Polemik Lekra VS Manikebu

on 5.23.2012


Pertukaran atau pergesekan pendapat, perdebatan secara lisan maupun tulisan, umumnya berlangsung di media massa cetak atau di radio-tv atau forum umum lainnya. Menurut Grand Dictionnaire de Culture Générale, Polemique adalah kata benda dan kata sebutan berasal dari bahasa Yunani: polemikos. "berkaitan dengan peperangan". Polemik adalah perdebatan sengit politik atau intelektual. Suatu bentuk perjuangan ide atau wawasan; soal yang jadi persoalan kepentingan umum, estetika, politik, sosial, falsafah atau pandangan dunia. Umumnya polemik timbul ditimbulkan oleh kalangan penulis, jurnalis atau intelektual yang selalu gelisah dalam menghadapi situasi stagnasi, dekadensi, kemunduran atau ketimpangan dalam kehidupan masyarakat manusia, istimewa sekali di bidang kehidupan kebudayaan, kesenian dan ke-ilmu-an. Polemik tentang "l'art pour l'art" ("seni untuk seni") dan "l'art pour l'engagée" ("seni bertendens", "memihak") telah terjadi di zaman Poejangga Baroe, dengan sosok-sosok tokohnya seperti Sutan Takdir Alisyahbana, Ki Hadjardewantara dan Sanusi Pane. Kemudian polemik segera sesudah zaman kemerdekaan, terutama sekali antara pembawa gagasan "humanisme universal" dengan "seni untuk rakyat". Sebagai kelanjutan saja dari perdebatan soal yang jadi persoalan antara "seni untuk seni" dengan "seni bertendens". Yang kemudian muncul dimunculkan polemik sekitar Manikebu dan Pramoedya/Lekra dengan "Lentera"nya. Di zaman jaya berjayanya OrBa/Manikebu, tak ada polemik yang selayaknya, kecuali pengeroyokan sewenang-wenang dari pihak yang berkuasa atau yang berada dalam kantong kekuasaan demi kepentingan atau kemapanan mereka. Tanpa adanya kehidupan demokratis, tanpa pengakuan dan penghormatan atas pluralisma atau keberbedaan, polemik tidak dimungkinkan, maka dampaknya adalah stagnasi bahkan kemunduran. David T. Hill mengkonstatasi bahwa setelah kaum Manikebu/OrBa menghegemoni kehidupan kebudayaan, yang berpusat di Ibukota Jakarta, "kegiatan sastra jadi mandek karena tidak mendapat dorongan tantangan ideologi dari kaum kiri". Situasi mana mulai terjadi perubahan, 15 tahun kemudian, ketika kaum kiri, seniman dan sastrawan kiri mulai hadir kembali dengan hasil-hasil karyanya. Setelah mereka diberangus, dibungkam, dipenjara dan dibuang ke Kamp Konsentrasi Kerjapaksa Pulau Buru. Kehadiran kaum kiri dengan Pramoedya Ananta Toer sebagai simbolnya, sekaligus sebagai canang bahwa hari depan yang membawakan semangat perjuangan demi kemajuan dan keadilan telah dimulai kembali. Cepat atau lambat, kecerahan pastilah menggantikan kegelap-pengapan. R.I. Republik Indonesia. Negara Hukum. Ditegakkan berkat hasil perjuangan kemerdekaan nasional melawan penjajahan dan diproklamirkan oleh Bung Karno dengan didampingi oleh Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Bung Karno adalah Presiden R.I. yang pertama ; Bung Hatta sebagai Wakil Presiden. ABRI - Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Pangti - Panglima Tertinggi PBR - Pemimpin Besar Revolusi OrLa - Orde Lama OrLa atau Orde Lama adalah sebutan yang diberikan oleh penguasa militer untuk rezim Sukarno. Rezim yang di bawah Presiden/PBR/Pangti ABRI Sukarno menjalankan jurus perjuangan untuk mencapai kemerdekaan yang penuh, perjuangan anti nekolim dan anti-feodalisme, demi terciptanya kehidupan masyarakat Indonesia yang aman, adil dan makmur. Jurus mendasar adalah pembinaan menuju Sosialisme ala Indonesia. Seperti yang dijabarkan oleh Bung Karno dalam pidato-pidato atau ajarannya yang antara lain tercantum dalam MANIPOL (Manifesto Politik) dan USDEK. Suatu perangkat perjuangan yang digagalkan oleh lawan-lawan politiknya, dengan Kudeta Militer 1 Oktober 1965. OrBa – OrBaru Sejak 1 Oktober 1965, kaum penguasa militer membelah masyarakat Indonesia menjadi 2 macam, yakni Orde Lama (OrLa) dan Orde Baru (OrBa). OrLa adalah kekuatan Bung Karno dengan sekalian para pendukung atau yang dianggap sebagai pendukungnya. Yang otomatis sebagai lawan politik yang harus dikalahkan, dilumpuhkan, dilikwidasi secara psikik ataupun fisik. Sedangkan penguasa yang menang, yang berhasil merebut kekuasaan negara, menamakan diri sebagai OrBa – dengan lokomotip militer yang jurumudinya jenderal ; sedangkan gerbong utamanya orsospol Golkar, dan sambungan gerbong lainnya yang juga hasil rekayasa kaum militer. Jurus mendasar pembinaan masyarakat berbeda dengan jurus OrLa BK yakni menuju Sosialimse ala Indonesia, sedangkan OrBa menjurus pada pembinaan kapitalisme, dengan sudah sejak mulanya membuka pintu lebar-lebar bagi investasi modal asing. Peristiwa 1 Oktober 1965 sampai dengan Supersemar 1966 merupakan Kudeta Militer yang sukses menaikkan kaum militeris ke singgasana kekuasaan negara -- sejak terjadinya Peristiwa 17 Oktober 1952, di mana Nasution beserta pasukannya menodongkan meriam langsung ke arah Istana Negara teriring tuntutan Pembubaran Parlemen. Presiden Sukarno menolak tuntutan militer tersebut dan upaya kudeta itupun gagal. Setelah juga terjadinya serangkaian pemberontakan reaksioner bersenjata seperti DI/TII, RMS, PRRI dan PERMESTA. SOKSI - GOLKAR Serikat Organisasi Karyawan Seluruh Indonesia - didirikan di zaman OrLa oleh kaum militer untuk menghadapi sekaligus menyaingi SOBSI - Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia. Cikal bakalnya adalah rekayasa kaum militer untuk aktip berpolitik dan memperoleh kekuatan politik dengan menciptakan "golongan fungsional" (kata fongsional yang bermakna dan dimaknai sebagai karyawan) untuk bisa menduduki kursi parlemen; dengan demikian bisa mengibangi atau menyaingi kekuatan politik sipil (partai-partai politik). Di zaman OrBa, SOKSI berubah menjadi GOLKAR (Golongan Karya) sebagai gerbong utama dari orsospol rekayasa OrBa, di samping partai-partai hasil rekayasa OrBa lainnya: PPP (Partai Persatuan Pembangunan) dan PDI.