Kota Puisi

on 1.07.2015


Tereliminasi dari peradaban semacam hukuman bagi mereka yang tinggal di kota metropolitan. Kota dengan kumpulan orang yang lebih bahagia melupakan dari pada dilupakan. Lebih senang memiliki dari pada dimiliki. Lebih memilih dicintai dari pada mencintai. Sialnya, kita terjebak di kota semacam itu.
Merasa kalah saing dan terasing jika tidak memiliki telepon genggam yang cerdas, baju yang bermerek, potongan rambut terbaru, atau terlibat hura-hara yang banyak digemari oleh manusia lain. Padahal semua itu serupa puisi Sapardi Djoko Damono; yang fana adalah waktu, kita abadi.
Kita seperti berburu di hutan belantara. Memanah hewan apapun yang kita inginkan. Itulah kebuasan yang manusia miliki. Kebuasan tersembunyi yang lebih buas dari hewan yang terlihat paling buas. Sehingga kadang terlupakan, jika menyembunyikan sesuatu, kita sebenarnya sedang membiarkan seseorang menemukannya.
Di sekolah dan bangku perkuliahan kita hanya belajar untuk menyembunyikan kebuasan tersebut. Para guru mendidik kita cara untuk sabar dan patuh. Para dosen menuntut kita untuk pintar dan lebih bijak. Bukankah itu berangkat dari kesadaran bahwa manusia memang memiliki sifat kebinatangan. Sifat tersembunyi dalam diri setiap orang yang harus ditaklukkan.
***
            Ruang karoke, diskotik, rumah ibadah, atau gelanggang tinju adalah beberapa tempat yang kadang dijadikan manusia sebagai hutan belantara. Hutan kebebasan untuk mengeluarkan kebuasan.
Benarkah tempat karoke adalah wahana hiburan? Bukankah itu lebih mirip penjara dalam bentuk yang lebih bebas. Manusia bisa berteriak sambil bernyanyi. Memilih lagu tentang kekesalan jiwanya atau emosi yang ia simpan menahun.
Cobalah perhatikan mereka yang memilih diskotik sebagai tempat meluapkan emosi. Musik keras hanya membantu kita untuk berhenti sejenak memikirkan masalah. Kerlip lampu yang tiada henti membius mata kita hanyalah ilusi yang menenangkan pikiran. Toh, setelah pulang dan berhadapan dengan tumpukan pekerjaan yang belum selesai, kita akan memikirkannya lagi.
Atau rumah ibadah yang kadang didatangi oleh manusia hanya untuk buang hajat, atau istirahat dari penatnya perjalanan. Bahkan dengan perasaan yang tidak tentu, kita kadang berdoa meminta agar Tuhan memudahkan semua hal yang susah.
Atau di gelanggang tinju dan riuhan sporter yang berteriak mendukung petinju andalan mereka. Benarkah mereka menikmati pertandingan itu? Atau hanya senang melampiaskan emosinya melihat sepasang manusia saling memukul satu sama lain. Mereka mungkin tersenyum dan penuh semangat bersorak. Tapi saya melihat mata mereka merah. Wajah murung durja dan tangan mereka terkepal seakan ingin ikut memukul.
Kita sepertinya kehabisan cara untuk menikmati hidup. Seakan kota ini telah berubah menjadi deretan kalimat tuntutan. Milikilah ini! Jadilah itu! Bencilah ini! Cintailah ini! Dan tanpa sadar, suatu saat kita mungkin akan mendengar kalimat tuntutan; Bunuhlah dia!
Betapa kota ini telah mengubah bayi-bayi tak berdosa menjadi manusia-manusia penuh derita. Kita hanya tidak begitu pandai menyadari bahwa memiliki telpon genggam cerdas adalah sebuah penderitaan, menggunakan pakaian mewah adalah penderitaan, juga menghadiri kegiatan hura-hara adalah penderitaan. Penderitaan yang tidak akan sanggup kita anggap penderitaan.
Ada benarnya yang Pramoedya Ananta Toer pernah katakan, “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”
Parahnya, kita bukan tidak bisa menyeimbangkan kehidupan lagi, tapi kita tidak bisa melihat yang mana penderitaan dan yang mana keceriaan.
***
            Saya membayangkan suatu kapan. Ketika semua hal sudah terlalu abstrak untuk dijalani. Ketika semua manusia mulai merasa payah dalam menentukan seperti apa hidup yang layak. Ketika kita sudah berani memilih nasib sendiri. Mulai belajar membenci dan berkata tidak pada apa yang lama kita yakini sebagai kebenaran. Kita akan keluar dari semua jerat itu dan membangun kota baru. Kota puisi.
Kota puisi adalah kota di mana setiap orang bebas menentukan nasibnya sendiri. Bisa menjadi apa yang ia inginkan tanpa harus takut tuduhan orang lain. Percayalah, tuduhan sosial kepada seseorang jauh lebih penjara dari pada jeruji besi yang mengurung kita bertahun-tahun.
Saya berharap suatu saat tidak ada lagi orang yang dianggap aneh karena memanjangkan rambut. Seseorang tidak dipandang sinis lagi ketika badannya dipenuhi rajah. Atau orang lain tidak lagi protes ketika ada yang berani menyebut kata kontol sama indahnya dengan menyebut kata Tuhan. Semoga!


termuat di Literasi Tempo 05/01/15

1 komentar:

Ibnu Maksum mengatakan...

Karena keegoisanlah kita menyebut diri kita manusia.

