SASTRA PERLAWANAN II

on 10.14.2012
KAMPUS UNHAS 2012

Mahasiswa sebagai agen perubahan. Ini masih katanya. Oleh beberapa pihak dijadikan alasan untuk melawan. Siapa yang pernah mengatakan mahasiswa sebagai agen perubahan. Bukankah itu kalimat propoganda yang akan memberatkan mahasiswa sendiri. Membebaninya seperti pahlawan yang jika bukan dia maka perubahan tidak ada. Saya selalu memposisikan diriku sebagai masyarakat biasa, bukan pada mahasiswanya. Itu jauh membuat saya dapat melihat beberapa masalah lebih dekat. Sangat dekat.

Di akhir 2012 tiap kampus menjadi tempat perselingkuhan antara rekayasa dan masalah. di UNM Makassar bahkan sampai ada yang meninggal dunia akibat perang darah kaum intelek. Apa mahasiswa masih harus disebut sebagai agen perubahan. Tepatnya sekelompok orang bodoh yang mencontek masa lalu. Menjijikkan. 

Sampai di kampus Unhas sendiri. Beberapa masalah justru dilahirkan bukan karena lahir dengan sendirinya tapi sengaja dilahirkan oleh sekelompok garis atas yang punya kepentingan politik didalamnya. Mungkin juga kepentingan perut. Semua ini akan berdampak pada pandangan umum masyarakat tentang mahasiswa Makassar. Slogan Makassar Tidak Kasar hanya menjadi hipokrisi belaka. Jelas itu tidak akan membawa perubahan sama sekali.

Kampus akhirnya di isi oleh para agen yang mengharapkan perubahan bukan sebagai penggerak perubahan itu sendiri. Negara kita sedang dilanda penyakit ketakutan yang di buat oleh beberapa pandangan orang mengenai diri kita sendiri. Jika anda percaya bahwa jantung negara itu ada di kampus maka seharusnya tiap birokrasi kampus memberikan alasan untuk mahasiswa melawan. Melawan bukan dalam artian harus turun kejalan dan membuat kerusuhan disana. Cukup kau mencerdaskan dirimu mengisinya dengan kegiatan positif maka perubahan akan datang.

Selamat kepada para aktivis yang berhasil mendoktrin kami sebagai agen perubahan.

0 komentar:

Posting Komentar

10.14.2012

SASTRA PERLAWANAN II

Diposting oleh Jejak Sajak di 23.15
KAMPUS UNHAS 2012

Mahasiswa sebagai agen perubahan. Ini masih katanya. Oleh beberapa pihak dijadikan alasan untuk melawan. Siapa yang pernah mengatakan mahasiswa sebagai agen perubahan. Bukankah itu kalimat propoganda yang akan memberatkan mahasiswa sendiri. Membebaninya seperti pahlawan yang jika bukan dia maka perubahan tidak ada. Saya selalu memposisikan diriku sebagai masyarakat biasa, bukan pada mahasiswanya. Itu jauh membuat saya dapat melihat beberapa masalah lebih dekat. Sangat dekat.

Di akhir 2012 tiap kampus menjadi tempat perselingkuhan antara rekayasa dan masalah. di UNM Makassar bahkan sampai ada yang meninggal dunia akibat perang darah kaum intelek. Apa mahasiswa masih harus disebut sebagai agen perubahan. Tepatnya sekelompok orang bodoh yang mencontek masa lalu. Menjijikkan. 

Sampai di kampus Unhas sendiri. Beberapa masalah justru dilahirkan bukan karena lahir dengan sendirinya tapi sengaja dilahirkan oleh sekelompok garis atas yang punya kepentingan politik didalamnya. Mungkin juga kepentingan perut. Semua ini akan berdampak pada pandangan umum masyarakat tentang mahasiswa Makassar. Slogan Makassar Tidak Kasar hanya menjadi hipokrisi belaka. Jelas itu tidak akan membawa perubahan sama sekali.

Kampus akhirnya di isi oleh para agen yang mengharapkan perubahan bukan sebagai penggerak perubahan itu sendiri. Negara kita sedang dilanda penyakit ketakutan yang di buat oleh beberapa pandangan orang mengenai diri kita sendiri. Jika anda percaya bahwa jantung negara itu ada di kampus maka seharusnya tiap birokrasi kampus memberikan alasan untuk mahasiswa melawan. Melawan bukan dalam artian harus turun kejalan dan membuat kerusuhan disana. Cukup kau mencerdaskan dirimu mengisinya dengan kegiatan positif maka perubahan akan datang.

Selamat kepada para aktivis yang berhasil mendoktrin kami sebagai agen perubahan.

0 komentar on "SASTRA PERLAWANAN II"

Posting Komentar