Polemik Manikebu

on 5.18.2012
Sebaris kata atau sebutir penting isi Manikebu bunyinya : PANCASILA adalah filsafat kebudayaan kami. Itu suatu pernyataan, tapi bagaimana sikap-pendirian dan bagaimana dalam kenyataan perbuatan yang sebenarnya ? Seperti secara gamblang dicontohkan oleh salah seorang pakar dari Manikebu/KKPI Wiratmo Sukito, yang dikemukakan dalam tulisan yang diumumkan Majalah Horison Mei 1967 itu. Bukankah suatu bukti akan kepura-puraan atau kemunafikan kaum Manikebuis ? Terutama sekali dalam hal Sila Perikemanusiaan atau Humanisme ? Dalam pada itu, mungkin saja, apa yang telah saya ungkapkan itu jadi penambah kesan dari kalangan pembaca, bahwa sepertinya saya lagimenangisi apa yang telah terjadi. Padahal, ada saya utarakan dan yang saya garis-bawahi baris kata-kata Ignazio Silone : Jangan nangis, jangan ketawa, pahamilah. Tidak. Saya tidak lagi menangisi masa lalu, khususnya Tragedi Nasional Indonesia, dimana saya sendiri salah seorang korbannya. Tetapi memang iya, meskipun saya bukan sejarawan, tapi peduli pada peristiwa bersejarah. Apa pula peristiwa itu menyangkut diri pribadi saya sendiri. Apalagi, justeru, masalah kesejarahan Indonesia masih semrawut, dicincang dan diputarbalikkan secara sewenang-wenang. Apalagi masih banyak hal-ihwal yang masih menjadi tanda-tanya. Dan saya merasa berkepentingan untuk mencari atau memperoleh jawaban atasnya. Apa Kenapa Bagaimana hal ihwal itu terjadi, dan seribu tanda tanya lainnya. Dan dari sekian banyak hal yang menimbulkan tanda tanya besar adalah sekaitan dengan bidang yang saya geluti, yang sudah sejak masa remaja menjadi perhatian saya. Sampai timbul bencana berupa Tragedi Nasional yang bukan hanya dengan korbannya seorang atau 7 orang, melainkan jutaan orang ! Iya. Saya tidak lagi menangisi masa lalu pun masa kini, karena derita yang ragam macam yang kami alami itu belum berkesudahan.

Tapi, saya ngaku, memang iya, bukan saja saya tidak bisa melupakannya, melainkan masih menyimpan ragam macam perasaan dan pikiran. Kata yang paling tepat, ya, itu – seperti yang digunakan oleh Goenawan Mohamad dalam Tanggapan-nya untuk saya : Masygul ! Betapa tidak. Kalau dari dulu hingga saat ini kami -- secara langsung maupun tak langsung – masih diposisikan sebagai orang yang tertuding, dengan nada yang hakikatnya sama dengan tudingan otak Maniebu/KKPI Wiratmo Sukito itu. Terutama sekali, tentu saja, ujung tombak terarahkan ke diri Pramoedya Ananta Toer – yang dicap anti-perikemanusiaan atau anti-Pancasila. Oleh karena itu, bagaimana saya tidak hendak mengungkapkan kekontrasan antara ucapan atau pernyataan kaum Manikebuis macam Wiratmo Sukito dengan realitas aksi kebiadaban yang berlangsung di sekitarnya ? Di atas bumi Nusantara yang berubah merah darah ? Karena seperti dikonstatasi Pramoedya, di negeri ini telah terjadi mandi darah bangsa sendiri ? Sehingga esais kondang Amerika, Noam Chomsky mengungkapkannya dalam Bains de Sang dengan « L’Archipel Bloodbath » -- semata-mata untuk menjadi perbandingannya dengan Archipel du Gulag. Dalam kaitan ini, bagaimana persisnya antara koar-koar Panca Sila dengan Sila Perikemanusiaannya dan Humanisme Universil di satu segi, kebanding dengan perbuatan yang nyata yang berupa kejahatan kemanuisaan. Kejahatan dengan salah satu contoh seperti dilukiskan oleh Ruslan Widjajasastra. Salah seorang yang dijadikan korbannya.

