Meredam Sastra Marxis (Sosialis) dengan Simbol “Balai Pustaka”

on 3.15.2013

[Sebuah Kajian Histori Singkat tentang Sastra di Indonesia]

SEJARAH SINGKAT MASUKNYA SOSIALIS DI INDONESIA

Sastra-sastra sosialis banyak menggambarkan kondisi serta gejolak masyarakat di masa tersebut. Sastra sosialis banyak muncul di surat kabar-surat kabar (antara lain yang dimuat secara bersambung) yang dikelola oleh para aktivis gerakan, serta sebagian lagi diterbitkan oleh penerbit-penerbit swasta atau badan-badan tertentu (mislanya oleh kantor KPI) berikut merupakan perjalanan sastra Marxis di Indonesia (Teeuw, 1978)
Perkembangan Sastra Marxis di Indonesia dimulai sejak awal abad ke-20. Era ini juga ditandai dengan masuknya modernitas dan disaat yang bersamaan para tokoh-tokoh pribumi menggalang kekuatan dan semangat tentang nasionalisme. Sosialisme di Indonesia sendiri di bawah oleh para tokoh asal Belanda yang beraliran sosial-demokrat, antara lain adalah Sneevliet, Dekker, Bransteder, Baars, Bergsma dan C. Hartogh. Merekalah yang membawa ajaran Marx dan Engles ke Hindia Belanda yang kemudian disebut Indonesia.
Sneevliet mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeninging) pada tahun 1914 kemudian berhasil mengambil peranan penting dalam mempengaruhi organisasi-organisasi pribumi yang telah berdiri sebelumnya dan mampu membuat para tokoh aktivis pergerakan akhirnya lebih condong menjadi sosialis revolusioner. Tokoh Indonesia yang dianggap sebagai pelopor Marxisme adalah Semaoen dan Darsono dari Serikat Islam (SI) Semarang.

MASA AWAL KARYA SASTRA SOSIALIS

            Kondisi politik dan ekonomi di Hindia Belanda pada waktu itu tidak karuan. Ini di akibatkan oleh sistem kolonialisme, lebih terasa lagi ketika pemerintah Hindia Belanda mengubah sistem dari VOC menjadi sistem liberal. Kemudian sistem kerja paksa dihapuskan dan diubah menjadi sistem kerja upah yang bebas. Akhirnya kondisi ini semakin kacau dan membuat para tokoh sastra sosialis semakin kritis. Mereka kemudian menyuarakan perlawanan terhadap sistem kolonialisme di bumi Indonesia melalui tulisan.

Karya-karya yang dianggap sebagai jenis karya sastra perlawanan.
1.      Karangan Hadji Moekti dari tahun 1910 sampai 1912 yang berjudul Hikajat Siti Mariah yang berkisah tentang permasalahan yang terjadi disekitaran sosial, politik dan ekonomi dari berbagai lapisan sosial masyarakat.
2.      Roman Tirto Adhi Soerja, dikarang pada tahun 1912 berjudul Nyai Permana yang berkisah tentang istri Menteri Polisi. Ketika suaminya mengkorup petani saat pembagian tanah, Nyai Permana akhirnya sadar dan memilih untuk berpihak pada petani lalu meninggalkan suaminya, kembali ke desa dan berkumpul bersama para petani.
3.      Hikayat Kodiroen karya Semaoen (kelak menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia) yang di tuliskan pada tahun 1920 berkisah tentang seorang pemuda cerdas bernama Kadirun yang bekerja sebagai pegawai negeri dalam pemerintahan kolonial. Namun melihat penderitaan dan kemiskinan mayarakat akhirnya ia kecewa kepada pemerintah Hindia Belanda dan memilih untuk bergabung bersama took-tokoh PKI yang mengajarkannya tentang teori-teori perjuangan dan perlawanan. Akhirnya pimpinanya mengetahui gerak-gerik Kadirun dan menyuruhnya memilih jabatannya atau partai yang akan membuat dirinya dipecat dari jabatannya. Kadirun kemudian memilih untuk ikut dalam kegiatan politik PKI, karena menurutnya hanya dengan cara seperti itu dia bias memperjuangkan cita-cita dan kebahagiaan rakyat.

