Cicero, Lembaga Mahasiswa, dan guru Besar yang Turun Aksi

on 1.30.2014
[sebuah catatan sederhana]


Dalam novel Imperium karya Robert Harris, Tokoh Marcus Tellius Cicero adalah pengacara yang berani menggugat pemangku jabatan gubernur Roma, Verres. Korupsi yang dilakukan gubernur itu memang keterlaluan, ia tega memiskinkan banyak penduduk kota.
Kisah dimulai ketika Tiro, sekretaris pribadi senator Romawi, Marcus Tullius Cicero, membuka pintu pada suatu hari bulan november yang dingin dan menemukan seorang pria tua yang ketakutan, penduduk Sisilia yang menjadi korban perampokan gubernur Romawi korup, Verres. Orang itu meminta Cicero mewakilinya menuntut sang gubernur. Namun, bagaimana seorang senator yang tidak kaya, tak dikenal, bahkan dibenci kaum aristokrat, dapat memulai tuntutan terhadap seorang gubernur Romawi yang kejam dan memiliki pendukung di tempat tinggi?

***

           Fakultas kita saat ini mengalami krisis kepercayaan. Dekan yang memimpin telah mencoreng statuta Universitas Hasanuddin, seperti itulah yang diungkapkan Guru Besar Fakultas Sastra, Prof. Dr. H. Muhammad Darwis, MS dalam orasinya di depan Gedung Mattulada, bersama beberapa dosen yang kecewa melihat Fakultas Sastra saat ini.
           
Mereka turun aksi menuntut Dekan Prof. Dr. Burhanuddin Arafah agar memperbaiki kinerja dan kepemimpinanya. Permasalahan yang berbelit-belit seperti tidak pernahnya terselenggara rapat senat untuk pembahasan program kerja dan anggaran serta pertanggung jawaban dekan, pemilihan ketua, dan sekretaris jurusan tanpa memperoleh pengesahan senat, serta lembaga senat fakultas yang dibiarkan lowong selama lebih delapan bulan sehingga telah menyalahi statuta fakultas. Masalah itu memang mengundang berbagai kecaman dan menyulut kemarahan warga fakultas sastra.
Belum lagi permasalah mendasar mahasiswa seperti kekerasan akademik, WC fakultas yang kotor, dan ruang belajar yang tidak layak, serta fasilitas kampus yang tidak memadai.
Mahasiswa menjadi korban “perkelahian” dua kubu akademisi tersebut. Kekerasan akademik adalah hal paling terkutuk yang tega dilakukan birokrasi terhadap mahasiswa. Mengancam skorsing dan drop out  adalah senjata birokrasi untuk menakut-nakuti mahasiswa yang turun aksi.
Bagi mahasiswa, ancaman itu adalah pembodohan yang dilakukan orang terhormat. Sama dengan anggapan Cicreo, ancaman itu tidak dibenarkan dilakukan oleh seorang pejabat. Permasalahan itu membuat lembaga mahasiswa memiliki “kepentingan” agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi.
Kebenaran memang berbeda sekedip mata dengan ketidakbenaran. Dosen mungkin kecewa dengan dekan, begitupun mahasiswa. Aksi yang dilakukan tim dosen tersebut setidaknya membuktikan bahwa bukan lembaga mahasiswa saja yang resah terhadap kemiskinan hati pemimpin kita untuk berbuat lebih baik bagi “warganya”.

***

            Cicero tahu bahwa Verres telah menggunakan jabatannya untuk melakukan kejahatan. Korupsi dan memiskinkan rakyat Roma. Itu salah dan tidak pernah ada pembenaran seorang gubernur melakukan tindakan korupsi. Dengan menggugat Verres, Cicero berhasil membuka mata rakyat Roma bahwa tirani yang didirikan penguasa tetap bisa dijatuhkan melaui ruang-ruang resmi.
Cicero berhasil memenjarakan Verres. Tuduhan korupsi itu terbukti benar. Rakyat gembira dengan keberhasil Cicero menumbangkan rezim Verres. Setidaknya rakyat merasa bahwa ada orang yang mau mendengar aspirasinya dan mereka sekarang telah memiliki pahlawan: Cicero.

***

            Melihat guru besar dan dosen-dosen turun aksi, ada sebuah pertanyaan yang menggelitik. Jika dekan fakultas sastra itu melepaskan jabatannya, kira-kira siapa yang berhasil menumbangkan rezimnya?. Apakah tim dosen atau lembaga mahasiswa yang selama ini dizalimi oleh “Verres?”
            Jawabannya adalah bergantung dari sisi mana kita melihatnya. Tim dosen menyerang pejabat fakultas karena kinerjanya sedangkan lembaga mahasiswa menyerang pejabat fakultas karena kebijakannya.
            Dua serangan telak dengan muntahan peluru yang luar bisa banyak. Tim dosen punya bukti, begitupun mahasiswa. Dua kubu ini memiliki peluang dan kekuatan yang sama – juga musuh bersama. Jika kedua kekuatan ini bersatu, rezim apa yang tidak bisa takluk?
            Akhirnya, kita masih harus menunggu perkembangan selanjutnya. Semoga ruang-ruang resmi dan aksi bisa menjadi solusi yang mendewasakan “rakyat sastra”.

Salam perjuangan!
Hidup mahasiswa!