0 komentar:

Posting Komentar

5.18.2012

Polemik Manikebu

Diposting oleh Jejak Sajak di 07.27
Sebaris kata atau sebutir penting isi Manikebu bunyinya : PANCASILA adalah filsafat kebudayaan kami. Itu suatu pernyataan, tapi bagaimana sikap-pendirian dan bagaimana dalam kenyataan perbuatan yang sebenarnya ? Seperti secara gamblang dicontohkan oleh salah seorang pakar dari Manikebu/KKPI Wiratmo Sukito, yang dikemukakan dalam tulisan yang diumumkan Majalah Horison Mei 1967 itu. Bukankah suatu bukti akan kepura-puraan atau kemunafikan kaum Manikebuis ? Terutama sekali dalam hal Sila Perikemanusiaan atau Humanisme ? Dalam pada itu, mungkin saja, apa yang telah saya ungkapkan itu jadi penambah kesan dari kalangan pembaca, bahwa sepertinya saya lagimenangisi apa yang telah terjadi. Padahal, ada saya utarakan dan yang saya garis-bawahi baris kata-kata Ignazio Silone : Jangan nangis, jangan ketawa, pahamilah. Tidak. Saya tidak lagi menangisi masa lalu, khususnya Tragedi Nasional Indonesia, dimana saya sendiri salah seorang korbannya. Tetapi memang iya, meskipun saya bukan sejarawan, tapi peduli pada peristiwa bersejarah. Apa pula peristiwa itu menyangkut diri pribadi saya sendiri. Apalagi, justeru, masalah kesejarahan Indonesia masih semrawut, dicincang dan diputarbalikkan secara sewenang-wenang. Apalagi masih banyak hal-ihwal yang masih menjadi tanda-tanya. Dan saya merasa berkepentingan untuk mencari atau memperoleh jawaban atasnya. Apa Kenapa Bagaimana hal ihwal itu terjadi, dan seribu tanda tanya lainnya. Dan dari sekian banyak hal yang menimbulkan tanda tanya besar adalah sekaitan dengan bidang yang saya geluti, yang sudah sejak masa remaja menjadi perhatian saya. Sampai timbul bencana berupa Tragedi Nasional yang bukan hanya dengan korbannya seorang atau 7 orang, melainkan jutaan orang ! Iya. Saya tidak lagi menangisi masa lalu pun masa kini, karena derita yang ragam macam yang kami alami itu belum berkesudahan.

Tapi, saya ngaku, memang iya, bukan saja saya tidak bisa melupakannya, melainkan masih menyimpan ragam macam perasaan dan pikiran. Kata yang paling tepat, ya, itu – seperti yang digunakan oleh Goenawan Mohamad dalam Tanggapan-nya untuk saya : Masygul ! Betapa tidak. Kalau dari dulu hingga saat ini kami -- secara langsung maupun tak langsung – masih diposisikan sebagai orang yang tertuding, dengan nada yang hakikatnya sama dengan tudingan otak Maniebu/KKPI Wiratmo Sukito itu. Terutama sekali, tentu saja, ujung tombak terarahkan ke diri Pramoedya Ananta Toer – yang dicap anti-perikemanusiaan atau anti-Pancasila. Oleh karena itu, bagaimana saya tidak hendak mengungkapkan kekontrasan antara ucapan atau pernyataan kaum Manikebuis macam Wiratmo Sukito dengan realitas aksi kebiadaban yang berlangsung di sekitarnya ? Di atas bumi Nusantara yang berubah merah darah ? Karena seperti dikonstatasi Pramoedya, di negeri ini telah terjadi mandi darah bangsa sendiri ? Sehingga esais kondang Amerika, Noam Chomsky mengungkapkannya dalam Bains de Sang dengan « L’Archipel Bloodbath » -- semata-mata untuk menjadi perbandingannya dengan Archipel du Gulag. Dalam kaitan ini, bagaimana persisnya antara koar-koar Panca Sila dengan Sila Perikemanusiaannya dan Humanisme Universil di satu segi, kebanding dengan perbuatan yang nyata yang berupa kejahatan kemanuisaan. Kejahatan dengan salah satu contoh seperti dilukiskan oleh Ruslan Widjajasastra. Salah seorang yang dijadikan korbannya.

0 komentar on "Polemik Manikebu"

Posting Komentar