Latar Sosial dan Budaya

on 5.31.2012




Pengetahuan tentang latar sosial dan budaya sangat penting dalam kajian budaya begitu pula dalam kajian budaya inggris. Berdasarkan karya Krishan Kumar terdapat beberapa peristiwa penting dalam sejarah kebudayaan inggris. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain Perang Dunia II, perubahan sosial politik, perubahan sistem ekonomi, nasionalisasi kebudayaan, politik identitas, politik media, perang cendikiawan, dan  munculnya budaya populer sebagai budaya tandingan. Beberapa peristiwa tersebut akan dibahas dalam sub bab berikutnya.


1.      PERANG DUNIA II
Perang Dunia II dapat dikatakan sebagai garis pembeda antara kebudayaan sebelum dan sesudah perang tersebut. Sebelum perang, ada kemerosotan, sistem ekonomi mengacu pada standar emas (gold standart) dan dalam bidang politik mengacu pada hegemoni konservatif. Setelah perang, terjadi terjadi kebutuhan tenaga kerja yang banyak, sistem ekonomi mengacu pada Keynes (John Maynard Keynes adalah ekonom Inggris yang pendapatnya disebut ekonomi Keynesian, mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam teori ekonomi dan politik modern, serta pada kebijakan fjskal pemerintah. Ia juga adalah peletak ide dasar teori makroekonomi). Sedangkan dalam bidang politik hegemoni konservatif sudah semakin berkurang. Diganti dengan politik untuk kesejahteraan negara yang dibangun oleh buruh/pekerja. Dalam sistem sosial sebelum Perang Dunia II terdapat pemisahan yang tajam antara kelas atas dengan kelas bawah, antar ”mereka dan kita”. Perbedaan tersebut terlihat jelas pada budaya massa, perbedaan budaya antara budaya tinggi (high culture) yang meliputi seni rupa, seni musik, seni drama dan sastra dengan budaya rendah atau budaya massa (low culture) yang berpusat pada film dan tontonan rakyat serta media tanpa kelas seperti televisi.
Setiap orang mengenali kelebihan dan kelemahan dua hal di atas. Untuk membuat pembaharu dan orang-orang radikal frustasi, masyarakat Inggris pada saat yang sama harus membuat satu surat keterangan tentang ’web sejarah’ dan ketidakmungkinan hal-hal baru dapat berhasil dalam masyarakat. Itu melibatkan sebuah penggalan dalam kesadaran kolektif – ini bukan fenomena yang lazim. Ini sangat masuk akal bagi orang Inggris, pada jaman kejayaan mereka, perubahan sosial yang tiba-tiba tidak terjadi. Dari perspektif tahun 80an, sangat mudah untuk melihat kelanjutan perubahan masyarakat Inggris abad 20.
Perang Dunia II menjadi mesin perubahan sosial dan politik; lebih dari pengangguran massal, lebih dari kegiatan partai-partai politik; karena perang tersebut mengakhiri kolonialisme dan imperialisme serta memunculkan negara-negara yang merdeka pasca perang tersebut.
2.    MEMBUAT KEBIJAKAN
Politik pada era 1940-1950 merupakan  kelanjutan perang dengan alat lain. Idealisme dan radikalisasi perang selama bertahun-tahun mengarahkan kekuatannya kepada masa-masa pasca perang. Kebijakan damai para buruh adalah sebuah perpanjangan waktu dari arus propaganda dan aktivitas yang progresif yang diluncurkan pada saat pecahnya perang tahun 1930an, dan secara intensif mengikuti kegagalan Dunkirk pada Juni 1940. William Beveridge, adalah seorang ekonom Inggris dan pembaharu sosial, dikenal sebagai salah satu tokoh rekonstruksi setelah perang. Dia mengemukakan skema tentang perubahan sosial egalitarian dan kolektiktif.

3.      NASIONALISASI KEBUDAYAAN
Perang juga berpengaruh pada politik identitas dalam pembentukan nasionalisasi budaya. Pemerintah Inggris lebih berperan dalam hal kesenian daripada sebelumnya selama dan sesudah perang dunia II. Pemerintah menjadi patron (yang mengayomi dan memelihara) kesenian yang sangat penting, salah satunya melalui kebijakan pendidikan.

4.      PENDIRIAN DEWAN KESENIAN
CEMA (Council for the Encouragement of Music and the Arts) merupakan wadah berkesenian bagi masyarakat Inggris, didirikan dengan tujuan untuk menciptakan sebuah wadah, menyebarkan semangat, mengolah pendapat, memberi rangsangan untuk tujuan menggabungkan baik seniman maupun masyarakat dalam kehidupan komunal yang berkebudayaan. Oligarki (dari bahasa Yunani : adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer) dan pembangunan karakter Dewan Kesenian tidak terpisahkan sebagai sebab maupun akibat dari orientasi metropolitan yang terlalu berlebihan. Orientasi tersebut telah ada selama 35 tahun. Dewan kesenian yang berada di pusat pemerintahan mendukung bermunculannya dewan kesenian daerah. Meskipun dana yang dimiliki tidak sebesar lembaga-lembaga lain yang sudah mapan seperti The Royal Opera House, Coven Garden, English National Opera, The National Theatre dan The Royal Shakespeare Company. Dewan Kesenian Daerah –dengan satu atau dua perkecualian seperti Northern Arts—telah menjadi alat yang tidak berguna. Pertentangan antara dewan kesenian dan penguasa menyebabkan orang-orang yang tidak tahu kesenian ditunjuk menjadi pengurus yang sering mengkritik otoritas lokal dalam bidang seni.

