Pramoedya Ananta Toer dan Kegemaran Orang-orang Menikmati Bensin Bersubsidi

on 2.10.2014
Sebuah lagu terputar. Dengan senang hati, aku mendengarnya. Suara Pramoedya Ananta Toer mengawali lagu, “Pram adalah Pram. Pram adalah Pram.” Kalimat sederhana tapi membuatnya banyak menderita.
Pram kerap dituding sebagai komunis - juga PKI. Tapi, melalui lagu Catastrope yang berjudul Elegi Untuk Pramoedya Ananta Toer, kita diajak mengenal siapa Pram sebenarnya.
Jika membaca buku sejarah atau beberapa pranala yang ada di internet, kita akan mendapatkan beberapa informasi tentang Pram. Diantaranya, dia adalah aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), berhaluan komunis, dan pernah dipenjara belasan tahun pada masa Orde Baru.
Itu bukan lagi masalah yang perlu kita debatkan, toh masih ada ribuan orang yang juga bernasib sama dengan Pram. Dan sampai sekarang, belum ada pernyataan resmi negara untuk mengakui bahwa itu adalah kesalahan terindah yang pernah dilakukannya. Keji.

***

            Pramoedya Ananta Toer memang tidak bisa lagi dipisahkan dengan karyanya. Melintasi zaman dan terus bergerak menyadarkan banyak orang akan pentingnya mengetahui sejarah.
Seperti kebanyakan orang, kita kadang meletakkan Pram – juga karyanya, sebagai alternatif untuk mengenal sastra dan sejarah Indonesia. Ini membuat karya Pram seperti anak yang tidak diharapkan lahir, namun ternyata, pada masanya, ia berhasil menciptakan sebuah hegemoni.
Kerap kali, saya mendengar ungkapan dari teman-teman yang juga suka membaca karya Pram “buku itu tidak bagus, mending kamu baca Bumi Manusia, atau Anak Semua Bangsa, karya Pram”. Itu seperti ungkapan pemerintah, “beralihlah dari bensin bersubsidi ke pertamax.” Sama-sama menjadikan karya Pram dan pertamax sebagai alternatif.
Membuat orang tahu betapa pentingnya membaca karya Pram, bukan perkerjaan yang mudah, tapi juga tidak sulit. Seperti halnya orang tua yang menghegemoni anaknya dengan ungkapan, surga ada di telapak kaki ibu. Itu membuat banyak anak merasa harus berbakti lebih giat kepada ibu, jika ingin masuk surga.

***

            Saat diskusi mengenai Pram di halaman Kedai Buku Jenny, seorang teman mengatakan, bahwa pembaca Pram itu bukan hanya kalangan mahasiswa sastra, aktivis, atau orang-orang yang memang suka dengan Pram, tapi juga, mahasiswa ekonomi, hukum, bahkan kedokteran. Cukup beragam. Itu artinya, bahwa pembaca Pram sebenarnya cukup banyak, dan tidak bisa lagi dikatakan bacaan alternatif.
            Tapi, sampai sekarang, masih ada orang yang senang memperkenalkan karya Pram sebagai alternatif, seperti yang teman saya lakukan saat melihat temannya membaca teenlit, menyuruhnya untuk beralih membaca karya Pram.
            Sebagai pembaca, kita bukan diktator yang berkuasa memaksa orang lain membaca apa yang kita suka. Cukup memperkenalkan apa kenikmatan dan manfaat membaca Pram. Toh, sampai sekarang, orang-orang lebih senang membeli bensin bersubsidi, dari pada pertamax. Selain harganya murah, kita memang lebih senang menikmati subsidi. Begitupun dengan membaca, kita sebaiknya menikmati apa yang kita gemari. Bukan yang apa orang banyak baca. 

Selamat mencintai Pram – juga selamat ulang tahun kepadanya.