0 komentar:

Posting Komentar

1.30.2014

Cicero, Lembaga Mahasiswa, dan guru Besar yang Turun Aksi

Diposting oleh Jejak Sajak di 19.15
[sebuah catatan sederhana]


Dalam novel Imperium karya Robert Harris, Tokoh Marcus Tellius Cicero adalah pengacara yang berani menggugat pemangku jabatan gubernur Roma, Verres. Korupsi yang dilakukan gubernur itu memang keterlaluan, ia tega memiskinkan banyak penduduk kota.
Kisah dimulai ketika Tiro, sekretaris pribadi senator Romawi, Marcus Tullius Cicero, membuka pintu pada suatu hari bulan november yang dingin dan menemukan seorang pria tua yang ketakutan, penduduk Sisilia yang menjadi korban perampokan gubernur Romawi korup, Verres. Orang itu meminta Cicero mewakilinya menuntut sang gubernur. Namun, bagaimana seorang senator yang tidak kaya, tak dikenal, bahkan dibenci kaum aristokrat, dapat memulai tuntutan terhadap seorang gubernur Romawi yang kejam dan memiliki pendukung di tempat tinggi?

***

           Fakultas kita saat ini mengalami krisis kepercayaan. Dekan yang memimpin telah mencoreng statuta Universitas Hasanuddin, seperti itulah yang diungkapkan Guru Besar Fakultas Sastra, Prof. Dr. H. Muhammad Darwis, MS dalam orasinya di depan Gedung Mattulada, bersama beberapa dosen yang kecewa melihat Fakultas Sastra saat ini.
           
Mereka turun aksi menuntut Dekan Prof. Dr. Burhanuddin Arafah agar memperbaiki kinerja dan kepemimpinanya. Permasalahan yang berbelit-belit seperti tidak pernahnya terselenggara rapat senat untuk pembahasan program kerja dan anggaran serta pertanggung jawaban dekan, pemilihan ketua, dan sekretaris jurusan tanpa memperoleh pengesahan senat, serta lembaga senat fakultas yang dibiarkan lowong selama lebih delapan bulan sehingga telah menyalahi statuta fakultas. Masalah itu memang mengundang berbagai kecaman dan menyulut kemarahan warga fakultas sastra.
Belum lagi permasalah mendasar mahasiswa seperti kekerasan akademik, WC fakultas yang kotor, dan ruang belajar yang tidak layak, serta fasilitas kampus yang tidak memadai.
Mahasiswa menjadi korban “perkelahian” dua kubu akademisi tersebut. Kekerasan akademik adalah hal paling terkutuk yang tega dilakukan birokrasi terhadap mahasiswa. Mengancam skorsing dan drop out  adalah senjata birokrasi untuk menakut-nakuti mahasiswa yang turun aksi.
Bagi mahasiswa, ancaman itu adalah pembodohan yang dilakukan orang terhormat. Sama dengan anggapan Cicreo, ancaman itu tidak dibenarkan dilakukan oleh seorang pejabat. Permasalahan itu membuat lembaga mahasiswa memiliki “kepentingan” agar kejadian seperti itu tidak terulang lagi.
Kebenaran memang berbeda sekedip mata dengan ketidakbenaran. Dosen mungkin kecewa dengan dekan, begitupun mahasiswa. Aksi yang dilakukan tim dosen tersebut setidaknya membuktikan bahwa bukan lembaga mahasiswa saja yang resah terhadap kemiskinan hati pemimpin kita untuk berbuat lebih baik bagi “warganya”.

***

            Cicero tahu bahwa Verres telah menggunakan jabatannya untuk melakukan kejahatan. Korupsi dan memiskinkan rakyat Roma. Itu salah dan tidak pernah ada pembenaran seorang gubernur melakukan tindakan korupsi. Dengan menggugat Verres, Cicero berhasil membuka mata rakyat Roma bahwa tirani yang didirikan penguasa tetap bisa dijatuhkan melaui ruang-ruang resmi.
Cicero berhasil memenjarakan Verres. Tuduhan korupsi itu terbukti benar. Rakyat gembira dengan keberhasil Cicero menumbangkan rezim Verres. Setidaknya rakyat merasa bahwa ada orang yang mau mendengar aspirasinya dan mereka sekarang telah memiliki pahlawan: Cicero.

***

            Melihat guru besar dan dosen-dosen turun aksi, ada sebuah pertanyaan yang menggelitik. Jika dekan fakultas sastra itu melepaskan jabatannya, kira-kira siapa yang berhasil menumbangkan rezimnya?. Apakah tim dosen atau lembaga mahasiswa yang selama ini dizalimi oleh “Verres?”
            Jawabannya adalah bergantung dari sisi mana kita melihatnya. Tim dosen menyerang pejabat fakultas karena kinerjanya sedangkan lembaga mahasiswa menyerang pejabat fakultas karena kebijakannya.
            Dua serangan telak dengan muntahan peluru yang luar bisa banyak. Tim dosen punya bukti, begitupun mahasiswa. Dua kubu ini memiliki peluang dan kekuatan yang sama – juga musuh bersama. Jika kedua kekuatan ini bersatu, rezim apa yang tidak bisa takluk?
            Akhirnya, kita masih harus menunggu perkembangan selanjutnya. Semoga ruang-ruang resmi dan aksi bisa menjadi solusi yang mendewasakan “rakyat sastra”.

Salam perjuangan!
Hidup mahasiswa!

0 komentar on "Cicero, Lembaga Mahasiswa, dan guru Besar yang Turun Aksi"

Posting Komentar