Rakyat: Mengamuklah Demi Terbitnya Cahaya

on 6.27.2012

Mengapa harus diam jika kita punya hak untuk menyuarakan apa pendapat kita. Bukankah kita terlahir sebagai manusia yang ditantang untuk dapat hidup dengan perdamaian dan kebenaran. Ya, benar bukan hanya benar bahwa kita hidup tapi benar kita menghidupkan apa yang seharusnya hidup. Perlawanan adalah salah satu bentuk pertahanan diri paling aman dan paling mudah. Mudah karena hanya membutuhkan idealisme dan keberanian yang setiap orang milikinya. Termasuk anda yang sedang membaca pesan ini. Anda harus melawanan kepada apa saja yang harus kita lawan.

Jika kita masih bertanya lagi tentang mengapa harus melawan. Itu karena tidakada yang dapat melindungi diri kita selain diri kita sendiri. Jangan berharap kepada pemerintah dan aparat akan melindungi dirimu. Di negara seperti Indonesia, jika kamu tak bermodalkan uang untuk menelanjangi hukum maka hukum itu yang akan menelanjangimu.


Bagaimana anda melihat kasus Marsinah yang mendalangi aksi pemogokan buruh PT Catur Putra Surya tahun 1993 dan akhirnya ditemukan tewas di gubuk pinggir sawah di nganjuk, jawa timur setelah 4 hari dikabarkan menghilang dan sampai saat ini belum terungkap misteri kematiannya, Munir yang dibunuh tanpa pembunuh, Widji Thukul yang diculik oleh Tim Mawar bentukan Kopasus yang dipimpin oleh Prabowa Subianto dan sampai sekarang belum bernisan, Kasus Century yang menyeret nama Bibit dan Candra, Lumpur Lapindo asuhan Abu Rizal Bakrie, Mesuji, hingga kasus HAM di Papua yang belum dapat diselesaikan dan masih banyak lagi kasus yang terus ditutupi dengan alasan telah 'basi' akhirnya terlupakan dengan sendirinya. Hambalang mencuat dan mengantarkan Anas Urbaningrum yang juga kader HMI sebagai 'tertuduh' utama kasus pemenangan proyek akbar Hambalang.

Masih punya alasan untuk diam?
Mengamuklah demi terbitnya cahaya kebenaran itu.

Situasi seperti ini kelak akan mengantarkan kita pada masa dimana semua rakyat akan mempersenjatai dirinya dengan pistol. Berjalan ditengah kota dan saling menatap curiga satu sama lain. Para anak kecil akan mendapatkan kursus kilat sebagai pencopet ulung. Akan terasa sia-sia bapak negara kita merumuskan pancasila sedemikian rupa namun pada akhirnnya kita dipaksa menganut idealisme konyol seperti ini. Ibarat kita tidur namun tidak dapat menutup mata.

Ketika aparat telah menjadi keparat dan pemerintah akan menyerukan agar rakyat miskin dimelaratkan saja Mafia akan menguasai kota-kota besar dan pada akhirnya akan lahir negara baru bernama Indolisme dengan faham neoliberalnya yang akan menyuburkan mafia hukum dan korup. 

Jika anda bernama rakyat maka mengamuklah. Liarkan dirimu dan bangkit melawan. Sudah terlalu lama kita hidup sebagai pendamba. Namun kita tidak pernah berani keluar mencoba mewujudkan dambaan kita. Dambaan terhadap negara yang menjunjung tinggi hukumnya sendiri. Negara yang akan melahirkan banyak negarawan bukan politikus yang hanya berfikir untuk kemenangan partainya pada pemilu saja.

Semoga pesan ini dapat menyadarkan kita agar tidak selamanya diam membisu dan akhirnya mati membisu juga. Kita perlu gerakan dan mempersenjatai diri kita masing-masing. Entah itu dengan pistol atau idealisme yang seharusnya kita anut.


Malam Juni 2012

2 komentar:

Anonim mengatakan...

MENGAMUKLAH DEMI TERBITNYA CAHAY KEBENARAN>
against the dyin'of the light.
( THE RUNDOWN)
DWAYNE'the rock' JHONSON

fajar mengatakan...