5.      POLITIK MEDIA
Media merupakan alat yang penting yang menjadi corong kebudayaan Inggris. Salah satu media yang menonjol/populer adalah radio BBC. BBC lahir dari perang dunia ke-2 yang penuh kegemilangan. Bagi orang banyak BBC telah menjadi panutan baru sebuah sumber otoritas melalui bahasa, selera atau citra budaya, promotor/penyelenggara musik nasional dan menghidupkan kembali drama dan lagu nasional. Pada tahun 1945 secara nasional dan internasional BBC mencapai puncak kejayaannya. Program-program BBC yang terkenal misalnya The Turn of Screw, Family Favourite, Housewives’ Choices, etc.Dengan adanya media audio visual membuat BBC terdorong untuk terlibat dalam dunia pertelevisian. Televisi telah menjadi media hiburan dan informasi yang penting pada akhir tahun 1960an. Hal ini menempatkan televisi dengan tugas sebagai pelapis budaya umum bagi bangsa/masyarakat Inggris. Hingga tahun 1963 hanya 10% keluarga yang tidak memiliki televisi, dan pada akhir 1960an hampir setiap keluarga telah memiliki televisi. Lagi pula pemirsa televisi berasal dari berbagai kalangan (usia, kelas dan kepercayaan). Pada akhir tahun 1970an masyarakat Inggris menghabiskan sekitar 25 jam per minggu untuk menonton televisi. Waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi lebih banyak dibandingkan jam sekolah formal atau jam kerja. Sebagai pengisi waktu luang masyarakat tidak hanya menonton film tetapi juga berolahraga dan kegiatan di luar ruangan mereka. Sebagai sebuah institusi dan aktivitas, televisi memapankan dirinya sebagai simbol yang paling representatif dari budaya nasional. Kemunculan televisi tidak begitu saja menjadi media nasional baru yang mantap/kokoh tetapi lebih merupakan simbol perubahan utama dalam etos dan gaya hidup masyarakat Inggris. Televisi menyiarkan bahwa perang dan semua yang berkaitan dengan perang telah berakhir. Ekspansi televisi mengambil tempat di era pertumbuhan ekonomi yang tidak dapat diperkirakan dan standar hidup yang meningkat. Televisi menjadi media masa-masa Macmillan dari konsumerisme, individualisme, hedonisme yang belum pernah dirasakan masyarakat Inggris sebelumnya. Munculnya penyiaran komersial pada tahun 1954 mengukuhkan hubungan ini. pada akhirnya televisi menghancurkan monopoli budaya BBC, hak dan kekuasaan sebagai juru bicara bangsa. Penyiaran masih memberikan aspirasi untuk membangun ’kesatuan bangsa’; itu tidak lagi dapat mengklaim sebagai juru bicara tunggal. Komersialisme dan persaingan merupakan agen perubahan utama dalam jangka panjang. Salah satu TV komersial adalah ITV tetapi televisi tersebut tidak mengacu pada TV komersial ala Amerika karena TV tersebut berada dibawah arahan perusahaan milik negara. Undang-undang penyiaran tahun 1954 membentuk sebuah badan pengawasan yang bernama ITA (yang kemudian berubah menjadi IBA) yang kekuasaan dan fungsinya identik dengan Boards of Governors of the BBC. ITV lebih inovatif dan siap tempur dalam gaya interview dan dokumenter politis yang tidak pernah dimiliki oleh BBC. Tahun 1960an merupakan masa keemasan bagi satir dan komedi televisi dengan program-program seperti  Till Death Us Do Part, Steptoe and Son That Was The Week That Was, etc Pada akhir tahun 1970an organisasi penyiaran juga mengalami konflik yang berkepanjangan seperti halnya dewan kesenian. Persaingan antara BBC dan ITV terjadi pada tingkat penerimaan komitmen masyarakat terhadap budaya secara keseluruhan. Dewasa ini perkembangan baru dalam bentuk TV kabel, video recorder dan satelit penyiaran terancam hancur. Baik perusahaan BBC dan ITV dihadapkan pada masa yang penuh persaingan dengan media-media lain.