(Partai Demokrasi Indonesia). "Golkar adalah partner atau sambungan tangan ABRI dalam politik". (Dr. Alfian, in "Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia", P.T. Gramedia 1978, hlm 5). NASAKOM Nasionalis Agamis Komunis - suatu jurus politik persatuan besar rakyat dan bangsa Indonesia; kekuatan orsospol (organisasi sosial politik) yang terdiri dari ragam macam partai penganut ragam macam aliran, kepercayaan dan agama yang ada secara obyektif di Indonesia. Jurus persatuan besar dalam perjuangan meneruskan perjuangan anti-kolonialisme, neo-kolonialisme dan imperialisme (nekolim) serta sisa-sisa feodalisme. Perjuangan demi mencapai kemerdekaan yang penuh. Partai-partai seperti PNI (Partai Nasional Indonesia), PARTINDO (Partai Indonesia), Partai NU (Nahdatul Ulama), PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia), Partai Kristen Indonesia, Partai Katolik Indonesia, Partai Murba, PKI (Partai Komunis Indonesia) adalah merupakan salah satu bentuk poros kekuatan politik OrLa. Oleh OrBa, jurus dan poros politik OrLa ini dilumpuh-hancurkan oleh manifestasi aksi Teror Putih di seluruh Indonesia, dengan hanya alasan berupa tuduhan sewenang-wenang: terlibat "G30S/PKI". Seiring dengan itu, OrBa menjadikan kekuatan militer sebagai poros kekuatan politiknya, dengan Golkar sebagai orsospol utamanya, disamping orosospol hasil rekayasa atau yang tunduk pada tongkat komando politik kaum militeris -- terutama sekali dari golongan masyarakat yang anti-komunis. Teror Putih Teror putih, seperti manifestasi aksi teroris pada umumnya, adalah penyebaran rasa ketakutan teriring ancaman marabahaya secara psikik maupun fisik; suatu manifestasi aksi kekerasan secara lisan maupun tulisan teriring kekerasan bersenjata yang dilancarkan oleh kekuatan reaksioner secara resmi ataupun non-resmi guna mencapai tujuan politik tertentu. Di zaman penjajahan Belanda pernah terjadi manifestasi aksi Teror Putih oleh kekuatan kapitalis bersenjata untuk menindas pemberontakan rakyat bersenjata tahun 1926-1927. Belasan ribu jiwa jadi korban manifestasi aksi teroris tersebut: tewas ditembak langsung, dihukum tembak, digantung di tiang-tiang gantungan dan dibuang ke Boven Digul. Dari mereka yang dibuang itu, salah seorangnya adalah penulis-jurnalis terkenal: Mas Marco Kartodikromo -- murid sekaligus pengikut sosok tokoh jurnalis dan pejuang nasional Tirto Adhisoerjo. Sedangkan contoh yang paling gadang-gamblang akan manifestasi aksi teroris yang merupakan Teror Putih yang terjadi dalam sejarah modern Indonesia adalah yang dilancarkan oleh kaum militeris OrBa dalam tahun 1965-1966 bahkan 1967. Sejak itu, manifestasi aksi teroris telah menjadi salah satu macam budaya biadab dalam masyarakat Indonesia. Pembantaian Massal Manifestasi aksi Teror Putih yang berkecamuk di Nusantara, terutama sekali terkenal di media internasional, sebagai peristiwa Pembunuhan Massal 1965-1966 dan 1967 yang menelan korban jutaan jiwa. Hal mana mendapat perhatian para pakar, seperti antara lain Ben Anderson, WF Wertheim dan Noam Chomsky. Pasalnya? Menurut Ben Anderson ada dua faktor. "Faktor yang pertama adalah policy atau kebijaksanaan dari pimpinan tentara di Jakarta yang diwujukdkan dengan pengiriman RPKAD ke Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Mereka ingin supaya PKI dihancurkan dan mereka ingin juga bahwa ini tidak hanya dikerjakan oleh tentara tapi juga oleh kelompok-kelompok yang mau dijadikan sekutu untuk membangun apa yang belakangan dinamakan Orde Baru. Jadi mereka menyertakan warga Banteng, NU, Katolik, Protestan dsb. Karena itu senjata, latihan, perlindungan, kendaraan, dsb, dikasih kepada kelompok-kelompok pemuda yang mereka hubungi. Jadi kalau policy pimpinan tentara ini tidak ada, kemungkinan pembunuhan massal itu saya kira tidak besar." (Ben Anderson: Tentang Pembunuhan Massal'65. In Majalah ARENA N° 24 Januari 1998, Stichting ISDM, Culemborg. Editor: A.Kohar Ibrahim). Massaker Dari kata Perancis: massacre. Pembunuhan besar-besaran, massal, pembantaian, pembinasaan. LKN Lembaga Kebudayaan Nasional. LESBUMI Lembaga Seni Budaya Musilim Indonesia LEKRA Lembaga Kebudayaan Rakyat -- adalah sebuah gerakan kebudayaan yang nasional dan kerakyatan (Joebar Ajoeb). Lestra Lembaga Seni Sastra Indonesia salah sebuah dari lembaga-lembaga kesenian LEKRA lainnya. Seperti Lesrupa (Lembaga Senirupa), Lembaga Seni Drama, Film, Musik, Tari dan yang lainnya lagi. Mukaddimah Lekra berisi konsepsi, wacana, gagasan sekaligus jurus bagi pembinaan kebudayaan yang nasional dan kerakyatan. Manikebu Manifes Kebudayaan -- formator-formatornya berhubungan erat dengan militer; konseptornya sendiri, Wiratmo Soekito, mengaku bekerja untuk Dinas Rahasia ABRI. Lihat pula Wiratmo Soekito: "Satyagraha Hoerip Atau Apologi Pro-Vita Lekra" (Horison N° 11 1982) dan "Catatan Mengenai Manifes Kebudayaan" in Tifa Budaya, Jakarta 1981 hlm-29-32. KKPI Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia. Manifestasi aksi dari kesepakatan para formator-konseptor-promotor Manikebu dan Militer; terselenggarakan berkat perlindungan dan dukungan (akomodasi, biaya, uang bagi peserta) oleh militer dan diketuai oleh Jenderal Dr. Sudjono. PKPI Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia Proyek ke-karyawan-an militer di bidang kebudayaan. Majalah Sastra Majalah sastra -- organ para calon kaum Manikebuis. Majalah Horison Majalah sastra OrBa -- organ kaum Manikebuis. Majalah Zaman Baru Majalah Sastra dan Seni organ Lekra. HR Minggu Edisi Kebudayaan Harian Rakyat Lentera Ruang Kebudayaan Harian Bintang Timur pemimpin redaksi: Pramoedya Ananta Toer. Humanisme Ajaran yang mementingkan nilai-nilai manusia dalam harkat dan martabatnya serta perkembangan jiwa dan pikirannya, humanisme. Humanis: budayawan atau penganut humanisme. Pancasila Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pancasila: asas kenegaraan yang lima (ialah asas Republik Indonesia yaitu: Ketuhanan Yang Mahaesa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan di permusyawaratan/perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). Hasil galian pemikiran Bung Karno ini, oleh dan selama berjayanya OrBa telah "dipersucikan" dalam retorika, namun dikotori dalam perbuatan dengan diberlakukannya budaya kekerasan berupa kejahatan atas manusia dan kemanusiaan serta pelanggaran Hak-Hak Azasi Manusia lainnya, teriring budaya KKN yang dampak negatipnya bertolak-belakang dengan makna Pancasila. HAM Pernyataan Sedunia tentang Hak-Hak Azasi Manusia diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 10 Desember 1948. Sedangkan teks Indonesia diterbitkan di Jakarta tahun 1952 oleh Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Nasionalisme