jika selama ini kau mau mengerti tentang perasaanku. Tapi aku ragu dengan tingkahmu selamu ini. Seakan kau memberi sebuah harapan tapi selalu juga mengacuhkanku.
 Apakah surat yang aku selipkan di bukumu saat menjelang ujian itu tidak cukup jelas. Seandainya kamu tahu siapa yang telah membuat puisi di mading sekolah yang sempat menjadi bahan perbincangan di kelas. Itu aku Nilam. Tapi biarlah seperti ini. Aku cukup bahagia.
17 Januari 2003
Cemburu. Apa itu tadi sengaja kau lakukan untuk membuatku cemburu. Kamu tahu Wandi itu sahabatku. Tapi mengapa dia sengaja kau paksa menemanimu ke kantin. Sungguh itu membuatku terluka.


25 Januari 2003
Aku sadar diriku memang tidak pantas untuk menjadi kekasihmu. Diriku tak ada apa-apanya di bandingkan dengan cowok yang kau ajak ke pesta ulang tahun Nisa kemarin malam. Tapi siapapun dirinya itu bukan masalah karena aku mencintai ikhlasmu bukan karena aku harus menyayangimu.
Cukup seru juga kisah mereka berdua, imbuh Baso setelah membaca beberapa penggalan isi buku tersebut. Saking seriusnya Baso lupa makan malam akhirnya dia bangkit untuk memasak mie rebus.
* * *
Karena kelelahan akhirnya Baso terlambat bangun pagi itu. Sementara dia punya rencana ke acara syukuran Amran bersama Tenri. Saat terbangun dia langsung melihat jam weker di atas meja kecilnya. Jam sudah menunjukkan Pukul 8:28 sementara dia janji bertemu di rumah tenri jam 9 pagi ini. Dengan sedikit kecewa Baso menuju ke kamar mandi. Berjalan sempoyongan sambil membawa alat mandi dan handuk birunya. Sampai didepan kamar mandi umum dia langsung lemas melihat antrian yang cukup mampu membuatnya terlambat untuk menjemput Tenri. Tidak ada pilihan lain Baso berbalik arah dan langsung pakaian kemudian menuju ke masjid untuk cuci muka dan sikat gigi ditambah sedikit memberi ornament wajib di rambutnya. Selesai.
Baso kemudian berangkat ke rumah Tenri untuk menjemputnya. Saat dalam perjalanan Baso kaget karena ada seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan. Baso merem mendadak scooternya kemudian berniat memarahi wanita tersebut namun dia sendiri heran. sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana. Gumam Baso. Karena sedang terburu-buru dia akhirnya lupa. Setelah sampai di rumah tenri dia masih terbayang wajah wanita itu.

è  Bersambung

0 komentar:

Posting Komentar

12.23.2011

Rahasia Buku Catatan Ungu

Diposting oleh Jejak Sajak di 19.55
Saat itu hari sudah gelap sementara hujan semakin deras saat Baso terpaksa berhenti disebuah rumah bekas kebakaran sekitar dua kilometer dari kostnya. Baso lupa membawa mantel sementara cuaca sangat tidak bersahabat. Setiap pulang kampus Baso sering memperhatikan rumah itu. Dari luar rumah ini tampak mewah meskipun warna catnya tak kentara lagi, gumam Baso. Saat kebakaran rumah itu sebenarnya tidak mengalami kerusakan yang terlalu parah, sisi samping rumah itu masih bisa di kategorikan utuh tapi entah mengapa pemiliknya enggan merenovasi ulang dan membiarkannya tak terurus. Akhirnya Baso memilih memarkir scooter bututnya di sisi kanan rumah itu kemudian masuk untuk berteduh sambil menghangatkan badannya.
Rasa penasaran serta naluri kelelakiannya memaksa dia untuk terus masuk kedalam rumah itu. Kosong tak terjamah sama sekali. Tak ada sisa-sisa kehidupan. Hanya ada satu pintu yang masih utuh namun tertutup rapat. Pasti kamar ini punya kenangan tersendiri bagi pemiliknya, imbuh Baso sambil memaksa membuka pintu kamar itu. Berhasil. Tampaknya kamar cowok, gumam Baso. Dinding kiri kamar itu dihiasi catatan-catatan yang tak kentara lagi. Baso tak mengerti maksudnya. Salah satu catatan yang masih dapat terbaca meski samar-samar. Selama ini aku berusaha untuk setia, jangan paksa aku untuk mencoba tidak setia. sepertinya aku pernah mendengar kata-kata ini. imbuh Baso. Banyak barang-barang yang berserakan di lantai kamar itu namun Baso lebih tertarik untuk mengambil buku ungu yang telah kusam. Baso membukanya. Sakti Gunawan nama pemilik buku itu. Halaman depan tertempel foto seorang wanita namanya Nilam Puspita. Nama yang entah berapa kali dituliskan dalam buku itu, Baso akhirnya memasukkan buku itu kedalam ranselnya.
Sementara diluar hujan menipis hanya suara kendaraan dan gerimis. Baso melangkah keluar meninggalkan rumah itu. Dia menyalakan scooternya dan bergegas kembali menuju ke kostnya. Diatas scooternya Baso terus terbayang dengan wajah wanita di buku kusam itu. Siapa sebenarnya dia. Kenapa pemiliknya membiarkan buku itu tergeletak begitu saja. Belasan pertanyaan muncul dibenaknya. Setelah sampai dikostnya dia memasak air panas dan menyeduh kopi kesukaannya. Belum sempat dia mengganti pakaian handphonenya berbunyi. Sebuah pesan singkat dari Tenri. Besok pagi kita kerumah Amran acara syukuran wisudanya. Setelah itu dia menuju kasurnya dan membalas pesan singkat Tenri. Baso kemudian teringat dengan buku ungu di ranselnya. Dia membuka dan menatap dalam foto itu. Manis untuk ukuran wanita Indonesia, hidungnya menjulang tinggi, senyumannya penuh karekter. Tatapan matanya manja dan menyimpan misteri. siapakah sebenarnya wanita ini. tanya Baso pada dirinya sendiri. Setelah cukup puas menatap foto itu dia kemudian membaca lembaran pertama.
09 Januari 2003
Nilam, mengenalmu sudah cukup membuatku bahagia. Kau selalu mampu menjadi pelipur laraku. Seandainya aku berani mengungkapkan rasa yang telah lama terpendam ini mungkin ceritanya akan berbeda. Seharusnya memang kamu tahu tentang perasaan ini. Itu jika selama ini kau mau mengerti tentang perasaanku. Tapi aku ragu dengan tingkahmu selamu ini. Seakan kau memberi sebuah harapan tapi selalu juga mengacuhkanku.
 Apakah surat yang aku selipkan di bukumu saat menjelang ujian itu tidak cukup jelas. Seandainya kamu tahu siapa yang telah membuat puisi di mading sekolah yang sempat menjadi bahan perbincangan di kelas. Itu aku Nilam. Tapi biarlah seperti ini. Aku cukup bahagia.
17 Januari 2003
Cemburu. Apa itu tadi sengaja kau lakukan untuk membuatku cemburu. Kamu tahu Wandi itu sahabatku. Tapi mengapa dia sengaja kau paksa menemanimu ke kantin. Sungguh itu membuatku terluka.


25 Januari 2003
Aku sadar diriku memang tidak pantas untuk menjadi kekasihmu. Diriku tak ada apa-apanya di bandingkan dengan cowok yang kau ajak ke pesta ulang tahun Nisa kemarin malam. Tapi siapapun dirinya itu bukan masalah karena aku mencintai ikhlasmu bukan karena aku harus menyayangimu.
Cukup seru juga kisah mereka berdua, imbuh Baso setelah membaca beberapa penggalan isi buku tersebut. Saking seriusnya Baso lupa makan malam akhirnya dia bangkit untuk memasak mie rebus.
* * *
Karena kelelahan akhirnya Baso terlambat bangun pagi itu. Sementara dia punya rencana ke acara syukuran Amran bersama Tenri. Saat terbangun dia langsung melihat jam weker di atas meja kecilnya. Jam sudah menunjukkan Pukul 8:28 sementara dia janji bertemu di rumah tenri jam 9 pagi ini. Dengan sedikit kecewa Baso menuju ke kamar mandi. Berjalan sempoyongan sambil membawa alat mandi dan handuk birunya. Sampai didepan kamar mandi umum dia langsung lemas melihat antrian yang cukup mampu membuatnya terlambat untuk menjemput Tenri. Tidak ada pilihan lain Baso berbalik arah dan langsung pakaian kemudian menuju ke masjid untuk cuci muka dan sikat gigi ditambah sedikit memberi ornament wajib di rambutnya. Selesai.
Baso kemudian berangkat ke rumah Tenri untuk menjemputnya. Saat dalam perjalanan Baso kaget karena ada seorang wanita yang tiba-tiba menyebrang jalan. Baso merem mendadak scooternya kemudian berniat memarahi wanita tersebut namun dia sendiri heran. sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi di mana. Gumam Baso. Karena sedang terburu-buru dia akhirnya lupa. Setelah sampai di rumah tenri dia masih terbayang wajah wanita itu.

è  Bersambung

0 komentar on "Rahasia Buku Catatan Ungu"

Posting Komentar