Rajah

on 5.05.2014
1/
Seorang lelaki yang tidak kau kenal sedang membenci dirinya, juga masa lalu yang ia ternakkan di dalam padang kembara. Ia berharap suatu kapan, dari ibunya, lahir jutaan palu-palu yang siap menghantam kepalanya. Menewaskan semua kebosanan yang ia benci. Seperti kata penyair, hidup adalah kesepian masing-masing. Ia memeluk tubuhnya, berusaha memberikan pencahayaan terang. Entah kuning, merah, atau bayangan ayahnya. Ia selalu percaya, tubuh ini adalah musibah.

Ia datang kepada seorang perempuan dengan menelanjangkan tubuh. Rajah mawar menancap tepat di dada kirinya. Ia berharap dapat memberimu bunga yang tak mungkin layu ini. Jangan kau merahkan lagi marah, katanya sambil menyerahkan senjata. Ia berharap kau menembaknya. Tapi aku bukan kaum vandal yang tega membunuh, juga bukan malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa, katamu.

Ia memang ingin mati di tangan perempuan itu. Ia habiskan separuh hidupnya untuk menemukan alasan mati di hadapanmu. Katanya, kesendirian memang perlu dicuri dari orang yang paling kau cintai.

Kisah itu mengingatkanku pada Clavo, lelaki yang hidup di abad pertengahan. Ia rela mati di ranjang kekasihnya. Sambil memegang tengkuknya, ia meneguk racun paling manis saat kekasihnya tidur. Ia mati dalam pelukan perempuan yang paling ia cintai.

2/
Sejak perempuan itu tak ingin membunuhnya, ia memilih hidup sebagai penjaga makam. Menyiasati kesendiriannya dengan melihat nisan-nisan yang berjejer seperti lintasan kereta. Mengantar orang-orang ketujuannya masing-masing.


Lelaki itu juga percaya bahwa ia memiliki tujuan. Namun seperti pepatah, jangan bermain api jika tidak ingin terbakar. Lelaki itu menggali makamnya sendiri. Tak ada nisan, kafan, ataupun papan. Ia masukkan tubuhnya ke dalam lubang dengan lukisan wajah perempuan itu sebagai temannya. Percayalah, dunia akan berakhir dengan kesia-siaan. Ia kemudian mati dalam dirinya sendiri. Matilah sebenar-benarnya mati.

0 komentar:

Posting Komentar

5.05.2014

Rajah

Diposting oleh Jejak Sajak di 03.40
1/
Seorang lelaki yang tidak kau kenal sedang membenci dirinya, juga masa lalu yang ia ternakkan di dalam padang kembara. Ia berharap suatu kapan, dari ibunya, lahir jutaan palu-palu yang siap menghantam kepalanya. Menewaskan semua kebosanan yang ia benci. Seperti kata penyair, hidup adalah kesepian masing-masing. Ia memeluk tubuhnya, berusaha memberikan pencahayaan terang. Entah kuning, merah, atau bayangan ayahnya. Ia selalu percaya, tubuh ini adalah musibah.

Ia datang kepada seorang perempuan dengan menelanjangkan tubuh. Rajah mawar menancap tepat di dada kirinya. Ia berharap dapat memberimu bunga yang tak mungkin layu ini. Jangan kau merahkan lagi marah, katanya sambil menyerahkan senjata. Ia berharap kau menembaknya. Tapi aku bukan kaum vandal yang tega membunuh, juga bukan malaikat maut yang bertugas mencabut nyawa, katamu.

Ia memang ingin mati di tangan perempuan itu. Ia habiskan separuh hidupnya untuk menemukan alasan mati di hadapanmu. Katanya, kesendirian memang perlu dicuri dari orang yang paling kau cintai.

Kisah itu mengingatkanku pada Clavo, lelaki yang hidup di abad pertengahan. Ia rela mati di ranjang kekasihnya. Sambil memegang tengkuknya, ia meneguk racun paling manis saat kekasihnya tidur. Ia mati dalam pelukan perempuan yang paling ia cintai.

2/
Sejak perempuan itu tak ingin membunuhnya, ia memilih hidup sebagai penjaga makam. Menyiasati kesendiriannya dengan melihat nisan-nisan yang berjejer seperti lintasan kereta. Mengantar orang-orang ketujuannya masing-masing.


Lelaki itu juga percaya bahwa ia memiliki tujuan. Namun seperti pepatah, jangan bermain api jika tidak ingin terbakar. Lelaki itu menggali makamnya sendiri. Tak ada nisan, kafan, ataupun papan. Ia masukkan tubuhnya ke dalam lubang dengan lukisan wajah perempuan itu sebagai temannya. Percayalah, dunia akan berakhir dengan kesia-siaan. Ia kemudian mati dalam dirinya sendiri. Matilah sebenar-benarnya mati.

0 komentar on "Rajah"

Posting Komentar