Faham, rasa kebangsaan, nasionalis. Kolonialisme Faham, sistim kolonialis, penjajahan. Imperialisme Faham, sistim imperialis -- kolonialisme dalam tingkat tertinggi. Nekolim Neo kolonialisme dan imperialisme. Feodalisme Kefeodalan, sifat feodal. Sistim politik dan sosial feodal dengan bangsawan feodal sebagai penguasanya yang memiliki hak-hak istimewa, terutama pemilikan atas tanah dan eksploitasi atas kaum tani nyaris seperti zaman perbudakan. Kapitalisme Faham, sistim kapitalis. Sistim politik dan sosial yang lebih maju dari sistim feodalis. Sosialisme Faham, sistim sosialis. Sistim politik dan sosial yang lebih maju dari sistim kapitalis. Komunisme Faham, sistim komunis. Sistim politik dan sosial yang lebih maju dari sistim sosialis. MARXISME Isme, faham, berdasarkan teori Karl Marx. Leninisme Isme, faham, berdasarkan teori V.I. Lenin. Stalinisme Isme, faham, berdasarkan teori J. Stalin. Maoisme Isme, faham, berdasarkan teori Mao Zedong. Trotskisme Isme, faham, berdasarkan teori L. Trotski. Monolit Suatu kesatuan yang absolut bulat, tanpa keretakan atau cacat. Pluralis Jamak, lebih dari satu. Demokrasi Demo: Rakyat. Krasi: Kekuasaan. Demokrasi: kekuasaan tertinggi ditangan Rakyat (melalui perwakilan atau parlemen). Diktatur Sistim politik yang sewenang-wenang, anti-demokrasi, represip. Kekuasaan ditangan seorang atau suatu klik penguasa. Otoriter Penguasa atau kekuasaan politik yang sewenang-wenang, represip. Totaliter Mengenai atau bersifat keseluruhannya; negara totaliter, negara yang menggunakan segala-galanya (manusia dan benda) demi kepentingan negara. Tirani Kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang, represip. Suatu negara yang diperintah oleh seorang raja atau penguasa yang dapat bertindak sekehendak hatinya. Militeris Faham, sifat, prilaku ala militer dengan andalan cara kekerasan atau cara-gaya primitif lainnya. Fasisme Faham, sistim politik dan sosial represip, diktatorial, otoriter dan biadab. Contoh: fasisme Nazi Jerman dan fasisme Jepang. Demokrat Kaum demokrat penganut faham demokrasi. Progresip Kaum progresip, kaum yang berpikiran maju, menghendaki kemajuan; kebalikan dari kaum konservatip yang menggelayuti adat-faham lama dan kemapanan. Revolusioner Kaum revolusioner yang menghendaki perubahan radikal, mendasar dan cepat. Reaksioner Kaum yang bersikap reaktif, lebalikannya dari kaum revolusioner. Kiri Sikap-pendirian yang umumnya anti-konservativisme; kaum yang berpihak pada kaum yang tertindas dan lemah; berpihak pada rakyat pekerja yang luas, bukan pada kekuasaan yang sewenang-wenang; kaum kiri adalah pembela kebenaran dan keadilan. Kanan Kaum Kanan adalah kebalikannya dari kaum Kiri. Tengah Kaum atau golongan tengah memiliki sikap-pendirian antara dua kekuatan politik dan sosial. Ekstrim Yang paling paling... Ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Ekstrimis kaum yang persikap-pandangan ekstrim. Komprador Begundal atau oknum pengabdi kepentingan (politik dan ekonomi) kolonialis atau imperialis atau nekolim. AS Amerika Serikat, mengepalai Blok Barat -- Blok Kapitalis anti-Komunis dalam Perang Dingin. US Uni Soviet atau URSS (Uni Republik Soviet Sosialis), mengepalai Blok Timur dalam Perang Dingin. RRT Ripublik Rakyat Tiongkok Perang Dingin Dicetuskan segera seusai Perang Dunia Kedua. Perang Dingin merupakan manifestasi aksi adu kekuatan dari dua Blok sistim politiko-sosial-ekonomi-militer yang masing-masing dikepalai oleh negara adikuasa AS dan US untuk mendominasi atau menghegemoni dunia, kongkretnya untuk menguasai kekayaan dunia. Tembok Berlin Kota Berlin dibelah dua oleh Tembok. Tembok Berlin, disebut juga sebagai Tembok Yang Memalukan ummat manusia yang beradab, salah satu monumen dari variasi Perang Dingin, yang diruntuhkan pada akhir tahun 1989. Perang Vietnam Perang Vietnam adalah bukti dari Perang Dingin Yang Panas; atau perang agresi yang dilancarkan oleh kaum nekolim pimpinan AS. Secara fakta: Vietnam tak terkalahkan; kaum agresor hengkang pulang. Tapi dampak Perang Vietnam cukup besar bagi Asia, khususnya Asia Tenggrara, lebih khusus lagi bagi Indonesia dan Timor Timur. Menurut Noam Chomsky, "bloodbath archipelago" tidak hanya terjadi di Vietnam, tapi juga di Nusantara. Kaum komprador Indonesia, seperti halnya Ngodinh Diem di Vietnam, telah dengan taat melaksanakan "panglima politik" Pentagon sejak 1 Oktober 1965 di Indonesia; disusul dengan pendudukan militer Timor Timur tahun 1975. Dengan korban teramat besar: 200.000 korban jiwa kebanding penduduk Timtim yang hanya 700.000 jiwa waktu itu. Perang Kemerdekaan Perang Kemerdekaan atau Perang Pembebasan anti-belenggu kolonialis dan imperialis berkobar setelah usai Perang Dunia Kedua dan bareng dengan dimulainya Perang Dingin. Dengan inspirasi dan kobaran perang kemerdekaan Vietnam dan Indonesia serta Konferensi Bandung 1955 yang turut mengangkat kepopuleritasan Bung Karno di mata rakyat dan pejuang kemerdekaan Asia dan Afrika. Dusta dan Fitnah Akhirnya, terutama setelah sang kepala OrBa lengser, umum mengetahui bahwa salah satu manifestasi aksi budaya OrBa adalah Dusta teriring Fitnah. Adalah Jenderal Nasution, pada hari-hari di bulan Oktober 1965 yang mempopulerkan makna kajian bahwa Fitnah adalah lebih berbahaya dari pembunuhan. Ironis sekaligus tragisnya, sang jenderal bersama konco jenderalnya pula yang demi tegaknya OrBa memberlakukan budaya dusta dan fitnah selama berdasa-dasa-warsa lamanya, bahkan sampai sekarang! Yakni dusta teriring fitnah sekitar 7 mayat korban "G30S" yang ditemukan di Lubang Buaya. Mayat yang dinyatakan sebagai korban kebiadaban kaum komunis perempuan Gerwani itu dalam kenyataannya adalah akibat tindakan kaum militer sendiri, dan segala apa yang dikisahkan secara sensasional itu adalah fitnahan belaka. Dampaknya luarbiasa: kabar yang digencar-siar sarana propaganda hitam kaum militeris OrBa itu telah menjadi penyulut kebencia teriring tindakan biadab berupa pembantaian massal. Salah satu bukti dusta teriring fitnahan tersebut diabadikan dalam foto yang terpasang di halaman buku salah seorang penandatangan Manikebu Taufik Ismail "Tirani Dan Benteng" halaman 56. Munafik Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata munfik bermakna: hanya kelihatannya saja percaya (suci, setia dan