Keresahan Terhadap Fakultas Sastraku

on 5.29.2012
Fakultas Sastra. Ada kebanggan masuk kedalamnya, apa lagi setelah menjadi bagian keluarga mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Tapi bayangan tentang sastra dibenakku sebelum masuk ternyata berbeda. Aku tak menemukan orang gila yang sangat menikmati sastra itu sebagai kehidupan. Itu yang menjadi keresahan saya. Lembaga terlalu mengurung kita dan akhirnya selama setahun kita hanya menjadi pekerja program kerja lembaga dan melahirkan kita menjadi seorang pekerja bukan pemikir. Di sisi lain unit kegiatan mahasiswa yang berhaluan seni lebih mengarah pada teater, tari dan musik kurang yang mengarah pada sastra itu sendiri sementara kita berada dalam lingkungan sastra. Akhirnya tidak salah jika fakultas ini hanya banyak melahirkan seniman bukan sastrawan. Resah.

Aku mencoba keluar dari semua teori apapun. Teori menurutku hanyalah pembenaran dari satu akal manusia dan memaksa kita untuk ikut membenarkannya. Akhirnya aku memilih menjadi sastrawan liar dan gila. Aku tak peduli mendengar kata orang yang membaca karyaku yang menurutnya terlalu bebas dan liar. Aku tak peduli jika orang melihatku begitu kumuh. Aku jelaskan sekali lagi tujuanku bersastra. Aku menolak segala bentuk tatanan yang baku. Tatanan yang menuntut kita hanya menjadi pekerja seni. Itulah yang membuat saya mengurungkan niat berkecimpung pada dunia seni diluar sastra karena aku takut terhanyut dan akhirnya lupa pada tujuan utamaku bersastra. Liar dan gila.

Aku berpikir untuk membangun komunitas sastra. Komunitas sastra yang gila pada sastra itu sendiri. Akhirnya aku menemukan satu orang dari sekian itu. Kesamaan tujuan membuat kami terangsang untuk bergerak melawan rotasi. Semua berawal dari mimpi dan kami serius untuk masuk kedalam mimpi itu dan mewujudkannya. Sastra begitu kuat mendoktrin otak kami meskipun sebagian orang menuduh kami sudah tidak waras tapi bagi kami inilah sastra yang sesungguhnya. Sastra murni dan lebih jauh lagi menjawab keresahanku bertahun-tahun untuk mencari tokoh sastra dari Sulawesi Selatan ternyata aku hanya menemukan satu dari sekian sastrawan besar di Indonesia. Dialah  H. S. Daeng Muntu yang merupakan tokoh sastra. 

Semoga dengan ini akan lahir lagi sastrawan besar dari Sulawesi Selatan.

0 komentar:

Posting Komentar

5.29.2012

Keresahan Terhadap Fakultas Sastraku

Diposting oleh Jejak Sajak di 10.39
Fakultas Sastra. Ada kebanggan masuk kedalamnya, apa lagi setelah menjadi bagian keluarga mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin. Tapi bayangan tentang sastra dibenakku sebelum masuk ternyata berbeda. Aku tak menemukan orang gila yang sangat menikmati sastra itu sebagai kehidupan. Itu yang menjadi keresahan saya. Lembaga terlalu mengurung kita dan akhirnya selama setahun kita hanya menjadi pekerja program kerja lembaga dan melahirkan kita menjadi seorang pekerja bukan pemikir. Di sisi lain unit kegiatan mahasiswa yang berhaluan seni lebih mengarah pada teater, tari dan musik kurang yang mengarah pada sastra itu sendiri sementara kita berada dalam lingkungan sastra. Akhirnya tidak salah jika fakultas ini hanya banyak melahirkan seniman bukan sastrawan. Resah.

Aku mencoba keluar dari semua teori apapun. Teori menurutku hanyalah pembenaran dari satu akal manusia dan memaksa kita untuk ikut membenarkannya. Akhirnya aku memilih menjadi sastrawan liar dan gila. Aku tak peduli mendengar kata orang yang membaca karyaku yang menurutnya terlalu bebas dan liar. Aku tak peduli jika orang melihatku begitu kumuh. Aku jelaskan sekali lagi tujuanku bersastra. Aku menolak segala bentuk tatanan yang baku. Tatanan yang menuntut kita hanya menjadi pekerja seni. Itulah yang membuat saya mengurungkan niat berkecimpung pada dunia seni diluar sastra karena aku takut terhanyut dan akhirnya lupa pada tujuan utamaku bersastra. Liar dan gila.

Aku berpikir untuk membangun komunitas sastra. Komunitas sastra yang gila pada sastra itu sendiri. Akhirnya aku menemukan satu orang dari sekian itu. Kesamaan tujuan membuat kami terangsang untuk bergerak melawan rotasi. Semua berawal dari mimpi dan kami serius untuk masuk kedalam mimpi itu dan mewujudkannya. Sastra begitu kuat mendoktrin otak kami meskipun sebagian orang menuduh kami sudah tidak waras tapi bagi kami inilah sastra yang sesungguhnya. Sastra murni dan lebih jauh lagi menjawab keresahanku bertahun-tahun untuk mencari tokoh sastra dari Sulawesi Selatan ternyata aku hanya menemukan satu dari sekian sastrawan besar di Indonesia. Dialah  H. S. Daeng Muntu yang merupakan tokoh sastra. 

Semoga dengan ini akan lahir lagi sastrawan besar dari Sulawesi Selatan.

0 komentar on "Keresahan Terhadap Fakultas Sastraku"

Posting Komentar