Posting Komentar

1.07.2015

Kota Puisi

Diposting oleh Jejak Sajak di 01.44


Tereliminasi dari peradaban semacam hukuman bagi mereka yang tinggal di kota metropolitan. Kota dengan kumpulan orang yang lebih bahagia melupakan dari pada dilupakan. Lebih senang memiliki dari pada dimiliki. Lebih memilih dicintai dari pada mencintai. Sialnya, kita terjebak di kota semacam itu.
Merasa kalah saing dan terasing jika tidak memiliki telepon genggam yang cerdas, baju yang bermerek, potongan rambut terbaru, atau terlibat hura-hara yang banyak digemari oleh manusia lain. Padahal semua itu serupa puisi Sapardi Djoko Damono; yang fana adalah waktu, kita abadi.
Kita seperti berburu di hutan belantara. Memanah hewan apapun yang kita inginkan. Itulah kebuasan yang manusia miliki. Kebuasan tersembunyi yang lebih buas dari hewan yang terlihat paling buas. Sehingga kadang terlupakan, jika menyembunyikan sesuatu, kita sebenarnya sedang membiarkan seseorang menemukannya.
Di sekolah dan bangku perkuliahan kita hanya belajar untuk menyembunyikan kebuasan tersebut. Para guru mendidik kita cara untuk sabar dan patuh. Para dosen menuntut kita untuk pintar dan lebih bijak. Bukankah itu berangkat dari kesadaran bahwa manusia memang memiliki sifat kebinatangan. Sifat tersembunyi dalam diri setiap orang yang harus ditaklukkan.
***
            Ruang karoke, diskotik, rumah ibadah, atau gelanggang tinju adalah beberapa tempat yang kadang dijadikan manusia sebagai hutan belantara. Hutan kebebasan untuk mengeluarkan kebuasan.
Benarkah tempat karoke adalah wahana hiburan? Bukankah itu lebih mirip penjara dalam bentuk yang lebih bebas. Manusia bisa berteriak sambil bernyanyi. Memilih lagu tentang kekesalan jiwanya atau emosi yang ia simpan menahun.
Cobalah perhatikan mereka yang memilih diskotik sebagai tempat meluapkan emosi. Musik keras hanya membantu kita untuk berhenti sejenak memikirkan masalah. Kerlip lampu yang tiada henti membius mata kita hanyalah ilusi yang menenangkan pikiran. Toh, setelah pulang dan berhadapan dengan tumpukan pekerjaan yang belum selesai, kita akan memikirkannya lagi.
Atau rumah ibadah yang kadang didatangi oleh manusia hanya untuk buang hajat, atau istirahat dari penatnya perjalanan. Bahkan dengan perasaan yang tidak tentu, kita kadang berdoa meminta agar Tuhan memudahkan semua hal yang susah.
Atau di gelanggang tinju dan riuhan sporter yang berteriak mendukung petinju andalan mereka. Benarkah mereka menikmati pertandingan itu? Atau hanya senang melampiaskan emosinya melihat sepasang manusia saling memukul satu sama lain. Mereka mungkin tersenyum dan penuh semangat bersorak. Tapi saya melihat mata mereka merah. Wajah murung durja dan tangan mereka terkepal seakan ingin ikut memukul.
Kita sepertinya kehabisan cara untuk menikmati hidup. Seakan kota ini telah berubah menjadi deretan kalimat tuntutan. Milikilah ini! Jadilah itu! Bencilah ini! Cintailah ini! Dan tanpa sadar, suatu saat kita mungkin akan mendengar kalimat tuntutan; Bunuhlah dia!
Betapa kota ini telah mengubah bayi-bayi tak berdosa menjadi manusia-manusia penuh derita. Kita hanya tidak begitu pandai menyadari bahwa memiliki telpon genggam cerdas adalah sebuah penderitaan, menggunakan pakaian mewah adalah penderitaan, juga menghadiri kegiatan hura-hara adalah penderitaan. Penderitaan yang tidak akan sanggup kita anggap penderitaan.
Ada benarnya yang Pramoedya Ananta Toer pernah katakan, “Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.”
Parahnya, kita bukan tidak bisa menyeimbangkan kehidupan lagi, tapi kita tidak bisa melihat yang mana penderitaan dan yang mana keceriaan.
***
            Saya membayangkan suatu kapan. Ketika semua hal sudah terlalu abstrak untuk dijalani. Ketika semua manusia mulai merasa payah dalam menentukan seperti apa hidup yang layak. Ketika kita sudah berani memilih nasib sendiri. Mulai belajar membenci dan berkata tidak pada apa yang lama kita yakini sebagai kebenaran. Kita akan keluar dari semua jerat itu dan membangun kota baru. Kota puisi.
Kota puisi adalah kota di mana setiap orang bebas menentukan nasibnya sendiri. Bisa menjadi apa yang ia inginkan tanpa harus takut tuduhan orang lain. Percayalah, tuduhan sosial kepada seseorang jauh lebih penjara dari pada jeruji besi yang mengurung kita bertahun-tahun.
Saya berharap suatu saat tidak ada lagi orang yang dianggap aneh karena memanjangkan rambut. Seseorang tidak dipandang sinis lagi ketika badannya dipenuhi rajah. Atau orang lain tidak lagi protes ketika ada yang berani menyebut kata kontol sama indahnya dengan menyebut kata Tuhan. Semoga!


termuat di Literasi Tempo 05/01/15

1 komentar on "Kota Puisi"

Ibnu Maksum on 12 Januari 2015 16.58 mengatakan...

Karena keegoisanlah kita menyebut diri kita manusia.

Posting Komentar