sebagainya) tetapi sebenarnya tidak; kemunafikan -- hal (perbuatan dan sebagainya) munafik. Pura-pura saja. Seperti sikap-pendirian tak-berpolitik, a-politik, menentang-politik, terutama sekali dalam kepura-puraan menentang "politik adalah panglima" seperti prilaku kaum Manikebu. Padahal secara faktual, lagi memanifestasikan aksi politik dengan deklarasi Manikebu dan yang disusul oleh pengorganisasian KKPI yang diketuai oleh Jenderal dan yang merupakan proyek kekaryawanan militer. Kemunafikan juga gamblang sekali dalam soal sikap-pendirian terhadap jurus politik Bung Karno seperti Manipol dan juga terhadap Pancasila -- yang dengan melagak untuk upaya "pengamanan" pun mempersucikannya, dengan upacara munafik tiap 1 Oktober. Khususnya dalam hal perikemanusiaan yang salah satu sila dari Pancasila, atau humanisme atau kehumanisannya, kepura-puraan kaum Manikebu juga gamblang sekali, seperti yang dikonstatasi oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggirnya (Suara Independen N° 3/1, Agustus 1995). Tapi tidaklah mengherankan, kalau dari orang awam sampai budayawan, serta para penggede sampai pada orang kuat sekalipun, telah memberlakukan budaya munafik atau kemunafikan. Karena justeru Sang Orang Pertama yang bertindak sebagai Panglima Politik -- yang Jenderal beneran, bukan sekedar kiasan -- memang sudah menjadikan kemunafikan sebagai tabiatnya: nampak senyum manis sebenarnya senyum bengis fasis! Coba lah diingat bagaimana prilakunya ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, Presiden, PBR dan Pangti ABRI pula -- Bung Karno itu! Asbun Asbun, yang kadang kala sebagai kata yang bisa menyembulkan senyum ini, bermakna : asal bunyi. Untuk orang yang mengucapkan kata atau opini tanpa keseriusan, ikut-ikutan atau asal-asalan saja. Iya. Jika yang menyuarakan itu aktor lenong atau ketoprak, pelawak atau humoris sih dampaknya nggak seberapa, atau malah sebagai salah satu cara memancing senyum tawa. Tetapi kalau ada kata atau kata-kata yang mengandung muatan politiko-ideologis lalu dikenakan begitu saja secara asbun, orang yang bersangkutan bisa mengalami kerugian bahkan bencana luar biasa. Seperti kata berupa cap sekaligus tuduhan: "komunis" atau "terlibat G30S/PKI" itu! Akibatnya: ratusan tibu bahkan jutaan menjadi korban pembantaian atau derita sengsara. Padahal, kebanyakan sang pemberi cap atau pengucap bahkan jadi algojo itu cuma lagi asbun saja. Alias tak tahu apa makna dan apalagi akar sejarah kata-kata yang diucap-kenakan pada sasaran korbannya! Jangankan orang dari massa biasa, bahkan orang yang berfungsi sebagai komandan RPKAD macam Sarwo Edhie pun belum tentu mengerti benar apa komunisme atau ideologi komunis yang di-anti-kan dan jadi alasan untuk melakukan pengejaran dan pembunuhan massal -- selaras perintah sang Panglima Politik anti-komunis di Jakarta dan selaras sang Panglima Politik di Pentagon! Begitupun para jenderal-jenderal Vietsel, Korsel, Iran, Kinsasa atau Santiago dan semacamnya lagi yang menuruti tongkat komando Panglima Politik Pentagon. Ketika mereka melancarkan propaganda anti-komunis selaras paduan suara pimpinan Pentagon, bukankah merekapun lagi mengumandangkan suara asbun juga? Jika diingat kenyataan yang hakiki baik sang penuding maupun yang tertuding atau dituding-tuding itu: idemdito alias sami mawon! Sang penuding (dari Blok Barat) mengumandangkan corong sebagai mewakili Dunia Kapitalis Anti-Komunis melancarkan tudingan ke pihak yang dijadikan musuh, yakni Blok Timur sebagai "Sosialis-Komunis" yang anti-Kapitalis! Padahal secara hakiki sama-sama Kapitalis-nya! Yang satu kapitalisme bebuyutan yang kedua kapitalisme negara! Maka itu, terbukti, dalam hal peperangan yang merupakan pernyataan politik tertinggi ltu mereka memiliki kesamaan kandungan watak ke-imperialistisan-nya. Jika yang pertama dengan watak keimperialisannya yang buyutan, sedangkan yang kedua disebut sebagai "sosio-imperialisme". Alias sosialis dalam kata-kata tapi imperialis dalam tindakan. Seperti yang dikonstatasi oleh Tiongkok pada masa polemik besar GKI (Gerakan Komunis Internasional) tahun-tahun 60-an: Dogmatisme vs Revisionisme. Dalam kenyataannya yang hakiki, baik di Blok Timur maupun di Uni Soviet sendiri, masyarakat sosialis apa lagi komunis belum pernah terwujudkan. Yang ada adalah upaya-upaya ke arah itu; yang ada adalah tampuk kekuasaan politik yang dipimpin oleh partai sosialis atau partai komunis dan yang menamakan diri demikian. Yang kebenaran atau ketepatannya jurus-jurus perjuangan yang dilancarkannya layak mengalami ujian ataupun dipertanyakan adanya. * Serangkaian referensi atau bahan bacaan, antara lain: Kamus Umum Bahasa Indonesia, WJS Poerwadarminta, Balai Pustaka, Jakarta 1986. Grand Dictionnaire de Culture Générale, Bruno Hongre, Marabout, Allour 1996. Kamus Perancis Indonesia, Winarsih Arifin, Farida Soemargono, PT Gramedia, Jakarta 2001. Pertumbuhan Perkembangan Dan Kejatuhan Lekra Di Indonesia, Yahya Ismail, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur 1972. Sastera dan Budaya, Ajip Rosidi, Pustaka Jaya, Jakarta 1995. Tirani dan Benteng, Taufik Ismail, Penerbit Yayasan Ananda, Jakarta 1993. SASTRA, Introduction à la Litterature Indonésienne Contemporaine, Cahier d'Archipel 11.1980. Indonesia Di Bawah Sepatu Lars, S. Indrotjahyono, Komite Pembelaan Mahasiswa Dewan Mahasiswa ITB Bandung 1979. Sepuluh Sanjak Berkisah, HR Bandaharo, World Citizen Press, SKBSI, Amsterdam 1987. Siapa Yang Kiri, Sastra Indonesia Pada Mula Tahun 80-an, David T. Hill, Kertas-kerja no.33 Departemen Indonesia dan Malaya, Universitas Monas, 1984. Esei Sastra, Alan Hogeland, Stichting ISDM Culemborg, Nederland, 1994. Lekra dan PKI, Politik Adalah Panglima, Joebaar Ajoeb, Kreasi N° 10, 1989-92, Stichting Budaya, Amsterdam. Beberapa Pertimbangan Atas Terbitan Yayasan Budaya Dan ISDM, Prof. Wim F. Wertheim, Arena N° 22 1990-97, Culemborg, Nederland. Pernyataan Sedunia Tentang HAM, PBB, Teks Indonesia Kempen RI, Arena N° 1 1990, Culemborg, Nederland. Serangkaian esai dan pernyataan oleh Pramoedya Ananta Toer dan sastrawan serta intelektual lainnya disiar majalah seni dan sastra KREASI dan majalah budaya dan opini pluralis ARENA dalam periode 1989-1999 yang di-editor-i oleh Abe alias D. Tanaera alias A. Kohar Ibrahim. ***