6.      KELAS DAN BUDAYA PADA ERA 50an DAN 60an
Televisi menjadi ramuan pontensial baru dalam budaya massa terkemuka telah lama mengingatkan kritikus budaya dengan pengaruh-pengaruh yang meracuninya. Seperti yang disampaikan oleh Richard Hoggart (adalah akademik Inggris dan publik figur yang karirnya meliputi sosiologi, kesusastraan Inggris dan kajian budaya, dengan perhatian khusus pada budaya populer Inggris) dalam bukunya The Uses of Literacy bahwa kesenian massa yang baru mengukuhkan budaya komunitas dan kelas pekerja, dan menggantinya dengan kepalsuan dari nilai-nilai promosi komersial. Antonny Crosland dalam buku The Future of Socialism (1956) menyodorkan perdebatan yang pahit dalam gerakan buruh terhadap filsafat revisionis yang mengkhianati komitmen untuk menasionalisasi secara keseluruhan serta semboyan buruh lainnya. Para sosiolog dengan kerasa melanjutkan terus menerus menegaskan bahwa tidak terjadi perubahan besar dalam masyarakat Inggris. Karya satir Michael Young yang berjudul The Rise of the Meritocracy meramalkan kelas/kasta penguasa masa depan berdasarkan pencapaian pendidikan, seperti orang cina mandarin, mengutuk semua kegagalan akademis menjadi kondisi subordinate yang permanen. Masyarakat Inggris untuk pertama kali melepas jubah moralitas victorian yang telah menyelubungi mereka sampai dengan perang dunia ke-2 dan seterusnya. Kaum muda khususnya mencari dan menemukan kebebasan budaya dan moral baru dari orang tua mereka. Keluarga, seks dan pernikahan tidak akan sama lagi. Tahun 1956 menyimbolkan dan merangkum perkembangan penting dan menandakan kehadiran generasi baru. Hal tersebut membawa pada suatu kesadaran publik yang lebih luas tentang ’gerakan anak muda yang marah’. Novelis, penyair dan dramawan menggugah sebuah suasana daripada mengulur program atau fisafat yang konsisten. ’Hero’ atau ’anti-hero’ dalam drama dan novel diciptakan seperti yang disarankan oleh  Walter Allen begitu pula oleh George Orwell dan FR. Leavis.
Gerakan tersebut mencari suatu panutan moral dan sosial baru bagi masyarakat Inggris.The Outsider karya Collin Wilson mengangkat tema dan kepribadian eksistensialis. Film Bill Halley yang berjudul Rock Around the Clock yang diputar menyebabkan kericuhan para penonton yang antusias dalam berbagai bioskop di kota dan di desa. Perusuh yang paling dominan adalah kelompok Teddy Boys yang merupakan budaya kelas pekerja pasca perang. Kemudian muncul kelompok-kelompok lain seperti the Mods, the Rockers, the Skinheads, the Punks. Budaya remaja yang berasal dari kelas pekerja menyebar ke semua umur dan kelas sosial.
Gerakan tahun 50an muncul kembali dalam perfilman Inggris.  Industri film Inggris hanya memiliki kreativitas dalam satu dekade. Pada tahun tersebut muncul kemunduran yang drastis karena industri mulai mengeksploitasi film-film perang dan komedi rendah yang merupakan formula tahun 40an. Penonton film tenggelam akibat persaingan antar televisi daripada sebagai akibat dari kualitas film yang rendah. Generasi baru sutradara film seperti Lindsay Anderson, Karel Reisz dan Tony Richarson penggerak gerakan dokumenter ’Free Cinema’ membuat sejumlah film yang memiliki skrip dan gambar yang baik dalam gaya realisme sosial. Film tersebut mencerminkan  kehidupan dan aspirasi kelas pekerja seperti dalam film-film seperti, Saturday Night and Sunday Morning 1960, This Sporting Life 1963, etc.

