Perempuan yang Menunggu Mata Pisau

on 1.19.2014
Seperti kerata api yang lincah berhenti di stasiun
tiap telingamu mendengar derap kaki, kau selalu membuka pintu 
meski hanya desis angin ribut yang mengacak-acak halamanmu
menerbangkan ranting patah, daun-daun, juga pembungkus plastik
yang sengaja kau letakkan di kiri pot bunga kamboja terasmu
kau menunggu seorang penumpang yang kau yakini pasti

Seorang lelaki muda
berjubah hitam dan mengenakan topi seniman yang kau temui di pasar malam
ia berjanji akan datang ke rumahmu membawa kopi
juga puisi-puisi yang ingin kau dengar ia bacakan untukmu
membawamu masuk ke dalam dunia yang tak kau kenal
sama sekali

Ini hari kesembilan kau menantinya
seorang lelaki aneh yang menarikmu ke sebuah lengkungan negeri yang jauh
membuatmu merasa berarti
kau selalu menyimpan selusin pembenaran atas ketidakdatangannya
“mungkin ia sedang tersesat, atau menghadapi masalah besar”
kau meyakininya seperti sarang merapati
selalu percaya bahwa pemiliknya pasti akan kembali

Namun penungguanmu tidak salah
lelaki itu datang bersama seorang perempuan
itu jarinya bercincin sama, sedang saat itu kau butuh teman untuk bercinta - juga bercerita
melampiaskan banyak hari dalam hidupmu yang bukan kebahagiaan
itu menyakitkan, luapanya membuatmu berlari ke dapur
membawa dirimu ke dalam dunia yang tak kau inginkan

“sebenarnya, aku hanya menunggu pisau untuk diriku”
katamu sambil mencocokkan tulang rusukmu dan sebilah pisau dapur yang merah

Makassar – Januari 2014

0 komentar:

Posting Komentar

1.19.2014

Perempuan yang Menunggu Mata Pisau

Diposting oleh Jejak Sajak di 23.18
Seperti kerata api yang lincah berhenti di stasiun
tiap telingamu mendengar derap kaki, kau selalu membuka pintu 
meski hanya desis angin ribut yang mengacak-acak halamanmu
menerbangkan ranting patah, daun-daun, juga pembungkus plastik
yang sengaja kau letakkan di kiri pot bunga kamboja terasmu
kau menunggu seorang penumpang yang kau yakini pasti

Seorang lelaki muda
berjubah hitam dan mengenakan topi seniman yang kau temui di pasar malam
ia berjanji akan datang ke rumahmu membawa kopi
juga puisi-puisi yang ingin kau dengar ia bacakan untukmu
membawamu masuk ke dalam dunia yang tak kau kenal
sama sekali

Ini hari kesembilan kau menantinya
seorang lelaki aneh yang menarikmu ke sebuah lengkungan negeri yang jauh
membuatmu merasa berarti
kau selalu menyimpan selusin pembenaran atas ketidakdatangannya
“mungkin ia sedang tersesat, atau menghadapi masalah besar”
kau meyakininya seperti sarang merapati
selalu percaya bahwa pemiliknya pasti akan kembali

Namun penungguanmu tidak salah
lelaki itu datang bersama seorang perempuan
itu jarinya bercincin sama, sedang saat itu kau butuh teman untuk bercinta - juga bercerita
melampiaskan banyak hari dalam hidupmu yang bukan kebahagiaan
itu menyakitkan, luapanya membuatmu berlari ke dapur
membawa dirimu ke dalam dunia yang tak kau inginkan

“sebenarnya, aku hanya menunggu pisau untuk diriku”
katamu sambil mencocokkan tulang rusukmu dan sebilah pisau dapur yang merah

Makassar – Januari 2014

0 komentar on "Perempuan yang Menunggu Mata Pisau"

Posting Komentar