Bianglala, Rumah, dan Perempuan yang Enggan Jatuh Cinta Kepada Makam

on 2.13.2014

Pernah, sekali, seumur hidupku
aku mencintaimu
sejak itu, aku selalu gagal membuat sajak yang cantik untukmu – juga yang ini
pula, selalu berhasil tak mati
sampai tuhan, bosan memanggilku, pulang
dan aku mulai marah tiap tuhan menyebut namaku, berkali-kali

“kepada makam: kau tak pernah rela seorang lelaki yang kau cintai mati
meninggalkanmu, dan kau harus jatuh cinta lagi”

Masa lampau, kau begitu hebat membayangkan
cinta yang kita pikul adalah beban buruk yang gembira
menjelma menjadi twitter, pengeras suara, macet, atau apapun yang kita tak suka

Katamu, aku kekasih terbaik
seperti melihat bianglala, hanya karena kita di bumi
sedang hujan tipis, cahaya matahari, dan garis warna menyimpan rahasia
masing-masing tak pernah jujur kepada manusia
apakah memang mereka diciptakan untuk menipu mata kita
atau manusia memang senang menipu dirinya sendiri dengan keindahan
aku takut, kau sebenarnya hanya tertipu
kepada bianglala - juga diriku

Dalam sajak ini
aku ingin menjadi kata kedua pada bagian judul
lalu memasukkan makam dan bianglala ke ruang makan kita
menyantapnya menjadi tawa
aku ingin kau jujur melihatku
dari tempatku dan semua yang ada padaku
sebab kita hanya dapat berbohong semasa hidup

aku takut, kau memanfaatkannya untukku.

0 komentar:

Posting Komentar

2.13.2014

Bianglala, Rumah, dan Perempuan yang Enggan Jatuh Cinta Kepada Makam

Diposting oleh Jejak Sajak di 20.33

Pernah, sekali, seumur hidupku
aku mencintaimu
sejak itu, aku selalu gagal membuat sajak yang cantik untukmu – juga yang ini
pula, selalu berhasil tak mati
sampai tuhan, bosan memanggilku, pulang
dan aku mulai marah tiap tuhan menyebut namaku, berkali-kali

“kepada makam: kau tak pernah rela seorang lelaki yang kau cintai mati
meninggalkanmu, dan kau harus jatuh cinta lagi”

Masa lampau, kau begitu hebat membayangkan
cinta yang kita pikul adalah beban buruk yang gembira
menjelma menjadi twitter, pengeras suara, macet, atau apapun yang kita tak suka

Katamu, aku kekasih terbaik
seperti melihat bianglala, hanya karena kita di bumi
sedang hujan tipis, cahaya matahari, dan garis warna menyimpan rahasia
masing-masing tak pernah jujur kepada manusia
apakah memang mereka diciptakan untuk menipu mata kita
atau manusia memang senang menipu dirinya sendiri dengan keindahan
aku takut, kau sebenarnya hanya tertipu
kepada bianglala - juga diriku

Dalam sajak ini
aku ingin menjadi kata kedua pada bagian judul
lalu memasukkan makam dan bianglala ke ruang makan kita
menyantapnya menjadi tawa
aku ingin kau jujur melihatku
dari tempatku dan semua yang ada padaku
sebab kita hanya dapat berbohong semasa hidup

aku takut, kau memanfaatkannya untukku.

0 komentar on "Bianglala, Rumah, dan Perempuan yang Enggan Jatuh Cinta Kepada Makam"

Posting Komentar