7.   ARUS INTELEKTUAL DAN PENENTANGNYA
Pada akhir tahun 1970an, ancaman kepada kesepakatan baik dalam bidang budaya, intelektual, dan politik sama banyaknya. Pembagian ideologis telah berkembang dalam masyarakat inggris dari sesuatu yang tidak diketahui sejak tahun 1930an. Pemerintahan konservatif di bawah Margareth Thatcher dipilih untuk memutar balik kesejahteraan yang pernah diraih pada masa sebelumnya. Sementara partai buruh menghendaki perubahan-perubahan yang radikal seperti yang dicanangkan. Anggota partai buruh yang moderat keluar dari partai tersebut dan membentuk partai baru yang bernama Social Democrat Party. Pascaperang menjadi lebih rapuh daripada konsensus sosial dan politik. Pernyataan yang paling menggerakkan  pada tahun 1945 disampaikan oleh H.G.Well dalam karya terakhirnya Mind Arts The End of its Tether. Hal tersebut mengekspresikan suasana respon sastra dan budaya yang baik pada pascaperang di inggris.
Terdapat dua macam respon terhadap pascaperang Inggris. Sisi gelap tersebut tampak dalam novel-novel pascaperang Evelyn Waugh seperti Brideshead Revisited, The Ordeal of Gilbert Pinfold. Karya FA Hayeks yang berjudul Road to Serfdom menentang persoalan perencanaan sosial. Arthur Koestler dalam The Yogi and The Commissar dan Karl Popper dalam The Open Society dan The Poverty of Historicism semuanya tahun 1945 menekankan kekakuan  mendasar dan metafisis dalam bidang politik dan ilmu pengetahuan tentang kebenaran. Misalnya pada tahun 1949 George Orwell menulisNineteen Eightyfour serta Animal Farm di tahun 1945. Telah muncul kebangkitan yang kuat dari politik tradisional dalam bentuk marsisme Inggris setelah tahun 1956 di bawah gerakan New Left. Konsep Marxis tentang alienasi menyumbangkan akses yang sangat kuat terhadap wilayah yang biasanya diabaikan oleh teori politik tradisional contohnya rutinitas dan kebosanan terhadap pekerjaan yang menumpuk, etos budaya massa yang tidak manusiawi, ketegangan dan frustasi kehidupan keluarga modern dan hubungan antargender. Dalam tulisan-tulisan Raymond Will (Culture and Society 1780-1950, 1958, The Long Revolution, 1961) dan sejarahwan E.P. Thompson (The Making of the English Working Class, 1964) kebutuhan terhadap demokrasi yang lebih penuh dan partisipatoris lebih memperhatikan pekerjaan, budaya dan komunitas daripada organisasi pemerintah.
Hubungan New Left dengan gerakan sosial politik selalu menyisakan keresahan dan keterpisahan sosial. Pengaruhnya lebih kuat dalam pendidikan tinggi terutama dalam para professional media lulusan universitas dalam bidang TV, film, teater, penerbitan dan gerakan komunitas seni. Lembaga-lembaga budaya seperti the Institute of Contemporary Arts dan the British Film Institute tampak didominasi oleh para cendikiawan marxis. Jurnal-jurnal dan majalah-majalah baru yang berbau marxis Screen(dari BFI), The Socialist Register, Radical Science Journal, Working Papers in Cultural Studies. Intelektual EP Thompson dan Raymond William berasal dari tradisi kritik sastra Inggris. Mereka menjembatani kelompok opisisi para kritikus budaya periode pascaperang. Hal ini merupakan lanjutan bentuk kritik sastra yg dikembangkan pada era tahun 30an seperti Criterion and Scrutiny dalam tulisan-tulisan TS.Eliot, WB Yeats, DH Laurence, dan FR Leavis. Jauh sebelumnya merupakan tradisi respon kritik terhadap industrialisasi yang terdapat dalam karya-karya Coleridge, Carlyle, Dickens, Arnold dan Ruskin. Pada tahun 1948 muncul tulisan Eliot yang berjudul Notes Toward the Definition of Culture dan tulisan Leavis yang berjudul The Great Tradition. Posisi Eliot secara radikal lebih konservatif. Dia percaya bahwa budaya merupakan kreasi kaum elit yang disumbangkan oleh keanggotaan mereka dari kelas-kelas sosial yang lebih tinggi dan bahwa politik modern yang cenderung mengancam dasar-dasar kebudayaan dan peradaban eropa. Leavis memiliki visi yang lebih liberal menekankan kepentingan pusat-pusat keunggulan dalam pengolahan dan penyebaran nilai-nilai tertinggi dalam kebudayaan yang dieksplorasi oleh para penulis besar inggris di masa lalu. Dia melihat universitas sebagai pusat tersebut. Dalam tulisan berikutnya misalnya Nor Shall My Sword (1972) dia mengekspresikan kemarahan bahwa para politik, pengusaha dan cendikiawan melakukan konspirasi untuk merendahkan budaya. Dengan keawaman dan kesinisan mereka terhadap budaya massa yang tidak memiliki perbedaan.
Di tahun 1959, seorang ilmuwan dan novelis, C.P.Snow memberi kuliah the Rede di Cambridge tentang The Two Cultures and the Scientific Revolution. Snow menyarankan bahwa sifat melihat ke belakang yang didominasi budaya literer tradisional Inggris yang dominan serta pastoralisme notalgis dan memusuhi mesin dan manifestasi lain dari iptek akan lebih melemahkan di masa mendatang. Dalam hal ini pendidikan merupakan isu kunci.
Pendidikan tinggi didominasi oleh etos kaum elit dari Oxbridge. Peran penting dalam perdebatan dari tahun-tahun tersebut dimainkan secara mengejutkan oleh majalah sastra dan politik intelekktual Encounter yang didirikan pada tahun 1953 di bawah editor anglo america mendengungkan retorika arrogansi mesianik yang terdapat dalam credo marxisme leninisme serta Fasisme dan mengumandangkan berakhirnnya ideologi di Barat. Satu volume essay yang diedit oleh Hugh Thomas dengan judul The Establishment(1959) menunjukkan satu sumber dominasi masyarakat oleh kaum elite kuno. Judul lain seperti essay Eric Wigham, What’s Wrong with the Unions (1961); A.Hill dan A. Whichelow, What’s Wrong with Parliament (1964), etc.

8.   BUDAYA MASSA DAN BUDAYA UMUM
Ketika J.B.Priestley menulis ’English Journey’ tahun 1934 dia menemukan tiga Inggris. Yaitu ’Old England’ (sebuah negara dengan katedral dan gereja-gereja dan rumah-rumah bangsawan dan penginapan-penginapan), ’Nineteenth-Century England’ (Inggris yang industrialis dengan batubara, besi, baja, kapas, wol dan kereta api) and ’New England’ (sudah terpengaruh budaya Amerika).
Priestly tidak menyukai ’New England’, dia menganggap itu terlalu meniru Amerika, kurang spontanitas. Tapi ia menerimanya karena secara garis besar dari populasilebih disukai daripada dua Inggris yang lain dan hal itu merupakan gelombang kemajuan.
Dampak penyebaran budaya amerika yang cepat setelah perang membuat Priestley berpikir bahwa dirinya terlalu optimis tentang hal tersebut. Admass telah muncul sebagai nama untuk keseluruhan sistem dari peningkatan produktivitas, inflasi dan kenaikan standar kehidupan material, tekanan promosi dan penjualan yang tinggi, komunikasi massa, demokrasi budaya, kreasi pikiran massa dan manusia massa yang serba berlebihan. Masyarakat budaya massa masih harus diterima oleh para penganggur yang tidak memiliki masa depan. Institusi-institusi dan perubahan budaya sejak perang tidak menghasilkan budaya masyarakat tetapi mereka mengurangi jarak budaya antara kelompok sosial secara besar-besaran. Terdapat nilai-nilai, sikap-sikap, dan kepercayaan yang lebih umum dalam masyarakat inggris sekarang daripada waktu-waktu sebelumnya. Hal ini selalu menggerakkan bahaya mengalah kepada budaya massa. Tetapi masyarakat Inggris telah membuktikan secara signifikan terhadap aspek terburuk dari budaya massa.