0 komentar:

Posting Komentar

5.23.2012

Polemik Lekra VS Manikebu

Diposting oleh Jejak Sajak di 04.51


Pertukaran atau pergesekan pendapat, perdebatan secara lisan maupun tulisan, umumnya berlangsung di media massa cetak atau di radio-tv atau forum umum lainnya. Menurut Grand Dictionnaire de Culture Générale, Polemique adalah kata benda dan kata sebutan berasal dari bahasa Yunani: polemikos. "berkaitan dengan peperangan". Polemik adalah perdebatan sengit politik atau intelektual. Suatu bentuk perjuangan ide atau wawasan; soal yang jadi persoalan kepentingan umum, estetika, politik, sosial, falsafah atau pandangan dunia. Umumnya polemik timbul ditimbulkan oleh kalangan penulis, jurnalis atau intelektual yang selalu gelisah dalam menghadapi situasi stagnasi, dekadensi, kemunduran atau ketimpangan dalam kehidupan masyarakat manusia, istimewa sekali di bidang kehidupan kebudayaan, kesenian dan ke-ilmu-an. Polemik tentang "l'art pour l'art" ("seni untuk seni") dan "l'art pour l'engagée" ("seni bertendens", "memihak") telah terjadi di zaman Poejangga Baroe, dengan sosok-sosok tokohnya seperti Sutan Takdir Alisyahbana, Ki Hadjardewantara dan Sanusi Pane. Kemudian polemik segera sesudah zaman kemerdekaan, terutama sekali antara pembawa gagasan "humanisme universal" dengan "seni untuk rakyat". Sebagai kelanjutan saja dari perdebatan soal yang jadi persoalan antara "seni untuk seni" dengan "seni bertendens". Yang kemudian muncul dimunculkan polemik sekitar Manikebu dan Pramoedya/Lekra dengan "Lentera"nya. Di zaman jaya berjayanya OrBa/Manikebu, tak ada polemik yang selayaknya, kecuali pengeroyokan sewenang-wenang dari pihak yang berkuasa atau yang berada dalam kantong kekuasaan demi kepentingan atau kemapanan mereka. Tanpa adanya kehidupan demokratis, tanpa pengakuan dan penghormatan atas pluralisma atau keberbedaan, polemik tidak dimungkinkan, maka dampaknya adalah stagnasi bahkan kemunduran. David T. Hill mengkonstatasi bahwa setelah kaum Manikebu/OrBa menghegemoni kehidupan kebudayaan, yang berpusat di Ibukota Jakarta, "kegiatan sastra jadi mandek karena tidak mendapat dorongan tantangan ideologi dari kaum kiri". Situasi mana mulai terjadi perubahan, 15 tahun kemudian, ketika kaum kiri, seniman dan sastrawan kiri mulai hadir kembali dengan hasil-hasil karyanya. Setelah mereka diberangus, dibungkam, dipenjara dan dibuang ke Kamp Konsentrasi Kerjapaksa Pulau Buru. Kehadiran kaum kiri dengan Pramoedya Ananta Toer sebagai simbolnya, sekaligus sebagai canang bahwa hari depan yang membawakan semangat perjuangan demi kemajuan dan keadilan telah dimulai kembali. Cepat atau lambat, kecerahan pastilah menggantikan kegelap-pengapan. R.I. Republik Indonesia. Negara Hukum. Ditegakkan berkat hasil perjuangan kemerdekaan nasional melawan penjajahan dan diproklamirkan oleh Bung Karno dengan didampingi oleh Bung Hatta pada tanggal 17 Agustus 1945. Bung Karno adalah Presiden R.I. yang pertama ; Bung Hatta sebagai Wakil Presiden. ABRI - Angkatan Bersenjata Republik Indonesia Pangti - Panglima Tertinggi PBR - Pemimpin Besar Revolusi OrLa - Orde Lama OrLa atau Orde Lama adalah sebutan yang diberikan oleh penguasa militer untuk rezim Sukarno. Rezim yang di bawah Presiden/PBR/Pangti ABRI Sukarno menjalankan jurus perjuangan untuk mencapai kemerdekaan yang penuh, perjuangan anti nekolim dan anti-feodalisme, demi terciptanya kehidupan masyarakat Indonesia yang aman, adil dan makmur. Jurus mendasar adalah pembinaan menuju Sosialisme ala Indonesia. Seperti yang dijabarkan oleh Bung Karno dalam pidato-pidato atau ajarannya yang antara lain tercantum dalam MANIPOL (Manifesto Politik) dan USDEK. Suatu perangkat perjuangan yang digagalkan oleh lawan-lawan politiknya, dengan Kudeta Militer 1 Oktober 1965. OrBa – OrBaru Sejak 1 Oktober 1965, kaum penguasa militer membelah masyarakat Indonesia menjadi 2 macam, yakni Orde Lama (OrLa) dan Orde Baru (OrBa). OrLa adalah kekuatan Bung Karno dengan sekalian para pendukung atau yang dianggap sebagai pendukungnya. Yang otomatis sebagai lawan politik yang harus dikalahkan, dilumpuhkan, dilikwidasi secara psikik ataupun fisik. Sedangkan penguasa yang menang, yang berhasil merebut kekuasaan negara, menamakan diri sebagai OrBa – dengan lokomotip militer yang jurumudinya jenderal ; sedangkan gerbong utamanya orsospol Golkar, dan sambungan gerbong lainnya yang juga hasil rekayasa kaum militer. Jurus mendasar pembinaan masyarakat berbeda dengan jurus OrLa BK yakni menuju Sosialimse ala Indonesia, sedangkan OrBa menjurus pada pembinaan kapitalisme, dengan sudah sejak mulanya membuka pintu lebar-lebar bagi investasi modal asing. Peristiwa 1 Oktober 1965 sampai dengan Supersemar 1966 merupakan Kudeta Militer yang sukses menaikkan kaum militeris ke singgasana kekuasaan negara -- sejak terjadinya Peristiwa 17 Oktober 1952, di mana Nasution beserta pasukannya menodongkan meriam langsung ke arah Istana Negara teriring tuntutan Pembubaran Parlemen. Presiden Sukarno menolak tuntutan militer tersebut dan upaya kudeta itupun gagal. Setelah juga terjadinya serangkaian pemberontakan reaksioner bersenjata seperti DI/TII, RMS, PRRI dan PERMESTA. SOKSI - GOLKAR Serikat Organisasi Karyawan Seluruh Indonesia - didirikan di zaman OrLa oleh kaum militer untuk menghadapi sekaligus menyaingi SOBSI - Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia. Cikal bakalnya adalah rekayasa kaum militer untuk aktip berpolitik dan memperoleh kekuatan politik dengan menciptakan "golongan fungsional" (kata fongsional yang bermakna dan dimaknai sebagai karyawan) untuk bisa menduduki kursi parlemen; dengan demikian bisa mengibangi atau menyaingi kekuatan politik sipil (partai-partai politik). Di zaman OrBa, SOKSI berubah menjadi GOLKAR (Golongan Karya) sebagai gerbong utama dari orsospol rekayasa OrBa, di samping partai-partai hasil rekayasa OrBa lainnya: PPP (Partai Persatuan Pembangunan) dan PDI.