Pinokio dan Kisah yang Ganjil

on 2.21.2014
Di atas bukit, tempat ayahmu meninggikan nisan dan merendahkan tubuh
merpati terbang, rendah, diam-diam mematuk cahaya bulan
seorang perempuan, berjalan, tegak menuju makam
melapak karpet, bersila, dan menyisir rambutnya hingga gugur
helai demi helai
waktu berlari perlahan, meski gesit, terasa lama sekali
seperti tawa Ismail, saat ingin disembelih Ibrahim
lambat dan menipu

Saya pernah membangun rumah di kaki bukit
tapi pinokio meminjam pintu dan jendelanya
melengkapi lengan dan kaki kayunya, kata Gepetto
sayangnya, dalam kisah ini, peri biru adalah pembohong,
mahir menyulap kejahatan
pinokio tak pernah hidup, pintu dan jendela itu kini benar-benar hilang
benar-benar mati

Dalam puisi ini
merpati terbang itu kini berubah menjadi puluhan lengan yang memeluk makam ayahmu
dan aku adalah pinokio
kayu, mencintaimu, dan hanya sisa pintu, juga jendela
sedang peri biru itu adalah puisi ini
yang mewakili kalimat terakhir pada bait pertama

Bakarlah tubuhku, kayu yang bukan pembohong, meski hidung ini memang panjang
abunya kau tabur di makam ayahmu
semoga ia mengizinkanku mencintaimu

Dan tolong, sampaikan salamku pada perempuan di bait pertama
ia adalah jelmaan bulan, yang telah mengumpulkan kayu-kayu
agar Gepetto tahu, bahwa setiap orang butuh cinta
meskipun itu tinggi dan penuh rahasia

0 komentar:

Posting Komentar

2.21.2014

Pinokio dan Kisah yang Ganjil

Diposting oleh Jejak Sajak di 05.48
Di atas bukit, tempat ayahmu meninggikan nisan dan merendahkan tubuh
merpati terbang, rendah, diam-diam mematuk cahaya bulan
seorang perempuan, berjalan, tegak menuju makam
melapak karpet, bersila, dan menyisir rambutnya hingga gugur
helai demi helai
waktu berlari perlahan, meski gesit, terasa lama sekali
seperti tawa Ismail, saat ingin disembelih Ibrahim
lambat dan menipu

Saya pernah membangun rumah di kaki bukit
tapi pinokio meminjam pintu dan jendelanya
melengkapi lengan dan kaki kayunya, kata Gepetto
sayangnya, dalam kisah ini, peri biru adalah pembohong,
mahir menyulap kejahatan
pinokio tak pernah hidup, pintu dan jendela itu kini benar-benar hilang
benar-benar mati

Dalam puisi ini
merpati terbang itu kini berubah menjadi puluhan lengan yang memeluk makam ayahmu
dan aku adalah pinokio
kayu, mencintaimu, dan hanya sisa pintu, juga jendela
sedang peri biru itu adalah puisi ini
yang mewakili kalimat terakhir pada bait pertama

Bakarlah tubuhku, kayu yang bukan pembohong, meski hidung ini memang panjang
abunya kau tabur di makam ayahmu
semoga ia mengizinkanku mencintaimu

Dan tolong, sampaikan salamku pada perempuan di bait pertama
ia adalah jelmaan bulan, yang telah mengumpulkan kayu-kayu
agar Gepetto tahu, bahwa setiap orang butuh cinta
meskipun itu tinggi dan penuh rahasia

0 komentar on "Pinokio dan Kisah yang Ganjil"

Posting Komentar