0 komentar:

Posting Komentar

5.31.2012

Latar Sosial dan Budaya

Diposting oleh Jejak Sajak di 09.01




Pengetahuan tentang latar sosial dan budaya sangat penting dalam kajian budaya begitu pula dalam kajian budaya inggris. Berdasarkan karya Krishan Kumar terdapat beberapa peristiwa penting dalam sejarah kebudayaan inggris. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain Perang Dunia II, perubahan sosial politik, perubahan sistem ekonomi, nasionalisasi kebudayaan, politik identitas, politik media, perang cendikiawan, dan  munculnya budaya populer sebagai budaya tandingan. Beberapa peristiwa tersebut akan dibahas dalam sub bab berikutnya.


1.      PERANG DUNIA II
Perang Dunia II dapat dikatakan sebagai garis pembeda antara kebudayaan sebelum dan sesudah perang tersebut. Sebelum perang, ada kemerosotan, sistem ekonomi mengacu pada standar emas (gold standart) dan dalam bidang politik mengacu pada hegemoni konservatif. Setelah perang, terjadi terjadi kebutuhan tenaga kerja yang banyak, sistem ekonomi mengacu pada Keynes (John Maynard Keynes adalah ekonom Inggris yang pendapatnya disebut ekonomi Keynesian, mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam teori ekonomi dan politik modern, serta pada kebijakan fjskal pemerintah. Ia juga adalah peletak ide dasar teori makroekonomi). Sedangkan dalam bidang politik hegemoni konservatif sudah semakin berkurang. Diganti dengan politik untuk kesejahteraan negara yang dibangun oleh buruh/pekerja. Dalam sistem sosial sebelum Perang Dunia II terdapat pemisahan yang tajam antara kelas atas dengan kelas bawah, antar ”mereka dan kita”. Perbedaan tersebut terlihat jelas pada budaya massa, perbedaan budaya antara budaya tinggi (high culture) yang meliputi seni rupa, seni musik, seni drama dan sastra dengan budaya rendah atau budaya massa (low culture) yang berpusat pada film dan tontonan rakyat serta media tanpa kelas seperti televisi.
Setiap orang mengenali kelebihan dan kelemahan dua hal di atas. Untuk membuat pembaharu dan orang-orang radikal frustasi, masyarakat Inggris pada saat yang sama harus membuat satu surat keterangan tentang ’web sejarah’ dan ketidakmungkinan hal-hal baru dapat berhasil dalam masyarakat. Itu melibatkan sebuah penggalan dalam kesadaran kolektif – ini bukan fenomena yang lazim. Ini sangat masuk akal bagi orang Inggris, pada jaman kejayaan mereka, perubahan sosial yang tiba-tiba tidak terjadi. Dari perspektif tahun 80an, sangat mudah untuk melihat kelanjutan perubahan masyarakat Inggris abad 20.
Perang Dunia II menjadi mesin perubahan sosial dan politik; lebih dari pengangguran massal, lebih dari kegiatan partai-partai politik; karena perang tersebut mengakhiri kolonialisme dan imperialisme serta memunculkan negara-negara yang merdeka pasca perang tersebut.
2.    MEMBUAT KEBIJAKAN
Politik pada era 1940-1950 merupakan  kelanjutan perang dengan alat lain. Idealisme dan radikalisasi perang selama bertahun-tahun mengarahkan kekuatannya kepada masa-masa pasca perang. Kebijakan damai para buruh adalah sebuah perpanjangan waktu dari arus propaganda dan aktivitas yang progresif yang diluncurkan pada saat pecahnya perang tahun 1930an, dan secara intensif mengikuti kegagalan Dunkirk pada Juni 1940. William Beveridge, adalah seorang ekonom Inggris dan pembaharu sosial, dikenal sebagai salah satu tokoh rekonstruksi setelah perang. Dia mengemukakan skema tentang perubahan sosial egalitarian dan kolektiktif.

3.      NASIONALISASI KEBUDAYAAN
Perang juga berpengaruh pada politik identitas dalam pembentukan nasionalisasi budaya. Pemerintah Inggris lebih berperan dalam hal kesenian daripada sebelumnya selama dan sesudah perang dunia II. Pemerintah menjadi patron (yang mengayomi dan memelihara) kesenian yang sangat penting, salah satunya melalui kebijakan pendidikan.

4.      PENDIRIAN DEWAN KESENIAN
CEMA (Council for the Encouragement of Music and the Arts) merupakan wadah berkesenian bagi masyarakat Inggris, didirikan dengan tujuan untuk menciptakan sebuah wadah, menyebarkan semangat, mengolah pendapat, memberi rangsangan untuk tujuan menggabungkan baik seniman maupun masyarakat dalam kehidupan komunal yang berkebudayaan. Oligarki (dari bahasa Yunani : adalah bentuk pemerintahan yang kekuasaan politiknya secara efektif dipegang oleh kelompok elit kecil dari masyarakat, baik dibedakan menurut kekayaan, keluarga, atau militer) dan pembangunan karakter Dewan Kesenian tidak terpisahkan sebagai sebab maupun akibat dari orientasi metropolitan yang terlalu berlebihan. Orientasi tersebut telah ada selama 35 tahun. Dewan kesenian yang berada di pusat pemerintahan mendukung bermunculannya dewan kesenian daerah. Meskipun dana yang dimiliki tidak sebesar lembaga-lembaga lain yang sudah mapan seperti The Royal Opera House, Coven Garden, English National Opera, The National Theatre dan The Royal Shakespeare Company. Dewan Kesenian Daerah –dengan satu atau dua perkecualian seperti Northern Arts—telah menjadi alat yang tidak berguna. Pertentangan antara dewan kesenian dan penguasa menyebabkan orang-orang yang tidak tahu kesenian ditunjuk menjadi pengurus yang sering mengkritik otoritas lokal dalam bidang seni.