(Partai Demokrasi Indonesia). "Golkar adalah partner atau sambungan tangan ABRI dalam politik". (Dr. Alfian, in "Pemikiran dan Perubahan Politik Indonesia", P.T. Gramedia 1978, hlm 5). NASAKOM Nasionalis Agamis Komunis - suatu jurus politik persatuan besar rakyat dan bangsa Indonesia; kekuatan orsospol (organisasi sosial politik) yang terdiri dari ragam macam partai penganut ragam macam aliran, kepercayaan dan agama yang ada secara obyektif di Indonesia. Jurus persatuan besar dalam perjuangan meneruskan perjuangan anti-kolonialisme, neo-kolonialisme dan imperialisme (nekolim) serta sisa-sisa feodalisme. Perjuangan demi mencapai kemerdekaan yang penuh. Partai-partai seperti PNI (Partai Nasional Indonesia), PARTINDO (Partai Indonesia), Partai NU (Nahdatul Ulama), PSII (Partai Sarikat Islam Indonesia), Partai Kristen Indonesia, Partai Katolik Indonesia, Partai Murba, PKI (Partai Komunis Indonesia) adalah merupakan salah satu bentuk poros kekuatan politik OrLa. Oleh OrBa, jurus dan poros politik OrLa ini dilumpuh-hancurkan oleh manifestasi aksi Teror Putih di seluruh Indonesia, dengan hanya alasan berupa tuduhan sewenang-wenang: terlibat "G30S/PKI". Seiring dengan itu, OrBa menjadikan kekuatan militer sebagai poros kekuatan politiknya, dengan Golkar sebagai orsospol utamanya, disamping orosospol hasil rekayasa atau yang tunduk pada tongkat komando politik kaum militeris -- terutama sekali dari golongan masyarakat yang anti-komunis. Teror Putih Teror putih, seperti manifestasi aksi teroris pada umumnya, adalah penyebaran rasa ketakutan teriring ancaman marabahaya secara psikik maupun fisik; suatu manifestasi aksi kekerasan secara lisan maupun tulisan teriring kekerasan bersenjata yang dilancarkan oleh kekuatan reaksioner secara resmi ataupun non-resmi guna mencapai tujuan politik tertentu. Di zaman penjajahan Belanda pernah terjadi manifestasi aksi Teror Putih oleh kekuatan kapitalis bersenjata untuk menindas pemberontakan rakyat bersenjata tahun 1926-1927. Belasan ribu jiwa jadi korban manifestasi aksi teroris tersebut: tewas ditembak langsung, dihukum tembak, digantung di tiang-tiang gantungan dan dibuang ke Boven Digul. Dari mereka yang dibuang itu, salah seorangnya adalah penulis-jurnalis terkenal: Mas Marco Kartodikromo -- murid sekaligus pengikut sosok tokoh jurnalis dan pejuang nasional Tirto Adhisoerjo. Sedangkan contoh yang paling gadang-gamblang akan manifestasi aksi teroris yang merupakan Teror Putih yang terjadi dalam sejarah modern Indonesia adalah yang dilancarkan oleh kaum militeris OrBa dalam tahun 1965-1966 bahkan 1967. Sejak itu, manifestasi aksi teroris telah menjadi salah satu macam budaya biadab dalam masyarakat Indonesia. Pembantaian Massal Manifestasi aksi Teror Putih yang berkecamuk di Nusantara, terutama sekali terkenal di media internasional, sebagai peristiwa Pembunuhan Massal 1965-1966 dan 1967 yang menelan korban jutaan jiwa. Hal mana mendapat perhatian para pakar, seperti antara lain Ben Anderson, WF Wertheim dan Noam Chomsky. Pasalnya? Menurut Ben Anderson ada dua faktor. "Faktor yang pertama adalah policy atau kebijaksanaan dari pimpinan tentara di Jakarta yang diwujukdkan dengan pengiriman RPKAD ke Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Mereka ingin supaya PKI dihancurkan dan mereka ingin juga bahwa ini tidak hanya dikerjakan oleh tentara tapi juga oleh kelompok-kelompok yang mau dijadikan sekutu untuk membangun apa yang belakangan dinamakan Orde Baru. Jadi mereka menyertakan warga Banteng, NU, Katolik, Protestan dsb. Karena itu senjata, latihan, perlindungan, kendaraan, dsb, dikasih kepada kelompok-kelompok pemuda yang mereka hubungi. Jadi kalau policy pimpinan tentara ini tidak ada, kemungkinan pembunuhan massal itu saya kira tidak besar." (Ben Anderson: Tentang Pembunuhan Massal'65. In Majalah ARENA N° 24 Januari 1998, Stichting ISDM, Culemborg. Editor: A.Kohar Ibrahim). Massaker Dari kata Perancis: massacre. Pembunuhan besar-besaran, massal, pembantaian, pembinasaan. LKN Lembaga Kebudayaan Nasional. LESBUMI Lembaga Seni Budaya Musilim Indonesia LEKRA Lembaga Kebudayaan Rakyat -- adalah sebuah gerakan kebudayaan yang nasional dan kerakyatan (Joebar Ajoeb). Lestra Lembaga Seni Sastra Indonesia salah sebuah dari lembaga-lembaga kesenian LEKRA lainnya. Seperti Lesrupa (Lembaga Senirupa), Lembaga Seni Drama, Film, Musik, Tari dan yang lainnya lagi. Mukaddimah Lekra berisi konsepsi, wacana, gagasan sekaligus jurus bagi pembinaan kebudayaan yang nasional dan kerakyatan. Manikebu Manifes Kebudayaan -- formator-formatornya berhubungan erat dengan militer; konseptornya sendiri, Wiratmo Soekito, mengaku bekerja untuk Dinas Rahasia ABRI. Lihat pula Wiratmo Soekito: "Satyagraha Hoerip Atau Apologi Pro-Vita Lekra" (Horison N° 11 1982) dan "Catatan Mengenai Manifes Kebudayaan" in Tifa Budaya, Jakarta 1981 hlm-29-32. KKPI Konferensi Karyawan Pengarang Indonesia. Manifestasi aksi dari kesepakatan para formator-konseptor-promotor Manikebu dan Militer; terselenggarakan berkat perlindungan dan dukungan (akomodasi, biaya, uang bagi peserta) oleh militer dan diketuai oleh Jenderal Dr. Sudjono. PKPI Persatuan Karyawan Pengarang Indonesia Proyek ke-karyawan-an militer di bidang kebudayaan. Majalah Sastra Majalah sastra -- organ para calon kaum Manikebuis. Majalah Horison Majalah sastra OrBa -- organ kaum Manikebuis. Majalah Zaman Baru Majalah Sastra dan Seni organ Lekra. HR Minggu Edisi Kebudayaan Harian Rakyat Lentera Ruang Kebudayaan Harian Bintang Timur pemimpin redaksi: Pramoedya Ananta Toer. Humanisme Ajaran yang mementingkan nilai-nilai manusia dalam harkat dan martabatnya serta perkembangan jiwa dan pikirannya, humanisme. Humanis: budayawan atau penganut humanisme. Pancasila Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, Pancasila: asas kenegaraan yang lima (ialah asas Republik Indonesia yaitu: Ketuhanan Yang Mahaesa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan di permusyawaratan/perwakilan, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia). Hasil galian pemikiran Bung Karno ini, oleh dan selama berjayanya OrBa telah "dipersucikan" dalam retorika, namun dikotori dalam perbuatan dengan diberlakukannya budaya kekerasan berupa kejahatan atas manusia dan kemanusiaan serta pelanggaran Hak-Hak Azasi Manusia lainnya, teriring budaya KKN yang dampak negatipnya bertolak-belakang dengan makna Pancasila. HAM Pernyataan Sedunia tentang Hak-Hak Azasi Manusia diterbitkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 10 Desember 1948. Sedangkan teks Indonesia diterbitkan di Jakarta tahun 1952 oleh Kementerian Penerangan Republik Indonesia. Nasionalisme Faham, rasa