Perkembangan sastra marxis atau dikenal juga dengan istilah sastra sosialis di Hindia Belanda semakin matang. Karya-karya yang muncul juga semakin kritis dan penuh perlawanan. Salah satu karya yang dianggap sangat keras pada masanya adalah karya milik Marco Kortodikromo yang berjudul Mata Gelap (1914), isinya di penuhi oleh pornografi dan mendapatkan kecaman oleh masyarakat waktu itu. Akhirnya dia membuat satu karya lagi yang berjudul Student Hidjo (1918) berkisah tentang awal munculnya intelektual Indonesia dari kelas borjuis kecil, foedal, birokrat yang bermental lemah, dan beruntung karena memiliki kesempatan untuk  mendapatkan pendidikan Barat bahkan sampai ke luar negeri.
Kaum sastra sosialis akhirnya digolongkan kedalam “sastra pinggiran” yang karyanya oleh sebagian kritikus sastra di Indoneia tidak dimasukan dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia. Sebagiannya lagi menganggap bahwa karya-karya yang pernah muncul dari sastra sosilialah yang dianggap mewakili keadaan Indonesia pada waktu itu.

KEMUNDURAN SASTRA SOSIALIS DAN DOMINASI BALAI PUSTAKA

                Salah satu alasan kemunduran sastra sosialis adalah hegemoni Balai Pustaka yang pengaruhnya semakin kuat dan meluas di Indonesia. Disamping itu tokoh sastra sosialis tidak mampu bertahan dalam dunia kesusastraan akibat pencekalan karyanya dan keaktifan dalam pergerakan politik. Sebagaian tokoh sastra sosialis juga ditahan oleh pemerintah kolonial dan ada juga yang diasingkan.
Karya-karya yang dihasilkan oleh Balai Pustaka akhirnya dianggap sebagai cerminan masyarakat waktu itu. Karya Abdoel Moeis yang berjudul Salah Asuhan (1928) menjadi bukti usaha Balai Pustaka untuk menampilkan karya bermutu dan mengenyampingkan persoalan politik. Melalui karya tersebut Balai Pustaka seaolah-olah ingin mengubah paradigma tokoh sastra sosialis bahwa kita tetap bisa membuat karya sastra yang bermutu tanpa harus menghubungkannya dengan politik.
Balai Pustaka akhirnya muncul sebagai simbol baru kesusastraan Indonesia yang dianggap lebih bermartabat namun nyatanya kurang memperhatikan lagi kondisi sosial masyaratkat pada masa itu, sedangkan jika dimaknai, karya sastra itu sendiri adalah cerminan dari masyarakat. Mungkin inilah yang disebut oleh WS. Rendra dalam “Sajak Sebatang Lisong” sebagai penyair-penyair salon.
Takdir Alisjahbana dalam karyanya, Layar Terkembang (1936) dan Armijn Pane dengan novel Belenggu (1940) pernah mencoba untuk kembali memunculkan semangat ke-Indonesia-an sebagai gerakan untuk menolak kolonialisme. Namun nyatanya, kedua karya tersebut dianggap masih jauh dari semangat ketika sastra-sastra sosialis, apa lagi realisme sastra.
Namun beruntung pada masa itu Pramoedya Ananta Toer berhasil membuat karya sastra yang dianggap mampu mewakili kata “perlawanan” yang selama ini diusahakan oleh tokoh-tokoh sastra sosialis. Namun kembali lagi harus mendapatkan pencekalan oleh pemerintah pada waktu itu. Beberapa buku Pramoedya akhirnya diterbitkan di luar negeri.

Daftar Pustaka:
Faruk, 1994. Pengantar Sosilogi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kurniawan, Eka. 1999. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia.
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra. Malang: UMM Press.

*anggap saja sebagai catatan bawah: tulisan ini hanya sebuah kajian histori singkat tentang sastra sosialis di Indonesia. Masih minim referensi dan bagi pembaca ada baiknya untuk memberikan kritik yang membangun guna pengembangan pengetahuan.