5.      POLITIK MEDIA
Media merupakan alat yang penting yang menjadi corong kebudayaan Inggris. Salah satu media yang menonjol/populer adalah radio BBC. BBC lahir dari perang dunia ke-2 yang penuh kegemilangan. Bagi orang banyak BBC telah menjadi panutan baru sebuah sumber otoritas melalui bahasa, selera atau citra budaya, promotor/penyelenggara musik nasional dan menghidupkan kembali drama dan lagu nasional. Pada tahun 1945 secara nasional dan internasional BBC mencapai puncak kejayaannya. Program-program BBC yang terkenal misalnya The Turn of Screw, Family Favourite, Housewives’ Choices, etc.Dengan adanya media audio visual membuat BBC terdorong untuk terlibat dalam dunia pertelevisian. Televisi telah menjadi media hiburan dan informasi yang penting pada akhir tahun 1960an. Hal ini menempatkan televisi dengan tugas sebagai pelapis budaya umum bagi bangsa/masyarakat Inggris. Hingga tahun 1963 hanya 10% keluarga yang tidak memiliki televisi, dan pada akhir 1960an hampir setiap keluarga telah memiliki televisi. Lagi pula pemirsa televisi berasal dari berbagai kalangan (usia, kelas dan kepercayaan). Pada akhir tahun 1970an masyarakat Inggris menghabiskan sekitar 25 jam per minggu untuk menonton televisi. Waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi lebih banyak dibandingkan jam sekolah formal atau jam kerja. Sebagai pengisi waktu luang masyarakat tidak hanya menonton film tetapi juga berolahraga dan kegiatan di luar ruangan mereka. Sebagai sebuah institusi dan aktivitas, televisi memapankan dirinya sebagai simbol yang paling representatif dari budaya nasional. Kemunculan televisi tidak begitu saja menjadi media nasional baru yang mantap/kokoh tetapi lebih merupakan simbol perubahan utama dalam etos dan gaya hidup masyarakat Inggris. Televisi menyiarkan bahwa perang dan semua yang berkaitan dengan perang telah berakhir. Ekspansi televisi mengambil tempat di era pertumbuhan ekonomi yang tidak dapat diperkirakan dan standar hidup yang meningkat. Televisi menjadi media masa-masa Macmillan dari konsumerisme, individualisme, hedonisme yang belum pernah dirasakan masyarakat Inggris sebelumnya. Munculnya penyiaran komersial pada tahun 1954 mengukuhkan hubungan ini. pada akhirnya televisi menghancurkan monopoli budaya BBC, hak dan kekuasaan sebagai juru bicara bangsa. Penyiaran masih memberikan aspirasi untuk membangun ’kesatuan bangsa’; itu tidak lagi dapat mengklaim sebagai juru bicara tunggal. Komersialisme dan persaingan merupakan agen perubahan utama dalam jangka panjang. Salah satu TV komersial adalah ITV tetapi televisi tersebut tidak mengacu pada TV komersial ala Amerika karena TV tersebut berada dibawah arahan perusahaan milik negara. Undang-undang penyiaran tahun 1954 membentuk sebuah badan pengawasan yang bernama ITA (yang kemudian berubah menjadi IBA) yang kekuasaan dan fungsinya identik dengan Boards of Governors of the BBC. ITV lebih inovatif dan siap tempur dalam gaya interview dan dokumenter politis yang tidak pernah dimiliki oleh BBC. Tahun 1960an merupakan masa keemasan bagi satir dan komedi televisi dengan program-program seperti  Till Death Us Do Part, Steptoe and Son That Was The Week That Was, etc Pada akhir tahun 1970an organisasi penyiaran juga mengalami konflik yang berkepanjangan seperti halnya dewan kesenian. Persaingan antara BBC dan ITV terjadi pada tingkat penerimaan komitmen masyarakat terhadap budaya secara keseluruhan. Dewasa ini perkembangan baru dalam bentuk TV kabel, video recorder dan satelit penyiaran terancam hancur. Baik perusahaan BBC dan ITV dihadapkan pada masa yang penuh persaingan dengan media-media lain.