0 komentar:

Posting Komentar

2.10.2014

Pramoedya Ananta Toer dan Kegemaran Orang-orang Menikmati Bensin Bersubsidi

Diposting oleh Jejak Sajak di 23.35
Sebuah lagu terputar. Dengan senang hati, aku mendengarnya. Suara Pramoedya Ananta Toer mengawali lagu, “Pram adalah Pram. Pram adalah Pram.” Kalimat sederhana tapi membuatnya banyak menderita.
Pram kerap dituding sebagai komunis - juga PKI. Tapi, melalui lagu Catastrope yang berjudul Elegi Untuk Pramoedya Ananta Toer, kita diajak mengenal siapa Pram sebenarnya.
Jika membaca buku sejarah atau beberapa pranala yang ada di internet, kita akan mendapatkan beberapa informasi tentang Pram. Diantaranya, dia adalah aktivis Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), berhaluan komunis, dan pernah dipenjara belasan tahun pada masa Orde Baru.
Itu bukan lagi masalah yang perlu kita debatkan, toh masih ada ribuan orang yang juga bernasib sama dengan Pram. Dan sampai sekarang, belum ada pernyataan resmi negara untuk mengakui bahwa itu adalah kesalahan terindah yang pernah dilakukannya. Keji.

***

            Pramoedya Ananta Toer memang tidak bisa lagi dipisahkan dengan karyanya. Melintasi zaman dan terus bergerak menyadarkan banyak orang akan pentingnya mengetahui sejarah.
Seperti kebanyakan orang, kita kadang meletakkan Pram – juga karyanya, sebagai alternatif untuk mengenal sastra dan sejarah Indonesia. Ini membuat karya Pram seperti anak yang tidak diharapkan lahir, namun ternyata, pada masanya, ia berhasil menciptakan sebuah hegemoni.
Kerap kali, saya mendengar ungkapan dari teman-teman yang juga suka membaca karya Pram “buku itu tidak bagus, mending kamu baca Bumi Manusia, atau Anak Semua Bangsa, karya Pram”. Itu seperti ungkapan pemerintah, “beralihlah dari bensin bersubsidi ke pertamax.” Sama-sama menjadikan karya Pram dan pertamax sebagai alternatif.
Membuat orang tahu betapa pentingnya membaca karya Pram, bukan perkerjaan yang mudah, tapi juga tidak sulit. Seperti halnya orang tua yang menghegemoni anaknya dengan ungkapan, surga ada di telapak kaki ibu. Itu membuat banyak anak merasa harus berbakti lebih giat kepada ibu, jika ingin masuk surga.

***

            Saat diskusi mengenai Pram di halaman Kedai Buku Jenny, seorang teman mengatakan, bahwa pembaca Pram itu bukan hanya kalangan mahasiswa sastra, aktivis, atau orang-orang yang memang suka dengan Pram, tapi juga, mahasiswa ekonomi, hukum, bahkan kedokteran. Cukup beragam. Itu artinya, bahwa pembaca Pram sebenarnya cukup banyak, dan tidak bisa lagi dikatakan bacaan alternatif.
            Tapi, sampai sekarang, masih ada orang yang senang memperkenalkan karya Pram sebagai alternatif, seperti yang teman saya lakukan saat melihat temannya membaca teenlit, menyuruhnya untuk beralih membaca karya Pram.
            Sebagai pembaca, kita bukan diktator yang berkuasa memaksa orang lain membaca apa yang kita suka. Cukup memperkenalkan apa kenikmatan dan manfaat membaca Pram. Toh, sampai sekarang, orang-orang lebih senang membeli bensin bersubsidi, dari pada pertamax. Selain harganya murah, kita memang lebih senang menikmati subsidi. Begitupun dengan membaca, kita sebaiknya menikmati apa yang kita gemari. Bukan yang apa orang banyak baca. 

Selamat mencintai Pram – juga selamat ulang tahun kepadanya.

0 komentar on "Pramoedya Ananta Toer dan Kegemaran Orang-orang Menikmati Bensin Bersubsidi"

Posting Komentar