0 komentar:

Posting Komentar

3.15.2013

Meredam Sastra Marxis (Sosialis) dengan Simbol “Balai Pustaka”

Diposting oleh Jejak Sajak di 04.22

[Sebuah Kajian Histori Singkat tentang Sastra di Indonesia]

SEJARAH SINGKAT MASUKNYA SOSIALIS DI INDONESIA

Sastra-sastra sosialis banyak menggambarkan kondisi serta gejolak masyarakat di masa tersebut. Sastra sosialis banyak muncul di surat kabar-surat kabar (antara lain yang dimuat secara bersambung) yang dikelola oleh para aktivis gerakan, serta sebagian lagi diterbitkan oleh penerbit-penerbit swasta atau badan-badan tertentu (mislanya oleh kantor KPI) berikut merupakan perjalanan sastra Marxis di Indonesia (Teeuw, 1978)
Perkembangan Sastra Marxis di Indonesia dimulai sejak awal abad ke-20. Era ini juga ditandai dengan masuknya modernitas dan disaat yang bersamaan para tokoh-tokoh pribumi menggalang kekuatan dan semangat tentang nasionalisme. Sosialisme di Indonesia sendiri di bawah oleh para tokoh asal Belanda yang beraliran sosial-demokrat, antara lain adalah Sneevliet, Dekker, Bransteder, Baars, Bergsma dan C. Hartogh. Merekalah yang membawa ajaran Marx dan Engles ke Hindia Belanda yang kemudian disebut Indonesia.
Sneevliet mendirikan ISDV (Indische Sociaal Democratische Vereeninging) pada tahun 1914 kemudian berhasil mengambil peranan penting dalam mempengaruhi organisasi-organisasi pribumi yang telah berdiri sebelumnya dan mampu membuat para tokoh aktivis pergerakan akhirnya lebih condong menjadi sosialis revolusioner. Tokoh Indonesia yang dianggap sebagai pelopor Marxisme adalah Semaoen dan Darsono dari Serikat Islam (SI) Semarang.

MASA AWAL KARYA SASTRA SOSIALIS

            Kondisi politik dan ekonomi di Hindia Belanda pada waktu itu tidak karuan. Ini di akibatkan oleh sistem kolonialisme, lebih terasa lagi ketika pemerintah Hindia Belanda mengubah sistem dari VOC menjadi sistem liberal. Kemudian sistem kerja paksa dihapuskan dan diubah menjadi sistem kerja upah yang bebas. Akhirnya kondisi ini semakin kacau dan membuat para tokoh sastra sosialis semakin kritis. Mereka kemudian menyuarakan perlawanan terhadap sistem kolonialisme di bumi Indonesia melalui tulisan.

Karya-karya yang dianggap sebagai jenis karya sastra perlawanan.
1.      Karangan Hadji Moekti dari tahun 1910 sampai 1912 yang berjudul Hikajat Siti Mariah yang berkisah tentang permasalahan yang terjadi disekitaran sosial, politik dan ekonomi dari berbagai lapisan sosial masyarakat.
2.      Roman Tirto Adhi Soerja, dikarang pada tahun 1912 berjudul Nyai Permana yang berkisah tentang istri Menteri Polisi. Ketika suaminya mengkorup petani saat pembagian tanah, Nyai Permana akhirnya sadar dan memilih untuk berpihak pada petani lalu meninggalkan suaminya, kembali ke desa dan berkumpul bersama para petani.
3.      Hikayat Kodiroen karya Semaoen (kelak menjadi Ketua Partai Komunis Indonesia) yang di tuliskan pada tahun 1920 berkisah tentang seorang pemuda cerdas bernama Kadirun yang bekerja sebagai pegawai negeri dalam pemerintahan kolonial. Namun melihat penderitaan dan kemiskinan mayarakat akhirnya ia kecewa kepada pemerintah Hindia Belanda dan memilih untuk bergabung bersama took-tokoh PKI yang mengajarkannya tentang teori-teori perjuangan dan perlawanan. Akhirnya pimpinanya mengetahui gerak-gerik Kadirun dan menyuruhnya memilih jabatannya atau partai yang akan membuat dirinya dipecat dari jabatannya. Kadirun kemudian memilih untuk ikut dalam kegiatan politik PKI, karena menurutnya hanya dengan cara seperti itu dia bias memperjuangkan cita-cita dan kebahagiaan rakyat.