6.      KELAS DAN BUDAYA PADA ERA 50an DAN 60an
Televisi menjadi ramuan pontensial baru dalam budaya massa terkemuka telah lama mengingatkan kritikus budaya dengan pengaruh-pengaruh yang meracuninya. Seperti yang disampaikan oleh Richard Hoggart (adalah akademik Inggris dan publik figur yang karirnya meliputi sosiologi, kesusastraan Inggris dan kajian budaya, dengan perhatian khusus pada budaya populer Inggris) dalam bukunya The Uses of Literacy bahwa kesenian massa yang baru mengukuhkan budaya komunitas dan kelas pekerja, dan menggantinya dengan kepalsuan dari nilai-nilai promosi komersial. Antonny Crosland dalam buku The Future of Socialism (1956) menyodorkan perdebatan yang pahit dalam gerakan buruh terhadap filsafat revisionis yang mengkhianati komitmen untuk menasionalisasi secara keseluruhan serta semboyan buruh lainnya. Para sosiolog dengan kerasa melanjutkan terus menerus menegaskan bahwa tidak terjadi perubahan besar dalam masyarakat Inggris. Karya satir Michael Young yang berjudul The Rise of the Meritocracy meramalkan kelas/kasta penguasa masa depan berdasarkan pencapaian pendidikan, seperti orang cina mandarin, mengutuk semua kegagalan akademis menjadi kondisi subordinate yang permanen. Masyarakat Inggris untuk pertama kali melepas jubah moralitas victorian yang telah menyelubungi mereka sampai dengan perang dunia ke-2 dan seterusnya. Kaum muda khususnya mencari dan menemukan kebebasan budaya dan moral baru dari orang tua mereka. Keluarga, seks dan pernikahan tidak akan sama lagi. Tahun 1956 menyimbolkan dan merangkum perkembangan penting dan menandakan kehadiran generasi baru. Hal tersebut membawa pada suatu kesadaran publik yang lebih luas tentang ’gerakan anak muda yang marah’. Novelis, penyair dan dramawan menggugah sebuah suasana daripada mengulur program atau fisafat yang konsisten. ’Hero’ atau ’anti-hero’ dalam drama dan novel diciptakan seperti yang disarankan oleh  Walter Allen begitu pula oleh George Orwell dan FR. Leavis.
Gerakan tersebut mencari suatu panutan moral dan sosial baru bagi masyarakat Inggris.The Outsider karya Collin Wilson mengangkat tema dan kepribadian eksistensialis. Film Bill Halley yang berjudul Rock Around the Clock yang diputar menyebabkan kericuhan para penonton yang antusias dalam berbagai bioskop di kota dan di desa. Perusuh yang paling dominan adalah kelompok Teddy Boys yang merupakan budaya kelas pekerja pasca perang. Kemudian muncul kelompok-kelompok lain seperti the Mods, the Rockers, the Skinheads, the Punks. Budaya remaja yang berasal dari kelas pekerja menyebar ke semua umur dan kelas sosial.
Gerakan tahun 50an muncul kembali dalam perfilman Inggris.  Industri film Inggris hanya memiliki kreativitas dalam satu dekade. Pada tahun tersebut muncul kemunduran yang drastis karena industri mulai mengeksploitasi film-film perang dan komedi rendah yang merupakan formula tahun 40an. Penonton film tenggelam akibat persaingan antar televisi daripada sebagai akibat dari kualitas film yang rendah. Generasi baru sutradara film seperti Lindsay Anderson, Karel Reisz dan Tony Richarson penggerak gerakan dokumenter ’Free Cinema’ membuat sejumlah film yang memiliki skrip dan gambar yang baik dalam gaya realisme sosial. Film tersebut mencerminkan  kehidupan dan aspirasi kelas pekerja seperti dalam film-film seperti, Saturday Night and Sunday Morning 1960, This Sporting Life 1963, etc.

