Dari Papua Menuju Ironi Indonesia

on 5.11.2012

Kekayaan alam yang ada di Indonesia khususnya di tanah Papua sungguh melimpah ruah. Tapi mengapa saudara kita disana masih hidup dalam bayangan kemiskinan. Kasus kelaparan dan penindasan terus saja muncul di media. Apa sebenarnya yang salah dengan negaraku dalam memperlakukan masyarakat Papua. Bertahun lamanya permasalahan HAM menjadi topik hangat yang terus bergulir. Ada banyak perubahan disana termasuk disahkannya UU Otsus yang awalnya menjadi asa rakyat Papua namun sama sekali tidak membawa perubahan signifikan. Coba kita baca angka kecerdasan masyarakat Papua. Kendati, dari beberapa data yang saya temukan, khusus berhubungan dengan pendidikan atau setidaknya kemampuan baca tulis, masih ironis karena lebih dari 80% dari 12.000 jiwa—yang terbagi dalam 66 klan—masyarakat Amungme (salah satu suku di Papua) buta huruf.

Tidak ada alasan rakyat Papua menjadi miskin apalagi tertindas oleh ketidakadilan karena kebodohan. Kita sudah merdeka. Merdeka dari segala bentuk penindasan dan rupa ketidakadilan. Jika diizinkan membunuh maka penulis merasa perlu membunuh presiden yang membiarkan rakyatnya mati kelaparan. Tapi apakah itu akan merubah nasib rakyat Papua. Rasanya tidak juga. Perkembangan negara kita harus diikuti dengan kemampuan sumber daya manusia yang cukup. Di tanah Papua yang banyak mengandung kekayaan alam tapi mengapa banyak rakyatnya yang hidup tidak layak. Tidak salah jika salah seorang pemimpin gereja di papua mengatakan bahwa negara ini gagal membangun nasionalisme di papua namun berhasil membangun aspirasi Papua Merdeka lewat penindasan, kekerasan dan sebagainya. Jadi rantai kekerasan dan stigma separatis, makar, OPM harus dihentikan. Jika tidak, kapan akan membangun rakyat Papua.

Penulis merasa harus ada gerakan untuk membantu rakyat Papua agar bisa sejajar dalam hal perlakuan HAM oleh negara. Jika terus dibiarkan seperti ini maka rasanya kelak negara ini hanya terdiri dari sebuah pulau kecil tak berpenghuni dan dikerumuni rasa takut yang luar biasa. semoga tidak.

3 komentar:

Idha mengatakan...

Betul kawan. Ini perlu kita galakkan lagi. Mereka di Papua adalah saudara kita.

Anonim mengatakan...

Memprihatinkan,di tengah SDAnya yang melimpah,akan tetapi SDM tidak bisa mengolahnya dengan maksimal tanpa adanya bantuan dari pemerintah...

benny mengatakan...

INDONESIA lebih baik berhenti membahas tetntang keadilan,daripada bertahun-tahun membahas tpi tidak ada tindakannya..... kami orang papua merasa sakit hati dengan hal ini, tpi apalah daya tangan tak sampai, kami hanya orang biasa- biasa sja... jangankan masalah kemiskinan, masalah pendidikan pun sulit dirasakan oleh rakyat papua.. presisden hanya memperhatikan kebutuhan tanah jawa dan menggunakan kekayaan papua untuk memperkaya diri... DISKRIMINASI besar-besaran sedang terjadi di Indonesia.....

Posting Komentar

5.11.2012

Dari Papua Menuju Ironi Indonesia

Diposting oleh Jejak Sajak di 05.36

Kekayaan alam yang ada di Indonesia khususnya di tanah Papua sungguh melimpah ruah. Tapi mengapa saudara kita disana masih hidup dalam bayangan kemiskinan. Kasus kelaparan dan penindasan terus saja muncul di media. Apa sebenarnya yang salah dengan negaraku dalam memperlakukan masyarakat Papua. Bertahun lamanya permasalahan HAM menjadi topik hangat yang terus bergulir. Ada banyak perubahan disana termasuk disahkannya UU Otsus yang awalnya menjadi asa rakyat Papua namun sama sekali tidak membawa perubahan signifikan. Coba kita baca angka kecerdasan masyarakat Papua. Kendati, dari beberapa data yang saya temukan, khusus berhubungan dengan pendidikan atau setidaknya kemampuan baca tulis, masih ironis karena lebih dari 80% dari 12.000 jiwa—yang terbagi dalam 66 klan—masyarakat Amungme (salah satu suku di Papua) buta huruf.

Tidak ada alasan rakyat Papua menjadi miskin apalagi tertindas oleh ketidakadilan karena kebodohan. Kita sudah merdeka. Merdeka dari segala bentuk penindasan dan rupa ketidakadilan. Jika diizinkan membunuh maka penulis merasa perlu membunuh presiden yang membiarkan rakyatnya mati kelaparan. Tapi apakah itu akan merubah nasib rakyat Papua. Rasanya tidak juga. Perkembangan negara kita harus diikuti dengan kemampuan sumber daya manusia yang cukup. Di tanah Papua yang banyak mengandung kekayaan alam tapi mengapa banyak rakyatnya yang hidup tidak layak. Tidak salah jika salah seorang pemimpin gereja di papua mengatakan bahwa negara ini gagal membangun nasionalisme di papua namun berhasil membangun aspirasi Papua Merdeka lewat penindasan, kekerasan dan sebagainya. Jadi rantai kekerasan dan stigma separatis, makar, OPM harus dihentikan. Jika tidak, kapan akan membangun rakyat Papua.

Penulis merasa harus ada gerakan untuk membantu rakyat Papua agar bisa sejajar dalam hal perlakuan HAM oleh negara. Jika terus dibiarkan seperti ini maka rasanya kelak negara ini hanya terdiri dari sebuah pulau kecil tak berpenghuni dan dikerumuni rasa takut yang luar biasa. semoga tidak.

3 komentar on "Dari Papua Menuju Ironi Indonesia"

Idha on 12 Juni 2012 04.12 mengatakan...

Betul kawan. Ini perlu kita galakkan lagi. Mereka di Papua adalah saudara kita.

Anonim mengatakan...

Memprihatinkan,di tengah SDAnya yang melimpah,akan tetapi SDM tidak bisa mengolahnya dengan maksimal tanpa adanya bantuan dari pemerintah...

benny on 21 Mei 2013 05.26 mengatakan...

INDONESIA lebih baik berhenti membahas tetntang keadilan,daripada bertahun-tahun membahas tpi tidak ada tindakannya..... kami orang papua merasa sakit hati dengan hal ini, tpi apalah daya tangan tak sampai, kami hanya orang biasa- biasa sja... jangankan masalah kemiskinan, masalah pendidikan pun sulit dirasakan oleh rakyat papua.. presisden hanya memperhatikan kebutuhan tanah jawa dan menggunakan kekayaan papua untuk memperkaya diri... DISKRIMINASI besar-besaran sedang terjadi di Indonesia.....

Posting Komentar