kebangsaan, nasionalis. Kolonialisme Faham, sistim kolonialis, penjajahan. Imperialisme Faham, sistim imperialis -- kolonialisme dalam tingkat tertinggi. Nekolim Neo kolonialisme dan imperialisme. Feodalisme Kefeodalan, sifat feodal. Sistim politik dan sosial feodal dengan bangsawan feodal sebagai penguasanya yang memiliki hak-hak istimewa, terutama pemilikan atas tanah dan eksploitasi atas kaum tani nyaris seperti zaman perbudakan. Kapitalisme Faham, sistim kapitalis. Sistim politik dan sosial yang lebih maju dari sistim feodalis. Sosialisme Faham, sistim sosialis. Sistim politik dan sosial yang lebih maju dari sistim kapitalis. Komunisme Faham, sistim komunis. Sistim politik dan sosial yang lebih maju dari sistim sosialis. MARXISME Isme, faham, berdasarkan teori Karl Marx. Leninisme Isme, faham, berdasarkan teori V.I. Lenin. Stalinisme Isme, faham, berdasarkan teori J. Stalin. Maoisme Isme, faham, berdasarkan teori Mao Zedong. Trotskisme Isme, faham, berdasarkan teori L. Trotski. Monolit Suatu kesatuan yang absolut bulat, tanpa keretakan atau cacat. Pluralis Jamak, lebih dari satu. Demokrasi Demo: Rakyat. Krasi: Kekuasaan. Demokrasi: kekuasaan tertinggi ditangan Rakyat (melalui perwakilan atau parlemen). Diktatur Sistim politik yang sewenang-wenang, anti-demokrasi, represip. Kekuasaan ditangan seorang atau suatu klik penguasa. Otoriter Penguasa atau kekuasaan politik yang sewenang-wenang, represip. Totaliter Mengenai atau bersifat keseluruhannya; negara totaliter, negara yang menggunakan segala-galanya (manusia dan benda) demi kepentingan negara. Tirani Kekuasaan yang digunakan sewenang-wenang, represip. Suatu negara yang diperintah oleh seorang raja atau penguasa yang dapat bertindak sekehendak hatinya. Militeris Faham, sifat, prilaku ala militer dengan andalan cara kekerasan atau cara-gaya primitif lainnya. Fasisme Faham, sistim politik dan sosial represip, diktatorial, otoriter dan biadab. Contoh: fasisme Nazi Jerman dan fasisme Jepang. Demokrat Kaum demokrat penganut faham demokrasi. Progresip Kaum progresip, kaum yang berpikiran maju, menghendaki kemajuan; kebalikan dari kaum konservatip yang menggelayuti adat-faham lama dan kemapanan. Revolusioner Kaum revolusioner yang menghendaki perubahan radikal, mendasar dan cepat. Reaksioner Kaum yang bersikap reaktif, lebalikannya dari kaum revolusioner. Kiri Sikap-pendirian yang umumnya anti-konservativisme; kaum yang berpihak pada kaum yang tertindas dan lemah; berpihak pada rakyat pekerja yang luas, bukan pada kekuasaan yang sewenang-wenang; kaum kiri adalah pembela kebenaran dan keadilan. Kanan Kaum Kanan adalah kebalikannya dari kaum Kiri. Tengah Kaum atau golongan tengah memiliki sikap-pendirian antara dua kekuatan politik dan sosial. Ekstrim Yang paling paling... Ekstrim kiri atau ekstrim kanan. Ekstrimis kaum yang persikap-pandangan ekstrim. Komprador Begundal atau oknum pengabdi kepentingan (politik dan ekonomi) kolonialis atau imperialis atau nekolim. AS Amerika Serikat, mengepalai Blok Barat -- Blok Kapitalis anti-Komunis dalam Perang Dingin. US Uni Soviet atau URSS (Uni Republik Soviet Sosialis), mengepalai Blok Timur dalam Perang Dingin. RRT Ripublik Rakyat Tiongkok Perang Dingin Dicetuskan segera seusai Perang Dunia Kedua. Perang Dingin merupakan manifestasi aksi adu kekuatan dari dua Blok sistim politiko-sosial-ekonomi-militer yang masing-masing dikepalai oleh negara adikuasa AS dan US untuk mendominasi atau menghegemoni dunia, kongkretnya untuk menguasai kekayaan dunia. Tembok Berlin Kota Berlin dibelah dua oleh Tembok. Tembok Berlin, disebut juga sebagai Tembok Yang Memalukan ummat manusia yang beradab, salah satu monumen dari variasi Perang Dingin, yang diruntuhkan pada akhir tahun 1989. Perang Vietnam Perang Vietnam adalah bukti dari Perang Dingin Yang Panas; atau perang agresi yang dilancarkan oleh kaum nekolim pimpinan AS. Secara fakta: Vietnam tak terkalahkan; kaum agresor hengkang pulang. Tapi dampak Perang Vietnam cukup besar bagi Asia, khususnya Asia Tenggrara, lebih khusus lagi bagi Indonesia dan Timor Timur. Menurut Noam Chomsky, "bloodbath archipelago" tidak hanya terjadi di Vietnam, tapi juga di Nusantara. Kaum komprador Indonesia, seperti halnya Ngodinh Diem di Vietnam, telah dengan taat melaksanakan "panglima politik" Pentagon sejak 1 Oktober 1965 di Indonesia; disusul dengan pendudukan militer Timor Timur tahun 1975. Dengan korban teramat besar: 200.000 korban jiwa kebanding penduduk Timtim yang hanya 700.000 jiwa waktu itu. Perang Kemerdekaan Perang Kemerdekaan atau Perang Pembebasan anti-belenggu kolonialis dan imperialis berkobar setelah usai Perang Dunia Kedua dan bareng dengan dimulainya Perang Dingin. Dengan inspirasi dan kobaran perang kemerdekaan Vietnam dan Indonesia serta Konferensi Bandung 1955 yang turut mengangkat kepopuleritasan Bung Karno di mata rakyat dan pejuang kemerdekaan Asia dan Afrika. Dusta dan Fitnah Akhirnya, terutama setelah sang kepala OrBa lengser, umum mengetahui bahwa salah satu manifestasi aksi budaya OrBa adalah Dusta teriring Fitnah. Adalah Jenderal Nasution, pada hari-hari di bulan Oktober 1965 yang mempopulerkan makna kajian bahwa Fitnah adalah lebih berbahaya dari pembunuhan. Ironis sekaligus tragisnya, sang jenderal bersama konco jenderalnya pula yang demi tegaknya OrBa memberlakukan budaya dusta dan fitnah selama berdasa-dasa-warsa lamanya, bahkan sampai sekarang! Yakni dusta teriring fitnah sekitar 7 mayat korban "G30S" yang ditemukan di Lubang Buaya. Mayat yang dinyatakan sebagai korban kebiadaban kaum komunis perempuan Gerwani itu dalam kenyataannya adalah akibat tindakan kaum militer sendiri, dan segala apa yang dikisahkan secara sensasional itu adalah fitnahan belaka. Dampaknya luarbiasa: kabar yang digencar-siar sarana propaganda hitam kaum militeris OrBa itu telah menjadi penyulut kebencia teriring tindakan biadab berupa pembantaian massal. Salah satu bukti dusta teriring fitnahan tersebut diabadikan dalam foto yang terpasang di halaman buku salah seorang penandatangan Manikebu Taufik Ismail "Tirani Dan Benteng" halaman 56. Munafik Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata munfik bermakna: hanya kelihatannya saja percaya (suci, setia dan sebagainya) tetapi sebenarnya tidak; kemunafikan -- hal (perbuatan dan sebagainya) munafik. Pura-pura saja. Seperti sikap-pendirian tak-berpolitik, a-politik, menentang-politik, terutama sekali dalam kepura-puraan menentang "politik adalah panglima" seperti prilaku kaum Manikebu. Padahal secara faktual, lagi memanifestasikan aksi politik dengan deklarasi Manikebu dan yang disusul oleh pengorganisasian KKPI yang diketuai oleh Jenderal dan yang merupakan proyek kekaryawanan militer. Kemunafikan juga gamblang sekali dalam soal sikap-pendirian terhadap jurus politik Bung Karno seperti Manipol dan juga terhadap Pancasila -- yang dengan melagak untuk upaya "pengamanan" pun mempersucikannya, dengan upacara munafik tiap 1 Oktober. Khususnya dalam hal perikemanusiaan yang salah satu sila dari Pancasila, atau humanisme atau kehumanisannya, kepura-puraan kaum Manikebu juga gamblang sekali, seperti yang dikonstatasi oleh Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggirnya (Suara Independen N° 3/1, Agustus 1995). Tapi tidaklah mengherankan, kalau dari orang awam sampai budayawan, serta para penggede sampai pada orang kuat sekalipun, telah memberlakukan budaya munafik atau kemunafikan. Karena justeru Sang Orang Pertama yang bertindak sebagai Panglima Politik -- yang Jenderal beneran, bukan sekedar kiasan -- memang sudah menjadikan kemunafikan sebagai tabiatnya: nampak senyum manis sebenarnya senyum bengis fasis! Coba lah diingat bagaimana prilakunya ketika berhadapan dengan orang yang lebih tua, Presiden, PBR dan Pangti ABRI pula -- Bung Karno itu! Asbun Asbun, yang kadang kala sebagai kata yang bisa menyembulkan senyum ini, bermakna : asal bunyi. Untuk orang yang mengucapkan kata atau opini tanpa keseriusan, ikut-ikutan atau asal-asalan saja. Iya. Jika yang menyuarakan itu aktor lenong atau ketoprak, pelawak atau humoris sih dampaknya nggak seberapa, atau malah sebagai salah satu cara memancing senyum tawa. Tetapi kalau ada kata atau kata-kata yang mengandung muatan politiko-ideologis lalu dikenakan begitu saja secara asbun, orang yang bersangkutan bisa mengalami kerugian bahkan bencana luar biasa. Seperti kata berupa cap sekaligus tuduhan: "komunis" atau "terlibat G30S/PKI" itu! Akibatnya: ratusan tibu bahkan jutaan menjadi korban pembantaian atau derita sengsara. Padahal, kebanyakan sang pemberi cap atau pengucap bahkan jadi algojo itu cuma lagi asbun saja. Alias tak tahu apa makna dan apalagi akar sejarah kata-kata yang diucap-kenakan pada sasaran korbannya! Jangankan orang dari massa biasa, bahkan orang yang berfungsi sebagai komandan RPKAD macam Sarwo Edhie pun belum tentu mengerti benar apa komunisme atau ideologi komunis yang di-anti-kan dan jadi alasan untuk melakukan pengejaran dan pembunuhan massal -- selaras perintah sang Panglima Politik anti-komunis di Jakarta dan selaras sang Panglima Politik di Pentagon! Begitupun para jenderal-jenderal Vietsel, Korsel, Iran, Kinsasa atau Santiago dan semacamnya lagi yang menuruti tongkat komando Panglima Politik Pentagon. Ketika mereka melancarkan propaganda anti-komunis selaras paduan suara pimpinan Pentagon, bukankah merekapun lagi mengumandangkan suara asbun juga? Jika diingat kenyataan yang hakiki baik sang penuding maupun yang tertuding atau dituding-tuding itu: idemdito alias sami mawon! Sang penuding (dari Blok Barat) mengumandangkan corong sebagai mewakili Dunia Kapitalis Anti-Komunis melancarkan tudingan ke pihak yang dijadikan musuh, yakni Blok Timur sebagai "Sosialis-Komunis" yang anti-Kapitalis! Padahal secara hakiki sama-sama Kapitalis-nya! Yang satu kapitalisme bebuyutan yang kedua kapitalisme negara! Maka itu, terbukti, dalam hal peperangan yang merupakan pernyataan politik tertinggi ltu mereka memiliki kesamaan kandungan watak ke-imperialistisan-nya. Jika yang pertama dengan watak keimperialisannya yang buyutan, sedangkan yang kedua disebut sebagai "sosio-imperialisme". Alias sosialis dalam kata-kata tapi imperialis dalam tindakan. Seperti yang dikonstatasi oleh Tiongkok pada masa polemik besar GKI (Gerakan Komunis Internasional) tahun-tahun 60-an: Dogmatisme vs Revisionisme. Dalam kenyataannya yang hakiki, baik di Blok Timur maupun di Uni Soviet sendiri, masyarakat sosialis apa lagi komunis belum pernah terwujudkan. Yang ada adalah upaya-upaya ke arah itu; yang ada adalah tampuk kekuasaan politik yang dipimpin oleh partai sosialis atau partai komunis dan yang menamakan diri demikian. Yang kebenaran atau ketepatannya jurus-jurus perjuangan yang dilancarkannya layak mengalami ujian ataupun dipertanyakan adanya. * Serangkaian referensi atau bahan bacaan, antara lain: Kamus Umum Bahasa Indonesia, WJS Poerwadarminta, Balai Pustaka, Jakarta 1986. Grand Dictionnaire de Culture Générale, Bruno Hongre, Marabout, Allour 1996. Kamus Perancis Indonesia, Winarsih Arifin, Farida Soemargono, PT Gramedia, Jakarta 2001. Pertumbuhan Perkembangan Dan Kejatuhan Lekra Di Indonesia, Yahya Ismail, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur 1972. Sastera dan Budaya, Ajip Rosidi, Pustaka Jaya, Jakarta 1995. Tirani dan Benteng, Taufik Ismail, Penerbit Yayasan Ananda, Jakarta 1993. SASTRA, Introduction à la Litterature Indonésienne Contemporaine, Cahier d'Archipel 11.1980. Indonesia Di Bawah Sepatu Lars, S. Indrotjahyono, Komite Pembelaan Mahasiswa Dewan Mahasiswa ITB Bandung 1979. Sepuluh Sanjak Berkisah, HR Bandaharo, World Citizen Press, SKBSI, Amsterdam 1987. Siapa Yang Kiri, Sastra Indonesia Pada Mula Tahun 80-an, David T. Hill, Kertas-kerja no.33 Departemen Indonesia dan Malaya, Universitas Monas, 1984. Esei Sastra, Alan Hogeland, Stichting ISDM Culemborg, Nederland, 1994. Lekra dan PKI, Politik Adalah Panglima, Joebaar Ajoeb, Kreasi N° 10, 1989-92, Stichting Budaya, Amsterdam. Beberapa Pertimbangan Atas Terbitan Yayasan Budaya Dan ISDM, Prof. Wim F. Wertheim, Arena N° 22 1990-97, Culemborg, Nederland. Pernyataan Sedunia Tentang HAM, PBB, Teks Indonesia Kempen RI, Arena N° 1 1990, Culemborg, Nederland. Serangkaian esai dan pernyataan oleh Pramoedya Ananta Toer dan sastrawan serta intelektual lainnya disiar majalah seni dan sastra KREASI dan majalah budaya dan opini pluralis ARENA dalam periode 1989-1999 yang di-editor-i oleh Abe alias D. Tanaera alias A. Kohar Ibrahim. ***

0 komentar on "Polemik Lekra VS Manikebu"

Posting Komentar