Perkembangan sastra marxis atau dikenal juga dengan istilah sastra sosialis di Hindia Belanda semakin matang. Karya-karya yang muncul juga semakin kritis dan penuh perlawanan. Salah satu karya yang dianggap sangat keras pada masanya adalah karya milik Marco Kortodikromo yang berjudul Mata Gelap (1914), isinya di penuhi oleh pornografi dan mendapatkan kecaman oleh masyarakat waktu itu. Akhirnya dia membuat satu karya lagi yang berjudul Student Hidjo (1918) berkisah tentang awal munculnya intelektual Indonesia dari kelas borjuis kecil, foedal, birokrat yang bermental lemah, dan beruntung karena memiliki kesempatan untuk  mendapatkan pendidikan Barat bahkan sampai ke luar negeri.
Kaum sastra sosialis akhirnya digolongkan kedalam “sastra pinggiran” yang karyanya oleh sebagian kritikus sastra di Indoneia tidak dimasukan dalam sejarah perkembangan sastra Indonesia. Sebagiannya lagi menganggap bahwa karya-karya yang pernah muncul dari sastra sosilialah yang dianggap mewakili keadaan Indonesia pada waktu itu.

KEMUNDURAN SASTRA SOSIALIS DAN DOMINASI BALAI PUSTAKA

                Salah satu alasan kemunduran sastra sosialis adalah hegemoni Balai Pustaka yang pengaruhnya semakin kuat dan meluas di Indonesia. Disamping itu tokoh sastra sosialis tidak mampu bertahan dalam dunia kesusastraan akibat pencekalan karyanya dan keaktifan dalam pergerakan politik. Sebagaian tokoh sastra sosialis juga ditahan oleh pemerintah kolonial dan ada juga yang diasingkan.
Karya-karya yang dihasilkan oleh Balai Pustaka akhirnya dianggap sebagai cerminan masyarakat waktu itu. Karya Abdoel Moeis yang berjudul Salah Asuhan (1928) menjadi bukti usaha Balai Pustaka untuk menampilkan karya bermutu dan mengenyampingkan persoalan politik. Melalui karya tersebut Balai Pustaka seaolah-olah ingin mengubah paradigma tokoh sastra sosialis bahwa kita tetap bisa membuat karya sastra yang bermutu tanpa harus menghubungkannya dengan politik.
Balai Pustaka akhirnya muncul sebagai simbol baru kesusastraan Indonesia yang dianggap lebih bermartabat namun nyatanya kurang memperhatikan lagi kondisi sosial masyaratkat pada masa itu, sedangkan jika dimaknai, karya sastra itu sendiri adalah cerminan dari masyarakat. Mungkin inilah yang disebut oleh WS. Rendra dalam “Sajak Sebatang Lisong” sebagai penyair-penyair salon.
Takdir Alisjahbana dalam karyanya, Layar Terkembang (1936) dan Armijn Pane dengan novel Belenggu (1940) pernah mencoba untuk kembali memunculkan semangat ke-Indonesia-an sebagai gerakan untuk menolak kolonialisme. Namun nyatanya, kedua karya tersebut dianggap masih jauh dari semangat ketika sastra-sastra sosialis, apa lagi realisme sastra.
Namun beruntung pada masa itu Pramoedya Ananta Toer berhasil membuat karya sastra yang dianggap mampu mewakili kata “perlawanan” yang selama ini diusahakan oleh tokoh-tokoh sastra sosialis. Namun kembali lagi harus mendapatkan pencekalan oleh pemerintah pada waktu itu. Beberapa buku Pramoedya akhirnya diterbitkan di luar negeri.

Daftar Pustaka:
Faruk, 1994. Pengantar Sosilogi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kurniawan, Eka. 1999. Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis. Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia.
Saraswati, Ekarini. 2003. Sosiologi Sastra. Malang: UMM Press.

*anggap saja sebagai catatan bawah: tulisan ini hanya sebuah kajian histori singkat tentang sastra sosialis di Indonesia. Masih minim referensi dan bagi pembaca ada baiknya untuk memberikan kritik yang membangun guna pengembangan pengetahuan.

0 komentar on "Meredam Sastra Marxis (Sosialis) dengan Simbol “Balai Pustaka”"

Posting Komentar