7.   ARUS INTELEKTUAL DAN PENENTANGNYA
Pada akhir tahun 1970an, ancaman kepada kesepakatan baik dalam bidang budaya, intelektual, dan politik sama banyaknya. Pembagian ideologis telah berkembang dalam masyarakat inggris dari sesuatu yang tidak diketahui sejak tahun 1930an. Pemerintahan konservatif di bawah Margareth Thatcher dipilih untuk memutar balik kesejahteraan yang pernah diraih pada masa sebelumnya. Sementara partai buruh menghendaki perubahan-perubahan yang radikal seperti yang dicanangkan. Anggota partai buruh yang moderat keluar dari partai tersebut dan membentuk partai baru yang bernama Social Democrat Party. Pascaperang menjadi lebih rapuh daripada konsensus sosial dan politik. Pernyataan yang paling menggerakkan  pada tahun 1945 disampaikan oleh H.G.Well dalam karya terakhirnya Mind Arts The End of its Tether. Hal tersebut mengekspresikan suasana respon sastra dan budaya yang baik pada pascaperang di inggris.
Terdapat dua macam respon terhadap pascaperang Inggris. Sisi gelap tersebut tampak dalam novel-novel pascaperang Evelyn Waugh seperti Brideshead Revisited, The Ordeal of Gilbert Pinfold. Karya FA Hayeks yang berjudul Road to Serfdom menentang persoalan perencanaan sosial. Arthur Koestler dalam The Yogi and The Commissar dan Karl Popper dalam The Open Society dan The Poverty of Historicism semuanya tahun 1945 menekankan kekakuan  mendasar dan metafisis dalam bidang politik dan ilmu pengetahuan tentang kebenaran. Misalnya pada tahun 1949 George Orwell menulisNineteen Eightyfour serta Animal Farm di tahun 1945. Telah muncul kebangkitan yang kuat dari politik tradisional dalam bentuk marsisme Inggris setelah tahun 1956 di bawah gerakan New Left. Konsep Marxis tentang alienasi menyumbangkan akses yang sangat kuat terhadap wilayah yang biasanya diabaikan oleh teori politik tradisional contohnya rutinitas dan kebosanan terhadap pekerjaan yang menumpuk, etos budaya massa yang tidak manusiawi, ketegangan dan frustasi kehidupan keluarga modern dan hubungan antargender. Dalam tulisan-tulisan Raymond Will (Culture and Society 1780-1950, 1958, The Long Revolution, 1961) dan sejarahwan E.P. Thompson (The Making of the English Working Class, 1964) kebutuhan terhadap demokrasi yang lebih penuh dan partisipatoris lebih memperhatikan pekerjaan, budaya dan komunitas daripada organisasi pemerintah.
Hubungan New Left dengan gerakan sosial politik selalu menyisakan keresahan dan keterpisahan sosial. Pengaruhnya lebih kuat dalam pendidikan tinggi terutama dalam para professional media lulusan universitas dalam bidang TV, film, teater, penerbitan dan gerakan komunitas seni. Lembaga-lembaga budaya seperti the Institute of Contemporary Arts dan the British Film Institute tampak didominasi oleh para cendikiawan marxis. Jurnal-jurnal dan majalah-majalah baru yang berbau marxis Screen(dari BFI), The Socialist Register, Radical Science Journal, Working Papers in Cultural Studies. Intelektual EP Thompson dan Raymond William berasal dari tradisi kritik sastra Inggris. Mereka menjembatani kelompok opisisi para kritikus budaya periode pascaperang. Hal ini merupakan lanjutan bentuk kritik sastra yg dikembangkan pada era tahun 30an seperti Criterion and Scrutiny dalam tulisan-tulisan TS.Eliot, WB Yeats, DH Laurence, dan FR Leavis. Jauh sebelumnya merupakan tradisi respon kritik terhadap industrialisasi yang terdapat dalam karya-karya Coleridge, Carlyle, Dickens, Arnold dan Ruskin. Pada tahun 1948 muncul tulisan Eliot yang berjudul Notes Toward the Definition of Culture dan tulisan Leavis yang berjudul The Great Tradition. Posisi Eliot secara radikal lebih konservatif. Dia percaya bahwa budaya merupakan kreasi kaum elit yang disumbangkan oleh keanggotaan mereka dari kelas-kelas sosial yang lebih tinggi dan bahwa politik modern yang cenderung mengancam dasar-dasar kebudayaan dan peradaban eropa. Leavis memiliki visi yang lebih liberal menekankan kepentingan pusat-pusat keunggulan dalam pengolahan dan penyebaran nilai-nilai tertinggi dalam kebudayaan yang dieksplorasi oleh para penulis besar inggris di masa lalu. Dia melihat universitas sebagai pusat tersebut. Dalam tulisan berikutnya misalnya Nor Shall My Sword (1972) dia mengekspresikan kemarahan bahwa para politik, pengusaha dan cendikiawan melakukan konspirasi untuk merendahkan budaya. Dengan keawaman dan kesinisan mereka terhadap budaya massa yang tidak memiliki perbedaan.
Di tahun 1959, seorang ilmuwan dan novelis, C.P.Snow memberi kuliah the Rede di Cambridge tentang The Two Cultures and the Scientific Revolution. Snow menyarankan bahwa sifat melihat ke belakang yang didominasi budaya literer tradisional Inggris yang dominan serta pastoralisme notalgis dan memusuhi mesin dan manifestasi lain dari iptek akan lebih melemahkan di masa mendatang. Dalam hal ini pendidikan merupakan isu kunci.
Pendidikan tinggi didominasi oleh etos kaum elit dari Oxbridge. Peran penting dalam perdebatan dari tahun-tahun tersebut dimainkan secara mengejutkan oleh majalah sastra dan politik intelekktual Encounter yang didirikan pada tahun 1953 di bawah editor anglo america mendengungkan retorika arrogansi mesianik yang terdapat dalam credo marxisme leninisme serta Fasisme dan mengumandangkan berakhirnnya ideologi di Barat. Satu volume essay yang diedit oleh Hugh Thomas dengan judul The Establishment(1959) menunjukkan satu sumber dominasi masyarakat oleh kaum elite kuno. Judul lain seperti essay Eric Wigham, What’s Wrong with the Unions (1961); A.Hill dan A. Whichelow, What’s Wrong with Parliament (1964), etc.

8.   BUDAYA MASSA DAN BUDAYA UMUM
Ketika J.B.Priestley menulis ’English Journey’ tahun 1934 dia menemukan tiga Inggris. Yaitu ’Old England’ (sebuah negara dengan katedral dan gereja-gereja dan rumah-rumah bangsawan dan penginapan-penginapan), ’Nineteenth-Century England’ (Inggris yang industrialis dengan batubara, besi, baja, kapas, wol dan kereta api) and ’New England’ (sudah terpengaruh budaya Amerika).
Priestly tidak menyukai ’New England’, dia menganggap itu terlalu meniru Amerika, kurang spontanitas. Tapi ia menerimanya karena secara garis besar dari populasilebih disukai daripada dua Inggris yang lain dan hal itu merupakan gelombang kemajuan.
Dampak penyebaran budaya amerika yang cepat setelah perang membuat Priestley berpikir bahwa dirinya terlalu optimis tentang hal tersebut. Admass telah muncul sebagai nama untuk keseluruhan sistem dari peningkatan produktivitas, inflasi dan kenaikan standar kehidupan material, tekanan promosi dan penjualan yang tinggi, komunikasi massa, demokrasi budaya, kreasi pikiran massa dan manusia massa yang serba berlebihan. Masyarakat budaya massa masih harus diterima oleh para penganggur yang tidak memiliki masa depan. Institusi-institusi dan perubahan budaya sejak perang tidak menghasilkan budaya masyarakat tetapi mereka mengurangi jarak budaya antara kelompok sosial secara besar-besaran. Terdapat nilai-nilai, sikap-sikap, dan kepercayaan yang lebih umum dalam masyarakat inggris sekarang daripada waktu-waktu sebelumnya. Hal ini selalu menggerakkan bahaya mengalah kepada budaya massa. Tetapi masyarakat Inggris telah membuktikan secara signifikan terhadap aspek terburuk dari budaya massa.

0 komentar on "Latar Sosial dan Budaya"

Posting Komentar