Perkara Hujan, Orang-orang Suci, dan Gagang Telpon yang Menyakitkan

on 2.07.2014
Hujan jatuh. seorang kekasih kuyup di bawah langit
tubuhnya mencair, menjadi air seni, air sungai, luapan banjir, bensin, kuah bakso, juga darah
ia jatuh ke tanah, menggigil dan tak bisa lagi mengatakan
“aku mencintaimu” – tapi ia telah menghabiskan ribuan kata yang sama untukmu
ia tidak membiarkan siapapun menolongnya, kecuali kata
yang bibirmu tidak pernah menampungnya, juga menyimpannya
untuk seorang yang sedang meminta pertolongan kepada hujan

Kau mungkin kian dengki, wajahmu memerah, kesetanan sambil berkata
“aku juga mencintaimu, bodoh.
tapi aku sungguh membenci hujan, tempat kau kuyup
lihatlah, betapa menjijikkannya dirimu.”
tapi, di dalam engganmu yang raksasa, kau berbisik untuk telingamu sendiri
“sungguh, hujan juga membuatku semakin mencintaimu, semakin menginginkanmu. sangat”

Seperti belajar memahami perkataan orang-orang suci
mereka menyampaikannya dengan sederhana, berhutan, dan membunuh
kita mudah memahami, tapi lebih mudah tersesat di rimbunnya, hati-hati terbunuh

Kau memilih tidak pernah mengatakan perasaanmu
sedang gigil itu adalah panggilan telpon yang berdering, terus menerus.
ia butuh “halo”, bukan “tut, tut, tut,”
apa lagi, nomor yang anda hubungi sedang sibuk dengan orang lain, atau berada di luar jangkauan perasaanmu, tolong tinggalkan ia. mohon.

Seperti yang kau tulis dalam surat yang tidak pernah kau kirim kepadanya
kau juga mencintainya, tapi mata siapa yang bisa menjangkau laci mejamu
juga kobaran api, yang mengabukan kertas-kertas suratmu

ingat, aku pernah mengirim merapati ke rumahmu?
di sayap kirinya, aku menyimpan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang belum kau sampaikan kepadaku
bertanyalah kepadanya. ia baik hati dan juga bisa pergi kapan saja.


Makassar – Februari 2014

0 komentar:

Posting Komentar

2.07.2014

Perkara Hujan, Orang-orang Suci, dan Gagang Telpon yang Menyakitkan

Diposting oleh Jejak Sajak di 21.50
Hujan jatuh. seorang kekasih kuyup di bawah langit
tubuhnya mencair, menjadi air seni, air sungai, luapan banjir, bensin, kuah bakso, juga darah
ia jatuh ke tanah, menggigil dan tak bisa lagi mengatakan
“aku mencintaimu” – tapi ia telah menghabiskan ribuan kata yang sama untukmu
ia tidak membiarkan siapapun menolongnya, kecuali kata
yang bibirmu tidak pernah menampungnya, juga menyimpannya
untuk seorang yang sedang meminta pertolongan kepada hujan

Kau mungkin kian dengki, wajahmu memerah, kesetanan sambil berkata
“aku juga mencintaimu, bodoh.
tapi aku sungguh membenci hujan, tempat kau kuyup
lihatlah, betapa menjijikkannya dirimu.”
tapi, di dalam engganmu yang raksasa, kau berbisik untuk telingamu sendiri
“sungguh, hujan juga membuatku semakin mencintaimu, semakin menginginkanmu. sangat”

Seperti belajar memahami perkataan orang-orang suci
mereka menyampaikannya dengan sederhana, berhutan, dan membunuh
kita mudah memahami, tapi lebih mudah tersesat di rimbunnya, hati-hati terbunuh

Kau memilih tidak pernah mengatakan perasaanmu
sedang gigil itu adalah panggilan telpon yang berdering, terus menerus.
ia butuh “halo”, bukan “tut, tut, tut,”
apa lagi, nomor yang anda hubungi sedang sibuk dengan orang lain, atau berada di luar jangkauan perasaanmu, tolong tinggalkan ia. mohon.

Seperti yang kau tulis dalam surat yang tidak pernah kau kirim kepadanya
kau juga mencintainya, tapi mata siapa yang bisa menjangkau laci mejamu
juga kobaran api, yang mengabukan kertas-kertas suratmu

ingat, aku pernah mengirim merapati ke rumahmu?
di sayap kirinya, aku menyimpan semua jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang belum kau sampaikan kepadaku
bertanyalah kepadanya. ia baik hati dan juga bisa pergi kapan saja.


Makassar – Februari 2014

0 komentar on "Perkara Hujan, Orang-orang Suci, dan Gagang Telpon yang Menyakitkan"

Posting Komentar