Betul admin.?. Keadilan terinjak2 oleh org lain yg mmilih dlm sbuah kompetisi dgan sikut mnyikut dgan sluruh klicikan menyogok, menyuap sdh jd trenn. Dgan qt diam dgn mudah di bodohi salurkan aspirasi mlalui jln yg di bnarkan mlalui tata cara [hukum sya'ra]

Posting Komentar

6.27.2012

Rakyat: Mengamuklah Demi Terbitnya Cahaya

Diposting oleh Jejak Sajak di 09.36

Mengapa harus diam jika kita punya hak untuk menyuarakan apa pendapat kita. Bukankah kita terlahir sebagai manusia yang ditantang untuk dapat hidup dengan perdamaian dan kebenaran. Ya, benar bukan hanya benar bahwa kita hidup tapi benar kita menghidupkan apa yang seharusnya hidup. Perlawanan adalah salah satu bentuk pertahanan diri paling aman dan paling mudah. Mudah karena hanya membutuhkan idealisme dan keberanian yang setiap orang milikinya. Termasuk anda yang sedang membaca pesan ini. Anda harus melawanan kepada apa saja yang harus kita lawan.

Jika kita masih bertanya lagi tentang mengapa harus melawan. Itu karena tidakada yang dapat melindungi diri kita selain diri kita sendiri. Jangan berharap kepada pemerintah dan aparat akan melindungi dirimu. Di negara seperti Indonesia, jika kamu tak bermodalkan uang untuk menelanjangi hukum maka hukum itu yang akan menelanjangimu.


Bagaimana anda melihat kasus Marsinah yang mendalangi aksi pemogokan buruh PT Catur Putra Surya tahun 1993 dan akhirnya ditemukan tewas di gubuk pinggir sawah di nganjuk, jawa timur setelah 4 hari dikabarkan menghilang dan sampai saat ini belum terungkap misteri kematiannya, Munir yang dibunuh tanpa pembunuh, Widji Thukul yang diculik oleh Tim Mawar bentukan Kopasus yang dipimpin oleh Prabowa Subianto dan sampai sekarang belum bernisan, Kasus Century yang menyeret nama Bibit dan Candra, Lumpur Lapindo asuhan Abu Rizal Bakrie, Mesuji, hingga kasus HAM di Papua yang belum dapat diselesaikan dan masih banyak lagi kasus yang terus ditutupi dengan alasan telah 'basi' akhirnya terlupakan dengan sendirinya. Hambalang mencuat dan mengantarkan Anas Urbaningrum yang juga kader HMI sebagai 'tertuduh' utama kasus pemenangan proyek akbar Hambalang.

Masih punya alasan untuk diam?
Mengamuklah demi terbitnya cahaya kebenaran itu.

Situasi seperti ini kelak akan mengantarkan kita pada masa dimana semua rakyat akan mempersenjatai dirinya dengan pistol. Berjalan ditengah kota dan saling menatap curiga satu sama lain. Para anak kecil akan mendapatkan kursus kilat sebagai pencopet ulung. Akan terasa sia-sia bapak negara kita merumuskan pancasila sedemikian rupa namun pada akhirnnya kita dipaksa menganut idealisme konyol seperti ini. Ibarat kita tidur namun tidak dapat menutup mata.

Ketika aparat telah menjadi keparat dan pemerintah akan menyerukan agar rakyat miskin dimelaratkan saja Mafia akan menguasai kota-kota besar dan pada akhirnya akan lahir negara baru bernama Indolisme dengan faham neoliberalnya yang akan menyuburkan mafia hukum dan korup. 

Jika anda bernama rakyat maka mengamuklah. Liarkan dirimu dan bangkit melawan. Sudah terlalu lama kita hidup sebagai pendamba. Namun kita tidak pernah berani keluar mencoba mewujudkan dambaan kita. Dambaan terhadap negara yang menjunjung tinggi hukumnya sendiri. Negara yang akan melahirkan banyak negarawan bukan politikus yang hanya berfikir untuk kemenangan partainya pada pemilu saja.

Semoga pesan ini dapat menyadarkan kita agar tidak selamanya diam membisu dan akhirnya mati membisu juga. Kita perlu gerakan dan mempersenjatai diri kita masing-masing. Entah itu dengan pistol atau idealisme yang seharusnya kita anut.


Malam Juni 2012

2 komentar on "Rakyat: Mengamuklah Demi Terbitnya Cahaya"

Anonim mengatakan...

MENGAMUKLAH DEMI TERBITNYA CAHAY KEBENARAN>
against the dyin'of the light.
( THE RUNDOWN)
DWAYNE'the rock' JHONSON

fajar on 1 Mei 2013 09.54 mengatakan...

Betul admin.?. Keadilan terinjak2 oleh org lain yg mmilih dlm sbuah kompetisi dgan sikut mnyikut dgan sluruh klicikan menyogok, menyuap sdh jd trenn. Dgan qt diam dgn mudah di bodohi salurkan aspirasi mlalui jln yg di bnarkan mlalui tata cara [hukum sya'ra]

Posting Komentar